Tentang Meraih dan Melepaskan

“Pokoknya sebisa mungkin saya tidak akan mau menikah dengan orang yang kerja di bidang militer. Saya tidak mau kalau nanti ditinggal dinas terus.” Seperti itulah kalimat gegabah yang keluar dari mulut saya tentang bayangan calon suami dan pekerjaannya yang ketika itu saya masih single.
Beberapa tahun kemudian, doa saya pun terjawab. Saya memang tidak berjodoh dengan orang militer, melainkan seorang PNS DJP. Namun apa bisa dikata, pekerjaan suami saya ternyata menuntutnya untuk pulang malam apabila sedang ada lembur. Terlebih lagi, saya bisa ditinggal beberapa hari apabila suami saya harus melakukan dinas ke luar kota! Walaupun ditinggal namun saya senang jika suami mendapatkan tugas dinas ke luar kota karena jadi ada tambahan pendapatan bulanan 😬

Saya menyadari ketika saya menerima dia sebagai suami, tentu saya harus menerima dia dengan satu paket dari semua yang melekat pada dirinya. Lagipula dibalik jam kerjanya yang padat, saya bangga memiliki suami seorang PNSDJP rasa engineer karena suami saya selalu memiliki solusi untuk memperbaiki barang rusak. Selain itu ia juga pintar hitung – hitungan! Mengimbangi otak kanan saya yang lemah ini, hehehe. Suami selalu berpesan kepada saya untuk selalu mendukungnya dalam pekerjaan. Bentuk dukungan yang diminta adalah dengan menjaga dan merawat anak – anak kami, karena saya yang memiliki waktu lebih banyak bersama mereka dibandingkan dengan suami saya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, suami seringkali meminta saya memeluknya. Ia berkata pelukan istrinya merupakan mood booster yang paling besar bahkan mengalahkan seporsi bubur ayam favoritnya.

Jadwal kerja suami sebagai PNS tidak seketat di perusahaan swasta. Kadang – kadang bahkan bisa ambil cuti dadakan apabila ada keperluan keluarga atau anak sedang sakit.  Namun tantangan kehidupan sosial di kantor PNS lebih tinggi sehingga membuat suami mudah stres, kadang saya sebagai istri suka sedih melihatnya.  Saya selalu siap support dengan bersabar kalau – kalau pendapatan sedang turun. Support doa itu pasti, agar suami selalu berada di jalan yang benar dan selalu bersabar serta dimudahkan rejekinya.

Bukan rahasia lagi kalau jaman sekarang banyak perempuan yang memiliki karir dan bercita-cita menjadi perempuan sukses. But, sorry I’m not into it. Bukan, bukannya saya tidak ingin sukses, siapa sih yang tidak mau sukses?

tapi, apa itu sukses?

Ada yang bilang sukses itu ketika sudah mapan – punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, pekerjaan dengan gaji besar; ada juga yang bilang sukses itu kalo udah bisa punya usaha sendiri, bisa jadi sukses menurut beberapa orang itu bisa nikah dengan laki-laki yang kaya (ini untuk perempuan ya) dan masih banyak definisi-definisi sukses lainnya menurut banyak orang. Lain kepala, lain cerita.

Cita-cita saya dulu juga sama tetapi sekarang sedikit direvisi, saya ingin menjadi perempuan sukses – bukan sukses karir, tapi sukses dalam hidup (asik!)

Temen-temen saya yang berlatar belakang pendidikan yang sama dengan saya – Sarjana Hukum (S.H) – bukan Susah Hidup – banyak yang berbondong-bondong untuk kuliah lagi melanjutkan kuliah ke jenjang S3, ada yang ikut kursus PKPA bagi mereka yang tertarik untuk jadi penerusnya Farhat Abbas, bukan-bukan jadi tukang cari sensasi tapi jadi Pengacara. Sedikit banyak social media itu sempet mempengaruhi saya. Melihat teman-teman saya suka upload foto , lagi kursus PKPA, check in di Pengadilan mendampingi klien mereka, keren juga bahkan kebanyakan teman seangkatan saya sudah resmi menjabat menjadi notaris.

Ambisi untuk menjadi perempuan dengan karir gemilang menjadi seorang notaris saya tunda untuk waktu yang tidak terbatas dari list hidup saya saat ini.

Kenapa?

Cita-cita saya saat ini, saya hanya ingin menjadi seorang istri dan seorang ibu profesional bagi anak-anak saya.

Karena menurut saya ketika saya sudah berkeluarga, keluarga saya (baik suami dan anak-anak saya) bukan sebuah option dalam hidup saya, mereka bukan bagian dari sebuah pilihan ketika saya harus memutuskan saya harus memprioritaskan karir atau keluarga kecil saya. Jelas, ketika saya berkeluarga, keluarga kecil saya ini adalah satu-satunya, tidak pernah menjadi sebuah pilihan, maupun prioritas, tapi SATU-SATUNYA.

Saya tidak pernah menyalahkan perempuan yang berambisi mencari karir bagus, punya uang banyak, and be a boss, tapi saya hidup tidak berambisi untuk itu. Saat saya memutuskan menikah dengan suami saya yang notabene PNS DJP orientasi saya berubah 180 derajat. Buat apa saya buang-buang waktu mengejar karir bagus yang nantinya bakalan saya tinggalkan untuk membina sebuah keluarga kecil. Kenapa saya harus menunda hal membahagiakan seperti menikah dan punya anak hanya untuk mengejar karir dan uang banyak.

kalau punya karir bagus, uang banyak kan nanti masa depan anak bisa lebih baik

Saya tidak akan mengajarkan anak-anak saya nanti bagaimana rasanya bahagia ketika kita punya uang banyak, tapi saya saat ini berusaha mendidik anak saya untuk bisa mencari kebahagiaan walaupun uang di dompet hanya tinggal recehan saja. Yang jelas saya berusaha menanamkan karakter bahwa mereka harus kuat, harus tangguh karena mereka itu laki-laki. Calon pemimpin peradaban. Anak-anak saya nantinya harus lebih hebat dari ibu dan bapaknya.

Kalo nanti kamu hidup sederhana, cuma makan tahu tempe setiap hari, gimana anakanak bisa jadi berprestasi? (ingatan saya langsung terkenang akan perjuangan ibu mertua saya yang sangat hebat bisa membesarkan anak 4 dan sukses padahal beliau sendiri SMP saja tak lulus)

Loh, yang saya tahu malahan kebanyakan anak yang berprestasi itu yang suka makan tahu tempe setiap hari ketimbang yang anaknya setiap hari konsumsi kfc cuma buat sekali makan keluar duit paling nggak seratus ribu. Kalo anak-anak saya mau punya banyak uang ya dia harus berusaha sendiri untuk belajar dan sekolah yang baik. Karena setiap anak membawa rezekinya masing-masing Allah sudah menakarnya.

dan masih banyak pertanyaan orang-orang lainnya yang bertolak belakang dengan pemikiran saya.

Saya tidak mau hidup mumpuni, beli ini itu dengan mudah, memanjakan anak dengan harta berlimpah tetapi saya malah sering di luar rumah, anak-anak diasuh pembantu, dididik pembantu dan kurang kasih sayang.

Saat ini saya ingin menjadi stay at home mom di rumah, merawat dan mendidik anak-anak saya sendiri, membersamai setiap tumbuh kembang anak saya sendiri sampai mereka menemukan fitrah mereka masing-masing.

karena…

setinggi-tingginya karir seorang perempuan, yang paling mulia adalah menjadi seorang istri dan seorang ibu,because I already a Boss in my own life.

Ditulis dalam rangka pergolakan batin, untuk yang kesekian kali saya melewatkan pendaftaran ujian profesi ppat (lagi) tahun ini.
.
.
.
Kenapa?
.
.
.
Saya mendadak merasa rapuh dan ingin menangis ketika mendapati mata berapi-api anak 3 tahun yang berkata “faris sayang loh sama mama, faris nggak mau mamanya tua. Maunya mamanya yang cantik, yang masakin kue buat faris, bacakan buku buat faris.”
.
.
.
Ah, sungguh sulit mengutarakan apa yang saya rasakan malam ini. Anak sulung saya yang tidak pernah bersedih jika saya menegurnya dengan nada (agak) tinggi. Yang hanya bisa bertanya, “kok mama gitu bilangnya ke Faris”.  Yang tidak pernah bilang kalau mamanya ini galak, dia selalu bilang “mama nggak galak kok, kadang-kadang aja marahnya kalau Faris nggak nurut” 😭😭
.
.
.
Yang selalu sabar menunggu saya selesai cuci piring atau sekedar menjemur baju hanya demi ingin ditemani menggosok gigi dan berganti baju tidur. Ah, terlalu mahal rasanya menggantikan itu semua dengan sebuah jabatan dan karir.
.
.
.

Rasanya banyak sekali hutang saya sama si sulung. Waktu yang terbagi, kesabaran yang terbatas, pendampingan yang tidak maksimal, ekspektasi yang tinggi. 😩

Upgrade THREE PERIODS LESSON

TINGGALKAN THREE PERIODS LESSON.. (Whaatt…??)

Anak luar biasa telah memperbaharui konsep Three Periods Lesson

Yang pernah terlibat dalam ke-Montessori-an pasti akrab dg Three Periods Lesson, sebuah sistem pengenalan konsep baru kepada anak usia dini di mana :

Tahap 1 (pengenalan nama konsep) 

contoh : mengenalkan konsep simbol angka 

Guru menyebutkan sambil menunjukkan angka : “Ini angka satu.. Ini angka dua..” 

Tahap 2 (berlatih)

Guru meminta anak menunjukkan angka : “Coba tunjukkan mana angka dua? Kalau angka satu yang mana?” 

Tahap 3 (menyebutkan nama konsep)

Guru bertanya sambil menunjukkan angka : “Ini angka berapa?”

Langkah di atas benar-benar efektif dan terjadi ideal tanpa hambatan untuk anak-anak yang memang butuh layanan khusus.

Tapi e tapi…tidaklah mudah diterapkan bagi anak-anak hebat zaman sekarang.. yang aktif.. yang kecepatan belajar nya luar biasa.. yang gurunya kadang-kadang kehabisan cara untuk mengarahkan (dan biasanya stuck bin keukeuh sama cara lama-nya Montessori plus nge-hang alias gak move on nyari cara lain)

Hehehe..du du du.. metoda tersebut sudah waktunya di-upgrade..

Seringkali guru kena di-cuek-in..atau tidak diperhatikan..

Beginilah The latest version of Three Periods Lesson di kelas untuk anak-anak hebat kami dan mereka lah inspirator-nya 🙂 :

Saat anak asik bekerja dan tiba-tiba mereka bertanya benda atau materi yg dipegangnya (misalnya kartu angka 1, 2, 3 dst) : “Mama ini apa?” 

Bersiaplah masuk ke momen berharga ini, yaitu menjawab dengan antusias, jangan bosan ditanya.. tetaplah menjawab : “Satu” “Dua” “Tiga” dst.. (sesuai dengan materi yg ditanyakan)

Karena sebenarnya di saat anak bertanya itulah, kita sedang melakukan Tahap 1 dari Three Periods Lesson yaitu : pengenalan nama konsep..

Beda-nya…komando tidak ada pada guru tapi anak yang menginginkan Tahap 1 ini dilaksanakan : sekarang juga..

Luar biasa bukan..tak perlu ber-tegang-tegang ria meminta anak memperhatikan..karena disini anak yang menunjukkan sendiri kesiapannya untuk menerima sebuah pembelajaran tentang konsep baru..

Kadang kita nggak nyadar..sudah terlalu banyak instruksi untuk menyetir anak supaya sesuai dengan kehendak orang dewasa, jadi wajar ketika kita ajak anak untuk mengenali sesuatu – respon yg diberikan belum tentu sesuai harapan/antusias karena merasa lagi-lagi orang dewasa yg atur.. tak jarang maunya si material tadi malah dijadiin mainan suka-suka dia.. guru stress karena merasa harus sampai materinya..

Wahai guru..rileks-lah sejenak..ada saatnya kau akan mendapatkan momen Three Periods Lesson ini dalam kemasan yang berbeda..hehe..

Walau tak diulang ucap apa yg kita katakan, semua sudah tersimpan rapi di memory chip nya mereka.. Suatu hari mereka akan me-recall kembali data tersebut..

Believe me.. They listen 🙂

IMAN sebelum ADAB,  ADAB sebelum ILMU, ILMU sebelum AMAL

Semalam saya berdiskusi dengan suami mengenai progres hafalan Faris yang belum nambah-nambah. Mungkin dia bosan dengan metode pembelajaran saya, atau memang saya yang kurang mumpuni mendampinginya belajar. Entahlah, berkecamuk banyak pertanyaan di benak saya kenapa begini kenapa begitu. Saya terlalu menuntutnya mungkin, menggegasnya lebih awal tanpa memperdulikan hal-hal kecil yang sesungguhnya justru itulah yang bisa dia hadiahkan kepada saya saat ini. Seperti bersegera wudhu dan sholat jika sudah terdengar adzan, lebih aware saat bersuci setelah kencing, tidak berbicara saat di dalam kamar mandi, dan beberapa adab baik lainnya yang sudah ia laksanakan. Tetapi saya justru menuntut kekurangannya.

Apanya yang salah?

Pagi tadi saya lihat rekaman Ustadz Nuzul Dzikri Lc yang judulnya : “Ayah Bunda Tolong Bawa Aku Ke Surga”. Dijawab banget semuanya disitu.

Tentang kewajiban orang tua membekali anak terlebih dahulu dengan Iman sebelum Al Quran. Karena Iman akan menjadi bekal dikehidupannya sampai ke akhirat.

Apakah itu kecerdasannya dalam hal ilmu dunia, ataupun tentang hapalan Al Quran nya yang banyak, tanpa Iman, maka ia sia – sia. Hebat di dunia tanpa iman, menjadikannya tidak selamat di akhirat. Hebat hapalan Al Qurannya tanpa Iman (melakukan ketaatan) akan menjadikannya seorang munafik.

Maka sampaikan kepada anak kita tentang ini ;

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.

Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

Masyaa Allah, mendengar ini rasanya saya baru diingatkan tentang hal mendasar yang justru terlupakan.

Dengan itu saja, sudah cukup seorang anak terhindar dari keadaan down saat gagal ujian masuk perguruan tinggi yang ia cita – citakan karena meski ia telah ikhtiar tapi jika itu bukan takdirnya maka tidak akan ia raih. Iapun percaya ada rencana Allah lainnya yang menjadi takdirnya dan itu baik baginya.

Tidak akan ada anak yang minder jika keadaannya berbeda dengan teman lainnya. Baik dalam hal harta, keadaan fisik, maupun kecerdasannya. Karena ia tahu, Allah telah berikan sesuai dengan takdirnya.

Sebagian kita terlalu menuntut anak untuk pintar disemua mata pelajaran. Sibuk dengan les ini dan itu. Menyampaikan bahwa kamu suatu saat harus jadi orang dengan ilmu kamu. Maka kamu harus pintar. Harus rajin belajar.

Ya benar, pintar memang harus. Tapi jika itu untuk dunia, temukan saja satu bakatnya yang bisa menjadi bekal hidupnya. Apakah ia berpotensi menjadi seorang dokter, maka tidak perlu memaksanya pandai juga banyak bahasa asing. Jika dia berbakat dibidang matematika, maka tidak perlu memaksanya pandai desain misalnya. Agar waktunya terfokus pada bidang yang ia minati.

Bahwa membekali anak agar siap menghadapi masa depan dengan dengan ilmu paling canggih saat inipun, belum tentu dimasa depan ilmu itu bisa ia pakai. Semua cepat berganti. Bukankah banyak saat ini orang – orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya dahulu? Namun dengan iman, apapun itu tak kan jadi masalah.

Karena Firman Allah :

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Lalu mengapa kita masih sibuk dengan persiapan dunianya saja ; Ini asuransi pendidikan, ini asuransi kesehatan, ini tabungan untuk nanti menikah, ini rumah untuk anak – anak, dst. Sampai – sampai kita sibuk dengan pekerjaan dan tak sempat lagi menikmati kebersamaan dengan anak, memberikan mereka nasihat, membekali mereka dengan berbagai rencana akhirat.

Sampai lalai membekalinya dengan iman. Bahwa Allah melihatnya, bahwa setiap tindak langkahnya dicatat malaikat, bahwa jika ia kesulitan Allah yang akan menolongnya, jika ia kebingungan Allah pula yang akan menuntunnya.

Bagaimana bisa kita marah kepada anak saat nilainya buruk, saat ia membangkang, saat ia tak mau sekolah. Bukan marah karena anak lalai dengan sholatnya, tak peduli dengan pergaulannya.

Kita bisa marah saat anak susah bangun pagi untuk berangkat sekolah, tapi tak marah saat anak tidak bangun untuk sholat subuh.

Astaghfirullah….

Bukan berapa banyak juz anak kita hapal Al Quran, tapi hatinya hampa dari rasa cinta kepada Allah.

Bukan berapa banyak prestasinya ia raih disekolah, tapi seberapa dalam kecintaannya kepada Allah.

Menggantungkan hati dan harapan hanya kepada Allah. Bersungguh – sungguh dalam ketaatannya kepada Allah.

Jika Iman ada dalam hatinya, profesi apapun (yang halal), jadi apapun ia kelak, maka itulah investasi akhirat. Itulah kesuksesan sejati.

Agar sekeluarga, bisa berkumpul kembali di SurgaNya Kelak.

Pendidikan Anak dalam Islam (disarikan dari grup telegram) 

Intisari Materi Daurah Muslimah Kab. Mamuju bersama Syaikhah Ummu Abdirrahman Eman Al-Reme hafizhahallah
*PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM*
_Aula Mesjid Raya Suada Mamuju, ba’da Maghrib_
Allah _subhanahu wa ta’ala_ telah mengaruniakan kepada manusia itu rezeki berupa keturunan. Keturunan adalah salah satu nikmat dari Allah yang patut kita syukuri.
Dia berfirman:
المال والبنون زينة الحية الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا
_“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”_ Al Kahfi : 46.
Dalam ayat di atas, kata _al banun_ (البنون) itulah keturunan. Nikmat keturunan ini sudah semestinya kita gunakan pada perkara kebaikan.
Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ bersabda,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية, أو علم ينفع له, ولد صالح يدع لهز
_“Jika salah seorang anak Adam itu meninggal maka terputuslah amalannya kecuali 3: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuknya.”_ Diriwayatkan oleh Muslim dari sahahat Abu Hurairah _radhiyallaahu ‘anhu._
Berkata Syiakh bin Baaz _rahimahullah_, jika seseorang meninggal maka terputuslah amalannya, artinya terputuslah amalannya yang mengalir kepadanya setelah ia meninggal, kecuali ketiga perkara berikut ini:
*1. Sedekah jariyah*
Misalnya harta yang ia wakafkan, seperti mesjid untuk digunakan shalat di dalamnya, atau membangun suatu bangunan yang disewakan yang hasil sewanya disedekahkan, atau tanah ladang yang hasil pertaniannya disedekahkan, atau yang lainnya yang semisal dengan itu. Sedekah jariyah ini pahalanya akan tetap mengalir kepadanya meskipun ia telah meninggal.
*2. Ilmu yang bermanfaat*
Misalnya ia menulis sebuah buku yang bermanfaat bagi manusia. Atau membeli buku-buku islamiyah dan mewakafkannya. Atau mengajarkannya/menyebarkannya sehingga kaum muslimin bisa mengambil manfaat dengannya.
*3. Anak yang shalih yang mendoakan untuknya*
Doa anak yang shalih bermanfaat bagi orang tua yang sudah meninggal, sebagaimana bermanfaatnya doa kaum muslimin jika mereka berdoa untuknya atau bersedekah untuknya.
*Bagaimanakah mewujudkan anak yang shalih?*
Untuk mewujudkan anak yang shalih salah satunya adalah dengan cara mendidiknya.
Diantara bentuk- bentuk pendidikan anak adalah:
🌸 *Menanamkan pada diri anak kecintaan kepada Allah _subhanahu wa ta’ala_.*
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua menanamkan kecintaan kepada Allah pada diri anak sejak kecil. Jika mengajak anak berbuat kebaikan, katakanlah kepadanya: _“Jika engkau melakukan hal ini maka Allah akan cinta kepadamu. Jika engkau shalat, puasa dll, maka Allah akan cinta kepadamu.”_ Jangan mengatakan, _“Jika kamu tidak shalat maka Allah akan benci dan tidak suka kepadamu.”_
🌺 *Mendidiknya dengan sifat amanah.*
Mengajarkan kepada anak, jika ia menemukan suatu barang di jalan, hendaklah ia tidak mengambilnya untuk dirinya. Akan tetapi mengambilnya untuk diberikan kepada orang yang lebih dewasa atau orang tuanya untuk dicari siapa pemiliki barang tesebut.
🌻 *Mengajari bersedekah*
Anak-anak dididik untuk membiasakan diri bersedekah. Yakni memberikan sebagian apa yang dimilikinya kepada fakir miskin. Mengajarkan kepadanya untuk iltizam kepada sunnah dalam hal bersedekah. Bahwasanya, tersenyum dan berwajah berseri-berseri kepada seseorang itu adalah termasuk sedekah.
Perlu diketahui bahwa kemampuan anak dalam menerima pengajaran dari orang tua itu berbeda-beda. Sebagian anak ada yang cepat memahami apa yang dikatakan oleh orang tua, dan sebagian anak yang lain lambat. Oleh karena itu orang tua harus mengetahui tingkat kemampuan anaknya.
Dalam memberikan pengajaran kepada anaknya ia harus perlahan-lahan, tidak memberikan banyak nasehat setiap hari. Sebaiknya, paling tidak satu nasehat dalam sehari, supaya anak tidak mudah jemu.
Sebagai contoh, ketika mengajarkan anak bersedekah, dalam bersedekah tesebut jangan diikuti dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti perasaan si penerima. Karena hal tersebut sama halnya dengan

orang yang menafkahkan harta karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada manusia dan tidak beriman kepada hari akhir.
🌹 *Berakhlak dengan Al Quran*
Diriwayatkan bahwasnya Said bin Hisyam bin ‘Amir, dia bertanya kepada Ummul Mu’minin “Aisyah radhiyallaahu anha, _“Wahai Ibu, kabarkanlah kepadaku akhlak rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.”_ Maka ‘Aisyah berkata: _“Sesungguhnya akhlak rasulullah itu adalah Al Quran.”_
Kita mengajarkan kepada anak agar anak berakhlak dengan Al Quran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita usahakan untuk mengaitkan semua perbuatan anak-anak dengan Al Quran. Setiap kali terjadi suatu peristiwa tertentu, kalau memungkinkan kita ingatkan mereka dengan ayat Al Qur`an.
Beberapa ayat Al Qur’an dan kesesuaiannya dengan keseharian anak-anak:
1. Ketika melihat rumah yang berantakan, sang ibu mengajarkan ayat ini:
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ ” [سورة الأعراف : الآية : 170
“Sesungguhnya Allah tidaklah menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan perbaikan”. Al A’raf: 170.
Kemudian berkata kepada anak: _”Siapa yang ingin pahala?”._Ia berkata dengan suara yang yang santai dan mengulangi kembali ayat tadi, atau menjelaskan maknanya dengan gaya bahasa yang sederhana, dengan memfokuskan ke arah pahala. Kemudian berkata : _“Ayo, kita rapikan rumah, supaya kita dapat pahala.”_
Dan memberikan penekanan pada kata *mushlihin* (orang-orang yang melakukan perbaikan)
2. Jika anak-anak duduk untuk menyelesaikan tugas sekolah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, membantu ibu menyiapkan makanan, dll maka ibu akan mendapatkan adanya kekurangan pada hasil pekerjaan mereka. Maka ibu menghadapinya dan berkata :
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً ” [سورة الكهف : الآية : 30] Sesungguhnya Allah Subhaanah Wa Ta’ala berfirman : _”Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang paling baik perbuatannya.”_ Surah Al Kahfi : 30.
Dan ia (ibu) menekankan pada kata *”ahsan”* (paling baik). Kemudian mengatakan : sesuatu yang *paling baik*… tulisan *terbaik*, amalan yang *terbaik*…. untuk mendapatkan pahala yang *terbaik*.”
Dan sangat ditekankan untuk banyak menggunakan lafazh-lafazh Al Qur’an tersebut, supaya anak-anak merasakan adanya keterkaitan antara kenyataan dengan ayat *man ahsanu amalaa* yang paling baik amalannya.
3. Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya keluar untuk bermain di jalan tanpa izin, atau bertengkar dengan saudaranya dan melampaui batas dengan memukulnya, atau bermain di dapur hingga merusak sebagian perkakas dapur, dll. Maka ibu tidak langsung memarahi dan mengatakan kamu salah. Bahkan ibu mengajari nya untuk meminta maaf dan membacakan ayat Al Qur’an :
إِنّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السّـيّئَاتِ ” [سورة هود : الآية : 114] _”Sesungguhnya kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan.”_ Surah Hud : 114.
Supaya anak mengikutkan kesalahan yang telah dia lakukan dengan kebaikan.
Dan juga aya berikut ini :
” إِنّمَا يُرِيدُ الشّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ ” [سورة المائدة الآية : 91] _“Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian.”_ Al Maidah : 91
4. Ketika mereka bermain air, atau menghambur-hamburkan makanan. Sampaikanlah ayat ini
“وَلاَ تُسْرِفُوَاْ, إنه لا يحب المسرفين ” [سورة الأعراف : الآية : 31] _“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”_ Al A’raf : 31
Ajarkan kepada anak-anak, bahwa kita harus mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah meskipun sedikit. Ingatkan tentang kondisi orang-orang yang kehidupannya serba kekurangan, bahkan tidak memiliki harta dan makanan. Jadi kita yag telah dikaruniai oleh Allah berupa kelapangan rezeki, sepatutnya kita mensyukurinya dengan cara tidak menghambur-hamburkannya.

💐 Selain menyampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehidupan keseharian, orang tua mengajarkan kepada mereka tentang Islam, meskipun sebenarnya anak-anak itu sudah terlahir di atas agama Islam.
Rasulullah _shallallaahu alaihi wa sallam_ bersabda:

_“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”_

Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Akan tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan/tindakan. Siapa yang Allah _Subhanahu wa ta’ala_ takdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, niscaya Allah _Subhanahu wa ta’ala_ akan menyiapkan untuknya orang yang akan mengajarinya jalan petunjuk sehingga jadilah dia dipersiapkan untuk berbuat (kebaikan).

Orang tua mengajari mereka sunnah yang benar, yakni sunnah yang bersumber dari rasulullah _shallalahu alahi wa sallam_. Mengajarkan mereka untuk menjauhi bid’ah dan khurafat. Megajarkan mereka untuk beramal shalih.

Dalam memandu anak menghafal Al Quran, jangan memberikan kesan kaku, misalnya mengatakan: _“Ayo, duduk! Dengar dan hafalkan ayat ini!”_ Tetapi usahakan untuk biasa memperdengarkan anak-anak lantunan ayat-ayat Al Quran setiap saat melalui media tertentu, seperti kaset, mp3 dll. Dengan hal seperti ini, insyaAllah anak dengan mudah akan menghafal ayat-ayat Al Qur`an tersebut.

🥀Yang terakhir, salah satu cara untuk mendapatkan anak yang shalih adalah dengan banyak-banyak mendoakannya. Orang tua, khususnya ibu, seharusnya banyak mendoakan anak-anaknya semoga Allah memberikan hidayah kepada anaknya dan memberikan taufik-Nya supaya anak menjadi anak yang shalih. Salah satu contoh doanya adalah:
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
_”Wahai rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_

Orang tua mendoakan keshalihahan untuk anak-anaknya, baik laki-laki maupun yang perempuan. sebagaimana mereka juga selalu berlindung kepada Allah dari perbuatan durhaka anak-anaknya kepadanya.

_Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kepada kita rezeki keturunan yang shalih yang insyaAllah bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kalian rezeki untuk berhaji dan berumrah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan kita kembali di surga-Nya sebagaimana Dia telah mempertemukan kita disini. Aamiin yaa rabbal ‘aalaminin._

Allaahu Ta’ala a’lamu bishshawab.

✍ Ummu Abdillah Yusuf

Fiqih : Perkenalan Bab Najis

Hari ini kami belajar fiqih, karena banyak pertanyaan Faris tentang kenapa sih kok kita nggak boleh pelihara anjing, terus kenapa kalau setelah kencing harus bersuci, kenapa sebelum sholat harus wudhu. Baiklah sekalian mamanya mengulang materi bab najis, disarikan dari kuliah belajar islam. 
PENJELASAN BAB NAJIS

👤 Ustadz Fauzan ST, MA

📗 Matan Abū Syujā’ | Kitab Thahārah
HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN NAJIS
بسم اللّه الرحمن الرحيم 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد. 
Para Sahabat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita lanjutkan pada halaqah yang ke-11.
Yang mana pada halaqah kali ini kita akan sedikit membahas tentang beberapa masalah yang berkaitan dengan najāsah. 
■ MASALAH PERTAMA | HUKUM MENGHILANGKAN NAJIS
Hukumnya adalah wajib, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla: 
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ 
“Dan pakaianmu bersihkanlah (sucikanlah).” 

(QS Al-Muddatstsir: 3)
Dan juga dalam sebuah hadits, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ البَوْلِ 
“Kebanyakan adzab/siksa di dalam kubur adalah disebabkan karena kencing.”

(Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim) 
⇒ Yaitu maksudnya dia tidak bersuci (mensucikan) kemaluannya dari kencing tersebut. 
■ MASALAH KEDUA | MACAM-MACAM NAJIS
Maksudnya disini adalah; akan disebutkan hal-hal yang disebutkan oleh para ulama, di mana hal tersebut adalah termasuk hal yang najis, baik disepakati atau di sana ada perbedaan para ulama di dalamnya. 
• ⑴ BANGKAI
Bahwasanya bangkai adalah najis. Dan sudah kita jelaskan bagian-bagiannya dan juga pengecualiannya (pada halaqah sebelumnya). 
• ⑵ DAGING BABI
Ini juga najis, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla: 
أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ
“Atau daging babi karena itu adalah najis.” 

(QS Al-An’ām: 145)
• ⑶ KENCING DAN KOTORAN ANAK ĀDAM (MANUSIA)
Para ulama sepakat tentang kenajisannya. 
• ⑷ KENCING DAN KOTORAN HEWAN
Adapun hewan yang diperbolehkan untuk dimakan, disana ada khilaf (perbedaan pendapat), seperti: kambing, sapi dan kelinci, apakah kotoran dan kencingnya najis. 
✓Maka yang rajih (kuat) adalah pendapat yang tidak najis (thāhir). 
Ini adalah pendapat Imām Mālik dan Imām Ahmad. 
◆ Dalil: 
Dalam sebuah hadits shahih, dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kaum Uraniyyun untuk meminum kencing dari kencing unta dalam rangka mengobati penyakit mereka. 
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi) 
Dan seandainya kencing tersebut adalah najis maka tidak boleh diminum. 

Ini menunjukkan bahwasanya kencing hewan yang bisa dimakan adalah tidak najis. 
• ⑸ AIR LIUR ANJING
Ini juga disebutkan oleh para ulama termasuk hal yang najis. 
◆ Dalil: 
Sebuah hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan untuk mencuci bejana yang dijilat oleh anjing sebanyak 7 kali yang salah satunya dengan tanah. 
• ⑹ DARAH
Adapun darah hāidh dan nifās maka dia adalah najis sebagaimana kesepakatan para ulama. 
Sedangkan darah yang lainnya, menurut pendapat jumhur (mayoritas) para ulama dia adalah najis namun dengan syarat. 
Syaratnya adalah masfūhan (darah tersebut mengalir), sebagaimana hal ini disebutkan didalam ayat. 
Oleh karena itu jika darah tidak mengalir, maka dia tidaklah najis. 
Adapun pendapat didalam madzhab Syāfi’īyyah, membedakan antara banyak dan sedikitnya. 

✓Jika banyak dia najis. 

✓Jika sedikit tidak najis karena perkara tersebut adalah perkara yang dimaafkan (ma’fuw). 
• ⑺ CAIRAN MADZI 
Cairan madzi adalah cairan yang keluar dari kemaluan seseorang tatkala tergerak syahwatnya.
Ini dihukumi oleh para ulama sebagai cairan yang najis dan membatalkan wudhū’. 
• ⑻ CAIRAN MANI
Disebutkan oleh sebagian para ulama termasuk perkara najis. 
✓Namun pendapat yang shahih bahwasanya air (cairan) mani adalah suci dan tidak najis. 
• ⑼ CAIRAN WADHI
Yaitu cairan yang keluar dari kemaluan yang biasanya setelah kencing. Ini adalah najis. 
• ⑽ KHAMR
Dimana sebagian ulama mengatakan khamr adalah najis dan sebagian yang lain mengatakan khamr adalah thāhir (suci). 

✓Pendapat yang rajih (kuat) bahwasanya khamr adalah tidak najis (suci). 
MACAM MACAM AIR YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK BERSUCI
بسم اللّه الرحمن الرحيم 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أسرف الأنبيآء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. 
Para Sahabat Bimbingan Islam sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada halaqah yang ke-4 ini kita akan membacakan Kitab Matan Abū Syujā’, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberkahi dan memudahkan kita semua. 
قال المألف : 

((كِتَابُ الطّهَارَةِ)) 
Berkata Penulis rahimahullāh: 

((Kitab Thahārah)) 
◆ Ath-Thahārah (الطّهَارَةِ)
• Makna secara bahasa adalah an-nazhāfah (أَلنَّظَافَةُ), yaitu kebersihan.

• Makna secara istilah adalah: 
عِبَارَةٌ عَنْ رَفْعِ الْحَدَثِ وَ إِزَالَةِ النَّجَسِ 
“Proses mengangkat hadats dan menghilangkan najis.”
◆ Al-Hadats (الحَدَثُ) 
Adalah: 
وصف قائم بالبدن يمنع من الصلاة ونحوها مما تشترط له الطهارة
“Sifat atau status pada diri seseorang yang menghalangi dari shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya yang disyaratkan pada ibadah tersebut thahārah.”
Misalnya: 

Seorang yang keluar angin dari duburnya, maka statusnya dia berhadats dan menghalanginya untuk melaksanakan ibadah shalat sampai dia thahārah (berwudhū’) yang mengangkat hadats tersebut.
◆ Najis 
Adalah: 
كل عين يجب التطهر منها
“Segala sesuatu zat yang kita diwajibkan secara syari’at untuk bersuci darinya.”
Misalnya: 

Kotoran manusia, maka ini adalah zat yang najis. Seseorang yang terkena kotoran manusia, maka dia wajib untuk membersihkannya, sebelum dia melaksanakan ibadah shalat.
Para Sahabat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, 
Para ulama memulai kitab fiqh mereka diawali dengan pembahasan kitab Thahārah, karena kitab ini berkaitan dengan kitab Shalat, dimana shalat disyaratkan untuk bersuci sebelum melaksanakan ibadah tersebut. 
Dan Penulis disini memulai kitab Thahārah dengan menjelaskan tentang bermacam-macam (jenis-jenis) air yang bisa digunakan untuk bersuci.
Berkata Penulis rahimahullāh: 
((الْمِيَاهُ الَّتِي يَجُوْزُ التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ)) 
((Air yang diperbolehkan untuk digunakan dalam bersuci ada 7 macam)) 
• PERTAMA
((مَاءُ السَّمآءِ)) 
((Air dari langit)) 
Yaitu hujan. Dalilnya adalah surat Al-Anfāl ayat 11. Allāh Ta’āla berfirman:
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ
“Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit, agar kalian bersuci dengannya.”
• KEDUA
((وَمَاءِ الْبَحْرِ)) 
((Air laut)) 
Atau مَاءُ الْبِحَارِ dalam shahīh yang lain. 
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Ash-hābus Sunān, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda tatkala ditanya tentang air laut, Beliau mengatakan:
وَالطَّهُورُ ماؤُهُ ، الحِلُّ ميتتُهُ
“Bahwasanya air laut tersebut adalah suci airnya dan halal bangkainya.”
Yaitu hewan air laut apabila menjadi bangkai, maka halal.
• KETIGA
((وماء النهر)) 
((Air sungai))
Dan ini adalah ijma’ para ulama bahwasanya air sungai adalah yang suci. 
Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فيه كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدّنَسِ
“Permisalan shalat lima waktu adalah seperti sungai yang mengalir yang melimpah ruah airnya di depan pintu seseorang diantara kalian. Kemudian dia mandi setiap hari 5 waktu, maka apakah tersisa sedikit pun kotoran?.” (HR Muslim)
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memisalkan dengan air sungai yang digunakan untuk bersuci.
KEEMPAT
((وَ مَاءُ الْبِئْرِ)) 
((Air sumur)) 
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Tirmidzi, dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwudhū’ dari air sumur Budhā’ah. Dan tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya, maka Beliau mengatakan
الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ
“Bahwasanya air itu tidak menajiskan segala sesuatu apapun.”
• KELIMA
((وَمَاءُ الْعَيْنِ)) 
((Mata air)) 
Yang maknanya sama dengan air laut dan air sungai, maka hukumnya pun suci.
KEENAM
((وَمَاءُ الثَّلْجِ)) 
((Air salju)) 
• KETUJUH
((وَمَاءُ الْبَرَدِ)) 
((Air embun)) 
Dalilnya: 

Hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang do’a istiftah, ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berdo’a: 
اللهم اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ 
“Ya Allāh, cucilah dosa-dosaku dengan air salju dan air embun.”

(HR Bukhari 2/182, Muslim 2/98)
*catatan penting untuk mama, Faris masih memahami sebagian jenis-jenis najis. Selanjutnya akan kami pelajari lagi nanti. 

Kala Sakit Allah menyuruh Faris untuk Beristirahat

Sudah dua hari absen melaporkan kegiatan harian Faris karena kami off belajar outdoor hanya menyempatkan membaca buku dan mainan ringan saja di dalam kamar.
Berawal dari alergi terhadap udara dingin, radang tenggorokan yang menjadi sampai dengan ashma yang kambuh memaksanya untuk beristirahat dua hari ini. Setelah ikhtiar meminum madu dan haba tidak membuahkan hasil akhirnya saya memutuskan untuk membawanya berobat ke dokter anaknya, dr Indrayanti yang sudah sangat memahami riwayat kesehatan Faris sejak bayi.
Selama sakit saya menjelaskan kepadanya mengenai adab ketika sakit.

Adabadab Syar’i ketika Sakit

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berbaik sangka kepadaNya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Saya menekankan kepada Faris bahwa Allah sayang padanya, maka dari itu Allah berikan sakit agar Faris bisa beristirahat. Nanti insyaAllah Faris akan diberi kesembuhan sama Allah makanya Faris harus berdo’a meminta kepada Allah agar diberikan kesembuhan.

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Diriwayatkan dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 1633)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Parenting Nabawiyah Comunity : Mendidik Anak Usia 4-6th 

Menasihati dan Mengajari Saat Berjalan Bersama

Berikut ini adalah kisah yang dituturkan Abdullah bin Abbas ketika diajak jalan bersama Rasulullah di atas kendaraan beliau. Dalam perjalanan ini, beliau mengajarkan kepadanya beberapa pelajaran sesuai jenjang usia dan kemampuan daya pikirannya melalui dialog ringkas, langsung dan mudah. Rasulullah bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran: peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusia persatu padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah bagimu, pena telah diangkat dan lembaran catatan telah mengering.”[1]

Menarik Perhatian Anak dengan Ucapan yang Lembut

Adakalanya Rasulullah memanggil anak dengan panggilan yang paling sesuai dengan jenjang usianya, seperti ungkapan, “Anak muda, sesungguhnya aku akan memberimu beberapa pelajaran.” Dan seterusnya. Adakalanya beliau memanggil dengan sebutan, “Anakku” seperti beliau lakukan kepada Anas saat turun ayat hijab, “Hai anakku, mundurlah kamu ke belakang.”

Rasulullah menyebut anak-anak Ja’far, putra pamannya, “Panggilkanlah anak-anak saudaraku.” Beliau pun menanyakan kepada ibunya, “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurus seperti anak-anak yang sakit?”[2]

Seseorang lebih terkesan bila dipanggil dengan julukan, gelar, dan predikat yang baik dari pada nama aslinya. Tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, yang sering kali kita dapati anak-anak yang dipanggil dengan julukan tidak enak didengar, seperti: gundul, gembrot, kribo, dan sebagainya.

Menghargai Mainan Anak dan Jangan Melarangnya Bermain

Apa yang akan Anda katakan ketika mengetahui bahwa Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya. Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyah membawa serta boneka mainannya ke rumah beliau, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Realitas seperti ini menunjukkan pengakuan dari Rasulullah terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan dan pemenuhan kecenderungan (bakat).

Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disuainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.”[3] Al Ghazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, dan berolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.”

Tidak Membubarkan Anak yang Sedang Bermain

Anas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, ‘Rasulullah pasti sedang istirahat siang.’ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali….”[4]

Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka perlukan sebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirkanlah dahulu untuk membubarkan mereka saat bermain. Kalau untuk memperingatkan karena waktu yang tidak tepat atau membahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.

Tidak Memisahkan Anak dari Keluarganya

Abu Abdurrahman Al Hubuli meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan Abu Ayyub berada dalam suatu pasukan, kemudian anak-anak dipisahkan dari ibu-ibu mereka, sehingga anak-anak itu menangis. Abu Ayyub pun segera bertindak dan mengembalikan anak-anak itu kepada ibunya masing-masing. Ia lalu mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”[5]

Rasulullah juga melarang seseorang duduk di tengah-tengah antara seorang ayah dan anaknya dalam suatu majelis. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang duduk di antara seorang ayah dan anaknya dalam sebuah majelis.”[6]

Jangan Mencela Anak

Anas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.”[7]

Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.”

Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”[8]

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimua dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”[9]

Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”[10]

Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa Keburukan

Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.”[11]

Orang tua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisa bermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.[12]

Meminta Izin Berkenaan dengan Hak Anak

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa disajikan kepada Rasulullah segelas minuman, lalu beliau meminumnya, sedang disebelah kanan beliau terdapat seorang anak dan disebelah kirinya terdapat orang tua. Sesudah minum, beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau setuju bila aku memberi minum mereka terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu.” Rasulullah pun menyerahkan wadah itu ke tangannya.[13]

Mengajari Anak Menyimpan Rahasia

Abdulllah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun.”[14]

Makan Bersama Anak Sembari Memberikan Pengarahan dan Meluruskan Kekeliruan Mereka

Umar bin Abu Salamah bercerita, “Ketika masih kecil, aku berada di pangkuan Rasulullah dan tanganku menjalar ke mana-mana di atas nampan. Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Hai bocah, sebutlah nama Allah (berdoa), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.’ Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”[15]

Abdullah bin Umar tidak pernah melakukan shalat malam, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar seandainya dia shalat malam.” Sesudah itu, dia hanya tidur sebentar saja setiap malamnya.[16]

Berlaku Adil Kepada Anak, Tanpa Membedakan Laki-laki atau Perempuan

Nu’man bin Basyir pernah datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Sungguh, aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.”  Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.[17]

Melerai Anak yang Terlibat Perkelahian

Rasulullah pernah memisahkan dua bocah yang terlibat dalam perkelahian. Beliau meluruskan pemikiran mereka dan menyerukan kepada orang-orang dewasa untuk menangkal kezaliman.[18]

Gali Potensi Mereka

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Di antara pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman terdapat sebuah pohon yang dedaunannya tidak pernah gugur, dan itulah perumpamaan seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Orang-orang menebaknya dengan beragam pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman tersebut. Ibnu Umar berkata, ‘Dalam hatiku terbetik bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma, tetapi aku merasa malu untuk mengutarakannya (karena saat itu usiaku masih sangat muda). Selanjutnya, mereka pun menyerah dan berkata, ‘Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Itulah pohon kurma’.”[19]

Rangsang dengan Hadiah

Rasulullah pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, Al Abbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini.” Mereka pun berlomba lari menuju tempat Rasulullah berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung dan ada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah menciumi mereka semua serta menepati janji kepada mereka.[20]

Menghibur Anak Yatim dan Menangis Karena Mereka

Rasulullah bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim itu di surga seperti ini.” Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan meregangkan sedikit saja.[21] Rasulullah pernah menciumi dan bercucuran air mata ketika melihat anak-anak Ja’far menjadi yatim karena ayahnya gugur dalam medan perang, beliau juga menghibur mereka.[22]

Tidak Merampas Hak Anak Yatim

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita.”[23] Dengan demikian, seleksilah benar-benar harta kita. Adakah di dalamnya hak anak yatim yang kita rampas? Sebab, ancaman memakan harta mereka begitu jelas dan gamblang.

Melarang Bermain Saat Setan Berkeliaran dan Lindungilah dari penyakit ‘Ain

Rasulullah bersabda, “Apabila malam mulai gelap (malam telah tiba), tahanlah anak-anak kalian, karena setan saat itu sedang bertebaran. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu maghrib, lepaskanlah mereka….”[24]

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah melihat anak yang sedang menangis kemudian beliau bersabda, “Mengapa bayi kelian menangis? Mengapa tidak kalian ruqyah dari penyakit ‘ain?”[25]

Mengajari Azan dan Shalat

Abu Mahdzurah bercerita, “Aku bersama 10 orang  remaja berangkat bersama Rasulullah dan rombongan. Pada saat itu, Rasulullah adalah orang paling kami benci. Mereka kemudian menyerukan azan dan kami yang 10 orang remaja ikut pula menyerukan azan dengan maksud mengolok-ngolok mereka. Rasulullah bersabda, ‘Bawa kemari 10 orang remaja itu!’ Beliau memerintahkan, ‘Azanlah kalian!’ Kami pun menyerukan azan.

Rasulullah bersabda, ‘Alangkah baiknya suara anak remaja yang baru kudengar suaranya ini. Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.’ Beliau bersabda demikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan dan bersabda kepadanya, ‘Tentu engkau sudah hafal bukan?’ Abu Mahdzurah tidak mencukur rambutnya karena Rasulullah waktu itu mengusapnya.[26]

Mengenai shalat, Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian shalat sejak usia 7 tahun dan pukullah ia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.”[27]

Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari aku pernah masuk ke tempat Rasulullah dan yang ada hanyalah beliau, aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Rasulullah menemui kami lalu bersabda, ‘Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?’ Kala itu bukan waktu shalat. Maka salah seorang berkata, ‘Bagaimana Anas di posisikan di dekat beliau?’ Beliau menempatkanku di kanan beliau lalu beliau shalat bersama kami…”[28]

Tanpa cangung, Rasulullah mengajak anak shalat berjamaah meski tak ada orang selain anak tersebut, tanpa ragu pula, beliau mengangkat pemuda yang membencinya untuk menjadi tukang azan atau muazin kota Mekkah.

Mengajari Anak Sopan Santun dan Keberanian

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada anak ketika beliau hendak memberi minum kepada tamu yang dewasa terlebih dahulu sebelum dia. Namun anak itu menolak. Saat itu Rasulullah tidak bersikap kasar dan tidak menegurnya.

Di antara keberanian yang beretika ialah anak tidak dibiarkan berbuat sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Al Ghazali mengatakan, “Anak hendaknya dicegah dari mengerjakan apa pun dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab, ketika anak menyembunyikannya berarti dia menyakini perbuatan tersebut buruk dan tidak pantas dilakukan.[29]

Menjadikan Anak yang Lebih Muda sebagai Imam Shalat dan Pemimpin dalam Perjalanan

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila kalian sedang berpergian, hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling bagus bacaannya di antara kalian, walaupun ia orang yang paling muda. Bila ia telah menjadi imam berarti ia adalah pemimpin.”[30] Dan dikuatkan dengan hadits shahih, Amru bin Salamah berkata, Rasulullah bersabda, “Hendaknya yang menjadi imam kalian adalah yang paling banyak bacaan Al Qur’annya.”[31]

 

Sumber:

Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010

[1] At Turmizi, Kitab Shifatul Qiyamah, 2516

[2] Muslim, 4075

[3] Ihya ‘Ulumuddin: III, 163

[4] Ahmad, 12956

[5] At Turmizi, 1204

[6] At Thabrani, Al Ausath: IV, 4429

[7] Muttafaq Alaih.

[8] Ihya ‘Ulumuddin: III

[9] At Turmizi, Kitab ‘Ilmi, 2602

[10] Ihya ‘Ulumuddin: III, 62

[11] Muslim, Kitab Zuhud wa Raqaiq, 5328 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 1309

[12] Untuk lebih jelasnya lihat hadits At Turmizi, Kitab Birri wash Shilah, 1828

[13] Muttafaq Alaih.

[14] Muslim, Kitab Haidh, 517 dan Abu Dawud, Kitab Jihad, 2186

[15] Bukhari, Kitab Ath’imah, 4957

[16] Muslim, Kitab Fadhuish Shahabah, 4528

[17] Bukhari, Kitab Hibah, 2398

[18] Lebih jelasnya lihat hadits Muslim, Kitab Birr wash Shilah, 4681

[19] Muttafaq Alaih.

[20] Majmu’uz Zawaid: IX, 17

[21] Bukhari, Kitab Thalaq, 4892 dan Kitab Adab, 5556; Tirmizi, Kitab Barri wash Shilah, 1841

[22] Lebih jelasnya lihat hadits Ahmad, Musnaddul Anshar, 25839 dan Musnadul Ahli Baith, 1695

[23] Ibnu Majah, Kitab Adab, 3668 dan Ahmad Musnadul Mukstirin, 9289

[24] Bukhari, Kitab Badil Khalq, 3038

[25] Shahih Al Jami’, 5662

[26] Ahmad, Musnadul Makkiyah, 14833

[27] Tirmizi, Kitab Shalat, 372 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 418

[28] As Silsilatush Shahihah, 140

[29] Ihya ‘Ulumuddin, III

[30] Al Bazzar, hasan menurut Al Haitsami, Majma’uz Zawaid: II, 64

[31] Shahih Al Jami’, 5350

QOTD : Kenapa sih kok Chef itu Pakai Topi? 

Pagi ini selepas olahraga pagi dan sarapan. kegiatan kami adalah cooking class membuat cake pisang dalam rangka menyelamatkan pisang ambon yang sudah mau busuk wkwk. Jadi ceritanya Faris pagi ini jadi chef. Tugas utama Faris menghaluskan pisang, mencampur dengan bubuk coklat dan memegang mixer saat membuat adonan. 

.
.
.
Apa kabar dengan Irbad?
Adiknya kebagian tugas buang sampah dan menyiapkan loyang untuk adonan yang akan dipanggang nanti.
.
.
.
Ada sesuatu hal yang lucu dari adiknya ini, meskipun nampak berbadan besar dan tegap (bisa dibilang lebih macho) dari kakaknya tetapi dia punya kebiasaan unik. Salah satunya geli jika mendengar suara mesin, mulai dari kipas elektrik, mixer sampai dengan mesin sedot debu pun dia selalu hindari. Padahal dia terkenal lebih berani dalam beberapa tantangan yang berhubungan dengan kemampuan motorik alias gerak. Bahkan dia sudah jago memanjat terlebih dahulu dibandingkan berjalan. Kemampuan motoriknya jauh lebih cepat dibandingkan dengan kakaknya, tetapi entah mengapa dia sangat geli dan tidak mau memegang alat elektronik dengan suara yang cenderung bising. Dalam hati saya mengingat, dahulu sewaktu kakaknya masih belum ada setahun malah bisa terkantuk-kantuk jika mendengarkan mesin penyedot debu saat saya membersihkan kamar.
.
.
.
Anak-anak memang punya banyak cerita.
.
.
.

Baiklah lanjut pembahasan mengenai kelas memasak, setelah menimbang (sambil belajar angka dan besaran tentunya) kami lanjutkan acara mencampur seluruh bahan yang ada. Tidak butuh waktu lama adonan siap untuk dimasukkan ke oven.
.
.
.
Dalam sesi kelas masak ini muncul pertanyaan unik dari Faris yaitu kenapa kok chef pakai topi ma? Kenapa kok seragamnya harus putih nggak hitam aja atau abu-abu?
.
.
.
Mendadak saya mengatur napas dan mencari jawaban yang tepat agar mudah dipahami.
.
.
.
Chef memakai topi mungkin agar aman, kepala dan rambutnya terlindungi dari asap atau api saat proses memasak. Tetapi sepanjang pengetahuan Mama topi yang dipakai oleh chef juga menunjukkan tingkatan/kelas chef itu. Istilahnya di dalam memasak ada juga jabatan untuk chef yang sudah ahli atau yang masih junior. Kurang lebih begitu, kalau mengenai baju chef kenapa harus putih. Itu agar tidak mudah menyerap panas sebab chef kan tempat bekerjanya di dapur. Agar lebih detil yuk kita cari bagaimana sih sejarah adanya topi chef.
.
.
.

Seragam seorang koki biasanya identik dengan warna putih bersih disertai sebuah topi, yang juga berwarna putih. Tipe dan ukuran dari topi tersebut berbeda-beda. Ada yang pendek, tinggi, berlipat-lipat, hingga tanpa lipatan sedikit pun. Mengusut asal topi ini bisa dimulai dari 2.000 tahun yang lalu.

Di Asiria, sebuah kerajaan yang berpusat di Irak, seorang koki, terutama koki kerajaan, memiliki tempat yang cukup terhormat sekaligus ditakuti. Dengan ‘hak’ untuk menyiapkan makanan bagi sang raja, koki dianggap mampu untuk meracuni raja.

Oleh karenanya, raja memutuskan untuk memberikan posisi yang istimewa untuk sang koki. Dia dibedakan dengan pegawai dapur yang lain dengan diberikan topi.

Itu untuk cerita di Asia. Untuk di Eropa ceritanya sedikit berbeda. Kewajiban untuk menghidangkan makanan seenak mungkin mengharuskan koki banyak membaca banyak buku tentang masakan.

Hal ini membuat sebagian besar orang menganggap mereka termasuk golongan pintar. Sayangnya, titel tersebut justru menjadikan mereka, bersama para seniman dan filsuf, sasaran pihak kerajaan Yunani yang ingin memusnahkan para cendekiawan.

Untuk melindungi diri, mereka masuk ke Gereja Ortodoks Yunani dan mencoba berbaur dengan para biarawan. Salah satu cara yang digunakan adalah menggunakan seragam yang mirip dengan ‘seragam’ para biarawan.

Namun, karena tidak mau dianggap melecehkan para biarawan mereka memilih warna putih, sementara biarawan menggunakan warna hitam atau abu-abu. Saat itu pula, para koki mulai menggunakan topi.

Masih di Eropa, Raja Henry VIII dari Kerajaan Inggris memiliki cerita tersendiri. Dalam suatu jamuan makan, Raja Henry menemukan sehelai rambut dalam makanan yang akan dia santap.

Merasa terhina, sang raja memerintahkan tentara kerajaan untuk memenggal kepala sang koki. Tidak lama kemudian dia mengeluarkan aturan bahwa semua koki wajib menggunakan topi ketika memasak. Tentunya tidak ada yang berani melawan.

Sedangkan di Prancis, tahun 1800-an, seorang koki bernama Marie-Antoine Carême memutuskan bahwa koki harus memiliki sebuah seragam yang khusus. Salah satu ketentuan dari seragam tersebut adalah harus berwarna putih. Tujuannya untuk menunjukan betapa bersihnya dapur yang digunakan oleh sang koki.

Nah, selain menentukan warna, Carême juga membuat sebuah ketentuan baru, atau lebih tepatnya sebuah diferensiasi baru, bagi para pengolah makanan tersebut. Walaupun berasal dari dapur yang sama, para koki dengan tanggung jawab dan pengalaman berbeda, akan menggunakan topi yang berbeda pula.

Hal yang membedakan adalah tinggi topi dan banyaknya lipatan pada topi tersebut. Semakin tinggi topi yang digunakan, maka semakin tinggi pula jabatan atau tanggung jawab yang dimilikinya.

Untuk lipatan topi, jumlah lipatan yang semakin banyak, biasanya hingga 100, menunjukan banyaknya kemampuan memasak yang dikuasai oleh koki tersebut. Carême sendiri menggunakan topi hampir setinggi setengah meter disertai 100 lipatan.
.
.
.
disarikan dari intisari. com
.
.
.
Kenapa baju chef itu putih kok nggak hitam aja?

Warna putih pada baju chef ternyata memiliki arti tersendiri.

Dilansir dari TheDailyMeal, Senin (18/1/2016), alasan di balik warna putih pada baju chefadalahadalah menunjukkan kebersihan. Warna putih adalah reflekstor atau pemantul panas, sehingga orang yang mengenakan akan lebih merasa nyaman karena pakaiannya tidak menyerap panas. Lain halnya jika baju berwarna hitam, karena hitam menyerap panas.

Dapur tempat mengolah maknan identik dengan suhu panas, jadi bayangkan jika pakaian seorang chef juga menimbulkan panas. Akan terasa sangat tidak nyaman. Warna putih juga mudah dibersihkan menggunakan bahan pemutih sehingga noda yang menempel bisa dengan mudah hilang.

Selain warna, bahan yang digunakan juga kebanyakan katun yang bisa melindungi koki dari suhu panas karena sifat katun menyerap keringat. Lengan panjang pada baju koki juga punya makna, yakni untuk melindungi tangan koki dari panasnya alat masak atau kompor sehingga meminimalisir resiko saat ada kecelakaan.

Tak hanya itu, baju koki ini didesain khusus bolak balik sehingga jika ada noda di satu sisi maka bisa di balik ke sisi lainnya. Alasan inilah yang membuat koki merasa wajib mengenakan baju ini saat sedang menjalankan tugas di dapur.

Saya juga baru tahu secara detil ternyata itu alasan kenapa baju chef harus putih.*

Setelah kelas memasak hari ini dilanjutkan dengan bermain roleplay : ngebengkel betulin excavator putarnya lagi diservice lanjut bikin garasi. Adeknya mainan geoboard sensory play masukin karet ke paku geoboardnya lanjut diberesin bljr out n in ke dalam plastik. Setelah adiknya tidur lanjut kelas pengenalan huruf hijaiyah “shoqur” untuk elang n membaca ensiklopedi elang. Dengan panduan buku happy hijaiyah dari mbak DK Wardhani dan Ari Nilandari saya mengenalkan seperti apa burung elang itu. 

Rasulullah SAW melarang kita mengonsumsi binatang bercakar seperti elang. Faris memahami kalau tidak boleh dimakan berarti haram ya ma. Sebagian ulama dan cendekiawan berpendapat bahwa larangan Rasulullah SAW ini agar burung elang sebagai binatang predator utama ini tetap ada. Kenapa? Karena jumlah burung elang ini sangat terbatas namun memiliki fungsi utama dalam menjaga keseimbangan alam. Elang memangsa tupai, tikus, musang dan reptil. Tugas elang adalah mengendalikan jumlah hewan pemakan tumbuhan tersebut, bukan memusnahkannya. Apabila elang tidak ada, binatang pemakan tumbuhan akan semakin banyak dan tidak terkendali. Sawah petani dapat hancur dimakan tikus. Selama burung pemangsa itu berpatroli, insyaallah alam akan tetap seimbang. Begitulah Allah menciptakan makhluk tidak akan pernah sia-sia.

.
.
.
Setelah membaca buku, kami lanjutkan ke kelas memasak bikin ramen kari untuk makan siang. Faris bertugas mencuci sayur dan jamur serta memasukkan ke dalam panci. Kemudian memasukkan mie dan rempah-rempah. Selesai memasak kami makan bersama. Sebelum tidur kita membahas mengenai kebiasaan tidur siang Rasululullah SAW. Alhamdulillah bi ni’matimushaalihat.

.
.
.
Kegiatan di sore hari setelah mandi, bermain bebas. Anak-anak memilih menyusun lego dan menyortir beberapa mainannya yang tercampur tidak sesuai pada boxnya. Sebelum tidur kami murojaah surat pendek sambil bermain membuat bentuk bayangan menggunakan senter. Terima kasih untuk pelajaran hari ini 💕

Apa Kebiasaan Unik Kamu? 

Setiap orang pasti memiliki kebiasaan-kebiasaan yang unik bahkan mungkin konyol. Bahkan saya sendiri pun punya kebiasaan unik yang berbeda dari yang lain (kasih tahu nggak ya, maluu). 

Beberapa hari ini saya berusaha mengenal anak sulung saya, Faris. Banyak hal unik yang sebenarnya sudah saya ceritakan sebelumnya, tetapi lebih kepada karakternya. Ada satu kebiasaan unik lagi yang baru saya sadari. Kebiasaan unik itu adalah mencoba toilet umum. Entah mengapa anak saya yang satu ini suka sekali mencoba pee di toilet baru yang belum pernah ia kunjungi. Misalnya nih, hari ini kami pergi jalan-jalan ke sebuah taman pasti dia akan sibuk mencari toilet untuk direview ala dia. Geli sekali rasanya jika mendengar komentar tulus seorang anak 3 tahun yang sedang lucu-lucunya. Biasanya setelah pee dia akan mengomentari apa saja yang dia lihat tadi di dalam kamar mandi. 

Tidak jarang Faris berkomentar, “ma, mama tau nggak Faris abis pipis dimana? Tadi Faris pipis di bla bla.. enak loh ma kamar mandinya bersih, airnya seger dan wangi nggak ada sampah. Orang-orang pinter ya buang sampah sembarangan”. 
Ini satu contoh kejadian, terkadang jika dia tidak nyaman dengan kamar mandinya pasti obrolan berubah menjadi seperti ini : “ma, mama Faris tadi numpang pipis di sana loh. Kok kotor ya ma lantainya, licin lagi Faris hampir kpleset. Faris nggak jadi pipis. Orang airnya kotor. Kenapa ya ma kamar mandi kok nggak ada pewanginya, emang nggak ada bersihin?Kan Allah sukanya sama yang bersih-bersih kan ma” 
Begitulah salah satu cuplikan cerita apabila Faris mengomentari salah satu fasilitas umum. 
Sama halnya jika kita mengajak ke suatu tempat baru, si anak visual ini dengan cepat dia langsung memetakan ke dalam otaknya. Kemudia menyampaikan apa saja yang dia pikirkan.  Kembali kepada artikel dari grup yang saya semalam, biarkanlah anak-anak belajar mengeluarkan pendapatnya, apa saja 😅

Dipersiapkan untuk Lebih Kuat

Bismillah…edisi perdana arisan tulisan di rumah belajar menulis IIP Batam saya yang menentukan tema tulisan dan saya memilih tema ‘the best of me’. Pengalaman hidup yang (semoga) menginspirasi dan bisa saya ambil ibrohnya. Kali ini saya ingin berbagi tentang sosok lelaki yang sangat amat berpengaruh di dalam hidup saya. Mungkin, coretan ini terkesan sangat amat pribadi tetapi saya takut apabila kisah saya hanya tercatat di otak maka sewaktu-waktu bisa terkikis hilang seiring waktu. Ini adalah kisah seorang pria yang keras kepala dan egois, pria yang mencintai Allah dan mengajak keluarganya untuk mencintai Allah, pria yang punya pendirian sangat amat keras dalam hal agama, bahkan sering mengakibatkan perbedaaan pendapat. Tetapi hal ini yang saya kagumi dari beliau dan saya merasa bangga pernah dididik oleh beliau.

Ya, pria ini adalah sosok manusia kedua yang menjadi idolaku setelah Rasulullah Muhammad S.A.W, pria ini adalah manusia biasa yang penuh dengan kekhilafan dan keterbatasannya sebagai manusia. Beliau mengajarkan kepada betapa berharganya ilmu dan akhlaq dibanding harta atau apapun, beliau yang mengajari untuk marah pada saatnya dan teramat pemaaf dan cepat melupakan kesalahan orang lain. Ya, beliau adalah Papa. Meski kadang beliau menyimpan bahkan menahan cemooh, prasangka buruk bahkan ungkapan kasar dari orang yang tak menyukainya, sabar dan kuat ya Papaku sayang.

Kalau mau jujur, sosok papa bukanlah figur favorit dari sebagian besar waktu saya, terlebih saat saya masih kanak-kanak. Setidaknya itulah yang ada dibenak saya saat saya masih balita, anak-anak, remaja, dan hampir dewasa. Sosok itu sangat jauh dengan sosok mama yang seperti malaikat kala itu. Tetapi waktu menunjukkan bagaimana beliau memposisikannya. Dari kecil saya adalah anak rumahan (yang bisa dibilang terpenjara di dalam tembok baja). Yes!! Saya tidak pernah diizinkan untuk keluar rumah, bermain bersama sembarang orang, bahkan saya tidak boleh menerima pemberian apapun dari orang lain bahkan saudara sekalipun. Papa sangat selektif dan menjagaku. Setelah besar barulah saya tahu kenapa Papa memperlakukan saya seperti itu karena saya ini anak perempuan. Yang harus dijaga sebaik mungkin, tidak boleh sembarang keluar rumah tanpa didampingi mahramnya. Kebiasaan ini juga yang ternyata sekarang membuat saya betah di rumah. 


Suatu hari saat saya masih kuliah strata-1, sebuah SMS terkirim ke handphone saya, dan itu berasal papaku. Tahukah apa yang beliau sampaikan disitu? dengan keterbatasan fisiknya yang sudah berulang kali kena serangan stroke beliau menulis,


 “Mau sehat murah rezki jangan lupa shalat 5 waktu awal waktu juga shalat tahajud dan shalat dhuha, qur’an tak ketinggalan insyaallah”.


 Ya, ini bukan kali pertama beliau mengirim sms seperti ini, banyak hadist dan doa-doa yang selalu beliau kirimkan dan beliau anjurkan untuk di baca. Mungkin ketika saya akan menikah, jika beliau sehat pasti beliau sempatkan untuk mengkopi buku doa-doa dan memberikan kepada saya plus disertai dengan nasehat-nasehat filosofisnya.

Hampir keseluruhan pola hidup, saya dapatkan dari tuntunan beliau, semua hal yang sangat amat saya benci di waktu kecil, baru saya rasakan sekarang manfaatnya. Saya menjadi gila membaca; ya, sedari saya kecil Papa hampir setiap hari membelikan majalah, buku cerita, donald bebek, mentari, bobo untuk di baca. Tetapi tetap saja saya selalu kehabisan bahan bacaan, bahkan ketika berkunjung ke tempat keluarga, dan cukup beri saja saya satu buku cerita dan saya akan betah di kamar seharian. Setiap hari jumat papa selalu membelikan buku bacaan agama yang beliau beli dari masjid selepas sholat jumat.

Sedari kecil saya selalu dibangunkan pagi-pagi oleh beliau. Setiap subuh saya dibangunkan dari cara halus sampai paksaan oleh papa. Puluhan kali saya selalu mengumpat, menggerutu apabila dibangunkan (ampuni hamba ya Allah), tetapi papa tidak pernah lelah, bahkan tidak pernah takut apabila aku jadikan musuh nomer satu kala itu. Sampai akhirnya saya juga senang mendengarkan musik rock/barat yang diputar saat subuh di salah satu televisi swasta sebelum televisi tersebut mulai siaran, tetapi papa tidak pernah marah dan protes, seperti halnya Buya Hamka yang tidak melarang anak perempuan tak berjilbab bermain-main di dekat masjid, karena semua itu ada prosesnya, papa menjadikan kesukaan saya terhadap musik rock membuat saya bangun pagi dan bisa melaksanakan sholat subuh sebelumnya. Karena saya masihlah anak-anak, seperti Buya Hamka yang beranggapan asal anak-anak itu mau mendekati masjid, maka lama-kelamaan mereka akan mengerti dengan sendirinya.

Disiplin dan tepat waktu adalah satu hal yang beliau ajarkan sedari kecil, jadwal tidak tertulis di hidupku harus saya penuhi. Beliau akan sangat marah apabila saya tidak pergi mengaji seusai shalat ashar, saya tidak menggosok gigi sebelum tidur dan tidak belajar untuk keesokan harinya. Beliau juga orang yang sangat bisa menepati janji, meskipun beliau sangat “cool” menurut saya. Namun saya tahu beliau pasti bangga saat melihat saya berprestasi, dan terkadang papa memberikan penghargaan terbaik kepada apa yang saya lakukan. Membelikan makanan favorit saya apabila saya tidak batal puasa, saya juara kelas, sampai saya mengerti dan hikmahnya mengalir pada diri ini. Meskipun beliau tidak membanjiri saya dengan segala apa yang saya minta, tetapi saya merasa semua pelajaran yang diberikannya kepada saya itu lebih dari cukup. 

Papa juga yang menanamkan jiwa iman inasi di otak saya, sejak kecil beliau selalu membelikan kaset cerita, speedy si tikus cerdik, si cantik dan si buruk rupa, dsb, dimana cerita audio akan membuat pikiran kita lebih berimajinasi dan bervariasi dibanding dengan visualisasi yang marak disertai acara televisi yang sangat tidak layak, apalagi saat ini. Beliau pula yang mengajarkanku untuk berbagi walaupun sedikit, berusaha memberi dan bukan meminta, baik ilmu dan materi. 

Saya sangat bangga mempunyai papa seperti beliau, kemuliaan hatinya di samping mungkin beliau memang orang yang keras jika memiliki keinginan. Saya sangat ingin seperti beliau, curahan hati ini berawal dari kejadian di satu hari Sabtu pagi. Ya! papa saya seorang notaris, pagi-pagi sekali sudah ada seorang pria datang ke rumah yang juga sekaligus kantor tempat papa saya menerima klien. Seorang bapak yang tinggal di pinggiran kabupatenku datang ke kantor untuk meminta potongan harga dalam pengurusan sertipikat tanah. Sebenarnya papa itu orang yang sangat murah dalam memberikan tarif atas jasa di bidangnya ini. Bapak ini memohon sekali untuk diberikan lagi potongan harga dalam transaksi jual beli tanah yang baru dia beli, beberapa tanah di lereng hutan di pinggiran kabupaten tempat saya tinggal. Pegawai papa saya pun sudah menjelaskan kalau harga yang diberikan ini sudah murah sekali, bahkan kalau dibandingkan dengan kantor-kantor notaris yang lain sekalipun. Namun si bapak tetap memohon sekali karena uangnya tak cukup untuk membayar sebuah sertipikat tanah tersebut. 

Bapak itu memohon kalau memang tidak bisa dikurangi lagi lebih baik saya mundur dulu saja sebab uangnya memang kurang, dengan pendapatannya yang minim sebagai pengumpul kayu dan ranting pohon di hutan. Kemudian pegawai papa saya ini bertanya pada mama saya yang juga asisten papa. Beberapa saat kemudian mama saya menjelaskan kepada bapak tersebut kalau memang biaya proses sertipikatnya segitu dan tidak bisa dikurangi lagi karena memang sudah mepet sekali, dan tarif-tarif dari kantor pertanahan serta biaya proses memang segitu. Kalaupun mau dipotong cuma bisa potong dari fee jasanya papa. Tapi si bapak masih saja memohon mohon. Akhirnya mama saya menanyakan kepada papa saya bagaimana solusinya, dan tanpa berpikir lama beliau langsung mengangguk sambil berkaca-kaca matanya.

Papa benar-benar memiliki hati yang lembut sekali, sampai-sampai saya yang menyaksikan terharu sekali sehingga ikut terbawa suasana. Beliau rela tidak mengambil fee jasanya karena kasihan mungkin melihat bapak itu. Ya memang kita pernah dalam kedaan sulit dalam ekonomi, namun sekarang Allah telah merubah hidup kita menjadi lebih bahkan jauh lebih baik. Jadi saatnya kita untuk berbagi kepada orang-orang kecil, orang-orang yang kesusahan dan kekurangan. Papa selalu mengajarkan untuk selalu ingat bersedekah dan mengeluarkan zakat. Semakin kita banyak memberi insyaallah Allah akan lipat gandakan rejeki kita. Sedekah itu tidak harus berupa materi, pertolongan memudahkan urusan orang lain itupun terhitung sedekah. MasyaAllah, saya ingin sekali bisa seperti beliau, dengan ikhlas dan tanpa pikir panjang diberikan semua untuk beramal, semua yang ada ini bukan milik kita, ini semua hanya titipan kata beliau. Kejadian ini makin mengingatkan aku untuk terus bersyukur dan menjadi alarm agar terus istiqomah untuk bersedekah..bahkan profesi pun bisa membuka jalannya..:)


Tiga bulan sebelum Papa berpulang, 13 Desember 2012 entah mengapa rasanya sakit sekali hati ini melihat Papa. Saya merasa sepertinya Papa sedih sekali saat saya harus kembali ke Surabaya untuk mempersiapkan ujian tesis. Berlinang air mata saya saat perjalanan menuju Surabaya. Ya Allah terima kasih atas sedikit berita yang Engkau kabarkan bahwa Engkau akan menjemput orang yang sangat kukasihi ini. Sudah sepuluh tahun Papa diuji oleh sakit stroke dengan kondisi naik turun dan membersamai saya bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan kuat. Keadaan ini memaksa saya untuk lebih mempersiapkan hati ini, ya memang saya harus siap apabila sewaktu waktu tiba waktu perpisahan itu.😢


“Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan apapun, selama masih punya Allah.” 

Kehidupan kita bukanlah hak kita, melainkan karunia dari-Nya. Kita hidup karena Allah yang hidupkan, dan suatu saat nanti akan mati, juga karena Allah yang matikan. Berikut segala kejadian yang hadir di antara hidup dan mati kita, itu pun karena Allah yang berkehendak.

Kita ini manusia diciptakan, disempurnakan, diberi rizki, dituntun. Tidak ada satu pun kuasa kita terhadap kehidupan kita sendiri. Semuanya adalah kuasa Allah. Lahaulla walaa quwwata ilabillah. Tiada daya dan upaya, melainkan atas seizin-Nya. Tidak ada satu pun kekuasaan kita terhadap takdir kehidupan.

Kita bisa saja memiliki keinginan, tetapi Allah juga memiliki kehendak. Dan sekuat apapun keinginan kita tersebut, tetap saja yang akan terjadi adalah kehendak Allah. Apabila kehendak-Nya itu sesuai dengan keinginan kita, itu adalah bonus.

Jangan meminta kepada-Nya untuk memperkecil skala hambatan dan kesulitan, tapi mintalah pada-Nya untuk memperbesar skala kekuatan dan kemampuan. Karena sebetulnya, bukanlah besar masalah yang membuat kita terhimpit, tapi kelapangan hati dan kapasitas diri yang tidak bertumbuh.

Kita tidak akan tahu rasanya manis, bila kita tidak pernah mencicipi rasa pahit. Kita tidak akan tahu nikmatnya bangkit, bila kita tidak pernah merasakan jatuh. Dan kita tidak akan tahu nilai keindahan sebuah iman, bila kita tidak pernah diuji.

Betapa indah skenario buatan Allah. Tidak ada satu hal pun yang berujung duka, bila kita percaya bahwa Allah selalu menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, dan menghindarkan kesukaran terhadapnya.

Barangkali saat ini Allah juga sedang tersenyum memperhatikan hamba-hamba-Nya yang tengah diliputi kesedihan mendalam, bukan sebab Allah berbahagia di atas penderitaan kita, melainkan sebab Allah tahu bahwa Dia sedang mempersiapkan yang lebih baik bagi hamba-Nya tersebut. Hanya saja kita harus rela menyerahkan yang Allah minta untuk diikhlaskan.

Bisa jadi kita belum mendapatkan jawaban terbaik Allah itu sebab kita belum sepenuhnya melepaskan hal yang Allah minta untuk dikembalikan. Kita belum ridho pada segala takdir-Nya. Padahal keridhoan kita terhadap Allah itu, adalah gerbang bagi Allah untuk menghantarkan ridho-Nya kepada kita.

 “Setiap bulir air mata, kelak akan dipertanyakan.. untuk siapakah ia menetes. Adakah untuk Rabb mu, atau malah untuk menangisi yang lainnya?”

Saya menengadahkan kepala ke atas, memandang langit-langit kamar, menembus batas menerawang ke Arsy Allah. Saya menutup mata, menyampaikan permohonan maaf pada Allah atas segala khilaf, atas segala pengkhianatan, atas segala perbuatan dan lisan yang tidak berkenan, dan atas segala rasa yang belum diizinkan. Terimakaih atas kehadiran siapapun ke dalam kehidupan saya sebab melalui merekalah saya mempelajari banyak sekali ilmu kehidupan yang tidak bisa saya pelajari jika sendirian. Terima kasih Papa telah mengantarkan sampai ke gerbang pernikahan meskipun rasanya masih banyak hal yang belum sempat saya berikan kepadamu.😭