Mengubah Pola Konsumsi Demi Mengurangi Sampah

Sampah-sampah plastik makanan dan minuman sudah biasa kita temukan berserakan di sekitar lingkungan rumah kita, tempat berlangsungnya pertemuan, atau di tempat perbelanjaan umum. Ada sampah plastik mi instan, biskuit, kacang, permen, atau kantung plastik. Kondisi ini pun terjadi di Batam, kota industri yang ‘katanya’ sekarang berubah menjadi kota pariwisata. Sebagian besar penduduk di Batam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membeli dari supermarket atau impor dari negara tetangga. Kami jauh dari kebun sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus menunggu kiriman buah atau sayur dari luar kota maupun luar negeri. Sangat berbanding terbalik dengan cita-cita saya yang ingin mandiri dari dalam rumah melalui tanaman yang dapat dikonsumsi sendiri.

Sampah-sampah plastik sepertinya saat ini bukan hanya problem yang dihadapi di kota-kota besar, tetapi juga merambah ke seluruh pelosok terpencil. Sampah-sampah yang sering kita lihat dibuang di sembarang tempat itu menunjukkan fenomena. Pertama adalah, telah terjadi perubahan pola konsumsi yang berorientasi pada makanan instan atau pabrikan bahkan melingkupi wilayah pedesaan terpencil sekalipun, yang berakibat menyisakan sampah-sampah pembungkus plastik. Masyarakat desa jaman sekarang tak lagi bangga dengan hasil-hasil kebun yang digarapnya sendiri untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarganya. Labu parang, ubi jalar, kentang, tomat, ketela, pisang, kacang-kacangan dan beragam buah-buahan tak lagi menjadi penanda kecukupan pangan yang aman dan sehat dan karena dianggap tidak membanggakan bahkan ketinggalan jaman. Betapa ngerinya ketika saya pulang kampung dan melihat anak-anak sekolah dasar teramat senang mengkonsumsi minuman rasa dalam kemasan serta perlahan tapi pasti mulai meninggalkan air putih bekal dari rumah.

Pangan yang aman, sehat, dan berkelanjutan ini dipandang kampungan, bahkan tanda kemiskinan ekonomi hiks. Bagi masyarakat jaman now, mi instan, kraker, keripik kentang olahan yang harus didatangkan dari luar daerah dan dibeli dengan harga mahal lebih bergengsi. Apalagi jika muncul tren jajanan kekinian merupakan penanda kesejahteraan dan modernitas. Mereka lebih bangga membuang kantong plastik atau plastik pembungkus ketimbang kulit pisang atau kacang rebus, yang mudah terurai dalam tanah. Burger atau friendchicken ironisnya menjadi makanan impian di akhir pekan, menggantikan ikan layar, tumis bunga papaya dan kangkung serta ikan bakar hasil tangkapan hari ini.

Itulah fenomena perubahan perilaku yang saya baca dari buangan sampah-sampah plastik di sekitar lingkungan saya tinggal. Bagaimana dengan kota-kota besar lainnya?

Sudah seharusnya kita mulai sadar dan mulai ikut melestarikan lingkungan dengan mengubah perilaku dan pola konsumsi dari dalam rumah kita. Ya! Bahasan mengenai pola konsumsi yang saya maksud adalah dalam arti luas, baik kebutuhan pokok maupun sekunder. Semua hal yang menjadi pemicu eksploitasi terhadap alam, pencemaran lingkungan termasuk sampah plastik. Semakin rakusnya konsumsi masyarakat modern berdampak juga terhadap semakin luasnya alam yang tereksploitasi untuk kebutuhan pangan, sandang, papan, dan lain sebagainya.

Perubahan pola konsumsi yang berorientasi makanan pabrikan terus beriringan dengan penimbunan sampah-sampah plastik dan styrofoam yang tidak ramah lingkungan. Plastik membutuhkan sekitar 450 tahun agar terurai dalam tanah sedangkan styrofoam tak terurai selamanya hiks.

Akar kerusakan lingkungan adalah ketamakan konsumsi dalam skala individu, domestik maupun organisasi yang tak lagi mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti “kerusakan” yang sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Dari tafsir ayat ini saya merasa tertohok dan tertampar. Saya, makhluk ciptaan Allah ini rupanya telah turut serta memberi andil yang besar terhadap kerusakan bumi. Astagfirullah hal adzim. Berawal dari itulah saya berusaha berubah dan memulai pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Setelah tiga bulan belajar bersama di kelas #belajarzerowaste senang rasanya semakin hari bisa mengurangi jumlah sisa konsumsi yang dihasilkan di rumah untuk dikirimkan ke TPA. Ternyata dengan sedikit usaha efekny membuat hati bahagia, ketika mendapati bapak petugas kebersihan mengangkut bak sampah di depan rumah kali bisa dibitung dengan jari. Berikut ini rincian sisa sampah anorganik yang kami hasilkan selama 3 bulan. Kalau disuruh menghitung berapa persen pengurangan sisa konsumsi yang saya buang ke TPA sebelum dan sesudah kelas sejujurnya saya bingung sebab sebelum ikut kelas sampah anorganik yang keluarga saya hasilkan hanya sedikit lebih banyak sampah organiknya. Setelah melakukan 3AH yang diajarkan oleh Mbak Dini, sampah rumah kami pun makin sedikit sebab saya sendiri sejujurnya agak malas jika harus mengumpulkan sampah hehe. Sebisa mungkin saya tidak membeli produk dalam kemasan agar tidak terbebani dengan bungkus plastiknya😁
Sisa konsumsi yang kami hasilkan selama 3 bukan ini antara lain:

-Sampah Organik
Sebelum mengikuti kelas belajar zerowaste saya sudah mempunyai komposter dan membuat lubang pembuangan khusus untuk sisa hewani yang tidak bisa diberikan kepada kucing tetangga. Sisa potongan buah dan sayur pun saya manfaatkan untuk membuat ecoenzym. Jadi pengurangan sampah organik bisa dibilang 0%

-Sampah Anorganik
a. Plastik bekas amdk masih ada yang masuk rumah karena kadang suami bawa setelah olahraga bersama teman kantornya. Kedua, kemasan telur organik terpaksa masuk rumah karena kami harus memilih membeli telur ke peternakan dengan resiko mengeluarkan bensin lebih banyak atau beli di supermarket depan rumah bisa dengan jalan kaki tetapi menghasilkan sampah kemasan plastik sebab telur-telur tersebut sudah dipacking sedemikian rupa. Lumayan setelah dibiasakan pelan-pelan akhirnya kami memutuskan mengurangi konsumsi telur dan berkurang jumlah plastik kemasannya sampai 80%.

b. Botol kaca bekas susu soya dan oralit, botol kaca ini mau tidak mau masuk ke dalam rumah sebab bulan lalu anak kedua saya diare karena alergi laktosa. Jadilah sementara membeli susu soya kemasan karena emak belum ada tenaga dan waktu untuk membuat homemade lagi. Tidak ada persen penurunan atas sampah botol kaca malah sebaliknya, tetapi botol-botol kaca ini akan saya tabung ke bank sampah untuk direcycle.

c. Tetrapak bekas susu soya terpaksa masuk rumah karena anak-anak sementara mengkonsumsi susu soya kemasan. Kemasan ini sudah saya cuci bersih dan rencananya akan dibuat craft bersama anak-anak saja karena di Batam belum ada drop box untuk tetrapack. Persen penurunannya sebesar 60%

d. Pospak dan pembalut persen penurunannya 0% karena sudah lebih dari dua tahun saya dan anak-anak tidak memakai pospak dan pembalut.

e. Stryfoam penurunannya sebesar 0%.

f. Kertas label penurunannya sebesar 90%.

g. Kertas nota, struk, kertas tulis, kantong kertas, kertas bekas packing penurunannya sebesar 70%.

h. Bekas penyambung slang tekanan gas ke kompor yang kebetulan rusak persen penurunannya 0%,setelah 2 tahun akhirnya rusak juga.

Mudah-mudahan setelah ini kami bisa terus meminimalisasi sisa konsumsi yang kami hasilkan. Bismillah, rumah minim sampah… BISA!

Sumber:
[1] https://muslim.or.id/2757-jangan-berbuat-kerusakan-di-muka-bumi.html
[2] Materi Kelas Belajar Zerowaste

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *