Aliran Rasa Matrikulasi Insitut Ibu Profesional Batch #5 Batam Kepri

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah, lega rasanya setelah berjibaku mempelajari sembilan materi dan Nice Homework (NHW) yang membantu saya mengenal dan mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Beruntung sekali rasanya saya diberikan kesempatan dan dipercaya oleh Fasilitator untuk mengikuti program CMSE (Class Meeting Student Exchange) Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5.

Ketika diminta untuk membuat aliran rasa tentang apa yang saya rasakan ketika mengikuti Matrikulasi IIP ternyata tidak mudah, memilih kalimat yang tepat untuk mewakili perasaan setelah 9 minggu lebih melewati hari-hari bersama di kelas matrikulasi. Dari tidak kenal menjadi kenal, curhat-curhatan, baik sesama peserta maupun dengan fasilitator yang telah dengan sabar mendampingi selama ini. Kalau mau dialirkan semua rasa yang ada, kayaknya bisa jadi cerita bersambung deh hehehe.

Bagi saya, Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini layaknya kawah untuk menuntut ilmu. Di sini saya wajib memposisikan diri sebagai spons agar bisa menyerap dan menampung ilmu sebanyak-banyaknya. Terkadang godaannya muncul rasa minder, merasa harus segera bergegas meraih cita dan asa. Apalagi jika kedatangan bintang tamu, yang rata-rata masih muda, tetapi memiliki prestasi yang luar biasa hikss, saya makin merasa siapalah saya ini.

Tetapi di sisi lain, berada di Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini membuat saya bisa menemukan siapa sesungguhnya saya, potensi apa yang ada dalam diri saya, dan bisa lebih memahami peran saya di kehidupan yang dianugrahkan Allah kepada saya. Banyak nilai-nilai hidup positif yang ajarkan dalam program ini. Satu demi satu NHW membuat hati berdebar-debar setiap minggunya karena dilanda rasa penasaran. Pernah terlintas rasa ingin menyerah, karena keteteran mengatur jadwal menulis di sela rutinitas harian tapi.. masa iya kalah? Harus berubah dong ! Karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH. 

Menjadi ibu memang bukan hanya sekedar ‘cuma’. Ibu adalah tugas seumur hidup bagi seorang wanita. Menjadi ibu adalah tujuan terbesar dan termulia bagi kita. Saking pentingnya peran ibu, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mendidik satu anak perempuan berarti mendidik satu generasi. Artinya, ibu memegang peranan yang sangat penting untuk mengantarkan anak-anak hebat agar kelak mampu melakukan tugas peradabannya masing-masing. Berat kan, Mak?Hiks..

Meskipun tugas sebagai seorang ibu ini sangat penting dan berat, di zaman serba cepat ini sudah jarang ditemui anak-anak perempuan yang dipersiapkan untuk menjadi ibu. Iya, kan? Benar, nggak sih?

Padahal, ibu itu termasuk salah satu profesi terpenting di dunia, lho! Jika menengok KBBI, makna kata profesi adalah “bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu”. Jadi, jika ingin menjadi seorang ibu selayaknya profesi lainnya, juga membutuhkan keterampilan. Itu juga kalau mau jadi ibu profesional😊

Baca juga : Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahun ini, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi IIP. Saya memutuskan untuk belajar menjadi ibu profesional. Ibu terbaik untuk anak-anak, tentunya menurut versi saya dan menjadi istri serta teman yang asyik bagi suami saya.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa Matrikulasi ini akan berisi materi-materi bagaimana menjadi ibu yang baik, ibu yang penyabar, dan sifat-sifat keren lainnya. Ternyata, apa yang saya dapatkan jauh lebih mendalam dari itu semua. Peserta matrikulasi diajak berkontemplasi tentang siapa kami sebenarnya, apa yang menjadi minat kami, apa yang menjadi tujuan penciptaan keluarga kami, visi misi dari diri dan keluarga, bagaimana mencapai tujuan hidup, mengelola waktu, mengetahui apa yang dibutuhkan orang-orang terdekat kita dari kita, dan hal penting yang sering dilupakan yaitu mencari tahu bagaimana cara belajar.

Semua materi dan NHW memiliki kesan masing-masing bagi saya. Setiap NHW memberikan pemahaman baru tentang siapa saya dan mau ke mana saya melangkah. Saya rasa, setiap kita, setiap keluarga, sudah seharusnya memiliki visi misi dalam hidup. Menikah bukan hanya bertujuan untuk “menggenapkan agama” atau “memiliki keturunan” tapi jauh lebih dalam daripada itu semua. Menikah adalah langkah awal untuk berkolaborasi demi mencapai peran peradaban. Menyatukan dua insan untuk menciptakan kekuatan yang lebih besar sehingga bermanfaat bagi umat. Memang sebelum menikah saya dan suami sudah punya gambaran akan dirancang seperti apa keluarga kita nanti, bak gayung bersambut Institut Ibu Profesional membuat langkah saya dipacu semakin cepat agar fokus melangkah lebih baik setiap harinya.

Flashback kembali pada tugas NHW #2 adalah checklist “Indikator Profesionalisme Perempuan “. Sebagai individu sangat dibutuhkan effort kuat dalam diri saya pribadi, hingga detik ini masih terbayang ingin menjadi individu seperti apakah saya. Sebagai ibu, setidaknya saya punya indikator ibu ideal yang ingin saya wujudkan kepada anak-anak. Berbekal tips komunikasi produktif saya pelajari dari seminar-seminar parenting, ternyata saya malah bisa ngobrol lumayan lama dan dari hati ke hati dengan suami. Alhamdulillah 🙂

Dari sana saya jadi tahu apa yang suami harapkan dari saya. Saya jadi tahu apa yang suami inginkan, apa yang suami suka, apa yang suami tidak suka, apa yang suami mau. Setelah mengerjakan NHW #2, rasanya lebih lega. Jadi tahu apa yang suami harapkan dari saya, jadi tahu apa yang harus saya lakukan. Kalau tanpa rangkaian NHW ini mungkin saya masih banyak galau dan setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Hiks..

Semua materi spesial, namun ada materi dan NHW yang membuat saya bisa ngobrol cukup panjang lebar dengan Mama saya. Biasanya, karena kami tidak terlalu dekat maka ketika videocall hanya sekedar bertanya kabar dan membahas kegiatan anak-anak saya saja. Entah mengapa, sejak dulu saya tidak bisa nyaman ngobrol panjang lebar dengan Mama. Nah, berkat NHW #9, saya bisa ngobrol cukup panjang dengan Mama, dari hati ke hati. Membicarakan mimpi-mimpi yang selama ini saya gantung namun tenggelam dalam rutinitas harian.Ya! Mimpi menjadi seorang sosiopreneur.

Apa itu sosiopreneur?

Semua orang bisa menjadi enterpreneur namun tak semua orang bisa menjadi sociopreneur. Karena berjiwa bisnis bisa dibentuk sedangkan jiwa sosial memang naluri alamiah seseorang. Semua orang mampu berbisnis namun tak semua orang mau berbagi, berbagi itu sebuah pilihan dan terdapat kepuasaan tersendiri jika bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Istilah ini memang masih awam di masyarakat karena mereka lebih akrab dengan enterpreneur. Padahal seseorang yang menjadi enterpreneur belum tentu sociopreneur sedangan sociopreneur sudah pasti enterpreneur.

Sociopreneur merupakan seseorang yang melakukan usaha mandiri untuk mendapatkan uang dan uang tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Jadi uang dari hasil bisnisnya tak hanya digunakan untuk keperluan pribadi. Namun untuk membantu orang banyak. Itu cita-cita saya sejak dulu. Memang sih jika memilih menjadi wirausaha bidang sosial ini kita harus fokus ke dalam pemberdayaan masyarakat sesuai dengan materi NHW 9 yang membangkitkan kembali adrenalin saya untuk terus mengembangkan diri dan berusaha menciptakan ide-ide yang cemerlang untuk mendapatkan solusi inovatif demi menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Mulai dari KM-0 saya harus memberikan ruang berkarya bagi diri saya tak lupa mengajak masyarakat agar berfokus pada kondisi dimana sektor sosial belum berjalan dengan baik. Sehingga perlu memecahkan permasalahan tersebut dengan cara mengubah sistem, menawarkan solusi dan mengajak masyarakat untuk melakukan lompatan baru dalam menghadapi permasalahan mereka. Ah, semoga Allah memampukan saya dan mengirimkan orang-orang terbaik agar bisa bersama-sama bersinergi.

Sosial Venture Ini Harus Segera Dimulai Dengan Kesungguhan

Isu global warming memang sedang marak saat ini. Dan saya tertarik untuk mencoba menyampaikan konsep bagaimana mengolah dan memanfaatkan limbah sekitar rumah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual. Dan ternyata berhasil

Terimakasih ya, tim Matrikulasi IIP Batch #5, terimakasih juga spesial untuk Fasilitatorku yang sudah sangat sabar bahkan sudah saya anggap seperti kakak sendiri Mbak Erli Oktania Susanti. Dialah yang menguatkan dan meyakinkan kepada saya bahwa produktif itu tidak hanya dinilai dengan materi atau jabatan. Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

Sebenarnya masih banyak aliran rasa yang ingin saya sampaikan, tapi kayaknya bakal kepanjangan kalau diceritain semua. Pun, malu juga sih. Hihi..

Jadi, semoga saya lulus Matrikulasi IIP Batch #5 dan bisa berlanjut ke kelas-kelas selanjutnya! Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Mari Menulis! Turunkan Impian, Dekati Kenyataan ❤️

“Kita adalah murid seumur hidup”

Entah di mana saya pernah membacanya, tapi kalimat itu menempel lekat-lekat di ingatan saya. Dulu ketika masih menjadi pekerja lepasan, di luar pekerjaan yang tidak henti-hentinya harus digapai dan dilakukan, ada kebebasan yang menyenangkan ketika hidup tidak terikat jam kantor. Artinya bisa gawat kalau saya sedang kumat “nggak disiplin”-nya. Tapi, bisa juga menggembirakan karena artinya kita bisa punya waktu untuk membaca lebih banyak buku, misalnya,traveling lebih banyak, atau bahkan belajar lebih banyak lagi.

Belajar lebih banyak lagi!

Disiplin!

Disiplin!

Disiplin!

Setidaknya, ada beberapa workshop(kursus) pendek yang pernah saya ikuti untuk mengasah kemampuan menulis. Sebelum workshop project bersama Ibu Profesional Batam, saya mengikuti kelas menulis cerita anak secara online bersama Mbak Wulan Mulya Pratiwi. Ah, rasanya belum cukup ilmu yang saya peroleh dengan belajar secara online. Alhamdulillah, Sabtu kemarin saya dipertemukan dengan Mbak Heni, Mbak Arum dan Mbak Dian dari Kopi Write Indonesia.

InsyaAllah bersama Ibu Profesional, impian mengukir kenangan lewat tulisan bisa terwujud. Semoga Allah memudahkan segala prosesnya, meski tertatih dan harus KERAS terhadap diri sendiri. Satu pesan yang saya ingat dari Mbak Heny, “meskipun project menulis ini antologi, tetaplah menulis sesuai dengan gaya kita karena genrelah yang akan menemui jalannya sendiri.”

Mari Menulis! Turunkan Impian, Dekati Kenyataan ❤️

Nerf Gun War, Bahasa Kasih Keluarga Kami 💌

Kita pasti tahu ya, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Melalui bermain, mereka bisa belajar banyak hal. Bahkan semenjak bayi, kita berinteraksi dengan mereka lebih banyak melalui bermain. Kenapa bermain? Karena anak-anak itu memiliki energi yang luar biasa banyaknya untuk digunakan sehingga nggak heran kalau mereka seakan nggak ada capeknya. Bergeraaak terus kesana kemari. Selain itu, otak mereka juga sedang dalam perkembangan yang sangat pesat, sehingga mereka selalu punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin mengeksplorasi segala sesuatu.

Ngomongin mainan, saya dan suami sudah hampir sebulan ini senang membahas mainan tembakan nerf. Sudah tahu belum tembakan nerf? Iya, Nerf Gun adalah salah satu mainan branded yang sedang naik daun. Mainan tembakan ini baru saja resmi masuk ke Indonesia, tetapi buat keluarga kami sudah sangat familiar dengan mainan ini. Berbgai macam tipe, model dan bentuk sampai jenis pelurunya pun banyak yang sudah kami coba-coba 😁

Di etalase toko online kami, alhamdulillah setiap minggu terjual minimal satu pcs tembakan ini. Jangankan anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa juga suka bermain Nerf Gun, lho!

Bagaimana tidak? Selain menyediakan kepuasan adrenalin yang sama sekali tidak berbahaya, Nerf Gun juga bisa dimainkan dalam banyak cara.

Banyak permainan seru yang bisa kami lakukan dengan Nerf Gun.

Kami dan anak-anak sering memanfaatkan waktu kebersamaan untuk bersenang-senang dengan Nerf Gun di dalam rumah.

Tentunya untuk pertandingan tembak-tembakan di dalam rumah, kami dan keluarga juga perlu Nerf Gun yang sesuai juga. Untuk kegiatan bermain indoor yang ramah dan aman terhadap eksistensi berbagai perabotan dan pajangan rumah hahaha…

Jadi kami cenderung menggunakan Nerf Gun yang memiliki ukuran pendek. Nggak mau juga kan vas bunga kesenggol hingga pecah ketika asyik mengayunkan Nerf Gun yang berlaras panjang?

Kompetisi Bersahabat dengan Target Shooting

Bermain nerf gun dapat meramaikan suasana, baik untuk anak-anak dan kami, orang tuanya😁 Kami hanya perlu membuat target tembakan saja. Targetnya pun bisa beragam. Mulai dari kaleng bekas, balon air yang diayun, hingga papan magnet haha

Untuk permainan adu keahlian akurasi semacam ini, saya dan suami senang beradu ala ala. Meskipun simple tetapi momen bermain seperti ini sangatlah mengesankan.

Walaupun Nerf Gun memiliki peluru dari foam yang insyaAllah aman, tetapi mungkin ada beberapa orang yang takut bermain Nerf Gun. Buat yang parno, boleh menggunakan kacamata pengaman dan permainan dapat dipastikan 100% tidak berbahaya. Solusi kedua nih, biasanya kami mengajak anak-anak bermain Nerf Gun air. Nerf gun air sangat cocok dimainkan oleh anak balita.

Main Air makin Rusuh

Keuntungan lain dari permainan Nerf Gun air adalah faktor kompetisi yang sesungguhnya nggak ada. Walaupun anak-anak terlihat saling menembak satu sama lain dengan air, tetapi kita tidak akan bisa menentukan siapa yang menang karena semuanya pasti sama-sama basah! Cocok kan dimainkan untuk anak balita yang masih dalam masa egosentris. Tertarik juga mencoba permainan ini?

#day11
#22Feb18
#Batam
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu saya sudah membagikan tulisan saya untuk NHW #1, di situ saya mendeskripsikan bahwa salah satu cita-cita saya saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana sih cara mencapainya, saya sendiri masih menata diri dan berusaha merumuskan langkah apa saja yang harus saya tempuh. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaan saya terjawab sudah.

Baca juga: Refleksi Diri 2018

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum membahas bingkisan NHW #2 yang super ini, kita belajar terlebih dulu yuk bagaimana menuju ibu professional.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
kata IBU memiliki makna;
1.perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2.sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3.panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4.bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5.yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1.bersangkutan dengan profesi;
2.memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja agar konsistensi dan semangat belajar bisa selalu terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Kurang lebih seperti itu latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada visi dan misi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah visi dan misi IIP;

Visi dan Misi Ibu Profesional

Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2.Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Apa Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang, merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

🌸Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
🌸Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
🌸Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan, tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

🌸Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
🌸Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
🌸Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif, jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

🌸Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
🌸Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
🌸Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
🌸Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha, tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

🌸Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
🌸Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
🌸Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
🌸Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Langkah Menjadi Ibu Kebanggaan dalam Keluarga

Setelah meresapi materi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. Bingkisan yang diberikan kali ini cukup membuat saya berdiskusi panjang kali lebar bersama anggota keluarga karena saya diminta untuk menyusun “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang realistis dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau saya harus melakukan wawancara dengan suami dan anak-anak. Melalui diskusi panjang bersama suami, saya jadi tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, saya perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang saya dapat dari suami dan anak-anak sangat sederhana, namun cukup membuat saya merenung lebih lama lagi karena ternyata begitu banyak hal yang harus saya perbaiki.

Oiya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;

-SPECIFIC (unik/detil)
-MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
-ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
-REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
-TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Ikhtiar Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya mulai menyusun checklist yang nantinya insyaAllah dapat membantu saya sebagai pengingat agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu.

Meskipun sejak kecil saya sudah terbiasa membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri namun tugas kali ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi saya. Hingga saat ini entah berapa kali saya membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu saya pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan saya ketika semangat saya mulai kendor.

Checklist yang saya susun ini saya beri tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung masih awal tahun sekalian menggembleng diri ini agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan suami ketika saya hendak menyelesaikan tugas ini adalah “lakukan dari yang paling sederhana dulu, supaya tidak merasa berat dalam menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.”

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Sebagai individu di sini saya kategorikan dalam hubungan saya dengan Allah, dengan diri saya sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang saya susun;

a. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

Indikator Individu Beriman

🌸Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
🌸Menambah hafalan setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
🌸Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
🌸Tilawah minimal satu lembar setelah sholat.
🌸Merutinkan kembali dzikir pagi dan petang.
🌸Merutinkan kembali sholat sunah dhuha dan qiyamul lail.
🌸Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b. Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

Indikator Individu Istiqomah

🌸Menyusun ulang jadwal bulanan dalam mengelola rumah tangga.
🌸Berolahraga pagi bersama anak-anak.
🌸Update blog minimal tiga post selama satu minggu.
🌸Muhasabah diri sebelum tidur.
🌸Mencatat kegiatan harian anak-anak dalam buku catatan khusus.
🌸Menata skala prioritas kegiatan harian.

c. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

Indikator individu masyarakat

🌸Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
🌸Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
🌸Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
🌸Lebih terbuka dan mau berbagi.
🌸Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan dharmawanita.

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat berdiskusi dengan suami, saya sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan tebakan saya ternyata benar! Dengan gaya yang humoris dan penyampaian yang sederhana ini jawaban suami saya ; “jangan gampang emosi dan meledak-ledak, urus anak dengan lebih sabar dan senyum dong kalau saya pulang.” Dengan pedenya saya bilang, “masa iya cuma gitu doang?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambahin lagi.”😂

Dan inilah indikator yang saya susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit saya modifikasi ;

Indikator Istri

🌸Lebih baik lagi dalam mengontrol emosi, lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan terlebih dahulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
🌸Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika suami pulang terlambat atau mendadak lembur.
🌸Merendahkan suara. (PR banget nih buat saya yang tukang ngeyel).
🌸Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
🌸Mencium tangan suami saat melepas pergi ke kantor.
🌸Memberikan suami me time (suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetan saya dan anak-anak).
🌸Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang ke kajian.
🌸Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.

Jawaban pemikiran ala lelaki dengan kesimpulan:

…selama mama nggak ngomel-ngomel, kami bahagia…

Sebelum tanya-tanya dengan suami, saya sudah sempatkan untuk bertanya-tanya dengan Faris. Faris seneng punya mama yang seperti apa. Dengan usianya yang baru tiga tahun, keinginan Faris pun cukup sederhana; “Faris seneng kalau Mama nggak sedih kalo Faris nggak nurut sama dan nemenin Faris mainan jual-jualan.” Belum sempat dijawab, Faris malah balik bertanya “kenapa sih kok Mama nggak ke kantor aja? Biar Mamanya cantik kaya tante-tante yang di kantor Papa. “ Lalu saya jawab, “Berarti Mamanya boleh ke kantor ya?” Langsung dijawab sama Faris, “eh, nggak mau ah nanti Faris di rumah sama sapa? kan Faris maunya semua sama Mama, mainan, belajar, bikin kue sama Mama. Tapi Faris maunya Mamanya yang cantik aja yang di rumah sama Faris.” Wah, PR banget ini bagi saya, rupanya saya kudu makeover diri supaya nampak cantik di depan anak bujang saya. 😂

Lanjut obrolan bersama Irbadh, berhubung ia baru berumur enam belas bulan dan ketika ditanyain jawabnya hanya “mama manya”, maka saya simpulkan bahwa si bayi yang beranjak besar ini maunya mama selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jejak jauh-jauh, hihi.

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, saya menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa resolusi pribadi saya sebagai seorang ibu.

Indikator Ibu

🌸Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak dengan membuat sendiri masakan dan snack untuk anak-anak.
🌸Melatih kemandirian anak-anak. Faris diharapkan dapat membereskan tempat tidur, mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri. Sedangkan Irbadh, bisa ke toilet sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.
🌸Mulai membiasakan Faris dengan kebiasaan beragama seperti sholat lima waktu, mengaji dan memberi sedekah kepada yang membutuhkan.
🌸Menyusun lesson plan Faris untuk kegiatan belajarnya di rumah, mulai merutinkan murojaah, mengenal huruf hijaiyah melalui makhrajnya, dan merutinkan playdate yang sesuai dengan minatnya.
🌸MengASIhi Irbadh hingga dua tahun.
🌸Memberikan stimulasi berbicara agar meminimalisir tantrum.
🌸Merutinkan berkisah, membaca buku bersama,dan bermain bersama dengan anak-anak.
🌸Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak berebut sesuatu, Misal; anak-anak tidak diijinkan bermain jika tidak mau berbagi dan main bersama, jika salah satu pihak tidak mau berbagi maka berikan timeout.
🌸Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika anak-anak sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka saya mengkomunikasikan kepada suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utama saya. Saya tidak lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan evaluasi saya, ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga ternyata saya semakin keteteran dalam mengasuh anak-anak. Teringat pesan dari bu Septi, “rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Semoga Allah berikan kemudahan kepada saya agar bisa menepati checklist yang telah saya susun untuk masa evaluasi sebulan ke depan dan semoga langkah awal ini bisa mengantar saya mencapai cita-cita sebagai seorang ibu professional. Hm, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share dong 😄

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh