Social Venture itu Mimpi yang Tertunda

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tidak terasa, 9 minggu sudah kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #5 berlangsung. Setelah melewati berbagai materi yang seringkali bikin deg-degan, panas dingin, cenat cenut tapi sekaligus membuat kami semakin bersemangat mengenal diri sendiri dan berubah ke arah yang lebih baik, kini di penghujung kelas para peserta ditantang untuk menjadi agen perubahan.

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu, menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender, karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Itulah kenapa IIP merangkul para ibu untuk belajar bersama-sama karena sejatinya “mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Maka apabila ada satu orang ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan pada satu generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impact-nya?

How To Start?

Temukan Misi Spesifik Hidup Kita

Langkah pertama adalah kita harus sudah memahami apa maksud Allah menurunkan kita ke muka bumi ini, apa misi spesifik hidup kita, mengapa kita diamanahi putra-putri yang kini mewarnai hidup kita, apa maksudnya kita berada di lingkungan yang sekarang kita tinggali. Untuk lebih memahami semua ini, saatnya untuk throw back ke NHW – NHW sebelumnya.

Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES. Setelah menemukan jalan hidup, segera melihat ke arah lingkaran pertama kita, yaitu keluarga. Mulailah menggali perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGE MAKER FAMILY. Tidak perlu banyak dan muluk-muluk, kita bisa memulai dengan perubahan-perubahan kecil namun selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Ketika melakukan perubahan di dalam keluarga, kita bisa menggunakan pola kaizen yang merupakan sebuah filosofi hidup dari Jepang. Kai artinya perubahan, sedangkan Zen berarti baik. Secara utuh, Kaizen merupakan cara memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

 

Build Our Empathy, Completed by Our Passion

Jika perubahan-perubahan di dalam keluarga kita perlahan menampakkan hasilnya, saatnya kita masuk ke lingkaran kedua yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan diri kita ada di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

Empati adalah kunci untuk memulai perubahan di dalam masyarakat yang kita tinggali. Cara mengawali perubahan di masyarakat yaitu dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di dalam keluarga. Hal tersebut agar aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPATHY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masyarakat. Sesuatu yang diawali dari keprihatinan lalu dilengkapi dan ditambahkan dengan passion yang kita miliki akan menghasilkan perubahan yang luar biasa di masyarakat. Empati tanpa didukung dengan passion akan membuat aktivitas yang kita lakukan tidak mendalam dan hanya sebatas permukaan. Maka penting sekali untuk menggali apakah passion yang kita miliki bisa mendukung rasa empati yang muncul.

 

Social Venture

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social entrepreneur, baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneur.

Nah, di NHW #9 ini para peserta matrikulasi diminta untuk bisa membuat perubahan di masyarakat, dengan diawali dari rasa empathy. Peserta harus mulai belajar untuk membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini bertujuan untuk membuat para peserta matrikulasi bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kami dengan kemampuan entrepreneur yang kami miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. Kita juga bisa ikutan menyelami apa isu sosial di sekitar kita. Untuk mempermudah, kita bisa mulai dengan membuat bagan seperti ini;

Berdasarkan bakat minat di NHW sebelumnya, sedikit banyak saya semakin mengenal diri sendiri. Dalam rangka meninggikan gunung, maka saya memilih memulai dari hal sederhana yang saya sukai.

Pertama, memasak sebenarnya bukanlah passion utama saya, namun seberapa kerasnya saya menghindari aktivitas ini, entah mengapa saya akan selalu kembali ke ranah ini. Yaiyalah, saya sebagai koki keluarga harus memastikan kecukupan gizi anggota keluarga dan berusaha memasak sendiri makanan yang disajikan di rumah. Apalagi sejak tahun 2015, saya memutuskan untuk mengatur pola makan secara food combining. Jadi saya selalu berusaha memasak apa yang akan kami makan sendiri. Sebenarnya justru lebih mudah karena dengan food combining kami menerapkan minimalisasi proses memasak. Sejak tahun 2016 pun saya mencoba merintis bisnis homemade catering baby dan toodler bernama CIKAPA.

Berhubung saya tipe orang yang agak perfeksionis, ketika diberi kepercayaan saya ingin menjalankannya dengan sebaik mungkin. Dihadapkan pada permasalahan sulitnya mencari tenaga kerja dan keadaan saya yang saat itu bersiap akan melahirkan anak kedua. Qodarullah, saya terpaksa menghentikan bisnis yang sudah berjalan ini demi fokus membersamai anak-anak.

Belakangan ini saya aktif kembali berkomunitas bersama dengan Komunitas Indonesia Sehat Sejahtera. Mengikuti kelas memasak healthy food dan gluten free untuk bayi dan ADHD, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan memasak saya yang sudah lama tidak saya asah lagi. Insya Allah dengan bantuan teman-teman komunitas, saya ingin kembali menjalankan berbagai kegiatan dalam rangka mengkampanyekan hidup sehat dan berkontribusi lebih banyak ke masyarakat. Kegiatan-kegiatan sustainable lingkungan dan upaya menuju green lifestyle yang sedang kami upayakan melihat kondisi bumi yang semakin tua dan sampah yang semakin menggunung.

Salah satu kendala yang saya hadapi saat memulai syiar healthy food, khususnya di lingkungan saya tinggal, ketika saya dianggap belum mumpuni dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan jika ingin makan makanan sehat sehingga menurunkan minat orang untuk merubah gaya hidupnya.

Jadi setiap kali membagikan info-info mengenai healthy food, yang benar-benar mendengarkan hanya segelintir orang. Ya, seringkali kita melihat siapa yang berbicara, bukan apa yang disampaikan. Tapi tak mengapa, itu juga jadi cambuk untuk saya agar saya dapat membuktikan dulu lewat keluarga saya sendiri, baru nanti berbicara di ranah publik.

Meski begitu ketika saya juga mencoba mengedukasi di beberapa grup komplek perumahan yang lain, mereka justru excited dan mendengarkan dengan baik. Dari pengalaman tersebut, saya mulai merubah pola, saya dan teman-teman harus bertukar area sebagai pembicara agar lebih didengar. Karena seringkali orang di luar lingkungan jauh lebih didengar dan dihormati daripada yang di dalam.

Kedua, saya memang sudah lama kenal dunia literasi khususnya blogging, meski baru benar-benar dijalankan secara profesional akhir tahun kemarin. Karena saya bukan tipe orang yang mudah mengenal banyak orang, saya lebih nyaman mengenal sedikit orang namun lebih mendalam. Bukan berarti saya menutup diri, namun lebih mudah bagi saya berbagi untuk yang sudah mengenal saya. Maka saya memilih memanfaatkan media sosial dan blog yang mudah diakses siapapun yang membutuhkan.

Apakah yang saya bagi?? Hal-hal yang sudah saya lakukan berkaitan pendidikan anak. Bisa diakses di instagram monique_firsty atau blog ini. Saya mencoba berhijrah dari status galau dan mencoba memenuhi sosial media dengan album yang merupakan catatan kegiatan harian bersama anak-anak dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar. Selain itu perjalanan matrikulasi ini saya kumpulkan di blog pribadi portofolioanak.com dengan harapan agar para ibu di luar sana terinspirasi untuk bergabung di IIP. Meyakinkan kepada banyak orang bahwa belajar itu tak terbatas ruang dan waktu, medsos dan internet yang awalnya menjadi shallow work ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagi. Sebagai bentuk kecintaan saya terhadap literasi, saat ini saya juga sedang mengembangkan rumah baca Taman Ilmu dan Rumah Belajar Trenggalek bersama dengan sahabat saya di kampung halaman. Meskipun belum maksimal tetapi saya ingin berbagi sekecil apapun itu dengan harapan semoga bermanfaat bagi orang banyak.

 

Dari sini, sempat beberapa kali diskusi online maupun tatap muka langsung dengan beberapa teman yang merasa “sealiran” dalam hal pendidikan. Apa yang saya bagikan ternyata memunculkan feed back, berupa dukungan, kritikan, masukan, dsb. Alhamdulillah ketika memulai perubahan kecil dari diri sendiri, insya Allah keluarga dan lingkungan pun mengikuti. Saya sering membagikan kegiatan bersama anak dengan harapan bisa menginspirasi para orangtua via media sosial dan blog. Selain mendokumentasikan kegiatan bersama anak-anak, saya berusaha mengcampaign tentang Institut Ibu Profesional agar ibu lain di luar sana turut merasakan belajar meng-upgrade diri.

Saya memang mengenal IIP setelah menjadi ibu, sedikit terlambat mungkin namun alhamdulillah begitu banyak ilmu yang saya dapat dan terapkan di kehidupan sehari-hari. Padahal saya belajar pun masih di kulitnya, belum terkupas bahkan isinya belum tersentuh. Namun, ingin sekali rasanya berbagi kepada semua ibu di luar sana, “halo bunda semua.. ayo bergabung di sini, mari kita belajar bersama dalam rangka memenuhi panggilan hati”.

Ke depannya saya ingin lebih fokus untuk membangun bisnis homemade catering baby and toodler. Meskipun saat ini saya belum bisa open order kembali, tetapi saya tetap ingin bisa lebih luwes dan merangkul mereka yang belum aware dengan kesehatan dan pilihan makanan sehat sebagai langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat. Semoga ide saya untuk mengembangkan bisnis homemade catering baby and toodler bisa terwujud dan minati oleh banyak orang.

Itulah ide-ide saya untuk NHW #9 berkaitan dengan menjadi agen perubahan. Yuk, jangan ragu menjadi agen perubahan, karena sejatinya “Everyone is a Changemaker”. Setiap orang adalah agen perubahan. Ini bukan soal MAMPU atau tidak, tetapi MAU atau tidak. Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak orang di luar sana memiliki permasalahan yang sama dengan kita.

Ketika keberadaan kita telah mampu bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya, maka saat itulah indikator sebagai bunda shaleha telah tercapai. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi melalui kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

Alhamdulillah NHW #9 telah terselesaikan. Memang ini adalah akhir dari kelas matrikulasi, namun sesungguhnya ini justru awal dari sebuah gerbang fase hidup yang baru, khususnya untuk saya. Setelah ini, insya Allah saya akan melanjutkan ‘kuliah’ ke kelas Bunda Sayang. Memantapkan diri sebelum benar-benar terjun ke masyarakat maka saya harus selesai dengan permasalahan diri saya sendiri dan keluarga saya.

Insya Allah, sembari memantaskan diri untuk menjadi CHANGE MAKER di dalam keluarga saya, maka saya akan semakin lebar membuka mata, hati dan telinga agar dapat menangkap lebih banyak isu sosial di sekitar saya, sehingga nantinya saya bisa berkontribusi dengan sebenar-benarnya sesuai dengan passion dan skillyang yang saya miliki.

Jika nanti ketika sudah terjun ke masyarakat, kita harus tetap ingat bahwasanya KELUARGA tetap nomor satu. Ketika kita aktif di masyarakat dan suami melayangkan protesnya, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, artinya ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras; LAMPU MERAH. Jika lampu ini yang menyala, artinya kita harus mulai menata ulang tujuan utama kita aktif di dalam masyarakat. Semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat ya. Oya kalau ada yang ingin bergabung dalam kelas matrikulasi IIP batch #6, sign up dan stay tune di website Ibu Profesional untuk informasi lebih lanjut. Selamat menjadi agen perubahan  😉

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

NHW#8 : Misi Hidup dan Produktivitas

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah tidak terasa sudah di penghujung kelas Matrikulasi. Kali ini saya kembali akan melanjutkan catatan ilmu yang saya peroleh di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5 yang telah berjalan hingga minggu ke delapan. Setelah minggu lalu, para peserta matrikulasi semakin mengenal potensi diri lewat tes talent mapping sederhana yang dilakukan lewat www.temubakat.com, minggu ini kami diminta untuk menggali lebih dalam lagi mengenai misi spesifik hidup.

Mungkin bagi orang lain kenapa sih musti begini begitu, sudahlah mengalir saja. Yang jelas Allah menciptakan kita di dunia pasti memiliki maksud tertentu. Masa iya sih kita tidak ingin mengetahui apa sebenarnya yang Allah inginkan dari diri kita. Kenapa kita diminta melewati kejadian A, B, atau C. Kenapa juga kita dipertemukan dengan si A, B, atau C. Kenapa Allah membekali kita dengan kemampuan X, bukan kemampuan Y, padahal kita ingin bisa melakukan Z. Ada banyak rahasia yang harus dipecahkan di dalam hidup, agar hidup kita memiliki arah dan kita bisa menjadi lebih produktif setelahnya.

NHW #8 kali ini berkaitan erat dengan NHW sebelumnya. Jika minggu lalu saya dipertemukan dengan sebuah jargon yang menginspirasi “rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari”, yang membuat saya semakin menyadari bahwasanya produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi sesama.

Pada minggu ini saya semakin dikuatkan dengan jargon “be professional, rejeki will follow”. “Be professional” artinya sangat penting bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Sedangkan “rejeki will follow” bermakna bahwasanya rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan brsungguh-sungguhnya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Jika selama ini kita masih saja memusingkan uang, uang dan uang demi bertahan hidup. Bahkan tak jarang kita rela melakukan hal yang sebenarnya tidak kita sukai dan nikmati, hanya demi mendapatkan uang. Maka saat ini sudah saatnya kita untuk berbenah. Tanya pada diri sendiri benarkah yang kita jalani ini sungguh-sungguh kita sukai dan nikmati, ataukah ada hal lain yang lebih bisa membuat kita berbinar-binar?

Berkaca dari refleksi diri perjalanan hidup beberapa tahun ke belakang saya merasa orang tua seringkali mencekoki anaknya untuk sekolah yang tinggi, dapat nilai bagus biar gampang cari kerja. Kalau sudah dapat pekerjaan, pastikan kumpulkan uang yang banyak biar bisa hidup bahagia. Nyatanya setelah lulus kuliah, saingan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan antrenya Masyaallah. Bahagia? Sayangnya banyak yang tidak. Rata-rata justru banyak yang bilang mereka salah jurusan bertahun-tahun dan tidak menikmati pekerjaannya.

Para orang tua, termasuk saya sebaiknya mengubah mindset-nya. Bahagia itu bukan dijadikan tujuan. Namun kita harus dalam kondisi bahagia agar bisa mencapai sebuah tujuan. Kita harus tahu apa yang kita sukai, lalu jalani dengan sepenuh hati. Hal yang membuat mata kita berbinar-binar tentunya akan membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam menghadapi segala rintangan yang nantinya akan kita hadapi.

“Do your passion, money will follow”, bu Septi menyampaikan “uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.”

Sudahkah Misi Spesifik Hidup Diketemukan?

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh (usia 14 tahun ke atas). Kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, sehingga nanti tidak perlu lagi mengalami kegalauan tersebut pada usia paruh baya yang banyak dialami oleh sebagian besar manusia (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar
b. Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
c. Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia adalah imunitas tubuh yang paling tinggi.

NHW #8 ini disusun untuk mempermudah para peserta kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional dalam menemukan misi spesifik hidupnya. Berikut ini langkah-langkah untuk menemukannya;

a. Mengambil salah satu aktivitas yang telah aku tulis di kuadran SUKA dan BISA.

Saya memutuskan untuk mengambil aktivitas “menulis” karena memang hal itulah yang paling bisa membuat saya berbinar-binar dan bersemangat, hingga sering lupa waktu kalau sudah melakukan aktivitas tersebut. Meski begitu ke depannya, aktivitas tersebut harus dikombinasikan dengan aktivitas lainnya untuk mencapai tujuan yang saya inginkan.

b. Kini saatnya saya harus menyelesaikan tantangan “BE DO HAVE” di bawah ini :

1. Saya ingin menjadi apa ? (BE)
Saat ini aku ingin menjadi penulis yang bisa menghasilkan karya-karya yang lebih bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi mereka yang membacanya.

# melakukan apa ? (DO)

Menulis, menulis, menulis lebih banyak lagi. Namun untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, maka saya harus lebih banyak membaca buku berkualitas, bersilaturahmi dengan orang-orang yang menginspirasi, menghadiri kegiatan-kegiatan yang membawa banyak kemanfaatan, traveling ke tempat-tempat baru untuk memperkaya wawasan dan pengalaman. Belajar teknik menulis agar bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Belajar lebih dalam tentang SEO, fotografi, dasar design grafis dan monetize blog/vlog. Belajar melakukan self-editing agar tulisan lebih enak dibaca dan mudah dipahami.

3. Saya ingin memiliki apa? (HAVE)

– Melanjutkan konsistensi menulis di blog keluarga portofolioanak.com dengan menulis lebih banyak lagi, tidak hanya mendokumentasikan kegiatan keluarga kami tetapi juga artikel yang mudah-mudahan bermanfaat bagi pembacanya.

– Menyusun buku duet bersama keluarga bertema parenting tentang kumpulan pertanyaan unik dari anak-anak selama membersamai mereka.

– Mendirikan agensi penulisan dan penerbitan.

c. Untuk lebih mengkerucutkan tujuan hidup saya, terutama berkaitan dengan hobi menulis saya, maka saya harus menyusun rencana pada 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:

1. Apa yang ingin aku capai dalam kurun waktu kehidupan saya (lifetime purpose):

– Menghasilkan karya yang bermanfaat entah itu melalui blog atau tulisan-tulisan yang nantinya bisa saya bukukan.

– Saya ingin bisa memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar menulis, khususnya mereka yang ingin writing for healing, mereka yang memiliki inner child, para remaja yang memiliki kesulitan berkomunikasi atau bermasalah dengan orang tuanya, para ibu yang ingin memiliki portofolio online buah hati mereka.

– Menjadikan tulisan-tulisan saya sebagai warisan dan kenangan untuk anak-anak kelak. Maka itu saya ingin menuliskan lebih banyak tentang perjalanan hidup saya bersama mereka; jatuh bangun saya belajar untuk menjadi ibu profesional bagi mereka. Saya ingin menjadi ibu yang tak pernah berhenti belajar, agar anak-anak juga tumbuh menjadi lifetime learners.

2. Apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan):

– Monetize Blog.

– Menerbitkan buku solo dengan tema parenting.

-Membuka lapangan kerja dengan mendirikan agensi penulisan dan penerbitan yang mewadahi penulis-penulis pemula.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution):

– Disiplin mengatur jadwal postingan blog keluarga, portofolioanak.com, sehari satu postingan.

-Memfasilitasi teman-teman yang ingin belajar blogging bersama di rumah.

-Menambah referensi buku bacaan dan menemukan genre menulis.

Alhamdulillah akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan pada NHW #8 ini. Namun ini baru awalan, selanjutnya yang saya butuhkan adalah mulai berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan tidak baik. Harus gerak cepat kemudian buat prioritas dan action.

Ada yang sudah menemukan jugakah misi spesifik hidupnya? Kalau sudah, selanjutnya kita perlu menyusun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Kita bisa mulai dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Yang paling penting adalah membuat prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut bisa membuat kita “gagal fokus”.

Semoga postingan ini bermanfaat ya. Jangan menunggu sukses untuk berbahagia. Berbahagialah dan sukses pun akan datang. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Menuju Bunda Produktif, Rejeki itu Pasti Kemuliaan yang Dicari

Assalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hari ini, saya akan berbagi tentang materi yang saya dapat dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, ‘kuliah’ sudah berjalan hingga minggu ketujuh.

Setelah minggu-minggu lalu, kami diberi perkenalan materi tentang bagaimana menjadi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, kini saatnya kami belajar bagaimana menjadi Bunda Produktif. Dalam materi ini diajarkan untuk lebih memahami tentang konsep produktif dan lebih mengenal apa tujuan penciptaan kita di bumi ini.

Materi ini merupakan materi yang saya tungu-tunggu selama mengikuti kelas matrikulasi. Di sini semangatku kembali dilecutkan bahwasanya produktif itu tidak harus melulu bekerja di ranah publik. Bahkan seorang ibu yang fokus di ranah domestik namun bisa memberikan banyak manfaat tidak hanya pada keluarganya, namun juga masyarakat di sekitarnya, bisa jadi lebih produktif.

Baca juga: Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Baik yang memilih fokus pada ranah domestik ataupun publik, setiap bunda harus menjadi sosok yang produktif. Hal itu karena produktivitas dapat menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat.

Menjadi Bunda Produktif dan Memahami Hakikat Rezeki

Kita seringkali menghubungkan produktivitas dengan aktivitas yang bisa menghasilkan uang atau gaji. Padahal Bunda Produktif tidak selalu dinilai dari uang, namun dari kemanfaatan yang dihasilkan. Menilik kembali,  ada orang yang bisa bergaji banyak, namun ternyata anak-anaknya tak terurus, ketemu keluarga hanya di ambang jam tidur. Namun ada ibu yang tidak memiliki pendapatan sendiri, namun ia selalu mendampingi anak-anaknya belajar, aktif dalam kegiatan sosial dan disukai oleh para tetangga karena keramahannya. Maka mana yang lebih produktif?

Bunda Produktif harus sesuai dengan value di Ibu Profesional yaitu “bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.” Bahkan meskipun ia beraktivitas pula di ranah publik, ia tetap memperhatikan semua kebutuhan anak dan keluarga. Kita harus mulai mengubah orientasi produktif kita bukan semata-mata untuk mencari gaji, namun menjadikan produktif sebagai bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusanNya. Tugas kita hanya berikhtiar dengan sungguh-sungguh, masalah hasil kita pasrahkan pada Allah Subhanahuwata’ala.

Kita juga perlu memahami bahwa hakikat antara rejeki dan gaji itu berbeda. Rezeki tidak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh dan membagi sekehendak-Nya. Antara bekerja dan rezeki, bukanlah dua hal yang selalu harus menjadi hukum sebab akibat, karena rezeki kadang perlu kita tafakuri. Rasulullah pernah bersabda bahwa “Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” 

Nasihat dari Imam Al Ghazali, “bisa jadi engkau tidak tau dimana rezekimu, namun rezekimu tau dimana engkau. Jika rezeki itu ada dilangit maka Allah akan turunkan, jika rezeki itu berada didalam bumi maka Allah akan perintahkan untuk muncul supaya berjumpa dengan kita.”

Maka tidaklah patut kita takut akan kekurangan rezeki, apalagi jika sampai menghambakan diri pada manusia lain. Rejeki itu pasti, maka tidaklah perlu kita mengejar  sesuatu yang sudah pasti, apalagi jika sampai mengorbankan amanahNya dan melupakan ketaatan padaNya hanya demi angka-angka yang ada di struk gaji.

Jika kita menggali lebih dalam bahwasanya rezeki itu tidak melulu soal uang, mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah, anak-anak yang sholih-sholihah, sehat jasmani-rohani, mempunyai ilmu yang bermanfaat dan dikelilingi sahabat-sahabat sejati juga merupakan rezeki yang luar biasa.

Banyak diantara kita yang merasa galau ketika dihadapkan pada pilihan; perlukah bekerja di ranah publik? Termasuk saya yang kadang masih gonjang-ganjing ingin kembali berkarir di luar rumah. Namun materi kali ini menguatkan pilihan saya. Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, kita bisa mengevaluasi dulu beberapa hal. Apa kita bekerja untuk membantu suami, apa kita bekerja untuk menyalurkan hobi, apa kita bekerja untuk mengisi waktu luang, saat kita bekerja di luar rumah adakah yang menjaga anak-anak kita, bagaimana efeknya untuk tumbuh kembang anak, bagaimana caranya menjaga kebersamaan keluarga, bagaimana caranya agar anak-anak tidak merasa kehilangan ibunya, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Jika menjadi produktif di luar rumah akan meningkatkan kemuliaan diri, anak-anak dan keluarga, maka lanjutkan. Jika tidak, maka kuatkan dulu pilar-pilar sebagai bunda sayang dan cekatan. Jika manfaat yang kita dapatkan jauh lebih banyak ketika kita berkarir di luar rumah, maka jangan ragu. Luruskanlah niat tersebut sebagai ibadah. Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rezeki keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Ibu yang bekerja di ranah publik, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, seringkali merasa galau, kasihan dan merasa bersalah ketika harus meninggalkan anak, entah itu untuk bekerja, belajar (mengikuti seminar atau workshop), atau melakukan me time. Termasuk saya pribad Padahal sesungguhnya kita tidak perlu merasakan itu semua. Jika kita meninggalkan anak-anak untuk hal yang positif, maka jangan ragu. Anak-anak tidak harus selalu bersama ibunya kok, mereka juga memiliki dunianya sendiri. 

Cara untuk mengurangi rasa galau, rasa bersalah dan kasihan saat harus meninggalkan anak; kita harus FOKUS.  Saat kita harus bekerja, fokuslah dengan pekerjaan kita. Saat kita harus bersama anak, fokuslah bersama anak. Tidak ada sambil-sambilan. Tidak ada yang namanya ‘aku sedang bersama anakku kok’, tapi di tangan kita lagi pegang handphone dan asyik menjelajahi sosial media. Itu namanya kita sedang berada di dekat anak, namun ruh kita tidak bersamanya. Begitu juga saat kerja, fokuslah dengan apa yang harus kita kerjakan, sehingga pekerjaan kita cepat selesai dengan hasil yang maksimal. Jangan malah kepikiran anak yang di rumah, anak-anak rewel nggak ya… nangis nggak ya… mau makan nggak ya… Yang ada sudah nggak bisa membersamai anak, pekerjaan pun terbengkalai.

Mengenal Kekuatan Diri sebagai Langkah Awal Memulai Menjadi Bunda Produktif

Selain harus memahami hakikat rezeki dan fokus pada aktivitas yang kita kerjakan, kita juga perlu tahu bahwasanya Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Kira-kira, selama ini aktivitas yang kita kerjakan sudahkah membuat kita merasa senang menjalaninya atau terpaksa karena keadaan?

Kalau sampai saat ini kita masih kebingungan dengan aktivitas apa yang bisa membuat mata kita berbinar-binar, mungkin kita belum benar-benar memahami kelebihan dan kelemahan diri kita. Nah, NHW #7 kali ini kami diminta untuk lebih mengenal potensi diri (strength typology).

Masuk ke web www.temubakat.com, lalu isi form yang ada; nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Lalu kerjakan test tersebut hingga selesai dan mendapat hasilnya. Kita juga bisa download versi PDF nya. Setelah itu amati hasil tersebut dan konfirmasi ulang dengan apa yang kita rasakan selama ini. Sudah sesuaikah dengan apa yang kita jalani? Atau malah kita menemukan potensi yang baru dan belum pernah kita sadari selama ini?

Sebelum mengerjakan NHW #7 ini, sebenarnya saya sudah pernah mengerjakan tes di web ini. Namun, saya kurang fokus ketika mengerjakannya sehingga saya merasa ada beberapa hasil yang kurang sesuai dengan diri ini. Buat yang pernah mendengar Talent Mapping yang diperkenalkan Abah Rama, web ini merupakan bagian dari Talent Mapping tersebut. Memang sih lebih afdolnya ikut assesment-nya biar lebih lengkap ‘menguliti’ diri kita. Sayangnya hingga hari ini saya elum berkesempatan untuk ikut assesment-nya.

Semoga next time bisa ikut assesment test Talent Mapping aah, biar lebih paham sama diri sendiri. Karena ternyata memahami potensi kekuatan dan kelemahan diri juga berpengaruh dalam proses pengasuhan anak lo.

Oke, back to hasil ST30 (Strenght Typology) yang saya dapat setelah mengerjakan tes di web Temu Bakat.Ternyata hasilnya seperti ini;

Untuk meyakinkan diri bahwasanya memang seperti itulah potensi saya atau setidaknya yang mendekati, maka bahkan saya melakukan tes hingga empat kali. Setelah melihat hasil tesnya memiliki jawaban yang hampir sama antara satu tes dengan tes lainnya, maka saya baru bisa percaya kalau seperti inilah saya;

Monique anda adalah orang yang suka sekali mengatur penempatan atau penugasan orang , banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya , selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang , senang mengkomunikasi ideanya , suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur , senang menggabung-gabung kan beberapa teori atau temuan menjadi suatu temuan baru. (source; www.temubakat.com)

Dan meski belum dijelaskan secara lengkap, tapi saya merasa deskripsi yang diberikan web tersebut cukup menggambarkan diri saya. Berikut ini adalah keterangan dari potensi kekuatan yang saya miliki;

Akhirnya setelah mengenal kekuatan dan kelemahan diri saya, kini saatnya untuk membuat kuadran aktivitas, yang terdiri dari; kuadran 1 (aktivitas yang saya SUKA dan saya BISA), kuadran 2 (aktivitas yang saya SUKA tetapi saya TIDAK BISA), kuadran 3 (aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA), dan Kuadran 4 (aktivitas yang aku TIDAK SUKA dan aku TIDAK BISA). Inilah kuadran aktivitas versi saya.

Alhamdulillah, selesai sudah memahami materi tentang bunda produktif dan mengerjakan NHW #7. Semoga proses mengenali kekuatan dan kelemahan diri ini, bisa membuat saya menjadi seorang ibu yang tidak sekedar sukses, namun lebih dari itu; ibu yang BAHAGIA. Yaitu ibu yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai. yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai.

Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah, sekarang sudah masuk materi keenam yaitu tentang “Ibu Manajer Handal Keluarga.” Jika ditelisik kembali selama ini saya cenderung menjalani rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga yang ngalir aja. Tapi setelah mendapat materi keenam di kelas matrikulasi ini, saya mulai menanyakan kembali peranku, sudah seprofesional apakah aku mengatur keluarga. Sekedar menjadi karyawan rumah tangga atau sudah bisa mencapai level manager? 

Saya mau sedikit berbagi tentang materi keenam yang membuat saya berkali-kali bermuhasabah. Semoga bermanfaat ya😊

Semua Ibu adalah Ibu Bekerja

Selama ini kita sering mengkotak-kotakkan peran wanita ke dalam dua hal; ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga  mengacu untuk ibu yang bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu bekerja mengacu pada para ibu yang bekerja di ranah publik. Debat panjang mempertentangkan antara lebih baik mana antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja pun seakan-akan tak pernah habis. Padahal mau jadi ibu rumah tangga ataupun jadi ibu bekerja, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun yang kita pilih, entah itu memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik ataupun publik, cuma ada satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.

Maksudnya selesai? Tentu saja kita harus bisa merasakan segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi yang memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Begitu pula dengan ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik. 

Untuk mencari tahu apakah kita sudah selesai atau belum dengan manajemen rumah tangga kita, kita perlu jujur pada diri sendiri. Selama ini apa motivasi kita bekerja?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, hanya untuk menggugurkan kewajiban? 

🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain? 

🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah? 

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. 

🍀Kalau kita masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan. 

🍀Kalau kita bekerja didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.

🍀Kalau kita bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi kita akan sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

So, buibu sekalian sudah sampai di titik mana dalam bekerja entah itu di ranah domestik ataupun publik? Kalau saya, untuk urusan blogging dan tulis menulis, saya sudah mencapai “PANGGILAN HATI”. Meski masih sering tidak konsisten, tapi untuk urusan ini saya sudah sangat menikmati. Tapi ketika bicara ranah domestik alias pekerjaan rumah tangga, jujur aku masih sering di level “ASAL KERJA.” Masih sering memasak, membersihkan rumah ya sekedarnya untuk menuntaskan kewajiban, bukan untuk dinikmati. Alhamdulillah ketika sampai pada materi keenam kelas matrikulasi ini saya kembali diingatkan untuk MENIKMATI semua peran diri ini, tidak hanya di urusan tulis menulis, namun juga sebagai seorang ibu dan istri.

Be A Family Manager

Ngobrolin soal menikmati peran, peran seorang ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, dan bukan sekedar karyawan rumah tangga. Memang apa bedanya? Beda dong. Kalau kita lihat di kantor-kantor, apa kerjaannya karyawan dan apa kerjaannya manager? Udah jelas beda kan?

Manager itu lebih ke mengatur dan mengorganisasi pekerjaan agar lebih rapi, lebih cepat selesai dengan hasil yang lebih maksimal. Manager pastinya tidak selalu turun tangan, namun bisa mendelegasikan tugas ke karyawannya. Sedangkan karyawan jelas tugasnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan manager. Intinya manager itu giving command, sedangkan karyawan doing the command..

Biar peran kita sebagai manajer keluarga lebih maksimal, sudah saatnya kita bersikap dan berpikir selayaknya seorang manager. Caranya?

🍀Hargai diri kita sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manager keluarga. Ya! meski mungkin pekerjaan kita di rumah hanya nyapu, ngepel, masak dan momong anak, ternyata memperhatikan penampilan itu perlu loh. Bahkan perbedaan pakaian bisa meningkatkan produktivitas dan menambah percaya diri. Tetapi kita tetap harus memilih busana sesuai dengan kegiatan yang mau kita lakukan, masa mau ngepel pakai blazer? Ya, nggak gitu juga kali. Kalaupun memang daster adalah pilihan pakaian yang paling nyaman, pilih daster yang eye catching, yang warnanya masih segar dan nggak kusam, apalagi bolong-bolong. #SelfPlak.
Dan meskipun di rumah, sapukan bedak dan sedikit lipstick biar segar (lipstik mana lipstik? nasib nggak punya lipstik), suami dan anak juga pasti lebih senang lihatnya.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik dan PATUHI rencana tersebut.

🍀Buatlah skala prioritas. Ini penting banget ya. Dalam sehari pasti ada aja yang harus dikerjakan, tapi kita wajib bikin skala prioritas biar kita bisa mengatur mana yang lebih penting untuk dikerjakan lebih dulu. Dengan skala prioritas ini, kita bisa jauh lebih teratur dan nggak grambyang habis ini mau apa, terus ngapain lagi dan seterusnya.

🍀Bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya. Ya, istiqomah memang rajanya tantangan. Saya pernah membaca di sebuah artikel parenting, kalau mau membiasakan diri dengan sesuatu yang baru, lakukan hal itu setidaknya selama 40 hari berturut-turut agar menjadi kebiasaan permanen. 

Menaklukan Challenge

Pastinya sebagai seorang ibu, mau itu yang bekerja di rumah maupun di tempat kerja /organisasi, kita akan selalu dihadapkan pada satu tantangan ke tantangan lainnya. Maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan, yaitu;

a. PUT FIRST THINGS FIRST 

Letakkan sesuatu yang utama dan terpenting menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. Jadi, buatlah perencanaan sesuai skala prioritas kita hari ini. Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur gadget sebagai organizer dan reminder kegiatan kita sehari-hari. Gadgetnya udah smart kan? Jadi usernya pun harus bisa memakai dengan smart 🙂

b. ONE BITE AT A TIME  

Maksudnya lakukan pekerjaan setahap demi setahap, lakukan sekarang tanpa nanti dan pantang menunda, apalagi menumpuk pekerjaan. 

Nah ini, terkadang saya masih suka menunda pekerjaan. Misalnya, mau nulis, scrolling sosmed dulu, eh ujung-ujungnya nggak jadi nulis malah bacain status orang melulu. Mau bersih-bersih rumah mumpung Irbadh tidur, buka gadget manjat WaG nggak terasa anak udah bangun dan rumah masih kaya kapal pecah. Hmmm…. Jewer kuping sendiri.

c. DELEGATING 

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. 

Perlu kita ingat bahwa kita adalah manager, tentu saja bukan lantas menyerahkan begitu saja tugas kita ke orang lain, tapi kita harus buat panduannya, kita latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi, begitu seterusnya 

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu,  usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir, karena ibu adalah guru utama dan pertama anak-anaknya. Kalau saya sih sejauh ini tidak sekedar mendelegasikan untuk urusan pendidikan anak-anak, namun lebih ke memilih mencari partner yang sesuai dengan visi misi keluarga.

Kembangkan Peranmu!

Gara-gara materi “Ibu Manajer Handal Keluarga”, saya mulai mempertanyakan sudah sampai tingkatan yang mana profesionalisme saya sebagai seorang ibu. Saya menikah sudah enam tahun, itu artinya sudah melewati 10.000 jam terbang. Seharusnya saya sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan, tapi kok ya masih begini-begini saja? Ya, mau nggak mau saya harus jujur, karena selama ini saya masih SEKEDAR MENJADI IBU. Adakah yang mengalami hal sama seperti saya, Mak?

Buat yang berpengalaman sama dengan saya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan nih ketika ingin meningkatkan kualitas diri agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. 

 Maka kita perlu  meningkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.”

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Namun masih sekedar menggugurkan kewajiban saja bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak, yang akhirnya membuat kita jenuh di dapur. 

Maka kita perlu cari ilmu tentang manajer gizi keluarga agar terjadi perubahan peran. 

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol dengan sesama ibu-ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. 

Sudah saatnya mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran diri kita menjadi “manajer pendidikan anak”. Anak-anakpun bisa semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal. 

🍀Evaluasi diri kita lalu temukan peran apalagi yang kita inginkan. Terus tingkatkan kemampuan diri dan jangan stuck di satu titik.  

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun. Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun kita sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

A Step to Be A Professional Family Manager

Dengan berupaya menjadi seorang manajer keluarga yang handal bisa mempermudah kita untuk menemukan peran hidup kita dan semoga semakin mempermudah kita mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Sayangnya ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Maka, ikutilah tahapan-tahapan berikut ini biar kita bisa meraih tujuan menjadi manajer keluarga yang handal dan tidak terjebak dalam rutinitas yang tidak berkembang;

A. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!

Ketika diminta untuk menulis 3 aktivitas yang paling penting, saya mulai bingung,, karena bagi saya semuanya nampak penting 😬 Jadi, saya mulai mengurai satu persatu aktivitas yang menurutku penting dan tidak penting berdasarkan waktu yang saya punya.

3 AKTIVITAS PALING PENTING

Setelah melakukan observasi terhadap perjalanan hidup selama ini, maka tiga aktivitas yang saya anggap paling penting yaitu;

1⃣Beribadah 
Ini adalah aktivitas yang paling penting karena memang tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepadanya sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Adz Dzariyat: 56; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  Beribadah sebenarnya tidak hanya menyangkut sholat, puasa, zakat, haji, kegiatan-kegiatan sehari-hari kita pun bisa bernilai ibadah jika kita niatkan lillahita’ala. Maka sebenarnya beribadah bisa dilakukan setiap saat, tidak terbatas waktu.

2⃣Mengurus Keluarga (anak dan suami) 
Sebagai seorang ibu, tentu saja prioritas utama setelah menyelesaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah anak dan suami. Menurut saya, yang termasuk dalam hal ini, meliputi menyediakan makanan sehat, menyiapkan pakaian yang layak, rumah yang nyaman dan teman ngobrol/ bermain yang asyik.

3⃣Mengurus Pekerjaan (blogging dan content writer) 
Meski bukan kebutuhan pokok, namun saya merasa membutuhkan pekerjaan ini sebagai aktualisasi diri dan meningkatkan peran di ranah publik. Berkecimpung di dunia tulis menulis juga menjadi me time yang asyik dan memberikan keseimbangan jiwa untuk saya.

Selain mengobservasi tiga aktivitas terpenting, saya juga menemukan tiga aktivitas yang paling tidak penting, sebagai berikut;

3 AKTIVITAS PALING TIDAK PENTING

1⃣Pay Attention to Social Media too Much

Dengan alasan membunuh kebosanan terkadang saya scrolling FB dan instagram, namun seringkali akhirnya saya tidak bisa mengerem diri dan malah membuang banyak waktu untuk kepo status dan memberikan komen-komen yang tidak penting di jam-jam yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

2⃣ Chatting di WA Group untuk Hal-hal yang Tak Penting
Sebenarnya saat ini saya sudah sangat pilih-pilih group WA yang saya ikuti hanya yang membawa manfaat. Jika dirasa sebuah grup WA lebih banyak mudharatnya, saya akan minta ijin untuk keluar atau sekedar jadi silent reader. Namun kadang karena penasaran dengan isi chat yang terlihat seru, saya malah baca-baca dan keterusan ngobrol sampai membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

3⃣Setrika Baju Di Luar Jadwal yang Ditentukan
Well,menyetrika baju bagi saya tidak hanya sebagai hiburan, namun juga bisa menjadi me time. Mungkin terlihat aneh bagi orang lain? Tapi entah mengapa untuk pekerjaan satu ini saya masih bertahan untuk melakukan sendiri tanpa mendelegasikan kepada orang lain. Saya sebenarnya sudah memiliki jam-jam khusus untuk menyetrika, dan memiliki syarat-syarat yang harus diikuti agar bisa leluasa menggosok; kerjaan rumah beres, kerjaan menulis beres, dan anak-anak sudah tidur. Namun seringkali saya terkalahkan oleh kebiasaan menunda. Akhirnya malah menumpuk pekerjaan dan bisa membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya malah tersita untuk mengerjakan rapelan pekerjaan rumah tangga.

Setelah membandingkan dan mengevaluasi diri, maka jujur waktu saya selama ini masih fifty-fifty antara kegiatan paling penting dan tidak penting. Padahal kan seharusnya kegiatan yang paling penting harus memiliki porsi yang lebih besar. Getok kepala sendiri!

That’s why, untuk bisa menjadikan tiga aktivitas penting memiliki porsi yang lebih besar di dalam keseharian saya, maka saya harus bisa menjadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari, Dengan menjadikannya sebagai aktivitas dinamis, maka bisa memperbanyak jam terbang peran hidup diri saya. Saya harus rajin mengevaluasi NHW sebelumnya nih agar selaras mencapai tujuan.

B. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.

Misal kita sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00 – 06.00, maka patuhi waktu tersebut). Biar hari itu nggak berantakan dan bisa settle pada tempatnya, maka jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Karenanya saya menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, tanpa art maka saya harus semakin pintar mengatur waktu agar semua yang ingin aku kerjakan hari itu bisa terlaksana sesuai rencana.

Dari hasil observasi dan evaluasi diri, saya menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk melakukan pekerjaan rumah tangga adalah sebelum subuh tiba. Saat itu anak-anak belum bangun sehingga saya bisa fokus menyelesaikan pekerjaan di dapur. Kalaupun Irbadh sudah bangun, masih ada papanya yang bisa menemani dia bermain.

Sudah terbukti ketika saya belum menyelesaikan pekerjaan rumah tangga setelah Irbadh bangun dan Papanya berangkat kerja, saya akan sangat kesulitan mengerjakannya karena Irbadh yang sekarang sudah delapanbelas bulan sedang memasuki sensitive-periods dan membutuhkan perhatian lebih. Jam tidur Irbadh pun semakin berkurang.

That’s why saya memutuskan jam 05. 00- 06.00 sebagai jam memasak dan bersih-bersih rumah. Jadwal ini harus saya patuhi jika tidak mau hectic di siang hari. Jadi kalaupun Irbadh tidur dan bisa ditinggal beraktivitas lain, saya bisa fokus membersamai Faris berkegiatan yang tidak bisa dilakukan ketika adiknya bangun. Intinya jika saya komit dengan schedule, saya bisa lebih santai dan nggak kemrungsung, sehingga tidak mudah marah ke anak-anak saat mereka melakukan hal yang bikin sensi gegara pekerjaan rumahku belum kelar.

C. Setelah tahap di atas selesai kita tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah dikerjakan. 

Berikut ini jadwal harian yang saya buat agar lebih teratur dan profesional sebagai seorang ibu.

Catatan :

Warna kuning untuk prioritas pertama: mengasuh anak, warna biru untuk sholat, dan warna ungu untuk mengelola order.

Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian B, saya sudah menentukan fixed schedule  dari jam 05.00 – 07.00, di luar jam itu (jam 07.00 – 18.00) adalah jadwal dinamis. Selain fokus pada anak-anak, pada jam 7 pagi hingga jam 18.00 malam saya gunakan untuk memperbanyak jam terbang alias meningkatkan peran diri. Jam 18 malam hingga 21.00 malam saatnya menjalankan Program 1821 bareng anak dan suami. Lalu setelah jam 9 malam, saat anak sudah tidur, saya biasanya melakukan pekerjaan rumah yang belum selesai atau tertunda, misalnya cuci piring, menyetrika pakaian atau menyiapkan yang akan dimasak esok hari.

Jadwal yang saya buat ini, akan saya amati selama satu minggu pertama, jika tidak terlaksana dengan baik, maka akan segera direvisi. Namun jika bisa saya patuhi, saya berupaya untuk menjalankannya hingga tiga bulan ke depan agar menjadi kebiasaan baru untuk hidup yang lebih efektif dan profesional.

Jujur saya tidak ingin menjadi wonder woman atau super woman yang bisa menjalankan semuanya dalam satu waktu. Saya hanya wanita biasa yang juga punya capek, butuh pijat dan kesempatan untuk aktualisasi diri di luar pekerjaan domestik. Untuk itu saya berusaha untuk melakukan upaya terbaikku dengan lebih disiplin menjalankan jadwal harian ini.

Meski begitu saya sadar sebagai seorang ibu tanpa asisten rumah tangga dan hanya saya yang paling tahu bagaimana kepribadian dan kondisi kejiwaan saya, maka sekarang saya telah banyak menurunkan standar dan mengucapkan selamat tinggal pada Mrs. Perfectionist di dalam diri. Dulu saat awal nikah, saya selalu ingin rumah tampak bersih, kinclong, semua dikerjakan sendiri, kalau nggak sesuai rencana langsung uring-uringan.

Sekarang saya lebih woles, meski saya sudah punya fixed schedule yang harus dipatuhi, ketika saya punya deadline dan ternyata mengganggu fixed schedule saya, maka saya tidak akan menjadikan hal itu sebagai sebuah permasalahan besar. Rumah tidak harus super kinclong, yang penting rapi dan nyaman. Rumah berantakan di jam-jam dinamis karena anak sedang aktif-aktifnya tidak perlu dipermasalahkan, yang penting saat waktunya istirahat anak-anak bisa diajak kerja sama merapikan dulu. Ketika ternyata bangun kesiangan karena menyelesaikan pekerjaan yang lain, misalnya setrika baju dan nggak sempat masak hingga jam yang ditentukan, artinya ini waktu berbagi rezeki dengan catering langganan. Yang terpenting anak-anak tetap terurus dan tidak terabaikan.

Well, inilah cara saya belajar menjadi manajer keluarga yang handal. How about you? Apa upaya terbaik kalian demi menjadi seorang manajer keluarga yang handal? Share yuk😊

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Study Better With Mind Mapping

Alhamdulillah sudah sampai di minggu kelima, ah tidak terasa sudah di tengah perjalanan matrikulasi batch #5. Sepertinya tim IIP benar-benar menyusun materinya secara bertahap dari materi dasar hingga membuat kepala pusing tujuh keliling *elap keringat.

Sebenarnya yang diminta NHW #5 cukup sederhana; membuat desain pembelajaran. Bukan hal yang baru juga untuk saya, tapi kok ketika diterapkan ke diri sendiri agak puyeng juga. Mudah-mudahan dengan mengerjakan tugas ini semakin tercerahkan.

Emang ngapain sih kudu bikin begituan segala?tanya suami. Nggak wajib juga sih, tapi dalam rangka meluruskan niat, mencapai tujuan dan belajar mengatur diri sendiri, saya merasa perlu melakukan ini. Bagaimana saya akan mendesain pembelajaran untuk anak-anak kalau mendesain pembelajaran untuk diri sendiri saja masih di awang-awang? Saya juga percaya bahwasanya mendidik anak-anak sejatinya mendidik diri sendiri. Jadi teringat kutipan dari bu Septi Peni Wulandari, “selesaikan dulu urusan diri sendiri, selanjutnya pandu anak-anak kita. Ingin anak mandiri, maka selesaikan dahulu perihal kemandirian diri kita. Ingin anak suka membaca, maka sukalah membaca terlebih dahulu. Ingin anak bertemu peran spesifik hidupnya, maka temukan dahulu peran hidup diri.” Nah, sebelum mempraktekkan desain pembelajaran saat membersamai anak-anak, saya harus memulainya dari diri saya sendiri dong.

Baiklah, sebelum saya mengerjakan bingkisan cantik minggu kelima saya mau menyimpan hasil belajar di minggu kelima ini disini 😊

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Pada dasarnya sebelum kita memulai belajar, kita harus sudah paham terlebih dahulu apa yang ingin kita pelajari. Sama halnya ketika kita membersamai anak, kita harus paham benar apa yang dibutuhkan anak, tujuan apa yang ingin dicapai. Jika si anak sudah mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih dan siap belajar, maka saatnya kita belajar bagaimana caranya belajar.

Apaan coba? Belajar ya tinggal belajar aja to, kok harus cari tahu dulu bagaimana caranya belajar. Yup, karena dengan mengetahui bagaimana cara belajar yang tepat, kita bisa membuat cuztomized curriculum untuk anak-anak. Tiap anak unik, kan? Gaya belajarnya berbeda, karakternya pun juga. Jadi setiap anak bisa memiliki kurikulum yang berbeda.

Di pelajaran minggu keempat, kita telah belajar tentang fitrah. Seperti yang kita tahu setiap manusia punya fitrah belajar, tapi kenapa selalu saja ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak. Apalagi kalau pelajarannya sudah bikin malas, misal matematika, fisika… rata-rata pasti mengeluh dan elap keringat. 

Nah, dari quote tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kita suka atau tidak pada suatu pelajaran bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Namun lebih kepada rasa. Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan.

Menjadi Berbeda

Dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, anak-anak kita pun ikut berubah. Jangan samakan anak-anak kita dengan anak-anak di jaman kita, maka sudah sepantasnya kita – para orangtuanya yang perlu mengupdate diri dalam membersamai mereka. Jadi untuk itu kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal berikut ini;

1. Belajar Hal Berbeda

Untuk menyeimbangi kemajuan jaman yang sangat pesat, maka penting bagi kita belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman; ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya.

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

2. Cara belajar yang berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dari guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik, yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

3. Semangat Belajar yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami, menuntut ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita. Sekolah adalah salah satu cara menuntut ilmu, namun kita bisa menuntut ilmu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

4.Strategi Belajar yang Tepat

Gunakanlah strategi meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal  yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya memberikan dukungan semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka dukunglah kesukaannya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Sebaliknya jangan meratakan lembah, yaitu dengan menutupi kekurangannya. Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika, kita tidak perlu berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Justru hal ini akan menjadikan anak semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Membuat Anak Suka Belajar

Orang tua mana sih yang tidak ingin melihat anak-anaknya suka belajar? Tapi sekarang ini justru banyak orang tua yang mengeluh betapa susahnya menyuruh anak-anak belajar. So, untuk membuat anak-anak suka belajar, lakukan tiga hal berikut ini;

1.Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati.

2.Mengetahui tujuannya, cita-citanya.

3.Mengetahui passionnya.

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati. Baik saja itu tidak cukup, tetapi kita juga harus punya nilai lebih yang membedakan kita dengan orang lain.

Orang Tua, Saatnya Kita Mengambil Peran!

Masih banyak saya temui orang tua-orang tua yang menganggap kewajibannya terhadap anak sudah selesai ketika telah memilihkan sekolah yang bagus.

Kalau cuma sampai situ saja kewajiban orang tua terhadap anak, enak banget ya jadi orang tua. Masa cuma ongkang-ongkang kaki, kasih ke sekolah, terus nuntut anak jadi baik? Ironinya, kalau anaknya berkelakuan tidak sesuai dengan harapannya, sekolah yang ditegur dan dikomplain? Atau malah menyalahkan teman-teman anaknya, menyalahkan lingkungannya. Big NO! Sekolah itu cuma partner kita, bukan jadi tempat yang kita mintai tanggung jawab total tentang segala hal yang terjadi pada anak kita.

Sebelum menuding orang lain, mari tunjuk diri sendiri dulu. Selama ini sudah memberikan bekal apa saja ke anak-anak? Kalau memang ternyata belum memberikan bekal yang kuat, jangan salahkan sekolah, jangan salahkan teman-teman anak, jangan salahkan tetangga, jangan salahkan lingkungan, salahkan diri kita sendiri yang belum membersamai anak secara maksimal. Setelah menyadari betapa kita belum banyak berperan, maka saatnya kita mengambil peranan.

Peran kita sebagai orang tua :

📎Sebagai pemandu untuk anak-anak usia 0-7 tahun.

📎Sebagai teman bermain anak-anak kita pada usia 7-10 tahun, kalau kita tidak bisa menjadi teman yang asyik untuk mereka, maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/ percaya dengan temannya

📎Sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita pada usia 14-17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak:

1.Observation (pengamatan);

2.Engage (terlibat);

3.Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak).

Untuk bisa menemukan bakat dan minat anak, ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas dan pertemukan anak dengan berbagai komunitas. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Ajaklah anak-anak berdiskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:

1. Melatih anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.

3.Melakukan presentasi yaitu mengungkapkan apa yang telah didapatkan/dipelajari.

4.Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Menantang kan ya jadi orang tua jaman now? Iya dong. Materi belajar dari kelas matrikulasi minggu kelima ini saya simpan di sini selain agar bisa saya baca kembali, juga sebagai pengingat diri ini ketika semangat mulai menurun. So, ayooo semangaaat jadi orang tua yang selalu membersamai anak-anaknya.

Membuat Desain Pembelajaran

Setelah tuntas belajar mengenai belajar bagaimana caranya belajar, kini saatnya mengerjakan PR yang bikin elap keringat dan merenung berkali-kali. 

Sebelum memulai membuat desain pembelajaran, kita harus mengetahui dulu apa itu makna desain pembelajaran. Baiklah saya meluncur ke website KBBI, dari sana saya jadi lebih paham apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran.

DESAIN
Desain/de·sain/ /désain/ n 1 kerangka bentuk; rancangan: — mesin pertanian itu dibuat oleh mahasiswa fakultas teknik; 2 motif; pola; corak: — batik Indonesia banyak ditiru di luar negeri;

AJAR
Ajar n petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut);berguru kepalang — , bagai bunga kembang tak jadi, pb ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah;

Pembelajaran/pem·bel·a·jar·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

📎Jadi kesimpulannya desain pembelajaran adalah kerangka atau rancangan dari proses atau cara belajar. 

Awalnya saya dilanda kebingungan kemana arah design pembelajaran ala saya. Alhamdulillah, di saat itu pula Mbak Erli – fasilitator kelas membawakan ‘cemilan’ yang menyehatkan tentang Piramida Belajar ala William Glasser.

Dari piramida tersebut kita bisa simpulkan jika;

10% pemahaman berasal dari yang kita BACA

20% pemahaman berasal dari yang kita DENGAR

30% pemahaman berasal dari yang kita LIHAT

50% pemahaman dari yang kita LIHAT DAN DENGAR

70% pemahaman dari yang kita DISKUSIKAN

80% dari PENGALAMAN yang dijalani

95% dari kita belajar untuk MENGAJAR/ BERBAGI

Setelah memahami maksud dari piramida tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam membentuk desain pembelajaran tidak harus berisi teori-teori saja, namun justru harus kita imbangi dengan praktek dalam keseharian. Setelah membaca sebuah buku dan kita mendapatkan inspirasi, ikat ilmunya dulu baru kemudian amalkan ilmu tersebut. Pun juga setelah kita melihat atau mendengar kajian dan menjadi tahu sesuatu syariat yang sebelumnya belum kita ketahui, ikat ilmunya dan segera amalkan dalam keseharian. Semakin banyak kita mengalami dan melakukan apa yang kita baca, lihat, dengar dan diskusikan, akan semakin banyak ilmu yang terikat di dalam diri. Tak lupa berbagi ilmu yang telah kita lakukan, baik lewat tulisan atau lewat diskusi dengan orang lain.

Nah, akhirnya setelah merenung dan menggali kembali apa tujuan belajar saya, saya mencoba membuat desain pembelajaran untuk diri sendiri. Mau tahu?

1. MANAJEMEN DIRI

2. MANAJEMEN PASANGAN

3. BUNDA SAYANG

4. BUNDA CEKATAN

5. BUNDA PRODUKTIF

Selain menyiapkan desain pembelajaran untuk diri sendiri, saya juga mulai menyiapkan desain pembelajaran untuk anak-anak, meskipun masih secara global dan belum detail. Insya Allah dari yang global ini akan membantu lebih dalam menyiapkan ruang belajar untuk mereka.

1.HOMEEDUCATION

2. PARENTING

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga bingkisan cantik di NHW #5. Semoga bermanfaat ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

NHW #4 : Tetapkan Milestone Meraih Mimpi

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kali ini saya kembali dengan bingkisan cantik Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, sudah masuk ke minggu keempat dengan tugas yang semakin menantang hati, jiwa, raga dan pikiran, hehe.

Setelah minggu lalu murid-murid kelas matrikulasi diajak berpikir tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”, minggu ini kami ‘ditodong’ melalui materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah. Satu persatu mulai jelas benang merah antara bagaimana membangun peradaban dengan mendidik berdasarkan fitrah. Bisa dipastikan tidak akan terbangun sebuah peradaban jika orang tua tidak mampu menemukan, menjaga dan menumbuh kembangkan fitrah anak-anaknya.

Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan fitrah sebagai modal utama untuk menjadi khalifah, termasuk anak-anak kita. Biasanya orang tua, khususnya orang tua-orang tua baru seperti saya yang suka latah. Alih-alih ingin bisa mendidik anak dengan baik, jadilah ikut seminar sana-sini, semua buku dilahap, artikel parenting di semua media diambil, akhirnya jadi makin bingung harus mulai darimana dan mengikuti yang mana. Padahal kalau kita mau menggali lebih dalam, sesungguhnya Allah sudah menyiapkan anak-anak sepaket dengan kemampuan orang tuanya dalam mendidik secara syari’ , kita tinggal menemukan dan mengarahkan sesuai kehendakNya.

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Alhamdulillah, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional saya kembali diingatkan mengenai mendidik dengan kekuatan fitrah. Saya ingin berbagi beberapa materi terkait fitrah based education yang pernah saya dapat di sini.

Selama ini kebanyakan dari kita heboh pada “apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak diantara kita yang bingung memberikan materi pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Sesungguhnya ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH.

Meski terlihat sederhana, namun untuk bisa menjalani proses tersebut ada beberapa tahapan yang harus kita jalankan;

❗Bersihkan hati nurani kita, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan.

❗Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

❗Sebaiknya orang tua memahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah Perkembangan, fitrah Seksualitas dll.

❗Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia.

Analogikan diri kita dengan seorang petani organik. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI,seperti petani menemani tanamannya atau sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

❗Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu artinya kita dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Sedangkan waktu dengan anak, kita dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Anaknya mainan sendiri, ibunya asyik blogging, #tampar diri sendiri.

❗Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena semua anak itu very limited special edition. Tidak ada anak yang diciptakan sama, semua anak itu unik, bahkan anak kembar sekalipun.

Point utamanya, mendidik itu bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran? Lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca?

~disarikan dari materi Matrikulasi dan Buku FBE~

Memantapkan Hati Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Sebelum mulai menggali lebih dalam tentang fitrah anak-anak kita, saya harus terlebih dahulu mengenali diri sendiri dengan cara menemukan misi hidup dan misi keluarga. Dua misi ini yang nantinya akan menuntun kita unuk bisa mendidik anak secara fitrah. Berikut ini adalah inti dari NHW #4 kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini.

Dibandingkan NHW-NHW sebelumnya, saya tidak akan menulis terlalu panjang. Karena murid-murid di kelas hanya diminta untuk melakukan review NHW #1, #2 dan #3. Namun pada prosesnya, NHW #4 ini membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaannya. Selain itu juga dibutuhkan momen pembersihan diri agar bisa menemukan kehendak Allah terhadap diri sehingga bisa merumuskan misi hidup dan misi keluarga.

Berikut ini poin-poin dalam NHW #4 :

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Di NHW #1 setelah memahami adab menuntut ilmu saya diminta untuk memilih jurusan ilmu di universitas kehidupan, dan saya memilih untuk mempelajari jurusan ilmu tentang menjadi seorang ibu profesional. Setelah saya baca kembali jurnal harian saya dan melakukan review selama beberapa hari, saya semakin yakin untuk memilih jurusan ini untuk saya pelajari.

Baca juga:Refleksi Diri 2018

Menjadi ibu memang alamiah dan natural, namun menjadi ibu profesional membutuhkan segudang wawasan dan bekal yang mumpuni demi membantu anak-anak menemukan fitrahnya dan membangun peradaban dari dalam rumah. Apalagi jaman yang akan dihadapi anak-anak nantinya adalah jaman yang sangat berbeda dengan yang saya alami sekarang.

Realitanya, saat ini dunia lebih maju secara teknologi, namun turun drastis secara adab. Dunia yang dipenuhi dengan gadget, sosial-sosial media, channel-channel televisi yang bisa menjadi musuh mematikan jika tidak diatur sebaik mungkin. Karena alasan itulah saya merasa wajib untuk belajar mengenai hal-hal apa saja yang harus dikuasai untuk menjadi ibu profesional.

Ibu yang tak sekedar menyandang gelar ibu karena telah mengandung dan melahirkan anak, namun sebenar-benarnya ibu yang menjadi guru pertama dan utama anak-anak yang saya lahirkan. Juga sebagai seorang ibu – pendamping ayah – yang akan menjadi teman dan teman paling nyaman untuknya pulang. Serta seorang ibu yang bisa merangkul lingkungan sekitarnya dan menebarkan manfaat

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebenarnya checklist yang saya susun untuk NHW #2 bukanlah checklist pertama yang saya buat, namun checklist yang saya buat kebanyakan menguap tanpa hasil. Saya selalu punya masalah dengan rutinitas, karena terkadang saya lebih mengikuti mood. Tersadarlah sekarang kenapa saya semakin hari semakin tidak produktif.

Sebuah kebiasaan buruk yang harus segera saya tinggalkan. Jujur checklist yang saya buat untuk NHW #2 pun belum rutin saya isi. Namun menyadari bahwasanya hal ini adalah sarana untuk memantaskan diri untuk menuju jurusan yang pilih, mau tidak mau, saya harus mau untuk merubah diri agar lebih teratur dan disiplin.
Semoga checklist yang telah saya buat bisa membantu saya untuk terus lebih baik dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup. Doakan saya ya agar bisa lulus mencapai goal dari checklist ini, sehingga bisa semakin produktif, baik sebagai ibu dari anak-anak, sebagai istri dan sebagai seorang blogger.

Baca juga: Langkah Awal Menuju Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 sejauh ini merupakan Nice Homework terberat untuk saya, karena melalui tugas itu saya diminta untuk memaafkan diri sendiri, memaafkan orang tua, memaafkan suami dan menemukan alasan kenapa saya harus jatuh cinta kembali padanya, mengenali dan menemukan potensi anak-anak, mengenali dan menemukan potensi diri saya sendiri, serta menemukan alasan mengapa Allah mengirimkan saya berada di lingkungan yang kini saya tinggali serta apa manfaat dari komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Baca Juga: Mengenal Potensi :Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saya termasuk orang yang masih mempertanyakan apa maksud Allah mengirimkan saya ke dunia ini. Mengapa Allah menakdirkan saya menjalani fase-fase dalam episode kehidupan ini, apa yang Allah inginkan terus saya pelajari, hikmah apa yang Allah ingin saya gali. Hal-hal seperti itulah yang sepanjang hidup terus saya pertanyakan. Jawabannya? Hingga detik ini saya belum benar-benar yakin seratus persen tentang hal itu. Namun melihat beberapa fase yang terus saja mempertemukan saya dengan dunia anak-anak dan literasi, saya mulai menangkap maksud Allah.

Dilahirkan dari keluarga besar yang berlatar belakang pendidikan hukum membuat saya sudah sangat akrab dengan rutinitas harian seorang pelayan jasa.

Dulu sekali saya merasa bekerja di bidang hukum itu bukan passion saya. Saya merasa passion saya di bidang literasi, berbekal pengalaman bekerja sebagai jurnalis dan giat dalam beberapa tim penulisan peraturan daerah saya semakin mantap ingin terus belajar menulis. Sempat vakum dari rutinitas menulis dan beberapa kalipun saya menghindari bidang tersebut, namun berkali-kali pula Allah beri kesempatan untuk kembali terjun ke bidang tersebut. Bahkan tidak sedikit yang bilang saya berbakat di bidang tersebut. Dan saat ini saya mulai bisa membaca potongan-potongan puzzle dari Allah, rupanya Allah memberikan bakat menulis kepada saya ada relevansinya juga dengan profesi Notaris yang menjadi cita-cita awal saya dulu.

Namun, lagi-lagi saya belum rela berbagi waktu bersama anak-anak dengan waktu untuk berpraktek kembali. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan saya untuk tetap stay di rumah mendampingi anak-anak. Hingga sebuah titik menyadarkan saya bahwa mendidik anak adalah pengalaman yang jauh lebih menantang. Dunia pendidikan anak adalah ujung peradaban. Ketika bidang ini diabaikan, maka hancurlah peradaban. Naudzubillah min dzalik.

Saya mulai menikmati bidang pendidikan anak-anak. Belajar dari pengalaman hidup kala masih remaja saya yang amat terpuruk justru menjadi titik balik saya untuk berhijrah. Kehidupan saya kala itu yang dekat dengan BLAST (boring, lonely, angry, stress, tired) membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk fokus membersamai anak-anak dan keluarga terlebih dahulu.

Kebanyakan remaja jaman sekarang lebih dekat dengan teman-temannya daripada ayah ibunya. Mereka kehilangan hubungan emosional dengan para orang tuanya. Remaja yang bertemu fisik dengan orang tuanya hanya saat di malam hari, menyapa seperlunya, bahkan ada yang tak pernah ketemu sama sekali. Remaja yang seringkali menyumpahi para gurunya karena nggak asyik menyampaikan materi dan berkesan diktator di dalam kelas. Ini membuat saya seperti melihat diri saya sendiri saat berusia sama dengan mereka. Remaja-remaja yang butuh sosok hangat untuk mencurahkan isi hati sekaligus motivator hidup serta teladan yang tepat. 

Keadaan yang paling bahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari adanya bahaya tersebut. Saya banyak bertemu dengan ibu-ibu yang merasa tidak butuh belajar parenting karena merasa anaknya baik-baik saja.

Apa iya kita harus menunggu anak bermasalah untuk mulai belajar? Padahal ketika anak sudah terlanjur bermasalah, effort untuk mengembalikan anak ke track semula akan jauh lebih besar.

Ternyata membersamai anak-anak untuk belajar di rumah itu mengasyikan. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan untuk berhome education saat ini.

I don’t really like kids, actually, kecuali anak-anak saya sendiri, hehe. Mama saya sendiri bahkan pernah berkata, “Halah, ngajar anak PAUD ki gampang, tinggal diajak nyanyi-nyanyi wis seneng.” Anehnya kalau Mama saya merasa gampang kenapa dulu Mama saya nggak ngajar anak-anaknya sendiri.

~For me, teaching toddler isn’t easy at all. Teaching toddler is about giving foundation for the next education, it’s not as easy as what they think of.~

Dari sanalah kemudian saya belajar tentang bagaimana meletakkan dasar di setiap materi yang saya berikan pada anak-anak penerus bangsa ini kelak.

Beruntung saat ini media belajar sangatlah banyak dan sumber ilmu pun mudah dijangkau. Saya banyak belajar tata laksana pendidikan anak usia dini melalui guru-guru PAUD yang hebat di WAG dan kelas online Yayasan Generasi Juara yang menaungi Homeschooling Muslim Nusantara. Saya percaya, ketika kita bisa memberikan pondasi yang kuat, maka insya Allah bangunan yang berdiri di atasnya akan mampu berdiri kokoh. 

Saya senang membagikan sedikit ilmu yang saya dapat dari hasil belajar di beberapa seminar yang saya ikuti, buku yang saya baca dan pengalaman yang pernah saya alami melalui tulisan.

Selain membuat digital portofolio anak, saya sangat menikmati kegiatan berbagi tentang dunia parenting terutama dengan teman-teman di Trenggalek yang masih awam dengan dunia ini. Bersama dengan seorang sahabat saya, kami mengelola Rumah Belajar Trenggalek dan rumah baca Taman Ilmu sebagai wadah untuk belajar dan berbagi banyak hal seputar parenting dan homeeducation.

Dunia tulis-menulis sendiri mulai menarik minat saya sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya paling suka kalau disuruh menulis surat kepada sahabat pena saya dan membuat karangan untuk dikirimkan ke berbagai majalah dan koran.

Begitu seterusnya hingga kemudian saya kuliah di bidang hukum. Saya berada dalam iklim yang menuntut untuk terus menulis, jadilah saya semakin menyukai dunia tulis menulis. Makin kesini rupanya saya makin senang menuliskan pengalaman dan kisah hidup yang semoga bisa memberikan manfaat, inspirasi dan semangat bagi orang lain. Saya sangat senang dan bersemangat jika banyak teman yang menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai anak-anaknya, mendengarkan curhatan para mama baru atau hanya sekedar cerita kegalauan ketika menanti jodoh.

Dari perjalanan hidup dan hal-hal yang menimbulkan semangat di dalam diri tersebut, saya mulai bisa menemukan misi hidup yang Allah maksudkan untuk saya.

🌈Misi Hidup:

Menjadi ibu yang profesional dan memberikan manfaat tidak hanya kepada keluarga inti, namun juga kepada orang lain. 

🌈Bidang: Pendidikan Ibu dan Anak

🌈Peran: Fasilitator dan Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Untuk bisa menjadi ahli sebagai seorang ibu profesional, khususnya di bidang Pendidikan Ibu dan Anak, maka saya menetapkan tahapan ilmu yang harus aku kuasai sebagai berikut:

1.Bunda Sayang :

Sebagai dasar atas rangkaian tahapan sebagai ibu profesional, saya merasa sangat penting untuk terus menambah ilmu seputar pengasuhan anak (parenting), mengkaji ilmu agama lebih dalam agar saya bisa memberikan bekal dan pondasi yang kuat untuk anak-anak dan belajar untuk menjadi teman bermain yang mengasyikkan serta memfasilitasi anak-anak dengan alat-alat bermain yang mereka butuhkan sesuai tahapan usia. Saya juga tertarik sekali untuk belajar mengenai ilmu psikologi dan komunikasi agar lebih paham tentang memahami dan merespon perilaku anak, suami dan orang-orang di sekitar.

2. Bunda Cekatan 

Selain memantaskan diri dengan belajar ilmu-ilmu di tahapan bunda sayang, saya juga membutuhkan ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, antara lain belajar membuat menu keluarga agar lebih variatif, belajar memasak sehat, belajar keuangan agar bisa mengatur cash flow keluarga dengan lebih baik, juga belajar beberapa life skill seperti menanam sayur, membuat sabun homemade atau mengatur lemari pakaian. Life skill ini selain berguna untuk kehidupan di masa kini, juga sangat bermanfaat jika bisa diwariskan kepada anak-anak.

3. Bunda Produktif

Berkaitan dengan minat dan bakat yang saya tekuni yaitu dunia tulis menulis, saya ingin belajar banyak tentang blogging dan content writing lebih profesional, serta belajar menulis parenting stories dan buku inspiratif pada ahlinya.

Saya juga ingin belajar public speaking agar lebih baik dalam menyampaikan apa-apa yang saya pikirkan secara langsung kepada khalayak sehingga maksud saya bisa ditangkap dengan baik. Selain itu saya juga merasa sangat penting untuk terus mengupdate informasi penting di bidang hukum agar meskipun belum berpraktek lagi saya tetap mengetahui update informasi terbaru.

4. Bunda Shaleha 

Saya ingin belajar lebih banyak untuk bisa berperan secara aktif dan positif pada setiap komunitas yang saya ikuti. Saya juga ingin belajar menjadi event organizer agar bisa kembali mengadakan acara-acara parenting yang berkualitas dengan tim yang telah sevisi-misi dengan saya.

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Meskipun saya telah menjalani peran sebagai seorang ibu selama tiga tahun lebih, dan menjadi istri telah berjalan selama enam tahun, serta telah menjadi anggota masyarakat selama dua puluh delapan tahun, namun saya merasa belum melakukan sesuatu yang berarti di dalam hidup ini. Terkadang menyesal, kenapa begitu terlambat saya memulai semua ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Maka saya menetapkan hari ini sebagai KM 0 – ku. Di usia dua puluh delapan tahun saya harus mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah saya tentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. 

Sejak hari ini saya akan berusaha setiap harinya akan mendedikasikan 8 jam waktu yang saya punya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, aku sudah bisa melihat hasil yang saya inginkan.

Berikut ini milestone yang saya tetapkan :

🌸KM 0 – KM 1  (tahun 1 – usia 28 hingga 29) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang – bisa menjadi ibu, istri dan sahabat yang baik untuk anak-anak dan suami.

🌸KM 1 – KM 2 (tahun 2 – usia 30 hingga 31) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan – bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.

🌸KM 2 – KM 3 (tahun 3 – usia 31 hingga 32) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif – bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minat saya; blogging, menulis buku dan kembali berpraktek membuka kantor sendiri.

🌸KM 3 – KM 4 (tahun 4 – usia 32 hingga 33) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha – bisa menyelenggarakan acara-acara seminar atau workshop parenting dengan biaya terjangkau/ tidak berbayar di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang belum tersentuh parenting.

Saya berharap sebelum usia 40, saya sudah bisa menjadi ibu yang bisa memahami dan mengarahkan fitrah anak-anaknya, sahabat yang baik untuk suami, mencapai posisi financial yang baik melalui minat dan bakat saya serta bisa bermanfaat bagi orang lain lewat tulisan, rumah baca dan beberapa kegiatan yang saya impikan.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah kembali membaca checklist saya di NHW #2, sebenarnya saya sudah memasukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, namun belum terlalu spesifik. Maka setelah checklist bulan ini selesai saya review, saya akan memasukkan kembali poin-poin tersebut secara lebih spesifik. 

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Apapun rencana, target dan checklist yang saya lakukan, tidaklah akan ada artinya ketika tiada konsistensi dalam menjalankannya. Maka selain menggantungkan mimpi, saya perlu meluruskan niat dan memetakan langkah demi bisa menjalankan misi hidup saya dan meraih cita-cita saya. Aamiin.

Inilah saatnya kita membuat sejarah kita sendiri. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Sampai jumpa di postingan berikutnya. Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Mengenal Potensi Diri : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Minggu kedua di bulan Februari ini saya kembali dengan Nice Homework, bingkisan cantik dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #5. Alhamdulillah, proses belajar bersama teman-teman seperjuangan di IIP sudah memasuki minggu ketiga.

Setelah sebelumnya belajar mengenai adab menuntut ilmu dan langkah-langkah menjadi ibu profesional, kini saatnya para murid kelas matrikulasi mulai belajar untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Sejatinya rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Pada materi ini saya dituntut untuk menggali lebih dalam mengenai potensi diri saya, pasangan, keluarga, anak-anak serta lingkungan sekitar saya. Dari proses inilah nantinya diharapkan saya menjadi lebih mengenal siapa saya dan apa tujuan Allah menghadirkan saya di muka bumi. Tentunya Allah menciptakan kita dengan maksud dan tujuan tertentu, secara garis besarnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun masing-masing manusia pastinya diamanahi tujuan-tujuan spesifik di dalam hidupnya.

Selama ini, saya pun sering bermuhasabah menanyakan pada diri sendiri, mengapa saya dilahirkan, mengapa saya besar dari kedua orangtua saya, mengapa saya dipertemukan dengan suami, mengapa saya diamanahi Faris dan Irbadh dan sejuta pertanyaan mengapa lainnya. Meski saya masih kesulitan mengumpulkan kepingan puzzle hingga membentuk sebuah gambaran utuh. Melalui materi ini, perlahan saya mulai bisa mengerucutkan apakah misi keluarga dan misi kehidupan kami.

Berbeda dengan dua NHW sebelumnya, NHW #3 ini memiliki pertanyaan yang lebih spesifik untuk masing-masing peserta. Ada tiga kelompok peserta yang mendapat jenis pertanyaan yang sedikit; yaitu mereka yang belum menikah, yang sudah menikah dan sedang berjuang menjadi single parent.

Dikarenakan saya masuk ke kelompok yang sudah menikah, maka inilah beberapa point yang harus saya renungkan dan cari jawabannya;

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Sebelum membangun peradaban dari dalam rumah, saya terus belajar untuk selesai dengan diri saya sendiri. Selama tiga hari saya melakukan perenungan, alhamdulillah saya sudah ikhlas menerima segala takdir yang Allah berikan. Melalui tazkiyatun nafs, saya mulai berdamai dengan diri saya sendiri dan berazzam untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik lagi.

Beberapa episode dalam kehidupan saya jika ditelusuri awalnya adalah tentang kurangnya penerimaan saya terhadap masa lalu, terutama latar belakang pengasuhan Papa yang otoriter dan kenangan masa kecil saya yang penuh drama bersama Mama dan adik saya. Luka-luka yang belum selesai inilah yang kemudian merambat ke bagian-bagian kehidupan yang lainnya bersama pasangan, anak-anak hingga cara saya bersosialisasi dengan orang lain.

Saya pernah menuliskan proses penerimaan terhadap masa lalu saya di postingan tersendiri. Silahkan berkunjung ke sini.

Menyusun Misi Kehidupan dan Keluarga

Setelah saya selesai dengan berbagai proses panjang agar bisa ikhlas menerima keadaan dan berdamai dengan makhluk bernama innerchild. Maka itu merupakan sebuah titik balik saya menelusuri jejak pencarian misi kehidupan dan keluarga kecil saya.

Surat Cinta untuk Suami

Diawali dengan tugas pertama yaitu menuliskan surat cinta kepada suami. Tugas ini dimaksudkan untuk merefresh kembali ingatan, mengapa dulu saling jatuh cinta dengan pasangan, dan bisa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada pasangan. Alhamdulillah, untuk urusan menulis surat cinta bukan hal yang sulit buat saya. Maklum,saya tipe orang yang lebih suka menyatakan perasaan lewat tulisan daripada perkataan langsung. Meski tidak sesering waktu kami masih LDM (Long Distance Married) tapi bisa dikatakan lebih intense kala itu.

Kalau ditanya kapan saya terakhir membuat surat cinta? Saya membuat surat cinta beberapa hari menjelang ulang tahun pernikahan kami dan lucunya kami berdua malah lupa ketika hari H-nya. Saya menulis surat itu sebenarnya secara tidak sengaja, hanya ingin menuangkan apa yang saya rasa selama enam tahun berumah tangga bersama suami.
Nulisnya pun sembari berurai air mata mengingat betapa suabarnya suami menghadapi saya. Saya tidak pernah meminta suami saya untuk membaca surat cinta ini apalagi menggunakan kode-kode ala wanita sebab saya sesungguhnya seseorang yang ekspresif hehe.

Sedangkan suami saya ini, meski terkesan cuek dan calm rupanya diam-diam memperhatikan apa saja yang saya kerjakan. Jadilah tanpa saya meminta tiba-tiba suami berkata “makasih ya”. Tidak ada prolog dan tiba-tiba mengucap terimakasih. Sejujurnya saya tidak tahu bagimana reaksinya ketika membaca postingan saya mengenai curahan hati ini, karena dugaan saya ia membacanya ketika tengah malam atau saat tidak bersama saya. Ya! Suami adalah pembaca setia tulisan-tulisan absurd saya.

Dan inilah surat cinta terbaru saya untuk suami : Tentang Aku dan Kamu

Setelah membaca kembali rangkaian kata yang ada dalam surat itu, saya berpikir kembali mengapa kami dipertemukan, mengapa dia yang Allah pilihkan. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah salah menggariskan. Dia hadir untuk melengkapi segala kekurangan saya. Mengajarkan kepada saya untuk belajar tentang penerimaan, kepercayaan, kesabaran dan banyak hal lainnya.

Dia mampu menjadi penyeimbang diri saya yang suka meledak-ledak ketika emosi. Dia mampu menjadi penyeimbang diri yang terkadang terlalu perfeksionis dan ambisi dalam menjalani hidup. Dia yang mampu mengerem saya untuk tidak terlalu sering berlari dan lebih menikmati hidup.

Ah, selesai menuliskan surat itu, lagi-lagi saya kembali bersyukur telah dikaruniai pasangan yang sedemikian sabar. Tentu saja ia tidak sempurna, ada banyak kekurangan di dirinya, sebagaimana saya pun yang punya banyak kekurangan. Namun bukankah kita memang diciptakan untuk saling melengkapi?

Baca juga : Tentang Meraih dan Melepaskan

Memahami dan menemukan jawaban kenapa Allah pertemukan kami semakin memperkuat hati bahwasanya kami pasti bisa menjadi tim yang handal untuk menjadi fasilitator terbaik bagi pendidikan anak-anak kami, insya Allah. Kami perlu lebih banyak waktu untuk saling bertukar pikiran, bermuhasabah dan konsisten dengan standar operasional yang kami terapkan di dalam keluarga. Bismillah, insya Allah sampai surga… aamiin.

Mengenal Anak-Anak

Masa sama anak sendiri nggak kenal? Pastinya sebagai orang tua harusnya yang paling mengenali anak-anaknya ya. Semoga saya juga termasuk orang tua yang sudah bisa mengenali anak-anak dengan segala potensinya.

1. M. Zhafran Alfarisi (Faris)

Faris, dilahirkan tiga tahun enam bulan yang lalu dengan proses persalinan normal yang alhamdulillah tidak menimbulkan trauma. Kalau dibilang anak pertama selalu spesial, saya setuju. Bagi saya, Faris adalah matahari yang terbit setelah hujan badai. Kenapa? Saya diberikan amanah Faris setelah saya kehilangan almarhum Papa saya dan calon anak pertama saya. Setelah menunggu selama dua tahun akhirnya saya dipercaya oleh Allah untuk membersamainya di dunia ini.

Baca juga : Mengenal si Sulung

Dari hari pertama lahir ke dunia, Faris sudah terlihat ekspresif dan selalu ceria. Perkembangan fisiknya sangat baik sekali, ketika usia 2 bulan ia sudah bisa tengkurap dan sangat suka sekali diperhatikan. Ketika berumur 6 bulan ia sudah pandai duduk sendiri dan mulai belajar berbicara sepatah dua patah kata.

Saat belajar merangkak, Faris perlu diberi sedikit stimulasi karena sampai bulan ke-8 ia masih betah merayap dan tidak segera mengangkat badannya. Setelah diberi contoh, akhirnya dia bisa merangkak dengan benar (drama berlalu sudah). Sembilan bulanan dia mulai suka berdiri dan belajar merambat. Saat usianya setahun dia sudah berani berjalan tapi hanya di atas kasur, lagi-lagi karena trauma jatuh, ia tidak berani lagi mencoba. Barulah ketika moment lupa pegangan ia dinyatakan sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.

MasyaAllah tabarakallah, Allah menciptakan makhluk kecil yang keingintahuannya sangat besar. Dia sangat suka bertualang di alam bebas dan bertanya ini apa itu apa kenapa begini kenapa ga begitu kok bisa gitu. Panjang kali lebar pertanyaan yang diajukannya setiap hari. Memaksa kami orang tuanya untuk belajar lebih banyak agar bisa memberikan jawaban yang benar sesuai dengan umurnya.

Karena usianya yang baru tiga tahun, saya masih terus mengamati dan mencatat apa saja yang menarik baginya, kegiatan yang ia suka dan kurang suka. Faris sangat tertarik sekali dengan berbagai pengetahuan tentang hewan, alat berat, kejadian alam dan sangat visual sekali. Mengenal tempat dan mampu memetakan dengan cepat. Bahkan uniknya, ia merekam sesuatu melalui bentuknya. Seperti beberapa hari yang lalu, ia bertanya kepada saya “Mama tau nggak, ada bulan loh di Kimia Farma?“. Saya asli kebingungan dan menganggap itu hanya candaan dengan datar menjawab, “Mana ada bulan di kimia Farma, Faris? Bulan adanya di langit.“
Lalu ia menjelaskan, “Mama coba tengok logo kimia Farma itu, ada bulannya kan Ma. “ Ketika saya perhatikan kembali ternyata iya memang ada bentuk bulannya, sampai sebegitu detilnya ia memperhatikan, MasyaAllah rupanya Faris sangat visual dan detil.

Sejak lahir, Faris merupakan anak yang tidak pernah menyusahkan sama sekali. Ia tidak pernah rewel dan membuat kedua orang tuanya begadang. Penurut meskipun pandai bernegosiasi.

Ngomongin soal tantrum, alhamdulillah Faris bisa dikatakan tidak pernah mengalami tantrum. Ia sudah lancar berbicara ketika usianya belum genap dua tahun. Kemampuan berbahasanya sangat baik sehingga meminimalisir terjadinya tantrum. Saya membiasakan kepadanya untuk mengenali emosi dan belajar menyampaikannya kepada kami. Perlu proses dan kesabaran tentunya tapi jika sudah memetik hasilnya sebanding dengan pengorbanannya. Rasanya Allah begitu banyak memberikan rezeki dan karunianya. Sekarang, Faris sangat suka berdiskusi banyak hal bersama saya, mulai dari hal kecil, candaan hingga obrolan serius mengenai Allah.

Faris sangat senang diperhatikan dan didengarkan ketika bercerita atau menjelaskan sesuatu. Karena saya belum mengenalkan gadget padanya maka saya wajib memberikan waktu dan perhatian kepadanya. Membacakan buku, bermain dan melakukan pengamatan untuk mencari jawaban dari segudang pertanyaanya.

Faris sangat senang bergaul dan bertemu dengan orang baru, ia bisa langsung membaur meskipun berada pada lingkungan yang baru. Supel dan ceria itu pembawaannya. Saat bersama teman-temannya, dia pun mudah berempati dan berbagi. Dia juga mulai mengerti mengenai kepemilikan dan mempertahankannya ketika direbut paksa oleh temannya. Hanya kami perlu lebih banyak menumbuhkan keberanian dalam dirinya ketika ada temannya menggoda (mengejek).

Faris sangat suka tayangan animal series, animal er, fish tank, wicked tuna, yukon gold, science stupid dan lain-lain di chanel National Geographic. Kami tidak mempunyai jadwal khusus untuk nonton, tayangan-tayangan ini biasanya kita lihat ketika Faris sedang mencari jawaban atas pertanyaannya atau ingin memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Seperti ketika ia ingin melihat bayi gajah itu seperti apa, maka ia mengamati melalui tayangan proses kelahiran anak gajah di Nat Wild.

Berhubung masih berumur tiga tahun, kami sendiri masih menggali apa saja potensinya, apa saja minat bakatnya dengan mengenalkan berbagai macam kegiatan dan berusaha terus memberikan wawasan yang luas ketika ia mulai bertanya sesuatu. Pada dasarnya dia senang disuruh belajar apa saja, entah itu mengaji, percobaan, atau membaca, hanya saja orang tuanya yang perlu lebih konsisten dalam prosesnya. PR banget bagi saya sebagai ibunya agar bisa menjadi fasilitator yang handal dan disiplin membagi waktu untuk menjalankan berbagai macam peran di dalam rumah.

Saat ini kalau ditanya Faris nanti kalau sudah besar mau jadi apa? Faris dengan tegas menjawab “Faris mau jadi dokter hewan, Ma. Tapi kalau jadi dokter hewan gitu bisa jadi Qori juga nggak, Ma?” MasyaAllah saya terharu mendengarkan ucapannya, sepertinya dia menunjukkan minat ke arah sana. Mudah-mudahan Allah memudahkan segala langkahmu, Nak.

Saat ini Faris sedang menikmati perannya menjadi kakak. Faris dan Irbadh alhamdulillah sudah bisa kompak dan bermain bersama. Jika diingat kembali, rasanya terasa sulit untuk dilalui ketika dia beralih posisi dari anak satu-satunya menjadi seorang kakak, dia nampak begitu cemburu, sekarang pun sebenarnya masih, namun dia sudah mulai paham posisinya dan mengatasinya.

Sekarang ini, Faris sangat senang bermain bersama dengan adiknya. Bahkan jika adiknya tidur dia akan sibuk ingin membangunkan Irbadh untuk diajak bermain. Tetapi akhir-akhir ini, Faris mulai menikmati waktu belajarnya ketika Irbadh tidur.

Daya ingat Faris sangat baik. Apa yang orang tuanya katakan dia pasti ingat, apalagi kalau itu berupa reward untuknya, hehe. Baiklah, pada dasarnya Faris anak yang mudah diatur kok, saya yang perlu lebih banyak belajar untuk bisa jadi fasilitator yang baik untuknya.

2. Muhammad Harits Al Irbadh (Irbadh)

Bayi gembul berumur satu tahun enam bulan ini lagi seneng-senengnya memanjat apa saja dan mengeksplorasi semua benda di dekatnya. Belakangan ini ia sedang tertarik pada kunci, mur dan baut serta peralatan tukang Papanya. Alhamdulillah perkembangan fisik Irbadh sangat baik sejak bayi, ia sangat aktif dan kemampuan motoriknya berkembang sangat pesat.

Irbadh memiliki karakter yang keras dan kemauan yang kuat sehingga tidak bisa dilarang jika menginginkan sesuatu. Senang belajar banyak hal dan selalu ingin mencoba sendiri segala sesuatu hal yang baru. Irbadh sejak kecil memiliki selera yang berbeda dengan Masnya, ia suka diecast yang berukuran besar seperti bis, tank, dump truck dan berbagai macam kontainer.

Setiap anak tidak boleh dibanding-bandingkan karena masing-masing anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun terkadang, mengasuh anak kedua, mau tidak mau menjadikan anak pertama sebagai tolok ukur. Begitu juga saat saya merawat Irbadh, saya merasakan perbedaan yang mencolok hehe. Irbadh menonjol di kemampuan motorik dan kinestiknya. Ia sudah mahir duduk dan merangkak lebih cepat dibandingkan usia yang seharusnya.

Kemandiriannya pun terlihat jelas, meskipun baru berusia satu setengah tahun ia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan, lulus toilet training, mampu memakai sandal sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya. MasyaAllah tabarakallah.

Baca juga : Pentingnya Mengenali Gaya Berkomunikasi dengan Si Kecil

Sedangkan kemampuan bicaranya masih sesuai dengan usianya, ia sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya melalui dua kata yang dirangkai apabila menginginkan sesuatu. Irbadh kurang suka keramaian, namun bukan berarti tidak bisa bersosialisasi, tapi dia lebih suka mengamati terlebih dulu apakah lingkungannya aman untuk dia bergabung, apakah asyik untuk berada di tengah kerumunan itu. Ketika dia selesai mengonfirmasi dan dia merasa nyaman, dia pun sudah langsung bisa lari-larian bersama teman-teman barunya. Namun ketika ia merasa kurang nyaman, dia lebih memilih gelendotan di dekat orang tuanya atau asyik bertualang sendiri. Bahkan jika disuruh memilih antara main bersama teman atau main bersama orang tua atau kakaknya, melalui matanya yang berbinar menunjukkan kalau ia lebih suka bermain bersama Masnya atau sama Papa dan Mamanya. Semoga ke depannya kami juga tetap bisa menjadi sahabat untuk dia.

Berhubung Irbadh masih delapan belas bulan, tentu saja saya masih butuh banyak waktu untuk mengenalnya lebih dekat dan menanti potensi-potensinya muncul. Saya selalu suka menanti-nanti setiap perkembangan anak-anak, rasanya seperti bertualang mencari harta karun haha.

Melalui anak-anak saya belajar secara langsung bahwasanya anak-anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Rasa ingin tahu, semangat belajar yang tinggi, bibit kemandirian, pintar mencari solusi, pantang menyerah, rajin, sadar bahwasanya mereka adalah makhluk Allah dan semuanya sudah terinstall di dalam diri mereka. Sebenarnya kami orang tuanya, hanya tinggal menjaga fitrahnya dan mengarahkannya.

Bersyukur kami mulai berkenalan dengan ilmu-ilmu parenting dan teman-teman yang saling mendukung ketika anak-anak masih berada di usia emasnya, jadi sebagai orang tua kami bisa mengejar ketertinggalan yang ada.

Yang pasti saya percaya, anak-anak diamanahkan kepada saya oleh Allah bukan tanpa sebab, Allah memilih saya sebagai ibu dari Faris dan Irbadh pasti ada alasan yang besar. Setidaknya yang saya tahu saat ini, sayalah yang paling mengenal karakter anak-anak saya dan saya bisa menjadi sahabat untuk mereka menemukan potensinya.

Baca juga : Boneka Hafidz Media Belajar Yang Efektif Bagi Anak auditori

Lebih Dekat dengan Diri Sendiri

Terkadang kita merasa telah begitu mengenal diri sendiri, namun tidak selamanya begitu. Saya sendiri selalu bingung kalau ditanya apa potensi saya, apa keahlian saya? Bahkan rasanya lebih mudah bagi saya menemukan apa saja kekurangan saya dibandingkan menentukan potensi saya.

Kalau tidak karena kelas matrikulasi yang sedang saya ikuti ini mungkin saya juga tidak berusaha mencari tahu tentang potensi yang saya miliki.

Pada dasarnya saya suka mempelajari hal yang baru, menghubungkan informasi dengan keadaan nyatanya. Latar belakang pendidikan saya di bidang hukum, saya senang bertemu dengan berbagai macam karakter orang dan berbagi apapun bersama mereka. Selain terus mengupdate informasi terkini di bidang hukum, saya concern dengan informasi yang berkaitan dengan parenting, psikologi dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama islam karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari saya saat ini.

Meski lulusan Magister Kenotariatan, entah mengapa sekarang saya belum bisa move on dan fokus bekerja di bidang ini. Saat ini saya merasa enjoy membersamai anak-anak belajar banyak hal di rumah yang justru semakin menambah cakrawala wawasan dan pengetahuan saya. Berbagai macam pertanyaan ajaib dari anak-anak menurut saya justru lebih menarik untuk dicari jawabannya dan dijadikan bahan diskusi bersama. Ternyata dunia anak-anak mengubah saya yang dulunya sangat tidak suka jika ada anak yang bermain ke rumah menjadi lebih tertarik bermain bersama mereka. Kini saya sangat menikmati kegiatan bermain dan belajar bersama mereka. Entahlah, sejak punya anak dan belajar parenting, saya malah lebih tertarik pada pendidikan anak-anak dan ingin terus belajar agar bisa menfasilitasi mereka.

Jika dibandingkan dengan kegiatan berbicara saya jauh lebih suka menulis. Namun bukan berarti saya tidak bisa berbicara di depan umum. Dengan beberapa pengalaman kerja di bidang jurnalistik dan hukum yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan membuat saya senang berkomunikasi dengan mereka. Ketika masih menjadi mahasiswa saya juga aktif di berbagai organisasi dan LBH sehingga cukup memberikan pengalaman untuk terampil berbicara di depan umum.

Saya orang yang fleksibel. Bekerja dengan orang lain oke, kerja sendiri lebih baik hehe. Membaur dengan sekumpulan orang, hayuk. Mengikuti acara hingga selesai tanpa ada yang saya kenal satu pun tak mengapa. Pada dasarnya saya senang bergaul dan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Saya senang mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka, entah itu saudara, teman sebaya atau klien saat dulu saya masih bekerja. Dari sana saya belajar banyak hal, juga belajar menyikapi bagaimana ketika masalah yang sama hadir dalam kehidupan saya. Saya juga dengan senang hati memberikan solusi jika memang diminta.

I just love learning, terutama jika itu bisa meningkatkan kualitas diri saya. Saya tidak ingin berada di titik yang sama setiap harinya, saya haus belajar dan ingin bisa lebih baik lagi dalam kehidupan. Saya pun tidak segan untuk mengeluarkan sejumlah uang demi mendapatkan ilmu dan wawasan baru, meski saya harus menabung dulu berbulan-bulan.

Ilmu hanya akan menguap jika tidak diamalkan dan dibagikan. Oleh karenanya jika ada kesempatan untuk saya berbagi atas secuil ilmu atau informasi yang saya miliki dan bisa bermanfaat untuk sekitar pasti saya akan senang sekali. Saya senang sekali berkecimpung di berbagai kegiatan, terutama jika itu bisa memberikan manfaat tidak hanya diri saya sendiri, namun juga orang lain.

Bersahabat dengan Lingkungan dan Komunitas

Sejak tahun 2015, saya tinggal di rumah yang sekarang saya tinggali. Setelah sebelumnya berpindah dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain. Banyak suka dan duka menjadi perantau yang nomaden hehe.

Saya sangat bersyukur bisa tinggal di rumah yang sekarang. Meskipun bukan rumah milik saya sendiri, namun cukup memberikan kenyamanan untuk saya dan keluarga. Apalagi semua fasilitas di perumahan ini sangat lengkap, masjid ada dua di dekat rumah, kolam renang, dekat pasar dan pertokoan, dan lingkungan yang islami rasanya sudah cukup ideal untuk menjadi tempat tinggal dan membangun peradaban.

Sejak pindah kesini saya mulai mengikuti kajian mingguan. Dari sinilah relasi saya mulai berkembang dengan cepat. Dari komunitas homeschooling muslim, saya mulai mengenal beberapa teman yang kemudian memberikan banyak info seminar dan kelas parenting. Kemudian saya juga mengenal komunitas HomeEducation Based on Talent, Hijrah Parenting, Homeschooling Muslim Nusantara dan Institut Ibu Profesional.

Berawal dari situ saya semakin luas mengenal teman-teman yang ghiroh-nya luar biasa untuk mendalami agama dan pendidikan anak-anak. Di dunia tulis menulis saya serasa dilahirkan kembali dengan mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena, Blogger Kepri, Kumpulan Emak Blogger dan Blogger Perempuan yang banyak membantu saya mengembangkan wawasan dan konsistensi di dunia tulis menulis.

Saya mulai mempertanyakan maksud Allah mempertemukan saya dengan teman-teman saya saat ini, dan kontribusi apa yang bisa saya berikan kepada lingkungan tempat tinggal saya. Ke depannya dengan jaringan pertemanan yang saya miliki, saya berharap bisa membagikankan ilmu parenting ke para tetangga. Melihat anak-anak balita yang terkadang masih keluar rumah dengan baju minim hingga nampak auratnya, mengganti baju di luar rumah, menganggap anak-anak kecil berkelahi dan saling memukul itu wajar, remaja-remaja yang asyik dengan gadget dan game, ada suara hati yang terus memanggil-manggil untuk berbuat sesuatu.

Ya, membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Ketika orang tuanya abai, masyarakat sekitar abai, negara abai, jangan heran kalau generasi muda negeri ini mulai terkikis iman, akhlak dan semangat belajarnya. Harus ada yang mau bergerak untuk perlahan membenahi, harus ada yang mau repot untuk mengurusi anak orang lain, karena sesungguhnya dengan mengurusi anak orang lain secara tidak langsung kita mengurusi anak-anak kita sendiri dengan membangunkan tempat bergaul yang ideal bagi mereka.

Bismillah, meskipun masih samar saya mulai menemukan apa misi kehidupan saya dan keluarga di dunia ini. Semoga saya bisa memahami apa kehendak Allah dengan baik dan bisa membangun peradaban dari dalam rumah, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar saya tinggal. Tentu saja dengan tujuan untuk menggapai ridho Illahi. Aamiin.

Huft, tidak terasa sudah kepanjangan ya tulisan saya.. serasa membuat tugas akhir, hehe. Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mampir dan mau ikhlas meluangkan waktu membaca curahan hati saya ini. Semoga bermanfaat. Btw, kalau kalian sudah menemukan misi kehidupan atau tujuan spesifik mengapa kalian diturunkan Allah ke muka bumi ini belum?

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu saya sudah membagikan tulisan saya untuk NHW #1, di situ saya mendeskripsikan bahwa salah satu cita-cita saya saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana sih cara mencapainya, saya sendiri masih menata diri dan berusaha merumuskan langkah apa saja yang harus saya tempuh. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaan saya terjawab sudah.

Baca juga: Refleksi Diri 2018

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum membahas bingkisan NHW #2 yang super ini, kita belajar terlebih dulu yuk bagaimana menuju ibu professional.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
kata IBU memiliki makna;
1.perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2.sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3.panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4.bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5.yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1.bersangkutan dengan profesi;
2.memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja agar konsistensi dan semangat belajar bisa selalu terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Kurang lebih seperti itu latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada visi dan misi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah visi dan misi IIP;

Visi dan Misi Ibu Profesional

Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2.Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Apa Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang, merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

🌸Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
🌸Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
🌸Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan, tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

🌸Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
🌸Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
🌸Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif, jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

🌸Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
🌸Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
🌸Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
🌸Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha, tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

🌸Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
🌸Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
🌸Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
🌸Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Langkah Menjadi Ibu Kebanggaan dalam Keluarga

Setelah meresapi materi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. Bingkisan yang diberikan kali ini cukup membuat saya berdiskusi panjang kali lebar bersama anggota keluarga karena saya diminta untuk menyusun “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang realistis dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau saya harus melakukan wawancara dengan suami dan anak-anak. Melalui diskusi panjang bersama suami, saya jadi tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, saya perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang saya dapat dari suami dan anak-anak sangat sederhana, namun cukup membuat saya merenung lebih lama lagi karena ternyata begitu banyak hal yang harus saya perbaiki.

Oiya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;

-SPECIFIC (unik/detil)
-MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
-ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
-REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
-TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Ikhtiar Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya mulai menyusun checklist yang nantinya insyaAllah dapat membantu saya sebagai pengingat agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu.

Meskipun sejak kecil saya sudah terbiasa membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri namun tugas kali ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi saya. Hingga saat ini entah berapa kali saya membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu saya pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan saya ketika semangat saya mulai kendor.

Checklist yang saya susun ini saya beri tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung masih awal tahun sekalian menggembleng diri ini agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan suami ketika saya hendak menyelesaikan tugas ini adalah “lakukan dari yang paling sederhana dulu, supaya tidak merasa berat dalam menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.”

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Sebagai individu di sini saya kategorikan dalam hubungan saya dengan Allah, dengan diri saya sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang saya susun;

a. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

Indikator Individu Beriman

🌸Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
🌸Menambah hafalan setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
🌸Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
🌸Tilawah minimal satu lembar setelah sholat.
🌸Merutinkan kembali dzikir pagi dan petang.
🌸Merutinkan kembali sholat sunah dhuha dan qiyamul lail.
🌸Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b. Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

Indikator Individu Istiqomah

🌸Menyusun ulang jadwal bulanan dalam mengelola rumah tangga.
🌸Berolahraga pagi bersama anak-anak.
🌸Update blog minimal tiga post selama satu minggu.
🌸Muhasabah diri sebelum tidur.
🌸Mencatat kegiatan harian anak-anak dalam buku catatan khusus.
🌸Menata skala prioritas kegiatan harian.

c. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

Indikator individu masyarakat

🌸Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
🌸Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
🌸Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
🌸Lebih terbuka dan mau berbagi.
🌸Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan dharmawanita.

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat berdiskusi dengan suami, saya sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan tebakan saya ternyata benar! Dengan gaya yang humoris dan penyampaian yang sederhana ini jawaban suami saya ; “jangan gampang emosi dan meledak-ledak, urus anak dengan lebih sabar dan senyum dong kalau saya pulang.” Dengan pedenya saya bilang, “masa iya cuma gitu doang?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambahin lagi.”😂

Dan inilah indikator yang saya susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit saya modifikasi ;

Indikator Istri

🌸Lebih baik lagi dalam mengontrol emosi, lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan terlebih dahulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
🌸Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika suami pulang terlambat atau mendadak lembur.
🌸Merendahkan suara. (PR banget nih buat saya yang tukang ngeyel).
🌸Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
🌸Mencium tangan suami saat melepas pergi ke kantor.
🌸Memberikan suami me time (suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetan saya dan anak-anak).
🌸Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang ke kajian.
🌸Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.

Jawaban pemikiran ala lelaki dengan kesimpulan:

…selama mama nggak ngomel-ngomel, kami bahagia…

Sebelum tanya-tanya dengan suami, saya sudah sempatkan untuk bertanya-tanya dengan Faris. Faris seneng punya mama yang seperti apa. Dengan usianya yang baru tiga tahun, keinginan Faris pun cukup sederhana; “Faris seneng kalau Mama nggak sedih kalo Faris nggak nurut sama dan nemenin Faris mainan jual-jualan.” Belum sempat dijawab, Faris malah balik bertanya “kenapa sih kok Mama nggak ke kantor aja? Biar Mamanya cantik kaya tante-tante yang di kantor Papa. “ Lalu saya jawab, “Berarti Mamanya boleh ke kantor ya?” Langsung dijawab sama Faris, “eh, nggak mau ah nanti Faris di rumah sama sapa? kan Faris maunya semua sama Mama, mainan, belajar, bikin kue sama Mama. Tapi Faris maunya Mamanya yang cantik aja yang di rumah sama Faris.” Wah, PR banget ini bagi saya, rupanya saya kudu makeover diri supaya nampak cantik di depan anak bujang saya. 😂

Lanjut obrolan bersama Irbadh, berhubung ia baru berumur enam belas bulan dan ketika ditanyain jawabnya hanya “mama manya”, maka saya simpulkan bahwa si bayi yang beranjak besar ini maunya mama selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jejak jauh-jauh, hihi.

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, saya menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa resolusi pribadi saya sebagai seorang ibu.

Indikator Ibu

🌸Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak dengan membuat sendiri masakan dan snack untuk anak-anak.
🌸Melatih kemandirian anak-anak. Faris diharapkan dapat membereskan tempat tidur, mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri. Sedangkan Irbadh, bisa ke toilet sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.
🌸Mulai membiasakan Faris dengan kebiasaan beragama seperti sholat lima waktu, mengaji dan memberi sedekah kepada yang membutuhkan.
🌸Menyusun lesson plan Faris untuk kegiatan belajarnya di rumah, mulai merutinkan murojaah, mengenal huruf hijaiyah melalui makhrajnya, dan merutinkan playdate yang sesuai dengan minatnya.
🌸MengASIhi Irbadh hingga dua tahun.
🌸Memberikan stimulasi berbicara agar meminimalisir tantrum.
🌸Merutinkan berkisah, membaca buku bersama,dan bermain bersama dengan anak-anak.
🌸Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak berebut sesuatu, Misal; anak-anak tidak diijinkan bermain jika tidak mau berbagi dan main bersama, jika salah satu pihak tidak mau berbagi maka berikan timeout.
🌸Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika anak-anak sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka saya mengkomunikasikan kepada suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utama saya. Saya tidak lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan evaluasi saya, ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga ternyata saya semakin keteteran dalam mengasuh anak-anak. Teringat pesan dari bu Septi, “rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Semoga Allah berikan kemudahan kepada saya agar bisa menepati checklist yang telah saya susun untuk masa evaluasi sebulan ke depan dan semoga langkah awal ini bisa mengantar saya mencapai cita-cita sebagai seorang ibu professional. Hm, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share dong 😄

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh