Tantangan Hari Ke-5 : Belajar Menghindari Gaya Komunikasi Parentogenik

“Faris lagi main apa sih kok berisik banget suaranya? ” tanya saya pada Faris yang sedang melempar dan menuang mainan mobil-mobilannya.

“Itu loh ma, lagi mainan mobil.”Jawab Faris.
“Mainan mobil kok sampe kaya gitu suaranya, nak? Pelan aja loh..bisa rusak mainan Faris kalau cara mainnya begitu.”saya mulai mengingatkan.

Tiba-tiba mainan excavator yang sedang dimainkan Irbadh lepas bautnya dan…

“Mamaaa…. gimana nih?”tanya Faris dengan raut wajah sedih.

“Yah, itu sih bautnya lepas n ga bisa dipasang lagi. Udah nggak bisa dimain lagi lah Fa kalo rusak.”timpal saya.

” Mas.. Mas.. rusakin.” kata Irbadh.

“Maaf yah, Bad gimana dong ini betulinnya. Mas Faris nggak bisa.” Faris merasa bersalah dan panik.

“Udah jangan diapa-apain dulu, Mas. Coba cari bautnya yang lepas ada nggak?” tanya saya.

“Ada nih, Ma.”

“Oke,simpan dulu di rak nanti Faris minta tolong Papa untuk bantu betulin.”

“Iya..,” sambil mengemas mainannya yang rusak.

“Jadi Faris udah tau belum kenapa mainannya bisa rusak?” pancing saya.

“Ya, rusak orang Faris beresinnya cepet-cepet sampe kelempar,” jawabnya.

“Mama minta lain kali Faris pelan dan hati-hati kalau mainan atau beresin mainannya. Nggak harus buru-buru sampai dilempar-lempar kaya tadi. Kalau kesusahan boleh minta tolong yang bagus gitu loh, Nak.” nasehat saya.

“Iya.. Iya..,” jawab Faris agar masalah segera selesai.

Saya ulangi kembali bertanya padanya, “Jadi Faris udah tau belum kesalahannya tadi?”

“Udah, udah.. besok nggak gitu lagi. Maaf ya Ma,” jawab Faris sambil cengar cengir.

Sore hari ketika Papanya pulang. Seperti biasa anak-anak selalu menyambut dengan riang. Semuanya sibuk mencari perhatian dengan bercerita tadi siang main apa, baca buku apa dan memperlihatkan hasil bebikinan dari mainan konstruksi mereka masing-masing.

Ketika Papanya masuk kamar, Faris kemudian berkata, “Pa, excavator Irbadh yang hijau rusak. Bautnya lepas, tapi..tapi Mas Faris nggak bisa betulin.”

Hmmm..rupanya Faris masih ingat dan membuat pengakuan sendiri, berarti benar dia merasa bersalah.

“Rusak?” tanya Papanya.

“Tadi nggak sengaja.. nggak sengaja rusaknya. Tadi mas Faris beresin ke dalam kontainer tapi pas dimainin Irbadh tiba-tiba lepas bautnya.”kata Faris jujur.

“Kok bisa lepas sih Faris.. Faris..kalau punya mainan kan harus dirawat. Jangan dirusak-rusakin.”

“Hm, iya.. tapi..tapi tadi rusaknya nggak sengaja, Pa.” masih terus membela diri.

Kemudian dia berdiri dan menjauh hendak menunjukkan mainan excavatornya yang rusak.

“Papa marah nggak? Papa nggak suka ya kalau anaknya ngerusakin?”

“Nggak, Papa mau tau kenapa kok bisa rusak mainannya itu tadi gimana ceritanya?”

“Tadi Faris lagi mberesin mainan terus Faris cepet-cepet Pa. Terus Faris tuang aja semua ke dalam box biar cepet.”

“Terus kok bisa lepas bautnya itu kenapa?”

“Terus paa dimainin Irbad malah copot bautnya Pa. Terus nggak bisa dibetukin lagi.”, sambung Faris.

“Oh, tadi Faris beresinnya buru-buru ya pas masukin ke box. Pasti dilempar ya letakinnya?” tanya Papanya pelan.

“Iya, soalnya pengen cepet selesai tapi pas dimainin Irbadh malah lepas bautnya, “jawabnya lagi.

“Oh gitu, yasudah coba bawa sini excavatornya Papa lihat dulu.”

“Ini, Pa.” Sambil menyodorkan mainannya. “Masih bisa dibetulin nggak, Pa?”

“Masih kok, cuma kayanya ini ada satu baut lagi yang hilang. Lain kali lebih hati-hati lagi ya,” kata Papanya sembari mencoba merepair excavatornya.

“Maaf ya Pa, jadi rusak mainannya.”

“Iya, lain kali hati-hati ya dirawat mainannya. Dah dikasih rezeki sama Allah harus dijaga, jangan dirusakin.”

Dan saya berusaha menyelipkan refleksi pengalaman. Ya! semua orang pernah berbuat kesalahan, apalagi yang tidak disengaja..
Saya juga pernah tidak sengaja memecahkan meja, gelas dan piring ketika kecil.

Bisnillah, saya mencoba membuka percakapan bersama Faris. Kami berdua memang senang berbagi cerita, baik cerita sedih, lucu, bahagia bahkan cerita masa kecil saya.

Saya pun memiliki waktu yang pas dan tenang untuk menyelipkan pesan. Saya rasa itu perlu, agar anak tidak merasa kami menganggap dirinya selalu salah. Semoga pesan nasihatnya tersampaikan 😊

Jadi teringat sebuah tulisan bunda Elly Risman, M.Psi yang menyatakan bahwa ada 12 parentogenik penghambat komunikasi yaitu:
1.Memerintah
2.Menyalahkan
3.Membandingkan
4.Meremehkan
5.Mengancam
6.Mengeritik
7.Memberi cap
8.Membohongi
9.Menghibur
10.Menasehati
11.Menyindir
12.Menganalisa

Tanpa sadar sudah seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, baik ketika ada masalah, maupun tidak.

Dalam hal ini kami sedang belajar menghindari di antaranya ketika anak sedang ada masalah. Kami mencoba tidak menyalah, memberi cap dan menasehati di saat yang tidak tepat.

Nasehat yang baik bisa menjadi tidak efektif jika dilakukan di waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak tepat, meskipun maksudnya baik. Ketika menasehati dengan menyalahkan perbuatannya, bisa timbul kesal dan menjadi penghambat komunikasi. Anak perlu diterima perasaannya dahulu, agar merasa dihargai, tidak selalu merasa disalahkan sehingga bisa tumbuh menjadi percaya diri.

Memberi nasehat sebaiknya tidak menggurui, akan lebih baik jika memasukkan refleksi pengalaman di dalamnya, seperti “Nggak papa kok..kan nggak sengaja. Mama pun pernah menjatuhkan barang dan pecah. Mama minta maaf ya, boleh kita bereskan sama-sama.”

Yang kami pelajari hari ini:

💌Mengatakan dengan ringkas dan jelas (kaidah Keep Information Short & Simple) agar anak mampu memahami setiap kalimat yang kita sampaikan.

💌Berbicara dengan pelan, tidak terlalu cepat dengan intonasi suara dan bahasa tubuh yang sesuai.

💌Berempati, menerima perasaan anak sehingga membuatnya lebih nyaman.

💌Menggunakan kalimat positif, tidak menyalahkan, memberi cap “memang kamu selalu rusuh, tidak hati-hati dan membuat berantakan😳” dsb.

💌Fokus pada solusi

Terima kasih untuk hari ini ya, Faris sudah mau jujur dan Papa mau belajar komunikasi produktif bersama 😘. Kita harus terus latihan..latihan..latihan.

#Hari5
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Tantangan Hari Ke-4 : Belajar Membuat Kesepakatan dengan Anak

Hari ini suami ada agenda mengikuti perlombaan bola di komplek. Anak-anak pun merengek untuk ikut bermain. Kemarin Papanya memang sudah janji mau mengajak anak-anak kesana. Sampai disana

Saya: “Faris..duduk sini dulu yuk.”

Faris: “Faris mau main bola.”

Mama: “Iya, Faris udah nggak sabar ya mau main? Faris mainnya sebentar aja ya. Kalau orang-orang udah mulai main, istirahat di pinggir ya. Jangan masuk ke dalam lapangan.”

Faris: “Iyaa..”

Saya mengulangi bertanya sambil menatap tegas ke matanya “Kalo Mama ajak ke pinggir nanti, Faris harus..”.

“Nurut”, katanya. Sip . Semoga ia mematuhi.

Dan berlarilah Faris dan Irbadh ke tengah lapangan, mereka main bola berlarian bersama teman yang lainnya. Sementara saya mengawasi dari pinggir lapangan. 😊

Meski sudah dibriefing di rumah sebelum kita berangkat, tetap saya ulangi lagi kesepakatan kita. Ternyata main bola selama 15 menit itu lama yaa..tapi kayaknya kalo lagi asyik bermain, tetap rasanya kurang bagi anak. Jadi harus jelas kapan time outnya.

Sementara Faris bermain,saya duduk menunggu di pinggir lapangan. Sembari menulis sambil mata saya terus mencari-cari sekarang anak-anak sedang main di sebelah mana? Eh, tidak lama anak-anak datang minta minum. Mereka saya ajak duduk sambil minum.
Tidak terasa perlombaan akan segera dimulai, wasit sudah mulai bersiap memimpin permainan.

“Faris, sudah mau dimulai nih lombanya. Nanti kalo Mama panggil,berarti Faris sama Irbadh harus ke pinggir yaa..”

“Belum,belum..Faris masih mau main”, protesnya

“Iya..nanti kalo wasit sudah niup peluit mama panggil Faris ya.”

Kemudian anak-anak berlari ke tengah lapangan.

Selama pertandingan berlangsung, anak-anak tidak sulit untuk dikondisikan. Namun tidak berapa lama kemudian mereka mulai bosan mungkin karena belum ada temannya yang datang. Awalnya Irbadh mulai merengek minta pulang karena bosan.

“Ma, yok kita pulang yok.”, pinta Irbadh.

“Tunggu bentar ya, sabar ya..ntar kita beli es krim deh kalau Papa menang😋.”

“Tapi Faris maunya yang coklat, Irbadh vanila ya.” kata Faris.

“Nggak, Mas. Ibad coklat, mas vanila.” kata Irbadh.

“Udah, jangan godain adiknya mas. Kita nanti makan es krim sama-sama ya.”

Akhirnya mereka mau duduk dan menonton pertandingan kembali.

Tidak lama setelah pertandingan penyisihan selesai kami memutuskan untuk mampir ke minimarket di dalam komplek. Kami masuk ke mininarket. Saya membiarkan anak-anak menuju kulkas es krim dan memilih es krim sesuai perjanjian tadi.

Selesai saya membayar, Irbadh tidak sabar ingin membuka es krimnya dan saya berkata nanti di rumah kita makan es krimnya. Dia pun menyetujui dengan syarat ia ingin membawa sendiri es krimnya. Dalam perjalanan saya sudah antisipasi kalau mereka kembali berebut untuk segera makan es krimnya.

Alhamdulillah.. Tidak lama, kami sudah sampai rumah. Mereka langsung buru-buru turun dan meminta saya untuk membukakan es krimnya. Sesuai dugaan😁

Kemudian saya menginstruksikan, “Ayo siapa yang mau makan es krimnya? Kita cuci tangan dan kaki dulu yah. Saya peluk anak-anak sambil menuntun mereka menuju kamar mandi. “Faris, Irbadh ayo kita cuci tangan dulu.”

“Siapa mau makan es krim? “kata anak-anak.

“Sabar ya, Mama siapin tempat sama sendoknya dulu ya, ” kata saya.

“Siap, makasih Ma. Mama seneng nggak kalau anaknya nurut?”

Yang menarik dari komunikasi kami hari ini:

💌Saya belajar kaidah clear & clarify ketika membuat kesepakatan dengan anak.

💌Anak-anak belajar mengendalikan emosinya,meski masih mau main bola. Mereka pun belajar menepati janji,sesuai kesepakatan.

💌Saya belajar menerima dan mengerti perasaan anak

💌Faris belajar menerima, memilih dan memutuskan tanpa paksaan sehingga kita bisa pulang tanpa ada drama nangis dan teriakan.

Alhamdulillah dengan kemauan belajar komunikasi produktif ternyata tantrum bisa dicegah yaa. Semangat, belajar sama-sama ya, Nak. Terima kasih selalu jadi anak yang baik 😘.

#Hari4
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Belajar Menggunakan Kalimat Positif agar Anak Mau Mengikuti Instruksi

Entah kenapa weekend ini terasa sangat random bagi saya. Pikiran saya kemana-mana, ditambah list deadline project menulis yang harus segera saya cicil demi kewarasan pikiran saya yang mulai campur aduk ini. Weekend ini saatnya saya menata diri, menata hati, mengelola pekerjaan dan emosi sebagai bekal amunisi seminggu ke depan. Kalau sudah pada titik jenuh berarti saya butuh tidur barang beberapa menit. Kepala rasanya sudah sangat berat dan ngantuk parah. Sepulang berbelanja kebutuhan dapur saya memutuskan untuk istirahat dan tidur.

Setelah shalat dzuhur saya curhat sama suami perihal Irbadh yang sedang belajar dalam proses memahami sebuah perintah. Tidak berhenti disini, saya pun merasa Faris sedang menguji kesabaran saya dengan keusilannya ketika terkadang tidak mau mendengar dan melaksanakan instruksi saya. Baiklah ini tantangan, Mak bukan masalah yang pelik itu sugesti saya dalam hati.

Namanya balita, perlu cara berbicara khusus, supaya mereka mau mendengarkan kata-kata orang tuanya dan memahaminya. Gimana caranya? Belajar teknik berkomunikasi lagi, Mak.~sambil tunjuk diri sendiri.

Kenapa sih anak balita ini sulit untuk mematuhi perintah? Berdasar referesi yang saya baca hal ini disebabkan karena perkembangan pertumbuhan mereka belum siap untuk menginternalisasi apa yang orang tua katakan. Sehingga, kita pun perlu menyampaikan dengan kalimat sederhana dan mengulang kalimat berkali-kali. Jangan suudzon dan curiga dulu ya, Mak. Tidak ada yang salah dengan mereka kok?
Hmmm. Terus gimana dong ya?
Well, bisa jadi, masalahnya bisa terpecahkan jika saya mencoba memperbaiki cara berbicara kepada para balita. Karena, mereka memang masih perlu dibantu untuk lebih fokus mendengarkan mamanya. Plus, satu balita dengan yang lainnya punya kemampuan fokus yang berbeda. Barangkali memang perlu lebih ekstra untuk membantunya.

Seperti tadi ketika kami dalam perjalanan dan berada di dalam mobil, anak-anak mulai menguji kesabaran saya dan suami.

Saya: “Faris, Irbadh ayo duduk yang rapi!”

Faris: (tidak menggubris sambil ketawa-ketawa tetap berdiri di kursi belakang)

Saya: “Faris, ayo duduk kita lagi di jalan. Faris jadi penumpang. Kalau penumpang sebaiknya duduk nggak?”

Faris: “Emang Mama liat?”

Saya: “Meskipun Mama nggak lihat, Allah selalu lihat dan tahu loh Faris ngapain termasuk apa yang ada dalam hati dan pikiran Faris. Ayo duduk, Fa. Kan Faris dah baca buku tentang keselamatan di jalan. Kalau Faris di jalan maka harus du…duk, terus mengenakan seatbelt.”

Faris:”Iya..iya Faris tau.” (dengan nada meninggi)

Saya: “Kok gitu Faris ngomongnya? Mama nggak suka kalo anaknya ngomongnya nggak sopan. Malu ah.”

Faris:(masih lompat-lompat dan belum juga duduk).

Suami:”Faris ayo duduk, kalau jadi penumpang harus duduk.”

Faris:”Emang kenapa kok harus duduk?” (semakin menguji kesabaran, Faris cengengesan dan memancing reaksi saya akan bagaimana)

Saya:”Ayoklah duduk, kalau nggak duduk kita nggak jadi berangkat ajalah.Kan berbahaya kalau nggak duduk bisa kelempar badan Faris kalau Papa lagi ngerem”(Saya menjaga kontak mata. Berusaha berbicara tegas namun nada rendah)

Saya dan suami diam menunggu anak-anak duduk.

Faris:”Udah nih, Ma. Yok jalan yok Pa.”

Saya diam. Faris nampak kesal sendiri, saya bertanya apakah dia mengerti kenapa saya tidak suka jika ia sulit diberi pengertian? Supaya jelas bahwa bukan Faris yang tidak saya sukai..tetapi sikapnya yang seperti itu.

Saya:”Faris tau kenapa Mama marah?”

(Masih diam,tidak menjawab)

Saya:”Mama marah karena Faris nggak nurut nasehat Mama.”

(Masih tidak menjawab)

Saya:”Mama nggak suka kalo Faris melakukan yang nggak bagus padahal Faris tahu itu nggak baik untuk dilakukan.”

Faris:”Iya..iya Faris tau. Mama nggak suka kalau anaknya nggak nurut kan.”sambungnya

Saya:”Mama sayang Faris, tapi Mama nggak suka kalau Faris nggak jadi anak yang baik.”

Faris:”Faris minta maaf Ma,tadi itu nggak sengaja.”

Saya:”Kalo Faris udah Mama bilangin berkali-kali tapi nggak dilakuin itu sengaja namanya..”

Faris:”Itu tadi lupa, Ma.” (masih ngeles)

Saya:”Faris mau janji berubah jadi anak baik?Nurut kalau Mama nasehatin? Nyontohin adiknya yang baik?”

Faris:”Janji..Iya.. Iya.. nggak gitu lagi.Maaf ya Ma.” (Alhamdulillah.. 😊)

Saya:”Ma, maafin Faris ya.” (sambil meluk dan menyandar dari belakang kursi)

Suami pun ikut memuji Faris sambil bilang kami sayang dan mau Faris jadi anak yang baik.

Setelah suasana mencair, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Yang kami pelajari dari latihan hari ini:

💌Menggunakan “pesan saya” untuk memberikan alasan. Mama (tidak suka) + jika kamu + (sikap) + karena (alasan)

💌Clear and clarify
Jelas memberikan kritik (membedakan perilaku anak yang tidak disenangi dengan pribadi anak)

💌Memberi kesempatan anak untuk berpikir dan memutuskan

💌Saya sepertinya masih salah di awal komunikasi, karena kurang memberikan empati ketika Faris mau mainan di dalam mobil, dan kami terburu-buru agar segera sampai rumah sehingga berujung aksi cari perhatian.

Kira-kira komunikasi kami tadi itu sudah produktif belum ya..terutama di kaidah “katakan yang kita inginkan,bukan yang tidak kita inginkan”.

Berikut ini beberapa poin yang sedang kami coba terapkan kepada anak-anak supaya mereka mau mendengarkan dan lebih fokus memahami maksud dari yang kami sampaikan

1. Kita sebaiknya mendekati anak-anak dan tidak berteriak dari tempat yang jauh jika ingin menyampaikan sesuatu. Karena kalau kita berbicara dengan nada melengking dan dari kejauha maka, anak-anak akan berpikir bahwa pesan yang ingin kita sampaikan tidak terlalu penting untuk didengar. Penting juga bagi mereka jika kita berbicara pada level mereka dan disertai dengan kontak mata.

2. Mencoba untuk tetap tenang. Berteriak kepada anak, terutama balita, adalah cara berbicara dan komunikasi yang paling buruk. Apabila kita terlalu sering berteriak maka anak-anak semakin tidak peduli apalagi mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Cara berbicara yang lembut dan tenang ini juga efektif digunakan saat meredakan marah atau tantrum lho. Tapi hati-hati, jangan sampai emaknya ikutan tantrum.

3. Menggunakan kalimat positif
Anak usia balita pada dasarnya memang baru belajar memahami perintah atau instruksi. Jadi, semakin banyak perintah atau instruksi diberikan, semakin sulit bagi mereka untuk mengerti. Terlebih lagi, balita-balita ini juga baru belajar mengenal konsep ‘tidak’ dan ‘jangan’.
Sebisa mungkin orang tua haruslah membuat kalimat perintah positif dan sederhana. Karena, dengan memberikan perintah ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’, maka mereka malah makin melakukannya. Karena ya itu tadi, mereka masih bingung antara “tidak boleh” dan “boleh”.

4. Memberikan Pilihan
Banyak aktivitas sehari-hari yang memang harus dikerjakan, maka kita pastinya harus memberikan perintah atau instruksi kan Mak. Supaya anak balita mau mengikuti instruksi kita maka kami mencoba lengkapi dengan kalimat pilihan. Dengan cara ini, secara tidak langsung akan membuat anak mengerti bahwa kita sedang menginstruksikan untuk melakukan sesuatu sekaligus mengenalkan bagaimana cara memilih dan saling bekerja sama.

5.Memberi Instruksi beserta Alasannya
Apabila kita memberikan instruksi sebaiknya kita berikan mereka penjelasan serta alasan yang masuk akal, mengapa mereka harus melakukan instruksi tersebut. Dengan adanya penjelasan ini maka kita dapat menunjukkan kepercayaaan bahwa anak-anak bisa melakukannya.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tantangan Hari Kedua : Komunikasi yang Mencerahkan Membimbing Menuju Solusi

Berkomunikasi dengan anak membutuhkan kepiawaian lingustik dan ketepatan memilih merode berkomunikasi (luwes). Sebagai contoh, kesulitan saya berkomunikasi dengan anak terutama adalah ketika saya menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saya lebih sering menggunakan teknik using choices to reach goal. Kunci tercapainya komunikasi dengan anak menurut saya salah satunya dengan teknik reframing sehingga menempatkan makna positif pada setiap kejadian yang saya alami. Semoga saya bisa meluaskan makna atas kejadian-kejadian yang saya alami sehingga semakin baik pula saya mengendalikan emosi. Berikut ini cuplikan cerita belajar komunikasi produktif keluarga kami hari ini.

Episode 1

Pagi ini seperti biasa saya dan anak-anak mempunyai jadwal khusus untuk mengolah sampah dapur. Jadi ceritanya hari ini saya tidak memasukkan sisa konsumsi kemarin ke dalam komposter melainkan membuat lubang galian tanah. Bukannya apa-apa komposter embernya belum sempat dicek dan diaduk oleh suami sehingga saya belum tahu progresnya seperti apa. Lama nggak mencangkul ternyata lumayan menguras energi. Yah, beginilah tantangannya menggali tanah kalau tanpa alat yang memadai. Capekk bukkk😅 Sedangkan Faris malah sibuk mencari sandal, dan “nggupuhi” (istilahnya apa ya kalau dalam bahasa Indonesia? 😂) mau ikut membantu juga.

Saya lagi sibuk menggali-gali tanah, Faris makin rempong dan bingung takut ketinggalan.

Faris: “Haduh… mana sih sandal Faris yang satunya? Make sandal Irbadh aja ah. ”

Irbadh: “Nggak Mas!” (mulai merengek sambil bilang menolak pernyataan mas-nya)

Mama: “Jangan mas, jangan godain adeknya. Gimana kalau Faris cari dulu sandal satunya? Pasti lebih keren kalau pakai sandal Faris sendiri karena ukurannya pas👍”

Faris:”Ma, ini ma irbadh malah nangis minta sandalnya kaya orang rebutan aja.”

Mama:”Faris, irbadh minta sandalnya cuma belum jelas ngomongnya, nggak rebutan kok. Adenya takut ketinggalan aja. Faris tolong bantuin ya Irbadh pakai sandal.”

Faris:”Iya, Ma.”

Setelah berakhir drama sandal akhirnya anak-anak ikut nimbrung mengurus sampah. Dan berlanjut untuk siap-siap mandi tanpa banyak hambatan yang berarti.

Tidak mau membuang kesempatan untuk latihan komprod saya memulai percakapan.

“Faris, seneng nggak tadi bantuin Mama? Waah..Faris cinta bumi ya 😊. Kalau Mama ke depan duluan Faris nggak perlu panik dan cepat-cepat lari kaya tadi ya. Kan Mama nggak kemana-mana, Faris cari dulu sandal Faris, temani adeknya juga harus sama-sama.”

Faris:”Tapi..tapi Faris maunya yang cepet Ma.”

Mama:”Allah nggak suka orang yang buru-buru, Mas. Ada tuh hadis yang bilang,” Bertakwalah kepada Allah , sabarlah, dan jangan engkau terburu – buru“ (sambil saya terus mengingat benar nggak apa yang saya ucapkan)

Faris:”Iyaa Ma, iya..Berarti lain kali Faris nggak gitu lagi..maaf ya Ma, tapi Faris tadi lupa.”

Mama:”Iyaa..😚 Maafin mama juga ya Mas soalnya Mama tadi buru-buru kan kita mau datang ke acara pagi-pagi jadinya Mama juga mau cepet selesaikan buang sisa-sisa makanan biar nggak kesiangan.”

Faris:”Kenapa Mama juga buru-buru tadi? Harusnya nggaklah, Ma. Katanya Allah nggak suka sama orang yang buru-buru?”

Mama:”Iya, besok-besok kita jangan buru-buru lagi ya, Mas.” (Emak harus kembali lagi introspeksi diri)

Episode 2

Lagi-lagi dan sudah menjadi rutinitas di rumah ini adalah drama kehilangan barang. Tetapi sesungguhnya hilangnya barang di rumah ini bukan hilang yang sebenarnya tetapi perkara “belum” ketemu aja. Pagi ini suami hectic sekali karena ada agenda jalan sehat di kantornya. Jadilah pagi-pagi suami sibuk mencari barang-barang yang akan dipakainya. Melihat pemandangan ini saya sampai bosan tiap hari kok ya selalu bingung mencari barang-barang padahal barang-barang itu sudah ada rumahnya semua. Sejatinya ini hanya perkara mau atau tidak mau meluangkan waktu untuk mengembalikan pada tempatnya. Saya tidak ingin kebiasaan ini menular kepada anak-anak. Di dalam hati, saya sempat berpikir apa saya terlalu berlebihan sehingga terlalu fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk celaan atau keluhan? Tidak jarang keributan di rumah itu karena saya yang terlalu banyak mengomel. Hari ini saya menahan lisan agar tidak keluar keluhan, sabar..sabar..kata saya dalam hati.

~Menegur bukan karena benci, memuji tanpa menjadikan lupa diri. Menegur ada caranya, memuji ada adabnya~

Suami:”Ma, tolong dong lipatin celana kerja papa. Tapi ikat pinggang papa dimana ya? Kok nggak ada?”

Saya: “Oke, tapi Mama nggak tau ikat pinggang papa ada dimana. Ga kelihatan.”

Suami: kasak kusuk masih sibuk muterin rumah sambil mencari ikat pinggangnya.

Saya:”Pa, kalau Papa nggak nyiapin apa-apa yang mau dibawa besok sebelum tidur ya beginilah jadinya pagi-pagi masih rempong nyari-nyari. Selama ini Mama lihat Papa sebenarnya sebelum tidur ingat kan apa agenda besok. Artinya Papa besok bisa lebih baik lagi daripada hari ini.” (sambil melipat baju dan melempar senyuman)

Suami:” Ya besok ingetin lagi ya, Ma biar nggak lupa. Papa sebenernya ingat Ma, cuma eksekusinya yang…yaudahlah Papa berangkat dulu” (sambil tertawa renyah)

Sudah termasuk komprod belum sih, Mak? Mudah-mudahan pesannya nyampe yaa 😅

Yang kami pelajari hari ini:

💌Belajar menerima perasaan anak. Tidak
meremehkan perasaannya (panik, gelisah, takut,dsb)

💌Memberi solusi,bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu karena justru tidak membawa manfaat.

💌Belajar menegur dengan cara yang lebih baik dengan mengatakan secara tepat apa kesalahan perilakunya. Berusaha menegur “perilaku-nya” bukan karakteristik orangnya.

💌Katakan bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.

Hm..tadi sempat ngobrol juga bersama suami juga dan membahas komunikasi produktif. Sambil ngobrol sambil praktek,hehe..

Ternyata menerima perasaan anak itu penting banget sebelum menasehati. Anak merasa nyaman dan dihargai.
Menasehati juga ada caranya. Bisa diganti dengan menceritakan pengalaman. Terkadang saya suka keceplosan ngomong “Makanya..” terus disambung kalimat menyalahkan 😥. Dan ujung-ujungnya Faris pun mengcopy dan menerapkan ketika berkomunikasi dengan adiknya. Huft! Ternyata belajar berkata baik itu lebih susah daripada diam. Perlu effort lebih dan harus terus latihan..latihan..latihan💪

Suami..terimakasih ya sudah mau ikut latihan sama-sama dan terus mengingatkan saya yang banyak khilaf ini 😘 Mudah-mudahan nada bicara dan cara ngomong saya bisa jadi lebih kalem ya? Hihihi

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

ANTARA TUGAS BELAJAR DAN CODE OF CONDUCT IBU PROFESIONAL

Ilmu itu didapat manakala kita mendekat dan datang pada sumber ilmu. Ilmu juga akan mudah diperoleh manakala kita antusias mencari ilmu. Sebagai seorang pembelajar kita harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati fasilitator dan fokus kepada apa yang disampaikan maka harapannya bisa menuai ilmu dengan lebih banyak. Dalam proses belajar seorang pembelajar tidak boleh sok tahu, dan menyepelekan materi meskipun sudah pernah dipelajari. Mau tidak mau kita harus mengosongkan gelas agar ilmu yang diperoleh lebih berkembang.
Apabila ditanya kenapa saya mengambil

kelas belajar bunda sayang? Ini merupakan salah salah satu komitmen diri untuk mencapai tujuan belajar yang sebelumnya saya jabarkan dalam nice homework kala belajar di kelas matrikulasi. Salah satu tujuan khusus saya belajar di kelas bunda sayang adalah untuk memahami ilmu pengetahuan dasar dalam mendidik anak dan mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya pas sekali saya menempuh kelas ini bersamaan dengan tahapan tumbuh kembang anak-anak. Strategi yang harus saya persiapkan untuk menuntut ilmu di kelas belajar ini antara lain

1. Time Management
2. Mengikuti Kajian Keagamaan
3. Belajar Parenting dan Kelas Belajar sesuai suka bisa
4. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital
5. Networking.

Baca juga : Refleksi Diri 2018

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, ada beberapa sikap yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. Berkaca dari kelas-kelas belajar yang sudah dan sedang saya jalani maka saya pikir ada beberapa hal yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan lebih berkah dan bermanfaat antara lain:

1. Memperhatikan waktu kehadiran dan membuat alarm khusus untuk masing-masing kelas belajar
Saya berusaha untuk lebih aktif dan sebisa mungkun sebelum fasilitator atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di ruang belajar.

2. Mengosongkan gelas
Ilmu akan terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan meskipun materi yang dibahas sudah pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru
Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan agar bisa menuai ilmu lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus
Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Bagi saya yang visualis mengikat ilmu akan lebih melekat jika dicatat kembali dalam jurnal. Selain itu saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah disimpan ke dalam drive dan dibagikan kembali. Poin penting yang harus diperhatikan adalah dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital sehingga saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Gambaran Belajar di Kelas Bunda Sayang

Ketika berdiskusi ada kalanya Fasilitator menyampaikan jawaban yang dirasa kurang tepat, sebagai seorang pembelajar yang baik hendaknya kita mencoba memahami karena fasilitator pastilah memiliki panduan dan referensi yang bersumber dari dapur nasional. Apabila ada hal yang masih mengganjal kita bisa menyampaikan kepada fasilitator secara pribadi dan bersikap lembut serta beradab di dalam menyampaikan. Sesungguhnya menerima nasehat itu diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Oleh karena itu, harus ditemukan kunci untuk membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Ketika jadwal diskusi di dalam kelas belajar sudah ditetapkan, materi sudah diposting di GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, maka yang perlu dilakukan sebagai pembelajar yang beradab baik adalah membuat mind mapping sesuai dengan gaya belajar saya ke dalam jurnal belajar. Catatan penting dalam bentuk digital saya simpan ke dalam drive khusus selama belajar di kelas bunda sayang yang nantinya saya jadikan referensi belajar dan mempraktekkannya. Di setiap level, nantinya akan ada tantangan 10 hari, dimana kita sebagai pembelajar
perlu menuliskan pengalaman dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya kita ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugas yang lebih bermartabat. Membuat setoran asal-asalan agar tepat waktu sangat tidak dianjurkan jika kita sudah berkomitmen dalam proses belajar. Kalaupun terdapat kendala sebaiknya dikomunikasikan kepada fasilitator dan kita harus berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat tugas yang berkualitas dan bisa tepat waktu. Dalam proses belajar pasti banyak materi belajar yang bermanfaat, namun sebagai pembelajar yang beradab dan terikat code of conduct sebuah institusi belajar maka sikap yang lebih bermartabat sebaiknya kita menulis review dari sudut pandang sendiri serta menyertakan sumber referensi materi atau pustaka yang mendukung tulisan tersebut. Ada kalanya setelah membagikan tulisan bermanfaat kita mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan kelas bunda sayang secara pribadi namun dalam hal ini saya tidak mempunyai hak untuk mengajarkannya. Untuk mengisi di kelas belajar ibu profesional seseorang harus melalui tahapan belajar (training) tersendiri. Apabila kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan maka cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Etika yang perlu diperhatikan ketika
ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri adalah menyampaikan kepada fasilitator dengan santun kendala dan alasan apa yang mendorong kita sehingga memutuskan untuk cuti atau mengundurkan diri. Bagi saya pribadi, mindset dan sugesti dalam diri itu penting demi tercapainya suatu tujuan yang ingin kita capai. Jangan pernah berpikir untuk berhenti karena kita harus ingat apa yang membuat kita memulai. Sedangkan kuota Bunda Sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota. Sementara itu, ada peserta yang sudah terdaftar, tapi mundur di tengah jalan maka konsekuensi yang harus diterima oleh member yang terpaksa mundur apabila ingin belajar kembali di kelas ibu profesional harus memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan Allah mampukan dan mudahkan ikhtiar saya dalam proses belajar di universitas kehidupan ini 😇