Tantangan Hari ke-14 : Belajar Mengelola Emosi ketika Anak Berebut

Seringkali tanpa sadar ketika berbicara kepada anak kita menggunakan nada tinggi, dan tanpa kita sadari pula semua sikap kita sehari-hari menjadi contoh untuk anak kita. Bagaimana saya berharap anak saya akan bisa berbicara lemah lembut, kalau saya saja ngomongnya suka ketus atau teriak-teriak layaknya tukang angkot nyari penumpang😂

Jadilah akhir-akhir ini menjadi muhasabah diri bagi saya atas beberapa hal yang dilakukan oleh anak-anak yang bisa jadi meniru apa yang saya lakukan. Beberapa diantaranya adalah ketika si kakak berbicara kepada si adik dengan nada emosi. Disadari atau tidak, saya pun mulai menyadari bahwa emosi si kakak terkadang meniru gaya nada bicara saya yang suka kelepasan dan meledak-ledak.

Sehingga mau tidak mau, jika ingin emosi mereka tidak mudah meledak-ledak saya juga harus belajar cara mengelola emosi yang benar. Seperti sebuah nasehat anak adalah cerminan kita. Adakalanya saat mereka berebut mainan mereka akan melakukan hal-hal yang membuat saya semakin pusing dibuatnya.

“Jangan.. Jangan ini kan punya mas!!!” begitu teriak Faris ketika mainannya hendak dipinjam adiknya.

“Ibad mau……ibad mau make……..!!!” teriak adiknya nggak mau kalah.

“Ibad mau pinjem, ini kan masih dipake jangan diambil emang Ibad mau diambil mainannya? Makanya kalau nggak mau diambil jangan ngambil punya orang!!!” Begitu ancam Faris. Duh kalau gaya ngomong yang kaya gini ini perlu dirubah lagi.. jangan ada kata makanya.. makanya.. 😭

Tak sampai di situ, bukan hanya mainan. Bahkan saya pun tak lepas dari ajang perebutan mereka hanya untuk sekedar dipeluk. Saya harus terus belajar untuk bersabar mengarahkan mereka berdua untuk mau berbagi “saya”.

Biasanya kalau udah kejadian kaya gini saya tawarkan opsi yang menggiurkan ke kakaknya karena ia yang lebih mudah diajak bersepakat. Tapi kalau sudah ada maunya atau lagi cari perhatian ya alamat masnya tetap tidak mau.

Sehingga terkadang situasi makin memananas bahkan terjadi teriakan-teriakan histeris antara mereka berdua. Ternyata perebutan dan teriakan histeris tersebut cukup bisa memicu emosi saya. Saya yang tadinya masih santai menanggapi mereka, akhirnya malah pengen marah dan ngomel.
Dan perebutan diiringi teriakan histeris campur tangis keduanya itu tetap terus berlangsung. Lalu saya ingat, bukankah saya harus belajar mengelola emosi. Sehingga saya segera menarik nafas dalam-dalam.

Saya mengambil tindakan diam terlebih dahulu. Meski telinga terasa tidak nyaman, saya memperhatikan mereka berusaha mencari celah bagaimana harus berbuat. Setelah beberapa saat saya meemperhatikan, saya tetap belum berhasil menemukan celah, hingga akhirnya entah bagaimana salah satu dari mereka mau mengalah. Semoga dengan begitu mereka juga belajar mencari solusi dan memutuskan sesuatu.

Faris akhirnya terlihat kecewa meninggalkan adiknya dan memilih bermain yang lain. Ah lagi-lagi saya tidak berhasil menyelesaikan perebutan ini. Alih-alih masnya mau mengalah, sesungguhnya s
Ia terlihat kecewa dan menghibur dirinya dengan mencoba bermain yang lain. Sedihnya…😓

Jadi, misi komunikasi produktif dengan anak kali ini masih belum berhasil. Yang perlu menjadi koreksi dalam komunikasi dengan anak hari ini adalah

💌Belajar tenang menghadapi kehebohan anak-anak saat mereka berebut.

💌Meninggalkan mereka ketika terjadi konflik bukan solusi, usahakan untuk tidak mengancam atau menggertak bahkan meninggalkan mereka tanpa ada arahan.

💌Usahakan tidak mengancam dan mengalihkan perhatian pada mereka yang mengalami konflik

💌Kontrol intonasi suara.

💌Tarik nafas dalam-dalam sembari tatap anak-anak ketika akan berbicara dengan suara yang kalem.

#level 1 #day14 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *