Tantangan Hari Ke-5 : Belajar Menghindari Gaya Komunikasi Parentogenik

“Faris lagi main apa sih kok berisik banget suaranya? ” tanya saya pada Faris yang sedang melempar dan menuang mainan mobil-mobilannya.

“Itu loh ma, lagi mainan mobil.”Jawab Faris.
“Mainan mobil kok sampe kaya gitu suaranya, nak? Pelan aja loh..bisa rusak mainan Faris kalau cara mainnya begitu.”saya mulai mengingatkan.

Tiba-tiba mainan excavator yang sedang dimainkan Irbadh lepas bautnya dan…

“Mamaaa…. gimana nih?”tanya Faris dengan raut wajah sedih.

“Yah, itu sih bautnya lepas n ga bisa dipasang lagi. Udah nggak bisa dimain lagi lah Fa kalo rusak.”timpal saya.

” Mas.. Mas.. rusakin.” kata Irbadh.

“Maaf yah, Bad gimana dong ini betulinnya. Mas Faris nggak bisa.” Faris merasa bersalah dan panik.

“Udah jangan diapa-apain dulu, Mas. Coba cari bautnya yang lepas ada nggak?” tanya saya.

“Ada nih, Ma.”

“Oke,simpan dulu di rak nanti Faris minta tolong Papa untuk bantu betulin.”

“Iya..,” sambil mengemas mainannya yang rusak.

“Jadi Faris udah tau belum kenapa mainannya bisa rusak?” pancing saya.

“Ya, rusak orang Faris beresinnya cepet-cepet sampe kelempar,” jawabnya.

“Mama minta lain kali Faris pelan dan hati-hati kalau mainan atau beresin mainannya. Nggak harus buru-buru sampai dilempar-lempar kaya tadi. Kalau kesusahan boleh minta tolong yang bagus gitu loh, Nak.” nasehat saya.

“Iya.. Iya..,” jawab Faris agar masalah segera selesai.

Saya ulangi kembali bertanya padanya, “Jadi Faris udah tau belum kesalahannya tadi?”

“Udah, udah.. besok nggak gitu lagi. Maaf ya Ma,” jawab Faris sambil cengar cengir.

Sore hari ketika Papanya pulang. Seperti biasa anak-anak selalu menyambut dengan riang. Semuanya sibuk mencari perhatian dengan bercerita tadi siang main apa, baca buku apa dan memperlihatkan hasil bebikinan dari mainan konstruksi mereka masing-masing.

Ketika Papanya masuk kamar, Faris kemudian berkata, “Pa, excavator Irbadh yang hijau rusak. Bautnya lepas, tapi..tapi Mas Faris nggak bisa betulin.”

Hmmm..rupanya Faris masih ingat dan membuat pengakuan sendiri, berarti benar dia merasa bersalah.

“Rusak?” tanya Papanya.

“Tadi nggak sengaja.. nggak sengaja rusaknya. Tadi mas Faris beresin ke dalam kontainer tapi pas dimainin Irbadh tiba-tiba lepas bautnya.”kata Faris jujur.

“Kok bisa lepas sih Faris.. Faris..kalau punya mainan kan harus dirawat. Jangan dirusak-rusakin.”

“Hm, iya.. tapi..tapi tadi rusaknya nggak sengaja, Pa.” masih terus membela diri.

Kemudian dia berdiri dan menjauh hendak menunjukkan mainan excavatornya yang rusak.

“Papa marah nggak? Papa nggak suka ya kalau anaknya ngerusakin?”

“Nggak, Papa mau tau kenapa kok bisa rusak mainannya itu tadi gimana ceritanya?”

“Tadi Faris lagi mberesin mainan terus Faris cepet-cepet Pa. Terus Faris tuang aja semua ke dalam box biar cepet.”

“Terus kok bisa lepas bautnya itu kenapa?”

“Terus paa dimainin Irbad malah copot bautnya Pa. Terus nggak bisa dibetukin lagi.”, sambung Faris.

“Oh, tadi Faris beresinnya buru-buru ya pas masukin ke box. Pasti dilempar ya letakinnya?” tanya Papanya pelan.

“Iya, soalnya pengen cepet selesai tapi pas dimainin Irbadh malah lepas bautnya, “jawabnya lagi.

“Oh gitu, yasudah coba bawa sini excavatornya Papa lihat dulu.”

“Ini, Pa.” Sambil menyodorkan mainannya. “Masih bisa dibetulin nggak, Pa?”

“Masih kok, cuma kayanya ini ada satu baut lagi yang hilang. Lain kali lebih hati-hati lagi ya,” kata Papanya sembari mencoba merepair excavatornya.

“Maaf ya Pa, jadi rusak mainannya.”

“Iya, lain kali hati-hati ya dirawat mainannya. Dah dikasih rezeki sama Allah harus dijaga, jangan dirusakin.”

Dan saya berusaha menyelipkan refleksi pengalaman. Ya! semua orang pernah berbuat kesalahan, apalagi yang tidak disengaja..
Saya juga pernah tidak sengaja memecahkan meja, gelas dan piring ketika kecil.

Bisnillah, saya mencoba membuka percakapan bersama Faris. Kami berdua memang senang berbagi cerita, baik cerita sedih, lucu, bahagia bahkan cerita masa kecil saya.

Saya pun memiliki waktu yang pas dan tenang untuk menyelipkan pesan. Saya rasa itu perlu, agar anak tidak merasa kami menganggap dirinya selalu salah. Semoga pesan nasihatnya tersampaikan šŸ˜Š

Jadi teringat sebuah tulisan bunda Elly Risman, M.Psi yang menyatakan bahwa ada 12 parentogenik penghambat komunikasi yaitu:
1.Memerintah
2.Menyalahkan
3.Membandingkan
4.Meremehkan
5.Mengancam
6.Mengeritik
7.Memberi cap
8.Membohongi
9.Menghibur
10.Menasehati
11.Menyindir
12.Menganalisa

Tanpa sadar sudah seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, baik ketika ada masalah, maupun tidak.

Dalam hal ini kami sedang belajar menghindari di antaranya ketika anak sedang ada masalah. Kami mencoba tidak menyalah, memberi cap dan menasehati di saat yang tidak tepat.

Nasehat yang baik bisa menjadi tidak efektif jika dilakukan di waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak tepat, meskipun maksudnya baik. Ketika menasehati dengan menyalahkan perbuatannya, bisa timbul kesal dan menjadi penghambat komunikasi. Anak perlu diterima perasaannya dahulu, agar merasa dihargai, tidak selalu merasa disalahkan sehingga bisa tumbuh menjadi percaya diri.

Memberi nasehat sebaiknya tidak menggurui, akan lebih baik jika memasukkan refleksi pengalaman di dalamnya, seperti “Nggak papa kok..kan nggak sengaja. Mama pun pernah menjatuhkan barang dan pecah. Mama minta maaf ya, boleh kita bereskan sama-sama.”

Yang kami pelajari hari ini:

šŸ’ŒMengatakan dengan ringkas dan jelas (kaidah Keep Information Short & Simple) agar anak mampu memahami setiap kalimat yang kita sampaikan.

šŸ’ŒBerbicara dengan pelan, tidak terlalu cepat dengan intonasi suara dan bahasa tubuh yang sesuai.

šŸ’ŒBerempati, menerima perasaan anak sehingga membuatnya lebih nyaman.

šŸ’ŒMenggunakan kalimat positif, tidak menyalahkan, memberi cap “memang kamu selalu rusuh, tidak hati-hati dan membuat berantakanšŸ˜³” dsb.

šŸ’ŒFokus pada solusi

Terima kasih untuk hari ini ya, Faris sudah mau jujur dan Papa mau belajar komunikasi produktif bersama šŸ˜˜. Kita harus terus latihan..latihan..latihan.

#Hari5
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Tantangan Hari Ke-4 : Belajar Membuat Kesepakatan dengan Anak

Hari ini suami ada agenda mengikuti perlombaan bola di komplek. Anak-anak pun merengek untuk ikut bermain. Kemarin Papanya memang sudah janji mau mengajak anak-anak kesana. Sampai disana

Saya: “Faris..duduk sini dulu yuk.”

Faris: “Faris mau main bola.”

Mama: “Iya, Faris udah nggak sabar ya mau main? Faris mainnya sebentar aja ya. Kalau orang-orang udah mulai main, istirahat di pinggir ya. Jangan masuk ke dalam lapangan.”

Faris: “Iyaa..”

Saya mengulangi bertanya sambil menatap tegas ke matanya “Kalo Mama ajak ke pinggir nanti, Faris harus..”.

“Nurut”, katanya. Sip . Semoga ia mematuhi.

Dan berlarilah Faris dan Irbadh ke tengah lapangan, mereka main bola berlarian bersama teman yang lainnya. Sementara saya mengawasi dari pinggir lapangan. šŸ˜Š

Meski sudah dibriefing di rumah sebelum kita berangkat, tetap saya ulangi lagi kesepakatan kita. Ternyata main bola selama 15 menit itu lama yaa..tapi kayaknya kalo lagi asyik bermain, tetap rasanya kurang bagi anak. Jadi harus jelas kapan time outnya.

Sementara Faris bermain,saya duduk menunggu di pinggir lapangan. Sembari menulis sambil mata saya terus mencari-cari sekarang anak-anak sedang main di sebelah mana? Eh, tidak lama anak-anak datang minta minum. Mereka saya ajak duduk sambil minum.
Tidak terasa perlombaan akan segera dimulai, wasit sudah mulai bersiap memimpin permainan.

“Faris, sudah mau dimulai nih lombanya. Nanti kalo Mama panggil,berarti Faris sama Irbadh harus ke pinggir yaa..”

“Belum,belum..Faris masih mau main”, protesnya

“Iya..nanti kalo wasit sudah niup peluit mama panggil Faris ya.”

Kemudian anak-anak berlari ke tengah lapangan.

Selama pertandingan berlangsung, anak-anak tidak sulit untuk dikondisikan. Namun tidak berapa lama kemudian mereka mulai bosan mungkin karena belum ada temannya yang datang. Awalnya Irbadh mulai merengek minta pulang karena bosan.

“Ma, yok kita pulang yok.”, pinta Irbadh.

“Tunggu bentar ya, sabar ya..ntar kita beli es krim deh kalau Papa menangšŸ˜‹.”

“Tapi Faris maunya yang coklat, Irbadh vanila ya.” kata Faris.

“Nggak, Mas. Ibad coklat, mas vanila.” kata Irbadh.

“Udah, jangan godain adiknya mas. Kita nanti makan es krim sama-sama ya.”

Akhirnya mereka mau duduk dan menonton pertandingan kembali.

Tidak lama setelah pertandingan penyisihan selesai kami memutuskan untuk mampir ke minimarket di dalam komplek. Kami masuk ke mininarket. Saya membiarkan anak-anak menuju kulkas es krim dan memilih es krim sesuai perjanjian tadi.

Selesai saya membayar, Irbadh tidak sabar ingin membuka es krimnya dan saya berkata nanti di rumah kita makan es krimnya. Dia pun menyetujui dengan syarat ia ingin membawa sendiri es krimnya. Dalam perjalanan saya sudah antisipasi kalau mereka kembali berebut untuk segera makan es krimnya.

Alhamdulillah.. Tidak lama, kami sudah sampai rumah. Mereka langsung buru-buru turun dan meminta saya untuk membukakan es krimnya. Sesuai dugaanšŸ˜

Kemudian saya menginstruksikan, “Ayo siapa yang mau makan es krimnya? Kita cuci tangan dan kaki dulu yah. Saya peluk anak-anak sambil menuntun mereka menuju kamar mandi. “Faris, Irbadh ayo kita cuci tangan dulu.”

“Siapa mau makan es krim? “kata anak-anak.

“Sabar ya, Mama siapin tempat sama sendoknya dulu ya, ” kata saya.

“Siap, makasih Ma. Mama seneng nggak kalau anaknya nurut?”

Yang menarik dari komunikasi kami hari ini:

šŸ’ŒSaya belajar kaidah clear & clarify ketika membuat kesepakatan dengan anak.

šŸ’ŒAnak-anak belajar mengendalikan emosinya,meski masih mau main bola. Mereka pun belajar menepati janji,sesuai kesepakatan.

šŸ’ŒSaya belajar menerima dan mengerti perasaan anak

šŸ’ŒFaris belajar menerima, memilih dan memutuskan tanpa paksaan sehingga kita bisa pulang tanpa ada drama nangis dan teriakan.

Alhamdulillah dengan kemauan belajar komunikasi produktif ternyata tantrum bisa dicegah yaa. Semangat, belajar sama-sama ya, Nak. Terima kasih selalu jadi anak yang baik šŸ˜˜.

#Hari4
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Belajar Menggunakan Kalimat Positif agar Anak Mau Mengikuti Instruksi

Entah kenapa weekend ini terasa sangat random bagi saya. Pikiran saya kemana-mana, ditambah list deadline project menulis yang harus segera saya cicil demi kewarasan pikiran saya yang mulai campur aduk ini. Weekend ini saatnya saya menata diri, menata hati, mengelola pekerjaan dan emosi sebagai bekal amunisi seminggu ke depan. Kalau sudah pada titik jenuh berarti saya butuh tidur barang beberapa menit. Kepala rasanya sudah sangat berat dan ngantuk parah. Sepulang berbelanja kebutuhan dapur saya memutuskan untuk istirahat dan tidur.

Setelah shalat dzuhur saya curhat sama suami perihal Irbadh yang sedang belajar dalam proses memahami sebuah perintah. Tidak berhenti disini, saya pun merasa Faris sedang menguji kesabaran saya dengan keusilannya ketika terkadang tidak mau mendengar dan melaksanakan instruksi saya. Baiklah ini tantangan, Mak bukan masalah yang pelik itu sugesti saya dalam hati.

Namanya balita, perlu cara berbicara khusus, supaya mereka mau mendengarkan kata-kata orang tuanya dan memahaminya. Gimana caranya? Belajar teknik berkomunikasi lagi, Mak.~sambil tunjuk diri sendiri.

Kenapa sih anak balita ini sulit untuk mematuhi perintah? Berdasar referesi yang saya baca hal ini disebabkan karena perkembangan pertumbuhan mereka belum siap untuk menginternalisasi apa yang orang tua katakan. Sehingga, kita pun perlu menyampaikan dengan kalimat sederhana dan mengulang kalimat berkali-kali. Jangan suudzon dan curiga dulu ya, Mak. Tidak ada yang salah dengan mereka kok?
Hmmm. Terus gimana dong ya?
Well, bisa jadi, masalahnya bisa terpecahkan jika saya mencoba memperbaiki cara berbicara kepada para balita. Karena, mereka memang masih perlu dibantu untuk lebih fokus mendengarkan mamanya. Plus, satu balita dengan yang lainnya punya kemampuan fokus yang berbeda. Barangkali memang perlu lebih ekstra untuk membantunya.

Seperti tadi ketika kami dalam perjalanan dan berada di dalam mobil, anak-anak mulai menguji kesabaran saya dan suami.

Saya: “Faris, Irbadh ayo duduk yang rapi!”

Faris: (tidak menggubris sambil ketawa-ketawa tetap berdiri di kursi belakang)

Saya: “Faris, ayo duduk kita lagi di jalan. Faris jadi penumpang. Kalau penumpang sebaiknya duduk nggak?”

Faris: “Emang Mama liat?”

Saya: “Meskipun Mama nggak lihat, Allah selalu lihat dan tahu loh Faris ngapain termasuk apa yang ada dalam hati dan pikiran Faris. Ayo duduk, Fa. Kan Faris dah baca buku tentang keselamatan di jalan. Kalau Faris di jalan maka harus du…duk, terus mengenakan seatbelt.”

Faris:”Iya..iya Faris tau.” (dengan nada meninggi)

Saya: “Kok gitu Faris ngomongnya? Mama nggak suka kalo anaknya ngomongnya nggak sopan. Malu ah.”

Faris:(masih lompat-lompat dan belum juga duduk).

Suami:”Faris ayo duduk, kalau jadi penumpang harus duduk.”

Faris:”Emang kenapa kok harus duduk?” (semakin menguji kesabaran, Faris cengengesan dan memancing reaksi saya akan bagaimana)

Saya:”Ayoklah duduk, kalau nggak duduk kita nggak jadi berangkat ajalah.Kan berbahaya kalau nggak duduk bisa kelempar badan Faris kalau Papa lagi ngerem”(Saya menjaga kontak mata. Berusaha berbicara tegas namun nada rendah)

Saya dan suami diam menunggu anak-anak duduk.

Faris:”Udah nih, Ma. Yok jalan yok Pa.”

Saya diam. Faris nampak kesal sendiri, saya bertanya apakah dia mengerti kenapa saya tidak suka jika ia sulit diberi pengertian? Supaya jelas bahwa bukan Faris yang tidak saya sukai..tetapi sikapnya yang seperti itu.

Saya:”Faris tau kenapa Mama marah?”

(Masih diam,tidak menjawab)

Saya:”Mama marah karena Faris nggak nurut nasehat Mama.”

(Masih tidak menjawab)

Saya:”Mama nggak suka kalo Faris melakukan yang nggak bagus padahal Faris tahu itu nggak baik untuk dilakukan.”

Faris:”Iya..iya Faris tau. Mama nggak suka kalau anaknya nggak nurut kan.”sambungnya

Saya:”Mama sayang Faris, tapi Mama nggak suka kalau Faris nggak jadi anak yang baik.”

Faris:”Faris minta maaf Ma,tadi itu nggak sengaja.”

Saya:”Kalo Faris udah Mama bilangin berkali-kali tapi nggak dilakuin itu sengaja namanya..”

Faris:”Itu tadi lupa, Ma.” (masih ngeles)

Saya:”Faris mau janji berubah jadi anak baik?Nurut kalau Mama nasehatin? Nyontohin adiknya yang baik?”

Faris:”Janji..Iya.. Iya.. nggak gitu lagi.Maaf ya Ma.” (Alhamdulillah.. šŸ˜Š)

Saya:”Ma, maafin Faris ya.” (sambil meluk dan menyandar dari belakang kursi)

Suami pun ikut memuji Faris sambil bilang kami sayang dan mau Faris jadi anak yang baik.

Setelah suasana mencair, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Yang kami pelajari dari latihan hari ini:

šŸ’ŒMenggunakan “pesan saya” untuk memberikan alasan. Mama (tidak suka) + jika kamu + (sikap) + karena (alasan)

šŸ’ŒClear and clarify
Jelas memberikan kritik (membedakan perilaku anak yang tidak disenangi dengan pribadi anak)

šŸ’ŒMemberi kesempatan anak untuk berpikir dan memutuskan

šŸ’ŒSaya sepertinya masih salah di awal komunikasi, karena kurang memberikan empati ketika Faris mau mainan di dalam mobil, dan kami terburu-buru agar segera sampai rumah sehingga berujung aksi cari perhatian.

Kira-kira komunikasi kami tadi itu sudah produktif belum ya..terutama di kaidah “katakan yang kita inginkan,bukan yang tidak kita inginkan”.

Berikut ini beberapa poin yang sedang kami coba terapkan kepada anak-anak supaya mereka mau mendengarkan dan lebih fokus memahami maksud dari yang kami sampaikan

1. Kita sebaiknya mendekati anak-anak dan tidak berteriak dari tempat yang jauh jika ingin menyampaikan sesuatu. Karena kalau kita berbicara dengan nada melengking dan dari kejauha maka, anak-anak akan berpikir bahwa pesan yang ingin kita sampaikan tidak terlalu penting untuk didengar. Penting juga bagi mereka jika kita berbicara pada level mereka dan disertai dengan kontak mata.

2. Mencoba untuk tetap tenang. Berteriak kepada anak, terutama balita, adalah cara berbicara dan komunikasi yang paling buruk. Apabila kita terlalu sering berteriak maka anak-anak semakin tidak peduli apalagi mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Cara berbicara yang lembut dan tenang ini juga efektif digunakan saat meredakan marah atau tantrum lho. Tapi hati-hati, jangan sampai emaknya ikutan tantrum.

3. Menggunakan kalimat positif
Anak usia balita pada dasarnya memang baru belajar memahami perintah atau instruksi. Jadi, semakin banyak perintah atau instruksi diberikan, semakin sulit bagi mereka untuk mengerti. Terlebih lagi, balita-balita ini juga baru belajar mengenal konsep ‘tidak’ dan ‘jangan’.
Sebisa mungkin orang tua haruslah membuat kalimat perintah positif dan sederhana. Karena, dengan memberikan perintah ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’, maka mereka malah makin melakukannya. Karena ya itu tadi, mereka masih bingung antara “tidak boleh” dan “boleh”.

4. Memberikan Pilihan
Banyak aktivitas sehari-hari yang memang harus dikerjakan, maka kita pastinya harus memberikan perintah atau instruksi kan Mak. Supaya anak balita mau mengikuti instruksi kita maka kami mencoba lengkapi dengan kalimat pilihan. Dengan cara ini, secara tidak langsung akan membuat anak mengerti bahwa kita sedang menginstruksikan untuk melakukan sesuatu sekaligus mengenalkan bagaimana cara memilih dan saling bekerja sama.

5.Memberi Instruksi beserta Alasannya
Apabila kita memberikan instruksi sebaiknya kita berikan mereka penjelasan serta alasan yang masuk akal, mengapa mereka harus melakukan instruksi tersebut. Dengan adanya penjelasan ini maka kita dapat menunjukkan kepercayaaan bahwa anak-anak bisa melakukannya.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tantangan Hari Kedua : Komunikasi yang Mencerahkan Membimbing Menuju Solusi

Berkomunikasi dengan anak membutuhkan kepiawaian lingustik dan ketepatan memilih merode berkomunikasi (luwes). Sebagai contoh, kesulitan saya berkomunikasi dengan anak terutama adalah ketika saya menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saya lebih sering menggunakan teknik using choices to reach goal. Kunci tercapainya komunikasi dengan anak menurut saya salah satunya dengan teknik reframing sehingga menempatkan makna positif pada setiap kejadian yang saya alami. Semoga saya bisa meluaskan makna atas kejadian-kejadian yang saya alami sehingga semakin baik pula saya mengendalikan emosi. Berikut ini cuplikan cerita belajar komunikasi produktif keluarga kami hari ini.

Episode 1

Pagi ini seperti biasa saya dan anak-anak mempunyai jadwal khusus untuk mengolah sampah dapur. Jadi ceritanya hari ini saya tidak memasukkan sisa konsumsi kemarin ke dalam komposter melainkan membuat lubang galian tanah. Bukannya apa-apa komposter embernya belum sempat dicek dan diaduk oleh suami sehingga saya belum tahu progresnya seperti apa. Lama nggak mencangkul ternyata lumayan menguras energi. Yah, beginilah tantangannya menggali tanah kalau tanpa alat yang memadai. Capekk bukkkšŸ˜… Sedangkan Faris malah sibuk mencari sandal, dan “nggupuhi” (istilahnya apa ya kalau dalam bahasa Indonesia? šŸ˜‚) mau ikut membantu juga.

Saya lagi sibuk menggali-gali tanah, Faris makin rempong dan bingung takut ketinggalan.

Faris: “Haduh… mana sih sandal Faris yang satunya? Make sandal Irbadh aja ah. ”

Irbadh: “Nggak Mas!” (mulai merengek sambil bilang menolak pernyataan mas-nya)

Mama: “Jangan mas, jangan godain adeknya. Gimana kalau Faris cari dulu sandal satunya? Pasti lebih keren kalau pakai sandal Faris sendiri karena ukurannya pasšŸ‘”

Faris:”Ma, ini ma irbadh malah nangis minta sandalnya kaya orang rebutan aja.”

Mama:”Faris, irbadh minta sandalnya cuma belum jelas ngomongnya, nggak rebutan kok. Adenya takut ketinggalan aja. Faris tolong bantuin ya Irbadh pakai sandal.”

Faris:”Iya, Ma.”

Setelah berakhir drama sandal akhirnya anak-anak ikut nimbrung mengurus sampah. Dan berlanjut untuk siap-siap mandi tanpa banyak hambatan yang berarti.

Tidak mau membuang kesempatan untuk latihan komprod saya memulai percakapan.

“Faris, seneng nggak tadi bantuin Mama? Waah..Faris cinta bumi ya šŸ˜Š. Kalau Mama ke depan duluan Faris nggak perlu panik dan cepat-cepat lari kaya tadi ya. Kan Mama nggak kemana-mana, Faris cari dulu sandal Faris, temani adeknya juga harus sama-sama.”

Faris:”Tapi..tapi Faris maunya yang cepet Ma.”

Mama:”Allah nggak suka orang yang buru-buru, Mas. Ada tuh hadis yang bilang,” Bertakwalah kepada Allah , sabarlah, dan jangan engkau terburu ā€“ buruā€œ (sambil saya terus mengingat benar nggak apa yang saya ucapkan)

Faris:”Iyaa Ma, iya..Berarti lain kali Faris nggak gitu lagi..maaf ya Ma, tapi Faris tadi lupa.”

Mama:”Iyaa..šŸ˜š Maafin mama juga ya Mas soalnya Mama tadi buru-buru kan kita mau datang ke acara pagi-pagi jadinya Mama juga mau cepet selesaikan buang sisa-sisa makanan biar nggak kesiangan.”

Faris:”Kenapa Mama juga buru-buru tadi? Harusnya nggaklah, Ma. Katanya Allah nggak suka sama orang yang buru-buru?”

Mama:”Iya, besok-besok kita jangan buru-buru lagi ya, Mas.” (Emak harus kembali lagi introspeksi diri)

Episode 2

Lagi-lagi dan sudah menjadi rutinitas di rumah ini adalah drama kehilangan barang. Tetapi sesungguhnya hilangnya barang di rumah ini bukan hilang yang sebenarnya tetapi perkara “belum” ketemu aja. Pagi ini suami hectic sekali karena ada agenda jalan sehat di kantornya. Jadilah pagi-pagi suami sibuk mencari barang-barang yang akan dipakainya. Melihat pemandangan ini saya sampai bosan tiap hari kok ya selalu bingung mencari barang-barang padahal barang-barang itu sudah ada rumahnya semua. Sejatinya ini hanya perkara mau atau tidak mau meluangkan waktu untuk mengembalikan pada tempatnya. Saya tidak ingin kebiasaan ini menular kepada anak-anak. Di dalam hati, saya sempat berpikir apa saya terlalu berlebihan sehingga terlalu fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk celaan atau keluhan? Tidak jarang keributan di rumah itu karena saya yang terlalu banyak mengomel. Hari ini saya menahan lisan agar tidak keluar keluhan, sabar..sabar..kata saya dalam hati.

~Menegur bukan karena benci, memuji tanpa menjadikan lupa diri. Menegur ada caranya, memuji ada adabnya~

Suami:”Ma, tolong dong lipatin celana kerja papa. Tapi ikat pinggang papa dimana ya? Kok nggak ada?”

Saya: “Oke, tapi Mama nggak tau ikat pinggang papa ada dimana. Ga kelihatan.”

Suami: kasak kusuk masih sibuk muterin rumah sambil mencari ikat pinggangnya.

Saya:”Pa, kalau Papa nggak nyiapin apa-apa yang mau dibawa besok sebelum tidur ya beginilah jadinya pagi-pagi masih rempong nyari-nyari. Selama ini Mama lihat Papa sebenarnya sebelum tidur ingat kan apa agenda besok. Artinya Papa besok bisa lebih baik lagi daripada hari ini.” (sambil melipat baju dan melempar senyuman)

Suami:” Ya besok ingetin lagi ya, Ma biar nggak lupa. Papa sebenernya ingat Ma, cuma eksekusinya yang…yaudahlah Papa berangkat dulu” (sambil tertawa renyah)

Sudah termasuk komprod belum sih, Mak? Mudah-mudahan pesannya nyampe yaa šŸ˜…

Yang kami pelajari hari ini:

šŸ’ŒBelajar menerima perasaan anak. Tidak
meremehkan perasaannya (panik, gelisah, takut,dsb)

šŸ’ŒMemberi solusi,bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu karena justru tidak membawa manfaat.

šŸ’ŒBelajar menegur dengan cara yang lebih baik dengan mengatakan secara tepat apa kesalahan perilakunya. Berusaha menegur “perilaku-nya” bukan karakteristik orangnya.

šŸ’ŒKatakan bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.

Hm..tadi sempat ngobrol juga bersama suami juga dan membahas komunikasi produktif. Sambil ngobrol sambil praktek,hehe..

Ternyata menerima perasaan anak itu penting banget sebelum menasehati. Anak merasa nyaman dan dihargai.
Menasehati juga ada caranya. Bisa diganti dengan menceritakan pengalaman. Terkadang saya suka keceplosan ngomong “Makanya..” terus disambung kalimat menyalahkan šŸ˜„. Dan ujung-ujungnya Faris pun mengcopy dan menerapkan ketika berkomunikasi dengan adiknya. Huft! Ternyata belajar berkata baik itu lebih susah daripada diam. Perlu effort lebih dan harus terus latihan..latihan..latihanšŸ’Ŗ

Suami..terimakasih ya sudah mau ikut latihan sama-sama dan terus mengingatkan saya yang banyak khilaf ini šŸ˜˜ Mudah-mudahan nada bicara dan cara ngomong saya bisa jadi lebih kalem ya? Hihihi

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tantangan Hari 1 : Game Level 1 Komunikasi Produktif

Membaca materi Komunikasi Produktif kelas bunsay, membuat saya lebih banyak memikirkan bagaimana gaya berkomunikasi yang paling pas dengan pasangan. Memang sih banyak perubahan berarti yang saya rasakan setelah mulai belajar enlightening parenting. Kalau flashback beberapa tahun ke belakang memang komunikasi antara saya dan suami kurang produktif dan perlu diubah. Bagaimana pun kita ini satu tim dalam rumah tangga.

Saat ini memang terkadang saya masih sering menyalahkan, menyindir, menyudutkan dan lebih mengedepankan emosi daripada logika. Sebenarnya capek juga yaa..membahas hal yang itu-itu saja, tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Kalau sudah buntu saya memilih untuk diam terlebih dahulu sekedar untuk menenangkan diri dari emosi yang membuncah.

Saya sangat tidak suka kalau suami saya tidak meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Karena ujung-ujungnya nanti pasti bertanya kepada saya lagi, dimana barang A dimana barang B dan itu amat sangat memusingkan bagi saya.

Sudah sering saya ungkapkan ketidaksukaan saya itu. Tapi mungkin memang caranya yang masih salah. Berkomunikasi dengan penghuni rumah yang semuanya laki-laki memaksa saya untuk belajar sabar dan lebih memahami seperti apa sih laki-laki dan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu kepada mereka.

Seperti biasa setelah menyampaikan apa yang mengganjal di hati, suami pasti berjanji untuk tidak mengulangi. Benar, tidak diulangi untuk beberapa waktu. Kemudian beberapa hari diulangi lagi. Saya ingatkan lagi,meminta maaf lagi. Ini perkara kebiasaan. Saya sedang belajar berbenah diri dari dalam rumah dan berharap semua anggota keluarga bisa diajak bekerja sama dalam projek ini.

Saya selalu senang ketika suami saya mau meluangkan waktu sepulang ia bekerja. Faris sangat senang sekali bercerita, dibacakan buku atau sekedar dikomentari hasil bebikinannya. Saya berharap suami bisa mengatur gadget timenya agar punya waktu lebih membersamai anak-anak. Mungkin saya pun terkadang terlalu menuntut dan banyak maunya tetapi waktu kita sangat sedikit, anak-anak besok sudah beda dengan hari ini.

Seperti itulah komunikasi kami. Saya sudah bosan mengingatkan,dan selalu saya menyindir yang lalu-lalu. Daripada kesal berujung marah-marah,saya memilih diam saja dan beraktifitas seperti biasa, mengerjakan pekerjaan domestik dan bermain bersama anak-anak.

Sampai hari ini kebiasaan meletakkan barang di sembarang tempat masih berlangsung. Pemandangan rumah membuat mata saya makin pedih. Sebenarnya mudah bagi saya untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan membereskan semuanya. Tetapi hal ini tidak mendidik apalagi bagi anak-anak. Saya sedang berusaha menanamkan kebiasaan baik dan melatih kemandirian mereka.

Hari ini, pagi-pagi setelah shalat subuh dan ketika anak-anak belum bangun. Saya memberanikan diri membuka percakapan. Menahan, jangan sampai keluar kalimat tidak produktif.

Saya: “Pa, mama mau ngomong”

Suami: “Yuuk..sambil baring-baring”

Saya: “Mama mau ngomong apa yaa?..”

Suami: “Ngomong aja..nggak papa..”

Saya: “Pa, bisa nggak ya kita buat rumah kita lebih rapi?”

(Hiks..masih mencoba membuka percakapan)

Suami: “Mmm…papa minta maaf masih banyak barang-barang yang berantakan. Tar papa beresin deh.”

Saya: “Mama penasaran bisa serapi dan sebersih apa rumah kita kalau coba kita benahi mulai hari ini.” (mencoba memotivasi suami dengan menggambarkan hasil yang saya inginkan)

Papa: “Papa minta maaf ya soalnya lupa ngembaliin barang ke tempatnya lagi.”

Saya: “Bisa kan papa sedikit meringankan pekerjaan Mama dengan mengembalikan barang-barang ke tempatnya lagi?” (menurunkan intonasi meski belum sanggup melihat ke mata suami, padahal penting)

Papa: “Iya.. Iya nanti Papa beresinā˜ŗļø.”

Kemudian kita ngobrol tentang anak-anak lebih banyak sampai waktunya suami harus mandi dan berangkat kerja.

Saya masih terus belajar. Hari ini entah..sudah termasuk komprod dengan pasangan atau belum ya? Tak apa, hitung-hitung sebagai latihan,latihan,latihan..

I’m responsible for my communication results

* * * * *

Hari 1 latihan komunikasi produktif dengan Faris

Episode 1

Hari ini saya berjanji mengajak anak-anak untuk pergi ke perpustakaan untuk memperpanjang masa pinjam buku yang telah dipinjam minggu lalu. Tadi pagi sebelum mandi anak-anak bermain dan membongkar banyak sekali mainan. Tidak cukup satu kontainer, mereka mengeluarkan mainan dari tiga kontaineršŸ˜Ž. Irbadh bermain lego megablok dan Faris masih asyik dengan mainan gigonya. Mainan pun tersebar ke seluruh rumah, mulai dari kamar, ruang tamu bahkan dapur.

Mama: “Anak-anak siapa yang mau bantu Mama membereskan mainan?”

Faris: “Emang kenapa kok diberesin, Ma?”

Mama: “Siapa mau ikut Mama ke perpustakaan?”

Faris: “Faris.”

Irbadh: “Ibad.”

Mama: “Yang mau ikut Mama ke perpustakaan ayok kandangin dulu mainannya baru kita siap-siap.”

Faris:”Tapi Mama bantuin Faris.”

Mama: “Oke, Faris mau beresin sekarang apa lima menit lagi?”

Faris: “Sekarang aja, kan kita mau berangkat. Tapi Mama bantuin, Irbadh juga.”

Mama: “Oke. Mama senang kalau anak Mama rajin.” (memberikan apresiasi sambil memberi pelukan)

Kemudian Faris dan Irbadh bekerja sama mengemas kembali mainannya ke dalam kontainer.

Episode 2
Pulang dari perpustakaan, selepas mencuci tangan dan kaki anak-anak sudah saya siapkan makan siangnya. Faris sedang mengganti pakaiannya dan Irbadh sudah mengambil makanannya.

Faris: “Mana sendok Mas Faris, bad? Kok nggak diambilin sih, ambilin lah.”

Irbadh: “Oke, Mas.” (sambil berjalan ke dapur berusaha mengambilkan sendok dan kembali ke kamar mau mengembalikan ke masnya.)

Faris: “Kok yang ini sih, bukan yang ini. Mas Faris maunya yang besi sama kaya Irbadh.” (intonasi mulai meninggi dan suasana mulai tidak kondusif. Irbadh mulai bingung dan diam).

Saya pun segera menghampiri anak-anak dan bertanya kepada Faris terlebih dahulu.

Mama:”Faris berhenti berteriak dan merengek, Mas. Irbadh pasti lebih ngerti dan suka mendengar masnya kalau berbicara dengan nada yang menyenangkan. Yuk coba Faris ngomongnya yang bagus.”

Faris:”Iya, Ma. Maaf tadi Faris lagi make baju, jadi nyuruh Irbadh ngambil.”

Mama:”Iya, tapi lain kali kalau minta tolong bilangnya yang bagus ya. Kan Faris minta tolong, kalau udah dibantuin jangan lupa bilang apa?”

Faris:”Makasih ya, Bad. Maaf mas Faris nggak sengaja tadi.”

Yey..berhasil,tanpa marah-marah. Biasanya kalau saya tidak bisa mengontrol emosi bisa berakhir dengan omelan.

* * * * *

Hari ini saya coba menulis tantangan game level 1 bunsay#4 dengan 2 anggota keluarga. Tiap hari tentu harus latihan dengan seluruh anggota keluarga tapi besok-besok mungkin tidak saya tuliskan disini,karena kepanjangan dan akan banyak pembicaraan rahasia antara saya dan suamišŸ˜. Postingan seputar proses belajar komunikasi produktif ini saya tulis setelah anak-anak kecapekan dan berangkat tidur siang. Penasaran dengan kelanjutan cerita saya, tunggu kelanjutannya esok.

#Hari1

#Gamelevel1

#Tantangan10hari

#Komunikasiproduktif

#Kuliahbunsayip

#BunsayBatch4

ANTARA TUGAS BELAJAR DAN CODE OF CONDUCT IBU PROFESIONAL

Ilmu itu didapat manakala kita mendekat dan datang pada sumber ilmu. Ilmu juga akan mudah diperoleh manakala kita antusias mencari ilmu. Sebagai seorang pembelajar kita harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati fasilitator dan fokus kepada apa yang disampaikan maka harapannya bisa menuai ilmu dengan lebih banyak. Dalam proses belajar seorang pembelajar tidak boleh sok tahu, dan menyepelekan materi meskipun sudah pernah dipelajari. Mau tidak mau kita harus mengosongkan gelas agar ilmu yang diperoleh lebih berkembang.
Apabila ditanya kenapa saya mengambil

kelas belajar bunda sayang? Ini merupakan salah salah satu komitmen diri untuk mencapai tujuan belajar yang sebelumnya saya jabarkan dalam nice homework kala belajar di kelas matrikulasi. Salah satu tujuan khusus saya belajar di kelas bunda sayang adalah untuk memahami ilmu pengetahuan dasar dalam mendidik anak dan mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya pas sekali saya menempuh kelas ini bersamaan dengan tahapan tumbuh kembang anak-anak. Strategi yang harus saya persiapkan untuk menuntut ilmu di kelas belajar ini antara lain

1. Time Management
2. Mengikuti Kajian Keagamaan
3. Belajar Parenting dan Kelas Belajar sesuai suka bisa
4. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital
5. Networking.

Baca juga : Refleksi Diri 2018

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, ada beberapa sikap yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. Berkaca dari kelas-kelas belajar yang sudah dan sedang saya jalani maka saya pikir ada beberapa hal yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan lebih berkah dan bermanfaat antara lain:

1. Memperhatikan waktu kehadiran dan membuat alarm khusus untuk masing-masing kelas belajar
Saya berusaha untuk lebih aktif dan sebisa mungkun sebelum fasilitator atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di ruang belajar.

2. Mengosongkan gelas
Ilmu akan terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan meskipun materi yang dibahas sudah pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru
Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan agar bisa menuai ilmu lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus
Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Bagi saya yang visualis mengikat ilmu akan lebih melekat jika dicatat kembali dalam jurnal. Selain itu saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah disimpan ke dalam drive dan dibagikan kembali. Poin penting yang harus diperhatikan adalah dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital sehingga saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Gambaran Belajar di Kelas Bunda Sayang

Ketika berdiskusi ada kalanya Fasilitator menyampaikan jawaban yang dirasa kurang tepat, sebagai seorang pembelajar yang baik hendaknya kita mencoba memahami karena fasilitator pastilah memiliki panduan dan referensi yang bersumber dari dapur nasional. Apabila ada hal yang masih mengganjal kita bisa menyampaikan kepada fasilitator secara pribadi dan bersikap lembut serta beradab di dalam menyampaikan. Sesungguhnya menerima nasehat itu diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Oleh karena itu, harus ditemukan kunci untuk membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Ketika jadwal diskusi di dalam kelas belajar sudah ditetapkan, materi sudah diposting di GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, maka yang perlu dilakukan sebagai pembelajar yang beradab baik adalah membuat mind mapping sesuai dengan gaya belajar saya ke dalam jurnal belajar. Catatan penting dalam bentuk digital saya simpan ke dalam drive khusus selama belajar di kelas bunda sayang yang nantinya saya jadikan referensi belajar dan mempraktekkannya. Di setiap level, nantinya akan ada tantangan 10 hari, dimana kita sebagai pembelajar
perlu menuliskan pengalaman dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya kita ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugas yang lebih bermartabat. Membuat setoran asal-asalan agar tepat waktu sangat tidak dianjurkan jika kita sudah berkomitmen dalam proses belajar. Kalaupun terdapat kendala sebaiknya dikomunikasikan kepada fasilitator dan kita harus berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat tugas yang berkualitas dan bisa tepat waktu. Dalam proses belajar pasti banyak materi belajar yang bermanfaat, namun sebagai pembelajar yang beradab dan terikat code of conduct sebuah institusi belajar maka sikap yang lebih bermartabat sebaiknya kita menulis review dari sudut pandang sendiri serta menyertakan sumber referensi materi atau pustaka yang mendukung tulisan tersebut. Ada kalanya setelah membagikan tulisan bermanfaat kita mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan kelas bunda sayang secara pribadi namun dalam hal ini saya tidak mempunyai hak untuk mengajarkannya. Untuk mengisi di kelas belajar ibu profesional seseorang harus melalui tahapan belajar (training) tersendiri. Apabila kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan maka cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Etika yang perlu diperhatikan ketika
ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri adalah menyampaikan kepada fasilitator dengan santun kendala dan alasan apa yang mendorong kita sehingga memutuskan untuk cuti atau mengundurkan diri. Bagi saya pribadi, mindset dan sugesti dalam diri itu penting demi tercapainya suatu tujuan yang ingin kita capai. Jangan pernah berpikir untuk berhenti karena kita harus ingat apa yang membuat kita memulai. Sedangkan kuota Bunda Sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota. Sementara itu, ada peserta yang sudah terdaftar, tapi mundur di tengah jalan maka konsekuensi yang harus diterima oleh member yang terpaksa mundur apabila ingin belajar kembali di kelas ibu profesional harus memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan Allah mampukan dan mudahkan ikhtiar saya dalam proses belajar di universitas kehidupan ini šŸ˜‡

Cerita tentang Bunga Kamboja

“Ini bunga apa Ma?” Pertama kali yang ditanyakan Faris ketika kita menemukan banyak bunga kamboja yang gugur di halaman rumah tetangga kami. “Kenapa kok namanya bunga Kamboja?”
Ini edisi pertanyaan bersambung dari pertanyaan tempo hari. ” Emang bunga kamboja asalnya dari Kamboja, Ma? “

Nama bunga ini memang sama dengan nama sebuah negara tetangga, yaitu negara kamboja. Namun, ternyata bunga cantik ini bukan berasal kamboja.

Pohon kamboja ditemukan oleh seorang botanis berkebangsaan Prancis yang bernama Charles Plumier, oleh karena itulah bunga kamboja mempunyai nama Latin Plumeria.
Yaitu diambil dari nama belakang penemunya, yaitu Plumeria. Bunga ini tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan negara Kamboja sebab bunga ini ternyata berasal dari Amerika Tengah yang meliputi Equador, Colombia, Cuba, Venezuela, dan Mexico.

Kok bisa sampai ke Indonesia?

Bunga kamboja diperkirakan dibawa ke Indonesia oleh bangsa Portugis dan Belanda. Diperkirakan kamboja asli Indonesia adalah bunga kamboja yang berwarna putih dengan bagian dalam berwarna kuning di mana kuntumnya tidak terbuka penuh serta berukuran kecil. Keunggulan tanaman ini adalah bisa tumbuh subur di semua tempat dan mudah ditanam, yaitu dengan stek.

Jenis-Jenis bunga kamboja

Bunga kamboja mempunyai beberapa jenis, yaitu Plumeria Bali-Whirl, Plumeria Kok Putih, Plumeria Acuminata, Plumeria Cendana, dan Plumeria Acutifolia. Setiap jenis ini memiliki bentuk dan aroma yang berbeda. Ada juga Adenium Obesum, biasanya orang-orang menyebutnya dengan bunga kamboja Jepang. Bunga ini bukan berasal dari negeri sakura melainkan dari Benua Afrika.
“Bunga Kamboja”

Bunga kamboja (Plumeria rubra L.cv. Acutifolia.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Amerika tropik dan Afrika. Kamboja termasuk tanaman hias yang ditanam di pekarangan rumah maupun di dalam pot. Kamboja memiliki beberapa jenis, ada yang kerdil ada juga yang besar yang bisa mencapai tinggi beberapa meter. Kamboja yang besar biasa ditanam di tempat pemakaman.

ā€ŒSelain ukuran pohonnya, jenis pohon kamboja juga bisa dibedakan dari daunnya. Ada pohon kamboja yang daunnya lebar dengan ujung lancip, ada kamboja yang daunnya kecil dan lonjong dengan ujung tumpul. Kembang bunga kamboja memiliki aneka warna, dari mulai putih, kuning, merah dan merah muda atau kombinasi dari warna-warna tersebut.

Pohon Kamboja Bisa untuk Apa Saja?

Sekarang pohon kamboja ditemukan di mana-mana, yaitu di halaman rumah sebagai tanaman hias, di makam sebagai penanda, juga di pura-pura di Bali. Sama seperti tanaman hias lainnya, misalkan bunga melati dan bunga kenanga, bunga pohon kamboja juga menyebarkan wangi yang khas sehingga bisa digunakan juga diambil minyaknya dan dijadikan sebagai aromatherapy. Selain bermanfaat sebagai tanaman hias, bunga kamboja juga sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi beberapa penyakit. Diantaranya bisul, kencing nanah (Gonorrhea), bengkak, kutil, kapalan, menghaluskan kulit dan frambusia.

Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah akar, daun, getah, serta kulit pohonnya. Getah Pohon Kamboja (Plumeria acuminata) mengandung senyawa sejenis karet, triterpenoid amyrin, lupeol, kautscuk dan damar. Kandungan minyak mrnguapnya terdiri dari geraniol, sitronellol, linallol, farnesol dan fenetilalkohol.

Berikut ini beberapa pengobatan menggunakan bunga kamboja.

1. Mengobati Bisul
Untuk mengobati bisul dengan bunga kamboja, bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama menggunakan daun kamboja dan minyak kelapa. Daun kamboja dilemaskan dan diolesi dengan minyak kelapa, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang ditumbuhi bisul. Setelah kering ganti dengan daun yang lain.

Cara kedua, menggunakan getah pohon kamboja. Ambil getah kamboja langsung dari pohonnya dan dioleskan pada bagian tubuh yang ditumbuhi bisul.

2. Mengatasi Bengkak
Cara mengobati bagian tubuh yang bengkak adalah dengan kulit pohon kamboja. Caranya, ambil 1 sirap kulit pohon kamboja kemudian ditumbuk hingga halus. Rebus dengan setengah cerek air hingga mendidih. Air tersebut digunakan untuk merendam bagian tubuh yang bengkak jika memungkinkan. Jika tidak, gunakan untuk mengompres.

3. Kencing Nanah (Gonorrhea)
Cuci bersih 1 potong akar pohon kamboja, kemduian direbus dengan dua gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Air ramuan tersebut diminum satu kali sehari sebanyak 1 cangkir.

4. Mengobati Sakit Gigi Berlubang
Untuk mengobati sait gigi akibat gigi berlubang, caranya mudah. Ambil getah pohon kamboja menggunakan kapas, kemudian kapas tersebut dipakai untuk mencocok gigi yang berlubang.

5. Menghilangkan Tahi Lalat
Tahi lalat bisa menambah kecantikan wajah seseorang, namun juga bisa mengganggu. Jika anda memiliki tahi lalat yang mengganggu, bisa dihilangkan dengan menggunakan getah pohon kamboja. Caranya, ambil getah kamboja menggunakan kapas, kemudian tempelkan pada tahi lalat. Lakukan secara rutin sampai tahi lalat hilang dengan sendirinya.

6. Menghilangkan kutil
Caranya sama dengan menghilangkan tahi lalat, yaitu menggunakan getah kamboja. Namun harus waspada karena getah kamboja sifatnya tajam, jadi jangan sampai terkena bagian tubuh yang yang lain.

Bunga kamboja memang kaya akan kandungan emolien dan vitamin E. Selain untuk pengobatan, bunga kamboja juga bermanfaat untuk kecantikan, terutama perawatan kecantikan kulit. Bunga eksotis ini memberikan sensasi melembabkan, melembutkan, serta menambah nutrisi dan menjaga elastisitas kulit.

Referensi :
[1]http://bobo.grid.id/read/08675015/bunga-kamboja-ternyata-tidak-berasal-dari-kamboja
[2]http:/manfaatbuahdaun.blogspot.com/2014/01/manfaat-bunga-kamboja-untuk-kesehatan.html

QLAPA, Tempat Belanja Produk Pilihan dan Unik

Siapa yang tak ingin tampil cantik? Rasanya menjadi cantik adalah keinginan setiap wanita. Definisi cantik itu kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai macam pengertian. Namun, entah mengapa kemudian berkembang stereotype bahwa perempuan cantik itu berkulit putih, berambut lurus dan bertubuh langsing.Ā Akibatnya, para wanita berusaha sekuat tenaga memenuhi kriteria tersebut supaya bisa dibilang cantik. Media yang digunakan para wanita untuk mewujudkan hal tersebut apalagi kalau bukan kosmetika. Akhirnya para perempuan seperti memiliki ketergantungan terhadap kosmetika. Pola pikir mengenai kosmetika untuk memenuhi kriteria ‘cantik’ versi kebanyakan orang itulah yang sebetulnya perlu diubah. Sedari dini, orang tua perlu menanamkan pada anaknya bahwa setiap orang itu unik, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sehingga setiap kita tidak perlu merasa tipe perempuan tertentu itu lebih cantik dari yang lain.

Pola pikir yang salah ini lalu menjadi ladang subur bagi para produsen kosmetika untuk menciptakan beragam produk yang dianggap bisa memenuhi impian kaum hawa. Produsen pun berlomba-lomba membuat produk yang mampu membuat kulit putih nan bercahaya, awet muda tanpa kerutan, membuat rambut terlihat lurus dan tubuh langsing singset. Mereka pun kemudian memproduksi kosmetika yang mampu mewujudkan mimpi perempuan dengan menggunakan segala macam bahan, termasuk bahan-bahan yang dilarang Islam, misalnya dari anggota tubuh manusia. Ngeri kan?

Nah, sebagai muslimah tentunya kita perlu bijak dalam memilih dan menggunakan kosmetika. Penting bagi kita untuk mengetahui bahan-bahan kosmetika yang kita gunakan adalah halal dan thayyib. Memilih kosmetika sebetulnya bukan hanya didasarkan apakah produk itu cocok atau tidak dengan kulit dan tubuh kita. Yang lebih penting adalah terlebih dahulu memilih kosmetika yang natural, halal dan thayyib.

Sudamala, Berkenalan dengan Kosmetika Lokal

Sejak remaja saya menyukai segala sesuatu yang natural dan tentunya buatan lokal, termasuk untuk urusan kosmetika. Di jaman yang serba cepat seperti sekarang ini industri modern berkembang sangat pesat. Hampir semua kebutuhan sehari-hari kita dipenuhi oleh barang pabrikan sedangkan barang handmade adalah barang-barang yang bisa dibilang cukup langka.

Penampilannya mungkin lebih sederhana dan harumnya kurang semerbak dibandingkan sabun mandi buatan pabrik. Tetapi kosmetika homemade ini dijamin halal dan hanya sedikit memakai bahan kimia. Menarik kan?

Kebanyakan dari konsumen seringkali cuek dengan komposisi bahan-bahan dalam sabun mandi. Mungkin sesekali membaca, tetapi hanya dianggap angin lalu karena belum mengerti maksudnya. Padahal setiap konsumen muslim sebaiknya memahami jenis komposisi bahan pembuatan sabun mandi yang terbuat dari lemak hewani.

Saya memang sudah terlanjur jatuh hati dengan produk handmade, terutama kosmetika yang alami dan alhamdulillah saat ini semakin banyak pengrajin yang mulai membuat produk handmade mereka sendiri. Teman-teman adakah yang juga sama dengan saya dan sudah sering membeli produk handmade? Sabun sudamala merupakan sabun mandi favorit saya yang beraroma segar dari essential oil dan memberikan kesan yang istimewa saat mandi. Kesegaran dan leharumannya terasa menenangkan. Sabun ini tersedia dalam banyak varian seperti papaya, rose, jasmine, orange, mango, lotus, cempaka, ylang-ylang, lavender, bengkoang dan lain-lain. Selain sabun mandi, sudamala juga memproduksi lulur mandi, body scrub, bodymist, hsndcream dan aromatheraphy.

Nah, produkĀ handmadeĀ mana yang menarik minatmu? Kini kita tidak perlu jauh-jauh mencarinya, karena sudah banyak pengrajin lokal yang dapat kita temukan di qlapa.com. Teman-teman bisa menemukan beragam pilihanĀ produkĀ handmade berkualitas dengan harga yang terjangkau. Yuk ah #CintaProdukLokal Indonesia agar perekonomian negara lebih maju lagi!

Mencari Produk Unik dengan Harga Murah, dan Langsung dari Pembuatnya?

Tren belanja online kini semakin berkembang dan berinovasi lebih luas di Indonesia. Berkat teknologi digital, kini kita semakin mudah menemukan makanan khas daerah tertentu, corak pakaiannya, tanpa harus mengunjungi toko fisiknya langsung, hanya dengan mengklik website dan tinggal pilih sesuai selera. Kita tidak akan mengalami kebingungan saat ini. Karena di Indonesia, ada situsĀ marketplace online, yang menjual produkĀ handmadeĀ dan kerajinan langsung dari pengrajinnya. MarketplaceĀ ini akan menemukan pengrajin dan pembeli dalam satu situs. Meskipun saat ini agak susah mencari barang handmade dengan kualitas baik, tetapi online shop iniĀ menyuguhkan beberapa produk barang handmade berkualitas tinggi yang tidak hanya indah namun juga unik secara fungsi. Selama ini, kebanyakan orang yang melakukan aktivitas belanja online mungkin hanya mencari barang-barang yang memang sudah banyak dijual di pasaran dan tidak pernah mencari barang-barang yang memiliki tingkat keunikan tinggi seperti barang-barang yang ditawarkan oleh qlapa.com. Faktanya memang barang-barang yang dijual di qlapa.com adalah barang-barang yang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi dan layak dimiliki oleh siapapun. Qlapa merupakan pusatnya produk handmade pilihan yang terakurasi.

Saatnya Belanja Murah Plus Gratis Ongkir, MauĀ Belanja Kerajinan Lokal? Di sini tempatnya!

Lebaran sebentar lagi, momen dimana seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan setelah berjuang melawan tantangan 30 hari berpuasa. Bagi ibu-ibu yang tidak sempat berbelanja untuk persiapan hari raya sekarang bisa mendapatkan segala kebutuhan seperti tas, sepatu kulit, batik, sampai aksesoris unik khas Indonesia dari dalam rumah saja loh. Kabar baiknya kita bisa menyambut hari raya Idul Fitri dengan membeli semua keperluan di Qlapa! Kok bisa sih? Karena di Qlapa ada penawaran yang sangat menarik nih.

Qlapa merupakan sebuah marketplace yang menjual berbagai kerajinan handmade mulai dari batik, tas, sepatu kulit, ikat pinggang, aksesoris, souvenir, dekorasi, sampai kuliner lokal. Ada lebih dari 100 ribu produk yang bisa kita beli, kerennya lagi semuanya langsung dari pengrajin di seluruh Indonesia loh!

Gimana Cara Belanja di Qlapa?
Buat buibu yang udah ga sabar pingin segera merapat ke Qlapa, cara bertransaksi disini gampang banget kok! Jangan kebanyakan mikir buruan langsung aja merapat ke websitenya dan temukan produk yang kita butuhkan.

Lagi Ada Promo Nggak?

Nikmati kemudahan berbelanja produk handmadeĀ dariĀ crafter-crafterĀ terbaik di Qlapa dengan promo gratis ongkos kirim. Apa saja syarat dan ketentuannya?Ā Promo gratis ongkos kirim bisa didapatkan dengan memasukan kode voucherĀ FOREVERĀ pada halaman keranjang. Berlaku untuk minimum transaksi Rp. 350.000.- dengan maksimal subsidi ongkos kirim Rp. 35.000.Jika transaksi dibatalkan, dana yang kembali ke pembeli disesuaikan dengan nominal pembayaran yang dilakukan (tidak termasuk ongkos kirim yang ditanggung oleh Qlapa). Promo ini tidak dapat digabungkan denganĀ voucher atau promo lain yang sedang berlangsung di Qlapa. Syarat dan ketentuan promo ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan danĀ sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya.Ā Udah enggak tahan pengen liat barangnya?Ā Mampir langsung ke lapaknya, yah šŸ™‚

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog QlapaĀ #CintaProdukLokal. Bahan bacaan : qlapa.com, materi halalcorner

Mengunjungi Aquaspace Exhibition and Live Quick Setting di Kepri Mall, Batam

Siapa yang senang memelihara ikan dengan akuarium? Kayaknya kebanyakan anak kecil sangat senang dengan ikan apalagi ikan hias yang dipelihara di kolam atau akuarium di rumah. Membahas mengenai akuarium, ternyata ada juga loh seni akuarium. Mama dan anak-anak senang sekali menonton tayangan serial Tanked di saluran Animal Planet. Wayde King, sang master akuarium, yang tampil dalam setiap episode selalu muncul membawa ide unik bahkan terkadang gila dalam pembuatan akuarium.

Jika teman-teman pernah menonton acara Tanked yang disiarkan di Animal Planet, pasti akan tahu duo master dalam acara tersebut. Kebetulan kemarin secara tidak sengaja saya dan anak-anak berkesempatan untuk berkunjung ke pameran aquaspace di Kepri Mall, Batam. Rasanya semakin penasaran ingin melihat ada apa saja dan bagaimana sih sebenarnya pekerjaan seorang seniman akuarium.

Melalui pameran ini, kami jadi sadar ternyata akuarium di rumah bisa kita rubah menjadi akuarium taman air, dan setelah di praktekan sesungguhnya tidak sulit dan biaya pembuatannya pun relatif murah di banding keindahan yang kita dapatkan. Setiap melihat tayangan Tanked, Faris selalu terkagum-kagum dan berminat mempelajari seni Aquascape ini. Jika kita ingin mempelajari seni ini, syarat yang harus di miliki adalah ketekunan dan daya imajinasi yang kuat, namun bagi pemula hal utama yang perlu dipelajari adalah menyusun material – material di dalam akuarium.

Sebelum kami bercerita panjang mengenai kunjungan kami kali ini, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa sih seni aquaspace?

Bagi sebagian orang mungkin istilah aquaspace terdengar asing, jadi aquascape adalah seni menata tanaman/tumbuhan air tawar di dalam akuarium. Seorang yang menekuni aquspace dituntut untuk bisa membuat simulasi dari suatu ekosistem makhluk hidup baik itu tumbuhan atau hewan dan lebih ditekankan pada ekosistem tumbuhan di alam bebas sedangkan hewan berupa ikan hanya sebagai pelengkap saja. Secara teknis, ekosistem yang terbentuk di dalam akuarium sama dengan ekosistem aslinya di alam bebas.

Belajar Aquaspace, Belajar Menata Isi Akuarium

Sebelum memutuskan untuk mencoba seni aquascape ini, kita wajib memiliki sebuah akuarium, boleh dari bahan kaca atau dari bahan fiber dan beberapa alat pendukung seperti filter khusus, alat penjepit material, alat pengatur suhu air, alat supplai oksigen dan juga cairan penjernih air sampai dengan vitamin atau nutrisi untuk pertumbuhan tanaman yang ada di dalam akuarium agar selalu terlihat hijau dan indah,

Peralatan wajib yang dimiliki jika ingin belajar Aquascape antara lain:

1. Aquarium
2. Filter
3. Lampu
4. Substrate

Ada juga peralatan tambahan agar mendapatkan hasil yang lebih advance, yaitu

1. CO2 : tabung / DIY, diffuser atau reactor, selang CO2, bubble counter
2. Pupuk : pupuk dasar dan/atau pupuk cair
3. Lampu highlight dengan spectrum cahaya yang cocok.
4. Timer listrik
5. Pendingin (fan / chiller)

Untuk hasil yang lebih optimal atau Aquarium High Tech bisa pula kita tambahkan :

1. Filter / powerhead tambahan dengan media yang lebih advanced
2. pH controller
3. Solenoid needle valve regulator untuk CO2
4. Pupuk dasar dan pupuk cair sudah suatu keharusan, lebih keren lagi kalau menggunakan auto dosing pump
5. Sumber air yang soft, misalnya reverse osmosis filtration.
6. Chiller, atau heater.

Membuat aquascape diperlukan ketelitian serta kreativitas dalam membuat dekorasi sehingga tercipta akuarium yang indah. Untuk membuat aquascape ada beberapa bahan yang harus dipersiapkan seperti akuarium, pasir serta beberapa tanaman yang akan ditanam di dalam akuarium.

1. Menyiapkan Dasar Akuarium
Yang harus disiapkan adalah pasir untuk lapisan dasar aquascape. Untuk latihan awal kita bisa menggunakan pasir silica yang memiliki ukuran 4-5 mm. Kemudian pada bagian tengahnya masukan carbon active, yang berfungsi untuk menyerap zat berbahaya yang terkandung pada air yang muncul pada saat awal pembuatan aquascape di aquarium. Carbon active memiliki sifat yang akan merelease kembali kandungan air ketika aquascape berusia sekitar 1-3 bulan. Bahaya nggak sih kandungan carbon tersebut?
Kita tidak perlu kuatir karena pada usia tersebut tanaman yang ada di aquascape sudah mulai stabil sehingga tidak membahayakan.

2. Menyiapkan Pupuk Dasar
Setelah memasang pasir tahap selanjutnya adalah memberikan pupuk dasar yang berfungsi untuk memberikan nutrisi pada tanaman yang ditanam untuk aquascape aquarium. Pemberian pupuk ini hanya untuk jenis tanaman air yang memiliki akar, sedangkan bila tanaman air yang menyerap nutrisi memakai daun seperti Anubias maka kita bisa melewati langkah ini. Perhatikan kualitas pupuk dan jumlahnya sesuai dengan yang ditentukan.

3. Membuat Top Layer dan Harascape
Setelah melakukan pemupukan dasar pada aquascape, langkah selanjutnya menimbun kembali dengan pasir. Untuk penimbunan, kita bisa menggunakan pasir silica seperti yang digunakan untuk membuat pasir dasar. Kemudian dipercantik dengan design dekorasi menggunakan kayu serta batu.

4. Mengisi Air Pada Aquarium
Setelah selesai membuat dekorasi aquascape langkah selanjutnya adalah mengisi air. Setiap aquarium tentu harus ada airnya dong. Tahap mengisi air ini merupakan tahap yang nampaknya mudah akan tetapi bila dilakukan dengan cara yang salah akan berakibat fatal. Biasanya para pemula menuangkan air dengan cara langsung menuang air secara langsung sehingga akan merusak pasir yang dijadikan dasar dari aquascape aquarium. Ini merupakan kesalahan yang sangat fatal karena dapat membuat pasir berantakan dan mengakibatkan pupuk langsung terlarut dalam air. Cara yang benar dalam menuangkan air adalah dengan menggunakan koran atau kertas lain agar air tidak langsung mengenai pasir. Bentangkan koran seluruh penjuru aquarium lalu tuang air di atasnya secara perlahan.

5. Menanam Tanaman Hias pada Aquascape
Langkah terakhir dalam membuat aquascape adalah menanam tanaman pilihan pada tempat yang telah ditentukan. Tahapan ini juga bisa dilakukan sebelum aquarium diisi air.

Sebuah karya aquascape yang telah jadi kadang terlihat sederhana dan mudah untuk dibuat. Tetapi proses mengkreasikan karya seni itu tidak sesederhana yang kita dibayangkan. Ada dua hal utama yang penting untuk diperhatikan, yaitu pengaturan awal dan perawatannya.

Aquascape merupakan sebuah miniatur eksosistem perairan. Agar ekosistem tersebut berjalan dengan baik, maka kunci suksesnya adalah keseimbangan. Langkah awal untuk membangun keseimbangan aquascape adalah dengan menebarkan bakteri starter ke dalam akuarium. Bakteri starter tersebut berguna untuk menyeimbangkan proses biokimia yang akan terjadi di dalam akuarium. Bakteri akan menjadi pengurai limbah organik berupa feses ikan maupun sisa pakan ikan yang tidak dimakan menjadi senyawa yang bermanfaat bagi tanaman.

Setiap aquarist, sebutan bagi perancang aquascape, wajib mengetahui prinsip dari sebuah karya mereka adalah keseimbangan. Setidaknya ada 3 jenis organisme yang ada di dalam akuarium. Yaitu ikan, tanaman, dan mikroorganisme. Tertarik belajar seni aquascape? Buat yang di Batam dan sekitarnya bisa bergabung dengan komunitas Batam Aquaspace Community šŸ˜Š

 

 

Membuat Celengan, Ikhtiar Mengenal dan Menghargai Uang

Beberapa minggu lalu saya sempat mengikuti kuliah whatsapp financial planning bersama teh Patra. Beliau menjelaskanĀ  beberapaĀ  prinsip diantaranyaĀ  :

1.Ā  HARTAĀ  MILIKĀ  ALLAH

– (QS.Ā  Al-Hadid:7).

– (QS.Ā  Maryam:Ā  40).

2. HartaĀ  harus Ā diperlakukanĀ  sesuaiĀ  kehendak Allah AlĀ  BaqarahĀ  262, hartaĀ  yangĀ  dititipkanĀ  AllahĀ  harusĀ  diperolehĀ  dan dikeluarkanĀ  sesuaiĀ  denganĀ  aturanĀ  yangĀ  telah ditetapkanĀ  olehĀ  Allah.Ā  ManusiaĀ  tidakĀ  berhak menentukanĀ  aturanĀ  halalĀ  haramĀ  sendiri.

3. PendapatanĀ  Keluarga
*Penanggung jawab pencariĀ  nafkahĀ  adalahĀ  SUAMI, jadi pastikan rezeki harus dari sumber yang halal.Ā  RasulullahĀ  bersabda: ā€œBarangĀ  siapaĀ  berusahaĀ  dariĀ  yangĀ  haramĀ  kemudianĀ  menyedekahkannya, maka iaĀ  tidakĀ  mempunyaiĀ  pahalaĀ  danĀ  dosaĀ  tetapĀ  diĀ  atasnya.ā€ etikaĀ  RasulullahĀ  shallallahuĀ  ‘alaihiĀ  waĀ  sallamĀ  menikahkanĀ  putrinya, FatimahĀ  denganĀ  AliĀ  radhiyallahuĀ  ‘anhumaĀ  beliauĀ  berwasiatĀ  kepada menantunya: ā€œEngkauĀ  berkewajibanĀ  bekerjaĀ  danĀ  berusahaĀ  sedangkanĀ  iaĀ  berkewajiban mengurusĀ  (memenej)Ā  rumahĀ  tangga.ā€Ā  (HR.Ā  MuttafaqĀ  ā€˜Alaih)
* Istri bolehĀ  membantuĀ  ekonomiĀ  keluargaĀ  (4:2)

4. Menabung

Menabung sebaiknya dilakukanĀ  di awalĀ  sebelumĀ  melakukan pengeluaran. JumlahĀ  tabungan disarankanĀ  sebesarĀ  6Ā  bulan pengeluaran tabunganĀ  yangĀ  melebihi jumlah yang disarankanĀ  bisa digunakanĀ  untuk melakukanĀ  investasi.

5. Pengeluaran Keluarga

Biasanya di bulan Ramadhan dan Syawal banyak pengeluaran yang seringkali tidak terkontrol. Oleh karenanya diperlukan suatu upaya pengelolaan yang lebih terstruktur untuk menghindari kemubadziran dan penyesalan.

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas ada satu topik tentang cara beliau mengenalkan uang kepada anak-anaknya. Saya ingin berbagi pengetahuan yang saya dapatkan dari Teh Patra.Ā Menurut Teh Patra, memang belum ada cara atau patokan yang pasti untuk mengenalkan uang kepada anak-anak. Kalau saya pribadi berharap bisa mengenalkan konsep uang dan karakter uang sedini mungkin sesuai dengan tahapan usianya. Kebanyakan orang tua mengalami kendala bagaimana cara membatasi keinginan anak saat diajak belanja bersama. Bahkan sering kejadian akhirnya orang tua terpaksa ā€œmengalahā€ dan membelikan apa yang diminta anaknya dengan alasan kasihan ketika mereka menangis.

Ternyata cara yang tepat adalah dengan mengenalkan uang pada anak, agar mereka paham bagaimana cara kerja uang. Tujuannya, agar anak-anak bisa memiliki pemahaman yang baik tentang uang, sehingga kelak mampu mengelola uang dengan baik. Beberapa hal penting yang perlu dijelaskan kepada anak-anak

1. Beri pemahaman tentang tujuan keuangan

Darimana kita bisa mendapatkan uang? Untuk apa kita punya uang? Anak-anak perlu memahami cara mengelola uang. Anak-anak juga perlu diberi tahu bahwa dalam uang kita ada rezeki orang lain (yakni memasukkan konsep zakat dan konsep sedekah) yang harus kita berikan kepada orang yang berhak menerimanya. Ajak anak untuk melihat proses pemberiannya.Ā Selain itu, kita bisa juga mulai bertanya kepada anak, ā€œIni uang kakak mau untuk apa?ā€ Anak-anak perlu dibimbing agar konsisten menyimpan uangnya sampai terkumpul untuk memenuhi tujuan yang sudah mereka putuskan.

2. Beri pengertian bahwa untuk mendapatkan uang perlu usaha

Mungkin anak-anak pernah berkata, ā€œKalau uang Papa habis, kan tinggal ambil saja di ATM!ā€ Anak-anak yang pernah melihat orangtuanya mengambil uang di ATM akan mengira ATM sebagai sumber uang. Sama seperti Faris, ia menyangka bahwa ATM adalah sumber uang, disitulah kita perlu memberikan pengertian bahwa uang yang kita ambil di ATM adalah uang tabungan kita sendiri, yang didapat melalui hasil bekerja. Inilah perlunya sesekali mengajak anak-anak ke tempat orang tuanya bekerja, agar mereka bisa melihat langsung dan memahami uang didapat jika kita bekerja. Untuk anak-anak yang usianya sudah lebih besar bisa diajak untuk berjualan atau mendapatkan uang dari hasil karyanya.

3. Beri teladan dengan sikap ketika menggunakan uang

Saya sendiri terkadang sering ditegur oleh anak sulung saya ketika ketahuan melihat-lihat barang-barang di market place, kemudian ia berkata, ā€œMama mau beli apa sih?ā€ Bahkan ia juga sudah pandai protes ketika saya atau Papanya mendapatkan kiriman paket hasil belanja online. šŸ™„

Hal-hal seperti ini ternyata akan terekam di benak anak-anak. Wah, ternyata begini ya cara menggunakan uang. Saya sendiri masih berusaha untuk bisa bijak menggunakan uang. Membuat daftar belanjaan bersama anak adalah salah satu cara yang bisa dipraktikkan saat ingin mengenalkan uang kepada anak. Anak-anak perlu tahu bahwa jumlah uang yang kita miliki itu terbatas, jadi harus dikelola dengan benar agar tidak lebih besar pengeluaran dibandingkan penghasilan.

Teh Patra juga menjelaskan, sebagai orangtua kita tidak boleh mempersempit tujuan keuangan anak. Dulu ketika kita kecil, kalau punya uang pasti diarahkan untuk ditabung. Hasil tabungannya kadang memang kita nikmati dan kadang tidak. Kurangnya kebebasan memutuskan penggunaan uang sendiri membuat banyak orang dewasa yang kurang tepat dalam mengelola keuangan: ada yang terlalu pelit atau terlalu boros. Anak yang sudah terbiasa mengenal uang sejak dini, menjadi bekal bagus untuk masa depannya. Tujuan keuangan anak tidaklah selalu untuk menabung. Jadi mari kita kenalkan anak pada esensi uang agar mereka kelak bisa mengelola uang dengan baik, Mak.

Membuat Celengan, Ikhtiar Mengenal dan Menghargai Uang

Celengan merupakan tempat untuk menabung uang (koin) yang dulu ketika Mama masih kecil berbentuk binatang, rumah, semar, singa yang biasanya terbuat dari bahan tanah lempung (ketahuan kan angkatan tahun berapa). Namun saat ini celengan tidak hanya berbentuk hewan saja namun beraneka rupa dan warna. Celengan berasal dari bahasa Jawa, dimana masyarakat jawa itu senang dengan bahasa yang simpel, untuk memudahkan dalam mengingat dan mengucapkan. Celeng merupakan gabungan dari dua kata yaitu Ce dan leng. Ce yang berarti “Cemplungke” atau masukkan dan leng yang berarti lubang. Kurang lebih maknanya adalah suatu lubang tempat untuk memasukkan atau bersembunyi/tinggal.

Celengan biasanya terbuat dari keramik atau porselen. Celengan bertujuan untuk mengajarkan kepada anak untuk berlatih menabung. Pada celengan tradisional, uang dapat dengan mudah dimasukkan, namun jika ingin mengambil uangnya, celengan tersebut harus dipecahkan. Tapi celengan jaman nowĀ biasanya memiliki lubang karet pada bagian bawahnya, untuk memudahkan dalam mengambil uang yang disimpan dalam celengan tersebut. Ini nih yang membuat uang tabungannya tidak terkumpul karena bisa dibuka-buka hehe..

Celengan sesungguhnya bertujuan untuk mengajarkan kepada anak untuk menabung. Selain mengajarkan, menanamkan perilaku budaya gemar menabung sejak dini ada maksud tujuan lain terselip dari celengan ini, supaya mengajarkan kebiasaan hemat pada anak-anak dan tidak mudah membelanjakan uangnya untuk hal yang kurang penting atau mendesak.

Teman-teman, kita juga bisa membuat celengan dengan menggunakan kardus bekas loh. Pemanfaatan barang bekas ini selain ikut menjaga kelestarian lingkungan juga mengajak anak berkreasi dengan barang yang sudah tidak digunakan. Banyak perajin seni mampu membuat benda-benda yang berguna, baik dari bahan yang baru maupun barang bekas. Berhubung Sejuta Cinta Ā Ibu Profesional Batam Ā mengadakan challenge membuat celengan koin cinta bersama keluarga maka kami akan membuat celengan dari kardus bekas. Kardus bekas merupakan bahan yang mudah ditemukan di rumah dan tentu saja murah.

Untuk membuat celengan dari kardus bekas ini memerlukan beberapa alat dan bahan seperti tertera di bawah ini.

Alat dan bahan:

  1. Kardus bekas
  2. Pensil dan penggaris
  3. Lem
  4. Kertas hvs dan karton
  5. Gunting
  6. Cat akrilik dan kuas
  7. Mata bekas mainan

ļæ¼

Proses Pembuatan :

Langkah Pembuatan :

  1. Buat lubang di kotak dengan ukuran 5 cm diukur dari sisi sebelah kiri dan kanan kardus.
  2. Sayat dan gunting untuk membuat lubang pada bagian tengahnya.Ā Tujuannya adalah agar lubang yang kita buat lurus sehingga nantinya mudah dipasang dan hasilnya juga rajin. Buat juga lobang untuk tempat memasukan koin.(bagian ini nantinya menjadi tutup atas celengan yang kita buat)
  3. Lem seluruh bagian kardus dan lapisi kardus dengan kertas karton warna biru karena Faris ingin celengannya bertema monster inc.
  4. Cat dengan cat akrilik kardus yang telah dilapisi karton tadi.
  5. Diamkan dan jemur di bawah sinar matahari
  6. Jika cat sudah kering, cat bagian sisi celengan berbentuk pipi monster dan keringkan kembali.
  7. Buat gigi monster menggunakan kertas hvs yang digunting berbentuk segitiga.Ā Tempel potongan kertas berbentuk gigi menggunakan lem.
  8. Tambahkan pemanis berupa mata dari bekas mainan boneka di rumah (ini ide Faris ingin menambahkan mata agar terlihat lucu).
  9. Celengan sudah jadi dan Faris Irbadh siap menabung.

Gimana? Bahannya mudah dicari di rumah dan sederhana kan cara membuatnya. Yuk kita buat sendiri celengan koin kita, jangan lupa diisi juga yaĀ  šŸ™‚

 

ini hasil celengan Faris

 

#challengecelengancintaIPBatam
#SejutaCintaIPBatam
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari