Tidying Festival Kitchen

Alhamdulillah,, sampai juga pada bagian berbenah yang saya tunggu-tunggu yaitu berbenah kitchen. Saya termasuk orang yang senang lama-lama berada di dapur dan mencoba resep atau membuat beberapa stok makanan untuk anak-anak. Salah satu keinginan saya apabila punya rumah sendiri adalah bahwa saya ingin mempunyai dapur yang bisa membuat kangen untuk memasak disana setiap saat, minimal sehari sekali. Untuk itu, saya ingin sekali memiliki dapur yang spark joy versi saya.

Setelah tidying kitchen, saya punya mimpi memiliki dapur yang nyaman, seperti apa nyaman versi saya?
1. Karena dapur yang saya miliki di rumah sewa ini sangatlah sempit, sekitar 2 m x 1,5 m, saya ingin sekali punya dapur yang terlihat lebih lega dengan pemisahan antara dapur kering dan dapur basah.
2. Dengan menata bahan baku makanan per-kategori maka saya berharap dapat membuat saya selalu ingin menjaga kerapihannya.
3. Dapur idaman saya adalah dapur tang membuat nyaman memasak di dalamnya.
4. Mudah bagi saya mencari sesuatu membutuhkan benda-benda yang saya inginkan.
5. Saya dapat mengajak anak-anak bereksperimen di dapur yang luas dan ramah anak.

Mudah-mudahan nanti saya dapat mewujudkannya ketika sudah pindah ke rumah saya sendiri. Sebagai gambaran kegiatan tidying yang sudah saya lakukan, berikut saya lampirkan beberapa perubahan wajah dapur saya. Meskipun masih belum tuntas semuanya, semoga setelah proses berbenah ini mudah-mudahan semua barang yang ada di area dapur punya rumah dan mudah dirapikan kembali.

Yang pertama menjadi fokus saya dalam berbenah adalah lemari kayu yang berisi stok bahan baku makanan.

Sebelum dirapikan, lemari ini isinya campur aduk menjadi satu sehingga terlihat penuh dan cukup berantakan. Setelah mulai saya benahi, lemari terlihat lebih tersusun rapi dan memudahkan saya mengambil sesuatu.

Cukup memakan waktu dan menyita energi dan pikiran saat membenahi keadaan dapur saya karena

✔️Saya tidak memiliki kitchen cabinet karena status rumah yang masih menyewa. Jadi saya hanya memanfaatkan lemari kayu kecil ini sebagai tempat penyimpanan bahan baku makanan yang kering. Untuk piring-piring yang digunakan sehari-hari saya menyimpan di rak piring yang digantung di tembok, rak ini banyak berisi sekat piring berdiri. Hal ini membuat isinya terlihat acak-acakan karena isinya tidak hanya piring.

➡️Untuk mengatasinya, saya menggunakan trik. Mengeluarkan beberapa piring, mangkok dan alat makan yang kami butuhkan sehari-hari saja. Untuk peralatan yang jarang dipakai saya masukkan ke dalam kontainer.

✔️Banyak benda yang bagi saya tidak spark joy yang ada di dalam kontainer. Kontainer jadi terlihat penuh dan berantakan dengan banyaknya barang.

➡️Untuk mengatasinya saya menyortir kembali barang-barang tersebut. Setelah memilah ternyata saya mendapati beberapa kotak alat makan plastik yang sudah tidak terpakai. Barang-barang tersebut akan saya bawa ke bank sampah untuk didaur ulang.

Yang menjadi fokus saya selanjutnya adalah masalah penyimpanan wadah bumbu (garam, penyedap, dan merica), wadah bawang, serta botol minyak goreng yang inginnya mudah dijangkau tetapi tidak mudah kotor.

Untuk mengatasinya, saya akhirnya memindahkan minyak dan wadah bumbu serta tepung ke bagian atas dan dalam lemari kayu.

Mengatur Kembali Isi Kulkas dan Mengeluarkan Stok Makanan yang Expired

Yang terakhir saya benahi adalah lemari es. Kebanyakan bahan makanan saya simpan disini. Posisi lemari es ini di ruang makan/ruang keluarga sebelah dapur, dikarenakan tidak muat jika diletakkan di dapur.

Before:
✔️ Rak di dalam kulkas terlihat kotor karena kena tumpahan kuah makanan atau jus.
✔️ Beberapa benda tidak terbungkus rapat sehingga menimbulkan bau dalam kulkas
✔️ Ada beberapa benda yang sudah tidak layak konsumsi

After:
➡️Sayur segar langsung saya potong dan simpan dalam wadah bening. Buah yang belum dipotong saya simpan di kontainer bagian bawah kulkas
➡️Setiap benda saya usahakan memiki wadah masing-masing.
➡️Bahan makanan yang sudah tidak layak konsumsi (dengan terpaksa) saya singkirkan.

Sebenarnya proses berbenah dapur ini belum selesai bagi saya karena wastafel dan meja makan malah belum selesai saya rapikan karena masih dipakai bereksperimen oleh anak-anak. InsyaAllah dua tiga hari ini sambil berjalan akan saya selesaikan.

Alhamdulillah,, demikian proses tidying kitchen kali ini, dapat berjalan meski belum sepenuhnya sesuai harapan dan rencana. Setelah dibenahi, saya jadi merasa dapur saya lebih lega dan rapi. Saya jadi lebih happy masak di dapur, serta semangat menjaga kebersihan dan kerapiannya.

Semoga selanjutnya saya bisa terus konsisten..☺️

Tidying Komono Part 1

Apa kabarnya tidying festival? Lanjutt mak💪

Kali ini yang kita benahi adalah komono. Komono dalam bahasa kanji secara harfiah berarti “benda kecil / barang”, sementara dalam konmari diartikan sebagai bermacam barang di luar empat kategori lainnya (miscellaneous items).
Menurut saya tidying festival komono ini lebih rumit karena komono terdiri dari sub-sub kategori yang berbeda-beda, sehingga dalam bayangan saya seperti adalah printilan saya yang banyak dan tersebar di seluruh bagian rumah😭. Saya juga sedang dalam pencarian untuk menemukan cara yang lebih spark joy dalam menyimpan printilan saya ini. Solusinya saya simpan sementara dalam box plastik hasil hunting di pasar seken. Mudah-mudahan dengan diberikan rumah maka printilan saya ini akan lebih mudah dicari apabila dibutuhkan.
Sebelum memulai berbenah untuk mengurai keruwetan maka terlebih dahulu saya membuat daftar sub-kategori barang-barang yang termasuk komono. Berikut daftar yang saya buat:
1. Alat Tulis
2. Perlengkapan Mandi dan Kebersihan
3. Kosmetik dan Obat-Obatan
4. Aksesoris
5. Peralatan Elektronik
6. Mainan Anak

Komono 1

Bagi saya yang sehari-hari mendampingi anak-anak belajar, alat tulis merupakan sesuatu yang penting bagi kami. Meskipun sudah dirapikan dan dikembalikan ke tempat semula tetap saja yang namanya anak-anak ini banyak sekali alat tulis yang bercampur dengan mainan yang lain. Berikut ini hasil berbenah alat tulis saya dan anak-anak yang terdiri dari pensil, pulpen, stabilo, pewarna, card holder, staples, dan beberapa bahan untuk bebikinan. Sebelumnya barang-barang ini saya simpan ke dalam satu keranjang dan berpotensi tercampur aduk dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya saya malas merapikan kembali karena harus menyisihkan waktu khusus untuk beres-beres.

Komono 2

Ternyata tidak banyak yang saya singkirkan karena perlengkapan mandi kami di rumah sangat sederhana dan sedikit. Saya pun tidak banyak menggunakan produk pabrikan. Perlengkapan mandi yang ada di kamar mandi kebanyakan milik bersama kecuali shampoo. Karena saya dan anak-anak sudah lama beralih ke produk mandi yang natural dan lebih ramah lingkungan. Untuk produk kebersihan pun saya sudah beralih ke sabun pembersih alami dan dibuat sendiri di rumah. Jadi saya tidak perlu menyetok banyak produk kemasan pabrikan.

Komono 3

Alat make up, parfum, produk perawatan kulit dan rambut yang saya miliki pun tidak banyak. Sehingga untuk sub kategori kosmetik dan obat-obatan ini saya simpan dalam satu tempat.
Wadah plastik transparan ini berisi obat-obat pribadi saya dan anak, sebagian besar berisi krim, salep, patch, essential oil, termometer, dll. Kendalanya awalnya saya bingung karena kalau digeser maka benda-benda yang diletakkan berdiri akan jatuh. Mungkin nanti akan saya carikan box penyimpanan dengan sekat agar tidak mudah jatuh lagi.

Komono 4

Laci kecil ini berisi aksesoris saya. Harusnya saya bereskan ketika tidying festival di bagian clothes, tetapi terlewat karena saya fokus pada baju/pakaian dan barang-barang ini campur aduk dengan komono lain dan kosmetik sehingga saya sortir sekarang. Kendalanya karena banyak printilan kecil maka banyak aksesoris milik saya yang saya discard untuk dijual kembali.

Komono 5

Untuk peralatan elektronik saya skip dulu proses berbenahnya karena sebagian besar barang milik suami. Jadi insyaAllah akan segera menyusul kami benahi sambil

Komono 6

Mainan anak. Sejujurnya saya masih merasa belum tuntas untuk mainan anak ini. Saya sudah mulai merapikan mainan mereka per box per kategoru agar mudah diambil dan dirapikan kembali oleh anak-anak. Meskipun belum terlalu spark joy namun progresnya sudah lebih baik.

Saya lupa foto beforenya karena biasanya saya berbenah sambil mencuri waktu ketika anak-anak sedang tidur.

Beberapa kendala yang saya alami ketika berbenah komono :

1. Banyak sekali item barang yang harus dibenahi yang termasuk dalam kategori komono ini. Sejak awal masuk kelas ini, saya sudah sadar ketika membaca list apa saja yang masuk kategori komono. Barang paling banyak di rumah adalah komono, dan kebanyakan tersebar kemana mana.

Untuk mengatasinya, saya membuat daftar list sub kategori dengan penjadwalan dan target. Diharapkan semua proses bebenah bisa selesai tepat waktu.

2. Letak barang yang tersebar di beberapa tempat dan campur aduk antara satu sub kategori dengan yang lain
Untuk mengatasinya, saya membuat daftar list tempat saya menyimpan komono, kemudian mengumpulkan masing2 sub kategori menjadi satu area untuk disortir.

3. Anak-anak balita yang menyita banyak perhatian karena memang mereka hampir 24jam selalu bersama saya. Untuk mengatasinya, saya harus mencari waktu khusus dimana saya bisa berbenah, yaitu saat mereka tidur. Saya juga harus menjaga kondisi fisik agar bisa bertahan terutama dengan mencuri cuti waktu untuk istirahat.

4. Barang yang ada bukan hanya milik saya, tetapi milik suami dan anak-anak. Banyak barang yang suami yang tersebar dimana-mana dan entah sampai kapan mau menumpuk barang.
Untuk mengatasinya, saya mencoba menggunakan komunikasi positifll] []] dan memberi pengertian bagaimana konmari itu ke suami. Begitu pula ke anak, bahwa barang yang dia miliki mungkin lebih bermanfaat bagi orang lain daripada hanya disimpan.

5. Kesulitan mencari storage yang sesuai
Lumayan menyita energi untuk menata komono yang sudah selesai dipilah. Jika saya hanya menyimpan kembali rasanya akan mudah kembali acak-acakan seiring berjalannya waktu.

Untuk itu saya mengatasinya dengan:
– Melihat lagi materi tentang penyimpanan
– Mencari beberapa referensi ide penyimpanan di internet
– Mencoba menggunakan barang bekas dari pasar seken dan sisa konsumsi di rumah seperti box plastik, gelas, wadah dan botol kaca untuk digunakan

Kelanjutan proses berbenah komono insya Allah akan saya update di post berikutnya ya☺️

#gemar #rapi #sukarapi #gemarrapi #komunitasgemarrapi #menatadirimenatanegeri #shokyuuclass #shookyub2task8 #semangatrapi

Festival Tidying : Papers

Bagaimana progress berbenah di rumah? Setelah berbenah buku minggu lalu, minggu ini giliran kertas yang akan dibenahi. Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, dimana kita memilah dengan tujuan menyimpan benda yang spark joy, untuk kertas ini prinsipnya sebagai berikut: “the basic rule for papers: Discard everything”. Kalau dipikir memang benar juga sih, kertas kan tipis, kita jadi cenderung menyimpan saja semua kertas yang ada di rumah. Padahal seringkali banyak tumpukan kertas di runah atau kantor yang justru sudah tidak ada manfaatnya lagi, seperti brosur, potongan tiket atau kumpulan struk belanja.

Jadi prinsip berbenah kertas ala konmari adalah buang semuanya kecuali dokumen penting. Berdasarkan materi yang saya dapat di kelas Shokyuu, dokumen dibagi menjadi tiga yaitu

1) Pending Document
adalah dokumen yang butuh tindakan dan respon seperti surat yang perlu dijawab atau tagihan yang perlu dibayar. Dokumen jenis ini perlu dibuatkan rumah tersendiri, bisa menggunakan kotak atau clear holder (album transparan) dan ditindaklanjuti dengan segera. Jadi diusahakan dalam setiap periode berkala ‘rumah’ tersebut dikosongkan. Bisa dengan membuat jadwal khusus misal hari tertentu untuk mengerjakan pending documents ini.
2) Important Document
adalah dokumen yang perlu kita simpan baik dalam waktu tertentu atau selamanya, walaupun tidak spark joy. Misalnya sertifikat rumah, kartu garansi, ijazah, kontrak.
Kita bisa menyimpan menggunakan file box atau clear holder. Kita perlu membuat pengingat khusus untuk dokumen yang ada masa berlakunya. Dan jangan lupa untuk segera membuang jika dokumen tersebut sudah kadaluarsa dan sudah tidak berguna.
3) Other Documents
adalah dokumen selain 2 kategori di atas seperti materi seminar, resep masakan dan kliping. Kita bisa menyimpan kategori ini menggunakan clear holder sehingga mudah untuk dilihat-lihat kembali bila perlu. Dokumen yang termasuk kategori ini antara lain sebagai berikut :
1. Buku petunjuk manual elektronik, bila tidak perlu sebaiknya dibuang.
2. Kartu nama atau kuitansi bisa disalin/difoto informasinya sehingga kertasnya tidak perlu disimpan.
3. Kertas yang disimpan karena nilai kenangannya bisa dimasukkan dalam kategori sentimental items.

Berikut ini kondisi tumpukan kertas yang ada di rumah sebelum proses discard

Hampir seluruh kertas bekas di seluruh rumah, saya sortir secara berkala bersama anak-anak setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Sebagian besar saya kirim ke bank sampah, ada pula yang dialihfungsikan menjadi media gambar atau membuat craft dan lain sebagainya.

Saya pun pernah membuang tumpukan bon yang sudah saya kumpulkan entah berapa lama yang nyatanya tidak terpakai lagi. Setelah itu, saya nyaris tidak pernah lagi menyimpan kertas jenis ini.

Berbenah kategori kertas ini, menurut saya rasanya tidak terlalu berat untuk dilakukan. Untuk membuang pun mudah saja, bahkan rasanya senang sekali bisa menyingkirkan kertas-kertas yang menumpuk dan tidak diperlukan lagi.

Kumpulan kertas: After. Cukup rapi kan?

Kebanyakan kertas yang saya simpan di rumah adalah kertas kerja anak-anak, flapbook belajar per tema dan hasil diy mereka. Arena tempat penyimpanannya terpisah-pisah, sehingga ketika proses berbenah saya memulai dengan menyatukan semua kertas di dalam satu tempat, seperti bisa terlihat pada gambar. Baru kemudian, saya memilah mana yang hendak dibuang dan mana yang perlu disimpan.

Setelah proses berbenah kemarin, banyak sekali kertas yang saya singkirkan seperti kumpulan bon dan tanda terima, kuitansi yang sudah tidak diperlukan, kertas isi seminar dan semacamnya. Beberapa kertas bekas yang masih terdapat sisi kosongnya saya simpan untuk aktivitas anak-anak lagi sehingga tidak perlu menghabiskan kertas baru. Ada beberapa hal yang belum dan rasanya perlu saya lakukan ketika berbenah kertas adalah membuat pending box untuk kertas-kertas yang masih perlu diperiksa, seperti bon dan kuitansi misalnya, seiring dengan niat saya untuk lebih teratur mengatur keuangan keluarga, juga rumah khusus untuk karya anak, yang dipilah dan dibatasi apa saja yang perlu disimpan atau dibuang. Terinspirasi dari tips digitalize, di mana kita bisa menyimpan kertas bernilai sentimental atau data penting seperti kartu nama dengan men-scan atau memfotonya, sebagian besar karya anak-anak mungkin bisa saya foto saja, sehingga lebih menghemat tempat dan juga lebih awet.

Untuk sementara, mumpung karya anak-anak belum terlalu banyak maka saya pisahkan dalam sebuah map karya yang ingin disimpan. Kontainer transparan saya jadikan pending box, jadi sekarang semua bon atau kertas-kertas yang perlu “dikerjakan” masuk ke situ. Konsep digitalize juga saya simpan saat nanti diperlukan. Semoga setelah tidying festival kami bisa lebih rapi dalam menyimpan kertas.

 

Tidying Festival Book

Setelah berbenah pakaian, tahap selanjutnya di Tidying festival adalah berbenah Buku. Kegiatan berbenah pada tahap ini ada kesulitan tersendiri bagi saya karena buku pribadi merupakan salah satu barang spesial bagi saya. Buku-buku pribadi yang masih saya simpan adalah buku yang saya beli ketika saya kuliah kenotariatan. Ketika saya memutuskan untuk resign dan mendampingi anak-anak di rumah, buku-buku ini saya packing kembali ke dalam kardus. Sambil berdo’a kala itu semoga buku-buku ini masih membawa kebermanfaatan kelak jika saya mengambil peran itu kembali.

Bagi saya tidying festival book ini lebih sulit daripada pakaian, karena buku-buku yang saya simpan merupakan pedoman berpraktek dan tidak mudah menyingkirkan buku yang, kalau dalam istilah Konmari: tidak spark joy, termasuk buku-buku yang rencananya akan dibaca tetapi pada kenyataannya tidak akan pernah dibaca 😆 Ini masalah waktu dan prioritas, hiks. Saat ini saya memang memilih fokus untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah terlebih dahulu dan belum mengambil peran di luar rumah.

Seperti saat berbenah pakaian, berbenah buku ini bisa dibilang bagai menemukan jati diri. Kita hanya memilih buku yang dirasa paling sesuai dengan kita, paling kita sukai dan membuat kita senang membaca serta menyimpannya. Setelah membuat jadwal beberes bersama anak-anak, akhirnya saya membongkar rak buku kami (saya dan anak-anak). Tentunya setelah difoto sebelumnya untuk tugas ini 😁 Bagian rak yang berisi diecast merupakan area suami jadi silahkan diabaikan sampai si empunya ada waktu untuk berbenah😂

Sebelum pindah ke Batam, saya sudah mensortir buku-buku yang penting dan menjadi pegangan saja (kala itu belum kenal konmari). Semenjak tinggal di Batam saya tidak pernah menumpuk buku lagi, bahkan pernah saya membeli buku karya teh Kiki Barkiah dan selesai dalam waktu satu minggu (ini rekor bagi saya yang punya batita dan bayi) setelah itu saya kirim ke rumah baca. Ya! Kita memang harus mengubah mindset. Kalau buku yang kurang spark joy lebih baik disumbangkan ke rumah baca saja. Lalu bagaimana persiapan kami untuk berbenah lemari buku? Sama dengan merapikan pakaian, langkah pertama merapikan buku adalah memilih buku berdasarkan spark joy.

1. Kumpulkan semua buku yang kita miliki di satu spot.

Pastikan semua buku terkumpul di spot itu. Cek lemari, dapur, kamar tidur, meja, kolong sofa, kolong tempat tidur, mobil dan lain-lain. Jika saat selesai proses dicluttering kita baru teringat ada buku yang tertinggal, maka buku tersebut ikut didiscard karena bisa dipastikan tidak spark joy lagi. Seandainya masih ada spark joy, tentu kita akan ingat sejak awal proses ini.

2. Pisahkan buku-buku berdasarkan kepemilikan

Buku-buku di rumah saya pisahkan terlebih dahulu mana yang punya saya, suami, dan anak-anak. Suami hampir tidak pernah mengoleksi buku lagi wkwk, sedangkan saya menyimpan beberapa buku penting untuk panduan mengajar anak-anak, sementara milik anak-anak kami putuskan bersama mana saja yang akan disimpan.

3. Buat kategori buku

Menurut metode konmari, cara menyimpan buku ada dua yaitu dengan menyimpan by location atau by category. Jika buku yang kita miliki terlalu banyak maka kita bisa membuat kategori dulu, contoh: buku agama, tutorial, komik, novel, majalah, buku sekolah, buku kantor, dll. Lalu pilih per kategori, buku mana saja yang akan kita simpan.

4. Pegang satu per satu dan rasakan apakah buku ini spark joy. Ingat ya cukup dipegang saja, tidak perlu dibaca agar kita tetap fokus pada proses berbenah. Jika ada buku terdapat spark joy maka simpanlah. Jika tidak ada spark joy maka buku tersebut dapat kita discard. Banyak yang merasa kesulitan melakukan ini karena khawatir kalau-kalau nanti bukunya akan dibaca lagi. Padahal bisa dijamin, bahwa buku yang tidak spark joy, tak kan mungkin kita baca kembali. Maka untuk apa disimpan, lebih baik dijual kembali atau didonasikan.

5. Letakkan buku dengan posisi berdiri

Buku-buku yang spark joy diletakkan di rak buku sesuai dengan pilihan keluarga. Posisi buku saat penyimpanan adalah berdiri, bukan ditumpuk-tumpuk. Aturan dasar menyimpan barang ala konmari adalah “letakkan barang-barang yang sejenis dalam satu lokasi”. Tetapi tidak demikian untuk buku. Buku bisa diletakkan di tempat dimana kita membutuhkannya. Misal: majalah resep bisa kita letakkan di dapur, sementara Alquran dan tafsir kita letakkan di tempat sholat.

Setelah tidying festival buku akhirnya terlihat lebih jelas, minat saya ada pada buku yang seperti apa, bidang dan genre apa saja. Justru ketika memilah buku anak-anak kami bingung mau menyimpan yang mana saja sebab anak-anak sangat antusias, kebanyakan buku-buku yang disimpan di rak membuat mereka sangat bersemangat karena mereka suka sekali isinya, dan biasanya dibaca berulang-ulang. Hal ini membuat kami sulit menyortir koleksi buku anak yang ada. Sempat juga ada buku yang ragu mau saya keluarkan dari koleksi. Ada yang baru dibaca sebagian ada juga yang masih dalam plastik alias belum pernah dibaca sama sekali. Tapi pada akhirnya berhasil saya letakkan di tumpukkan yang akan disingkirkan. Rasanya lega juga ya ternyata, alhamdulillah😊

Terima kasih untuk semua buku yang pernah mengisi hari dan hati ini. Baik yang sudah selesai atau belum dibaca, yang disimpan atau disingkirkan. Gimana kira-kira sudah spark joy belum ya rak buku kami?

Tidying Festival Clothes Bersama Anak-Anak

kondisi lemari kami setelah tidying festival clothes

Penataan isi lemari yang rapi ternyata berpengaruh terhadap efisiensi waktu. Karena nggak akan ada lagi waktu yang terbuang hanya untuk ngubek-ngubek isi lemari bahkan mencari barang yang hilang atau terselip. Dengan mengikuti kelas berbenah ala konmari, saya berusaha mempraktekkan ilmu yang saya peroleh dalam kesehariannya dan semoga nantinya kami sekeluarga pun dapat menjaga konsistensi kerapian isi lemarinya tersebut.

Bicara soal efisiensi, pasti kebanyakan dari kita pernah ngerasa baju yang kita punya hanya sedikit. Namun, ternyata baju yang kita cari selama ini nyelip dan ngumpet diantara baju-baju yang terlipat asal-asalan? Bahkan kadang setelah pusing memilih baju yang akan dipakai, bisa jadi kita juga cenderung menyimpannya kembali tetapi nggak dalam kondisi semula. Biasanya kita yang punya banyak baju di rumah justru bingung mau pakai baju apa karena rasanya kok kayak nggak punya baju. Adakah yang familiar dengan hal ini? Atau justru lagi ngerasain hal kaya gini juga? Kali ini saya akan berbagi cerita tentang perubahan yang saya alami setelah berbenah menggunakan metode konmari, bagaimana mengkategorikan dan menyimpan pakaian yang kami punya.
Berikut ini kebayakan permasalahan penyimpanan baju yang dirasain oleh saya atau bahkan sesama perempuan lain di luar sana. Mulai dari tempat penyimpanan yang terlalu kecil, lemari baju yang berantakan terus, banyaknya baju tapi bingung mau pakai yang mana atau bisa ngabisin waktu lama cuma untuk nyari atasan yang kelupaan disimpan di mana? Lucunya hal ini nggak cuma dirasain sama pemilik tempat tinggal yang mini tapi juga bahkan sama orang-orang yang punya media penyimpanan dengan luasan yang cukup besar.
Ada yang bilang kalau punya lemari yang teratur dan rapi itu adalah jalan menuju kamar, rumah dan hidup yang lebih baik. Karena setidaknya kita akan menghemat waktu setiap paginya untuk mencari baju dan berfikir pakai baju apa hari ini. Otomatis jadi tambahan waktu untuk bisa ngerjain aktivitas lainnya dan bisa punya me time lebih!

Ada dua tipe penyimpanan yang biasa kita temuin di Indonesia yaitu lemari tertutup dan open closets. Lebih kurangnya tentu beda-beda dari masing-masing tipe. Tapi tipe apapun yang kita miliki di rumah, mau penyimpanan terbuka ataupun lemari tertutup, umumnya ada empat area yang perlu disiapkan untuk mengorganisir pakaian di rumah. Drawers, shelves, hooks dan hanging. Empat area ini, kurang lebih sudah bisa mengakomodir kebutuhan berbagai macam bentuk pakaian dengan berbagai macam materialnya. Nah, melalui proses declutter saya juga jadi merasakan pentingnya mengenal bahan dan pakaian sendiri. Bukan sekedar senang membeli dan memakainya bahkan mengoleksi, tetapi juga dengan mengetahui material dan cara merawatnya. Di rumah kami hanya punya dua lemari pakaian yang dipakai bersama dengan anak-anak. Secara general, saya membagi area penyimpanannya sebagai berikut:

Drawers: Laci bawah diisi dengan baju anak-anak.
Shelves: Rak atau ambalan lemari diisi dengan baju milik suami, biasanya baju rumah dan baju santai seperti kaos, celana pendek, celana boxer, baju olahraga. Setiap segmen dimasukkan ke dalam box yang berbeda. Karena jumlah pakaian yang kami miliki hanya sedikit jadi tidak makan banyak space.
Hanging: Bar gantungan dalam lemari kami gunakan untuk menggantung jaket,blouse,kemeja, dan coat.

Kalau hal-hal di atas ini udah diterapin insyaAllah nggak ada lagi kondisi berantakan dan susah untuk mencari baju.

CLEAN UP AND CLEAR OUT
Langkah yang mungkin paling membantu adalah dengan men-declutter isi lemari.

Metode KonMari menggunakan joy (kebahagiaan/kesenangan/kegembiraan) sebagai parameter dengan mempertimbangkan value-value yang dimiliki oleh setiap benda. Ketika melalui proses ini kita bisa mengambil satu persatu pakaian, lalu tanyakan pada hati : “Does it spark joy?”

Kita harus merasakan dengan seksama sebelum benar-benar memutuskan. Kemudian kita dapat membuat 2-6 kotak/kategori :
1. Keep (simpan)
2. Toss (buang)
3. Donate/giveaway (sumbangkan/berikan pada orang lain)
4. Recycle (Didaur ulang)
5. Repurpose dan Upcycle (Diubah menjadi sesuatu yang lain dan bermanfaat)
6. Sell (Dijual)

Catatan : minimal harus ada 2 kotak untuk keep and toss.

Ini hasil sortir pakaian yang kurang Spark Joy. Baju dan tas ini akan kami donasikan ke Lombok

Contoh pakaian yang bisa di-repurpose: daster jadi lap, kaos jadi sarung bantal. Namun yang harus digaris bawahi, dalam hal ini bukan downgrading ya 😁. Jadi ada proses disitu. Misal untuk membuat lap dari daster, dibuang dulu bagian lengan dan atasnya. Jadi dasternya pun berubah menjadi lap yg lebih berkelas. Lebih spark joy ✨

SIMPAN BARANG SELEVEL MATA
Ini sebetulnya untuk mempermudah ketika mau ambil pakaian, sih. Menyimpan barang yang sering dipakai sesuai level mata bisa mempermudah mata untuk mendeteksi barang apa aja yang kita punya dan membantu memutuskan untuk pakai baju apa hari ini. Eh tapi hati-hati ya, barang yang disimpan di bagian atas dan bawah pun sebisa mungkin terjangkau tangan dan dapat terlihat oleh mata.

BOXES, CONTAINERS AND DIVIDERS

Barang-barang ini yang benar-benar membantu saya untuk membuat isi rumah saya rapi, termasuk dalam urusan penyimpanan pakaian. Saya hanya memiliki satu box penyimpanan baju, satu box untuk kaos kaki dan menstrual pad dan satu box kecil untuk pakaian dalam. Ah, hidup terasa sangat sederhana. Untuk penyimpanan laci, box atau container saya merekomendasikan banget untuk melipat pakaiannya secara vertikal ala Konmari. Dengan mengaplikasikan cara ini untuk penyimpanan pakaian anak mereka pun jadi lebih mudah untuk mencari dan mandiri mengambil serta memakai pakaian mereka sendiri.

COLOR COORDINATION
Dalam konmari kita boleh menyusun pakaian sesuai dengan gradasi warna dari terang ke gelap dan ketebalannya, namun saya belum sempat mencoba menerapkan color-coordination untuk isi lemari baju. Walaupun warna bajunya itu-itu aja, sebenarnya ini dapat membuat lebih spark joy dan membantu banget dalam pemetaan beli baju baru, mix and match dan lain-lain.

Berikut ini tips yang saya peroleh dari kelas KKI dan perlu dicoba ketika pelaksaan tidying clothes

1) Bila sangat sulit untuk memutuskan hanya dengan menyentuhnya, boleh dipakai. Namun, tidak semua pakaian harus dicoba karena akan memerlukan waktu yang banyak.

2) Pakaian yang ber-genre “what if” sebaiknya tidak perlu disimpan. Contohnya pakaian yang tidak muat namun akan muat bila lebih kurus. Kenapa? Karena berpotensi menjadi penyebab kita melihat diri kita menjadi kurang spark joy. Bila kaitannya dengan ukuran pakaian vs ukuran tubuh, boleh disimpan sebagai motivasi, tetapi pilih 1 saja 😉 Bila pakaian anak misalnya ingin untuk adiknya, boleh disimpan bila memang perencanaan kehamilannya cukup dekat. Namun, jika rencana hamilnya cukup lama misal 5 tahun lagi, maka sebaiknya tidak perlu disimpan.

3) Menyetrika pakaian apakah perlu? Tergantung kebutuhan, bila ingin, boleh. Tidak juga ya boleh. The battle is yours 😂.

4) Pakaian anak siapa yang mengerjakan proses declutternya? Bila anak sudah bisa memutuskan, ajak serta. Bila masih belum bisa, maka dapat dikerjakan oleh orangtuanya.

5) Pisahkan terlebih dahulu semua pakaian yang berbau nostalgia. Kerjakan nanti di akhir bersamaan dengan sentimental items.

ini storage untuk penyimpanan cloth diaper anak saya

Langkah selanjutnya adalah menentukan “rumah” untuk masing-masing kategori pakaian. Setelah kita melipat dan membagi pakaian menjadi beberapa kategori seperti atasan, bawahan, atau kaos, celana panjang, celana pendek, rok, pakaian dalam, kerudung, jaket, aksesoris, sprei dan handuk, langkah selanjutnya menentukan “rumah” mereka masing-masing. Dengan melihat dan mengetahui deretan pakaian yang kita punya, tentu saja mempermudah dalam menentukan jumlah storage yang dibutuhkan. Sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jangan sampai membeli storage yang ternyata malah tidak terpakai karena ukuran atau jumlahnya tidak sesuai dengan pakaian yang kita punya. Namun jika tidak ada budget khusus, kita bisa berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah seperti dus-dus bekas atau memodifikasi storage yang sudah kita punya. Kalau saya dalam hal pemilihan storage biasanya memilih beli di flea market merk ikea atau miniso murah meriah dan masih sangat bagus untuk dipakai lagi. Sebenarnya kalau punya waktu luang boleh ber-diy ria bersama anak-anak tetapi setelah saya pertimbangkan lebih baik pakai yang sudah ada saja, beli di pasar seken aviari dengan rate harga sepuluh sampai dengan tiga puluh ribu rupiah per item. Sangat worth it kan?

Hasil lipatan pakaian yang Spark Joy ala #KonMari dalam penyimpanan sementara

Setelah mempersiapkan rumahnya, saatnya berkreasi dan menata lemari ala #konmarimethod. Satu pekan rasanya belum cukup buat berkreasi dan jujur belum 100% spark joy karena banyaknya iklan tetapi sejauh ini saya puas dengan perubahan yang terjadi. Sangat terasa perbedaannya antara belajar melalui tutorial dan belajar melalui pendampingan di kelas KKI. Alhamdulillah, anggota keluarga pun menjadi lebih aware jika ada barang yang belum masuk ke “rumahnya” masing-masing. Anak-anak pun sudah terbiasa memilih dan mengambil pakaian mereka sendiri tanpa harus manggil-manggil mamanya lagi.

Gimana kira-kira..udah spark joy belum yaa lemari pakaian kami…

Tidying Festival Clothes Part 1

Semakin hari, manusia menjadi semakin konsumtif. Timbunan barang pun memenuhi setiap sudut kamar. Tetapi, untuk menyingkirkannya, ada rasa malas dan enggan. Kegiatan declutter merupakan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga dan waktu. Namun dengan melakukan declutter atau bersih-bersih rumah dari timbunan barang, saya percaya memberikan efek positif. Rumah yang bersih dengan sedikit barang akan memberikan energi yang baik dan menjauhkan diri dari stress.

Meski telah banyak membaca tentang prinsip minimalism dan mencoba menjalaninya setahun belakangan tetapi rasanya baru kemarin akhirnya menemukan alasan membuang yang benar-benar wow banget. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, selama satu tahun terakhir saya mencoba memulai menerapkan metode Konmari untuk mendukung keinginan saya menjadi lebih bijak dalam membeli dan menyimpan barang-barang. Saya ingin lebih menghargai barang-barang yang saya beli dan meminimalisir jumlah barang yang ada di dalam rumah.

Membuang (decluttering) adalah cara tepat melepaskan diri dari beban. Tidak hanya beban fisik (materiil), tetapi juga beban psikis. Memulai membuang benda yang tidak pas di diri kita atau di lingkungan tempat tinggal kita, adalah cara mudah untuk mulai bisa membuang beban psikis kita. Percaya tidak percaya, saya sudah mencobanya dan terasa lebih lega.

Ada yang pernah mengalami kejadian seperti yang ada di bawah ini kah? Menyimpan baju yang sudah sesak tidak muat untuk badan. “Nanti juga bakal kepakai lagi kalau badan sudah kembali ke ukuran semula”. Lalu kita khilaf beli baju baru lagi dan lagi hihihi… Dan baju lama itu tak jua mendapat kesempatan untuk kita kenakan lagi. Atau mempertahankan barang-barang penuh kenangan. Terutama hadiah pemberian dari teman atau saudara. Disimpan terus, yang terkadang hanya membuat kita gagal move on setiap kali menatapnya hihi *lebay nggak sih. Kebiasaan mengumpulkan majalah-majalah yang menarik isinya, misal majalah full resep masakan atau desain interior. “Suatu saat nanti aku pengen praktekin tips yang ada di majalah itu”. Tahun demi tahun pun berlalu dan resep itu menunggu kita untuk mempraktekkannya. Bahkan kebiasaan membeli pernak-pernik saat traveling, “Lucu deh kayaknya kalau dipajang di rumah”. Waktupun terus bergulir hingga kita pun menyimpan pernak-pernik yang menumpuk dan bingung mau ditaruh dimana.

Istilah termudah menurut saya untuk menjelaskan tentang decluttering adalah aktifitas untuk menata ulang dan mengurangi timbunan barang yang kita miliki. Decluttering lebih memfokuskan pada apa saja yang perlu disimpan, dan bagaimana menata ulang benda yang disimpan itu.

Saya mengamati isi ulang isi kamar dan isi rumah. Scanning saja…. Lalu pilih beberapa barang secara acak, dan mulai mengingat, untuk alasan apa saya menyimpan barang itu. Dan masihkah barang itu memberi manfaat untuk hidup saya saat ini? Untuk barang-barang kebutuhan primer dan bentuknya relatif besar, sangat mudah saya temukan alasannya. Tapi saat meluaskan pandangan pada benda-benda yang tidak menjadi kebutuhan primer saya. Ternyata alasan utama mengapa menyimpannya lebih banyak karena faktor emosional termasuk didalamnya adalah faktor kenangan. Kesempatan kali ini saya akan mulai decluttering pakaian. Jurus jitu yang saya lakukan untuk mengendalikan jumlah pakaian yang saya miliki sekarang dengan Buy 1 Give 1, jadi saya mikir bener sebelum membeli pakaian

Prinsip Membuang/Decluttering

  1. Pilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan
    Gimana caranya siy memilih suatu barang disimpan atau dibuang? Touch it, sentuh barang itu dan rasakan. Emosi apa yang kalian rasakan saat menyentuhnya. Ketika emosi yang muncul adalah rasa senang dan bahagia, keep it. Jika tidak ada rasa apa-apa atau cenderung negatif,throw it out. Marie Kondo membuat pernyataan yang cukup keras tentang kemampuan membuang barang. Ia menganggap bahwa seseorang yang tidak mampu melepaskan barang yang sudah tidak memberikan kegembiraan apa-apa sebagai masalah serius.
    Memang dalam memutuskan membuang atau tidak, kebanyakan dari kita melibatkan dua hal, intuisi dan rasionalisme. Sayangnya, seringkali yang menghalangi adalah rasionalisme kita. Itulah kenpa konmari menyarankan supaya kita memulai decluttering dari baju, bukan dari benda-benda yang memiliki kenangan. Bukannya beberes malah akhirnya mengenang masa lalu, betul nggak? Selain itu, pengalaman Marie Kondo menunjukkan bahwa memulai dari memilah baju adalah level yang paling mudah. Berhasil melewati yang termudah biasanya akan membuat kita percaya diri untuk menyelesaikan misi decluttering. Urutan berbenah yang disarankan Konmari adalah : (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas, (4) komono/pernak-pernik, dan (5) benda-benda bernilai sentimental.
  2. Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu Sesuai Urutan
    kondisi pakaian sebelum declutter,dikumpulkan menjadi satu dalam satu area

    Pilahlah hingga tuntas per kategori sesuai urutan. Ada beberapa praktisi berbenah yang menyarankan untuk membuat challenge berbenah, misal 1 benda per hari, atau 3 jam per minggu, dst. Namun, Konmari memilih untuk membuang sampai tuntas terlebih dahulu per kategori. Bener-bener dikumpulin dulu semua baju di seantero rumah (bukan hanya yang di lemari, karena kadang kita menyimpan juga kan di balik pintu atau di box pojokan rumah?), baru kemudian kita pilah.

  3. Jadi kalau teman-teman ingin mulai decluttering, tak usah bingung. Saya ingin berbagi tipsnya. Sebelum melakukan kegiatan decluttering, siapkan 3 jenis kantong atau kardus. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih layak untuk didonasikan. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih dapat digunakan lagi dan terakhir kardus untuk tempat barang-barang yang akan dibuang. Sudah siapkah untuk decluttering?
    melipat pakaian anak-anak dengan metode konmari membuat banyak space tersisa

    Meskipun kelihatannya membutuhkan banyak waktu dan tenaga, tetapi efek kejutnya luar biasa. Efek kejut ini karena hasil beberes yang tuntas bener-bener terasa. Lemari jadi lega dan rapi. Efek kejut yang membuat kita bakal pengen jadi rapi selamanya. Berbeda dengan beberes sedikit-sedikit yang terlihat menyenangkan karena tidak menyita banyak energi dan waktu namun efeknya tidak begitu terasa sehingga berisiko membuat motivasi beberes kita kendur di tengah jalan.

  4. Kalau tidak bisa membuang, bagaimana?
    Gara-gara baca buku The Life-Changing Magic Tidying Up karya Marie Kondo saya pun jadi tau bahwa tidak semua pakaian berperan sebagaimana fungsi pakaian seharusnya. Maksudnya, pakaian kan seharusnya ada kaitannya dengan kebutuhan saat membeli, misal karena kita butuh pakaian untuk kerja, atau untuk menghadiri suatu acara tertentu, atau secara umum untuk menjaga penampilan kita. Sayangnya, ada juga kan pakaian yang kita beli hanya karena sedang diskon? Pas sampai rumah ternyata gaya pakaian itu sama sekali bukan gaya kita sehingga pakaian itu sama sekali tidak pernah kita gunakan semenjak kita adopsi ke lemari kita. Pakaian seperti ini mau dibuang atau mau disimpan? Dibuang sayang, disimpan ga dipakai. So? Say thanks to this clothes, let it go,katakan padanya “Terima kasih karena kamu telah mengajarkan saya pakaian apa yang tidak saya sukai, sehingga kelak saya tidak akan membeli pakaian yang sama”. Setelah memahami cara pandang baru terhadap barang, saya menjadi lebih mudah melepaskannya. Karena barang yang terbeli namun tak terpakai saat ini sejatinya sudah pernah memberi manfaat meski hanya sebagai pengingat bahwa compulsive buying itu sama sekali tidak baik misalnya. Kelak saya menjadi lebih bijak saat membeli pakaian baru.

    kondisi lemari dalam storage sementara

    Bukti kita sayang dengan sebuah barang adalah dengan menempatkannya sebagai barang yang membuat kita bersyukur telah memilikinya. Barang kita rasakan manfaatnya saat kita senang memakainya bukan? Marie said, tidak hanya kita pemiliknya, barang-barang kita niscaya juga akan merasa segar dan jernih sebegitu kita seleai berbenah.They will said happily, “Horayyy I got a new room to breath, I am free!” and of course, you will too.

Project Bedah Rumah ala Konmari With Kids

Setelah hampir satu bulan, saya dan teman sekelas #shokyuuclass menerima materi demi materi tentang basic metode konmari, sekarang tiba saatnya special event yang ditunggu-tunggu yaitu Tidying Festival.

Sesuai dengan namanya, Tidying Festival berarti berbenah secara besar-besaran, menyeluruh dan sekaligus dilakukan sekali seumur hidup. Karena begitu spesialnya, para peserta Shokyuu Class harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum melakukan festival sekali seumur hidup ini.

Berbenah Sekaligus, Jangan Sedikit-Sedikit

“Mulailah dengan membuang. Kemudian rapikan ruangan anda secara sekaligus, menyeluruh, dalam satu waktu, ” Ini yang Marie Kondo sampaikan nelalui bukunya the life-changing magic of tidying up. Kesimpulannya berbenah harus dilakukan sampai tuntas agar terasa perubahan yang terjadi.

Dulu saya suka berbenah sedikit-sedikit. Hasilnya, barang-barang kembali berantakan. Tapi melalui kelas ini saya mencoba berbenah secara sekaligus dan tuntas, harapan saya mudah-mudahan barang-barang akan tertata lebih rapi dan akan banyak space di dalam rumah. Hari ini saya mencoba mencicil membenahi kategori baju, semoga ruangan “baru” yang kami benahi tidak berantakan kembali, kecuali tempat bermain anak yang memang (harus) dibereskan setiap hari.

Jadi, mulai hari ini saya meluangkan waktu khusus untuk berbenah baju sampai selesai dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu ke depan. Tak lupa diiringi dengan do’a dan penuh rasa syukur karena Allah telah memberikan banyak rezeki sampai detik ini. Saya tidak habis pikir, rupanya momen berbenah ini ternyata menjadi sesuatu yang penting dan istimewa.

Beberapa persiapanpun saya lakukan untuk menyambut festival ini, diantaranya:

1. Membuat Schedule of Tidying Festival bersama anak-anak

Dengan membuat jadwal berbenah yang telah disepakati oleh saya dan suami, akan sangat memudahkan kami dalam mengatur dan melihat target-target yang telah dibuat. Anak-anak sengaja saya libatkan dalam kegiatan ini agar mereka mengenal barang-barang miliknya dan lebih bertanggung jawab terhadap barang kepunyaan mereka. Di sisi lain, mereka juga belajar untuk melipat dan meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Istilah yang mereka pakai adalah ‘masuk kandang,’ misalnya baju yang baru dilipat langsung dimasukkan ke dalam laci (kandangnya,pinjam istilah anak-anak).

Baca juga : Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

●》Meluangkan waktu untuk berbenah tiap akhir pekan.

Kalau biasanya akhir pekan banyak kami habiskan untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti berlibur, berolahraga, berenang, bermain di taman kota atau silaturahim ke beberapa teman dan saudara, kali ini saya dan anak-anak sepakat menggunakan weekend kami untuk berbenah besar-besaran.

●》Mengunduh foto-foto dan video tutorial yang berhubungan dengan Metode Konmari.

●》Menyiapkan beberapa keranjang atau kardus sebagai storage sementara untuk barang-barang spark joy dan mengumpulkan karung bekas untuk barang yang tidak spark joy.

●》Menentukan akan didonasikan kemana barang-barang yang tidak akan kami simpan.

Itulah beberapa persiapan kami sebelum memulai “Tidying Festival”. Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga @konmariindonesia. Mudah-mudahan kami bisa mengikuti tahapan belajar yang disiapkan tim #konmariindonesia dan semua target berbenah keluarga tercapai di akhir program Intensive Class ini. Aamiin

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shookyuclass
#shookyuB2task3
#sparkjoy

Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

Kali ini, saya akan menuliskan kembali bahasan mengenai mindset dalam metode KonMari yang saya pelajari beberapa minggu terakhir dan bagaimana cara menjaga mindset tersebut. Menurut pemahaman saya, Task 1 dan 2 di Shookyu Class KKI ini masih berkutat seputar mindset dan visualisasi. Kenapa begitu? Setelah saya tarik benang merah, mindset adalah hal terpenting saat kita ingin melakukan sesuatu. Perubahan yang besar dan langgeng hanya bisa terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, pola pikir yang “benar” mengenai berbenah yang perlu kita jaga. Sementara visualisasi diperlukan untuk menguatkan keyakinan dan semangat kita dalam mencapai tujuan, sekaligus memprogram pikiran bawah sadar kita untuk menujunya.

Banyak orang yang tidak berhasil mencapai tujuan bukan karena tak mampu. Tetapi, lebih disebabkan oleh mindset yang salah. Begitu juga dengan berbenah. Jika kita mengalami masa-masa berbenah tiada akhir, melelahkan, bahkan frustasi, saatnya kita harus memeriksa ulang mindset kita. Ketika mendapat tugas terkait mindset dan menjaga mindset, saya dan suami lalu berdiskusi. Berdiskusi terkait mindset apa yang kami miliki selama ini, dan bagaimana seharusnya mindset itu dibangun. Dari hasil diskusi itu akan nampak mana saja mindset yang salah selama ini, dan terbentuk mindset baru dengan harapan dapat menata hidup yang lebih baik. Di task kedua, saya merasa mindset yang baru pun harus dijaga agar tetap on track. Membangun mindset yang benar, bukanlah hal mudah. Terlebih lagi menjaganya. Bagaimana kami akan menjaga mindset untuk sebuah goals atas tujuan proses berbenah ini? Dan bagaimana cara menjaga mindset positif dalam berbenah itu menjadi poin yang harus saya diskusikan lagi bersama suami.

Menjaga Mindset

“The question of what you want to own is actually the question of how you want to live your life.” – Marie Kondo

“Focusing solely on throwing things away can only bring unhappiness. Why? Because we should be choosing what we want to keep – not what we want to get rid of.” – Marie Kondo

Kutipan yang pertama mengingatkan saya pada mindset yang sudah cukup mengakar di lingkungan sosial kita: semakin banyak benda yang dipunyai seseorang, maka semakin sukses pula hidupnya. Sayangnya, mindset seperti itu akan membuat kita menjadi gemar mengumpulkan barang-barang hanya demi terlihat ‘sukses’ (dalam banyak artian), padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Atau kalaupun butuh, kita hanya perlu dalam jumlah kecil saja.

Kutipan yang kedua juga sangat berkaitan dengan ini. Alih-alih berbelanja dan menyimpan banyak barang, akan lebih baik jika kita menyimpan sedikit, tapi kita tahu bahwa yang sedikit itulah yang paling bisa memberi kebahagiaan dan kebermanfaatan untuk kita.

Visualisasi Ideal Lifestyle Keluarga Kami

Tahap awal yang saya lakukan ketika memilih hidup minimalis adalah membuang hingga tuntas. Membuang barang disini artinya membuang barang yang sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali sedangkan barang yang masih layak pakai dapat disedekahkan atau dijual kembali. Perumpamaannya jika kita hendak pindah rumah balik ke kampung halaman. Pengennya kita nggak bawa barang-barang yang berat kan biar nggak susah nantinya. Jadi kita kirimkanlah dulu sebagian barang-barang lewat ekspedisi ke kampung kita. Seperti itulah hidup dengan sedekah. Kita pindahkan sebagian harta kita untuk di akhirat nanti, supaya ketika meninggal nggak berat lagi bawaan kita, karena nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nya. (Ust syafiq basalamah). Intinya, saya harus menjaga konsistensi agar jangan terbiasa menumpuk barang!

Lalu untuk saya pribadi, bagaimana caranya agar mindset-mindset ini tetap terjaga? Ini PR bagi semua orang yang sedang berjuang untuk berubah lebih baik. Barang yang paling mudah membuat saya melakukan penimbunan (hoarding) adalah buku dan mainan anak. Barang-barang ini, bisa dibilang, adalah barang-barang yang paling berpotensi untuk menghancurkan kembali mindset yang sudah saya bangun. Akhirnya saya pun mengaplikasikan prinsip One In One Out. Awalnya saya sortir dulu, buku dan mainan anak mana yang lebih sering dibaca dan dimainkan. Jadi fokusnya ke buku dan mainan yang ingin disimpan, bukan yang harus dipensiunkan. Baju anak yang sudah kekecilan dan jarang dipakai lagi saya discard dari lemari.

Saya sudah melakukan perubahan kecil ni sejak lebih dari setahun yang lalu. Hasilnya, hidup saya terasa lebih simpel dan bahagia. Kenapa? Karena sekarang saya tidak perlu lagi mengurus terlalu bangsa barang di rumah. Apalagi dalam situasi berlama-lama di depan lemari yang penuh sesak sambil kebingungan mencari barang yang hendak saya pakai. Menurut saya, kita tidak perlu merasa sedih atau baper, karena sebetulnya those book and toys (in this case) have served their purpose: barang-barang ini sudah memberikan kebahagiaan pada saya saat saya membeli mereka. They had brought me joy, but now it’s time to move on. Efek samping dari ini: sekarang saya tidak mudah lapar mata. Kalau pun saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku atau mainan anak, saya hanya membeli buku yang berkualitas saja bahkan kebanyakan barang yang kami pakai di rumah hasil hunting di flea market dan mudah dijual kembali with good price.

Berdasarkan goals tersebut, maka saya harus membuat timeline dan meluangkan waktu khusus untuk berbenah secara total. Memulai berbenah sama halnya dengan membuka lembaran baru. Setelah membuat timeline berbenah kita harus mengantisipasi juga hambatan atau tantangan apa yang akan muncul dalam proses berbenah nantinya serta solusi apa yang harus kita siapkan jika kemungkinan-kemungkinan hambatan itu terjadi. Berikut ini timeline project konmari saya bersama anak-anak.

 

Hambatan dalam Berbenah

Hambatan pertama dan utama yang pasti akan saya hadapi adalah ‘keikutsertaan’ anak dalam proses berbenah. Ini saya alami juga ketika saya dan suami harus packing besar-besaran saat kami pindah rumah beberapa tahun yang lalu. Anak saya ketika masih Faris dan baru berumur 1,5 tahun, ketika itu terasa agak susah jika ia harus dilibatkan dalam proses berbenah. Yang ada berbenah malah makin lama selesainya dan saya jadi stres karena pekerjaan tidak kunjung selesai. Nah, apa kabar sekarang saya sudah punya dua balita laki-laki yang MasyaAllah sedang heboh-hebohnya.

Jadi bagaimana solusinya? Solusi untuk kegiatan ini ada dua. Pertama, saya dan suami berbenah ketika anak-anak tidur. Kedua, saya berbenah sendirian dan anak-anak diajak papanya bermain outdoor saja. Dua solusi ini pernah kami lakukan, and it worked.

Hambatan kedua berkaitan dengan komonos. Untuk kosmetik, alat tulis dan mainan anak, saya sangat susah membuat benda-benda ini rapi dalam jangka waktu yang lama. Ketika saya sudah selesai merapikan, pasti tidak lama nanti akan berubah berantakan lagi.

Solusi untuk kosmetik dan alat tulis, saya akan membuat storage divider agar lebih rapi dan mudah menemukan apabila sedang mencari.

Untuk mainan anak-anak, saya akan sortir seluruh mainan sesuai kategori untuk kemudian saya kemas ke dalam kotak-kotak tertutup. Toh tidak semua mainan harus dimainkan pada hari itu. Jadi saya harus lebih konsisten dalam kegiatan bermain dan belajar bersama mereka dengan cara membuat tema harian atau mingguan. Peralatan/buku/mainan yang di-display hanya yang sesuai tema saja dan ditaruh di rak berbeda dengan mainan yang sudah disimpan di kotak tertutup.

Hambatan ketiga yaitu ketika saya sudah berhasil memisahkan barang-barang yang akan disimpan dengan barang-barang yang akan saya discard, pasti rumah jadi terlihat penuh dan berantakan (terutama oleh barang-barang yang akan di-discard).

Solusinya, sejak awal saya akan menyediakan kotak kardus besar yang terdiri atas dua kategori: kardus untuk barang yang didonasikan dan kardus untuk barang yang akan dibuang. Jadi barang-barang tidak berceceran di lantai karena saat selesai disortir, semuanya langsung dimasukkan ke kotak kardus.

Hm, tugas kali ini tantangan besar bagi saya. Karena saya harus segera memulai dan menuntaskan kegiatan berbenah yang telah saya jadwalkan. Kebetulan saya dan suami sudah mulai berbenah minggu ini, semoga kerapian bisa bertahan lebih lama. Yes, we’ll start doing the KonMari Method from zero.

 

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shokyuuclass
#shokyuuB2Task2
#sparkjoy