Mengenal Profesi Pemahat Patung Melalui Karyanya dan Kisah Nabi Ibrahim As

Meskipun sudah berada di Tanjung Pinang, kegiatan outing kali ini sangat mendadak dan tidak terencana akan pergi kemana saja pun belum terpikir sama sekali. Mau nggak mau akhirnya kami ngikut rute rombongan kantor untuk mampir ke sebuah vihara yang biasa disebut wisata seribu patung di daerah Kijang. Meskipun sebenarnya saya kurang sreg dan bukan menjadi prioritas berkunjung k tempat ibadah selain umat Islam akhirnya dengan berat hati saya memutuskan ikut sambil berdo’a di dalam hati mudah-mudahan Faris tidak bertanya hal yang sulit dijawab. Kesan pertama ketika melancong ke vihara sekaligus objek wisata Ksitigarbha Budhisattva atau lebih dikenal dengan nama Vihara Patung Seribu di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau adalah bersih dan asri tempatnya.

Ada hal unik yang saya temukan dalam kunjungan ke vihara ini. Sudah diketahui banyak orang, salah satu etnis terbesar di Tanjungpinang adalah Tionghoa, sehingga keberadaan vihara tentu tidak asing lagi. Selain sebagai tempat beribadah, Vihara Patung Seribu yang kini juga menjadi salah satu tujuan wisata menunjukkan keberagaman umat beragama, etnis dan budaya di Tanjungpinang yang tetap terjaga keharmonisannya dan selalu bertoleransi. Terbukti dengan banyaknya umat muslim yang juga mengunjungi vihara ini,sekedar ingin tahu atau mengambil foto di dalam bangunan yang memiliki suasana layaknya berada di negeri tirai bambu.

Vihara yang dibangun di atas bukit ini memberi pengalaman tersendiri. Ada rasa penasaran sebelum mencapai lokasi sebab pengunjung bisa sedikit berolahraga sambil menanjak bukit. Dari atas, kita bisa menikmati indahnya pemandangan sekitar dengan perbukitan dan hamparan perkebunan warga. Begitu memasuki gerbang depan kita akan disambut gapura batu beraksen Tiongkok yang megah, dengan suasana mirip kota kuno. Di bagian depan, berdiri kokoh sebuah patung berukuran raksasa.

Tembok di belakangnya dibuat menyerupai benteng yang di atasnya terdapat pagoda. Saat berjalan ke balik tembok, kita harus berjalan sekitar sepuluh meter melewati halaman bagian tengah yang luas, lengkap dengan taman dan tumbuhan hias hingga menuju bagian paling menarik. Yakni jejeran rapi patung seribu.

Inspirasi pembuatan patung-patung ini berasal dari kesucian para arahat. Arahat adalah orang yang sudah mencapai tingkat kesucian spritual tertinggi untuk mengikuti agama Buddha. Ada hal yang menarik perhatian saya kenapa terdapat nama muslim di bagian bawah patung besar berisikan nama pendiri vihara ini. Saat saya bertanya kepada penjaga vihara tersebut, mereka enggan menjawab dan saya tidak memperoleh informasi yang akurat. Mereka hanya menjelaskan bahwa nama tertera itu merupakan nama biksu yang mendirikan vihara ini.

Rata-rata patung memiliki ketinggian sekitar 1,8 meter sampai dua meter dan yang terpendek 1,7 meter. Meski dinamakan Patung Seribu, jumlah patung yang berada disini tak genap seribu melainkan hanya sekitar setengahnya saja. Mungkin sebutan seribu itu untuk “seribu wajah.” Ini hanya dugaan saya hehe. Sebab patung-patung tersebut menampilkan ekspresi dan pakaian yang berbeda. Seolah mengajak berkomunikasi, ada patung yang tersenyum, sedih, tertawa, melotot, marah dan ada juga yang sedang membawa binatang. Macam-macam bentuk dan rupanya, patung-patung tersebut memiliki roman muka berbeda-beda. Juga bentuk tubuh yang berlainan. Di bawah setiap patung terdapat tulisan Mandarin, yang menjelaskan sosok patung seribu wajah itu beserta namanya. Konon, ratusan patung tersebut merupakan representasi dari para murid Buddha yang disebut Arahat.

Pengunjung tak bisa menyentuh langsung karena dibatasi pagar besi setinggi 1 meter. Namun seluruh wajah dan ekspresi patung dapat dilihat dengan jelas. Sebab, semuanya ditata rapi berundak-undak dengan pola barisan bertingkat. Sepintas, pemandangan ini mirip seperti yang terdapat di sebuah kuil di, Jepang.

Selain turis domestik, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva banyak disambangi wisatawan mancanegara. Kebanyakan dari Singapura dan Cina, bahkan saya bertemu banyak rombongan orang yang sama-sama menginap di hotel tempat kami menginap. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva masih terus dibangun. Patung-patung yang diukir langsung oleh tangan manusia itu terus ditambah.

Setelah mengunjungi vihara ini, saya hanya menjelaskan kepada Faris bahwa tempat ini namanya vihara. Tempat ibadah orang yang beragama Budha, karena Faris anak muslim Faris tidak boleh masuk ke dalam tempat ibadah umat yang lain. Kita berkunjung kemari karena akan melihat hasil karya orang yang profesinya dinamakan pemahat, pemahat batu. ”Faris jadi tahu kan sekarang bisa melihat hasil karya pemahat yang namanya patung?” tanya Mama kepada Faris.

”Oh, ini ya Ma yang namanya patung? Yang buat patung ini profesinya pemahat ya Ma? Kok kaya pekerjaan bapaknya Nabi Ibrahim?” tanya Faris heran. Ini merupakan pengalaman pertamanya melihat hasil karya seni berupa patung.

Mama pun mengulang kisah tentang masa kecil Nabi Ibrahim AS. Alkisah bercerita tentang masa kecil Nabi Ibrahim AS. Diusir oleh ayahnya, dibakar oleh kaumnya, lalu Allah selamatnya dengan menjadikan api itu dingin. Semasa Nabi Ibrahim kecil, kaumnya terbagi menjadi tiga golongan. Golongan yang menyembah berhala (patung-patung), golongan penyembah bintang, dan golongan penyembah raja.

Nabi Ibrahim sendiri anak dari seorang pemahat patung profesional dan sangat tersohor pada zamannya. Azar nama Ayahnya, seorang seniman dengan bakat istimewa sebagai pemahat ahli dan dari golongan yang amat dihormati. Keluarga yang amat dihormati dan disegani, Nabi Ibrahim mampu menentang penyimpangan yang terjadi pada keluarga dan masyarakatnya.

Nabi Ibrahim kecil sering sekali bermain-main dengan patung-patung buatan ayahnya. Saatu hari, Nabi Ibrahim menunggangi punggung patung Mardukh. Saat itu ayahnya marah, dan meminta Nabi Ibrahim lekas turun dari punggung patung buatannya.

Nabi Ibrahim bertanya, “Patung apakah ini ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.”
Ayahnya menjawab, “Namanya Mardukh, tuhan dari para tuhan. Kedua telinganya yang besar, sebagai simbol kecerdasannya yang luar biasa.”

Lantas Nabi Ibrahim kembali bertanya, “Siapa yang menciptakan manusia, wahai ayahku?” Ayahnya kembali menjawab, “Manusia, akulah yang membuatmu, dan ayahkulah yang membuatku.”

“Tapi aku pernah mendengar orang tua berkata, wahai tuhan, kenapa engkau tidak memberikanku anak?”

“Benar anakku, tapi tuhan tidak melakukannya langsung. Dia membantu manusia, oleh karena itu manusia harus menunjukkan kerendahannya dengan memberikan kurban.”

“Lantas, ada berapa banyak tuhan itu ayah?” “Tidak ada jumlahnya Ibrahim.”

“Kalau begitu, kalau aku hanya patuh pada satu tuhan, apakah tuhan yang lain akan marah? kalau tuhan yang lain marah, aku takut tuhanku akan dibunuh, lalu setelah itu aku yang dibunuh.” “Jangan terlalu khawatir Ibrahim, tidak akan terjadi permusuhan sesama tuhan.”

“Dari apa tuhan-tuhan itu diciptakan?”

“Dari kayu-kayu pelepah kurma, dari kayu-kayuzaitun, nah kalau yang berhala kecil itu dari gading. Lihatlah, sangat indah bukan? Hanya saja, patung tidak memiliki napas.”

“Kalau tuhan tidak memiliki napas, artinya mereka tidak memiliki kehidupan. Bagaimana para tuhan memberikan kehidupan, bila mereka saja tidak memilikinya? Pasti, mereka bukan tuhan yah..” Mendengar jawaban Nabi Ibrohim, ayahnya marah, berang, dan memukul Nabi Ibrohim.

Hari telah berlalu, Nabi Ibrahim tumbuh menjadi pemuda remaja. Kebenciannya pada patung-patung, tidak pernah surut. Nabi Ibrahim memperhatikan patung-patung itu tidak pernah makan maupun minum, juga tidak mampu berbicara. Bahkan, seandainya ada yang membalik patung itu, Nabi Ibrohim yakin, patung itu tidak mampu bangkit pada posisi semula.

Nabi Ibrahim terus saja berpikir, bagaimana manusia yang berakal membuat patung dengan tangannya sendiri, lantas sujud dan menyembahnya. Menyembah apa yang dibuatnya sendiri. “Bukankah yang demikian sangat mengherankan?” tanya Nabi Ibrahim di dalam hatinya.

Suatu hari, Nabi Ibrahim diajak ayahnya ke mihrab. Tempat di mana banyak jenis dan ukuran berhala dikumpulkan di dalam mihrab. Semua orang datang dengan pandangan tunduk dan hormat, bahkan ada yang sampai menangis tersedu-sedu.

Nabi Ibrahim justru datang dengan pandangan sinis dan menantang, membuat aneh orang-orang di sekitar. Kebetulan, di tempat penyembahan itu ada sebuah pesta, ada juga seorang dukun di sana yang memimpin doa masyarakat kepada para berhala itu.

Di tengah keheningan doa, tiba-tiba Nabi Ibrahim berbicara, “Hai dukun, para patung itu tidak mendengarmu, Apakah kamu juga yakin patung itu mendengar doamu?”

Sontak masyarakat hampir saja marah dengan pertanyaan Nabi Ibrahim. Lantas, buru-buru ayahnya menjelaskan dan segera membawa Nabi Ibrahim pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Nabi Ibrahim yang diminta segara tidur oleh ayahnya justru kabur ke salah satu gua.

Nabi Ibrahim terus saja berpikir, mustahil baginya patung-patung itu menjadi tuhan bagi kaumnya. Nabi Ibrahim lantas termenung bersandar pada dinding gua, pandangan matanya menatap lurus kelangit malam hari.

Di sana ia melihat begitu banyak bintang yang indah. Lantas Nabi Ibrahim berpikir, mingkin inilah tuhanku. Sama seperti golongan yang kedua yang menyembah bintang-bintang. Nabi Ibrahim mempercayai itu. Kemudian, Nabi Ibrahim melihat bintang yang besar yaitu bulan. Nabi Ibrahim pun menyerukan pada kaumnya, bahwa tuhan mereka adalah bulan yang cahayanya lebih terang dari bintang yang banyak itu.

Di kemudian hari, Nabi Ibrahim kembali tidak mendapati bulan di langit. Nabi Ibrahim kembali berpikir, bulan juga menghilang sama sepertihalnya bintang-bintang kecil. Nabi Ibrahim juga berpikir, pada esok pagi, bulan juga menghilang. Justru ada cahaya yang lebih besar dari bulan.

Cahaya yang lebih kuat yaitu matahari. Lalu, Nabi Ibrahim meyakini inilah tuhannya, tuhan yang paling terang, tuhan yang paling kuat. Lantas, Nabi Ibrahim kembali kecewa. Saat malam datang, matahari tenggelam. Tuhan tidak mungkin tenggelam pikir Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim AS, merenungi dengan sangat apa-apa yang telah dilaluinya. Otaknya terus saja berpikir, tentang sesuatu yang paling kuat, sesuatu yang paling terang, dan sesuatu yang tidak mungkin tenggelam. Nabi Ibrahim menyakini, bahwa bintang-bintang yang dikaguminya, bahwa bulan dan matahari yang diikutinya, semuanya bisa muncul kemudian menghilang.

Tuhan tidak mungkin seperti itu. Nabi Ibrahim meyakini, bahwa Tuhanlah yang menjadikan mereka, Tuhanlah yang memunculkan dan menenggelamkan mereka. Tuhanlah yang menciptakan mereka, alam semesta, termasuk menciptakan dan memberi kehidupan bagi manusia. Belajar dari situ, Mama berharap Faris lebih kuat lagi imannya kepada Allah yang Maha segalaNya.

QOTD : Ma, kalau malaikat itu laki-laki apa perempuan?

Buibu pernah nggak sih ditanya sama anaknya bab malaikat? Faris, di usianya yang menginjak empat tahun ini punya sederet pertanyaan yang menurut saya lebih dulit dibandingkan soal ujian sekolah hehe. Setelah bertanya tentang penciptaan malaikat yang berasal dari cahaya, hari ini Faris punya pertanyaan kejutan buat Mama yaitu berkaitan dengan jenis kelamin malaikat. adakah yang bisa kasih saya contekan buat jawab pertanyaan Faris hihihi…

Berikut ini landasan menjawab pertanyaan Faris yaitu berdasarkan buku I’tiqad Ahlussunnah para malaikat tidak disifati laki-laki atau perempuan. Kalau perempuan karena Allah meniadakan sifat perempuan tersebut dalam firman-Nya : ” Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu ? kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban ” (Az-Zukhkruf : 19). Dalam firman lain : ” Apakah Kami ciptakan malaikat-malaikat itu perempuan sementara mereka menyaksikannya ” (As-Soffaat : 150).

Sementara sifat laki-laki karena tidak ada nash ( dalil ) yang menyebutkannya. Al-Hulaimy menyebutkan dalam buku ” Minhaj ” dan Faunawi dalam ringkasannya : ” Mungkin ada yang mengatakan bahwa Ashabul A’rof adalah Malaikat yang mencintai penduduk surga dan menangisi penduduk neraka. Hal ini sangat jauh sekali karena dua sebab. Pertama : firman Allah : ” Dan diatas Ashabul A’rof ada para pemuda “.  Para pemuda adalah laki-laki yang berakal sementara malaikat tidak ada terbagi menjadi laki-laki atau perempuan. Kedua : Allah telah memberitahu tentang kondisi mereka ingin sekali masuk surga. Padahal malaikat tidak terhalangi untuk memasuki surga. Bagaimana menjadi penghalang dengan orang-orang yang menginginkannya, sementara keinginan itu sendiri adalah merupakan suatu siksaan baginya. Dan tidak ada waktu itu siksaan bagi malaikat. Selesai dinukil oleh Suyuthi dalam buku ” Al-Habaik hal : 88 “.

 

Iman Kepada Malaikat dan Gambaran Al-Qur’an Atas Malaikat

Seorang Muslim yang beriman kepada malaikat-malaikat Allah maka ia meyakini bahwa mereka merupakan makhluk Allah yang paling mulia, hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Mereka diciptakan darinur  (cahaya), sedangkan manusia diciptakan dari tanah kering seperti tembikar dan jin diciptakan dari nyala api. Beriman bahwasanya Allah telah memberi mereka tugas-tugas, dan mereka pun melaksanakannya. Di antara para malaikat itu ada yang bertugas menjaga manusia dan ada juga yang bertugas mencatat amal perbuatannya. Ada pula yang bertugas mengurus surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, ada pula yang mengurus neraka dengan segala azab yang ada padanya, dan ada pula yang tugasnya hanya bertasbih menyucikan dan memuji Allah sepanjang siang dan malam, tidak pernah jemu.

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang hari tiada henti-hentinya”. (Al-Anbiya’: 20).

Seorang muslim jugawajib berkeyakinan bahwa Allah telah memberika kelebihan kepada sebagian di antara mereka, maka diantara mereka ada para malaikatmuqarrabun (yang didekatkan kepadaNya) seperti malaikat Jibril, Mika’il dan Israfil, sedangkan yang lainnya berada pada deretan berikutnya.

Keyakinan yang demikian itu dimiliki oleh seorang muslim berkat hidayah Allah kepadanya. Perintah Allah agar beriman kepada para malaikat dan informasi dariNya tentang mereka, seperti tertera dalam FirmanNya, “Dan barangsiapa yang kafir(tidak beriman) kepada Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya dan Hari Kemudian, maka sungguh orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (An-Nisa: 136).

Dan FirmanNya,

“Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mika’il, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”(Al-Baqarah: 98).[4]

Beriman kepada para malaikat adalah salah satu rukun iman.

Pokok iman ini terdapat di dalam Al-Qur’an. “… akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,…”(Al-Baqarah: 177).

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya.”(Al-Baqqrah: 285)

Maka kita wajib beriman kepada para malaikat, dan bahwasanya mereka adalah makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Mereka berada di alam ghaib, yang tidak dapat kita lihat, Allah menciptakan mereka dari cahaya.

“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api, sedangkan manusia diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no.2996).[5]

Para malaikat ada beberapa bagian, yang di antaranya adalah:

Malaikat penjaga manusia (al-Hafazhah). Mereka ialah para malaikat yang Allah Subhanahu Wata’ala tugaskan untuk menjaga anak cucu Adam dan menjaga amal perbuatan mereka. Setiap manusia memiliki empat orang malaikat yang menjaganya, malam dan siang hari. Dua malaikat menjaganya, seorang di sebelah kanannya dan seorang lagi di sebelah kirinya. Yang disebelah kanannya menulis kebaikannya, dan yang disebelah kirinya menulis keburukannya.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf:18)

Dan dua orang lagi di depan dan dibelakangnya, yang menjaganya dari kezhaliman terhadap dirinya, dan itu selama Allah menetapkan bahwa ia masih tetap hidup.

“Bagi Manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka, dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.”(Ar-Ra’d:11).

Para malaikat melindunginya dari bahaya-bahaya, dan tatkala ajalnyatelah tiba para malaikat itu membiarkannya, maka apa yang telah Allah tetapkan untuknya pasti akan menimpanya. Dan kita beriman kepada ini, dan jika kita imani maka kita seharusnya malu terhadap malaikat yang mulia, sehingga kita tidak melakukan amal perbuatan yang buruk, dan tidak berbicara dengan ucapan yang batil; karena semua itu akan dituliskan untuk kita.[6]

Malaikat adalah alam ghaib. Allah menciptakan mereka dari cahaya, Allah menjadikan mereka selalu taat dan tunduk kepadaNya. Masing-masing dari mereka memiliki tugas yang Allah khususkan untuknya.

Allah Berfirman :” Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.”(Fathir:1).

Mengenal Nama-Nama Malaikat 

Diantara tugas mereka yang kita ketahui adalah:

Pertama, Jibril: Ditugaskan mengemban wahyu, ia menyampaikan dari Allah kepada Rasul.

Kedua, Israfil: Peniup sangkakala, disanping itu ia adalah salah satu malaikat pemikul Arasy.

Ketiga, Mika’il: Yang ditugaskan mengurusi hujan dan tumbuhan-tumbuhan.

Ketiga malaikat-malaikat ini bertugas mengurusi kehidupan. Jibril bertugas menyampaikan wahyu yang mengandung kehidupan hati. Mika’il pembagi hujan dan tumbuh-tumbuhan yang merupakan kehidupan bumi dan Israfil peniup sangkakala yang menghidupkan orang-orang pada Hari Kebangkitan.[7]

Oleh karena itu Nabi bertawasul denganrububiyah Allah terhadap mereka pada doa iftitah dalam shalat malam. Nabi membaca,

“Ya Allah Rabb Jibril, Mika’il dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka (orang kristen dan yahudi  pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan izin dariMu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.”(HR. Muslim).[8]

Inilah doa yang Nabi ucapkan padaqiyamul lail dengan bertawasul denganrububiyah Allah terhadap mereka.

Kita juga mengetahui bahwa diantara malaikat ada yang tugasnya mencabut nyawa manusia atau mencabut nyawa setiap pemilik nyawa. Mereka adalah malaikat maut dan teman-temannya, dan tidak perlu diberi nama Izrail, karena tidak ada dalil shahih dari Nabi yang menyatakan bahwa namanya adalah Izrail.

Firman Allah Ta’ala :

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”(Al-An’am: 61).

Juga Firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah,’Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu.” (As-Sajdah:11).

Firman Allah,

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.” (Az-Zumar: 42).

Tidak ada pertentangan di antara ketiga ayat di atas, karena malaikat mencabut nyawa; jika malaikat maut mencabut nyawa dari jasad, maka di sisinya ada malaikat-malaikat lain. Jika yang bersangkutan adalah termasuk penduduk surga maka para malaikat tersebut membawa minyak wangi dan kafan dari surga. Mereka mengambil ruh yang baik tersebut dan meletakkannya di kafan tersebut lalu mereka naik membawanya kepada Allah, kemudian Allah berfirman, “Catatlah kitab hambaKu di Illiyin (tempat tinggi dalam surga) dan kembalikanlah ke bumi.” Lalu ruh tersebut kembali ke jassadya menghadapi ujian; siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? Jika mayit tersebut bukan Mukmin -naudzubillah-maka malaikat maut turun diiringi malaikat dengan minyak busuk dan kafan dari Neraka. Mereka mengambil nyawanya dan meletakkannya di kafan tersebut, kemudian membawanya naik ke langit, akan tetapi pintu langit ditutup dihadapannya dan ia pun dicampakkan di bumi. Firman Allah Ta’ala :

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”(Al-Hajj: 31).

Kemudian Allah berfriman, “Tulislah kitab hambaKu di Sijjin.”[9] Semoga Allah memberi kita keselamatan.

Para malaikat tersebut bertugas mengambil nyawa dari malaikat maut jika dia telah mencabutnya, malaikat mautlah yang secara langsung mencabut nyawa, jadi tidak ada pertentangan dan yang memerintahkan adalah Allah. Jadi pada hakikatnya Allah-lah yang mewafatkan.

Di antara mereka terdapat malaikat-malaikat yang berkeliling di muka bumi mencari halaqah-halaqah dzikir, jika mereka menemukan halaqah dzikir dan ilmu, maka mereka pun ikut duduk.[10]

Ada pula malaikat-malaikat yang mencatat amal manusia,

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Al-Infithar: 10-12).

Salah seorang sahabat dan murid Imam Ahmad datang menjenguk Imam Ahmadrahimahullah yang sedang sakit, dia melihat Imam Ahmad merintih karena sakit, dia berkata, “Wahai Abu Abdullah, kamu merintih sedangkan Thawus berkata,’Sesungguhnya malaikat menulis sampai rintihan orang sakit, Karena Allah berfirman,

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf:18).

Ada pula malaikat yang ruku’ dan sujud kepada Allah di langit, Nabi bersabda,

“Langit berderit dan ia memang pantas untuk berderit; tidak ada tempat yang lebarnya empat jari darinya, kecuali padanya terdapat malaikat yang berdiri, atau ruku’ atau sujud kepada Allah.”[11]

Langit dengan keluasannya penuh dengan para malaikat tersebut.[12]

Oleh karena itu Rasulullah Sholallahu’alaihi Wassallam menjelaskan tentang Baitul Makmur yang beliau lewati pada waktu Mi’raj. Beliau bersabda tentangnya,

“ia dikelilingi (atau beliau bersabda, ia dimasuki) tujuh puluh ribu malaikat setiap harinya kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya, karena itu adalah hari terakhir bagi mereka.[13]

Maknanya adalah bahwa setiap hari Baitul Makmur[14] dikunjungi oleh tujuh puluh ribu malaikat selain yang mengunjunginya kemarin, mereka tidak kembali kepadanya selama-lamanya, datang malaikat yang lain selain mereka. ini menunjukkan banyaknya jumlah malaikat. Oleh karena itu Allah berfirman,

“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.”(Al-Muddatstsir: 31)

Ada pula malaikat yang menjaga surga dan menjaga neraka.

Penjaga neraka namanya Malik. Penduduk neraka berkata,

“Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” (Az-Zukhruf:77).

Yakni hendaknya Dia mematikan dan membinasakan kami. Mereka memohon kepada Allah agar mematikan mereka, karena mereka berada dalam azab yang tak tertahankan. Malik Menjawab,

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu.” (Az-Zukhruf: 78).

Yang penting, kita wajib beriman kepada malaikat.

Bagaimana beriman kepada malaikat?

Beriman bahwa mereka adalah alam ghaib yang tidak terlihat, dan terkadang terlihat, hanya saja pada dasarnya mereka adalah alam ghaib yang diciptakan dari cahaya. Mereka ditugaskan dengan apa yang Allah bebankan kepada mereka, mereka patuh kepada Allah secara total,

“Dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan.” (At-Tahrim: 6).

C.      Kisah-kisah Shahih Tentang Malaikat

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menggembalakan kambing milik keluarga Halimah binti Abi Dzuaib dari Kabilah as Sa’diyah, tiba-tiba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi dua malaikat, lalu keduanya membelah dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengeluarkan bagian yang kotor dari hatinya. Peristiwa ini telah dijelaskan oleh Anas bin Malik dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim.

Juga telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Ketika aku sedang berada di belakang rumah bersama saudaraku (saudara angkat) menggembalakan anak kambing, tiba-tiba aku didatangi dua orang lelaki-mereka mengenakan baju putih- dengan membawa baskom yang terbuat dari emas penuh dengan es. Kedua orang itu menangkapku, lalu membedah perutku. Keduanya mengeluarkan hatiku dan membedahnya, lalu mereka mengeluarkan gumpalan hitam darinya dan membuangnya. Kemudian keduanya membersihkan dan menyucikan hatiku dengan air itu sampai bersih”.(HR.Muslim)[15]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan :

“…… keduanya lalu bersegera mendekati dan memegangiku. Kemudian aku ditelentangkan, kemudian membedah perutku. Kedua malaikat itu mengeluarkan hati dari tempatnya dan membedahnya. Selanjutnya mereka mengeluarkan dua gumpalan darah hitam darinya ……”.[16]

Dari dua riwayat di atas dapat diketahui, peristiwa pembedahan dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar-benar terjadi.

Dan Malaikat bisa saja menjelma menyerupai seorang laki-laki, seperti yang pernah terjadi pada malaikat Jibril tatkala Allah mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma menjadi seorang manusia yang sempurna. Demikian pula ketika ketika Jibril datang kepada Nabi Sholallahu’alaihi Wassallam, sewaktu beliau sedang duduk ditengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda dia baru saja melakukan perjalanan jauh, namun tidak seorang pun yang mengenalinya. Jibril duduk dengan Nabi Sholallahu’alaihi Wassallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakan kedua telapak tangannya di atas paha Nabi. Ia bertanya kepada Nabi Sholallahu’alaihi Wassallam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya, setelah tidak disitu lagi, barulah Nabi Sholallahu’alaihi Wassallam menjelaskan kepada para sahabatnya. “Itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.”(HR.Muslim).[17]

Berbicara tentang Jibril tentu akan semakin membuktikan ketidak-berdayaan logika manusia. Allah ﷻ mengabarkan bahwa para malaikat ada yang memiliki dua sayap, tiga, empat, atau lebih. Sedangkan akal manusia hanya mampu menggambarkan mereka dengan dua sayap saja, di kiri dan di kanan. Bagaimana kalau tiga sayap? Bagaimana kalau empat? Apatah lagi 600 sayap seperti Jibril. Rasulullah ﷺ bersabda,

Dari Ibnu Mas’ud radhialahu ‘anhu,

“Muhammad ﷺ melihat Jibril (dalam wujud aslinya pen.). Ia memiliki 600 sayap yang menutupi langit.” (HR. An-Nasa-i).[18]

Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah ﷺ tentang dua ayat di dalam Alquran. Yakni ayat dalam surat:

“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir: 23).

Dan surat:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tingga

*Nama-nama khusus sebagian malaikat yang ada di dalam dalil yang shahih.*

*⑴ JIBRIL*
Allah berfirman:
ﻗُﻞْ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﻟِﺠِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻧَﺰَّﻟَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ
“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril maka sesungguhnya dia telah menurunkan wahyu ke dalam hatimu dengan izin Allah.” (Al-Baqarah 97)

*⑵ MIKAIL*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻣَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﻟِّﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪ ِﻭَﺟِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻭَﻣِﻴﻜَﺎﻝَ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻟِّﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
“Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, Jibril dan juga Mikail maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah 98)

*⑶ ISRAFIL*
Di dalam sebuah hadits, diantara do’a iftitah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika shalat malam adalah:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺏَّ ﺟﺒْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﻭَﻣِﻴﻜَﺎﺋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺮَﺍﻓِﻴﻞَ ﻓَﺎﻃِﺮَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﻋَﺎﻟِﻢَ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﺃَﻧْﺖَ ﺗَﺤْﻜُﻢُ ﺑَﻴْﻦَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ ﻳَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮﻥَ . ﺍﻫْﺪِﻧِﻲ ﻟِﻤَﺎ ﺍﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻚَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺗَﻬْﺪِي مَنْ تَشَاءُ إِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ
“Ya Allah Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil yang telah menciptakan langit dan juga mengetahui yang ghaib maupun yang kelihatan. Engkau menghukumi diantara hamba-hambaMu di dalam apa yang mereka perselisihkan. Maka tunjukilah aku yang benar di dalam apa yang diperselisihkan dengan izinMu, sesungguhnya Engkau memberikan petunjuk orang-orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.” (HR. Muslim)

*⑷ MALIK*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﻧَﺎﺩَﻭْﺍ ﻳَﺎ ﻣَﺎﻟِﻚُ ﻟِﻴَﻘْﺾِ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺭَﺑُّﻚَ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻣَﺎﻛِﺜُﻮﻥَ
“Mereka (penduduk neraka) memanggil: ‘Wahai Malik, hendaklah Rabbmu mematikan kami.’ Maka Malik berkata: ‘Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal’.”(Az-Zukhruf 77)

*⑸ MUNKAR* &
*⑹ NAKIR*
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺇِﺫَﺍ ﻗُﺒِﺮَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖُ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﺗَﺎﻩُ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﺃَﺳْﻮَﺩَﺍﻥِ ﺃَﺯْﺭَﻗَﺎﻥِ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻷَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮُ ﻭَﺍﻵﺧَﺮ ﺍﻟﻨَّﻜِﻴﺮُ
“Apabila seorang mayyit atau salah seorang diantara kalian dikuburkan maka akan didatangi 2 orang malaikat yang hitam, yang biru. Dinamakan yang pertama adalah Munkar dan yang lain An-Nakir.” (HR. Tirmidzi)

*⑺ HARUT* &
*⑻ MARUT*
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﻔَﺮَ ﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥُ ﻭَﻟَٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻳُﻌَﻠِّﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺍﻟﺴِّﺤْﺮَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻠَﻜَﻴْﻦِ ﺑِﺒَﺎﺑِﻞَ ﻫَﺎﺭُﻭﺕَ ﻭَﻣَﺎﺭُﻭﺕَ ۚ
“Dan tidaklah Sulaiman kafir, akan tetapi syaithan-syaithanlah yang kafir. Mereka mengajarkan manusia sihir dan apa yang telah diturunkan kepada 2 orang malaikat di Babil yang bernama Harut dan juga Marut.” (Al-Baqarah 102)

*⑼ AR-RA’D*
Di dalam sebuah hadits datang orang-orang Yahudi kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian mereka berkata:
ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢَ ﺃَﺧْﺒِﺮْﻧَﺎ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮَّﻋْﺪُ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ؟
“Wahai Abul Qāsim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam), kabarkanlah kepada kami tentang Ra’d, apakah itu?”
Maka Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
ﻣَﻠَﻚٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔِ ﻣُﻮَﻛَﻞٌ ﺑِﺎﻟﺴَّﺤَﺎﺏَ ﻣَﻌَﻪُ ﻣَﺨَﺎﺭِﻳﻖُ ﻣِﻦْ ﻧَّﺎﺭٍ ﻳَﺴُﻮﻕُ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟﺴَﺤَﺎﺏَ ﺣَﻴْﺚُ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ
“Seorang malaikat di antara malaikat-malaikat yang diberi tugas untuk menggiring awan, bersamanya alat yang terbuat dari api untuk menggiring awan tersebut sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Tirmidzi)

*Di antara nama-nama malaikat yang masyhur di kalangan kaum Muslimin akan tetapi tidak berdasarkan dalil yang shahih.*

*⑴ IZRAIL* nama dari malaikat pencabut nyawa.
Tidak ada dalil yang shahih bahwa Izrail adalah nama dari malaikat pencabut nyawa.
Allah di dalam Al-Quran dan Nabi di dalam hadits yang shahih hanya menggunakan istilah “Malakul Maut” (malaikat kematian).
Allah berfirman:
ﻗُﻞْ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﺎﻛُﻢْ ﻣَﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻭُﻛِّﻞَ ﺑِﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
“Katakanlah Malakul Maut (malaikat kematian) yang ditugaskan kepada kalian akan mewafatkan kalian kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian.” (As-Sajdah 11)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺃُﺭْﺳِﻞَ ﻣَﻠَﻚُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺟَﺎﺀَﻩُ ﺻَﻜَّﻪُ ﻓَﺮَﺟَﻊَ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻪِ
“Diutus Malakul Maut kepada Musa, maka ketika malaikat tersebut mendatangi Musa, Nabi Musa menamparnya. Maka kembalilah malaikat tersebut kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari Muslim)

*⑵ RIDHWAN*, sebagai nama dari seorang malaikat penjaga surga.
Tidak ada dalil yang shahih bahwa Ridhwan adalah malaikat penjaga surga.
Allah di dalam Al-Quran dan Nabi di dalam hadits yang shahih hanya menggunakan istilah “Penjaga”, tanpa menyebut nama.
Allah berfirman:
ﻭَﺳِﻴﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺯُﻣَﺮًﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀُﻭﻫَﺎ ﻭَﻓُﺘِﺤَﺖْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺑُﻬَﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢْ ﺧَﺰَﻧَﺘُﻬَﺎ ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻃِﺒْﺘُﻢْ ﻓَﺎﺩْﺧُﻠُﻮﻫَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ
“Dan digiring orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka ke surga dalam keadaan berkelompok-kelompok sehingga ketika mereka mendatanginya dan dibuka pintu-pintu surga dan berkatalah para penjaga surga kepada mereka: ‘Keselamatan atas kalian, kalian telah baik maka masuklah kalian ke dalam surga kekal selamanya’.” (Az-Zumar 73)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺁﺗِﻲ ﺑَﺎﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻓَﺄَﺳْﺘﻔْﺘِﺢُ ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﺨَﺎﺯِﻥُ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ؟ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ : ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺑِﻚَ ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﻟَﺎ ﺃَﻓْﺘَﺢُ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻗَﺒْﻠَﻚَ
“Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Maka aku meminta dibukakan, maka berkatalah Penjaga: ‘Siapakah engkau?’. Maka aku berkata: ‘Muhammad’. Maka dia berkata: ‘Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu’.” (HR. Muslim)

 

 

referensi :

[1] Buku Anak Bertanya, Anda Kelabakan, Kumpulan Pertanyaan Anak Islam yang Anda Bingung Menjawabnya, Layla TM.

[2] Materi Shirah Ibu Berkisah

[3]https://islamqa.info/id/96306

 

 

 

#day49
#01April2018
#Batam
#3y8m
#1y7m
#KelasPortofolioAnakbyGPA
#GriyaPortofolioAnak
#MengikatMaknaSepenuhCinta
#PekaAkanUnikAnak

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Empat Merpati

Beberapa hari ini, Mama dipusingkan dengan pertanyaan Faris yang sangat penasaran dengan sosok Allah SWT yang selalu ia lantunkan dalam do’a-do’a hariannya. Saat bermain bersama adiknya, ia melakukan keisengan dengan menyembunyikan mainan adiknya sehingga membuat adiknya kebingungan mencari mainannya dan berujung pada tangis.

“Faris kenapa adiknya nangis,” Tanya saya kepadanya.

“Nggak tau, Ma.” Kata Faris dengan tenang.

“Masa nggak tau Fa, siapa tadi yang nyembunyiin mainan Irbadh?” Tanya saya kembali.

“Nggak tau, Ma. Mas Faris nggak tau. Mama nggak lihat kan?” Tanya Faris meyakinkan.

“Jangan bohong, Fa. Ga bagus itu,” Saya menimpali.

“Mama tadi nggak lihat kan Ma,” Faris masih berkelit.

Mama bilang,”Ayo kembaliin mainan adeknya. Mama tadi lihat Faris yang nyembunyiin. Meskipun Mama nggak lihat pun harusnya Faris tau kalau Allah ngelihat apa yang Faris lakuin. Jadi Faris mau dicatat yang baik apa nggak sama Allah?”Buru-buru saya memberondongnya karena gemas dengan tingkah anak tiga tahun ini.

“Iya ini Faris kembaliin. Jangan nangis lagi ya, dek.” Sambil meminta maaf kepada adiknya.

“Faris, Allah itu Maha Melihat, Allah tau apa saja yang Faris lakuin bahkan apa yang ada di dalam hati Faris.”Saya menegaskan kembali kepadanya.

“Gimana caranya Ma kok Allah bisa tahu?” Masih saja Faris bertanya tentang sosok Allah.

Baiklah, Mama punya sebuah kisah yang mau Mama bagikan buat Faris karena dulu Nabi Ibrahim AS pun pernah loh dilanda rasa penasaran yang teramat sangat terhadap Rabbnya.

 

 

 

 

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Merpati Yang Mati

Kisah ini sebagai asbabul nuzul, sebab turunnya ayat 260 Surat Al-Baqarah dan terjadi pada zaman Nabi Ibrahim AS.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Nabi Ibrahim AS dihadapkan dengan suatu kaum yang rusak yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti oleh rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan.

Nabi Ibrahim AS dilahirkan di Babylonia bagian selatan Mesopotamia, sekarang bernama negara Irak. Sejak kecil, Nabi Ibrahim AS sudah tertarik dengan memikirkan kejadian-kejadian alam, hingga ia menyimpulkan bahwa keajaiban alam tersebut pastilah diatur oleh sesuatu Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Hari demi hari dilaluinya dan Nabi Ibrahim AS semakin beranjak dewasa. Nabi Ibrahim AS pun mulai berbaur dengan masyarakat luas. Beliau melihat keganjilan di masyarakat tempatnya tinggal, dimana masyarakat menyembah patung-patung yang terbuat dari batu.

Nabi Ibrahim AS minta Petunjuk Allah SWT. Kembali pada pokok kisahnya, setelah Nabi Ibrahim AS lama mencari siapa Tuhan yang berhak disembah, akhirnya beliau berketapan hati untuk menyembah Allah SWT dan menjauhi berhala.

Pada suatu saat, Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT agar diperlihatkan kemampuanNya untuk menghidupkan makhluk yang telah mati. Hal itu untuk menambah ketetapan hatinya atas kekuasaan Allah SWT, bukan ada maksud yang lain.

Doa dan Permohonan Nabi Ibrahim AS terkabul.
Nabi Ibrahim AS mendapat petunjuk Allah SWT untuk memilih empat jenis burung, dan beliau memilih burung:

1. Merpati
2. Ayam jago
3. Burung merak
4. Burung gagak.
Keempat burung tersebut disembelih kemudian dagingnya dipotong kecil-kecil.

Belum cukup sampai disitu, Nabi Ibrahim AS mencampurkan daging kecil-kecil tersebut secara silang dan meletakkannya di puncak gunung yang berbeda. Sedangkan Nabi Ibrahim AS sendiri berdiri di antara gunung-gunung tersebut sambil memegang keempat kepala burung yang sudah mati itu.

Pembuktian Bahwa yang Mati bisa Dihidupkan oleh Allah SWT

MasyaAllah….
Kemudian Nabi Ibrahim AS berkata,
“Ya Allah, saya telah percaya kepadaMu, namun tunjukkanlah bagaimana menghidupkan orang yang telah mati untuk menambah ketatapan hatiku.”

Mendengar permohon Nabi Ibrahim AS tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk kepada Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung yang mati tersebut. Tak lama kemudian, daging-daging yang terpotong-potong dan dicampur aduk dan acak tersebut perlahan-lahan menyatu kembali membentuk burung yang utuh, dan tak lama berselang pula burng-burung itu hidup kembali dan bisa terbang seperti semula.

Begitu menyaksikan kejadian yang telah diperlihatkan oleh Yang Maha Kuasa tersebut, Nabi Ibrahim AS langsung sujud dan memuji Allah SWT tiada hentinya. Makin mantaplah keimanan dan keyakinan Nabi Ibrahim bahwa yang berhak disembah adalah hanya satu, Allah SWT.

Semoga melalui kisah ini, Faris tidak penasaran lagi terhadap sosok Allah karena dari kisah tersebut nampak jelas bahwa Allah Maha segala sesuatu, apa yang diperitahkannya hanya “Kun, fayakun”, Jadi, maka terjadilah. Allah maha membangkitkan sebagaimana dalam salah satu sifatNya dari Asmaul Husna, Al Baa`its yakni Yang Maha Membangkitkan. Dalam Al Qur’an banyak disebutkan sifat Allah yang agung tersebut. Dalam Al Qur’an juga disebutkan kemampuan Allah membangkitkan seperti halnya tanaman yang disuburkan setelah mati.

“….Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur,” surah Al Hajj 5-7.

Dengan meyakini sifat Allah tersebut, tentu muncul keyakinan atas kebangkitan manusia dari alam kubur. Allah akan membangkitkan setiap manusia yang mati untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia.

“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya),” Surah Yasin ayat 52. Semoga anak-anak dapat mengambil hikmah kisah ini, InsyaAllah.

 

 

#day44
#27Maret2018
#Batam
#3y8m
#1y7m
#KelasPortofolioAnakbyGPA
#GriyaPortofolioAnak
#MengikatMaknaSepenuhCinta
#PekaAkanUnikAnak

QOTD : Kenapa kalau Malam Langitnya jadi Gelap? (Allah nyiptain Malam Atau Siang Dulu)

Mengapa langit malam itu gelap?

Kadang-kadang, pertanyaan yang sederhana justru sulit untuk dijawab, misalnya seperti pertanyaan Faris kali ini “Kenapa sih kalau malam hari langitnya jadi gelap?” Ini adalah pertanyaan yang sangat sederhana dan mungkin hanya anak kecil yang menanyakannya.
Mungkin kita, sebagai orang tua yang ditanya akan menjawab bahwa matahari sudah terbenam jadi malam hari menjadi gelap. Atau matahari hanya menyinari permukaan yang menghadapnya langsung, jadi karena ga ada cahaya matahari yang menyinari maka bagian bumi itu gelap… dan ternyata jawaban itu salah

Sebenarnya langit di siang hari itu terang bukan karena matahari yang memberi cahaya tetapi matahari itu yang membuat jalanan dan benda2 yang lain terlihat sedangkan yang membuat warna itu sebenernya atmosphere kita,jadi mau siang atau malam sama aja.

Tetapi kenapa keliatannya hitam atau gelap? Nah ini ada hubungannya dengan alam semesta atau biasa di sebut universe itu mengembang.

Dampak dari universe mengembang adalah “doppler shift” atau biasa di sebut “red shift” dan “blue shift” apa itu doppler shift?

Doppler shift adalah perubahan warna dari sebuah cahaya yang terjadi apabila light source atau sumber cahaya tersebut menjauhi kita dalam kecepatan cahaya.

Cara mudah biar gampang, perna nonton starwars atau pernah nonton F1? bunyi mobilnya kan “NGEEEEEEEEEEEEEEEENNNNG” kurang lebih begitu.. nah itu adalah doppler effect, jika sumber suara mendekat nadanya akan meninggi, sedangkan jika sumber suara menjauh maka nadanya akan makin rendah dan teori ini di terapkan pada cahaya, jadi bukan dari perubahan suara tetapi cahanyanya.

Jika sumber cahayanya menjauh maka warnanya akan memerah, dan jika sumber cahaya mendekat maka warnanya akan berubah menjadi biru

Lalu apa hubungannya? Misalnya kita buat perumpamaan anggap saja universe itu adonan roti yang di atasnya di taruh kismis (bintang), lalu di masukan di dalam oven dan di nyalakan ovennya apakah yang terjadi? Kismis-kismis itu akan menjauh dari kismis yang satu dan yang lain.

Nah, pada saat bintang menjauh tersebut warna mereka akan berubah menjadi merah semakin jauh mereka menjauh warnanya semakin memerah dan menjadi INFRA RED!
Itulah mengapa kita tidak bisa melihat semua bintang dan mengapa kalau di malam hari itu gelap dan sebenarnya kalau malam hari itu langit tidak sepenuhnya gelap.

 

Allah menciptakan malam dulu atau siang dulu?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal di atas dan sebagian dari mereka berkata: “Allah menciptakan malam dahulu sebelum siang”. Dia mendasari pendapatnya dengan alasan, bahwa jika matahari tenggelam dan cahayanya yaitu siang sirna, maka datanglah malam dengan gelapnya. Dengan demikian jelaslah, bahwa cahaya adalah yang mendatangi malam dan malam tidak sirna jika tidak didatangi oleh siang. Dari penjelasan tersebut jelaslah, bahwa malam adalah yang pertama kali diciptakan dan matahari diciptakan kedua.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Ikrimah bertutur, bahwa Ibnu Abbas ditanya: “Apakah malam ada sebelum siang?” Ibnu Abbas menjawab: “Tahukah kalian ketika langit dan bumi masih menyatu, maka yang ada di antara keduanya hanyalah kegelapan? Hal itu agar kalian bahwa malam ada sebelum siang”.
Ikrimah juga bertutur, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Malam ada sebelum siang hari”. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat:
“Langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (QS Al Anbiya’ : 30)

Allah hanya menciptakan matahari dan mengedarkannya di cakrawala setelah Dia membentangkan bumi, sebagaimana firman-Nya:

“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. (QS An Nazi’at : 27-29)

Jika matahari diciptakan setelah langit ditinggikan dan malamnya gelap, maka jelas bahwa sebelum matahari diciptakan dan sebelum Allah mengeluarkan menjadikan siang terang, langit adalah gelap gulita. Wallahu a’lam.

 

 

Referensi :
[1] Keajaiban Al Qur’an, Ilmu Pengetahuan Modern Mengungkap Keajaiban Al Qur’an, Harun Yahya.
[2] bambies.wordpress.com.
[3] Forum Astronom Amatir Indonesia.

 

 

 

 

#HijrahParenting

#CeritaHijrah

#CeritaHijrah26

Menumbuhkan Kecintaan Kepada Rasulullah SAW Melalui Film Anak Muslim : Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Prolog

Keajaiban yang nampak bahwa ketika Rasullah akan dilahirkan, adalah terjadi tanda-tanda awal yang menunjukkan akan diutusnya Nabi, seperti :
➖ runtuhnya empat belas balkon istana kekaisaran Persia,
➖ padamnya api yang biasa disembah oleh kaum Majusi,
➖ Dan robohnya gereja-gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut,
Ketika beliau, Shalallahu ‘alaihi wasallam  dilahirkan,
➖ Ayahnya yang bernama Abdullah telah meninggal dunia.
➖ Ibunya yang bernama Aminah lalu mengirim utusan kepada kakeknya, Abdul Muththalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira kelahiran sang cucu.

X : Tuan… Tuan… Tuan Abdul Muththalib ada kabar gembira.
Y : Kabar gembira? Kabar gembira apa?
X : Tuan, cucu anda telah lahir.
Y : Benarkah? Laki-laki atau perempuan?
X : Laki-laki, tuan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar kalau begitu aku ingin segera melihatnya.
Y : Mari, Tuan.

Nah begitulah kira-kira secuplik fragmen dalam kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang saya ambil dari salah satu film animasi anak muslim yang berjudul Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Film ini merupakan film animasi untuk anak-anak yang menyuguhkan kisah nyata dan merupakan media belajar shirah Nabawiyah.

Apa itu Sirah Nabawiyah?
Sirah itu artinya perjalanan hidup. Dan An-Nabawiyah berasal dari kata “Naba” yang artinya berita. Maka kata An-Nabawiyah artinya berita tentang Rasulullah SAW, hanya khusus Rasulullah SAW bukan nabi-nabi yang lain. Jadi, sirah nabawiyah adalah perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Film ini dikemas ringan dan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Karena berdurasi selama dua puluh menit maka film ini sebaiknya dipertontonkan untuk anak berusia tiga tahun ke atas.

Baca juga : Kenapa Kok Tahun Kelahiran Nabi disebut tahun gajah?

Film animasi anak islami besutan NCR Production ini, merupakan produk unggulan dari perusahaan animasi lokal, yang khusus bergerak dalam bidang industri animasi berbasis edukasi dan hiburan (edutainment). NCR Production sendiri merupakan brand utama dari PT. Nada Cipta Raya yang sebelumnya telah sukses memproduksi serial Dodo dan Syamil dalam paket Seri Ensiklopedia Anak Muslim.

Menyampaikan kisah melalui media film ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap jiwa manusia. Yaitu efek seseorang yang merasa terlibat dengan tokoh yang ada dalam film, seolah-olah ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh dalam film yang ditampilkan tersebut.

Ditengah banyaknya film-film yang hanya mengutamakan unsur hiburan semata, baik film dewasa maupun anak-anak, jelas sekali kehadiran film bernuansa pendidikan dan dakwah seperti seri Sejarah Kelahiran Nabi ini sangatlah dibutuhkan sebagai terobosan baru membentuk karakter anak muslim yang cinta kepada Rabb dan Rasul-Nya dan tidak terbuai oleh dongeng-dongeng yang melenakan.

Dari sekian banyak film kartun animasi yang tayang di Indonesia, hampir tidak ada film anak yang menghadirkan edukasi dan pengetahuan tentang agama. Miskinnya film-film kartun animasi bertemakan pendidikan Islam membuat kita para orang tua muslim menjadi bingung. Ingin melarang anak-anak menonton film, tapi tidak memiliki alternatif pengganti yang positif.

Film Animasi Anak Islami ini merupakan seri film animasi yang didalamnya merupakan kisah nyata dan mengandung banyak pengetahuan agama Islam. Sejarah islam yang terkesan rumit dan membosankan dibawakan menjadi kisah yang sederhana. Kemudian dikemas dengan adegan dan alur cerita yang dapat membuat anak-anak betah duduk lama demi menjawab rasa penasaran akan ending ceritanya. Hal lain yang lebih utama adalah membantu anak-anak untuk dapat memahami Islam dengan lebih mudah dan indah.

Tidak mengherankan jika film animasi anak islami ini sangat digemari oleh anak-anak. Bagi para orang tua tentu akan sangat terbantu dengan adanya film animasi yang sangat mendidik ini.

Tidak sedikit yang kemudian menjadikan tokoh-tokoh dalam serial ini sebagai “idola”, untuk menjadi contoh baik yang harus ditiru dan contoh buruk tingkah laku keseharian anak-anak yang tidak boleh dilakukan/ditiru.

Sejak ditayangkan pertama kali di pertengahan tahun 2013, serial film animasi besutan NCR ini masih bertahan hingga saat ini. Bahkan saat ini ada beberapa seri yang sudah dibagikan di chanel Youtube. Mudah-mudahan akan terus dipertahankan dari tahun ke tahun dan dikembangkan terus dengan materi-materi atau pun serial-serial baru yang lebih variatif dan menarik. Jadi jangan ragu untuk menyajikan tontonan bermutu ini kepada anak-anak kita. Apa film favorit teman-teman?

Ibu Berkisah : SIRAH SAHABAT RASUL AL-QA’QA’ BIN AMR ATAMIMI

Sebelum berkisah, ayah dan bunda harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan tepat, maka orang tua harus mempertimbangkan materi ceritanya.

Berdasarkan salah satu artikel di kuttab Al Fatih, usia awal sampai dengan 9 tahun, anak-anak sebaiknya dikisahkan materi tentang mencintai binatang. Bisa dimulai dr kisah nabi Yunus dan ikan paus), (kisah nabi Musa dan Ular) dan (kisah nabi Sulaiman dan burung hud-hud). 

Di usia awal sampai dengan 9 tahun, ayah bunda juga bisa berkisah Khusbah dan debitor), (kisah tiga orang yang telah menutup diri pada batu dengan merobohkannya), serta (kisah orang buta, kusta, dan orang botak).

Mulai usia 9 tahun, anak mulai diberikan materi kisah-kisah tentang etika komunikasi/adab. Bisa mulai dr Kisah Nabi Ibrahim bersama Ayahnya), (kisah nabi Yusuf dan seorang wanita), serta (kisah Zulkarnain). 

Diatas usia 9 tahun, kisah-kisah sunnah Nabi, pertama (kisah Abi Hurairah dan Syaitan), kedua (kisah bejana emas) dan ketiga (kisah orang yang membunuh 99 orang). 

Bagaimana Memulai Berkisah? Adakah teknik khusus dalam Berkisah?

Point penting yang harus diperhatikan ketika akan memulai berkisah adalah jangan paksakan ananda untuk mendengarkan cerita jika ia sedang asyik bermain. Ibu dan ayah tidak boleh memaksa, namun boleh untuk membujuk.
Tunggu sampai ananda mencari kegiatan yang baru, maka ibu dan ayah dapat menawarkan kepadanya untuk bercerita.

Batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) senang mendengarkan cerita sambil di pangku dan di dekap dalam pelukan. Lakukanlah hal ini, karena anak biasanya masih bingung dan takut dengan setiap kegiatan baru.

Mendengarkan kisah sambil menikmati sentuhan kasih ibu atau ayah adalah sebuah kombinasi yang sangat sempurna. Selain itu, dengan dipangku anak akan lebih tenang dan mudah berkonsentrasi. Kalau saya dan Faris lebih suka memulai kisah dengan diskusi dan tanya jawab atau cerita berima.

baca juga : Kisah Laba-laba dan Hijrah Rasulullah SAW

Untuk beberapa batita dan balita harus dibantu untuk mulai berkonsentrasi. Caranya? Mulailah bernyanyi lagu-lagu favoritnya. Umumnya anak akan ikut bernyanyi. Nah, kalau anak sudah santai dan ikut bernyanyi, maka cerita dapat segera dimulai. Lembutkan suara ibu dan ayah, supaya ananda terpikat mendengarkan alur cerita. Saya senang menunjukkan gambar yang menarik melalui buku bergambar, atau menggunakan diorama. Untuk anak perempuan biasanya lebih tertarik jika menyimak kisah melalui media boneka untuk membantu si ananda agar dapat membayangkan ceritanya.

Kalau ananda sudah mulai “rewel” atau tidak tertarik dengan cerita, ibu dan ayah boleh bernyanyi kembali, supaya si kecil tidak jenuh. Selama bernyanyi ibu dan ayah boleh bertepuk tangan atau melakukan gerakan-gerakan yang menarik minat si kecil. Setelah itu baru melanjutkan cerita.

Bagi anak yang belum pernah mendengarkan cerita, kadang memang sulit untuk tenang mendengarkan cerita. Ibu dan ayah harus sabar dan tidak boleh putus asa melewati proses ini. Karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan, biasanya yang sulit itu di awal jika kita konsisten insyaAllah akan semakin mudah. Begitu si kecil menemukan kenikmatan mendengarkan cerita, ibu dan ayah akan bercerita tanpa gangguan yang berarti.

Oiya ada satu hal penting lagi, sebaiknya matikan televisi, DVD atau VCD jika sedang berkisah supaya si kecil bisa konsentrasi pada ceritanya. Sebab, tayangan di televisi, DVD, atau VCD tetap menarik bagi batita dan balita.

Tayangan tersebut memiliki suara, musik, warna dan gerakan-gerakan yang sangat menarik minat batita dan balita.

SIRAH SAHABAT RASUL AL-QA’QA’ BIN AMR AT-TAMIMI

Faris : “Ma,boleh nggak Faris belajar berkuda?”
Mama : “Bolehlah, sayang. Berkuda kan Sunnah Nabi, dan selain itu Allah menyebutkan ‘kuda perang’ dalam ayat pertama QS. Al-‘Adiyaat”
Faris :” Oh, ada ceritanya juga ya. Faris mau dengar kisah tentang Ksatria berkuda ”
Mama: “Oke.”

Semoga kisah ini bisa memotivasi agar engkau menjadi ksatria pembela Islam yang gigih dan dicintai Allah😇

Faris, kali ini Mama akan bercerita tentang Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi

Siapakah Beliau?

Beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah dari Bani Tamim. Ia sangat pemberani dan senantiasa mempersembahkan hidupnya untuk jihad di Jalan Allah. Selain itu, Ia dikenal mencintai kebaikan,jujur,cerdik,suka memuliakan tamu dan hidup bersahaja.

Suatu ketika Rasulullah bertanya padanya “Apa yang engkau persiapkan untuk berjihad?”

Lalu ia menjawab dengan mantap ” Ta’at kepada Allah dan RasulNya serta seekor kuda”.

Al-Qa’qa’ senantiasa berpegang teguh pada Islam meskipun Rasulullah telah wafat. Oleh karena itu Abu Bakar menunjuknya menjadi pemimpin satu peleton pasukan muslimin untuk memerangi murtadin.

Dalam sebuah perang Qadisiyah dengan berani ia menyerang Bahman Jadzuyah,panglima pasukan Persia hingga tersungkur tak berdaya. Ia juga memiliki siasat yang luar biasa dalam menaklukkan pasukan gajah-gajah Persia,hingga takut terhadap kuda-kuda kaum muslimin. Dengan berani, Al-Qa’qa’ mengejar kearah jantung barisan musuh hingga pasukan Persia terpecah belah dan melarikan diri.

Rustum, pemimpin pasukan besar pun tewas oleh pasukan muslimin. Dan akhirnya Persia pun takluk. Puncaknya, Al-Qa’qa’ memimpin pasukan mujarradah yakni pasukan berkuda dalam menaklukkan kota Nahawand. Dan sejarah mencatat perang tersebut sebagai Fathul futuh( penaklukan segala penaklukan),dimana setelahnya Persia tidak mampu untuk berdiri lagi.

Al-Qa’qa’ senantiasa siap menjual dirinya kepada Allah SWT dan mempersembahkan jiwanya untuk membela agamaNya.

Faris: “Faris mau, Ma. Faris mau jadi pejuang Islam, Ma.”

Mama:” MasyaaAllah, Semoga Allah menjaga dan senantiasa mencurahkan pertolongan Nya buat engkau, sayang. ”

📚 Disarikan dari buku 10 Pendekar Rasulullah saw; Ksatria Islam yang Gagah Berani, Penulis Asyraf Muhammad Al-Wahsy.[dari Hijrah Islamic Parenting]

〰🐴✨🐴✨🐴✨🐴✨🐴✨〰

Semoga siroh sahabat Rasulullah menjadi penyemangat Ananda meraih cinta-Nya💚

Mengenal Konsep Jual Beli dan Belajar Menakar Timbangan

Jika kita mempelajari shirah Rasulullah, kita melihat bagaimana Rasul mengajarkan kita untuk mandiri sejak usia dini. Rasulullah sudah mulai berdagang di usia 7 tahun. Ikut kafilah lintas negara di usia 9 tahun dan mengembangkan harta dagang khadijah di usia awal 20an.

Sebagai muslim, selayaknya kita meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupannya.
Target minimal kita adalah menyiapkan anak-anak untuk bisa menjadi menjadi pribadi mandiri saat mencapai usia baligh tidak seharusnya terus menerus merepotkan dan menjadi beban kedua orangtuanya.

Islam mengajarkan orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat. Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Anak kita latih untuk tidak suka meminta-minta termasuk meminta kepada ortunya. Kewajiban kita sebagai orang tua adalah memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan untuk memenuhi keinginannya, mereka harus berusaha dulu.
Sejak dini kita pahamkan pada mereka bahwa untuk bisa memenuhi kebutuhan (dan keinginan) seseorang perlu bekerja, berusaha.
Itulah yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita.

Mental Enterpreneur

1. Jujur

2. Orientasi sosial

a.Motif Ta’awun

b.Sopan dan ramah-tamah.

c.Sportif “Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

d.Tidak egois.
“Berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering keringatnya”.
Ada Ada
e.Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat)yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial.

f.Komoditi bisnis yang dijual haruslah barang yang suci dan halal.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan“patung-patung” (H.R. Jabir).

g.Bagi pihak yang berhutang, menyegerakan membayar hutang
h.Bagi pihak yang memberi hutang, meringankan yang berhutang.

3. Itqon

Ajari anak agar senantiasa menjaga amanah serta melakukannya dengan profesional. Tanamkan jiwa merit base yaitu jiwa untuk senantiasa menyelesaikan sesuatu dengan baik dan sempurna, tidak hanya sekedar selesai dengan hasil minimalis.

إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seseorang pekerja apabila ia berbuat sebaik-baiknya (profesional) ” (HR. Baihaqi)

4. Inovatif dan kreatif

a.Berani mencoba hal baru.

b.Memahamkan konsep value added.

5.Leadership

Ajari anak agar memiliki jiwa kepemimpinan, seperti

a.Disiplin
Latih anak agar disiplin dalam setiap aktivitasnya, baik disiplin terhadap waktu ataupun disiplin terhadap target yang ingin dicapai

b.Bertanggung jawab
Ajari anak bertangung jawab terhadap dirinya sendiri, barang miliknya, kebutuhan yang harus dia siapkan sebelum berangkat sekolah, membereskan mainan, dll.

Ajari juga anak agar mengetahui konsekuensi dari setiap aktivitasnya.

c.Bekerja dalam tim
Biasakan anak bekerjasama dengan orang lain.

d.Berani dan optimis
Latih keberanian anak untuk bertanya, berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat. Ajari anak untuk berani mempertahankan kebenaran, menerima kritik dan saran dengan lapang dada, tidak takut dengan sesuatu yang tidak beralasan.

Bagaimana Cara Untuk Menumbuhkan Semangat dan Jiwaentrepreneur Pada Anak Sejak Dini ?

Peran orangtualah yang mesti lebih intens dan peka pada pertumbuhan anak. Usia 2 – 5 tahun adalah usia-usia dimana rasa keingintahuan mereka sangat tinggi. Pada masa ini, orangtua bisa mengenalkan dunia kewirausahaan secara bertahap pada mereka. Konsep jual beli dapat dikenalkan pada anak sejak usia 2 tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan cara role play jual beli. Anak bisa berperan sebagai penjualnya lalu orangtua bisa berperan sebagai pembeli, atau bisa sebaliknya.

Seperti kegiatan saya hari ini dalam mengenalkan konsep jual beli kepada Faris, yuk ikuti kegiatan kami hari ini.

Ketika proses permainan jual beli itu berlangsung, misalnya, “ Mama mau beli mobil yang biru ini, harganya berapa ya? “Ini uangnya”, “Kembaliannya belum loh ya”, Harganya boleh kurang nggak, om?”. Awalnya anak tentu tidak mengerti, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, lama-lama anak menjadi paham aturan mainnya.

Jika anak sudah beranjak lebih besar, sekitar umur 3 – 4 tahun, sebaiknya perkenalkan anak dengan proses jual beli yang nyata. Anak bisa diajak ke pasar tradisional atau ke supermarket untuk ikut terlibat dalam transaksi jual beli. Berikan penjelasan kepada anak tentang pengetahuan tentang konsep perdagangan secara sederhana dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh anak.

Saat anak bertambah usianya, misalnya ketika memasuki usia sekolah dasar, libatkan anak dengan usaha kecil-kecilan. Misalnya anak diikutsertakan untuk membantu berjualan kelereng saat musim permainan kelereng. Ketika sedang musim buah, ajak anak untuk berdagang buah-buahan, atau usaha dagang lainnya yang bermacam-macam. Bertambahnya usia anak, coba latih pikiran kreatif dan ketertarikan mereka tentang usaha-usaha yang sekiranya bisa dikembangkan.

Dorong anak-anak untuk memulai usahanya dari yang kecil terlebih dahulu, dan jadikan ia menjadi pelaku utamanya, sementara orangtua sebagai pembimbing dan pemberi dukungan. Jika anak sudah berani mencoba untuk memulai usahanya, terus dorong semangat entrepreneur anak dan rangsang ide-ide kreatifnya. Bisa jadi usaha pertamanya gagal, tetapi karena dorongan dari orangtua yang begitu tinggi, anak akan bangun lagi dan mencoba usaha di bidang lainnya.

Justru pengalaman kegagalan ini diperlukan agar anak mempunyai mental yang kuat. Selalu beri dia motivasi agar mau bangkit kembali saat gagal, agar kelak tidak canggung lagi dalam berwirausaha.

 
Mengenal Konsep Jual Beli dalam Islam

Format Dokumentasi Pembelajaran

🔖Nama anak: Faris
🔖Tema : Menakar timbangan dan Mengenal jual beli
📍Tujuan pembelajaran
– Tadabbur surat Al Muthoffifin 1-6
– Mengenal jual beli
– Menakar timbangan yang pas
🔖Usia anak: 3y6m
📍Bahan:
1. mainan timbangan anak + timbel
2. bombik, mainan plastik, manik-manik
3. uang mainan

🔖cara membuat&proses:

🐣Pijakan awal :

Tilawah surat Al muthofifin 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)
أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٦

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (QS. al-Muthaffifîn/83:1-6)

Kegiatan diawali dengan mengajak Faris berdiskusi tentang orang yang curang. Sudah bisa ditebak pertanyaan yang keluar pertama kali adalah “Ma, curang itu apa sih?” Saya berusaha menjelaskan melalui penjelasan yang ada dalam Al Quran dan mengambil contoh dalam kehidupan nyata. Misalnya ketika kita akan melakukan kegiatan apapun maka pondasi dan pegangan hidup kita adalah kejujuran. Kenapa kita harus jujur? Karena Allah Maha Melihat, meskipun kita bersembunyi dengan cara apapun Allah akan selalu melihat apapun yang kita lakukan. Jadi kalau Faris kepengen berat amalannya makin banyak maka Faris harus berlaku jujur.

– Mama memberi contoh cara menimbang yang pas (jika kurang berdosa dan jika lebih kita yang merugi).

– Mama menjelaskan aturan main.
– Berdoa sebelum bermain.

🐣pijakan saat main :
– Bergantian peran menjadi penjual dan pembeli
– Mengingatkan untuk ramah kepada pembeli

🐣pijakan setelah main :

– Menguatkan kembali pentingnya menjadi pedagang dan pembeli yang jujur, jangan sampai menjadi orang uang curang seperti yg disebut surat al muthaffifin.

– beres beres setelah bermain

Perintah Menyempurnakan Takaran dan Timbangan : Kisah Nabi Syu’aib AS dan suku Madyan

Islam dengan kesempurnaan, kemuliaan dan keluhuran ajarannya, memerintahkan umatnya untuk menjalin muamalah dengan sesama atas dasar keadilan dan keridhaan. Di antaranya, dengan menyempurnakan timbangan dan takaran.

Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu [ar-Rahmân/55:9].

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya [al-An’âm/6:152].

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan penyempurnaan (isi) takaran dan timbangan dengan adil. Dan menyatakan bahwa siapa saja yang tanpa kesengajaan terjadi kekurangan pada takaran dan timbangannya, tidak mengapa karena tidak disengaja”.

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa memenuhi takaran dan timbangan lebih utama dan lebih baik manfaat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya [al-Isrâ`/17:35].

Dalam ayat lain, perintah menyempurnakan takaran mengiringi perintah beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebab, pelaksanaan dua hal tersebut berarti memberikan hak kepada pemiliknya yang tepat, tanpa ada pengurangan. [1]

Orang yang menyalahi ketentuan yang adil ini berarti telah menjerumuskan dirinya sendiri dalam ancaman kebinasaan. Dan sampai sekarang, praktek ini masih menjadi karakter sebagian orang yang melakukan jual-beli, baik pedagang maupun pembeli. Dengan mendesak, pembeli meminta takaran dan timbangan dipenuhi, dan ditambahi. Sementara sebagian pedagang melakukan hal sebaliknya, melakukan segala tipu muslihat untuk mengurangi takaran dan timbangan guna meraup keuntungan lebih dari kecurangannya ini.

Sejarah telah menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Syu’aib Alaihissallam kepada kaum yang melakukan kebiasaan buruk ini. Nabi Syu’aib Alaihissallam sudah menyeru kaumnya, suku Madyan (penduduk Aikah), agar menjauhi kebiasaan buruk itu.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ﴿٨٤﴾وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ﴿٨٥﴾بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan, (Kami utus saudara mereka), Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (Kiamat)”. Dan Syu’aib berkata, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa keuntungan dari Allâh adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu [Hûd/11:84-86]

Namun kaum Nabi Syu’aib menolak dan mengingkari dakwah beliau. Allâh Azza wa Jalla mengisahkan mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami” [Hûd/11:87]

Beliau menjawab: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allâh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali” [Hûd/11:88]

Akhirnya, Allâh Azza wa Jalla menghancurkan mereka dengan siksa-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar [asy-Syu’arâ/26:189]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ﴿٩٤﴾كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا

Dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya . Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. [Hûd/11:94-95]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka [al-A’râf/7:91]

Kurangnya pengetahuan (jahâlah) tentang tata cara berniaga dan berdagang yang baik dan syar’i merupakan salah satu faktor yang melatarbelakangi praktek kecurangan dalam takaran dan timbangan (serta perdagangan secara umum). Maka, menjadi kewajiban orang yang terjun di dunia bisnis (perdagangan) untuk mendalami fiqh buyû (hukum-hukum jual-beli dan muamalah Islam). Tujuannya, agar terhindar dari berbuat kecurangan, riba, dusta, kezhaliman dan kehilangan berkah.

Khalifah ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu pernah memperingatkan, “Orang yang belum belajar agama, sekali-kali jangan berdagang di pasar-pasar kami”.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu pernah berkata, “Pedagang bila (pelaku bisnis) tidak faqih (paham agama) maka akan terjerumus dalam riba, kemudian terjerumus dan terjerumus (terus)”.

PENJELASAN AYAT : 4
Meskipun orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran itu, telah diancam dengan siksa, kecurangan itu tetap saja mereka lakukan, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ﴿٤﴾لِيَوْمٍ عَظِيمٍ﴿٥﴾يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Tidakkah orang-orang yang mengurangi hak-hak manusia dalam timbangan dan takaran itu meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka setelah mereka mati, pada suatu hari yang sangat penting, dahsyat lagi menakutkan?”.[2]

Tidakkah mereka takut kepada hari kebangkitan dan saat berdiri di hadapan (Allâh) Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan tertutupi pada hari yang sangat besar bahayanya, banyak menimbulkan kesedihan, dan agung urusannya. Barangsiapa merugi, pasti akan dijerumuskan ke api yang menyala-nyala ?[3]

Kalaupun mereka tidak meyakini adanya hari pembalasan, bukankah lebih baik menganggapnya ada, kemudian merenungkannya, mencari tahu tentangnya, dan akhirnya berhati-hati mengambil langkah selamat dengan tidak mengurangi hak orang lain.[4]

Orang-orang yang melakukan praktek kecurangan (dan para pelaku dosa lainnya) akan menghadapi hukuman Allâh Azza wa Jalla pada hari itu. Hari yang besar. Allâh telah menyebutkannya sebagai hari yang besar sehingga menunjukkan keagungan dan pentingnya hari tersebut. Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan hari itu sebagai hari yang menakutkan, menyengsarakan, meresahkan dan mengiris perasaan. (Lihat surat at-Takwîr, al-Insyiqâq dan al-Infithâr).

 
Semoga melalui kisah ini dapat dijadikan pengingat dan membuat diri lebih takut melakukan perbuatan curang

 

Referensi :

[1]. Tatimmah Adhwâul Bayân 9/93
[2]. Jâmi’u al-Bayâni fi Ta`wil Ay al-Qur`ân 15/115
[3]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsîr 8/347
[4]. al-Jâmi li Ahkâmil Qur`ân 19/222
 
[5]. Buku MUAMALAH UNTUK ANAK (Buku Cerita Anak Bergambar)-Mengenal Buruknya Harta Haram-

Media Berkisah : Kisah Nabi Yunus AS dan Diorama Ikan Paus

Apa sih Media Berkisah?

Menurut buku Bahagia Berkisah karya Ibu Hikmah Yulitasari, media berkisah dibagi menjadi dua, unsur utama dan unsur pelengkap.

Ada tiga unsur utama berkisah, antara lain:
1. Ibu & Ayah
2. Anak
3. Kisah.
Bersumber dari Al Qur’an, hadits, sirah melalui berbagai media berkisah.

Unsur pelengkap media berkisah, diantaranya :

1. Majelis ilmu
2. Buku
3. Alat peraga yang ada di rumah / lingkungan
4. Boneka jari / tangan
5. Audio
6. Audio visual
7. Internet

Agar terlihat jelas, mana yang harus ada. Mana yang tidak ada pun tidak apa-apa asalkan ada unsur utama.
Kaidahnya, yang utama ada pelaku kisah. Ada yang menyimak kisah. Ada sumber kisah.

Adapun media berkisah sebagai pelengkap akan memudahkan, terutama bagi yang sedang berproses memulai rutin berkisah.

Bagi yang sudah rutin berkisah, pelengkap bisa menjadi sangat variatif dan bisa dipadupadankan yakni gabubgan dari beberapa media berkisah.

Bahkan, jika sudah terbiasa berkisah, sudah bisa bertutur kisah secara langsung dengan menarik.

Media berkisah berfungsi sebagai :
1. penarik minat anak
2. Variasi baru penunjang berkisah
3. Suasana baru bagi ibu dan anak.

Namun, pada kondisi tertentu, tanpa media berkisah pun kadang berkisah malah jadi lebih hidup, lebih bervariasi, lebih berwarna.

Point terpenting disini adalah setelah ibu merasa bahagia berkisah, nikmatilah, eksplor potensi diri, eksplor potensi anak, eksplor benda-benda yg ada di rumah dan lingkungan sekitar.

Gunakan mata hati dan akal untuk menemukan, kira-kira apa sih yang bisa dipakai sebagai pelengkap berkisah.

Setiap ibu dan anak punya kebutuhan sendiri. Rumah setiap ibu memiliki kondisinya sendiri. Lingkungan ibu ada situasinya sendiri. Bisa jadi tidak sama antara satu ibu dengan ibu lain, walaupun sama-sama satu grup di KIB. Jadi, silahkan menemukan sendiri yah, kira-kira media berkisah apa yang bisa dipakai.

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Salah satu sumber belajar bagi anak adalah melalui sebuah media berkisah. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media berkisah merupakan hal yang penting agar orang tua baik ayah maupun ibu lebih mudah menyampaikan dan anakpun memahami pesan yang disampaikan dalam sebuah kisah.

Memang harus ya cari media berkisah?

Ibu Hikmah, menyarankan iya. Kenapa? Iman kita naik turun. Amal kita turun naik. Kondisi kita berubah terus. Apalagi respon anak hehehe. Makhluk ciptaan Allah yang luar biasa istimewa dengan karakternya sendiri, dengan pikirannya sendiri, dengan tingkah polanya sendiri. Hari ini merespon berkisah dengan antusias dan manis. Besok bisa menolak dan lari kesana kemari. Kemarin kritis bertanya. Lusa datar saja. Begitulah anak-anak.

Jadi ibu memang harus dinamis, dengan tujuan menyegarkan niat, memperbaharui amal, mencari suasana baru yang bikin anak senang dan tidak jenuh.

Bukan berarti, setiap hari ibu harus ganti sarana, ya nggak begitu juga. Ibu-ibu kan banyak urusan yaa. Repot atuhlah kalo tiap hari kita harus cari media berkisah baru.

Maksudnya, saat Ibu sedang ada waktu dan kesempatan, gunakanlah untuk mencari sarana media berkisah baru. Insya Allah bukan hanya anak saja yg senang, bahkan ibu juga ikut senang kan ya. Ibarat mencicipi menu makanan yang beda, punya baju baru, itu kan ada rasa baru yang beda gimana gitu ya hehehe. Nah kurang lebih begitu.

ini diorama kita

Sesungguhnya ada berbagai macam media berkisah untuk anak-anak. Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita tentang media berkisah yang saya gunakan untuk berkisah beberapa hari ini. Saya memilih menggunakan diorama sebagai media dalam berkisah. Kenapa diorama? Karena di usia anak saya saat ini, dia sedang senang-senangnya belajar menggunting tempel dan membuat papercraft. Jadilah kami membuat project diorama kehidupan bawah laut dan ikan paus untuk mendukung kegiatan berkisah.

Cara pembuatan diorama sederhana ini sangat mudah dan anak-anak pun puas dengan hasil karyanya. Alat dan bahannya pun sederhana, kita hanya memerlukan kertas kardus tebal, karton, gunting, cutter, penggaris, lem kertas, selotip, benang, dan jarum.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan diorama antara lain sebagai berikut :

1.Membuat sketsa yang akan dibuat dan gambar rencana diorama sesuai dengan tema yang akan diangkat dalam proses berkisah.
2.Menyimpan tempat diorama. Tempat diorama ini dapat berupa kotak karton, kotak kayu, meja, lantai dan sebagainya sesuai dengan ukuran diorama yang diinginkan.
3.Mengerjakan bagian-bagian diorama secara rinci dengan yang direncanakan dalam gambar sketsa. (kalau saya buat di laptop kemudian siap dicetak)
4.Setelah selesai membuat bgaian-bagiannya, barulah kita bisa menyusun bagian-bagian tersebut di atas tempat diorama yang telah disiapkan.
5.Mewarnai dan menghiasi diorama agar nampak lebih hidup dan nyata.

Tiap diorama dibuat di dalam kotak dengan sisi yang terbuka. Sebagian terbesar dari objek diletakkan diatas panggung seperti hewan laut dari karton yang dilipat, cat-cat atau krayon digunakan untuk mendekorasi, bagian belakang dan dinding bagian samping diorama. Karena Faris belum bisa mewarnai dengan baik, jadi saya buat langsung dicetak jadi ia tidak perlu mengecat.

Setelah jadi, biarkan anak untuk menyentuh dan memainkan media diorama tersebut dengan imajinasi yang mereka miliki. Selain diorama, saya juga menyiapkan stiker yang nantinya ditempel sesuai dengan narasi yang saya sampaikan, mudah-mudahan dengan ikhtiar ini anak dapat memahami kisah hikmah yang saya sampaikan.

Manfaat Media Diorama

1. Dengan menggunakan media diorama ini anak akan lebih berkreatif dalam mengekspresikan pemandangan.
2. Cocok untuk anak dengan gaya belajar visual, karena diorama dapat mevisualisasikan apa yang ada dalam pikirannya.
3. Dapat melatih fokus dan kesabaran anak.

Kisah Hikmah Nabi Yunus AS

Hari ini, Mama punya kisah yang penuh hikmah buat Faris. Kisah apa ya? Ini adalah kisah Nabi Yunus AS. Begini kisahnya,

Ada sebuah negeri di bagian Selatan Irak yang bernama Ninawa. Negeri itu sangat kaya. Namun penduduknya ingkar dan tidak bersyukur. Mereka menyembah berhala dan bukan menyembah Allah.

Allah pun mengutus Nabi Yunus Alaihi Salam untuk berdakwah kepada penduduk negeri itu. Nabi Yunus menyeru penduduk Ninawa untuk menyembah Allah, pencipta alam semeata beserta isinya. Ajakan Nabi Yunus ditolak mentah-mentah oleh penduduk Ninawa. Setelah bertahun-tahun, hanya sedikit yang mau mengikuti ajakan Nabi Yunus untuk beriman kepada Allah.

Melihat keadaan tersebut, Nabi Yunus yang memberitahukan bahwa azab Allah segera datang kepdaa mereka. Tetapi, penduduk Ninawa tidak percaya. Mereka tidak peduli dengan peringatan Nabi Yunus. Suatu hari, sebelum azab yang dijanjikan tiba, Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah awan gelap yang bergumpal-gumpal diselingi petir yang menyambar-nyambar, dan cahaya merah seperti api yang hendak turun dari langit. Penduduk Ninawa berlarian mencari perlindungan. Saat itulah mereka ingat Nabi Yunus. Para penduduk pun berbondong-bondong mencari Nabi Yunus. Mereka beramai-ramai memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Tobat mereka diterima Allah. Awan gelap yang menyelimuti kota itu pun menghilang perlahan- lahan, sehingga azab tidak jadi diturunkan. Penduduk Ninawa pun terkejut melihat berhala sembahan mereka hancur berkeping-keping terkena sambaran petir.

“Benarlah apa yang dikatakan Nabi Yunus. Mulai sekarang, kita akan menyembah Allah dan mengikuti ajarannya!” seru penduduk Ninawa.

Sementara itu, Nabi Yunus telah tiba di pinggir laut. Nabi Yunus akhirnya naik ke sebuah kapal. Ia berencana pergi jauh dari negeri Ninawa karena penduduknya tidak mau menerima dakwahnya. Perjalanan Nabi Yunus ternyata tidak mudah. Di tengah laut, topan dan gelombang besar datang menghadang. Kapal pun terombang-ambing dan hampir tenggelam.

Nakhoda kapal langsung mengumpulkan para penumpang. “Biasanya, hal seperti ini terjadi jika ada seorang pelarian di dalam kapal. Kapal ini tidak mau membawa orang yang sedang dalam pelarian. Karena itu, kita akan mengundi siapa yang akan dibuang ke laut!” seru sang nakhoda.

“Tidak usah diundi. Akulah orangnya. Biar aku saja yang terjun ke laut!” kata Nabi Yunus. “Dari raut wajahmu, aku tidak percaya engkau seorang pelarian,” ucap nakhoda kapal. “Sudah, diundi saja biar adil!” seru penumpang yang lain. Setelah diundi sebanyak tiga kali, nama Nabi Yunus selalu keluar. Itu artinya, Nabi Yunus akan dibuang ke tengah laut. Melihat hal itu, Nabi Yunus tidak terkejut. Dari semula ia merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan kapal terombang-ambing.

Tanpa dipaksa, ia pun langsung terjun ke laut. Tiba-tiba, saat tubuhnya akan mencapai air, sebuah mulut hewan raksasa menangkap dirinya. Ya, seekor ikan paus yang sangat besar diutus Allah untuk menelan Nabi Yunus. Ikan Nun, diperintahkan oleh Allah agar tidak memakan daging dan meremukkan tulang Nabi Yunus, karena Nabi Allah itu bukan santapannya. Allah hanya ingin perut ikan paus itu sebagai penjara untuk Nabi Yunus.

Ikan paus itu lalu membawa Nabi Yunus ke berbagai lautan, hingga sampai di dasar sebuah lautan. Mengetahui dirinya berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus pun berdoa pada Allah, “Ya Allah, tidak ada tuhan selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim!”

Nabi Yunus terus-menerus berdoa, memohon ampun pada Allah SWT, atas kekhilafannya. Allah SWT pun mendengar doa Nabi Yunus dan berkenan mengampuninya.

Dengan perintah Allah, paus besar yang menelan Nabi Yunus perlahan-lahan berenang ke tepi laut dan memuntahkan tubuh Nabi Yunus yang sakit dan lemas ke daratan. Allah lalu menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu dan melindunginya dari terik matahari sampai keadaan tubuhnya membaik.

Setelah sehat kembali, Allah SWT, memerintahkan Nabi Yunus untuk kembali ke kaumnya di negeri Ninawa yang dulu ditinggalkan. Nabi Yunus pun berjalan menuju kampung halamannya. Penduduk kota Ninawa menyambut gembira kembalinya Nabi mereka yang telah lama menghilang. – tamat –

Pertanyaan yang muncul :
“Mama, ikan Nun masih hidup nggak sekarang? “

Catatan :

kegiatan berkisah kali ini, saya dan Faris sangat menikmati setiap prosesnya. Saat dibacakan kisah, Faris tidak hanya memperhatikan tetapi ia juga memainkan dioramanya sambil menempel stiker yang sudah saya sediakan agar ia memahami alur dari kisah yang saya sampaikan. Sehingga diharapkan ia bisa mengambil hikmah dari kisah ini dan dapat menceritakan kembali. 💕

Jangan Takut Menegur Anak [Tidak Ada Anak Usia Dini yang Tidak Bisa Dilarang]

Umar bin Abi Salamah pernah bercerita tentang pengalaman masa kecilnya sewaktu masih diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertutur “Sewaktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku ke sana dan ke sini di atas nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,《يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ》.
فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Artinya:
“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan menggunakan tangan kananmu dan santaplah makanan yang dekat di hadapanmu.”
Maka terus menerus demikian cara makanku setelah itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas merupakan salah satu pondasi utama seorang muslim dalam melakukan aktifitas makan berjamaah, akan tetapi yang menjadi perhatian kita di kesempatan ini adalah bagaimana suatu pengajaran nubuwah berupa teguran dan nasehat yang ditujukan kepada seorang anak ternyata akan membuahkan suatu pembentukkan karakter sejak dini.

Perhatikanlah hadits di atas, Umar ibn Abi Salamah dalam akhir hadits menyatakan bahwa dengan sebab teguran dan nasehat rasulullah, perilaku makan beliau yang pada awalnya kurang bagus, menjadi suatu kebiasan yang penuh barakah di sepanjang hidupnya.

Di dalam kisah lain, pernah suatu ketika cucu beliau shallallahu alaihi wasallam yang bernama Al Hasan ibnu Ali didapati sedang mengunyah sebuah kurma shadaqah, padahal syariat telah menetapkan bahwa Rasulullah dan keluarganya tidak diperbolehkan untuk memakan harta shadaqah, maka saat itu juga Nabi melarangnya seraya mengatakan,

《كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَاعَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ》

Artinya
“Kikh kikh, buanglah kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak memakan harta shadaqah.”
(HR. Muslim)

Sekali lagi, hadits di atas mengajari kita untuk tak segan melarang anak terhadap suatu perbuatan yang tidak patut, akan tetapi tentunya lebih bijak bagi kita untuk menyebutkan pula kepada mereka tentang sebab pelarangan tersebut dari sisi syariat, sehingga mereka akan terbiasa untuk beragama dengan dalil-dalil yang ilmiyah.

Oleh karenanya janganlah pernah bosan untuk menegur dan mengajari seorang anak kepada adab-adab yang mulia, Abul Ahwash rahimahullah seorang tabi’in murid dari shahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu anhu berkata bahwa gurunya (Abdullah ibn Mas’ud) pernah berpesan,

“تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ بِالْعَادَةِ”
 (الزهد لوكيع بن الجراح, الأثر: ٣٢)

Artinya:
“Biasakanlah oleh kalian perkara kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu dengan (adanya) pembiasaan.”
(Az Zuhd-Imam Waki’ Ibnul Jarrah, atsar no. 32)

QOTD : Ma, kenapa kok awan bergerak terus? Kok awannya ngejar Faris ya?

Pertanyaan ini muncul ketika Faris membantu Mama menjemur baju, kemudian tanpa sengaja ia nampak terheran-heran saat mendapati sekumpulan awan yang ia lihat di atas langit bergerak dan terasa seperti mengejar-mengejarnya.
Awan dalam bahasa arab disebut ‘sahaab‘ atau ‘ghamaamah‘.  Kata ‘sahaab‘ adalah nama massal dari kata individual ‘sahaabah‘ yang artinya ‘awan’. Kata ‘sahaba‘ adalah kata kerja bentuk lampau yang berarti menarik atau menyeret sesuatu di permukaan tanah. Awan dikatakan ‘sahaab‘ oleh al-Qur’an karena awan itu bergerak ke sana ke mari karena seolah diseret dan digiring oleh angin.

Bentuk jamak dari kata ‘sahaab’ adalah ‘sahaa-ib’ atau ‘suhub’. Kata ini semakna dengan kata ‘ghaimah’ dan ‘ghamaamah’.

”   سحاب  “

Di dalam al-Qur’an, kata ‘sahaab’ disebut sebanyak sembilan (9) kali, masing-masing di dalam QS An-Nuur [24]: 40, dan 43, QS An-Naml [27] : 88, QS Ar-Ruum  [30]: 48, QS Faathir [35]: 9, tanpa diikuti kata sifat untuk kata ‘sahaab’. Selanjutnya kata ‘sahaab’ yg diikuti dengan kata sifat (na’tun) ada di empat tempat ini: QS Al-Baqarah [2]: 164 dengan sebutan ‘sahaab musakhkhar’ (=awan yang dikendalikan), QS Al-A’raaf [7]: 57 dan QS Ar-Ra’d [13]: 12 dengan sebutan ‘sahaab tsiqaal’ (=awan tebal alias mendung), serta dalam QS Ath-Thuur [52]: 44 dengan sebutan ‘sahaab markuum’ (=awan bertidih-tindih). Allahu’alam

Kalau Faris tidak bertanya belum tentu Mama mempelajari kembali bab awan, proses terjadinya awan dan semuanya telah Allah jelaskan lengkap di dalam Al Qur’an. Proses terjadinya awan ternyata sudah dikupas tuntas di dalam Al-Qur’an. Dari awan kemudian turunlah air hujan, munculnya petir atau halilintar, semuanya dapat kita pahami salah satunya dalam QS An-Nuur [24]: 43:

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.

Dalam berbagai referensi menyatakan bahwa awan banyak jenisnya namun hanya sedikit yang menyebabkan turunnya air hujan, sedangkan sisanya lebih banyak yang tidak berpotensi menurunkan air hujan. Awan dibagi berdasarkan ketinggian letaknya dari muka Bumi (cloud base), dan bentuknya. (sumber bacaan : Buku seri Cerita Cuaca : Awan, Fifadila, Tiga Ananda)

Berdasarkan bentuknya, Awan terbagi menjadi 3 yaitu :

1. Kumulus, yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal dan dasarnya horizontal (Sahaab Markuum).

2. Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehinga menutupi langit secara merata (Sahaab Tsiqaal).

3. Sirrus, yaitu awan yang berbentuk halus dan berserat seperti bulu ayam. Awan ini tidak dapat menimbulkan hujan (Sahaab Musakhhar).

Pembentukan awan hingga menjadi hujan yang turun ke Bumi adalah prosessunnatullah. Awan yang bertumpuk-tumpuk di langit itu digerakkan dan digiring mengikuti arah angin (QS. Ar-Ruum [30]: 48 dan Faathir [35] : 9).

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

“Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.”

Di dalam perjalannya awan-awan kecil digerakkan Allah dengan angin menuju area konvergensi, dan setelah tiba di area konvergensi awan menjadi semakin banyak dan lama2 menjadi tebal.
Apa itu konvergensi? Sebuah kata yang cukup asing di telinga kita kan? Konvergensi merupakan gerakan aliran udara yang mengalir berkumpul memasuki suatu daerah. Jadi suatu tempat yang merupakan tempat berkumpulnya udara. Pada daerah ini terjadi penurunan kecepatan angin, dimana angin akan cenderung menjadi teduh saat memasuki wilayah ini. 

Pada saat awan mulai menebal, maka kecepatan angin menjadi semakin berkurang sehingga awan menjadi saling bertumpukan dan saling menindih (rukaaman = ركا ما), kemudian ada yang membentuk gunung (jibaal = جبال) dan mengandung butiran air dan kristal es. Setelah tekanan dan temperatur butiran air siap diterjunkan, dari celah2 gunungan itu kemudian Allah menurunkan air hujan ke muka Bumi di wilayah yang dikehendaki-Nya. Inilah ayat kauniyah dan qauliyah-Nya (QS Al Baqarah : 164)

📎“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan Bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Allah menurunkan air hujan tidak bersamaan di semua wilayah namun dibagi merata sesuai kehendak-Nya. Saat hujan di wilayah barat, namun di wilayah timur cerah dan Matahari bersinar. Itulah kenapa bisa terjadi pelangi, insyaAllah akan kita bahas di lain kesempatan.