Tidying Festival Clothes Part 1 Bersama Anak-Anak

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga….Pekan ini para peserta Shokyuu Class memulai Tidying Festival dengan kategori pertama yaitu CLOTHES

Pada kategori ini, para peserta diberi waktu 2 pekan untuk berbenah pakaian, kerudung, sprei, handuk, lap, keset, sepatu, tas, ikat pinggang, kaos kaki, topi dan aksesoris lainnya. Setelah membaca buku dan diskusi panjang di kelas, saya mencoba meringkas hal-hal penting terkait tidying clothes. Apa saja sih yang termasuk pakaian?

1. Atasan (kaos, kemaja, sweater, gamis) 👚👕👔👗
2. Bawahan (celana, rok) 👖
3. Pakaian yang digantung (jaket, coats, jas) 🧥
4. Kaus kaki 🧦
5. Pakaian dalam👙
6. Tas 👝👛👜🎒💼
7. Aksesoris (kerudung, syal, topi, ikat pinggang)🧤🧣🎩🧢👒🧕🏻👓
8. Pakaian untuk tujuan khusus (baju renang, seragam) ⛑
9. Sepatu 👠👡👢👞👟
10. Sprei, sarung bantal, handuk, lap dan keset (bisa dimasukkan kategori ini karena berbahan dasar mirip, cara menyimpannya juga hampir sama dan beberapa disimpan di tempat yang sama. Namun, bisa juga dimasukkan ke dalam komono).

Setelah memahami apa saja yang termasuk dalam kategori clothes, maka kita dapat mengumpulkan semua benda-benda yang ada di dalam list tersebut di atas ke dalam satu area.

🔢 Berikut ini urutan berbenah dengan metode KonMari untuk pakaian

1⃣ Keluarkan semua pakaian yang ada di rumah kemudian letakkan di satu area tertentu. Bila terlalu banyak boleh dipecah menjadi beberapa subkategori. Misalnya mengerjakan atasan dulu, kemudian bawahan dst. Tujuannya agar kita bisa lihat semua pakaian yang kita miliki. Agar memberikan shocking effects. Kemudian pastikan semua pakaian sudah dikeluarkan. Setelah itu buat komitmen bila ada yang kelupaan, akan langsung masuk ke dalam box pakaian yang akan disingkirkan😀 Lalu apa kabar pakaian yang sedang dipakai dan ada di mesin cuci atau jemuran? Menurut Marie, pakaian yang termasuk disitu bisa dilewatkan dulu dan dikerjakan saat pakaian sudah selesai dicuci.

Tumpukan semua pakaian saya, suami dan anak (tas dan sepatu ada disamping dan lupa belum kefoto)

2⃣ Declutter and discard intensely 🌪

Metode KonMari menggunakan joy (kebahagiaan/kesenangan/kegembiraan) sebagai parameter dengan mempertimbangkan value-value yang dimiliki oleh setiap benda. Ketika melalui proses ini kita bisa mengambil satu persatu pakaian, lalu tanyakan pada hati :

“Does it spark joy?” 🤔

Kita harus merasakan dengan seksama sebelum benar-benar memutuskan. Kemudian buatlah 2-6 kotak/kategori :
1. Keep (simpan)
2. Toss (buang)
3. Donate/giveaway (sumbangkan/berikan pada orang lain)
4. Recycle (Didaur ulang)
5. Repurpose dan Upcycle (Diubah menjadi sesuatu yang lain dan bermanfaat)
6. Sell (Dijual)

Catatan : minimal harus ada 2 kotak untuk keep and toss.

Hasil sortir pakaian yang Spark Joy. Sisanya kami donasikan ke Lombok

Contoh pakaian yang bisa di-repurpose: daster jadi lap, kaos jadi sarung bantal. Namun yang harus digaris bawahi, dalam hal ini bukan downgrading ya 😁. Jadi ada proses disitu. Misal untuk membuat lap dari daster, dibuang dulu bagian lengan dan atasnya. Jadi dasternya pun berubah menjadi lap yg lebih berkelas. Lebih spark joy ✨

Lalu apa maksud dari downgrading? Downgrading disini misalnya pakaian yang biasanya dipakai untuk keluar rumah karena disingkirkan sayang akhirnya pakaian tersebut dipakai untuk di dalam rumah. Hal ini sebaiknya dihindari karena biasanya berbeda tingkat kenyamanannya 😉. Misalnya gamis dijadikan daster.

Berikut ini tips yang bisa dicoba ketika pelaksaan tidying clothes

1) Bila sangat sulit untuk memutuskan hanya dengan menyentuhnya, boleh dipakai. Namun, tidak semua pakaian harus dicoba karena akan memerlukan waktu yang banyak.

2) Pakaian yang ber-genre “what if” sebaiknya tidak perlu disimpan. Contohnya pakaian yang tidak muat namun akan muat bila lebih kurus.

Kenapa?

Karena berpotensi menjadi penyebab kita melihat diri kita menjadi kurang spark joy. Bila kaitannya dengan ukuran pakaian vs ukuran tubuh, boleh disimpan sebagai motivasi, tetapi pilih 1 saja 😉

Bila pakaian anak misalnya ingin untuk adiknya, boleh disimpan bila memang perencanaan kehamilannya cukup dekat. Namun, jika rencana hamilnya cukup lama misal 5 tahun lagi, maka sebaiknya tidak perlu disimpan.

Learning to live in the present moment is part of the path of joy

3) Menyetrika pakaian apakah perlu?

Tergantung kebutuhan, bila ingin, boleh. Tidak juga ya boleh. The battle is yours 😂.

4) Pakaian anak siapa yang mengerjakan proses declutternya?
Bila anak sudah bisa memutuskan, ajak serta. Bila masih belum bisa, maka dapat dikerjakan oleh orangtuanya.

5) Pisahkan terlebih dahulu semua pakaian yang berbau nostalgia. Kerjakan nanti di akhir bersamaan dengan sentimental items.

Langkah selanjutnya adalah menentukan “rumah” untuk masing-masing kategori pakaian. Setelah kita melipat dan membagi pakaian menjadi beberapa kategori seperti atasan, bawahan, atau kaos, celana panjang, celana pendek, rok, pakaian dalam, kerudung, jaket, aksesoris, sprei dan handuk, langkah selanjutnya menentukan “rumah” mereka masing-masing. Dengan melihat dan mengetahui deretan pakaian yang kita punya, tentu saja mempermudah dalam menentukan jumlah storage yang dibutuhkan. Sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jangan sampai membeli storage yang ternyata malah tidak terpakai karena ukuran atau jumlahnya tidak sesuai dengan pakaian yang kita punya. Namun jika tidak ada budget khusus, kita bisa berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah seperti dus-dus bekas atau memodifikasi storage yang sudah kita punya. Kalau saya dalam hal pemilihan storage biasanya memilih beli di flea market merk ikea atau miniso murah meriah dan masih sangat bagus untuk dipakai lagi. Sebenarnya kalau punya waktu luang boleh ber-diy ria bersama anak-anak tetapi setelah saya pertimbangkan lebih baik pakai yang sudah ada saja, beli di pasar seken aviari dengan rate harga sepuluh sampai dengan tiga puluh ribu rupiah per item. Sangat worth it kan?

Hasil lipatan pakaian yang Spark Joy ala #KonMari.

Setelah mempersiapkan rumahnya, saatnya berkreasi dan menata lemari ala #konmarimethod. Satu pekan rasanya belum cukup buat berkreasi dan jujur belum 100% spark joy karena banyaknya iklan tetapi sejauh ini saya puas dengan perubahan yang terjadi. Sangat terasa perbedaannya antara belajar melalui tutorial dan belajar melalui pendampingan di kelas KKI. Alhamdulillah, anggota keluarga pun menjadi lebih aware jika ada barang yang belum masuk ke “rumahnya” masing-masing. Anak-anak pun sudah terbiasa memilih dan mengambil pakaian mereka sendiri tanpa harus manggil-manggil mamanya lagi.

 

 

 

Cara Melipat Pakaian〰

Berikut ini ilustrasi teknik melipat pakaian ala Konmari

Di antara kesalahan dalam melipat pakaian sehingga membuat pakaian tidak dapat berdiri sendiri dan kurang compact adalah tidak menyisakan gap.

TEKNIK MENYIMPAN PAKAIAN

1. Simpan vertikal (berdiri)

Metode ini menurut Marie dapat membuat benda lebih “bernafas” karena tidak saling tindih menindih satu sama lain. Dengan penyimpanan vertikal, kita juga bisa melihat semuanya dalam satu kali lihat (all at one glance). Selain mempermudah saat mencari dan memilih sesuatu, metode penyimpanan ini juga dapat memudahkan kita saat mengambil tanpa merusak susunan pakaian yang lain. Untuk menambah kadar joy, pakaian dikelompokkan berdasarkan warna. Disusun dari warna gelap ke warna terang (bergradasi)

2. Digantung

Penyimpanan dengan metode digantung ditujukan untuk pakaian yang lebih “happy” di gantung. Contohnya jaket tebal, coat, suit, gaun pesta dll. Pakaian di gantung dari yang tebal/berat ke yang ringan, dari yang gelap ke yang terang dan dari yang panjang ke yang pendek. Sehingga membentuk ↗ (rise ke kanan). Usahakan menggantung pakaian sesuai kategori juga (bila memungkinkan). Misal jas bersebelahan dengan jas, jaket dengan jaket.

Tips:
Setelah selesai disortir, simpan pakaian yang digantung lebih dahulu karena lebih mudah dan tidak perlu dilipat. Sehingga mempercepat berkurangnya tumpukan pakaian yang akan disimpan.

keadaan lemari sebelum dirapikan

Pakaian dalam dilipat dan disusun vertikal kecuali bra. Bra tidak perlu dilipat cukup disusun berdiri berjajar dan talinya disembunyikan kedalam. Pakaian yang bahannya sangat lembut dan lemas dapat digulung atau digantung.

MENYIMPAN AKSESORIS DAN LINEN

1. TAS

Ada 2 cara, yang pertama dilipat seperti pakaian. Untuk tas-tas yang berbahan kain dan memungkinkan untuk dilipat. Tas yang dilipat disimpan vertikal di dalam kotak. Cara ke dua: bag inside bag. Keuntungan dari metode ini adalah menghemat tempat dan membuat tas dalam posisi yang lebih stabil (tidak pleyat pleyot). Usahakan pegangan/handle tas/bagian atas tas terlihat dari luar. Sehingga kita bisa tau apa tas yang didalam hanya dengan melihat sekilas saja.

2. SEPATU

Menyimpan sepatu di rak, tersusun dan terlihat. Tidak disarankan bertumpuk-tumpuk.

3. TOPI

Topi disimpan dengan cara disusun agar bentuknya tetap terjaga

4. PERHIASAN

Disimpan seperti di toko emas, berjejer.

5. SPREI DAN SARUNG BANTAL

Disimpan vertikal dan diatur berdasarkan kategori warna dan motif (bila ada).

6. HANDUK
Dapat disimpan vertikal maupun disusun seperti cara konvensional. Sesuaikan dengan kebutuhan. Bila rotasi pemakaian cukup cepat dan saat mengambil handuk tidak perlu memilih warna/motif maka bisa disusun seperti biasa.

7. LAP DAN KESET CADANGAN
Sama dengan nomor 5. Dilipat ala Konmari dan disimpan vertikal (berdiri).

8. KAOS KAKI
Dilipat, disusun berdiri, susun berdasar warna. Jangan digulung agar karet elastis lebih awet.

Berikut foto-foto perubahan yang sudah saya lakukan.

Notes:

Posisi paling bawah berisi sprei, cadangan handuk, mukena, sajadah, dan sarung belum tertata dengan maksimal.Pakaian anak disimpan di tempat yang terjangkau untuk memudahkan anak kita. Posisi dan penataan bisa berubah sewaktu-waktu menunggu hasil hunting storage di flea market 😂 Kami sengaja masih pakai storage dari dus agar ketika sudah mendapat storagenya, bisa langsung dipindahkan ke rumah baru sebagai gantinya.

Gimana kira-kira..udah spark joy belum yaa…

Sensei, lemari saya bukan drawer, bagaimana ini? Tunggu cerita saya minggu depan 😊

Happy decluttering and discarding 💪🏼

Enjoy the festival!

Salam, Spark Joy 🌸✨

Sumber Lecture KKI:
1) Online Course KonMari Udemy
2) Buku Spark Joy
3) The Life- changing Magic of Tidying up
4) The Life- Changing Magic of Tidying up – Manga

Project Bedah Rumah ala Konmari With Kids

Setelah hampir satu bulan, saya dan teman sekelas #shokyuuclass menerima materi demi materi tentang basic metode konmari, sekarang tiba saatnya special event yang ditunggu-tunggu yaitu Tidying Festival.

Sesuai dengan namanya, Tidying Festival berarti berbenah secara besar-besaran, menyeluruh dan sekaligus dilakukan sekali seumur hidup. Karena begitu spesialnya, para peserta Shokyuu Class harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum melakukan festival sekali seumur hidup ini.

Berbenah Sekaligus, Jangan Sedikit-Sedikit

“Mulailah dengan membuang. Kemudian rapikan ruangan anda secara sekaligus, menyeluruh, dalam satu waktu, ” Ini yang Marie Kondo sampaikan nelalui bukunya the life-changing magic of tidying up. Kesimpulannya berbenah harus dilakukan sampai tuntas agar terasa perubahan yang terjadi.

Dulu saya suka berbenah sedikit-sedikit. Hasilnya, barang-barang kembali berantakan. Tapi melalui kelas ini saya mencoba berbenah secara sekaligus dan tuntas, harapan saya mudah-mudahan barang-barang akan tertata lebih rapi dan akan banyak space di dalam rumah. Hari ini saya mencoba mencicil membenahi kategori baju, semoga ruangan “baru” yang kami benahi tidak berantakan kembali, kecuali tempat bermain anak yang memang (harus) dibereskan setiap hari.

Jadi, mulai hari ini saya meluangkan waktu khusus untuk berbenah baju sampai selesai dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu ke depan. Tak lupa diiringi dengan do’a dan penuh rasa syukur karena Allah telah memberikan banyak rezeki sampai detik ini. Saya tidak habis pikir, rupanya momen berbenah ini ternyata menjadi sesuatu yang penting dan istimewa.

Beberapa persiapanpun saya lakukan untuk menyambut festival ini, diantaranya:

1. Membuat Schedule of Tidying Festival bersama anak-anak

Dengan membuat jadwal berbenah yang telah disepakati oleh saya dan suami, akan sangat memudahkan kami dalam mengatur dan melihat target-target yang telah dibuat. Anak-anak sengaja saya libatkan dalam kegiatan ini agar mereka mengenal barang-barang miliknya dan lebih bertanggung jawab terhadap barang kepunyaan mereka. Di sisi lain, mereka juga belajar untuk melipat dan meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Istilah yang mereka pakai adalah ‘masuk kandang,’ misalnya baju yang baru dilipat langsung dimasukkan ke dalam laci (kandangnya,pinjam istilah anak-anak).

Baca juga : Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

●》Meluangkan waktu untuk berbenah tiap akhir pekan.

Kalau biasanya akhir pekan banyak kami habiskan untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti berlibur, berolahraga, berenang, bermain di taman kota atau silaturahim ke beberapa teman dan saudara, kali ini saya dan anak-anak sepakat menggunakan weekend kami untuk berbenah besar-besaran.

●》Mengunduh foto-foto dan video tutorial yang berhubungan dengan Metode Konmari.

●》Menyiapkan beberapa keranjang atau kardus sebagai storage sementara untuk barang-barang spark joy dan mengumpulkan karung bekas untuk barang yang tidak spark joy.

●》Menentukan akan didonasikan kemana barang-barang yang tidak akan kami simpan.

Itulah beberapa persiapan kami sebelum memulai “Tidying Festival”. Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga @konmariindonesia. Mudah-mudahan kami bisa mengikuti tahapan belajar yang disiapkan tim #konmariindonesia dan semua target berbenah keluarga tercapai di akhir program Intensive Class ini. Aamiin

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shookyuclass
#shookyuB2task3
#sparkjoy

Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

Kali ini, saya akan menuliskan kembali bahasan mengenai mindset dalam metode KonMari yang saya pelajari beberapa minggu terakhir dan bagaimana cara menjaga mindset tersebut. Menurut pemahaman saya, Task 1 dan 2 di Shookyu Class KKI ini masih berkutat seputar mindset dan visualisasi. Kenapa begitu? Setelah saya tarik benang merah, mindset adalah hal terpenting saat kita ingin melakukan sesuatu. Perubahan yang besar dan langgeng hanya bisa terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, pola pikir yang “benar” mengenai berbenah yang perlu kita jaga. Sementara visualisasi diperlukan untuk menguatkan keyakinan dan semangat kita dalam mencapai tujuan, sekaligus memprogram pikiran bawah sadar kita untuk menujunya.

Banyak orang yang tidak berhasil mencapai tujuan bukan karena tak mampu. Tetapi, lebih disebabkan oleh mindset yang salah. Begitu juga dengan berbenah. Jika kita mengalami masa-masa berbenah tiada akhir, melelahkan, bahkan frustasi, saatnya kita harus memeriksa ulang mindset kita. Ketika mendapat tugas terkait mindset dan menjaga mindset, saya dan suami lalu berdiskusi. Berdiskusi terkait mindset apa yang kami miliki selama ini, dan bagaimana seharusnya mindset itu dibangun. Dari hasil diskusi itu akan nampak mana saja mindset yang salah selama ini, dan terbentuk mindset baru dengan harapan dapat menata hidup yang lebih baik. Di task kedua, saya merasa mindset yang baru pun harus dijaga agar tetap on track. Membangun mindset yang benar, bukanlah hal mudah. Terlebih lagi menjaganya. Bagaimana kami akan menjaga mindset untuk sebuah goals atas tujuan proses berbenah ini? Dan bagaimana cara menjaga mindset positif dalam berbenah itu menjadi poin yang harus saya diskusikan lagi bersama suami.

Menjaga Mindset

“The question of what you want to own is actually the question of how you want to live your life.” – Marie Kondo

“Focusing solely on throwing things away can only bring unhappiness. Why? Because we should be choosing what we want to keep – not what we want to get rid of.” – Marie Kondo

Kutipan yang pertama mengingatkan saya pada mindset yang sudah cukup mengakar di lingkungan sosial kita: semakin banyak benda yang dipunyai seseorang, maka semakin sukses pula hidupnya. Sayangnya, mindset seperti itu akan membuat kita menjadi gemar mengumpulkan barang-barang hanya demi terlihat ‘sukses’ (dalam banyak artian), padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Atau kalaupun butuh, kita hanya perlu dalam jumlah kecil saja.

Kutipan yang kedua juga sangat berkaitan dengan ini. Alih-alih berbelanja dan menyimpan banyak barang, akan lebih baik jika kita menyimpan sedikit, tapi kita tahu bahwa yang sedikit itulah yang paling bisa memberi kebahagiaan dan kebermanfaatan untuk kita.

Visualisasi Ideal Lifestyle Keluarga Kami

Tahap awal yang saya lakukan ketika memilih hidup minimalis adalah membuang hingga tuntas. Membuang barang disini artinya membuang barang yang sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali sedangkan barang yang masih layak pakai dapat disedekahkan atau dijual kembali. Perumpamaannya jika kita hendak pindah rumah balik ke kampung halaman. Pengennya kita nggak bawa barang-barang yang berat kan biar nggak susah nantinya. Jadi kita kirimkanlah dulu sebagian barang-barang lewat ekspedisi ke kampung kita. Seperti itulah hidup dengan sedekah. Kita pindahkan sebagian harta kita untuk di akhirat nanti, supaya ketika meninggal nggak berat lagi bawaan kita, karena nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nya. (Ust syafiq basalamah). Intinya, saya harus menjaga konsistensi agar jangan terbiasa menumpuk barang!

Lalu untuk saya pribadi, bagaimana caranya agar mindset-mindset ini tetap terjaga? Ini PR bagi semua orang yang sedang berjuang untuk berubah lebih baik. Barang yang paling mudah membuat saya melakukan penimbunan (hoarding) adalah buku dan mainan anak. Barang-barang ini, bisa dibilang, adalah barang-barang yang paling berpotensi untuk menghancurkan kembali mindset yang sudah saya bangun. Akhirnya saya pun mengaplikasikan prinsip One In One Out. Awalnya saya sortir dulu, buku dan mainan anak mana yang lebih sering dibaca dan dimainkan. Jadi fokusnya ke buku dan mainan yang ingin disimpan, bukan yang harus dipensiunkan. Baju anak yang sudah kekecilan dan jarang dipakai lagi saya discard dari lemari.

Saya sudah melakukan perubahan kecil ni sejak lebih dari setahun yang lalu. Hasilnya, hidup saya terasa lebih simpel dan bahagia. Kenapa? Karena sekarang saya tidak perlu lagi mengurus terlalu bangsa barang di rumah. Apalagi dalam situasi berlama-lama di depan lemari yang penuh sesak sambil kebingungan mencari barang yang hendak saya pakai. Menurut saya, kita tidak perlu merasa sedih atau baper, karena sebetulnya those book and toys (in this case) have served their purpose: barang-barang ini sudah memberikan kebahagiaan pada saya saat saya membeli mereka. They had brought me joy, but now it’s time to move on. Efek samping dari ini: sekarang saya tidak mudah lapar mata. Kalau pun saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku atau mainan anak, saya hanya membeli buku yang berkualitas saja bahkan kebanyakan barang yang kami pakai di rumah hasil hunting di flea market dan mudah dijual kembali with good price.

Berdasarkan goals tersebut, maka saya harus membuat timeline dan meluangkan waktu khusus untuk berbenah secara total. Memulai berbenah sama halnya dengan membuka lembaran baru. Setelah membuat timeline berbenah kita harus mengantisipasi juga hambatan atau tantangan apa yang akan muncul dalam proses berbenah nantinya serta solusi apa yang harus kita siapkan jika kemungkinan-kemungkinan hambatan itu terjadi. Berikut ini timeline project konmari saya bersama anak-anak.

 

Hambatan dalam Berbenah

Hambatan pertama dan utama yang pasti akan saya hadapi adalah ‘keikutsertaan’ anak dalam proses berbenah. Ini saya alami juga ketika saya dan suami harus packing besar-besaran saat kami pindah rumah beberapa tahun yang lalu. Anak saya ketika masih Faris dan baru berumur 1,5 tahun, ketika itu terasa agak susah jika ia harus dilibatkan dalam proses berbenah. Yang ada berbenah malah makin lama selesainya dan saya jadi stres karena pekerjaan tidak kunjung selesai. Nah, apa kabar sekarang saya sudah punya dua balita laki-laki yang MasyaAllah sedang heboh-hebohnya.

Jadi bagaimana solusinya? Solusi untuk kegiatan ini ada dua. Pertama, saya dan suami berbenah ketika anak-anak tidur. Kedua, saya berbenah sendirian dan anak-anak diajak papanya bermain outdoor saja. Dua solusi ini pernah kami lakukan, and it worked.

Hambatan kedua berkaitan dengan komonos. Untuk kosmetik, alat tulis dan mainan anak, saya sangat susah membuat benda-benda ini rapi dalam jangka waktu yang lama. Ketika saya sudah selesai merapikan, pasti tidak lama nanti akan berubah berantakan lagi.

Solusi untuk kosmetik dan alat tulis, saya akan membuat storage divider agar lebih rapi dan mudah menemukan apabila sedang mencari.

Untuk mainan anak-anak, saya akan sortir seluruh mainan sesuai kategori untuk kemudian saya kemas ke dalam kotak-kotak tertutup. Toh tidak semua mainan harus dimainkan pada hari itu. Jadi saya harus lebih konsisten dalam kegiatan bermain dan belajar bersama mereka dengan cara membuat tema harian atau mingguan. Peralatan/buku/mainan yang di-display hanya yang sesuai tema saja dan ditaruh di rak berbeda dengan mainan yang sudah disimpan di kotak tertutup.

Hambatan ketiga yaitu ketika saya sudah berhasil memisahkan barang-barang yang akan disimpan dengan barang-barang yang akan saya discard, pasti rumah jadi terlihat penuh dan berantakan (terutama oleh barang-barang yang akan di-discard).

Solusinya, sejak awal saya akan menyediakan kotak kardus besar yang terdiri atas dua kategori: kardus untuk barang yang didonasikan dan kardus untuk barang yang akan dibuang. Jadi barang-barang tidak berceceran di lantai karena saat selesai disortir, semuanya langsung dimasukkan ke kotak kardus.

Hm, tugas kali ini tantangan besar bagi saya. Karena saya harus segera memulai dan menuntaskan kegiatan berbenah yang telah saya jadwalkan. Kebetulan saya dan suami sudah mulai berbenah minggu ini, semoga kerapian bisa bertahan lebih lama. Yes, we’ll start doing the KonMari Method from zero.

 

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shokyuuclass
#shokyuuB2Task2
#sparkjoy