Tantangan Hari Ke-15 : Mendidik Anak Harus Tahu Ilmunya

Mendidik anak-anak agar selalu patuh kepada orang tuanya merupakan sebuah tantangan bagi saya dan suami. Dalam proses panjang menuju keberhasilan pastilah dibutuhkan ilmu dan kesabaran yang harus dimiliki oleh kami, orang tua yang Allah percayakan amanah besar ini. Apalagi perkembangan saat ini, di mana sudah bukan zamannya lagi untuk mengancam anak baik dengan ucapan maupun pukulan. Untuk itu setiap orang tua hendaknya benar-benar memperhatikan metode yang dipakai untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Semalam saya membaca materi tarbiyatul aulad di channel belajar telegram bab pendidikan anak supaya taat kepada orang tua tanpa hukuman sama sekali. Berikut ini poin yang perlu saya perhatikan dan terapkan:
1. Ajarilah anak-anak peraturan-peraturan atau adab secara santun bukan dengan kalimat perintah apalagi nada yang tinggi.
Seperti kejadian hari ini, anak-anak saling bersahut-sahutan karena ingin dilayani terlebih dahulu. Sedangkan saya masih berkutat dengan material untuk bahan ajar hari ini. Di dalam pikiran dan lisan saya sudah akan keluar instruksi ”Jangan bersahut-sahutan jika meminta tolong!” namun cepat-cepat saya memohon ampun dan mengelola emosi. Saya harus merubah gaya bicara saya kepada anak-anak, kata saya dalam hati. Lalu saya berkata, ”Ayo, siapa yang ingin dibantu harus berbicara yang baik ya”, dan semisalnya. Dengan perkataan semacam ini, saya berharap anak-anak tidak akan merasa sebagai objek perintah tetapi mereka merasa diperhatikan dan menjadi subjek. Pada akhirnya harapan saya, mereka akan merasa dihargai sehingga juga bisa menghargai orang lain.
2. Menjelaskan kepada anak-anak bahwa selama hidup kita harus mengikuti aturan-aturan yang ada dengan baik dan kami sebagai orang tua pun terus belajar agar bisa membimbing mereka menjadi generasi yang lebih baik. Seperti halnya tadi siang sebelum tidur, sebagai ganti dari ucapan ”Kembalikan lagi mainanmu ke tempatnya!”, adalah lebih baik jika saya mengatakan ”Allah suka keindahan, kalau Faris kemas mainan Faris ke kandangnya pasti mainan Faris akan awet dan nggak mudah rusak”, apabila anak-anak menolak, maka kita bisa menawarkan solusi ”Gimana kalau kita kemas bersama-sama”.
3. Ketika anak berbuat salah, warning diri sendiri agar tidak mencela pribadinya, tetapi sandarkan pada perbuatan salahnya. Kita harus bersabar dan menjaga lisan, smpaikan ”Berantakin barang-barang itu nggak bagus”, jangan bertanya apalagi dengan gaya menekan ”Apa yang telah kamu perbuat?” Janganlah sekali-sekali melabeli anak-anak benar dengan bodoh atau malas karena akan melukai perasaan dan menjadikan mereka rendah diri
4. Terus menghargai keinginan-keinginan anak- anak. Apabila anak-anak mempunyai keinginan untuk memiliki semua mainan kala berbelanja di pasar, maka sebagai ganti dari kata-kata ancaman maka sebaiknya kita berkata kepada mereka, ”Boleh saja kalian menginginkan semua mainan ini, tetapi sekarang pilihlah satu saja dan yang lain untuk waktu yang akan datang. Allah tidak suka segala sesuatu yang berlebih-lebihan”, atau membuat kesepakatan bersama anak-anak sebelum pergi ke pasar dapat membuat keadaan lebih baik. Dengan belajar bersepakat anak-anak akan merasakan bahwa kami orang tuanya tetap memperhatikan keinginan mereka,mereka pun dapat belajar bersikap lebih bijak.
5. Melatih kepekaan dan belajar memahami anak-anak bahwa bisa jadi mereka tidak taat kepada perintah orang tuanya karena ada suatu masalah yang sedang mereka alami. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara bersama mereka dari hati ke hati. Berilah kesempatan kepada anak-anak untuk bicara dan usahakan tidak memotong pembicaraannya.
6. Hindari cara mengancam dan “menyuap”. Jika orang tua menggunakan cara ancaman secara terus-menerus supaya anak-anak taat maka kelak anak-anak akan mengacuhkan orang tua pula sehingga mau tidak mau kita akan terjebak dalam lingkaran saling mengancam. Demikian juga dengan “suap”, iming-iming ini akan menjadikan anak-anak tidak mentaati orang tuanya sehingga berujung pada situasi kita mau tidak mau mengatakan kepada mereka ”Mama akan memberikan mainan baru kalau kamar kalian bersih”, maka anak-anak akan menaati saya karena ingin mainan bukan melaksanakan kewajiban karena kebutuhan diri.
7. Memberi pujian dan apresiasi. Memberi pujian dan apresiasi perlu kita berikan apabila anak-anak mau bersabar menunggu orang tuanya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan pupuk pencapaiannya dengan memberikan selamat kepadanya ”Bagus, terima kasih anak shaleh” atau ”Jazakallahu khair” atau ”Pekerjaan yang hebat”, “Anak yang rajin”, sehingga mereka akan termotivasi melakukannya pada waktu yang lain. Sebagian orang tua terdahulu pun pernah memberikan hadiah kepada anaknya untuk memotivasi mereka seperti menghafal satu hadits dengan memberi mereka satu tanda bintang di pakaian, jika sudah lima atau maka mereka mengajak mereka jalan-jalan.

#level 1 #day15 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *