Tantangan Hari Ke-13 : Obervasi Diri dan Mengendalikan Emosi

Cerita hari ini menemani anak-anak belajar dan bermain di rumah begitu spesial. Rasanya hari ini poin komunikasi produktifnya bervariasi. Poin yang dijalani meliputi menunjukkan empati, mengendalikan emosi, observasi, dan BISA!

Pagi ini Faris meminta saya untuk mengajari membuat magic box dari kertas origani berwarna warni. Ia teringat kegiatan belajar melipat ketika mampir ke stand Rumah Belajar Trenggalek saat berkunjung ke Trenggalek beberapa bulan yang laku. Aktivitas pertama yang sempat terekam kamera adalah ia sudah mulai mau tekun berlatih dan mengikuti instruksi. Beberapa kali saya ingatkan padanya mengenai adab menuntut ilmu supaya terpatri ke dalam pikiran dan hatinya. Alhamdulillah kini pelan-pelan ia mau duduk dan menimba ilmu.

Tantangan selanjutnya justru muncul dari adiknya. Melihat masnya belajar melipat kertas ia pun ingin mencoba, Irbad ingin melakukan hal serupa. Akhirnya saya memfasilitasi Irbad juga. Saya berikan ia kertas origami sama seperti masnya dan saya berikan contoh serta memandu mereka untuk mengikuti arahan saya. Tetapi yang namanya batita dua tahun, rentang konsentrasinya belum cukup kalau nau diajak bermain lioat kertas wkwk. Jadilah ia meremas kertas origami yang sebelumnya ia lipat-lipat terlebih dahulu. Tak berhenti disitu, ia pun gemas ingin meremas kertas origami milik masnya. Nah, mulailah memanas situasi belajar kami pagi ini.

Saat mengamati mereka berdua beradu argumen kepala saya pun dibuat pening. Masnya ketakutan dan mengeluarkan reaksi berlebihan sambil ngomel kalau ia tidak ingin kertas origami buatannya rusak. Kemudian ia meminta adiknya untuk bersikap baik jika tidak ingin hasil karyanya dirusak. Disinilah saya melatih mereka berdua untuk menyelesaikan konflik dengan baik. Sembari saya terus mengingatkan Faris agar gaya berbicaranya tidak kasar atau berteriak sebab hal ini justru membuat Irbad bingung dan dicontoh oleh adiknya.

Bagian yang paling melatih pengendalian emosi adalah kebiasaan Irbad melempar barang, misalnya mainan atau obyek yang dijadikan rebutan.

Istilahnya repeating behavior. Pada perilaku ini, anak memang senang berulang kali menjatuhkan dan melemparkan benda-benda tertentu. Melalui perilaku berulang tersebut, anak sebenarnya sedang belajar mengenai pola sebab-akibat. Selain itu, ia juga belajar untuk mengontrol lingkungan dan melihat bagaimana lingkungan sekitar meresponnya. Sehingga, orangtua diharapkan sabar dan tetap memberikan respon positif pada anak untuk memaksimalkan proses belajat tersebut. (Dari buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun, #Ortu Belajar, Tiga Generasi, Jakarta:Wahyu media, 2016)

Apa respon saya sebelum ikut kelas Bunsay? Respon saya kadang diam saja, kesal, geregetan, meledak-ledak dan capek banget lihat ruangan berantakan. Begitu Irbad melempar atau menuang barang dan mengumpulkannya menjadi satu, saya coba berdialog dan tetap tenang.

“Wah, Irbad mau baca buku-bukunya, ya. Kita bikin gedung, yuk!”

“Gedung apa Ma?” tanya Faris sambil merapat ke tengah buku-buku yang melantai. Saya pun mencontohkan menumpuk buku ke atas satu per satu. Akhirnya, Irbad mau membantu menumpuk sampai tinggi dan dirobohin lagi. 😅😊

Oke, dalam hati saya berpikir positif sepertinya ia hendak melihat bagaimana reaksi saya saja. Kenapa begitu? Karena ia merobohkan buku atau barang-barang sambil tersenyum penuh arti😋

Sekian laporan game level 1 Komunikasi Produktif di hari ini. Semuanya jadi istimewa karena dilandasi cinta, semangat belajar, mengelola emosi dan diksi. Semakin tertantang dari hari ke hari.

#level 1 #day13 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *