Tantangan Hari ke-7 : Faris Pasti Bisa, Semangat Berlatih!

Selama 6 hari latihan komunikasi produktif, alhamdulillah mulai nampak progress yang berarti di rumah kami. Dengan mengubah cara berkomunikasi, raut wajah ramah, intonasi dan pilihan kata yang baik memberi efek yang positif terhadap diri kita, saya pribadi dan anggota rumah. Kami lebih bisa mengontrol emosi, sering senyum dan tidak mudah kesal 😊.

Jika biasanya setiap saya meminta atau mengajak melakukan sesuatu, spontan Faris menjawab “Faris lagi capek nih, Ma” sekarang dengan memberikan pilihan, atau dengan bertanya “Siapa yang mau bantu, Mama?”, tentu saja tidak pakai galak anak-anak langsung berebut peran ingin membantu..hehe, saya sudah jadi lebih sabar dong. Aamiin 😁

Contohnya tadi pagi, selepas mandi Faris lama sekali tidak segera mengenakan baju. Saya bertanya “Faris, mau pakai bajunya kapan?” Lalu saya berkata, “Siapa yang mau Mama bacain buku ayo yang sudah pakai baju bisa baca buku sama Mama.”

Eh..nggak lama anak-anak langsung bergegas mengambil tempat untuk dibacakan buku.

Jika biasanya mengeluh dan minta dibantuin membereskan mainannya, sekarang alhamdulillah.. sudah mau membereskan sendiri. Cukup bilang dengan lantang dan ikut bermain role play.

“Ayo,kita bereskan Pak!!!”

“Mungkin ada di sebelah sana kontainernya, jangan sampai tertukar!”

“Kita harus berusaha, pasti bisa rapi mainannya!”

Ada lagi, saya senang Faris menunjukkan kemauan untuk belajar menulis. Setelah sekian lama akhirnya ia punya kemauan sendiri untuk melatih kekuatan jarinya dalam menulis.

Hari ini Faris sangat kooperatif. Yang biasanya mager ketika diajak beberes sekarang langsung mau. Anak-anak terlihat bersemangat membantu saya membereskan rumah karena kebetula saya pun sedang menyelesaikan tidying fesrival komono di dalam rumah ini.

Siang tadi setelah selesai makan, tiba-tiba Faris sibuk mengeluarkan satu box berisi pensil warnanya. Kemudian sibuk mengajak adiknya untuk mencoret-coret dinding kamar. Saya pun mulai menegurnya, “Faris jangan coret-coret di tembok, Mas. Kalau mau belajar tulis-tulis pakai kertas ya.”

“Nggak coret-coret, Ma. Faris mau belajar tulis yang garis-garis itu loh.” katanya

“Faris mau belajar sambung garis untuk nulis huruf?” tanya saya.

“Iya yang itu. Mana Ma kertasnya?”

Tiba-tiba Faris datang mendekatiku yang sedang sibuk beberes.

“Ma..Faris ambil sendiri ya kertas buat latihannya.” ujarnya sambil meminta izin.

“Wah, dah besar ternyata Mas Faris bisa ambil sendiri. Coba bawa kesini sambil Mama periksa Faris mau belajar yang mana.” instruksi saya sambil menyemangatinya.

Saya senang sekali, saya puji Faris karena sudah mau belajar menulis dan menyiapkan sendiri apa yang ingin ia pelajari hari ini.

“Waaah..Mas Faris hebat sudah mau belajar menulis hari ini.” Saya sangat excited ketika ia mau belajar menulis karena selama ini ia belum tertarik untuk latihan menulis.

Faris senyum-senyum

“Faris seneng?”

“Iya Faris mau latihan lagi besok. Ternyata Faris bisa Ma.” katanya meyakinkan.

“Iya, Faris pasti bisa kalau rajin berlatih lama-lama pasti makin bagus tulisannya.” tambah saya menyemangati.

Semoga besok makin lancar latihannya. Dan jika belum..kita harus terus semangat untuk latihan ya Nak..Semangat!

Apa yang menarik hari ini?

💌Keep information short and simple

💌Intonasi ramah dan eye contact

💌Fokus ke depan bukan ke masa lalu. Tidak perlu mengungkit-ungkit kesalahan anak dan terus menyemangati untuk belajar

💌Ganti kata ‘tidak bisa’ menjadi ‘bisa’ dengan berusaha/belajar

💌Ganti perintah dengan pilihan

💌Jelas memberi pujian (memuji usahanya)

#Hari7

#Gamelevel1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayip

Tantangan Hari Ke-6 : Belajar Menjawab Pertanyaan Anak

Faris adalah seorang anak yang selalu ingin tahu tentang banyak hal dan tidak pernah mau diam, baik tingkah polah maupun pikirannya. Anak ini senang sekali dengan buku apalagi yang ilustrasinya menarik dan banyak warna. Tiap kali saya meminjam atau membelikannya buku baru, ia langsung minta dibacakan bahkan sampai berulang-ulang hingga saya pernah ketiduran karena kelelahan membacakannya buku. Karena itulah akhirnya anak ini punya segudang tanya dalam otaknya, tentang banyak hal. Apalagi di usianya yang ke-4 tahun ia semakin kritis sekali, sering nanya ini itu, temanya pun beragam.

Hari ini ia minta dibacakan buku tentang Rukun Iman dan ada satu bab yang belum juga saya bahas yaitu tentang Hari Akhir (Kiamat) untuk anak-anak, bukunya memang menarik dan berilustrasi serta kertasnya juga bagus. Ia meminta saya membacakannya dua kali. Setelah saya bacakan, kelihatannya dia masih anteng-anteng saja. “Kok belum ada pertanyaan macam-macam ya…” pikir saya.

Eh… ternyata selang beberapa saat sambil membolak balik halaman buku tersebut, dia bertanya, “Ma, kenapa sih Allah nanti ngehancurin semua ciptaan-Nya?”

“Iya mas, pada hari kiamat nanti seluruh ciptaan Allah, bumi, langit, dan isinya akan dihancurkan, dan nanti akan diganti dengan alam yang lain.” jawab saya.

“Tapi, bukankah Allah sudah menciptakan manusia bagus-bagus, hewan bagus-bagus, tumbuhan bagus-bagus, bulan, bintang, matahari juga bagus-bagus, kok malah dihancurin, harusnya yang dihancurin itu yang jelek-jelek ajalah. Iya nggak Ma?” tanyanya lagi, belum puas. Mungkin dia menafsirkan apa yang sudah tercipta dengan bagus, ya sudah, tidak usah dirusak.

Saya mencoba memberikan penjelasan sebisa saya, saya mengatakan padanya, “Mas, pada hari kiamat nanti, semua yang telah diciptakan oleh Allah, akan hancur. Makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan, malaikat, jin, syetan akan dimatikan dan benda mati seperti bumi, bulan, matahari, bintang, planet, dan lainnya akan dihancurkan, baik itu bagus atau tidak, Allah tidak pandang bulu”.

“Trus, setelah dihancurkan bumi ini jadi apa, Ma? Kata Mama nanti bakal diganti dengan alam yang lain, alam apa itu?” tanyanya lagi masih menyelidik, karena pertanyaannya masih belum saya jawab sepenuhnya.

Waduh… anak-anak jaman sekarang memang pikirannya sudah jauh ke depan☺️ Tapi, ya gitu deh, emaknya jadi kewalahan dan bingung mau jawab apa, kalau tidak dijawab, nanti takutnya akan membunuh sikap kritisnya itu, kalau asal saja jawab malah nanti si anak akan punya konsep awal yang salah, apalagi ini pertanyaan yang masih abstrak dan sulit dijelaskan kepada anak usia dini.

Akhirnya saya menjawab dengan hati-hati dan semoga ini tidak salah, “Mas, setelah Allah menghancurkan alam semesta dan isinya pada hari kiamat nanti, maka Allah akan mengganti alam kita ini dengan alam yang baru, kalau saat ini kita berada di alam yang namanya alam dunia, dan nanti setelah hari kiamat, Allah akan mengganti alam dunia ini dengan alam yang bernama alam akhirat. Di alam akhirat nanti semua manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah dan akan ditimbang amal baik dan amal buruknya kaya yang kita baca di buku tadi. Kalau amal baiknya lebih banyak maka akan masuk surga. Sebaliknya kalau amal buruknya yang lebih banyak, maka akan masuk neraka. Mas Faris mau masuk surga atau neraka?” “Faris mau masuk surga lah…!” katanya bersemangat.

Saya pun teringat hadits yang diriwayatkan ketika dahulu ada seseorang pernah bertanya kapan kiamat terjadi. Kemudian Rasulullah bukan menjawab kapan terjadinya tetapi malah bertanya. “Apa yang sudah engkau siapkan? ”

Setelah orang tersebut menjawab bahwa ia belum punya ibadah yang banyak, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah bersabda, engkau akan bersama orang yang engkau cintai di surga.

Nah.. adeemm banget yah jawaban terakhir Beliau❤

Mengapa Rasulullah tidak menjawab? Karena kiamat hanya Allah Yang Tahu. Hak prerogatif Allah.

Mengapa Rasulullah malah balik bertanya? Karena menyiapkan diri jika terjadi kiamat lebih penting. 😭

Dari menjawab di luar konteks tersebut, kita ummatnya malah jadi tahu hal yang sederhana tapi ternyata besar di sisi Allah dan Rasul-Nya, mencintai Allah dan Rasul akan menjadi salah satu penyebab kita masuk surga.😭 aamiin

Nah dari hadits ini, bagaimana praktek menyampaikannya ke anak? Hari ini saya belajar

1⃣ Sesekali jika anak bertanya sesuatu yang ‘sudah Kekuasaan Allah’ jangan kita jawab ‘yaudah dari sananya’ sambil ketus pula. BIG NO! Saya harus mengenali situasi emosi diri sendiri ketika berkomunikasi. Kendalikan intonasi suara dan berusaha menggunakan suara lembut.

2⃣Kegiatan bertanya balik merupakan cara memberi feedback dan mengarahkan ke hal yang lebih penting dari pertanyaan itu.

3⃣Terakhir menutup obrolan dengan sebuah pemahaman penting.

Misal :

Faris pernah bertanya kepada saya, “Ma, kenapa manusia kakinya dua, tapi kalo kambing 4.”

Pernah saya ingin menjawab, ya udah kekuasaan Allah lah, Mas. Tapi mikir, kalo jawab kaya gini kok biasa aja ya. Pengen jawab yang luar biasa sekali-kali. Dan sejak menginjak 4 tahun makin kritis, saya udah nyengir duluan ngebayangin dia ngejawab lagi, “Mama mah kekuasaan Allah mulu.. ya tapi kenapa” 🤣🤣🤣 jadi adu mulut entar saya sama Faris🤣 lalu adeknya bengong jadi wasit🤣

Saya tarik napas, bismillah dalam hati, minta dikasih sabar dan lembut sama Allah. Terus jawab “Mas tahu gak siapa yang menciptakan manusia dengan 2 kaki dan kambing dengan 4 kaki?” (Mengalihkan dan mengarahkan)

Faris menjawab, “Allah”

“Iya Mas. Allah Al Khalik yang Maha Menciptakan. Hebat yah, ada manusia yang kakinya dua. Kambing yang kakinya empat.” (Menutup diakusi dengan pernyataan lebih penting)

“Hm iya yah. Cuma Allah yang bisa ya Ma.”

“Iya.Nanti ya kita cari tahu lagi lebih banyak lagi di buku.” tutup saya.

#Hari6
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip
#imansebelumquran
#adabsebelumilmu

Tidying Komono Part 1

Apa kabarnya tidying festival? Lanjutt mak💪

Kali ini yang kita benahi adalah komono. Komono dalam bahasa kanji secara harfiah berarti “benda kecil / barang”, sementara dalam konmari diartikan sebagai bermacam barang di luar empat kategori lainnya (miscellaneous items).
Menurut saya tidying festival komono ini lebih rumit karena komono terdiri dari sub-sub kategori yang berbeda-beda, sehingga dalam bayangan saya seperti adalah printilan saya yang banyak dan tersebar di seluruh bagian rumah😭. Saya juga sedang dalam pencarian untuk menemukan cara yang lebih spark joy dalam menyimpan printilan saya ini. Solusinya saya simpan sementara dalam box plastik hasil hunting di pasar seken. Mudah-mudahan dengan diberikan rumah maka printilan saya ini akan lebih mudah dicari apabila dibutuhkan.
Sebelum memulai berbenah untuk mengurai keruwetan maka terlebih dahulu saya membuat daftar sub-kategori barang-barang yang termasuk komono. Berikut daftar yang saya buat:
1. Alat Tulis
2. Perlengkapan Mandi dan Kebersihan
3. Kosmetik dan Obat-Obatan
4. Aksesoris
5. Peralatan Elektronik
6. Mainan Anak

Komono 1

Bagi saya yang sehari-hari mendampingi anak-anak belajar, alat tulis merupakan sesuatu yang penting bagi kami. Meskipun sudah dirapikan dan dikembalikan ke tempat semula tetap saja yang namanya anak-anak ini banyak sekali alat tulis yang bercampur dengan mainan yang lain. Berikut ini hasil berbenah alat tulis saya dan anak-anak yang terdiri dari pensil, pulpen, stabilo, pewarna, card holder, staples, dan beberapa bahan untuk bebikinan. Sebelumnya barang-barang ini saya simpan ke dalam satu keranjang dan berpotensi tercampur aduk dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya saya malas merapikan kembali karena harus menyisihkan waktu khusus untuk beres-beres.

Komono 2

Ternyata tidak banyak yang saya singkirkan karena perlengkapan mandi kami di rumah sangat sederhana dan sedikit. Saya pun tidak banyak menggunakan produk pabrikan. Perlengkapan mandi yang ada di kamar mandi kebanyakan milik bersama kecuali shampoo. Karena saya dan anak-anak sudah lama beralih ke produk mandi yang natural dan lebih ramah lingkungan. Untuk produk kebersihan pun saya sudah beralih ke sabun pembersih alami dan dibuat sendiri di rumah. Jadi saya tidak perlu menyetok banyak produk kemasan pabrikan.

Komono 3

Alat make up, parfum, produk perawatan kulit dan rambut yang saya miliki pun tidak banyak. Sehingga untuk sub kategori kosmetik dan obat-obatan ini saya simpan dalam satu tempat.
Wadah plastik transparan ini berisi obat-obat pribadi saya dan anak, sebagian besar berisi krim, salep, patch, essential oil, termometer, dll. Kendalanya awalnya saya bingung karena kalau digeser maka benda-benda yang diletakkan berdiri akan jatuh. Mungkin nanti akan saya carikan box penyimpanan dengan sekat agar tidak mudah jatuh lagi.

Komono 4

Laci kecil ini berisi aksesoris saya. Harusnya saya bereskan ketika tidying festival di bagian clothes, tetapi terlewat karena saya fokus pada baju/pakaian dan barang-barang ini campur aduk dengan komono lain dan kosmetik sehingga saya sortir sekarang. Kendalanya karena banyak printilan kecil maka banyak aksesoris milik saya yang saya discard untuk dijual kembali.

Komono 5

Untuk peralatan elektronik saya skip dulu proses berbenahnya karena sebagian besar barang milik suami. Jadi insyaAllah akan segera menyusul kami benahi sambil

Komono 6

Mainan anak. Sejujurnya saya masih merasa belum tuntas untuk mainan anak ini. Saya sudah mulai merapikan mainan mereka per box per kategoru agar mudah diambil dan dirapikan kembali oleh anak-anak. Meskipun belum terlalu spark joy namun progresnya sudah lebih baik.

Saya lupa foto beforenya karena biasanya saya berbenah sambil mencuri waktu ketika anak-anak sedang tidur.

Beberapa kendala yang saya alami ketika berbenah komono :

1. Banyak sekali item barang yang harus dibenahi yang termasuk dalam kategori komono ini. Sejak awal masuk kelas ini, saya sudah sadar ketika membaca list apa saja yang masuk kategori komono. Barang paling banyak di rumah adalah komono, dan kebanyakan tersebar kemana mana.

Untuk mengatasinya, saya membuat daftar list sub kategori dengan penjadwalan dan target. Diharapkan semua proses bebenah bisa selesai tepat waktu.

2. Letak barang yang tersebar di beberapa tempat dan campur aduk antara satu sub kategori dengan yang lain
Untuk mengatasinya, saya membuat daftar list tempat saya menyimpan komono, kemudian mengumpulkan masing2 sub kategori menjadi satu area untuk disortir.

3. Anak-anak balita yang menyita banyak perhatian karena memang mereka hampir 24jam selalu bersama saya. Untuk mengatasinya, saya harus mencari waktu khusus dimana saya bisa berbenah, yaitu saat mereka tidur. Saya juga harus menjaga kondisi fisik agar bisa bertahan terutama dengan mencuri cuti waktu untuk istirahat.

4. Barang yang ada bukan hanya milik saya, tetapi milik suami dan anak-anak. Banyak barang yang suami yang tersebar dimana-mana dan entah sampai kapan mau menumpuk barang.
Untuk mengatasinya, saya mencoba menggunakan komunikasi positifll] []] dan memberi pengertian bagaimana konmari itu ke suami. Begitu pula ke anak, bahwa barang yang dia miliki mungkin lebih bermanfaat bagi orang lain daripada hanya disimpan.

5. Kesulitan mencari storage yang sesuai
Lumayan menyita energi untuk menata komono yang sudah selesai dipilah. Jika saya hanya menyimpan kembali rasanya akan mudah kembali acak-acakan seiring berjalannya waktu.

Untuk itu saya mengatasinya dengan:
– Melihat lagi materi tentang penyimpanan
– Mencari beberapa referensi ide penyimpanan di internet
– Mencoba menggunakan barang bekas dari pasar seken dan sisa konsumsi di rumah seperti box plastik, gelas, wadah dan botol kaca untuk digunakan

Kelanjutan proses berbenah komono insya Allah akan saya update di post berikutnya ya☺️

#gemar #rapi #sukarapi #gemarrapi #komunitasgemarrapi #menatadirimenatanegeri #shokyuuclass #shookyub2task8 #semangatrapi

Belajar Menggunakan Kalimat Positif agar Anak Mau Mengikuti Instruksi

Entah kenapa weekend ini terasa sangat random bagi saya. Pikiran saya kemana-mana, ditambah list deadline project menulis yang harus segera saya cicil demi kewarasan pikiran saya yang mulai campur aduk ini. Weekend ini saatnya saya menata diri, menata hati, mengelola pekerjaan dan emosi sebagai bekal amunisi seminggu ke depan. Kalau sudah pada titik jenuh berarti saya butuh tidur barang beberapa menit. Kepala rasanya sudah sangat berat dan ngantuk parah. Sepulang berbelanja kebutuhan dapur saya memutuskan untuk istirahat dan tidur.

Setelah shalat dzuhur saya curhat sama suami perihal Irbadh yang sedang belajar dalam proses memahami sebuah perintah. Tidak berhenti disini, saya pun merasa Faris sedang menguji kesabaran saya dengan keusilannya ketika terkadang tidak mau mendengar dan melaksanakan instruksi saya. Baiklah ini tantangan, Mak bukan masalah yang pelik itu sugesti saya dalam hati.

Namanya balita, perlu cara berbicara khusus, supaya mereka mau mendengarkan kata-kata orang tuanya dan memahaminya. Gimana caranya? Belajar teknik berkomunikasi lagi, Mak.~sambil tunjuk diri sendiri.

Kenapa sih anak balita ini sulit untuk mematuhi perintah? Berdasar referesi yang saya baca hal ini disebabkan karena perkembangan pertumbuhan mereka belum siap untuk menginternalisasi apa yang orang tua katakan. Sehingga, kita pun perlu menyampaikan dengan kalimat sederhana dan mengulang kalimat berkali-kali. Jangan suudzon dan curiga dulu ya, Mak. Tidak ada yang salah dengan mereka kok?
Hmmm. Terus gimana dong ya?
Well, bisa jadi, masalahnya bisa terpecahkan jika saya mencoba memperbaiki cara berbicara kepada para balita. Karena, mereka memang masih perlu dibantu untuk lebih fokus mendengarkan mamanya. Plus, satu balita dengan yang lainnya punya kemampuan fokus yang berbeda. Barangkali memang perlu lebih ekstra untuk membantunya.

Seperti tadi ketika kami dalam perjalanan dan berada di dalam mobil, anak-anak mulai menguji kesabaran saya dan suami.

Saya: “Faris, Irbadh ayo duduk yang rapi!”

Faris: (tidak menggubris sambil ketawa-ketawa tetap berdiri di kursi belakang)

Saya: “Faris, ayo duduk kita lagi di jalan. Faris jadi penumpang. Kalau penumpang sebaiknya duduk nggak?”

Faris: “Emang Mama liat?”

Saya: “Meskipun Mama nggak lihat, Allah selalu lihat dan tahu loh Faris ngapain termasuk apa yang ada dalam hati dan pikiran Faris. Ayo duduk, Fa. Kan Faris dah baca buku tentang keselamatan di jalan. Kalau Faris di jalan maka harus du…duk, terus mengenakan seatbelt.”

Faris:”Iya..iya Faris tau.” (dengan nada meninggi)

Saya: “Kok gitu Faris ngomongnya? Mama nggak suka kalo anaknya ngomongnya nggak sopan. Malu ah.”

Faris:(masih lompat-lompat dan belum juga duduk).

Suami:”Faris ayo duduk, kalau jadi penumpang harus duduk.”

Faris:”Emang kenapa kok harus duduk?” (semakin menguji kesabaran, Faris cengengesan dan memancing reaksi saya akan bagaimana)

Saya:”Ayoklah duduk, kalau nggak duduk kita nggak jadi berangkat ajalah.Kan berbahaya kalau nggak duduk bisa kelempar badan Faris kalau Papa lagi ngerem”(Saya menjaga kontak mata. Berusaha berbicara tegas namun nada rendah)

Saya dan suami diam menunggu anak-anak duduk.

Faris:”Udah nih, Ma. Yok jalan yok Pa.”

Saya diam. Faris nampak kesal sendiri, saya bertanya apakah dia mengerti kenapa saya tidak suka jika ia sulit diberi pengertian? Supaya jelas bahwa bukan Faris yang tidak saya sukai..tetapi sikapnya yang seperti itu.

Saya:”Faris tau kenapa Mama marah?”

(Masih diam,tidak menjawab)

Saya:”Mama marah karena Faris nggak nurut nasehat Mama.”

(Masih tidak menjawab)

Saya:”Mama nggak suka kalo Faris melakukan yang nggak bagus padahal Faris tahu itu nggak baik untuk dilakukan.”

Faris:”Iya..iya Faris tau. Mama nggak suka kalau anaknya nggak nurut kan.”sambungnya

Saya:”Mama sayang Faris, tapi Mama nggak suka kalau Faris nggak jadi anak yang baik.”

Faris:”Faris minta maaf Ma,tadi itu nggak sengaja.”

Saya:”Kalo Faris udah Mama bilangin berkali-kali tapi nggak dilakuin itu sengaja namanya..”

Faris:”Itu tadi lupa, Ma.” (masih ngeles)

Saya:”Faris mau janji berubah jadi anak baik?Nurut kalau Mama nasehatin? Nyontohin adiknya yang baik?”

Faris:”Janji..Iya.. Iya.. nggak gitu lagi.Maaf ya Ma.” (Alhamdulillah.. 😊)

Saya:”Ma, maafin Faris ya.” (sambil meluk dan menyandar dari belakang kursi)

Suami pun ikut memuji Faris sambil bilang kami sayang dan mau Faris jadi anak yang baik.

Setelah suasana mencair, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Yang kami pelajari dari latihan hari ini:

💌Menggunakan “pesan saya” untuk memberikan alasan. Mama (tidak suka) + jika kamu + (sikap) + karena (alasan)

💌Clear and clarify
Jelas memberikan kritik (membedakan perilaku anak yang tidak disenangi dengan pribadi anak)

💌Memberi kesempatan anak untuk berpikir dan memutuskan

💌Saya sepertinya masih salah di awal komunikasi, karena kurang memberikan empati ketika Faris mau mainan di dalam mobil, dan kami terburu-buru agar segera sampai rumah sehingga berujung aksi cari perhatian.

Kira-kira komunikasi kami tadi itu sudah produktif belum ya..terutama di kaidah “katakan yang kita inginkan,bukan yang tidak kita inginkan”.

Berikut ini beberapa poin yang sedang kami coba terapkan kepada anak-anak supaya mereka mau mendengarkan dan lebih fokus memahami maksud dari yang kami sampaikan

1. Kita sebaiknya mendekati anak-anak dan tidak berteriak dari tempat yang jauh jika ingin menyampaikan sesuatu. Karena kalau kita berbicara dengan nada melengking dan dari kejauha maka, anak-anak akan berpikir bahwa pesan yang ingin kita sampaikan tidak terlalu penting untuk didengar. Penting juga bagi mereka jika kita berbicara pada level mereka dan disertai dengan kontak mata.

2. Mencoba untuk tetap tenang. Berteriak kepada anak, terutama balita, adalah cara berbicara dan komunikasi yang paling buruk. Apabila kita terlalu sering berteriak maka anak-anak semakin tidak peduli apalagi mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Cara berbicara yang lembut dan tenang ini juga efektif digunakan saat meredakan marah atau tantrum lho. Tapi hati-hati, jangan sampai emaknya ikutan tantrum.

3. Menggunakan kalimat positif
Anak usia balita pada dasarnya memang baru belajar memahami perintah atau instruksi. Jadi, semakin banyak perintah atau instruksi diberikan, semakin sulit bagi mereka untuk mengerti. Terlebih lagi, balita-balita ini juga baru belajar mengenal konsep ‘tidak’ dan ‘jangan’.
Sebisa mungkin orang tua haruslah membuat kalimat perintah positif dan sederhana. Karena, dengan memberikan perintah ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’, maka mereka malah makin melakukannya. Karena ya itu tadi, mereka masih bingung antara “tidak boleh” dan “boleh”.

4. Memberikan Pilihan
Banyak aktivitas sehari-hari yang memang harus dikerjakan, maka kita pastinya harus memberikan perintah atau instruksi kan Mak. Supaya anak balita mau mengikuti instruksi kita maka kami mencoba lengkapi dengan kalimat pilihan. Dengan cara ini, secara tidak langsung akan membuat anak mengerti bahwa kita sedang menginstruksikan untuk melakukan sesuatu sekaligus mengenalkan bagaimana cara memilih dan saling bekerja sama.

5.Memberi Instruksi beserta Alasannya
Apabila kita memberikan instruksi sebaiknya kita berikan mereka penjelasan serta alasan yang masuk akal, mengapa mereka harus melakukan instruksi tersebut. Dengan adanya penjelasan ini maka kita dapat menunjukkan kepercayaaan bahwa anak-anak bisa melakukannya.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tantangan Hari Kedua : Komunikasi yang Mencerahkan Membimbing Menuju Solusi

Berkomunikasi dengan anak membutuhkan kepiawaian lingustik dan ketepatan memilih merode berkomunikasi (luwes). Sebagai contoh, kesulitan saya berkomunikasi dengan anak terutama adalah ketika saya menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saya lebih sering menggunakan teknik using choices to reach goal. Kunci tercapainya komunikasi dengan anak menurut saya salah satunya dengan teknik reframing sehingga menempatkan makna positif pada setiap kejadian yang saya alami. Semoga saya bisa meluaskan makna atas kejadian-kejadian yang saya alami sehingga semakin baik pula saya mengendalikan emosi. Berikut ini cuplikan cerita belajar komunikasi produktif keluarga kami hari ini.

Episode 1

Pagi ini seperti biasa saya dan anak-anak mempunyai jadwal khusus untuk mengolah sampah dapur. Jadi ceritanya hari ini saya tidak memasukkan sisa konsumsi kemarin ke dalam komposter melainkan membuat lubang galian tanah. Bukannya apa-apa komposter embernya belum sempat dicek dan diaduk oleh suami sehingga saya belum tahu progresnya seperti apa. Lama nggak mencangkul ternyata lumayan menguras energi. Yah, beginilah tantangannya menggali tanah kalau tanpa alat yang memadai. Capekk bukkk😅 Sedangkan Faris malah sibuk mencari sandal, dan “nggupuhi” (istilahnya apa ya kalau dalam bahasa Indonesia? 😂) mau ikut membantu juga.

Saya lagi sibuk menggali-gali tanah, Faris makin rempong dan bingung takut ketinggalan.

Faris: “Haduh… mana sih sandal Faris yang satunya? Make sandal Irbadh aja ah. ”

Irbadh: “Nggak Mas!” (mulai merengek sambil bilang menolak pernyataan mas-nya)

Mama: “Jangan mas, jangan godain adeknya. Gimana kalau Faris cari dulu sandal satunya? Pasti lebih keren kalau pakai sandal Faris sendiri karena ukurannya pas👍”

Faris:”Ma, ini ma irbadh malah nangis minta sandalnya kaya orang rebutan aja.”

Mama:”Faris, irbadh minta sandalnya cuma belum jelas ngomongnya, nggak rebutan kok. Adenya takut ketinggalan aja. Faris tolong bantuin ya Irbadh pakai sandal.”

Faris:”Iya, Ma.”

Setelah berakhir drama sandal akhirnya anak-anak ikut nimbrung mengurus sampah. Dan berlanjut untuk siap-siap mandi tanpa banyak hambatan yang berarti.

Tidak mau membuang kesempatan untuk latihan komprod saya memulai percakapan.

“Faris, seneng nggak tadi bantuin Mama? Waah..Faris cinta bumi ya 😊. Kalau Mama ke depan duluan Faris nggak perlu panik dan cepat-cepat lari kaya tadi ya. Kan Mama nggak kemana-mana, Faris cari dulu sandal Faris, temani adeknya juga harus sama-sama.”

Faris:”Tapi..tapi Faris maunya yang cepet Ma.”

Mama:”Allah nggak suka orang yang buru-buru, Mas. Ada tuh hadis yang bilang,” Bertakwalah kepada Allah , sabarlah, dan jangan engkau terburu – buru“ (sambil saya terus mengingat benar nggak apa yang saya ucapkan)

Faris:”Iyaa Ma, iya..Berarti lain kali Faris nggak gitu lagi..maaf ya Ma, tapi Faris tadi lupa.”

Mama:”Iyaa..😚 Maafin mama juga ya Mas soalnya Mama tadi buru-buru kan kita mau datang ke acara pagi-pagi jadinya Mama juga mau cepet selesaikan buang sisa-sisa makanan biar nggak kesiangan.”

Faris:”Kenapa Mama juga buru-buru tadi? Harusnya nggaklah, Ma. Katanya Allah nggak suka sama orang yang buru-buru?”

Mama:”Iya, besok-besok kita jangan buru-buru lagi ya, Mas.” (Emak harus kembali lagi introspeksi diri)

Episode 2

Lagi-lagi dan sudah menjadi rutinitas di rumah ini adalah drama kehilangan barang. Tetapi sesungguhnya hilangnya barang di rumah ini bukan hilang yang sebenarnya tetapi perkara “belum” ketemu aja. Pagi ini suami hectic sekali karena ada agenda jalan sehat di kantornya. Jadilah pagi-pagi suami sibuk mencari barang-barang yang akan dipakainya. Melihat pemandangan ini saya sampai bosan tiap hari kok ya selalu bingung mencari barang-barang padahal barang-barang itu sudah ada rumahnya semua. Sejatinya ini hanya perkara mau atau tidak mau meluangkan waktu untuk mengembalikan pada tempatnya. Saya tidak ingin kebiasaan ini menular kepada anak-anak. Di dalam hati, saya sempat berpikir apa saya terlalu berlebihan sehingga terlalu fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk celaan atau keluhan? Tidak jarang keributan di rumah itu karena saya yang terlalu banyak mengomel. Hari ini saya menahan lisan agar tidak keluar keluhan, sabar..sabar..kata saya dalam hati.

~Menegur bukan karena benci, memuji tanpa menjadikan lupa diri. Menegur ada caranya, memuji ada adabnya~

Suami:”Ma, tolong dong lipatin celana kerja papa. Tapi ikat pinggang papa dimana ya? Kok nggak ada?”

Saya: “Oke, tapi Mama nggak tau ikat pinggang papa ada dimana. Ga kelihatan.”

Suami: kasak kusuk masih sibuk muterin rumah sambil mencari ikat pinggangnya.

Saya:”Pa, kalau Papa nggak nyiapin apa-apa yang mau dibawa besok sebelum tidur ya beginilah jadinya pagi-pagi masih rempong nyari-nyari. Selama ini Mama lihat Papa sebenarnya sebelum tidur ingat kan apa agenda besok. Artinya Papa besok bisa lebih baik lagi daripada hari ini.” (sambil melipat baju dan melempar senyuman)

Suami:” Ya besok ingetin lagi ya, Ma biar nggak lupa. Papa sebenernya ingat Ma, cuma eksekusinya yang…yaudahlah Papa berangkat dulu” (sambil tertawa renyah)

Sudah termasuk komprod belum sih, Mak? Mudah-mudahan pesannya nyampe yaa 😅

Yang kami pelajari hari ini:

💌Belajar menerima perasaan anak. Tidak
meremehkan perasaannya (panik, gelisah, takut,dsb)

💌Memberi solusi,bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu karena justru tidak membawa manfaat.

💌Belajar menegur dengan cara yang lebih baik dengan mengatakan secara tepat apa kesalahan perilakunya. Berusaha menegur “perilaku-nya” bukan karakteristik orangnya.

💌Katakan bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.

Hm..tadi sempat ngobrol juga bersama suami juga dan membahas komunikasi produktif. Sambil ngobrol sambil praktek,hehe..

Ternyata menerima perasaan anak itu penting banget sebelum menasehati. Anak merasa nyaman dan dihargai.
Menasehati juga ada caranya. Bisa diganti dengan menceritakan pengalaman. Terkadang saya suka keceplosan ngomong “Makanya..” terus disambung kalimat menyalahkan 😥. Dan ujung-ujungnya Faris pun mengcopy dan menerapkan ketika berkomunikasi dengan adiknya. Huft! Ternyata belajar berkata baik itu lebih susah daripada diam. Perlu effort lebih dan harus terus latihan..latihan..latihan💪

Suami..terimakasih ya sudah mau ikut latihan sama-sama dan terus mengingatkan saya yang banyak khilaf ini 😘 Mudah-mudahan nada bicara dan cara ngomong saya bisa jadi lebih kalem ya? Hihihi

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tantangan Hari 1 : Game Level 1 Komunikasi Produktif

Membaca materi Komunikasi Produktif kelas bunsay, membuat saya lebih banyak memikirkan bagaimana gaya berkomunikasi yang paling pas dengan pasangan. Memang sih banyak perubahan berarti yang saya rasakan setelah mulai belajar enlightening parenting. Kalau flashback beberapa tahun ke belakang memang komunikasi antara saya dan suami kurang produktif dan perlu diubah. Bagaimana pun kita ini satu tim dalam rumah tangga.

Saat ini memang terkadang saya masih sering menyalahkan, menyindir, menyudutkan dan lebih mengedepankan emosi daripada logika. Sebenarnya capek juga yaa..membahas hal yang itu-itu saja, tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Kalau sudah buntu saya memilih untuk diam terlebih dahulu sekedar untuk menenangkan diri dari emosi yang membuncah.

Saya sangat tidak suka kalau suami saya tidak meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Karena ujung-ujungnya nanti pasti bertanya kepada saya lagi, dimana barang A dimana barang B dan itu amat sangat memusingkan bagi saya.

Sudah sering saya ungkapkan ketidaksukaan saya itu. Tapi mungkin memang caranya yang masih salah. Berkomunikasi dengan penghuni rumah yang semuanya laki-laki memaksa saya untuk belajar sabar dan lebih memahami seperti apa sih laki-laki dan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu kepada mereka.

Seperti biasa setelah menyampaikan apa yang mengganjal di hati, suami pasti berjanji untuk tidak mengulangi. Benar, tidak diulangi untuk beberapa waktu. Kemudian beberapa hari diulangi lagi. Saya ingatkan lagi,meminta maaf lagi. Ini perkara kebiasaan. Saya sedang belajar berbenah diri dari dalam rumah dan berharap semua anggota keluarga bisa diajak bekerja sama dalam projek ini.

Saya selalu senang ketika suami saya mau meluangkan waktu sepulang ia bekerja. Faris sangat senang sekali bercerita, dibacakan buku atau sekedar dikomentari hasil bebikinannya. Saya berharap suami bisa mengatur gadget timenya agar punya waktu lebih membersamai anak-anak. Mungkin saya pun terkadang terlalu menuntut dan banyak maunya tetapi waktu kita sangat sedikit, anak-anak besok sudah beda dengan hari ini.

Seperti itulah komunikasi kami. Saya sudah bosan mengingatkan,dan selalu saya menyindir yang lalu-lalu. Daripada kesal berujung marah-marah,saya memilih diam saja dan beraktifitas seperti biasa, mengerjakan pekerjaan domestik dan bermain bersama anak-anak.

Sampai hari ini kebiasaan meletakkan barang di sembarang tempat masih berlangsung. Pemandangan rumah membuat mata saya makin pedih. Sebenarnya mudah bagi saya untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan membereskan semuanya. Tetapi hal ini tidak mendidik apalagi bagi anak-anak. Saya sedang berusaha menanamkan kebiasaan baik dan melatih kemandirian mereka.

Hari ini, pagi-pagi setelah shalat subuh dan ketika anak-anak belum bangun. Saya memberanikan diri membuka percakapan. Menahan, jangan sampai keluar kalimat tidak produktif.

Saya: “Pa, mama mau ngomong”

Suami: “Yuuk..sambil baring-baring”

Saya: “Mama mau ngomong apa yaa?..”

Suami: “Ngomong aja..nggak papa..”

Saya: “Pa, bisa nggak ya kita buat rumah kita lebih rapi?”

(Hiks..masih mencoba membuka percakapan)

Suami: “Mmm…papa minta maaf masih banyak barang-barang yang berantakan. Tar papa beresin deh.”

Saya: “Mama penasaran bisa serapi dan sebersih apa rumah kita kalau coba kita benahi mulai hari ini.” (mencoba memotivasi suami dengan menggambarkan hasil yang saya inginkan)

Papa: “Papa minta maaf ya soalnya lupa ngembaliin barang ke tempatnya lagi.”

Saya: “Bisa kan papa sedikit meringankan pekerjaan Mama dengan mengembalikan barang-barang ke tempatnya lagi?” (menurunkan intonasi meski belum sanggup melihat ke mata suami, padahal penting)

Papa: “Iya.. Iya nanti Papa beresin☺️.”

Kemudian kita ngobrol tentang anak-anak lebih banyak sampai waktunya suami harus mandi dan berangkat kerja.

Saya masih terus belajar. Hari ini entah..sudah termasuk komprod dengan pasangan atau belum ya? Tak apa, hitung-hitung sebagai latihan,latihan,latihan..

I’m responsible for my communication results

* * * * *

Hari 1 latihan komunikasi produktif dengan Faris

Episode 1

Hari ini saya berjanji mengajak anak-anak untuk pergi ke perpustakaan untuk memperpanjang masa pinjam buku yang telah dipinjam minggu lalu. Tadi pagi sebelum mandi anak-anak bermain dan membongkar banyak sekali mainan. Tidak cukup satu kontainer, mereka mengeluarkan mainan dari tiga kontainer😎. Irbadh bermain lego megablok dan Faris masih asyik dengan mainan gigonya. Mainan pun tersebar ke seluruh rumah, mulai dari kamar, ruang tamu bahkan dapur.

Mama: “Anak-anak siapa yang mau bantu Mama membereskan mainan?”

Faris: “Emang kenapa kok diberesin, Ma?”

Mama: “Siapa mau ikut Mama ke perpustakaan?”

Faris: “Faris.”

Irbadh: “Ibad.”

Mama: “Yang mau ikut Mama ke perpustakaan ayok kandangin dulu mainannya baru kita siap-siap.”

Faris:”Tapi Mama bantuin Faris.”

Mama: “Oke, Faris mau beresin sekarang apa lima menit lagi?”

Faris: “Sekarang aja, kan kita mau berangkat. Tapi Mama bantuin, Irbadh juga.”

Mama: “Oke. Mama senang kalau anak Mama rajin.” (memberikan apresiasi sambil memberi pelukan)

Kemudian Faris dan Irbadh bekerja sama mengemas kembali mainannya ke dalam kontainer.

Episode 2
Pulang dari perpustakaan, selepas mencuci tangan dan kaki anak-anak sudah saya siapkan makan siangnya. Faris sedang mengganti pakaiannya dan Irbadh sudah mengambil makanannya.

Faris: “Mana sendok Mas Faris, bad? Kok nggak diambilin sih, ambilin lah.”

Irbadh: “Oke, Mas.” (sambil berjalan ke dapur berusaha mengambilkan sendok dan kembali ke kamar mau mengembalikan ke masnya.)

Faris: “Kok yang ini sih, bukan yang ini. Mas Faris maunya yang besi sama kaya Irbadh.” (intonasi mulai meninggi dan suasana mulai tidak kondusif. Irbadh mulai bingung dan diam).

Saya pun segera menghampiri anak-anak dan bertanya kepada Faris terlebih dahulu.

Mama:”Faris berhenti berteriak dan merengek, Mas. Irbadh pasti lebih ngerti dan suka mendengar masnya kalau berbicara dengan nada yang menyenangkan. Yuk coba Faris ngomongnya yang bagus.”

Faris:”Iya, Ma. Maaf tadi Faris lagi make baju, jadi nyuruh Irbadh ngambil.”

Mama:”Iya, tapi lain kali kalau minta tolong bilangnya yang bagus ya. Kan Faris minta tolong, kalau udah dibantuin jangan lupa bilang apa?”

Faris:”Makasih ya, Bad. Maaf mas Faris nggak sengaja tadi.”

Yey..berhasil,tanpa marah-marah. Biasanya kalau saya tidak bisa mengontrol emosi bisa berakhir dengan omelan.

* * * * *

Hari ini saya coba menulis tantangan game level 1 bunsay#4 dengan 2 anggota keluarga. Tiap hari tentu harus latihan dengan seluruh anggota keluarga tapi besok-besok mungkin tidak saya tuliskan disini,karena kepanjangan dan akan banyak pembicaraan rahasia antara saya dan suami😁. Postingan seputar proses belajar komunikasi produktif ini saya tulis setelah anak-anak kecapekan dan berangkat tidur siang. Penasaran dengan kelanjutan cerita saya, tunggu kelanjutannya esok.

#Hari1

#Gamelevel1

#Tantangan10hari

#Komunikasiproduktif

#Kuliahbunsayip

#BunsayBatch4

Langkah Kecil dalam rangka Mengurangi Jejak Karbon

Apa itu jejak karbon? Jejak Karbon alias carboon footprint adalah unsur terbesar dalam terjadinya pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Pencemaran yang dihasilkan bukan hanya disebabkan oleh asap pembakaran mesin kendaraan bermotor dan proses industri, tetapi banyak hal lainnya baik yang disadari seperti sampah dan limbah rumah tangga maupun industri, penggunaan kulkas dan AC, serta hal yang kurang disadari oleh masyarakat, seperti gaya hidup yang ingin lebih praktis, menggunakan peralatan elektronik, bahkan memakan daging juga bisa menyebabkan meningkatnya kadar karbon di atmosfer. Hayo udah kalap makan daging berapa kilo sehabis idul adha?
Setiap kegiatan manusia dapat dipastikan akan memproduksi emisi GRK. Sebut saja, saat berkendara kita akan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, entah itu motor, mobil, atau pesawat terbang. Begitu juga saat kita menggunakan listrik untuk mengecharge gadget. Bahkan, aktivitas membuang sampah pun memproduksi emisi GRK. Jumlah emisi GRK akan meningkat jika seseorang (atau perusahaan) makin sering melakukan aktivitas ekonomi. Nantinya, emisi GRK akan terkumpul di atmosfer. Karena seseorang (atau perusahaan) memiliki aktivitas yang berbeda, jumlah emisi GRK yang dihasilkankannya berbedabeda pula😢

Bagaimana kemudian cara menghitung ‘dosa’ kita pada bumi?

Menghitung jumlah emisi yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan dikenal sebagai Perhitungan Jejak Karbon. GRK yang dihasilkan saat beraktivitas, termasuk menghasilkan sebuah produk. Besaran dari GRK dalam jejak karbon ini kemudian dikonversikan dan dihitung berdasarkan satuan ton karbon dioksida atau ton CO2.

Untuk memudahkan perhitungan jejak karbon, saat ini tersedia beragam piranti kalkulator karbon. Di Indonesia, beberapa lembaga sudah mengembangkan kalkulator karbon ini. Bahkan, ada yang tersedia di website. IESR adalah salah satu lembaga yang telah membuat kalkulator karbon ini bisa diakses oleh publik pada website mereka di http://www.iesr.or.id/kkv3/tentang-jejak-karbon/

Kalkulator karbon ini menggunakan faktor emisi dari data nasional Indonesia, seperti data kelistrikan, sampah, maupun bahan bakar, yang secara spesifik berbeda dengan negara lain besarannya. Dengan kalkulator karbon IESR ini, kita bisa menghitung “dosa” jejak karbon kita pada lingkungan dengan lebih mudah. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah bagaimana menghapus dan menebus dosa tersebut?
Hal pertama yang harus segera kita mulai adalah mengurangi jejak karbon. Bila perlu kita hanya meninggalkan jejak karbon yang betul-betul tidak bisa dihindari saja. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain efisiensi energi dengan jejak karbon lebih rendah, misalnya memanfaatkan energi terbarukan atau mengganti
kompor minyak tanah ke LPG bahkan biogas. Secara personal kegiatan mengurangi jejak karbon akan terasa lebih mudah dilakukan daripada organisasi atau perusahaan.

Sebenarnya tidak diperlukan perubahan yang radikal untuk membantu bumi ini menjadi lebih bersahabat . Yang diperlukan adalah mengubah beberapa rutinitas yang dapat menurunkan “Jejak Karbon”. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain :

1. Kurangi komsumsi daging. Berdasarkan penelitian, peternakan menyumbangkan 18% jejak karbon dunia yang mana lebih besar dari sektor transportasi (mobil,motor,pesawat dll). Belum ditambah lagi dengan bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktifitas peternakan seperti metana yang notabene 23 kali lebih berbahaya dari CO2 dan gas NO yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.
2. Makan dan masak dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang dapat terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita.
3. Beli produk lokal, hasil pertanian lokal sangat murah dan juga sangat hemat energi, terutama jika kita menghitung energi dan biaya transportasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika diimpor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.
4. Diet penggunaan aluminium, plastik, dan kertas. Akan lebih baik lagi jika bisa menggunakannya berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam.
5. Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan.
6. Hindari fast food. Fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia. Selain itu komsumsi fast food juga buruk untuk kesehatan.
7. Bawalah sendiri tas belanja dari rumah, dengan demikian dapat mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan.
8. Gunakan gelas yang bisa dicuci dan hindari air minum dalam kemasan.
9. Berbelanja di lingkungan sekitar. Akan menghemat biaya transportasi dan BBM.
10. Tanam pohon setiap ada kesempatan. baik di lingkungan ataupun dengan berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dll. Tergantung kesempatan dan kemampuan masing-masing.

Memperbaiki Kebiasaan di Rumah

1. Kurangi frekuensi pemakaian alat elektronik, Turunkan suhu AC. Hindari penggunaan suhu maksimal. Gunakan AC pada tingkatan sampai kita merasa cukup nyaman saja. Dan cegah kebocoran dari ruangan ber-AC. Jangan biarkan ada celah yang terbuka jika sedang menggunakan AC karena hal tersebut dapat membuat AC bekerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan.
2. Matikan lampu yang tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes untuk menghemat energi dan air bersih. Gunakan lampu hemat energi. Meskipun lebih mahal, rata-rata mereka lebih kuat 8 kali dan lebih hemat hingga 80% dari lampu pijar biasa.
3. Maksimalkan pencahayaan dari alam. Gunakan warna terang ditembok, gunakan genteng kaca diplafon, maksimalkan pencahayaan melalui jendela.
4. Hindari posisi stand by pada elektronik. Jika semua peralatan rumah tangga dimatikan maka kita mengurangi emisi CO2 yang luar biasa dari penghematan energi listrik.
5. Jika pengisian ulang baterai sudah selesai, segera cabut hp, pencukur listrik, kamera, dll. jika sudah penuh segera cabut.
6. Kurangi waktu dalam menggunakan lemari es. Untuk setiap menit membuka pintu lemari es akan diperlukan 3 menit full energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang diinginkan.
7. Potong makanan dalam ukuran yang lebih kecil. Ukuran potongan yang lebih kecil akan menggunakan energi lebih sedikit untuk memasaknya.
8. Gunakanlah air dingin untuk mencuci dan mencucilah dalam jumlah banyak. Jika memiliki keluarga kecil, tidak perlu mencuci setiap hari. Kumpulkanlah sampai kapasitas mesin cuci terpenuhi dan tampung air sisa mencuci untuk bersih-bersih lantai/menyiram tanaman. Hal ini akan menghemat air dan mengurangi pemakaian listrik
9. Beralih kepada sabun alami, ecoenzym atau lerak, sebagai pembersih ramah lingkungan.
10. Gunakan ulang perabotan rumah. Jika sudah bosan dengan perabotan yang sebelumnya, bisa melakukan obral, donasikan kepada orang lain, atau bawa ke pengrajin untuk dimodifikasi sesuai dengan keinginan.
11. Beralih menggunakan produk alami, jika terpaksa menggunakan produk-produk semprot, jangan menggunakan aerosol, pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik. Aerosol juga menyumbang besar dalam pencemaran udara kita.
Sudah siap membuat perubahan? Yuk kita mulai dari hal terkecil yang kita bisa lakukan sekarang.

Berani Mencoba Berhomestead?

mencoba menanam sendiri sayur dan buah di rumah

Sejak pertama kali blogwalking ke blognya mbak Desi Greenmommy saya sangat tertarik dengan gaya sustainable livingnya. Betapa tidak, keluarga beliau bisa hidup mandiri dari dalam rumah di jaman yang serba instan dan praktis ini. Sebenarnya apa sih hidup berhomestead itu? Mungkin bagi teman-teman yang pernah berkunjung atau tinggal di luar negeri sudah lebih familiar dengan istilah homestead. Sebab sudah banyak orang-orang di luar sana yang aware terhadap krisis lingkungan dan mulai menerapkan gaya hidup ini. Saat ini banyak orang yang ingin merubah gaya hidupnya, ke hidup yang lebih hijau, hidup mandiri, bahkan lebih sustainable dengan cara berhomestead atau hidup dari tanah kita sendiri (baca: memenuhi kebutuhan hidup dengan usaha sendiri dengan menggunakan sumber daya dari tanah kita). Kenapa sih orang-orang pada tertarik untuk hidup berhomestead? Kalau dipikir pikir kok kayak kembali ke jaman 20-30 tahun yang lalu ya. Betapa makmurnya negeri kita yang kaya ini sehingga pada masa kecil kita terbiasa bermain di sawah atau kandang hewan ternak milik orang tua kita. Atau seperti masa kecil papa saya yang akrab dengan laut dan kebun jambu mete karena tinggal di pesisir pantai. Jaman dulu kita nggak pernah pusing mau makan apa besok karena tinggal ke kebun sebelah rumah tengok sayuran apa yang bisa dipanen. Bahkan masih terbayang dalam memori saya tentang keanekaragaman tanaman herbal yang dimiliki oleh alm eyang kakung saya dan bebas dipetik kapanpun kala membutuhkannya.
Gaya hidup berhomestead menurut saya memiliki banyak hal yang jauh lebih menarik ketimbang hidup seperti orang modern saat ini (non homestead). Ditambah lagi menengok ruang hidup dan keseharian di Bumi Langit Jogja semakin membuat saya semakin ingin memulai hidup lebih sustainable. Mampu membuat ketahanan pangan dari dalam rumah merupakan impian sederhana saya sekeluarga. Itulah salah satu alasan rumahorganik_trenggalek mulai kami rintis. Kami ingin menjalani hidup sesuai fitrah, lebih relax, dan punya lebih banyak waktu, bisa punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal yang kita suka dan bermanfaat tentunya. Bonusnya kita bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga tercinta yang tidak akan kita dapatkan ketika kita sibuk dengan rutinitas dan kemacetan ala kehidupan di perkotaan padat penduduk.
Cita-cita saya dan suami nanti adalah bisa menghabiskan waktu di udara terbuka yang segar, bebas polusi di alam yang masih hijau dan banyak hal lainnya. Tapi apa saja sih yang perlu kita persiapkan jika memilih gaya hidup berhomestead?

Kalau kata Mbak Desy, untuk memulai berhomestead kita butuh lebih dari sekedar uang untuk kita sukses. Pilihan hidup ini butuh waktu, butuh keahlian, butuh kesabaran, butuh tenaga, butuh keringat, butuh air mata tetapi happy ending dan rewarding.
Mirip-mirip dengan konsep dalam family strategic planning, ketika akan memulai berhomestead kita harus membuat perencanaan, riset, banyak membaca dan belajar terlebih dahulu. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan sebelum memutuskan untuk berhomestead. Kita harus menggali potensi masing-masing anggota keluarga untuk mempersiapkan kemandirian dengan berbagai keahlian. Dan semua itu butuh waktu, butuh kerja keras, tidak sekedar membaca teori saja.

mencoba memelihara ikan sendiri di rumah

Kembali ke pembahasan homestead, para pelakunya yang dinamakan homesteader itu kalau dipikir-pikir semuanya ingin hidup lebih sederhana dan lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apapun latar belakang dan lokasi dimana mereka hidup. Ada yang hidup sustainable hanya sebatas berdikari dalam ketahanan pangan aja, ada yang punya sumber biogas, ada yang sampai bisa bikin solar power, bahkan membuat serat kain sendiri.

Intinya tidak ada patokan khusus dalam memilih sustainable living, tidak ada yang paling benar. Karena semua orang/keluarga punya visi misi masing-masing untuk membangun kehidupan mandiri mereka ala homestead. Hanya diri kita sendiri yang tahu tentang cita-cita dan kebutuhan kita.

Kita harus menyesuaikan visi dengan support system dalam rangka mencapai cita-cita hidup sustainable. Sebelum memulai berhomestead dan bisa hidup sustainable, kita harus membiasakan diri untuk melakukan berbagai macam kegiatan sehari-hari sendiri, menolong diri sendiri dan mengambil alih misal dari ketahanan pangan dari rumah/halaman sendiri. Kalau dibayangkan, hidup akan terasa lebih tenang. Ketika bangun pagi kita nggak harus buru-buru ke kantor atau ke sekolah, nggak harus bermacet-macet ria di jalan, nggak harus khawatir kalau besok kantor tempat kita kerja harus ditutup dan kita kehilangan pekerjaan.

Kalau kita bisa hidup sustainable maka kita bisa selangkah lebih mandiri, listrik dari tenaga surya atau angin atau apapun itu, nggak harus mikirin bayar tagihan PLN. Makanan tersedia dari lahan kita. Nggak harus beli mobil karena jarang kemana-mana dan jadinya nggak butuh kendaraan. Dan semua kemandirian yang kita lakukan secara tidak langsung akan sangat mengurangi jejak karbon di bumi ini. Jadi super ramah lingkungan kan jadinya.

Setelah mendapat tambahan ilmu dan suntikan semangat dari Pak Pri di kelas #belajarzerowaste saya pun semakin semangat mewujudkan sedikit demi sedikit impian kecil yang menjadi cita-cita keluarga kami. Sudah seharusnya kita memelihara dan menjaga bumi agar tetap layak dihuni manusia. Sederhana saja yaitu dengan mulai dengan mengubah kebiasaan buruk terhadap lingkungan. Dari tidak sering memakai kendaraan jika perginya dekat, memakai produk yang ramah lingkungan, meminimalisasi pemakaian baterai dan produk beracun lainnya, mengolah sampah, , dan hemat energi sebisa mungkin.

referensi :

http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/menghitung-jejak-karbon-carbon.html

Yuk Beralih ke Produk Pembersih Alami

Ketika membersihkan rumah, pastinya teman-teman selalu menggunakan produk pembersih bukan? Ada banyak sekali jenis produk pembersih yang dijual di pasaran. Biasanya, kebanyakan produk ini menggunakan bahan kimia keras untuk menghasilkan produk pembersih yang ampuh untuk menghilangkan noda, kerak, dan bekerja lebih cepat. Namun, kandungan bahan kimia di dalam produk kesehatan ini ternyata dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, seperti iritasi mata dan kulit. Selain itu air bekas membersihkan rumah yang bercampur dengan produk pembersih tadi dapat berbahaya bagi lingkungan, terutama bagi tumbuhan dan hewan. Saya pun sudah hampir setahun lebih beralih ke produk pembersih yang lebih ramah terhadap kulit, sebab banyak keluhan yang muncul setelah penggunaan sabun pabrikan. Sekarang saya tidak perlu khawatir karena dengan sedikit ketekunan kita bisa membuat sendiri pembersih dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Kita bisa membuat produk pembersih menggunakan bahan alami untuk membersihkan rumah, seperti lemon, cuka, garam dan sebagainya.

Baca Juga : Makin Jatuh Cinta dengan Eco Enzym

Beberapa minggu ini, banyak teman yang bertanya tentang lerak atau klerek untuk dijadikan sabun alami beragam keperluan di rumah. Lerak yang dahulu hanya dikenal sebagai bahan pencuci batik dan perhiasan, ternyata punya banyak manfaat lhooo. Cara penggunaannnya pun mudah. Jadi buat teman-teman yang penasaran, buruan coba mencuci menggunakan lerak karena hasilnya tidak kalah dengan detergen pabrikan.

Cara Menggunakan Lerak/Klerak
Secara umum, cara menggunakan lerak sebagai berikut:
1. Rendam buah lerak secukupnya, agar pada saat hendak dipakai, buah lerak yang kering dan keras menjadi lunak. (Rendam semalaman atau lebih.)
2. Kupas kulit lerak dengan kuku jari. Jika lerak cukup lunak, bisa juga dengan menekan buah lerak (lakukan di dalam wadah).
3. Beri sedikit air pada wadah.
4. Remas-remas buah lerak agar menghasilkan busa.

Tips!
1. Untuk membusakan lerak, tambahkan air sedikit demi sedikit, hingga dirasakan cukup.
2. Bila akan digunakan untuk mencuci perangkat dapur, gunakan gambas kering sebagai pengganti spon. Jika busa mulai berkurang, tambahkan air lagi, lalu busakan kembali. Saat busa tidak ada lagi, maka ganti dengan lerak yang baru. (Selesai mencuci, pisahkan gambas agar tidak terendam sehingga bisa lebih awet dan kering.)

Untuk wadah berminyak, rendam dulu dengan air sabun lerak 30-60menit. Atau ambil 1 buah lerak, lalu keluarkan cairannya langsung di wadah, dan gosokkan daging lerak pada wadah. Bisa ditambahkan perasan jeruk nipis untuk menghilangkan bau yang melekat pada wadah makanan.

3. Untuk mencuci baju, saring air sabun lerak, agar ampas buah lerak tidak menempel pada baju.
4. Sabun lerak juga bisa digunakan untuk mengepel lantai (cepat kesat dan kering), sabun mandi, shampoo, ataupun membersihkan kaca.
5. Air sabun lerak tetap aman dibuang atau disiramkan ke tanaman.
6. Lerak kering awet dalam jangka waktu cukup panjang, kira-kira 6 bulan, tanpa harus dimasukkan kulkas.
7. Tidak ada takaran yang pasti dalam menggunakan lerak sebagai sabun. Hanya tinggal membiasakan diri saja untuk mencari takaran yang pas.
8. Jagalah agar mata tidak terkena sabun lerak karena akan terasa amat perih.

Cara Membuat Sabun Cair Lerak
1. Rendam 12-15 lerak semalam.
2. Potong2 daging buah lerak, sisihkan bijinya.
3. Masak buah lerak dengan 1.2L air, dengan api kecil. Panci jangan ditutup, dan setelah mendidih, segera kecilkan api agar busa tidak meluap.
4. Mulai dari air mendidih, masak lerak selama 30-45 menit.
5. Setelah dingin, saring sabun cair lerak. Peras juga ampasnya (ampas masih bisa digunakan juga untuk cuci piring). Tambahkan perasan jeruk nipis.
6. Biarkan semalam agar busanya ‘turun’. Lalu masukkan dalam kulkas…bisa awet sampai 2 bulan.

Cara Pakai sabun cair lerak:
1. Sabun mandi, sabun muka, dan shampoo: gunakan sabun cair sesuai kebutuhan. Bisa menggunakan loofah (gambas kering) atau spon. Hati-hati saat pemakaian, karena sabun lerak akan menimbulkan rasa pedih pada mata.
2. Pembersih dan detergen: tuangkan sabun cair secukupnya dalam wadah, lalu tambahkan air sedikit demi sedikit sambil dibusakan. Sesuaikan kekentalan dengan kebutuhan. Untuk membersihkan perangkat dapur, gunakan loofah (gambas kering) atau sabut kelapa.
3. Biopestisida:
a.Cairkan sabun cair lerak dengan air, lalu semprotkan ke tanaman.
b. Untuk membasmi nyamuk, ambil 1 sdm sabun cair lerak dan larutkan dalam 100mL etanol 90%. Tuangkan larutan dalam sprayer.
c. Untuk mencegah demam berdarah, kita bisa menggunakan buah lerak kering yang dibungkus dengan kain kemudian masukkan dalam bak mandi.

Baca Juga : Oleh-Oleh dari Pertukaran Pelajar di Ibu Profesional Semarang Jepara Salatiga

Tertarik untuk mulai beralih ke yang alami? Pembersih alami ini bisa meningkatkan kualitas udara di rumah dan pastinya aman untuk anak dan bayi. Hal ini menjadi nilai lebih karena itu artinya anak-anak sudah mulai bisa diajarkan membantu membersihkan rumah tanpa kita harus takut akan bahan kimia yang terdapat di dalam produk-produk pembersih. Yuk mulai beralih ke pembersih alami dan ramah lingkungan.

Liburan bersama Keluarga dan Stimulasi Kecerdasan Anak

Siapa sih orang tua yang tidak mau dekat dengan anak? Punya hubungan emosional yang dekat dengan anak? Tentunya setiap orang tua menginginkan hal tersebut. Termasuk saya dan suami mengidamkan supaya bisa lebih dekat dengan kedua anak kami.

Salah satu cara yang bisa dilakukan tentunya adalah banyak hadir di dalam kehidupan anak. Banyak melakukan kegiatan dan aktivitas bersama dengan anak. Dengan melakukan banyak kegiatan atau aktivitas bersama-sama, baik anak maupun orang tua akan menyimpan memori indah tersebut di dalam dirinya.

Semakin banyak memori indahnya, semakin bermakna kegiatannya, maka akan terjalin ikatan batin dan emosional yang luar biasa antara orang tua dan anak. Banyak yang bilang liburan sambil bawa anak kecil itu ribet banget. Banyak barang yang harus dibawa. Siap-siap vitamin biar stamina liburan dan ngejaga anak agar tetap prima. Melelahkan tapi yang jelas sangat menyenangkan. Itulah yang keluarga kami rasakan, meskipun ‘sedikit’ repot justru kegiatan berlibur bersama anak-anak itu bikin kangen dan bikin nagih. Saya dan suami bahkan pernah pertama kali mengajak liburan anak-anak keluar kota saat mereka masih berusia di bawah 6 bulan hihi.
Tanggal merah atau akhir pekan, tentu menjadi momen yang ditunggu banyak keluarga. Sejenak rehat dari aktivitas padat, atau sekedar mencari waktu untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Siapa yang mau melewatkan? Apalagi, setelah tahu jika mengajak anak-anak untuk liburan bersama se mkeluarga ternyata bisa membuatnya lebih pintar dan bahagia. Menurut majalah parenting yang pernah saya baca dikatakan jika berlibur atau bepergian dengan anak ternyata bisa membantu perkembangan otaknya. Liburan keluarga juga bisa memperkaya pengalaman baru, melatih fisik, kognitif, sensorik hingga interaksi sosial anak. Kali ini saya ingin berbagi momen berlibur bersama anak-anak.

1. MENGUNJUNGI MUSEUM UANG
Kegiatan yang satu ini sangat murah dan terjangkau. Kebetulan ketika mudik ke rumah mertua saya mengajak anak-anak untuk jalan-jalan ke Museum Uang Purbalingga. Museum ini terletak di Jalan Raya Kutasari. Harga tiket masuk ke Museum Uang juga sangat murah. Di sini mereka bisa melihat berbagai berbagai jenis dan bentuk serta sejarah uang di Indonesia bahkan dunia. Di tempat ini berbagai mata uang mulai dari jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga mata uang jaman kini tersimpan dengan rapi. Tak hanya itu, koleksi mata uang negara-negara di dunia juga ada disini. Tercatat, ada sedikitnya mata uang 183 negara ada di Museum Uang Purbalingga. Dari kegiatan seperti ini, akan banyak sekali cerita yang bisa kita olah untuk diceritakan pada anak. Melalui kegiatan ini secara bertahap kami belajar mengenalkan uang kepada anak-anak.

2. MENCOBA PENGALAMAN NAIK KUDA
Kegiatan yang satu ini merupakan kegiatan favorit keluarga kami. Setiap berkunjung ke daerah yang menyediakan fasilitas berkuda kami tidak pernah bosan mencoba. Di Purbalingga kami mencoba naik kuda ketika berkunjung ke Sanggaluri Park pun juga ketika berkunjung ke Trenggalek.
Anak-anak bersama papanya akan dibawa berkeliling taman atau keliling jalan di sekitar hutan kota dengan menggunakan kuda. Untuk anak-anak yang masih balita dan belum berani sendiri maka kita bisa mendampingi dengan naik satu kuda bersama anak-anak. Sekali sewa kuda bisa bervariasi, berkisar Rp 20.000 hingga Rp 35.000 / satu kali keliling.

3. BERKUNJUNG KE KAMPUNG SUSU DYNASTI
Kegiatan ini kami lakukan untuk mengenalkan dunia peternakan kepada anak-anak. Agar lebih mudah dan menyenangkan maka kami melibatkan anak-anak dalam proses berternak dengan diselingi beragam aktifitas yang menarik bagi mereka. Dengan cara ini diharapkan anak-anak akan lebih mudah untuk menyerap informasi dan ilmu.

Ketika berkunjung ke Kampung Susu Dynasti anak-anak diajak untuk lebih dekat dan mengenal sapi perah. Anak-anak akan diajak untuk melihat bagaimana cara memerah sapi, memberi makan sapi, memberi susu pedet (anak sapi), bagaimana mengolah susu segar menjadi susu siap minum serta memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Selain sapi, kampung susu dynasti juga memelihara kuda, ayam, kelinci bahkan monyet. Selain melayani kunjungan dengan paket edukasi dan entrepreneurship terdapat pula paket outbound edufarm.

 

Baca Juga : 3 Theme Park Yang Wajib Dikunjungi di Kota Batu

 

4. BERKUNJUNG PERKEBUNAN KOPI VAN DILEM
Perkebunan Dilem Wilis adalah sebuah bekas perkebunan dan pengolahan kopi di jaman Belanda. Pabrik kopi ini terletak di kawasan lereng gunung Wilis tepatnya di desa Dompyong, Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menurut warga setempat pabrik kopi ini sudah ada sejak tahun 1929, yakni pada masa penjajahan Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka. Sisa-sisa dari perkebunan ini adalah bangunan pabrik pengolahan kopi peninggalan Belanda. Selain itu ada pula pohon-pohon kopi tua yang beberapa masih berproduksi. Hasil kopi inilah yang diolah menjadi Kopi van Dilem yang terkenal itu. Pemilik pabrik kopi ini merupakan warga asli Belanda yang bernama Meneer Van Dilem. Di sekitar perkebunan kopi tersebut terdapat budidaya sapi perah dan potensi wisata alami berupa grojokan. Anak-anak sangat terkesan karena dari alam mereka menemukan banyak hal untuk dipelajari. Bahkan mereka bisa menyentuh kadal atau kumbang yang biasanya hanya bisa dilihat di buku secara langsung.

5. BERKUNJUNG KE PURBASARI, AKUARIUM IKAN RAKSASA
Purbasari Aquarium yang terletak di kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, adalah salah satu objek wisata edukasi unggulan. Riverworld yang ada di Akuarium Raksasa Purbalingga ini memiliki koleksi ikan arapaima gigas terbesar yang berasal dari Sungai Amazon Brasil. Di sini anak-anak selain mengenal berbagai macam jenis ikan tetapi juga bisa bermain bersama hewan lain seperti burung kakak tua bahkan memberi makan rusa. Tak hanya itu, anak-anak juga bisa belajar langsung cara bertanam pohon buah naga. Wahana yang ditawarkan sangat lengkap mulai dari taman burung sebagai sarana pendidikan anak, dijamin anak-anak bakalan betah bermain di sini.
Planet Aquarium Toyoshuka dengan ukuran akuarium yang lebih besar dan koleksi ikannya cukup banyak. Wahana wisata air Telaga Fulus untuk main kano, perahu, sepeda air atau bebek-bebekan.
Terdapat pula taman bermain anak yang dilengkapi dengan jungkat-jungkit, ayunan, perosotan, serta sewa sepeda.
taman tempat konservasi rusa di Purbalingga. Diorama satwa, belajar mengenal fauna lewat hewan yang sudah diawetkan. Yuk Mak, rencanakan waktu untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tak tergantikan dan tak terlupakan, Jangan ragu ya Mak untuk berlibur bersama keluarga tercinta.

Festival Tidying : Papers

Bagaimana progress berbenah di rumah? Setelah berbenah buku minggu lalu, minggu ini giliran kertas yang akan dibenahi. Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, dimana kita memilah dengan tujuan menyimpan benda yang spark joy, untuk kertas ini prinsipnya sebagai berikut: “the basic rule for papers: Discard everything”. Kalau dipikir memang benar juga sih, kertas kan tipis, kita jadi cenderung menyimpan saja semua kertas yang ada di rumah. Padahal seringkali banyak tumpukan kertas di runah atau kantor yang justru sudah tidak ada manfaatnya lagi, seperti brosur, potongan tiket atau kumpulan struk belanja.

Jadi prinsip berbenah kertas ala konmari adalah buang semuanya kecuali dokumen penting. Berdasarkan materi yang saya dapat di kelas Shokyuu, dokumen dibagi menjadi tiga yaitu

1) Pending Document
adalah dokumen yang butuh tindakan dan respon seperti surat yang perlu dijawab atau tagihan yang perlu dibayar. Dokumen jenis ini perlu dibuatkan rumah tersendiri, bisa menggunakan kotak atau clear holder (album transparan) dan ditindaklanjuti dengan segera. Jadi diusahakan dalam setiap periode berkala ‘rumah’ tersebut dikosongkan. Bisa dengan membuat jadwal khusus misal hari tertentu untuk mengerjakan pending documents ini.
2) Important Document
adalah dokumen yang perlu kita simpan baik dalam waktu tertentu atau selamanya, walaupun tidak spark joy. Misalnya sertifikat rumah, kartu garansi, ijazah, kontrak.
Kita bisa menyimpan menggunakan file box atau clear holder. Kita perlu membuat pengingat khusus untuk dokumen yang ada masa berlakunya. Dan jangan lupa untuk segera membuang jika dokumen tersebut sudah kadaluarsa dan sudah tidak berguna.
3) Other Documents
adalah dokumen selain 2 kategori di atas seperti materi seminar, resep masakan dan kliping. Kita bisa menyimpan kategori ini menggunakan clear holder sehingga mudah untuk dilihat-lihat kembali bila perlu. Dokumen yang termasuk kategori ini antara lain sebagai berikut :
1. Buku petunjuk manual elektronik, bila tidak perlu sebaiknya dibuang.
2. Kartu nama atau kuitansi bisa disalin/difoto informasinya sehingga kertasnya tidak perlu disimpan.
3. Kertas yang disimpan karena nilai kenangannya bisa dimasukkan dalam kategori sentimental items.

Berikut ini kondisi tumpukan kertas yang ada di rumah sebelum proses discard

Hampir seluruh kertas bekas di seluruh rumah, saya sortir secara berkala bersama anak-anak setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Sebagian besar saya kirim ke bank sampah, ada pula yang dialihfungsikan menjadi media gambar atau membuat craft dan lain sebagainya.

Saya pun pernah membuang tumpukan bon yang sudah saya kumpulkan entah berapa lama yang nyatanya tidak terpakai lagi. Setelah itu, saya nyaris tidak pernah lagi menyimpan kertas jenis ini.

Berbenah kategori kertas ini, menurut saya rasanya tidak terlalu berat untuk dilakukan. Untuk membuang pun mudah saja, bahkan rasanya senang sekali bisa menyingkirkan kertas-kertas yang menumpuk dan tidak diperlukan lagi.

Kumpulan kertas: After. Cukup rapi kan?

Kebanyakan kertas yang saya simpan di rumah adalah kertas kerja anak-anak, flapbook belajar per tema dan hasil diy mereka. Arena tempat penyimpanannya terpisah-pisah, sehingga ketika proses berbenah saya memulai dengan menyatukan semua kertas di dalam satu tempat, seperti bisa terlihat pada gambar. Baru kemudian, saya memilah mana yang hendak dibuang dan mana yang perlu disimpan.

Setelah proses berbenah kemarin, banyak sekali kertas yang saya singkirkan seperti kumpulan bon dan tanda terima, kuitansi yang sudah tidak diperlukan, kertas isi seminar dan semacamnya. Beberapa kertas bekas yang masih terdapat sisi kosongnya saya simpan untuk aktivitas anak-anak lagi sehingga tidak perlu menghabiskan kertas baru. Ada beberapa hal yang belum dan rasanya perlu saya lakukan ketika berbenah kertas adalah membuat pending box untuk kertas-kertas yang masih perlu diperiksa, seperti bon dan kuitansi misalnya, seiring dengan niat saya untuk lebih teratur mengatur keuangan keluarga, juga rumah khusus untuk karya anak, yang dipilah dan dibatasi apa saja yang perlu disimpan atau dibuang. Terinspirasi dari tips digitalize, di mana kita bisa menyimpan kertas bernilai sentimental atau data penting seperti kartu nama dengan men-scan atau memfotonya, sebagian besar karya anak-anak mungkin bisa saya foto saja, sehingga lebih menghemat tempat dan juga lebih awet.

Untuk sementara, mumpung karya anak-anak belum terlalu banyak maka saya pisahkan dalam sebuah map karya yang ingin disimpan. Kontainer transparan saya jadikan pending box, jadi sekarang semua bon atau kertas-kertas yang perlu “dikerjakan” masuk ke situ. Konsep digitalize juga saya simpan saat nanti diperlukan. Semoga setelah tidying festival kami bisa lebih rapi dalam menyimpan kertas.