Nerf Gun War, Bahasa Kasih Keluarga Kami 💌

Kita pasti tahu ya, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Melalui bermain, mereka bisa belajar banyak hal. Bahkan semenjak bayi, kita berinteraksi dengan mereka lebih banyak melalui bermain. Kenapa bermain? Karena anak-anak itu memiliki energi yang luar biasa banyaknya untuk digunakan sehingga nggak heran kalau mereka seakan nggak ada capeknya. Bergeraaak terus kesana kemari. Selain itu, otak mereka juga sedang dalam perkembangan yang sangat pesat, sehingga mereka selalu punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin mengeksplorasi segala sesuatu.

Ngomongin mainan, saya dan suami sudah hampir sebulan ini senang membahas mainan tembakan nerf. Sudah tahu belum tembakan nerf? Iya, Nerf Gun adalah salah satu mainan branded yang sedang naik daun. Mainan tembakan ini baru saja resmi masuk ke Indonesia, tetapi buat keluarga kami sudah sangat familiar dengan mainan ini. Berbgai macam tipe, model dan bentuk sampai jenis pelurunya pun banyak yang sudah kami coba-coba 😁

Di etalase toko online kami, alhamdulillah setiap minggu terjual minimal satu pcs tembakan ini. Jangankan anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa juga suka bermain Nerf Gun, lho!

Bagaimana tidak? Selain menyediakan kepuasan adrenalin yang sama sekali tidak berbahaya, Nerf Gun juga bisa dimainkan dalam banyak cara.

Banyak permainan seru yang bisa kami lakukan dengan Nerf Gun.

Kami dan anak-anak sering memanfaatkan waktu kebersamaan untuk bersenang-senang dengan Nerf Gun di dalam rumah.

Tentunya untuk pertandingan tembak-tembakan di dalam rumah, kami dan keluarga juga perlu Nerf Gun yang sesuai juga. Untuk kegiatan bermain indoor yang ramah dan aman terhadap eksistensi berbagai perabotan dan pajangan rumah hahaha…

Jadi kami cenderung menggunakan Nerf Gun yang memiliki ukuran pendek. Nggak mau juga kan vas bunga kesenggol hingga pecah ketika asyik mengayunkan Nerf Gun yang berlaras panjang?

Kompetisi Bersahabat dengan Target Shooting

Bermain nerf gun dapat meramaikan suasana, baik untuk anak-anak dan kami, orang tuanya😁 Kami hanya perlu membuat target tembakan saja. Targetnya pun bisa beragam. Mulai dari kaleng bekas, balon air yang diayun, hingga papan magnet haha

Untuk permainan adu keahlian akurasi semacam ini, saya dan suami senang beradu ala ala. Meskipun simple tetapi momen bermain seperti ini sangatlah mengesankan.

Walaupun Nerf Gun memiliki peluru dari foam yang insyaAllah aman, tetapi mungkin ada beberapa orang yang takut bermain Nerf Gun. Buat yang parno, boleh menggunakan kacamata pengaman dan permainan dapat dipastikan 100% tidak berbahaya. Solusi kedua nih, biasanya kami mengajak anak-anak bermain Nerf Gun air. Nerf gun air sangat cocok dimainkan oleh anak balita.

Main Air makin Rusuh

Keuntungan lain dari permainan Nerf Gun air adalah faktor kompetisi yang sesungguhnya nggak ada. Walaupun anak-anak terlihat saling menembak satu sama lain dengan air, tetapi kita tidak akan bisa menentukan siapa yang menang karena semuanya pasti sama-sama basah! Cocok kan dimainkan untuk anak balita yang masih dalam masa egosentris. Tertarik juga mencoba permainan ini?

#day11
#22Feb18
#Batam
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak
‌

Study Better With Mind Mapping

Alhamdulillah sudah sampai di minggu kelima, ah tidak terasa sudah di tengah perjalanan matrikulasi batch #5. Sepertinya tim IIP benar-benar menyusun materinya secara bertahap dari materi dasar hingga membuat kepala pusing tujuh keliling *elap keringat.

Sebenarnya yang diminta NHW #5 cukup sederhana; membuat desain pembelajaran. Bukan hal yang baru juga untuk saya, tapi kok ketika diterapkan ke diri sendiri agak puyeng juga. Mudah-mudahan dengan mengerjakan tugas ini semakin tercerahkan.

Emang ngapain sih kudu bikin begituan segala?tanya suami. Nggak wajib juga sih, tapi dalam rangka meluruskan niat, mencapai tujuan dan belajar mengatur diri sendiri, saya merasa perlu melakukan ini. Bagaimana saya akan mendesain pembelajaran untuk anak-anak kalau mendesain pembelajaran untuk diri sendiri saja masih di awang-awang? Saya juga percaya bahwasanya mendidik anak-anak sejatinya mendidik diri sendiri. Jadi teringat kutipan dari bu Septi Peni Wulandari, “selesaikan dulu urusan diri sendiri, selanjutnya pandu anak-anak kita. Ingin anak mandiri, maka selesaikan dahulu perihal kemandirian diri kita. Ingin anak suka membaca, maka sukalah membaca terlebih dahulu. Ingin anak bertemu peran spesifik hidupnya, maka temukan dahulu peran hidup diri.” Nah, sebelum mempraktekkan desain pembelajaran saat membersamai anak-anak, saya harus memulainya dari diri saya sendiri dong.

Baiklah, sebelum saya mengerjakan bingkisan cantik minggu kelima saya mau menyimpan hasil belajar di minggu kelima ini disini 😊

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Pada dasarnya sebelum kita memulai belajar, kita harus sudah paham terlebih dahulu apa yang ingin kita pelajari. Sama halnya ketika kita membersamai anak, kita harus paham benar apa yang dibutuhkan anak, tujuan apa yang ingin dicapai. Jika si anak sudah mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih dan siap belajar, maka saatnya kita belajar bagaimana caranya belajar.

Apaan coba? Belajar ya tinggal belajar aja to, kok harus cari tahu dulu bagaimana caranya belajar. Yup, karena dengan mengetahui bagaimana cara belajar yang tepat, kita bisa membuat cuztomized curriculum untuk anak-anak. Tiap anak unik, kan? Gaya belajarnya berbeda, karakternya pun juga. Jadi setiap anak bisa memiliki kurikulum yang berbeda.

Di pelajaran minggu keempat, kita telah belajar tentang fitrah. Seperti yang kita tahu setiap manusia punya fitrah belajar, tapi kenapa selalu saja ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak. Apalagi kalau pelajarannya sudah bikin malas, misal matematika, fisika… rata-rata pasti mengeluh dan elap keringat. 

Nah, dari quote tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kita suka atau tidak pada suatu pelajaran bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Namun lebih kepada rasa. Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan.

Menjadi Berbeda

Dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, anak-anak kita pun ikut berubah. Jangan samakan anak-anak kita dengan anak-anak di jaman kita, maka sudah sepantasnya kita – para orangtuanya yang perlu mengupdate diri dalam membersamai mereka. Jadi untuk itu kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal berikut ini;

1. Belajar Hal Berbeda

Untuk menyeimbangi kemajuan jaman yang sangat pesat, maka penting bagi kita belajar apa saja yang bisa:

ğŸŽMenguatkan Iman; ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya.

ğŸŽMenumbuhkan karakter yang baik.

ğŸŽMenemukan passionnya (panggilan hatinya)

2. Cara belajar yang berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dari guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik, yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

3. Semangat Belajar yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami, menuntut ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita. Sekolah adalah salah satu cara menuntut ilmu, namun kita bisa menuntut ilmu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

4.Strategi Belajar yang Tepat

Gunakanlah strategi meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal  yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya memberikan dukungan semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka dukunglah kesukaannya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Sebaliknya jangan meratakan lembah, yaitu dengan menutupi kekurangannya. Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika, kita tidak perlu berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Justru hal ini akan menjadikan anak semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Membuat Anak Suka Belajar

Orang tua mana sih yang tidak ingin melihat anak-anaknya suka belajar? Tapi sekarang ini justru banyak orang tua yang mengeluh betapa susahnya menyuruh anak-anak belajar. So, untuk membuat anak-anak suka belajar, lakukan tiga hal berikut ini;

1.Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati.

2.Mengetahui tujuannya, cita-citanya.

3.Mengetahui passionnya.

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati. Baik saja itu tidak cukup, tetapi kita juga harus punya nilai lebih yang membedakan kita dengan orang lain.

Orang Tua, Saatnya Kita Mengambil Peran!

Masih banyak saya temui orang tua-orang tua yang menganggap kewajibannya terhadap anak sudah selesai ketika telah memilihkan sekolah yang bagus.

Kalau cuma sampai situ saja kewajiban orang tua terhadap anak, enak banget ya jadi orang tua. Masa cuma ongkang-ongkang kaki, kasih ke sekolah, terus nuntut anak jadi baik? Ironinya, kalau anaknya berkelakuan tidak sesuai dengan harapannya, sekolah yang ditegur dan dikomplain? Atau malah menyalahkan teman-teman anaknya, menyalahkan lingkungannya. Big NO! Sekolah itu cuma partner kita, bukan jadi tempat yang kita mintai tanggung jawab total tentang segala hal yang terjadi pada anak kita.

Sebelum menuding orang lain, mari tunjuk diri sendiri dulu. Selama ini sudah memberikan bekal apa saja ke anak-anak? Kalau memang ternyata belum memberikan bekal yang kuat, jangan salahkan sekolah, jangan salahkan teman-teman anak, jangan salahkan tetangga, jangan salahkan lingkungan, salahkan diri kita sendiri yang belum membersamai anak secara maksimal. Setelah menyadari betapa kita belum banyak berperan, maka saatnya kita mengambil peranan.

Peran kita sebagai orang tua :

ğŸ“ŽSebagai pemandu untuk anak-anak usia 0-7 tahun.

ğŸ“ŽSebagai teman bermain anak-anak kita pada usia 7-10 tahun, kalau kita tidak bisa menjadi teman yang asyik untuk mereka, maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/ percaya dengan temannya

ğŸ“ŽSebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita pada usia 14-17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak:

1.Observation (pengamatan);

2.Engage (terlibat);

3.Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak).

Untuk bisa menemukan bakat dan minat anak, ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas dan pertemukan anak dengan berbagai komunitas. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Ajaklah anak-anak berdiskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:

1. Melatih anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.

3.Melakukan presentasi yaitu mengungkapkan apa yang telah didapatkan/dipelajari.

4.Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Menantang kan ya jadi orang tua jaman now? Iya dong. Materi belajar dari kelas matrikulasi minggu kelima ini saya simpan di sini selain agar bisa saya baca kembali, juga sebagai pengingat diri ini ketika semangat mulai menurun. So, ayooo semangaaat jadi orang tua yang selalu membersamai anak-anaknya.

Membuat Desain Pembelajaran

Setelah tuntas belajar mengenai belajar bagaimana caranya belajar, kini saatnya mengerjakan PR yang bikin elap keringat dan merenung berkali-kali. 

Sebelum memulai membuat desain pembelajaran, kita harus mengetahui dulu apa itu makna desain pembelajaran. Baiklah saya meluncur ke website KBBI, dari sana saya jadi lebih paham apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran.

DESAIN
Desain/de·sain/ /désain/ n 1 kerangka bentuk; rancangan: — mesin pertanian itu dibuat oleh mahasiswa fakultas teknik; 2 motif; pola; corak: — batik Indonesia banyak ditiru di luar negeri;

AJAR
Ajar n petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut);berguru kepalang — , bagai bunga kembang tak jadi, pb ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah;

Pembelajaran/pem·bel·a·jar·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

ğŸ“ŽJadi kesimpulannya desain pembelajaran adalah kerangka atau rancangan dari proses atau cara belajar. 

Awalnya saya dilanda kebingungan kemana arah design pembelajaran ala saya. Alhamdulillah, di saat itu pula Mbak Erli – fasilitator kelas membawakan ‘cemilan’ yang menyehatkan tentang Piramida Belajar ala William Glasser.

Dari piramida tersebut kita bisa simpulkan jika;

10% pemahaman berasal dari yang kita BACA

20% pemahaman berasal dari yang kita DENGAR

30% pemahaman berasal dari yang kita LIHAT

50% pemahaman dari yang kita LIHAT DAN DENGAR

70% pemahaman dari yang kita DISKUSIKAN

80% dari PENGALAMAN yang dijalani

95% dari kita belajar untuk MENGAJAR/ BERBAGI

Setelah memahami maksud dari piramida tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam membentuk desain pembelajaran tidak harus berisi teori-teori saja, namun justru harus kita imbangi dengan praktek dalam keseharian. Setelah membaca sebuah buku dan kita mendapatkan inspirasi, ikat ilmunya dulu baru kemudian amalkan ilmu tersebut. Pun juga setelah kita melihat atau mendengar kajian dan menjadi tahu sesuatu syariat yang sebelumnya belum kita ketahui, ikat ilmunya dan segera amalkan dalam keseharian. Semakin banyak kita mengalami dan melakukan apa yang kita baca, lihat, dengar dan diskusikan, akan semakin banyak ilmu yang terikat di dalam diri. Tak lupa berbagi ilmu yang telah kita lakukan, baik lewat tulisan atau lewat diskusi dengan orang lain.

Nah, akhirnya setelah merenung dan menggali kembali apa tujuan belajar saya, saya mencoba membuat desain pembelajaran untuk diri sendiri. Mau tahu?

1. MANAJEMEN DIRI

2. MANAJEMEN PASANGAN

3. BUNDA SAYANG

4. BUNDA CEKATAN

5. BUNDA PRODUKTIF

Selain menyiapkan desain pembelajaran untuk diri sendiri, saya juga mulai menyiapkan desain pembelajaran untuk anak-anak, meskipun masih secara global dan belum detail. Insya Allah dari yang global ini akan membantu lebih dalam menyiapkan ruang belajar untuk mereka.

1.HOMEEDUCATION

2. PARENTING

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga bingkisan cantik di NHW #5. Semoga bermanfaat ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Semua Anak adalah Bintang : Menemukan Fitrah Bakat Anak

Alhamdulillah sampai juga di hari kesepuluh dari kelas Pendampingan Portofolio Anak bersama mbak Andita. Rasanya bersyukur sekali Allah berikan kesempatan untuk belajar banyak hal lagi. Di kelas ini saya merasa ada tantangan yang harus saya hadapi setiap hari, hanya satu “KONSISTENSI”. Saya harus membunuh rasa malas agar bisa konsisten menulis selama sepuluh hari belakangan.

Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam menentukan sikapnya. Ada yang berjuang untuk melaluinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan yang dia ada. Ya! Itu saya.

Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman. Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dan dengan iman, hidup menjadi terarah.
Hidup ini merupakan proses pembelajaran menuju lebih baik dan memahami akan cinta yang Allah SWT berikan buat manusia di dunia ini. Jurnal syukur membuat saya terus bersyukur tiada bertepi atas nikmat yang telah Allah beri hambanya. Termasuk untuk cerita hari ini, betapa Allah menyadarkan saya agar tidak keluar dari track. Membuka mata saya agar lebih peka terhadap fitrah yang telah Allah SWT berikan sepaket kepada anak-anak.

Hari ini kami punya cerita tentang fitrah bakat. Fitrah Bakat pada dasarnya ada pada setiap orang, dan merupakan kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Awalnya, saya merasa sedih karena saya merasa Faris nggak punya bakat seni? Kenapa? Saya melihat teman-teman seusianya sudah senang menggambar atau mewarnai bahkan membuat hasta karya. Tapi dalam hati saya tetap berusaha berpikir positif. Ah, masa! Bukannya anak-anak sudah menyukai semua hal yang berbentuk seni sejak lahir ya? Atau mungkin, lebih tepatnya saya sebagai Mamanya yang belum bisa mengenali bakat seni pada anak-anak.

Saya mencoba mengingat-ingat, anak-anak dulu sewaktu bayi kan pasti suka sekali memperhatikan benda yang bergerak-gerak, apalagi yang berwarna. Saat sudah berusia 1 tahun, mereka mulai suka spidol, pensil warna, krayon. Kemudian mencorat coret di mana saja, termasuk di dinding rumah, di sofa, di seprai. Aargh!

Kemudian mereka lanjutkan dengan kesenangan merobek-robek kertas, kemudian disusun ulang. Bikin patchwork, mungkin begitu pikirnya. Dan yang terjadi hari ini, saat saya mulai mencoba memberi mereka stiker. Bagaimana reaksi anak-anak? Mereka dengan riang gembira meminta saya membantu mengelupasnya, lalu menempelkannya di mana-mana. Dicabut, lalu tempel lagi di tempat lain, sampai tidak bisa nempel lagi.. haha

Mereka juga menyukai musik. Satu hari, ketika saya perdengarkan lagu anak dan lagu daerah lalu mereka otomatis bertepuk tangan mengikuti irama alunan musik. Saya melihat betapa cepatnya mereka menggoyang-goyangkan tubuhnya begitu mendengar irama musik dari mana pun.

Hmmm … masihkah saya merasa anak-anak tak punya bakat seni?

Akhirnya saya tersadar, sesungguhnya seni bukanlah masalah bakat atau tidak berbakat. Menurut para pakar tumbuh kembang anak, seni sebenarnya sudah menjadi bagian proses tumbuh dan kembang si kecil. Mm.. memang sih ada bakat seni pada anak tertentu yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Tapi bukan berarti yang lain nggak punya bakat sama sekali. Bahkan baik berbakat atau tidak, semua juga harus dikembangkan kan? Yang berbakat juga tidak akan merasakan manfaatnya jika nggak dikembangkan kan?

Ada anak yang memiliki bakat seni melukis, misalnya, kalau nggak dikembangkan atau diarahkan, maka gambarnya hanya akan begitu-begitu saja. Dia nggak akan kreatif menciptakan gambar yang baru. Sedangkan anak yang katanya tidak berbakat seni, kalau dilatih secara rutin dan baik, mungkin sih nggak akan sespektakuler Salvador Dali. Tapi setidaknya dia akan terlatih untuk kreatif menciptakan bentuk baru.

Namun, meski fitrah bakat seharusnya sudah melekat setiap orang sejak lahir, banyak faktor yang akhirnya membuat seseorang meninggalkan bakatnya tersebut. Misalnya, ada banyak orang yang mengaku nggak bisa gambar, bahkan bentuk sederhana sekalipun. Hmmm … bisa jadi karena dulu faktor lingkungan dan orangtua yang membuatnya begitu.

Ah, curhat deh. Hihihi.

Soalnya kan memang, orangtua zaman dulu sepertinya banyak yang terlalu meremehkan bakat seni pada anak. Mayoritas pasti lebih mementingkan melatih kemampuan matematika dan sains pada anak. Bahkan orang tua saya sendiri (baca : eyangnya anak-anak) kerap melarang begitu anak-anaknya mulai mencorat-coret dinding atau membuat kerusuhan di rumah. Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan anak-anak seandainya fitrah bakatnya dilatih.

Cerita hari ini, Faris sudah mulai tertarik memegang spidol atau pensil warna lalu membuat coret-coretan abstrak yang hanya dia yang tau maksud dari gambar itu apa. Faris sudah mulai konsisten membuat berbagai macam garis. Kemudian menggabungkan garis-garis tersebut menjadi satu bentuk. Inilah hasil gambar pertama Faris. Ini gambar Mama pakai jilbab, hahah… meskipun bentuknya masih sangat abstrak berhubung gambar perdananya adalah Mama maka Mama mana yang tidak terharu.

Selain menggambar, Faris juga sudah mulai mau untuk fokus dan sabar memegang pensil warna kemudian mencoba mewarnai selembar kertas gambar. Kejutannya ternyata Faris mewarnai dengan cara yang tidak biasa. Bermula dari menggunting crayon berbagai warna hingga menjadi rempahan. Jadilah Mama membatin, mau diapakan kah ini rempahan crayon. Baiklah tugas Mama hanya memfasilitasi, jadi Mama amati dulu apakah yang akan Faris lakukan terhadap rempahan crayon itu. Serius dan fokus sekali ia melakukan kegiatan ini. Kemudian atas inisiatif sendiri, ia menempel rempahan crayon tadi ke kertas gambarnya dengan lem. Wah, dapat ide darimana coba.

Setelah mengamati kegiatan Faris hari ini, Mama jadi semakin yakin kalau setiap anak adalah “bintang”. Orang tua tidak perlu menggaggasnya untuk berlari atau menjejalkan materi-materi yang justru menciderai fitrah yang telah Allah berikan sejak anak-anak dilahirkan. Anak-anak sesungguhnya lahir dalam keadaan sangat kreatif dan kaya imajinasi. Hari ini Mama membuktikannya, bagaimana Faris mewarnai gambar topi dengan gradasi warna hasil menggunting crayonnya atau mewarnai belut dengan warna merah jambu.

Saat Faris menggambar, Faris akan menghabiskan waktunya melibatkan seluruh pancaindra, hati dan jiwanya. Dia juga melatih perasaannya, agar bisa menghasilkan lukisan yang indah. Ketika selesai, dia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi ditambah dengan apresiasi dari kedua orang tuanya.😊

Manfaat menstimulasi Fitrah Bakat pada anak

1. Membuat anak menjadi lebih kreatif

Kreatif di sini nggak melulu terbatas pada bakat padaooo anak, tapi juga berarti anak akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika Faris berebut dengan adiknya, maka dia akan selalu punya cara untuk menyelesaikan konflik dengan baik.

2. Menjadikan anak lebih percaya diri

Membuat karya seni, seperti mewarnai menggunakan rempahan crayon tadi bisa membangun kebanggaan anak terhadap diri sendiri.

3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik

Menstimulasi fitrah bakat pada anak berarti mendorongnya untuk melakukan sesuatu dan bergerak secara terkendali. Ini menandakan bahwa kemampuan motoriknya semakin matang. Coretannya semakin rapi, dan bermakna.

4. Belajar fokus

Aktivitas, seperti menggambar, membuat Faris tetap fokus dan konsentrasi pada hal yang dia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya.

5. Menjadi sarana komunikasi nonverbal

Dengan menstimulasi fitrah bakat pada anak, berarti kita juga melatih anak mengenali emosi, dan kemudian mengekspresikannya secara nonverbal. Sehingga orang tiap juga jadi lebih mudah pula ikut merasakannya, baik itu berupa coretan, tarian, atau nyanyian mereka.

Lalu bagaimana cara menstimulasi fitrah bakat pada anak?

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi bakat seni pada anak

ğŸ“ŽJangan membatasi anak

Akan tiba saatnya si kecil mencorat-coret dinding. Iya sih, rumah bakalan tampak berantakan, kotor, dan sebagainya. Tapi dinding memang merupakan kanvas yang sangat menarik buat mereka. 😁

ğŸ“Ž Dampingi saat mereka berekspresi

Saat anak-anak menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri, jangan lupa untuk ikut mendengarkan. Atau saat gambar mereka selesai, tanyakan, “Ini gambar apa?”sambil memberi contoh bentuk yang lebih baik juga buat mereka.

ğŸ“Ž Berikan pujian dan masukan

Saat anak selesai show off, berikan apresiasi. Saat gambarnya selesai, berikan pujian, kalau perlu kasih nilai. Beri masukan jika memang perlu.

ğŸ“Ž Pajang hasil karya anak

Jika berupa lukisan, Mama bisa memajangnya di pintu lemari es dengan magnet. Atau bikin deh photo wall, yang bisa menjadi hall of fame untuk karya anak-anak.

~Apa pun bentuknya, apresiasilah anak-anak~

Alhamdullilah, mulai hari ini saya sudah tidak bingung dan tidak lagi merasa anak-anak nggak punya bakat seni kan? Mama bisa menstimulasi bakat seni pada anak melalui hal-hal kecil seperti di atas setiap hari.

Fitrah bakat pada anak itu selalu ada, karena merupakan salah satu kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Mendidik anak itu bukan dengan dijejal macam-macam ilmu ke kepalanya, tapi dibangkitkan fitrah dlm dirinya.

🍁Mendidik anak itu bukan dengan outside in (dari luar ke dalam) tapi dengan inside out (dari dalam keluar). Yaitu dg dibangkitkan gairah belajarnya.

🍁Jika gairah belajarnya bangkit, ia akan belajar seumur hidupnya. Jika gairah keimanannya bangkit, ia akan beriman seumur hidupnya.

🍁 Banyak orangtua tergesa-gesa ingin anak menjadi shalih, tetapi tidak memahami tahapan-tahapannya dengan baik, Lalu menggegasnya sehingga justru banyak masalah ditemui pada diri anak di kemudian hari.

🍁 orang tua sebaiknya tdk obsesif, dan tidak membanding2kan, jgn melihat pada kekurangan anak tetapi lihatlah kelebihan dan kekuatan yg dimiliki, lalu asahlah. Fokuslah pada cahaya maka kegelapan perlahan akan sirna . . .

🍁 selalu berbaik sangka pada Allah dan banyak bersyukur, sehingga Allah berikan hikmah yang banyak dalam mendidik anak.

🍁Mendidik anak sesuai fitrah,akan membuat kedua orang tua rileks dan optimis. ~FBE~ #ntms

Alhamdulillah bi ni’matimushaalihat 😇

#day10
‌#21Feb18
‌#batam
‌#3y6m
#1y3m
‌#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Belajar Anatomi Tubuh Manusia dengan Goggle Body Browser

Seorang anak biasanya bergerak dan melakukan sesuatu hanya dengan mengandalkan nalurinya. Apa yang dia lihat dari orang lain, maka akan dianggap benar olehnya. Ini sama dengan menjaga kesehatan pada anak. Seorang anak akan merasa dirinya baik-baik saja dan bertindak apa yang terlihat menarik olehnya. Karena itu, penting sekali memperkenalkan anatomi tubuh manusia untuk menunjang kesehatannya.

Berawal dari pertanyaan Faris hari ini, “Mama, kenapa ya kalau Faris nahan pipis perutnya jadi sakit?”

Akhirnya, Mama membacakan sebuah cerita dari buku Dongeng Anatomi agar Faris tidak melanjutkan kebiasaan buruknya yang suka menahan pipis jika ia sedang asyik bermain. Mama bilang, “kalau Faris menahan pipis nanti kandung kemihnya marah loh. Kasian kandung kemihnya sudah menampung air pipis dari ginjal. Kandung kemihnya sedih kalau Faris nggak cepet-cepet ngeluarin pipisnya. Jadi kalau Faris terasa mau pipis harus cepet-cepet ke toilet ya. ”

Belum puas dengan penjelasan Mama, Faris mengejar untuk bertanya lagi.
” Ma, kalau kandung kemih itu tempatnya dimana? Faris bisa lihat nggak bentuknya kaya apa?”

Setelah Mama bacakan buku Faris semakin tertarik ingin menjelajahi lebih dalam lagi jadilah hari ini kita akan belajar anatomi tubuh. Semangat ya anak-anak 😊

Dulu jaman Mama masih sekolah, ada yang namanya mata pelajaran biologi. Pada dasarnya, ilmu ini mempelajari tentang struktur tubuh manusia yang terbentuk dari sistem, organ-organ, jaringan, juga sel. Sampai saat ini, penelitian membuktikan ada 12 sistem pada tubuh manusia. Setidaknya, anak harus tahu sedikit saja fungsi-fungsi pada organ tubuh manusia. Agar mereka tahu bagaimana cara tubuhnya bekerja. Setelah mereka tahu bagaimana cara tubuhnya bekerja maka akan menambah rasa syukur kepada Allah SWT.

Perkenalan sistem indra
Hari ini Faris belajar tentang sistem pencernaan dan Irbadh belajar mengenal bagian-bagian tubuh sambil menunjukkan dengan tangan.

Manusia memiliki 5 indra diantaranya penglihatan, pengecap, pendengaran, penciuman, dan peraba yang semuanya berfungsi untuk menerima rangsangan dari lingkungan sekitar. Selain mengenal apa saja yang termasuk ke dalam golongan panca indra tersebut, Faris dan Irbadh juga harus tahu apa saja fungsi dari panca indra tersebut.

Sistem pencernaan
Anak-anak harus tahu bagaimana makanan yang dimakan akan di proses dalam tubuh. Ini bertujuan agar mereka juga dapat memilah-milah apa saja yang akan mereka masukan ke dalam tubuhnya.

 

Perkembangan otot
Mama dapat mengajarkan kepada anak-anak tentang baiknya olah raga bagi tubuh kita. mengenalkan apa saja yang tidak sanggup dilakukan dan yang mampu dilakukan oleh tubuh.

Pernapasan
Pada zaman yang sudah berkembang ini, sangat jarang untuk kita menemukan udara yang baik untuk kesehatan. Bahkan, pada tempat umum sering terlihat para perokok menyalakan asapnya dimana-mana. Hal ini yang harus kita ajarkan kepada anak untuk mengetahui dampak dari asap-asap tersebut jika terhisap oleh tubuh kita.

Setiap anak berhak sehat, dan setiap anak juga berhak mengetahui pengetahuan anatomi tubuh manusia sebelum mereka mendapatkan pelajaran dari guru sekolahnya melalui kita sebagai orang tua. Selalu perhatikan terus perkembangan anak kita untuk kehidupan yang lebih baik ya, Moms.

🌸Tadabbur Ayat :

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Surat Al Infithaar : Ayat 6-8).

 

Belajar Anatomi Tubuh dengan Google Body Browser

Kemajuan teknologi di bidang informasi dan internet memang luarbiasa. Dengan menerapkan teknologi kita dapat menjadikannya sebagai media belajar. Melalui Google Body Browser, kita bisa memperoleh konsep belajar secara lebih konkret dan detil. Media belajar ini cocok sekali untuk anak yang visualis. Selain itu kita juga merasakan pengalaman menyenangkan yang sangat berbeda.

Dengan mengakses Google Body Browser anak-anak bisa melihat organ-organ visceral (jerohan) dalam tubuh manusia secara lengkap mulai penampilan luar kulit, otot, kerangka, jantung, penyebaran pembuluh darah, pembuluh limfa, pencernaan, hingga otak dan struktur syaraf.

Untuk setiap bagian yang kita klik akan muncul nama organnya dan bisa dilihat secara detil strukturnya dalam visual 3 dimensi.

Di bagian atas kiri terdapat tombol navigasi, di bawahnya terdapat tombol untuk zoom. Control utama ada pada control panel bar di kiri bawah. Di sana terdapat pilihan untuk melihat anatomi pria atau wanita, juga terdapat beberapa icon untuk memilih jenis sistem organ yang ingin ditampilkan.

Pada bagian paling bawah control panel terdapat icon untuk menampilkan setiap anatomi di sebelah kiri. Di sebelah kanan adalah icon untuk menampilkan keseluruhan anatomi. Untuk setiap icon organ terdapat sliding bar yang bisa digeser ke kanan atau ke kiri. Jika digeser ke kiri maka visualisasinya menipis sehingga memperlihatkan organ lain di baliknya atau di dalamnya. Jika digeser ke kanan maka permukaan organ yang bersangkutan yang ditampilkan penuh.

Untuk melihat organ jantung misalnya, kita tinggal klik saja icon jantung, lalu geser sliding bar untuk menampilkan mulai bagian luar jantung hingga bagian dalam jantung. Untuk memperbesar atau memperkecil visualisasi gunakan scroll mouse, dan untuk menggeser gambar dari berbagai sudut pandang lakukan dragging (seret). Media belajar ini rekomended untuk para fasilitator dalam mendampingi anak-anak belajar, terutama cabang ilmu biologi 😊

hasil latihan gunting tempel Faris

Referensi :
[1] Allah Ciptakan Tubuhku, the Gang of fur book, Amalia Kartikasari.
[2]Dongeng Anatomi, Tiga Ananda, Iramayanti.
[3]Ayat-Ayat Allah pada Tubuh Manusia, Pustaka Imam Syafii, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al Atsari.

#day9
#20Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Menumbuhkan Kecintaan Membaca dengan Berkunjung ke Perpustakaan

“ Buku adalah jendela dunia ”, demikian pepatah ini begitu mendunia.

Sebuah rangkaian kata yang telah melekat dalam telinga masyarakat dunia. Sebuah kalimat yang apabila dikaji lebih dalam akan menemukan makna yang tepat terkait dengan pentingnya aktifitas ini bagi kemajuan sebuah peradaban.

Ayah Edy, di dalam bukunya yang berjudul Memetakan Potensi Unggul Anak, menyebutkan pentingnya orangtua mengenalkan berbagai macam hal kepada anak sebagai stimulasi bagi pertumbuhannya. Tujuannya adalah untuk mengetahui minat dan bakat anak sejak dini.

Ya! Mengetahui minat dan bakat anak memang “lebih cepat lebih baik”, supaya orangtua (dan anak sendiri) jadi punya peta yang jelas, ke mana tujuan anak harus berjalan dan bagaimana orangtua mengarahkan untuk mencapai cita-cita yang sesuai potensi anak tercinta. Salah satu cara mengenalkan stimulasi itu adalah dengan mengajak anak ke sebanyak mungkin tempat berbeda, lalu kita amati apa tempat yang paling senang dikunjungi anak, yang ketika ke sana anak terlihat lebih antusias dari biasanya. Ini merupakan sinyal awa untuk mendeteksi minat anak kita. Tidak perlu sering, tempat tujuan pun tidak perlu jauh atau mahal,yang penting berbeda. Perpustakaan menjadi pilihan tempat yang akan kami kunjungi hari ini.

Fasilitas Perpustakaan Umum di kota Batam sangatlah minim. Hanya ada dua, satu perpustakaan daerah milik BP Batam dan satu lagi Perpustakaan Masjid Jabal Arafah yang lumayan banyak referensi buku anaknya. Hari ini, saya berkesempatan mengajak Faris dan Irbadh untuk berkunjung ke Perpustakaan Jabal Arafah. Selain membaca buku, anak-anak bisa bermain di taman dan kolam yang berada di pelataran masjid. Faris dan Irbadh nampak berbinar ketika melihat segerombolan ikan-ikan koi yang berenang mencari makanan. Selain mengamati berbagai macam tanaman yang ada di taman, anak-anak juga berkesempatan memberikan makan ikan.

Kunjungan ke perpustakaan Jabal Arafah memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak-anak. Faris dan Irbadh senang? Tentu lah.

Sesuai rencana, setelah puas bermain di taman dan kolam ikan kami langsung menuju ke lantai 2 Masjid Jabal Arafah, tempat buku-buku dan ruang baca anak tersedia. Koleksi bukunya cukup banyak dan variatif. Buku-buku pengetahuan yang kalo di toko buku harga 1 setnya bisa sampai 7 digit, ada di perpustakaan ini. Lumayanlah yaaa, anak-anak bisa menikmati buku-buku itu tanpa harus mengeluarkan uang terlalu banyak.

Salah satu kegiatan rutin dalam agenda homeschooling keluarga kami adalah ke perpustakaan atau ke toko buku. Setiap minggu, biasanya kami ke toko buku untuk membeli buku yang sedang ingin kami pelajari. Alhamdulillah dengan adanya perpustakaan Jabal Arafah bisa menambah referensi buku untuk dibaca anak-anak. Meskipun kita belum bisa meminjam koleksi buku yang ada di sini tetapi ruang baca yang nyaman membuat kami betah berlama-lama membaca buku di dalam perpustakaan.

Kami punya kesepakatan mengenai buku dengan topik apa yang akan dibaca di setiap minggu. Ada ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, geografi dan lain-lain. Kesepakatan itu berasal dari pertanyaan anak-anak. Jadilah, saya berusaha memfasilitasi dengan mencari jawaban atas pertanyaannya secara bersama-sama melalui buku dan berdiskusi tematik.

Buku yang mencuri perhatian kami adalah Buku Seranggapedia, salah satu seri buku National Geographic Kids. Faris sangat tertarik mempelajari berbagai macam serangga dan yang menjadi perhatiannya minggu ini adalah hewan TONGGERET. Buat teman-teman yang juga suka SERANGGA? Buku ini sangat rekomended untuk dijadikan bahan belajar. Buat yang belum tertarik dengan serangga?Teman-teman dijamin akan menyukainya setelah membaca Seranggapedia! Buku ini dilengkapi dengan foto-foto spektakuler 400 lebih serangga aneh, lucu, dan mengagumkan dari seluruh dunia. Buku ini memuat informasi terkini dan terlengkap mengenai banyak sekali makhluk merayap. Kita dapat melihat lebah, kumbang, capung, belalang, semut, dan banyak serangga lainnya. Mencari tahu banyak informasi di mana serangga hidup, bagaimana serangga berkomunikasi, dan apa yang serangga makan. Banyak kehebatan dan keunikan serangga! Ah, buku ini merupakan salah satu most wanted book yang belum ada di perpustakaan mini rumah kami, do’akan kami bisa membelinya ya biar anak-anak puas bacanya hehe.

Faris sangat terkesan dengan buku ini. Sedangkan adiknya malah lari-larian dan mengeksplor setiap sudut ruangan perpustakaan. Irbadh naik ke atas kursi karena ingin mengambil buku sendiri. Kemudian sambil berjalan jinjit ia membawa buku tersebut. Ah, lucunya anak-anak.

Sebelum pergi ke perpustakaan, kami menjelaskan terlebih dahulu adab di perpustakaan. “Kalau di perpustakaan harus tenang. Jalannya tenang, bicaranya tenang”. Alhamdulillah, pada kunjungan pertama kemarin Faris masih terkendali. Ya kalo soal bertanya dan berdiskusi memang sudah tak terbendung lah ya, setiap hal ditanyakan oleh Faris. Tapi setidaknya dia bisa berjalan tenang tanpa berlari atau melompat-lompat gedubrakan seperti adiknya. Sesekali memanjat rak dan sofa baca bisa dimaklumi lah ya, Irbadh kan baru 1,5 tahun kan.

Kekurangannya, karena area baca di lantai 2 memang tidak terlalu luas menyebabkan anak-anak merasa bosan berada di ruang baca anak. Dengan cuek ia berjalan menuju area baca lain, mendatangi pengunjung lain yang juga sedang asyik membaca.

Ruang utama perpustakaan Masjid Jabal Arafah Batam,

A post shared by Masjid Jabal Arafah (@masjidjabalarafah) on

Secara umum, Perpustakaan Jabal Arafah sendiri cukup representatif. Lingkungannya (termasuk toilet) bersih dan rapi. Koleksi bukunya overall tidak terlalu banyak bagi saya, namun area baca cukuplah. Fasilitas hotspot tersedia gratis. Setiap pengunjung juga bisa menikmati jaringan internet nirkabel secara cuma-cuma, tinggal daftar saja untuk mendapatkan ID dan password-nya.

Perpustakaan ini nyaman sekali digunakan sebagai tempat belajar bareng, atau sekadar hangout sambil nyari hotspot gratisan. 

Di sisi lain, menurut saya petugas kurang informatif. Hari ini kami ternyata belum bisa meminjam buku karena harus menjadi anggota terlebih dahulu. Dokumen yang dibutuhkan untuk menjadi anggota adalah fotokopi KTP dan pasfoto. Bagi anak-anak, bisa pakai KTP milik orang tuanya. Nah, hari ini saya tidak membawa pasfoto saya maupun anak-anak. Jadilah kami menunda meminjam buku. Tetapi Faris berbesar hati meskipun batal meminjam buku yang ditaksirnya. InsyaAllah minggu depan kita akan membuat kartu anggota dan meminjam buku tersebut. Teman-teman sudahkah membaca hari ini?

🌸Tadabbur Ayat 🌸

Perintah Membaca
Perintah membaca merupakan perintah yang sangat berharga yang diperintahkan kepada manusia. Sebagaimana telah dtetapkan Allah bahwa wahyu sebagai wahyu yang pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril dibulan Ramadhan, dengan seruan “Iqra’ bismi rabbikal-ladzii khalaq”, yang artinya ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan”. Perintah membaca ini oleh Allah dianggap penting sehingga di wahyukan pertama dan diulang tiga kali di dalam ayat ini, yaitu surah Al-Alaq ayat 1-3.

#day8
#19Feb18
#Batam
#3y6m
#1y6m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

NHW #4 : Tetapkan Milestone Meraih Mimpi

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kali ini saya kembali dengan bingkisan cantik Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, sudah masuk ke minggu keempat dengan tugas yang semakin menantang hati, jiwa, raga dan pikiran, hehe.

Setelah minggu lalu murid-murid kelas matrikulasi diajak berpikir tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”, minggu ini kami ‘ditodong’ melalui materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah. Satu persatu mulai jelas benang merah antara bagaimana membangun peradaban dengan mendidik berdasarkan fitrah. Bisa dipastikan tidak akan terbangun sebuah peradaban jika orang tua tidak mampu menemukan, menjaga dan menumbuh kembangkan fitrah anak-anaknya.

Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan fitrah sebagai modal utama untuk menjadi khalifah, termasuk anak-anak kita. Biasanya orang tua, khususnya orang tua-orang tua baru seperti saya yang suka latah. Alih-alih ingin bisa mendidik anak dengan baik, jadilah ikut seminar sana-sini, semua buku dilahap, artikel parenting di semua media diambil, akhirnya jadi makin bingung harus mulai darimana dan mengikuti yang mana. Padahal kalau kita mau menggali lebih dalam, sesungguhnya Allah sudah menyiapkan anak-anak sepaket dengan kemampuan orang tuanya dalam mendidik secara syari’ , kita tinggal menemukan dan mengarahkan sesuai kehendakNya.

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Alhamdulillah, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional saya kembali diingatkan mengenai mendidik dengan kekuatan fitrah. Saya ingin berbagi beberapa materi terkait fitrah based education yang pernah saya dapat di sini.

Selama ini kebanyakan dari kita heboh pada “apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak diantara kita yang bingung memberikan materi pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Sesungguhnya ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH.

Meski terlihat sederhana, namun untuk bisa menjalani proses tersebut ada beberapa tahapan yang harus kita jalankan;

❗Bersihkan hati nurani kita, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan.

❗Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

❗Sebaiknya orang tua memahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah Perkembangan, fitrah Seksualitas dll.

❗Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia.

Analogikan diri kita dengan seorang petani organik. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI,seperti petani menemani tanamannya atau sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

❗Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu artinya kita dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Sedangkan waktu dengan anak, kita dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Anaknya mainan sendiri, ibunya asyik blogging, #tampar diri sendiri.

❗Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena semua anak itu very limited special edition. Tidak ada anak yang diciptakan sama, semua anak itu unik, bahkan anak kembar sekalipun.

Point utamanya, mendidik itu bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran? Lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca?

~disarikan dari materi Matrikulasi dan Buku FBE~

Memantapkan Hati Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Sebelum mulai menggali lebih dalam tentang fitrah anak-anak kita, saya harus terlebih dahulu mengenali diri sendiri dengan cara menemukan misi hidup dan misi keluarga. Dua misi ini yang nantinya akan menuntun kita unuk bisa mendidik anak secara fitrah. Berikut ini adalah inti dari NHW #4 kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini.

Dibandingkan NHW-NHW sebelumnya, saya tidak akan menulis terlalu panjang. Karena murid-murid di kelas hanya diminta untuk melakukan review NHW #1, #2 dan #3. Namun pada prosesnya, NHW #4 ini membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaannya. Selain itu juga dibutuhkan momen pembersihan diri agar bisa menemukan kehendak Allah terhadap diri sehingga bisa merumuskan misi hidup dan misi keluarga.

Berikut ini poin-poin dalam NHW #4 :

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Di NHW #1 setelah memahami adab menuntut ilmu saya diminta untuk memilih jurusan ilmu di universitas kehidupan, dan saya memilih untuk mempelajari jurusan ilmu tentang menjadi seorang ibu profesional. Setelah saya baca kembali jurnal harian saya dan melakukan review selama beberapa hari, saya semakin yakin untuk memilih jurusan ini untuk saya pelajari.

Baca juga:Refleksi Diri 2018

Menjadi ibu memang alamiah dan natural, namun menjadi ibu profesional membutuhkan segudang wawasan dan bekal yang mumpuni demi membantu anak-anak menemukan fitrahnya dan membangun peradaban dari dalam rumah. Apalagi jaman yang akan dihadapi anak-anak nantinya adalah jaman yang sangat berbeda dengan yang saya alami sekarang.

Realitanya, saat ini dunia lebih maju secara teknologi, namun turun drastis secara adab. Dunia yang dipenuhi dengan gadget, sosial-sosial media, channel-channel televisi yang bisa menjadi musuh mematikan jika tidak diatur sebaik mungkin. Karena alasan itulah saya merasa wajib untuk belajar mengenai hal-hal apa saja yang harus dikuasai untuk menjadi ibu profesional.

Ibu yang tak sekedar menyandang gelar ibu karena telah mengandung dan melahirkan anak, namun sebenar-benarnya ibu yang menjadi guru pertama dan utama anak-anak yang saya lahirkan. Juga sebagai seorang ibu – pendamping ayah – yang akan menjadi teman dan teman paling nyaman untuknya pulang. Serta seorang ibu yang bisa merangkul lingkungan sekitarnya dan menebarkan manfaat

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebenarnya checklist yang saya susun untuk NHW #2 bukanlah checklist pertama yang saya buat, namun checklist yang saya buat kebanyakan menguap tanpa hasil. Saya selalu punya masalah dengan rutinitas, karena terkadang saya lebih mengikuti mood. Tersadarlah sekarang kenapa saya semakin hari semakin tidak produktif.

Sebuah kebiasaan buruk yang harus segera saya tinggalkan. Jujur checklist yang saya buat untuk NHW #2 pun belum rutin saya isi. Namun menyadari bahwasanya hal ini adalah sarana untuk memantaskan diri untuk menuju jurusan yang pilih, mau tidak mau, saya harus mau untuk merubah diri agar lebih teratur dan disiplin.
Semoga checklist yang telah saya buat bisa membantu saya untuk terus lebih baik dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup. Doakan saya ya agar bisa lulus mencapai goal dari checklist ini, sehingga bisa semakin produktif, baik sebagai ibu dari anak-anak, sebagai istri dan sebagai seorang blogger.

Baca juga: Langkah Awal Menuju Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 sejauh ini merupakan Nice Homework terberat untuk saya, karena melalui tugas itu saya diminta untuk memaafkan diri sendiri, memaafkan orang tua, memaafkan suami dan menemukan alasan kenapa saya harus jatuh cinta kembali padanya, mengenali dan menemukan potensi anak-anak, mengenali dan menemukan potensi diri saya sendiri, serta menemukan alasan mengapa Allah mengirimkan saya berada di lingkungan yang kini saya tinggali serta apa manfaat dari komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Baca Juga: Mengenal Potensi :Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saya termasuk orang yang masih mempertanyakan apa maksud Allah mengirimkan saya ke dunia ini. Mengapa Allah menakdirkan saya menjalani fase-fase dalam episode kehidupan ini, apa yang Allah inginkan terus saya pelajari, hikmah apa yang Allah ingin saya gali. Hal-hal seperti itulah yang sepanjang hidup terus saya pertanyakan. Jawabannya? Hingga detik ini saya belum benar-benar yakin seratus persen tentang hal itu. Namun melihat beberapa fase yang terus saja mempertemukan saya dengan dunia anak-anak dan literasi, saya mulai menangkap maksud Allah.

Dilahirkan dari keluarga besar yang berlatar belakang pendidikan hukum membuat saya sudah sangat akrab dengan rutinitas harian seorang pelayan jasa.

Dulu sekali saya merasa bekerja di bidang hukum itu bukan passion saya. Saya merasa passion saya di bidang literasi, berbekal pengalaman bekerja sebagai jurnalis dan giat dalam beberapa tim penulisan peraturan daerah saya semakin mantap ingin terus belajar menulis. Sempat vakum dari rutinitas menulis dan beberapa kalipun saya menghindari bidang tersebut, namun berkali-kali pula Allah beri kesempatan untuk kembali terjun ke bidang tersebut. Bahkan tidak sedikit yang bilang saya berbakat di bidang tersebut. Dan saat ini saya mulai bisa membaca potongan-potongan puzzle dari Allah, rupanya Allah memberikan bakat menulis kepada saya ada relevansinya juga dengan profesi Notaris yang menjadi cita-cita awal saya dulu.

Namun, lagi-lagi saya belum rela berbagi waktu bersama anak-anak dengan waktu untuk berpraktek kembali. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan saya untuk tetap stay di rumah mendampingi anak-anak. Hingga sebuah titik menyadarkan saya bahwa mendidik anak adalah pengalaman yang jauh lebih menantang. Dunia pendidikan anak adalah ujung peradaban. Ketika bidang ini diabaikan, maka hancurlah peradaban. Naudzubillah min dzalik.

Saya mulai menikmati bidang pendidikan anak-anak. Belajar dari pengalaman hidup kala masih remaja saya yang amat terpuruk justru menjadi titik balik saya untuk berhijrah. Kehidupan saya kala itu yang dekat dengan BLAST (boring, lonely, angry, stress, tired) membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk fokus membersamai anak-anak dan keluarga terlebih dahulu.

Kebanyakan remaja jaman sekarang lebih dekat dengan teman-temannya daripada ayah ibunya. Mereka kehilangan hubungan emosional dengan para orang tuanya. Remaja yang bertemu fisik dengan orang tuanya hanya saat di malam hari, menyapa seperlunya, bahkan ada yang tak pernah ketemu sama sekali. Remaja yang seringkali menyumpahi para gurunya karena nggak asyik menyampaikan materi dan berkesan diktator di dalam kelas. Ini membuat saya seperti melihat diri saya sendiri saat berusia sama dengan mereka. Remaja-remaja yang butuh sosok hangat untuk mencurahkan isi hati sekaligus motivator hidup serta teladan yang tepat. 

Keadaan yang paling bahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari adanya bahaya tersebut. Saya banyak bertemu dengan ibu-ibu yang merasa tidak butuh belajar parenting karena merasa anaknya baik-baik saja.

Apa iya kita harus menunggu anak bermasalah untuk mulai belajar? Padahal ketika anak sudah terlanjur bermasalah, effort untuk mengembalikan anak ke track semula akan jauh lebih besar.

Ternyata membersamai anak-anak untuk belajar di rumah itu mengasyikan. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan untuk berhome education saat ini.

I don’t really like kids, actually, kecuali anak-anak saya sendiri, hehe. Mama saya sendiri bahkan pernah berkata, “Halah, ngajar anak PAUD ki gampang, tinggal diajak nyanyi-nyanyi wis seneng.” Anehnya kalau Mama saya merasa gampang kenapa dulu Mama saya nggak ngajar anak-anaknya sendiri.

~For me, teaching toddler isn’t easy at all. Teaching toddler is about giving foundation for the next education, it’s not as easy as what they think of.~

Dari sanalah kemudian saya belajar tentang bagaimana meletakkan dasar di setiap materi yang saya berikan pada anak-anak penerus bangsa ini kelak.

Beruntung saat ini media belajar sangatlah banyak dan sumber ilmu pun mudah dijangkau. Saya banyak belajar tata laksana pendidikan anak usia dini melalui guru-guru PAUD yang hebat di WAG dan kelas online Yayasan Generasi Juara yang menaungi Homeschooling Muslim Nusantara. Saya percaya, ketika kita bisa memberikan pondasi yang kuat, maka insya Allah bangunan yang berdiri di atasnya akan mampu berdiri kokoh. 

Saya senang membagikan sedikit ilmu yang saya dapat dari hasil belajar di beberapa seminar yang saya ikuti, buku yang saya baca dan pengalaman yang pernah saya alami melalui tulisan.

Selain membuat digital portofolio anak, saya sangat menikmati kegiatan berbagi tentang dunia parenting terutama dengan teman-teman di Trenggalek yang masih awam dengan dunia ini. Bersama dengan seorang sahabat saya, kami mengelola Rumah Belajar Trenggalek dan rumah baca Taman Ilmu sebagai wadah untuk belajar dan berbagi banyak hal seputar parenting dan homeeducation.

Dunia tulis-menulis sendiri mulai menarik minat saya sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya paling suka kalau disuruh menulis surat kepada sahabat pena saya dan membuat karangan untuk dikirimkan ke berbagai majalah dan koran.

Begitu seterusnya hingga kemudian saya kuliah di bidang hukum. Saya berada dalam iklim yang menuntut untuk terus menulis, jadilah saya semakin menyukai dunia tulis menulis. Makin kesini rupanya saya makin senang menuliskan pengalaman dan kisah hidup yang semoga bisa memberikan manfaat, inspirasi dan semangat bagi orang lain. Saya sangat senang dan bersemangat jika banyak teman yang menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai anak-anaknya, mendengarkan curhatan para mama baru atau hanya sekedar cerita kegalauan ketika menanti jodoh.

Dari perjalanan hidup dan hal-hal yang menimbulkan semangat di dalam diri tersebut, saya mulai bisa menemukan misi hidup yang Allah maksudkan untuk saya.

🌈Misi Hidup:

Menjadi ibu yang profesional dan memberikan manfaat tidak hanya kepada keluarga inti, namun juga kepada orang lain. 

🌈Bidang: Pendidikan Ibu dan Anak

🌈Peran: Fasilitator dan Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Untuk bisa menjadi ahli sebagai seorang ibu profesional, khususnya di bidang Pendidikan Ibu dan Anak, maka saya menetapkan tahapan ilmu yang harus aku kuasai sebagai berikut:

1.Bunda Sayang :

Sebagai dasar atas rangkaian tahapan sebagai ibu profesional, saya merasa sangat penting untuk terus menambah ilmu seputar pengasuhan anak (parenting), mengkaji ilmu agama lebih dalam agar saya bisa memberikan bekal dan pondasi yang kuat untuk anak-anak dan belajar untuk menjadi teman bermain yang mengasyikkan serta memfasilitasi anak-anak dengan alat-alat bermain yang mereka butuhkan sesuai tahapan usia. Saya juga tertarik sekali untuk belajar mengenai ilmu psikologi dan komunikasi agar lebih paham tentang memahami dan merespon perilaku anak, suami dan orang-orang di sekitar.

2. Bunda Cekatan 

Selain memantaskan diri dengan belajar ilmu-ilmu di tahapan bunda sayang, saya juga membutuhkan ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, antara lain belajar membuat menu keluarga agar lebih variatif, belajar memasak sehat, belajar keuangan agar bisa mengatur cash flow keluarga dengan lebih baik, juga belajar beberapa life skill seperti menanam sayur, membuat sabun homemade atau mengatur lemari pakaian. Life skill ini selain berguna untuk kehidupan di masa kini, juga sangat bermanfaat jika bisa diwariskan kepada anak-anak.

3. Bunda Produktif

Berkaitan dengan minat dan bakat yang saya tekuni yaitu dunia tulis menulis, saya ingin belajar banyak tentang blogging dan content writing lebih profesional, serta belajar menulis parenting stories dan buku inspiratif pada ahlinya.

Saya juga ingin belajar public speaking agar lebih baik dalam menyampaikan apa-apa yang saya pikirkan secara langsung kepada khalayak sehingga maksud saya bisa ditangkap dengan baik. Selain itu saya juga merasa sangat penting untuk terus mengupdate informasi penting di bidang hukum agar meskipun belum berpraktek lagi saya tetap mengetahui update informasi terbaru.

4. Bunda Shaleha 

Saya ingin belajar lebih banyak untuk bisa berperan secara aktif dan positif pada setiap komunitas yang saya ikuti. Saya juga ingin belajar menjadi event organizer agar bisa kembali mengadakan acara-acara parenting yang berkualitas dengan tim yang telah sevisi-misi dengan saya.



d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Meskipun saya telah menjalani peran sebagai seorang ibu selama tiga tahun lebih, dan menjadi istri telah berjalan selama enam tahun, serta telah menjadi anggota masyarakat selama dua puluh delapan tahun, namun saya merasa belum melakukan sesuatu yang berarti di dalam hidup ini. Terkadang menyesal, kenapa begitu terlambat saya memulai semua ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Maka saya menetapkan hari ini sebagai KM 0 – ku. Di usia dua puluh delapan tahun saya harus mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah saya tentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. 

Sejak hari ini saya akan berusaha setiap harinya akan mendedikasikan 8 jam waktu yang saya punya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, aku sudah bisa melihat hasil yang saya inginkan.

Berikut ini milestone yang saya tetapkan :

🌸KM 0 – KM 1  (tahun 1 – usia 28 hingga 29) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang – bisa menjadi ibu, istri dan sahabat yang baik untuk anak-anak dan suami.

🌸KM 1 – KM 2 (tahun 2 – usia 30 hingga 31) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan – bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.

🌸KM 2 – KM 3 (tahun 3 – usia 31 hingga 32) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif – bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minat saya; blogging, menulis buku dan kembali berpraktek membuka kantor sendiri.

🌸KM 3 – KM 4 (tahun 4 – usia 32 hingga 33) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha – bisa menyelenggarakan acara-acara seminar atau workshop parenting dengan biaya terjangkau/ tidak berbayar di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang belum tersentuh parenting.

Saya berharap sebelum usia 40, saya sudah bisa menjadi ibu yang bisa memahami dan mengarahkan fitrah anak-anaknya, sahabat yang baik untuk suami, mencapai posisi financial yang baik melalui minat dan bakat saya serta bisa bermanfaat bagi orang lain lewat tulisan, rumah baca dan beberapa kegiatan yang saya impikan.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah kembali membaca checklist saya di NHW #2, sebenarnya saya sudah memasukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, namun belum terlalu spesifik. Maka setelah checklist bulan ini selesai saya review, saya akan memasukkan kembali poin-poin tersebut secara lebih spesifik. 

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Apapun rencana, target dan checklist yang saya lakukan, tidaklah akan ada artinya ketika tiada konsistensi dalam menjalankannya. Maka selain menggantungkan mimpi, saya perlu meluruskan niat dan memetakan langkah demi bisa menjalankan misi hidup saya dan meraih cita-cita saya. Aamiin.

Inilah saatnya kita membuat sejarah kita sendiri. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Sampai jumpa di postingan berikutnya. Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Serunya Kegiatan Cooking Class Homeschoolers Batam Bersama Khansa Pizza

Akhir pekan ini, Rumbel Homeschooling Ibu Profesional Batam mengajak anak-anak untuk belajar memasak pizza besama dengan Khansa Pizza Batam. Siapa tahu suatu saat menjadi chef handal seperti aksi anak-anak di serial televisi “Junior Masterchef”.

Dalam rangka mengisi libur panjang di akhir pekan, orang tua juga bisa mengenali bakat anak-anak. Khansa Pizza Batam bisa dijadikan alternatif untuk kegiatan cooking class bagi anak-anak mulai usia tiga tahun. Anak-anak akan diajarkan dasar membuat adonan (dough) pizza, meletakkan berbagai topping sampai dengan pizza siap dimakan. Meskipun Faris sudah sering belajar memasak bersama Mama, namun kegiatan cooking class bersama teman-teman homeschoolers membuatnya sangat excited.

Sebelum kegiatan cookingclass dimulai, Mbak Erli Oktania membuka dengan sedikit sambutan. Rasa syukur akhirnya terlaksana juga kegiatan cooking class hasil kolaborasi Rumbel Homeschooling Ibu Profesional Batam.

Kegiatan membuat pizza pagi ini dipandu langsung oleh Mbak Tami, owner Khansa Pizza. Sebelum mulai membuat pizza, Mbak Tami menceritakan terlebih dahulu sejarah darimanakah pizza berasal. Anak-anak antusias sekali menjawab ketika Mbak Tami bertanya siapa yang tahu pizza itu asalnya darimana.
Karena anak-anak sudah tidak sabar, kegiatan memasak pun segera dimulai.

Tiga orang anak dipanggil secara acak oleh Mba Tami untuk membantu memberikan demo kepada teman-teman yang lainnya. Ada Rio, Razha dan Ale yang membantu mencampur bahan utama dalam pembuatan dough yaitu tepung terigu, gula, garam, ragi, air, dan minyak goreng.

Ketika teman-temannya dipanggil, Faris tidak sabar untuk ikut serta belajar mencampur adonan juga. Jadilah dengan inisiatif, ia naik sendiri ke atas panggung bergabung bersama kak Sisy dan kak Ai untuk sama-sama mencampur bahan-bahan hingga menjadi adonan dough yang kalis. Sambil menunggu adonan rotinya mengembang, anak-anak menyiapkan topping apa saja yang akan diletakkan di atas roti pizzanya nanti.

Mbak Tami memandu kelas memasak pizza ini dengan interaktif. Anak-anak pun semangat sekali karena mereka diberikan kepercayaan untuk melakukan semuanya sendiri.

Setelah dough pizzanya mengembang, lagi-lagi Faris naik lagi ke panggung membantu teman-temannya mendemokan cara menyusun topping pizza, mulai dari menuang saos dasar pizza yang terbuat dari saos tomat dan campuran berbagi rempah khas Italia yaitu oregano. Kemudian dilanjutkan dengan menabur keju mozarella, meletakkan sosis, menabur jagung dan paprika serta terakhir menuang mayonaise.

Setelah selesai meletakkan topping, anak-anak menunggu antrian untuk memasukkan pizza masing-masing ke dalam oven. Tidak lupa Faris dan teman-teman menancapkan bendera bertuliskan namanya di atas pizza mininya.

Sembari menunggu pizzanya matang, Faris dan teman-teman menyiapkan kotak pizza yang sudah disediakan oleh panitia. Mereka belajar melipat sesuai dengan pola yang ada. Setelah berhasil melipat kotak pizzanya, anak-anak bisa berfoto bersama dengan teman-temannya. Ada juga yang berani tampil di atas panggung, dari sekedar berkenalan hingga menyanyi dan menghafal surat pendek atau do’a harian.

Ah rasanya anak-anak sudah tidak sabar ingin mencicipi pizza yang dibuat tadi. Ini dia pizza buatan Faris.

Setelah selesai sesi makan pizza bersama teman-teman dan sesi pemotretan. Faris bersiap untuk pulang dan mengambil sertifikatnya. Pengalaman yang mengesankan sekali hari ini. Melalui kegiatan cooking class, banyak manfaat yang diperoleh anak seperti mengembangkan bakat, minat, kreativitas, melatih konsentrasi, motorik halus, sensitivitas rasa dan daya ingat.

Beberapa tempat kursus di Batam biasanya membuka kelas trial (percobaan) berupa paket memasak dalam sehari untuk memperkenalkan kelas memasak yang mereka miliki. Pilihan lain jika anak-anak tertarik belajar memasak adalah mengikuti acara cooking class yang diselenggarakan hotel-hotel berbintang seperti Harris Hotel Batam Centre atau Best Western Premier Panbil Batam.

Pilihlah acara cooking class sesuai usia anak-anak. Untuk usia balita, biasanya program yang ditawarkan sederhana dan lebih banyak unsur menyenangkan seperti menghias cupcakes atau pizza. Sementara untuk usia yang lebih besar, di atas 6 tahun sampai 12 tahun, dapat belajar memasak yang sesungguhnya. Ingin mengikuti kegiatan cooking class seperti Faris dan teman-teman? berikut ini beberapa tempat pilihan belajar memasak di Batam untuk anak-anak.

1. Young Chefs Academy

Sekolah memasak ini diperuntukan bagi anak usia 3 sampai dengan 16 tahin. Anak-anak akan diajarkan bagaimana cara memasak makanan kesukaan mereka dengan cara yang aman. Para orang tua juga bisa melihat secara langsung. YCA menawarkan tema dan bahan yang berbeda setiap minggunya. Tertarik?

Alamat : Komplek Tunas BizzPark block b nomor 23, samping Sun bread batam centre, Batam, Riau, Indonesia, 29432
IG : yca_batam
Web : youngchefacademy.com

2. Tiola Cake Batam

Tiola Cake Batam memberikan kesempatan belajar membuat cake dan cookies. Anak-anak dapat belajar membuat dan mendekorasikan kue kecil yang bisa mereka bawa pulang sebagai hadiah. Biaya pendaftaran per-anak mulai Rp. 120.000-an. Sudah termasuk sertifikat, resep dan foto anak.

Alamat :
🌸Ruko Nagoya Hill R4 D6

🌸Happy Valley Garden B 28, belakang BCA Jodoh/Sekolah Kartini
Telp/WA : 0812-1020-2016

IG : Tiola Cake Batam

3. Pizza Hut Junior Maker

Melalui program ini anak-anak bisa belajar masuk dapur pembuatan pizza. Anak-anak akan diterangkan bagaimana bahan dan cara pembuatan pizza dimulai dari tepung sampe jadi Dough diberi topping sampai dipanggang dan benar-benar jadi sebuah pizza siap santap. Ada dua paket PMJ yang bisa dipilih yaitu PMJ Basic dan PMJ +. Beda dari kedua paket itu terletak pada kegiatan tambahan yakni mewarai bersama dan kreasi balon lucu. Paket PMJ Basic biayanya Rp. 40.000, anak-anak mendapat 1 small pan pizza buatan sendiri + 1 soft drink + sertifikat anak. Sedangkan untuk paket PMJ plus anak-anak mendapat tambahan buku mewarnai dan belajar membentuk balon.

Alamat : Komp. Lucky Permai, Jl. Raden Patah No. 6-8 Nagoya, Batam. 
Telepon : 0778-454820.

#day7
#18Feb18
#Batam
#3y6m
#1y6m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Alhamdulillah, Aku Bisa Pakai Celana Sendiri

Di usianya yang ke-18 bulan, Irbadh sudah bisa memakai dan melepas celana sendiri. Kegitan memakai baju dan celana sendiri untuk sebagian anak adalah kegiatan sangat menarik.
Penasaran memasukan dan mengeluarkan kancing baju sampai anak berpeluh keringat.

Saya sih sebenarnya belum mulai mengajari Irbadh, tetapi mungkin karena karakternya yang kuat sehingga ia punya keinginan sendiri untuk mulai mandiri. Apalagi melihat Masnya jadilah apa-apa maunya melakukan apa yang dilakukan Masnya. Setiap kali mau pipis atau mandi Irbadh selalu melepas dan memakai sendiri kembali celananya. Meski terkadang salah dan memakai pada satu lubang tetapi ia selalu ngotot ingin memakai sendiri. Jika dibantu ia akan menolak dan berujung tangisan buaya. Anak lanang oh anak lanang😂

Karena belum bisa pakai celana sambil berdiri, kalau mau pakai celana Irbadh ambil posisi duduk dulu. Setelah kedua kaki masuk ke lubang celana, baru lah ia berdiri dan ngepasin celananya dengan benar. Hasilnya? Masih miring-miring dan terlipat-lipat ga karuan. Tapi Mama menghargai hargai kemauan dan usaha kerasmu, Nak.🙂

Sedangkan kalau urusan melepas celana, Irbadh bisa dalam posisi berdiri. Setelah celana diplorotin sampai kaki dengan penuh perjuangan, celana nya dilempar saja pakai kaki, biar terlepas. Terkadang sambil jalan pun bisa langsung diplorotin, ckck. Kalau melihatnya Mama tertawa ngakak. Lucu sekali saat melempar celana dengan kaki itu. 😂

Keterampilan melepas dan memakai baju sendiri biasanya muncul di usia 1,5 sampai dengan 3 tahun. Motivasi dan dukungan dari kedua orang tua sangatlah diperlukan agar mereka tertarik dan mau mencoba. Tanya kenapa? agar keterampilan motorik anak-anak ini lebih terasah.

Di usia ini, anak mulai melatih keterampilan motorik lebih jauh lagi, dengan menunjukkan ia dapat mengontrol lengan, tangan, dan jemarinya untuk menyingkirkan baju dari tubuhnya.

Agar Anak Makin Jago Orang Tua Dapat Memberikan Stimulasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Melalui Kegiatan sebagai berikut :

🌸Beri balita baju berkancing bukaan depan, agar mudah dibuka. Beri celana karet supaya gampang diperosotkan.Bila ia memakai baju dengan kancing samping, biarkan ia membuka baju sampai kepalanya, Mama tinggal membantu menarik baju keluar dari tubuhnya.

Pada usia 2 – 3 tahun biasanya kemampuan balita mulai bertambah. Ia tidak hanya bisa membuka bajunya, tetapi juga bisa memakai sendiri bajunya. Mereka pun mulai senang memilih apalagi Faris, sejak usianya menginjak dua tahun ia tidak mau dipilihkan baju lagi, ia lebih senang diberikan kepercayaan untuk memilih sendiri baju yang dianggapnya bagus, meskipun terkadang tidak cocok atau salah kostum.

Beri Kesempatan Anak-anak Belajar (berikan kepercayaan)

Biarkan anak-anak memilih sendiri baju yang ingin dipakai. Jika pilihannya belum sesuai, Mama boleh menyarankan agar memilih ulang. Jangan lupa mengucapkan terimakasih dan jika mereka tetap bersikeras, biarkan ia memakai baju pilihannya tersebut.

Tahan keinginan untuk menawarkan bantuan jika tidak diminta. Baginya, bantuan orang tua merupakan bentuk interupsi terhadap kemandiriannya.

Teman-teman lainnya,yuk kita bersama bunda latihan pakai baju dan celana sendiri 😊

#day6
#17Feb18
#batam
#1y6m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

QOTD : Ma, Kenapa Kok Kembang Api Bisa Warna Warni?

Siapa yang suka nongkrongin kembang api? Saat malam tahun baru, malam takbir, atau bahkan imlek, anak-anak seringkali tak lepas dari yang namanya kembang api. Untuk menyambut dan memeriahkan malam pergantian tahun, banyak orang akan menjual kembang api dan petasan. Begitu juga di Batam, seminggu jelang perayaan imlek beberapa orang sudah mulai menyalakan kembang api dan petasan saat malam tiba.

Bagaimana reaksi anak-anak?
Faris dan Irbadh sejak kecil sangat excited ketika melihat kembang api atau petasan. Tetapi mereka jarang sekali melihat kembang api secara langsung. Apabila ada kesempatan palingan anak-anak lihat dari jendela rumah saja hehe. Saya mengafirmasi anak-anak agar tidak perlu merayakan sesuatu, dengan kembang api. Alasan saya cukup sederhana, karena asap yang ditimbulkan oleh kembang api itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi kan anak-anak usianya masih sangat kecil. Meski begitu namanya juga anak-anak, fitrahnya untuk belajar dan ingin tahu banyak hal.

Begitupula dengan cerita semalam, seperti biasa Faris selalu menyenangi aktivitas pillowtalk bersama saya dan adiknya. Malam ini kami membahas mengenai kembang api.

Faris sangat penasaran sekali dan bertanya kepada saya, “Ma, kok bisa sih kembang api itu keluar warnanya yang warna warni gitu? Apa dikasih pewarna ya sama yang buat?”

Ada yang tahu jawabannya?

Jadi teman-teman tahu nggak sih, ternyata kembang api bisa menghasilkan warna-warna tersebut dari bahan kimia, lo. Kira-kira warna tersebut dihasilkan dari bahan kimia apa ya?

Nah, berikut adalah daftar bahan kimia yang menghasilkan warna pada kembang api:
(Al), menghasilkan warna perak dan putih kerlap-kerlip.
Barium (Ba), menghasilkan warna hijau.
Garam Kalsium, menghasilkan warna oranye.
Tembaga (Cu) menghasilkan warna biru.

Source : sainskimia.com

Kembang api memang saat ini akan menjadi barang buruan untuk pesta di malam pergantian tahun baru cina. Saya hanya berpesan, hati-hati dalam menggunakannya ya… Bagi para orang tua, tetap dampingi putra-putrinya sembari diberikan informasi bernilai pengetahuan saat bermain, apalagi saat mereka bertanya mengaoa kembang api berwarna-warni?

#day5
#16Feb18
#batam
#3y6m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Memilih Rumah dan Lingkungan Yang Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak

Haruskah seorang muslim tinggal di komplek perumahan islami? Tentu. Seorang muslim harus tetap berada dalam lingkungan yang baik, lingkungan yang membuatnya selalu ingat dan bersyukur kepada Allah SWT, lingkungan yang bisa menahan nafsu ketika  seseorang ingin berbuat maksiat kepada Allah SWT.

Jika komplek perumahan tinggal kita tidak bisa membuat bertambah iman dan takwa, untuk apa?

Sejak dua tahun yang lalu, alhamdulillah saya pindah ke rumah yang saat ini saya tempati. Berlokasi di Batam Centre, perumahan yang dihuni oleh mayoritas warga muslim ini sangat nyaman dijadikan sebagai pilihan tempat tinggal. Lokasi yang strategis, dekat dengan fasilitas umum membuat warganya betah tinggal disini. Terdapat dua masjid yang berlokasi di bagian depan dan belakang perumahan. Banyak kegiatan rutin diadakan oleh panitia masjid setiap pekannya, mulai dari liqo sampai kajian ilmiah untuk muslim.

Berbagai macam pilihan sekolah baik formal maupun homeschooling muslim pun ditawarkan di sini. Fasilitas umum seperti ruang publik terbuka, taman serta rumah baca pun ada di sini. Fasilitas olahraga renang, tenis, jogging track pun disediakan bagi pecinta olahraga. Pasar dan swalayan siap melayani segala kebutuhan harian warga. Kurang apa coba?
Sejak pindah kesini saya mulai mengikuti kajian mingguan. Dari sinilah relasi saya mulai berkembang dengan cepat. Dari komunitas homeschooling muslim, saya mulai mengenal beberapa teman yang kemudian memberikan banyak info seminar dan kelas parenting. Kemudian saya juga mengenal komunitas HomeEducation Based on Talent, Hijrah Parenting, Homeschooling Muslim Nusantara dan Institut Ibu Profesional. Cerita selengkapnya…

Baca juga : Mengenal Potensi Diri : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Memilih Lingkungan Rumah

Membeli rumah pertama merupakan salah satu langkah besar bagi keluarga muda, sehingga ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama. Selain pertimbangan atas lokasi dan bangunan, lingkungan pun sepatutnya menjadi faktor utama dalam pemilihan rumah. Lingkungan seperti apakah yang tepat untuk tumbuh kembang anak? Berikut tips memilih rumah dan lingkungan yang tepat untuk tumbuh kembang anak :

1. Perhatikan Kondisi Masyarakat Sekitar

Lingkungan pergaulan akan membentuk sifat anak-anak ke depannya, maka pastikan memilih tempat tinggal dengan lingkungan sosial yang baik. Jika lingkungan tempat tinggal aman dan kondusif, orang tua pun akan lebih tenang membiarkan anak bermain dengan teman-teman di lingkungannya.

2. Pastikan terdapat Area Bermain

Fasilitas umum yang ditawarkan pengembang atau area bermain yang sudah tersedia juga bisa dijadikan salah satu pertimbangan untuk memilih tempat tinggal. Lingkungan dengan banyak area hijau dan area bermain akan mendorong anak untuk bermain di luar, ketimbang bermain game di dalam rumah sepanjang hari.

3. Dekat dengan Fasilitas Pendidikan yang Baik

Sekolah merupakan salah satu faktor penting dalam masa tumbuh kembang anak, maka lingkungan tempat tinggal dengan fasilitas pendidikan yang berkualitas tentu memiiki nilai tambah. Pemilihan sekolah yang berkualitas patut menjadi perhatian para orang tua terutama sekolah yang menonjolkan ilmu agama dan pendidikan karakter islami, bukan hanya nilai akademik semata.

4. Banyak Kegiatan Positif

Komunitas yang solid akan mencetak anak-anak yang berkualitas. Bayangkan kemungkinan Anda mengadakan kegiatan positif di lingkungan, seperti kompetisi olahraga, apresiasi seni, tutorial edukasi atau kegiatan lain yang dapat menyalurkan minat dan bakat anak.

5. Rumah dengan Banyak Ruang untuk Keluarga

Pastikan rumah yang dipilih memadai untuk seluruh anggota keluarga beraktivitas di dalamnya. Bonding antara anak dan orang tua merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak-anak. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di dalam rumah untuk mempererat ikatan keluarga.

#day4
#15Feb18
#batam
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak