Mitos atau Fakta : Anak Homeschooling Cenderung Susah Bersosialisasi

Ini adalah pertanyaan yang sangat sering diajukan kepada para pelaku homeschooling dan tentunya menjadi bahan diskusi kami, para homeschoolers. Bahkan saya dan suami pun belum juga khatam membahas bab ini. Mungkin pertanyaan ini muncul karena adanya awalan ‘home’ itu ya. Banyak orang di luaran mungkin berpikir, anak-anak hs itu belajarnya ya di rumah sepanjang hari, jadi mereka nggak punya kesempatan bermain di luar.

Kunci sukses anak bersosialisasi sebenarnya kan tidak terletak di sekolah atau di mana aja, tetapi terletak pada bonding alias hubungan orang tua dengan anak. Sosialisasi kan bukan sebatas bertemu orang-orang lalu ngobrol atau belajar bersama mereka. Sosialisasi itu mencakup kemampuan beradaptasi, mengenali diri dan orang lain, menghargai, dan lainnya. Anak yang punya kemampuan sosialisasi yang baik adalah anak yang terbangun baik self esteem dan self co fidence-nya. Apa itu self esteem? Yaitu kemampuan seseorang menghargai dirinya. Orang yang punya self esteem yang baik efeknya akan punya kepercayaan diri yang bagus. Kalau anak sudah percaya diri, maka insyaAllah dia akan mudah bersosialisasi dengan orang lain. Betul apa betul?

Banyak juga anak yang bersekolah tetapi tidak punya kemampuan sosialisasi yang baik. Cenderung penyendiri, tidak bisa menyatu dengan teman-temannya, dan lainnya. Sementara, banyak anak homeschooling yang punya kemampuan sosialisasi sangat baik, bahkan berhasil membangun tim kerja yang solid saat berorganisasi.

Self esteem tumbuh baik berkat pengasuhan yang baik. Anak yang tumbuh dalam iklim respek, akan memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya sendiri. Ia merasa dihargai keberadaannya sehingga dapat pula meningkatkan kepercayaan dirinya. Saya pernah melihat orang tua yang memaki anaknya dengan segala sebutan hewan, dan menampar wajah anaknya, karena si anak ketahuan menonton video porno. Kira-kira anak yang diperlakukan seperti itu akan punya konsep diri yang positif nggak, Mak?

Self esteem dan self confidence adalah pondasi kemampuan bersosialisasi, jika ini sudah terbangun dalam diri anak, maka selanjutnya orang tua tinggal memfasilitasi anak mengembangkan kemampuan sosialisasi ini dengan berbagai cara. Berikut ini usaha yang sedang kami jalankan dalam rangka membangun kemampuan sosialisasi anak-anak :

1. Bergabung ke dalam komunitas homeschooling dan rumah belajar. Kegiatan komunitas ini beragam, ya fieldtrip, belajar menggambar mewarna, crafting, kelas memasak, gardening dan lainnya. Kalau anak-anak punya kemampuan merajut, misalnya, mereka bisa bergabung di rumah belajar crafting. Bila ada komunitas homeschooling di sekitar tempat tinggal Mama, maka urusan sosialiasi ini akan cenderung lebih mudah. Setiap keluarga homeschoolers bisa berkumpul sekali atau dua kali seminggu.

2. Membawa anak travelling dan mengajarkannya bagaimana cara bicara pada orang lain. Kalau kami membawa anak-anak ke museum misalnya, kami akan memasukkan kegiatan wawancara sebagai salah satu kegiatan hs. Anak-anak akan mewawancarai fasilitator mengenai segala informasi yang ada di galeri. Selain itu, anak-anak kami biasakan untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, menyampaikan dengan cara yang santun serta belajar mendengarkan ketika orang lain berbicara. Ini membuat mereka tidak canggung untuk berkomunikasi dengan orang lain, meskipun orang yang baru mereka temui.

3. Kami ingin memasukkan anak ke sekolah payung homeschooling. Mudah-mudahan Allah memudahkan impian kami nantinya, ketika tiba masa anak-anak bersekolah suami ditempatkan di kota yang sudah terdapat sekolah payung anak hs atau Sekolah Alam.

4. Bermain dengan anak-anak di lingkungan sekitar setiap hari, juga bagian dari upaya mengembangkan kemampuan sosialisasi.

Disclaimer : hasil diskusi mengenai kegundahan hati suami, setelah melihat kurikulum sekolah anak jaman now yang jauh dari konsep menumbuhkan minat belajar dan bernalar. Kegalauan seorang fasilitator homeeducation yang selalu ingin berjuang agar anak-anaknya terjaga fitrahnya

#day18
#28Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Real Game, Yay or Nay?

Ingatkah mayoritas permainan tradisional Indonesia sangat sehat dan mendidik seperti congklak (strategi, kejujuran, kesabaran, hitungan), “yeye” karet lompat atau karet putar (motorik, konsentrasi, prestasi, euritmik), Mobil-mobilan kulit jeruk (kreativitas, inovasi, non toxic, pemanfaatan limbah, wayang (filosofi, etika moral), main gundu (motorik, fokus, strategi) dan sebagainya. Di jaman yang modern seperti saat ini, pernah nggak sih Mak ngasih anak real game atau permainan nyata seperti mobil-mobilan, alat tukang atau tembak-tembakan? Akan beda loh rasanya kalau mereka dikasih gadget, bukan nggak mungkin anak bakal ketagihan atau bahkan tantrum ketika tidak dituruti kemauannya. Kalau Mama pilih mana? #HijrahParenting #30CeritaHijrah #CeritaHijrah01

A post shared by monique firsty (@monique_firsty) on

Hal yang paling penting dari dunia anak adalah bermain. Semua pembelajaran dan informasi bagi anak akan ia dapatkan melalui bermain. 

Oleh karena itu ketika anak-anak berusia balita hingga masa sekolah dasar ijinkanlah mereka untuk bermain, karena bermain adalah bagian dari fitrah alami seorang anak. Belajarlah sambil bermain, temukan pelajaran melalui permainan. Pilihkanlah permainan yang sehat bagi mereka.

Ingatkah mayoritas permainan tradisional Indonesia sangat sehat dan mendidik seperti congklak (strategi, kejujuran, kesabaran, hitungan), “yeye” karet lompat atau karet Putar (motorik, konsentrasi, prestasi, euritmik), mobil-mobilan kulit jeruk (kreativitas, inovasi, non toxic, pemanfaatan limbah, Wayang (filosofi, etika moral), main gundu (motorik, fokus, strategi) dan sebagainya.

Di jaman yang modern seperti saat ini, pernah nggak sih Mak ngasih anak real game atau permainan nyata seperti mobil-mobilan, alat tukang atau tembak-tembakan?

Nah, kalau diamati saat memainkannya anak nggak ketagihan dengan mainan itu kan?

Akan beda loh rasanya kalau mereka dikasih gadget, bukan nggak mungkin anak bakal ketagihan atau bahkan tantrum kalau tidak dituruti kemauannya.

Menurut sebuah artikel,semua yang menggunakan energi listrik akan ada denyutan stimulusnya. Nah, stimulus tersebut akan ditangkap oleh mata dan neuron, kemudian stimulasi dan sensasi tersebut dihafal otak sehingga ketika kita menangkap suatu yang statis sensasinya pun akan berbeda.

Sensasi itulah yang tidak ditemukan di mainan nyata seperti lego, tembak-tembakan, mobil-mobilan, atau lainnya sehingga mainan nyata tidak menimbulkan adiksi pada anak.

Bentukan lego klasik atau mainan gigo contruction merupakan suatu stimulan yang memiliki kreativitas tanpa batas. Semakin anak diberi ruang untuk menjadi kreatif maka dia akan lebih kreatif dan stimulasi klasik bisa merangsang anak dengan daya imajinasi yang luar biasa.

Baca juga : Bermain Konstruktif bersama Gigo Toys

Ketika ada daya inovasi yang baru dan pengalaman berkreasi maka akan menorehkan warna yang bagus untuk anak dan terus dibawa sepanjang hidupnya. Sebaiknya kita memilih suatu permainan yang berjangka panjang dan mengajarkan kepada anak self regulationnya.

Ketika memilih mainan, selain untuk stimulasi perkembangan anak, sebaiknya kita pilih juga mainan yang bisa mengajarkan anak untuk disiplin. Orang tua juga harus mengawasi dan memberi waktu untuk anak-anaknya mengeksplorasi mainan tersebut.

Permasalahannya bukan lagi di mahalnya mainan, tetapi bagaimana orang tua betul-betul menempatkan mainan anak bukan sekadar mainan tapi juga investasi untuk anak ke depan.

#HijrahParenting
#30CeritaHijrah
#CeritaHijrah01

Bahan Diskusi : Irbadh Memasuki Sensitif Periode

Bagi saya yg punya kerjaan utama membersamai 2 Al, sehari hari pasti tidak akan jauh dari anak-anak 😆 Maka dari itu segala apa yang saya amati kemudian saya sampaikan kepada suami untuk sama-sama kita diskusikan dan kita gali. Karena prioritas kami adalah anak-anak maka bahan diskusinya ya tidak jauh jauh juga dari anak-anak

Jadi ceritanya: saya merasa aneh kenapa bisa ya anak-anak mempunyai keinginan mengulangi suatu kegiatan tanpa henti padahal jelas menurut otak dewasa itu terasa sangat membosankan 😆

Kadang anak anak bisa melakukan adegan membuka dan menutup botol atau memasukkan dan mengeluarkan sedotan dengan konsentrasi yang tinggi, dan dilakukan terus menerus sampai yg lihat bosan dan sampai dia juga merasa bosan sendiri.

Nah setelah ditelisik, ternyata di dalam kegiatan itu ternyata tersimpan misi perkembangan otak anak, di saat yang bersamaan dengan kegiatan mengulang ulang tersebut ada aspek perkembangan yg sedang dia capai. Di dalam metode montessori itu disebut sensitif periode yaitu masa dimana anak mengembangkan kemampuan tertentu dengan sangat kuat, sensitif periode juga dikenal dengan istilah development milestone, window of opportunities, atau chekclist perkembangan anak.

“The child has a creative aptitude, a potential energy that will enable it to build up a mental world from the world about it. He makes numerous acquisitions during the sensitive periods, which put him in relation to the other world in an exceptionally intense manner.”

~The Secret of Childhood by Maria Montessori~

Kenapa fenomena ini menarik sekali untuk dibahas? Karena kebanyakan orang tua terkadang kurang peka akan periode ini, dan membiarkan periode ini hilang tanpa ada tanggapan yang cukup baik. Bahkan juga banyak yang malah memarahi anak sehingga anak merasa trauma. Padahal jika tertangani dengan baik, insyaAllah bisa berdampak lebih besar terhadap perkembangan tumbuh anak.

Singkatnya di momen sensitif periode berlangsung, anak sedang dalam kondisi konsentrasi terhadap suatu hal, keinginan yang kuat untuk menyelesaikan tugas membuatnya bersemangat tehadap kegiatan tersebut dan akan melakukan kegiatan tersebut sampai dirinya merasa puas, dan hal ini juga bisa dijadikan pedoman dasar bagi kita orang tua untuk mengenali kapan saat yg tepat bagi anak untuk siap belajar berkenalan dengan barang-barang tertentu atau belajar hal yang baru.

Sebagai orang tua, tugas kita adalah mengobservasi/mengamati dan menciptakan lingkungan yang mendukung periode sensitif ini. Kita harus jeli dan bersabar karena momen-momen ini tidak akan berulang. Jika sang anak melewatkan masa emasnya, bisa jadi ia akan mengalami hambatan kemampuan di masa yang akan datang.

Dan masih berkaitan dengan sensitif periode, menurut beberapa artikel montessori yang pernah saya baca. Jika sensitif periode ini bisa tertangani dengan baik akan berdampak mengurangi resiko tantrum yang ada pada anak anak. Secara umum bisa dikaitkan bahwa apabila sensitif periode tertangani anak menjadi lebih tenang karena stress yang mereka alami jadi berkurang.

Sensitif periode bagi kita orang tua bisa dimanfaatkan untuk menciptakan lingkungan senyaman mungkin untuk mendukung sensitif periode tersebut dan dari sini saya pribadi belajar bahwa mengajarkan anak sesuatu hal itu tidak perlu dengan pemaksaan, kita boleh mengikuti kemauan dia (sewajar tidak berbahaya dan tidak merugikan orang lain) maka kita bisa sudah belajar banyak hal.

Seperti beberapa hari yg lalu Irbadh yg tidak sengaja menemui laba-laba, bersama dengan Masnya saya coba bacakan buku mengenai laba-laba. Kemudia saya ceritakan mengenai kehidupan seekor laba-laba, bagimana ia mencari makan dan membuat sarang, dengan bahasa sederhana tentunya. Dari situ Irbadh bisa mengingat apa yg saya sampaikan, disana saya selipkan bahwa semua yang ia lihat adalah ciptaan Allah.

Atau saat bertemu dengan kucing yang sedang nenen, kemudian Irbadh mengamati dengan seksama. Saking fokusnya melihat kucing nenen (sampai ia bisa menirukan gerakan kucing kalau lagi nenen) lalu dijelaskan kenapa anak kucing nenen ya? Kucing juga bisa merasa haus, kucing juga butuh kasih sayang, dan ternyata kucing merasa nyaman dengan induknya.

Mengenali Sensitif Periode Anak ternyata Bermanfaat untuk Mengoptimalisasi Pertumbuhannya

Berikut ada klasifikasi usia menurut periode sensitif masing masing anak:

💞Periode sensitif terhadap urutan (18 bulan-2 tahun)

🌻 Ciri-cirinya : keinginan untuk melakukan sesuatu secara konsisten dan berulang-ulang.
🌻 Tugas orang tua : membuat rutinitas yg baik untuk anak anak, kadang rutinas yang berubah bisa mengakibatkan kejadian tantrum pada anak. Misal: Irbadh yg marah kalau dibantu memakai celana sendiri, tapi Mama malah memaksa membantu memakaikan celananya dengan alasan agar cepat selesai tetapi malah berujung dengan tangisan hahaha kalau gini ortunya yang nggak sadar diri yaa. Padahal dengan ia berusaha memakai sendiri dapat menumbuhkan kemandirian dan minat untuk belajar. Atau ketika malam tiba Irbadh akan sibuk mencari sikat giginya dan minta untuk digosok giginya, eh bukan ding ia lebih suka menggosoj giginya sendiri dan Mama hanya sebagai pendamping jika ia memerlukan bantuan 😂

💞Periode sensitif terhadap Bahasa (NB – 6 tahun)
Ciri-ciri

🔰Usia 7bln sampai 2.5-3 tahun adalah masa-masa awal belajar bicara.

🔰Usia 3 tahun, idealnya anak sudah lancar menggunakan kalimat dengan 2-3 kata.
Tugas orang tua :
🌸Bicaralah dengan kalimat yang jelas, kalimat sederhana, dan tidak terburu-buru. Ini PR banget nih buat Mama yang kalau ngomong kadang kebablasan (komprod ayo belajar komprod).
🌸Bacakan buku sesering mungkin, setiap waktu. Berikan ia waktu untuk bicara. Jangan buru-buru memotong kalimatnya saat ia berusaha ngomong. Emang kadang gemes tetapi sesungguhnya anak sedang berpikir keras loh untuk menciptakan satu kalimat. Mama dan Papa harus belajar menjadi good listener.

🔰Usia 3.5-4 tahun, anak tertarik dengan alfabeth.
Tugas orang tua :
Waktunya mengenalkan abjad. Kalau saya sendiri memang belum mengenalkan huruf ke anak sampai ia bertanya sendiri di usia 3,5 tahun. Dulu saat usia Faris, 2 tahun ia hanya sering mengikuti lagu hijaiyah. Baru-baru ini ia tertarik belajar alfabet dari soundnya. Mungkin karena kecerdasan bahasa Faris menonjol ia terlihat jelas suka memainkan kata atau mempelajari istilah baru bahkan bahasa sehari-harinya kadang saya lihat lucu, seperti ketika ia bertanya kepada saya, “wah, apa yang terjadi di sini Ma?” Ketika ia melihat air tergenang di tempat mencuci baju. Rasanya unik sekali anak umur segini bisa ngomong sehari-sehari dengan bahasa baku.

🔰Usia 4.5-5 tahun, anak siap menulis. Siap belajar membaca.
Tugas orang tua:
Ajarkan anak disiplin membaca minimal 20 menit sehari. 20 menit ini akumulatif ya. Jadi boleh dipotong-potong per 5 atau 10 menit atau sesuka anak dan sesuaikan dengan kemampuan konsentrasinya.

💞Periode sensitif terhadap Gerakan (NB- 4 tahun)

🔰usia 0-2.5 tahun
Ciri :anak belajar mengasah kemampuan motorik berupa merangkak, berdiri, berjalan, dan menggunakan kedua tangannya.

Tugas orang tua:
🌸Menciptakan lingkungan yang mendukung motorik kasar.
🌸Menyediakan mainan yang membuat anak belajar memegang, membalik, memasukkan sesuatu, mengambil benda kecil, menyentuh.
🌸Penting juga memberi mainan yang membantu mengembangkan kemampuan tangan, kordinasi mata dan tangan.

🔰 Usia 2.5-4.5 tahun
Ciri: anak mulai mampu menggunakan kedua tangannya untuk kordinasi gerakan yang lebih sulit, memegang benda-benda yang sangat kecil. Anak juga sudah bisa berjalan, berlari, dan seimbang saat melompat sambil membawa segelas air.
Tugas ortu: memperbanyak aktivitas outdoor.

💞Periode sensitif terhadap rasa atau indera (lahir sampai 5 tahun)

💞Periode sensitif terhadap benda-benda kecil [1-3 tahun]

Ciri: anak sangat tertarik dengan benda dan detail yang kecil-kecil.
Tugas orang tua :
🌸Buat area main selevel anak. Ciri areanya adalah kita harus membungkuk atau bahkan berlutut saat harus mengambil sesuatu.
🌸Meletakkan mainan dengan level ketinggian anak akan membuatnya mudah mengamati mainan atau objek yang dia inginkan.
🌸Letakkan mainan atau barang sesuai tempatnya. Kalau tidak, anak akan terdistraksi saat melakukan aktifitasnya. Ingat, distraksi ini akan mengganggu level konsentrasinya.

💞Periode sensitif terhadap eksplorasi, sensori, dan klasifikasi

🔰Usia 2.5-3 tahun
Ciri: menyukai mainan sensori.
Tugas ortu:
Ini adalah saatnya bermain sensori. Bu ibu bapak-bapak nenek kakek jangan larang anak cucunya untuk sedikit berkotor-kotor ria dengan pasir, tanah, tepung. Sesungguhnya, mereka sangat butuh mengeksplor indranya. Bahkan kalau bisa selalu sediakan mainan-mainan yang banyak menstimulasi indra mereka di usia ini. Jangan ragu untuk memberikan mainan play dough, pasir, jelly, slime, batu es, air hangat, atau air yang bertabur glitter beraneka warna. Kenalkan juga berbagai bau-bauan. It’s really fun! Anggap berantakan sesuatu yang wajar, sambil anak diajari merapikan mainan tetunya. Ingat, ketertarikan dia untuk mengenal sensory-sensory baru ini sebentar loh. Jangan sampai nanti bingung saat anak jadi jijikan dan tidak mau mencoba hanya karena kita tidak pernah membantunya mengasah kemampuan terbaiknya. 😊

🔰2.5 sampai 5.5–6 tahun
Saatnya mengenalkan sistem klasifikasi.
Maksudnya, sambil dikenalkan pengalaman sensori, anak juga perlu tahu klasifikasinya seperti panas, dingin, merah, hijau, lembek, lembut, kasar, amis, wangi, dan lain-lain.

💞Periode sensitif terhadap makanan selain ASI (5 sampai 6 bulan)
Masa-masa mengenalkan makanan. Ternyata memang usia anak 6bulan adalah saat yg baik untuk mengenalkan makanan yaa, jd say no to MPASI dini. Faris dan Irbadh memilih menggunakan metode blw. Jadi mulai usia 8 bulan mereka sudah tidak makan bubur lagi melainkan finger food.

💞Periode sensitif terhadap angka (4 sampai 5.5 tahun)
Nah, kurikulum matematika itu baru mulai dikenalkan di usia ini. Jadi kami rasa tidak perlu buru-buru mengajarkan hitung berhitung. Logika anak di bawah usia ini masih belum nyampe. Yang terpenting bagi kami adalah menumbuhkan minat belajarnya dan memahamkan kenapa anak-anak harus belajar angka atau matematika.

💞Sensitive Period for Manners and Courtesies / Periode sensitif terhadap adab dan sopan (2 sampai 6 tahun)

Maksudnya adalah belajar tentang adab. Sebenarnya hal ini bertahap sejak anak tersebut lahir.
0–3 tahun: adab ini diajarkan oleh orang tua dengan cara MENCONTOHKAN.
3–6 tahun: diajarkan di kelas montessori.
Tapi karena Faris lebih suka belajar di rumah maka kami berencana meng-homeschoolingkan Faris selama usia dini, jadilah adab ini kami yang tangani sepenuhnya. 
Selama usia 2–6 tahun, kami usahakan belajar bersama tentang adab dalam islam (salah satu sumbernya kita adabul mufrad). Kenapa belajar bersama? Karena prinsip homeschooling di rumah kami, semua adalah guru dan murid. Target kami, usia 7 tahun anak sudah mampu menerapkan adab tersebut.

Nah dari ke 7 klasifikasi sensitif periode ini kita bisa belajar banyak, yang saya pahami setelah mempelajari tentang sensitif periode ini saya lbh nggak baper ketika Irbadh lagi ngacak-ngacak beras, buka tutup pintu sampe pintu bunyi kriyek kriyek, suka jatuhin barang terus dengn lempengnya bilang “jatuh” padahal jelas banget kalau ia sengaja, buku tutup buku sampe lecek, naik turun kursi sambil melempar barang-barang dan berkata “buang sampah” dan banyak aktifitas yang Irbadh lakuin selain emang sedang dalam masa sensitif periodenya, juga karena menguji kesabaran mamaknya 😆

Jadi, ketika menjalani sensitif periode ini setidaknya Mama harus ikhlas dan berbesar hati karena banyak kejutan setiap harinya 😆

Referensi :
[1] Buku Metode Montessori Panduan Wajib untuk Guru, dan orang tua didik Pud (Pendidikan Anak Usia Dini), Maria Montessori.
[2] Buku Montessori Play & Learn, Optimalkan Potensi Anak dengan Permainan (2-6tahun),Lesney Britton.
[3]http://ageofmontessori.org/sensitive-periods-in-development/
[4]http://www.dailymontessori.com/sensitive-periods/montessori-sensitive-periods/

#day17
#28Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

4 Trik Menghadapi Batita Yang Suka Menuang, Mengobok dan Melempar Gelas Berisi Air

Jika Mama memiliki anak usia 1-3 tahun, mungkin Mama pernah atau bahkan sering dibuat kesal karena bayi kecil yang sudah beranjak besar ini sedang senang-senangnya menumpahkan sesuatu, seperti minyak telon, minyak tawon, baby oil, sabun mandi, bedak dan sebagainya. Toss dulu atuh sama saya 😂 Menumpahkan segala sesuatu adalah “hobi” bagi bocah berusia tiga tahun ke bawah (batita).

Sebenarnya kenapa sih anak suka menumpahkan isi botol? Aktivitas ini sebenarnya terkait dengan tahap perkembangan kognisi, emosi dan motorik anak. Itulah mengapa orang tua harus beredia memahami dulu alasan si anak batita ini melakukan hal tersebut agar bisa memberi arahan secara tepat. (Siapkan stok sabar tiada tara, tahan lisan agar tidak marah-marah nggak penting)

🚼Belum Memahami Fungsi Benda yang Ada di Sekitarnya

Anak seusia Irbadh, umumnya belum memahami fungsi benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk minyak telon, bedak tabur, sabun mandi atau bahkan air minumnya. Contohnya, fungsi minyak telon adalah untuk menghangatkan badan. Ketidaktahuan tentang fungsi masing-masing benda inilah yang antara lain mendorong anak untuk mengobok, menuang atau menumpah-numpahkan isi botol.

🚼Senang Berekplorasi

Alasan lainnya, anak usia ini sedang dalam masa rajin-rajinnya berekplorasi terhadap hal-hal baru. Saat membuka botol dan membalikkannya, ia menemukan ada yang mengalir atau menetes dari botol itu, dan hal ini membuatnya heran dan tertarik. Ketertarikan itulah yang membuatnya melakukan hal yang sama secara berulang. Ketika isinya tumpah di lantai, rasanya bahagia sekali karena ia punya objek eksplorasi baru, entah hanya dengan sekedar mengamati, menyentuh, atau malah mengaduk-aduknya. Semakin banyak cairan yang tumpah, anak akan kian tertantang untuk memain-mainkan tumpahan ini. Yeayy 😅

Kemampuan Motorik yang Berkembang

Kegiatan menumpah-numpahkan cairan dari botol tentu tak bisa dilepaskan dengan kemampuan motorik anak yang berkembang lebih baik dari tahapan usia sebelumnya. Kemampuan motorik yang mengalami peningkatan pesat ini bisa dilihat dari senangnya anak usia batita mengangkat-angkat atau menggoyang-goyangkan tangan, maupun jarinya. Mirip dengan kesenangan anak saat berjalan bolak balik ketika kemampuan berjalannya mulai dirasakan semakin baik.

Kemungkinan lain, berdasarkan hasil eksplorasinya anak seumura Irbadh menemukan hal-hal baru yang menarik seperti makanan yang tercecer, suara denting sendok yang dijatuhkan ke lantai, atau bahkan respons “heboh” dari orang tua atau pengasuhnya.

🚼Sering Mengulang-ulang

Pada umumnya, anak-anak di usia ini juga senang sekali mengulang-ulang perilaku tertentu. Misalnya, ketika mengocok atau mengguncang-guncang wadah bedak dan tanpa sengaja ada yang tumpah, anak-anak pasti akan senang kemudian tertarik untuk mengulang-ulang aktifitas tadi. Jadi kebiasaan ini bermula dari ketidaksengajaan yang kemudian jadi kegiatan yang menyenangkan.

🚼Ingin Bermain

Bosan dengan aktifitas yang itu-itu saja setiap hari, membuat anak tergerak mencari alternatif permainan lain. Nah, ketika ia tahu bahwa menumpahkan isi botol adalah kegiatan yang mengasyikan, maka ia ingin melakukan dan melakukannya lagi. Sabar yah, Moms 😅

🚼Mencari Perhatian

Banyak hal yang akan dilakukan oleh anak- anak demi mencari perhatian orang tua. Perilaku yang tidak disangka-sangka oleh kami belakangan ini adalah kebiasaan Irbadh yang hobi sekali menumpahkan isi gelas atau botol apapun, mungkin juga ini merupakan bentuk mencari perhatian. Biasanya Irbadh mencari perhatian jika saya sedang asyik memasak, memegang gadget, membaca buku atau melakukan kegiatan lain yang membuat anak merasa terabaikan.

Sementara respon yang saya perlihatkan ketika ia memulai aksi menuang atau mengobok air adalah “heboh” dengan berteriak atau pasang mimik kesal. Faktanya, ternyata keadaan tersebut malah membuat anak merasa ditanggapi hingga ia makin tertarik untuk melakukannya setiap kali minta diperhatikan.

🚼Belajar Bertanggung Jawab

Terkait dengan proses perkembangan anak usia batita, perilaku menumpah-numpahkan sebetulnya merupakan tindakan wajar. Akan tetapi bagi kami, sebagai orang tua tetap merasa harus mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, walau mungkin mayoritas anak batita masih sulit memahaminya, namun setidaknya ia sudah mendapat sinyal sedini mungkin mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Anak jadi tahu kalau air dalam gelas, minyak telon, bedak dan sejenisnya bukan benda yang boleh ditumpah-tumpahkan begitu saja, melainkan harus digunakan sesuai fungsinya.

Beberapa hal berikut merupakan usaha kami saat mengarahkan anak agar apa yang kami sampaikan dapat diterima anak dengan baik.

1⃣ Keep Calm

Tetaplah bersikap manis saat menjelaskan kenapa tidak boleh menumpah-numpahkan sesuatu. Contohnya dengan mengatakan, “Wah, ada yang numpahin air ya? Coba lihat lantainya jadi licin kan, Nak? Irbadh nanti kalau terpeleset gimana?” Dengan menyingkirkan rasa jengkel atau kesal menghadapi ulah anak-anak justru akan memudahkan anak memahami apa yang kita inginkan. Namun, mengingat kemampuannya untuk memahami masih amat terbatas, jangan terlalu berharap arahan kita langsung dipahami dan dipatuhi. Apalahi di usia ini dia sedang ingin bereksplorasi terhadap banyak hal.

2⃣ Tidak Mudah Terpancing Emosi

Kebanyakan orang tua langsung terpancing emosinya dengan berteriak sekencang mungkin atau bahkan meledak ledak saat melihat anak menumpahkan sesuatu. Sikap itu kurang tepat, karena ternyata malah bisa membuat anak jadi ketakutan. Sebaiknya jika anak dinasehati dengan lemah lembut ia tidak akan menjadi pribadi yang brutal dan gemar marah-marah. Yang perlu diingat adalah bahwa perilaku si batita bukanlah tindakan yang salah. Ia hanya berlaku sesuai proses pertumbuhannya. Pemahaman ini akan sangat membantu orang tua untuk tidak bersikap emosional.

3⃣ Harus Konsisten

Dalam hal apapun, termasuk mengarahkan anak, orang tua harus bersikap konsiisten. Dengan demikian anak akan terus menerus terarahkan hingga diharapkan akan muncul kebiasaan baru yang sesuai dengan arahan orang tua. Sebaliknya, hindari inkonsistensi, misalnya hari ini dilarang tapi besok dibolehkan. Ketidakpastian sikap ini justru hanya akan membuat si anak bingung mana yang sebenarnya boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Alih-alih ia menuruti arahan orang tua, Irbadh justru berpeluang besar bersikap semaunya.

4⃣ Ajak Anak Untuk Ikut Bertanggung Jawab

Agar arahan dari orang tua bisa efektif, anak harus diajak ikut bertanggung jawab membersihkan apa yang ia tumpahkan. “Wah, kok ditumpahin airnya, lantainya jadi licin kan? Ayo sekarang ambil lap, dipel yah biar nggak licin.”

Pembiasaan seperti ini akan membuat anak semakin sadar hingga di lain waktu tidak akan menumpah-numpahkan apapun. Di samping itu, dengan melibatkan anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, anak justru memiliki pengalaman baru yang tidak kalah mengasyikkan, yakni membersihkan lantai.

Jadi stay calm yah, Mom dan berikan pengertian agar mereka tidak melakukan perbuatan menumpah lagi.

#day14
#25Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Trending Topic : Anak Kami Ternyata Punya Kecerdasan Visualis Spasial

Memiliki  anak yang cerdas adalah impian semua orang tua, bahkan di luar sana banyak orang tua yang memberikan makanan terbaik dan susu terbaik  agar anak-anak mereka bisa cerdas dibandingkan anak lainnya. Kecerdasan pada anak satu sama lain berbeda sehingga saya dan suami tidak bisa menyamakan kedua anak kami meskipun mereka kakak beradik.

Ada beberapa anak yang memang berbeda dari anak lainnya, dan kami merasa Faris salah satunya. Ia unik dan berbeda karena ia termasuk anak yang bisa menghafal beberapa jalan yang sering kami lewati. MasyaAllah tabarakallah 😇

Iya! Faris sejak umur dua tahun sudah menampakan kecerdasan visualnya. Ia hafal jalan-jalan yang sering dilewati bersama kami, orang tuanya. Selain itu Faris juga hafal dengan beberapa jalan  menuju tempat wisata favorit  bersama kami, orang tuanya. Di umurnya yang masih dua tahun, ia sudah fasih menghafal jalan menuju rumah dan kantor Papanya. Faris memang berbeda bahkan tidak banyak anak yang bisa menghafal tempat yang pernah ia kunjungi.

Anak yang mudah menghafal beberapa jalan baik ke rumahnya, jalan ketika akan ke tempat favoritnya maupun jalan-jalan lainnya adalah mereka yang memiliki kecerdasan visual-spasial.

Kecerdasan ini sangatlah baik bila dikembangkan terutama jika kita bisa  memandunya agar mereka semakin terasah. Kecerdasan visual adalah satu dari beberapa kecerdasan lainnya pada anak. Kecerdasan ini dikembangkan oleh seorang profesor bernama Gardner. Pengembangan tentang teori kecerdasan visual-spasial pada anak yang bisa menghafal beberapa jalan tersebut ini dikembangkan untuk mendongkrak  beberapa pandangan yang dianggap klasik seputar kecerdasan tersebut.

Memang 1 berbanding 10  anak yang memiliki kecerdasan visual tersebut namun sejak dini anak pun bisa diarahkan agar bisa memiliki kecerdasan tersebut. Kecerdasan yang dimiliki anak tidak hanya kecerdasan tentang beberapa teori yang bisa dipelajari seperti halnya matematika, fisika maupun ilmu lainnya. 

Kecerdasan yang dimiliki anak-anak antara lain meliputi kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak atau tubuh, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan ilmu alam, maupun logika.  Nah, yang paling sulit ditemukan adalah kecerdasan visual-spasial yang ada pada diri anak-anak terutama mereka  yang masih balita. Bila anak anda masih berusia dibawah lima tahun dan bisa menghafal beberapa jalan yang ada di sekitarnya bahkan beberapa jalan yang baru pertama kali mereka lewati, anak tersebut memang benar memiliki kecerdasan visual-spasial.

Kecerdasan visual-spasial pada anak merupakan kemampuan untuk berpikir, memahami dan memproses suatu dalam bentuk visual. Apa yang mereka lihat akan dipikirkan dalam beberapa tahapan baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Mereka akan memahami beberapa tata letak, bentuk dan arah  suatu jalan yang pernah mereka lewati. Yang menjadi hal mengejutkan lagi, sekali mereka  melewati jalan mereka langsung bisa menunjukkan arah jalan tersebut ketika melewatinya  untuk yang kedua kalinya. 

Saya terheran-heran, di usianya yang ketiga tahun Faris sudah mampu memetakan arah. Ceritanya suatu hari, kami bersama adiknya, Irbadh sedang bepergian ke rumah salah seorang sahabat saya, Mbak Unna, ketua Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Batam. Ini pengalaman pertama kali kami masuk dan berkunjung ke rumahnya. Berangkat dari rumah, kami naik taxi online dan masuk lewat gerbang utama di depan perumahan Sukajadi. Tetapi ketika pulangnya ternyata kami dilewatkan gerbang belakang perumahan oleh sopir taxinya. Usut punya usut ternyata cluster rumah Mbak Unna berada di ujung belakang jadilah kami keluar lewat gerbang belakang.

Saya yang tidak menyetir sendiri dan belum hafal dengan lokasi dan cluster di perumahan Sukajadi tidak menyadari hal tersebut.

Tetapi lain lagi ceritanya dengan Faris, ketika sopir mengantarkan kami keluar perumahan lewat gerbang belakang, dengan spontan ia bertanya “Kok lewat sini, Ma? Jalannya beda ya sama yang tadi waktu berangkat?”

Sambil panik dan tengok kiri kanan barulah saya menyadari kalau ternyata kami lewat jalan yang berbeda. Om sopir pun sambil tertawa renyah menjawab ocehan Faris,”Iya, dek. Ini om lewat gerbang belakang perumahan biar cepat sampai rumah.”

Sepanjang perjalanan pulang saya merasa anak ini sangat unik dan spesial. Kenapa? Baru juga sekali Faris melewati jalan itu ia sudah hafal, harus saya catat nih hasil pengamatan hari ini janji saya di dalam hati.

Ahh…. sebagai fasilitator yang membersamai anak selama 24 jam non stop, ketika melihat keunikan diri anak rasanya seperti menemukan harta karun.

Didalam pikiran Faris nampaknya berisi banyak gambaran tentang  tempat yang pernah ia singgahi demikian juga dengan jalan yang pernah ia lewati.  Ia pun mengingat pula beberapa tempat yang  dekat dengan jalan tersebut.

Indikator Kecerdasan Visual-Spasial

Anak yang memiliki kecerdasan  visual-spasial, mereka anak lebih mudah mengenali tempat-tempat yang ada disekitar jalan yang sering mereka lewati. Anak tersebut minimal bisa mengenali beberapa bentuk bangunan atau tempat seperti halnya kotak, lonjong  maupun lingkaran. Selain itu anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial juga bisa mengenali warna dengan mudah dan  bisa membedakan arah kanan maupun kiri. Di usianya yang kedua, Faris sudah fasih mengenal bentuk dan warna melalui flashcardnya. Padahal Mama tidak pernah memberikan target macam-macam kepadanya. Mama hanya mengenalkan berbagai macam pengetahuan melalui media buku, flashcard atau video edukatif jika ia ingin memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya.

Baca juga : Belajar Konstruksif dengan Gigo Toys

Banyak indikator yang bisa kita lihat dari anak yang memiliki kecerdasan visual tersebut. Berikut beberapa indikator anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial:

1⃣ Anak mampu menghafal arah  dan nama jalan.

Hal yang sangat luar biasa bila balita mampu menghafal arah dan nama jalan yang sering mereka lewati. Belum terlambatlah kami menyadari bahwa ternyata anak kami, Faris, memiliki kecerdasan yang berbeda dari teman  sebaya. Beberapa orang tua mungkin menganggap hal ini hanya sepele padahal mereka memiliki kelebihan yang sangat istimewa yang harus kita dukung dan asah. Yuk, amati dan kenali lebih dalam anak-anak kita 😊

2⃣ Anak Mampu Menghafal Denah Rumah

Sekalipun anak-anak sering menghabiskan waktunya dirumah, namun tidak banyak diantara mereka yang  mampu menghafal denah rumahnya sendiri.  Hanya beberapa anak saja  yang mampu menghafal denah rumahnya sendiri. Bila anak kita mampu menghafal letak kamarnya, letak dapur, kamar mandi dan beberapa tempat yang ada di rumah, maka mereka bisa digolongkan memiliki kecerdasan visual-spasial.

3⃣ Anak Mampu Menggambar dengan Benar

Anak  yang memiliki kecerdasan ini akan  bisa menggambar sesuatu yang mereka lihat dengan jelas. Bahkan baru-baru ini saya terkagum-kagum ketika Faris mulai bisa menggambar dalam bentuk dimensi lain. Seperti ketika Faris menggambar daun, ia akan menggambar dalam bentuk dua dimensi atau mungkin seiring pertambahan umurnya ia bisa menggambar  dalam bentuk tiga dimensi. Atau mungkin ketika Faris yang belum pernah melihat keong dari atas, namun tanpa saya sadari ia bisa menggambarkannya.

4⃣ Membuat Beberapa Bangunan dalam Media yang Berbeda

Kemampuan anak yang bisa membuat beberapa benda yang ada di sekitarnya dalam bentuk media yang lain, seperti halnya lilin atau balok bisa dikatagorikan Faris adalah anak yang memiliki kemampuan visual. Selain bisa menggambar anak yang memiliki kecerdasan visual juga bisa membuat beberapa bangunan atau benda dengan media lainnya, seperti lego putar, uno stacko, gigo contruction dan lain-lain.

5⃣ Anak Senang Bermain Puzzle

Kecerdasan visual-spasial pada anak akan semakin terasah ketika mereka senang bermain puzzle. Dengan berimajinasi beberapa bentuk kepingan puzzle dan membentuknya menjadi benda yang berbeda, mereka akan semakin terasah untuk lebih berkreasi.

 

Beberapa indikator tersebut ternyata bisa kita amati pada anak sejak usia mereka diatas 2 tahun. Apakah beberapa indikator tersebut ada pada diri anak anda, Moms? Bila anak anda memiliki beberapa indikator tersebut maka beruntunglah anda karena memiliki buah hati yang cerdas, insyaAllah😇.

Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial  lebih peka terhadap gejala alam dan akan mengamatinya  secara detail hingga mereka paham. Inilah yang saya alami sekarang, pertanyaan Faris kebanyakan berkaitan dengan alam. Seperti air itu berasal darimana? Kenapa kok daun warnanya hijau? Atau kenapa kok awan bisa jalan? Menurut beberapa buku yang saya baca, kelak anak yang memiliki kemampuan tersebut sangat cocok menjadi seorang Insinyur, surveyor, arsitek, chef, perencana kota, desainer grafis, desainer interior, arsitek, fotografer, guru kesenian, penemu, pakar meteorologi, kartunis, illustrator, pilot, seniman seni murni, pematung. Apapun cita-cita anak harus kita support ya, Moms. Yang terpenting adalah anak bahagia menjalani peran yang dipilihnya nanti.

Untuk  mengasah kemampuan  anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial tersebut, kita bisa menstimulasinya sejak dini. Berikut beberapa cara untuk menstimulasi  kecerdasan visual-spasial yang coba kami terapkan antara lain :

 

1⃣ Mengenalkan Beberapa Nama Bangunan dan Warna kepada Anak-Anak

Anak yang memiliki visual-spasial, sebaiknya diasah kemampuannya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah  dengan mengenalkan beberapa warna dan bentuk bangunan yang sering mereka lihat.  Saya dan suami biasa mengajak mereka jalan-jalan dan mengenalkan nama bangunan sekaligus warnanya. Secara perlahan anak akan mudah menghafal beberapa jenis bangunan sekaligus mampu membedakan warna satu dengan  warna lainnya.

2⃣ Bantu Anak Merakit Sesuatu

Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial, mereka akan senang bila membangun atau merakit sesuatu. Mama bisa memberikan mereka mainan dan biarkan mereka merakit sendiri, ketika mereka benar-benar kesulitan dalam merakitnya barulah anda membantu dan mengarahkannya.

3⃣Pengenalan Arah pada Anak

Anak yang mudah menghafal jalan, lama kelamaan mereka akan mudah menghafal arah, kiri dan kanan, depan dan belakang. Kenalkan arah dengan cara mengajak anak jalan-jalan atau bersepeda. Lama kelamaan mereka akan mudah untuk menghafal mana sisi kanan, sisi kiri, depan dan belakang.

4⃣ Berikan Permainan yang Menantang

Anak-anak akan semakin terasah kecerdasan visual-spasialnya dengan cara memberikan  permainan yang menantang  seperti permainan harta karun. Jenis permainan ini cukup baik untuk stimulasi kemampuan mereka dengan cepat.

Referensi :

[1] Buku Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk Teori dalam Praktek), Howard Gardner.
[2] Mengajar dengan Metode Kecerdasan Majemuk (Implementasi Multiple Intelligence), Julia Jasmine, MA.

#day13
#24Feb18
#batam
#SinergiAsadanRasa #KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Quality Time dengan Memasak Bersama Keluarga

Sesekali perlu juga mengajak suami dan anak-anak bersantai bersama sambil menikmati hidangan hasil memasak bersama seluruh anggota keluarga.

Melatih motorik halus, indera penciuman dan perasa, serta mengasah ingatan adalah beberapa manfaat kegiatan memasak bagi anak balita.

Belajar memasak bagi anak-anak merupakan kegiatan menyenangkan, menarik dan menantang. Mungkin bagi sebagian orang tua menganggap kegiatan memasak bukan untuk anak-anak. Padahal asalkan orang tua mengawasi dan merencanakan kegiatan ini dengan cermat, berbagai macam hal dapat dipelajari balita di dapur loh.

Saya dan suami sangat senang mengajak anak-anak bereksplorasi di dapur. Dalam sepekan kami bisa dua sampai tiga kali cooking class di rumah. Saya biasa mencari beragam resep memasak dari internet atau di berbagai situs seputar perkembangan anak dan keluarga. Kadang saya juga dapat ide dari buku khusus memasak dengan balita yang tersedia di berbagai toko buku. Sebelum memulai cooking class saya biasakan untuk berdiskusi terlebih dahulu dengan anggota keluarga, kira-kira apa makanan favorit yang akan kita buat.

Memilih Menu

Memilih sendiri jenis makanan yang akan dibuat, artinya saya sedang mengajarkan kepada anak tentang otorita. Ya, meski sebatas menentukan jenis makanan dan saya tetap ikut menentukan pilihan akhirnya, paling tidak anak sadar bahwa pendapatnya dihargai.

Ketika anak memilih dorayaki sebagai eksperimen menu hari ini maka saya akan meminta mereka membantu mengocok gula dan telur menggunakan mixer. Tentu saja semuanya berada di bawah supervisi saya. Jangan lupa sediakan undak-undakan atau bangku kecil yang kokoh sebagai tempat anak berdiri agar ia memiliki ketinggian cukup saat memasak, mak.

Anak-anak secara langsung dan tidak langsung belajar proses dan sistematika membuat sebuah makanan, melalui keterlibatan mereka di dapur. Berdasarkan artikel yang pernah saya baca, anak-anak usia di bawah 4 tahun, sebaiknya jangan dulu dilibatkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan kompor dan peralatan tajam. Sedangkan Faris yang sebentar lagi berusia 4 tahun, pengalaman dan pengetahuannya cukup membentengi dan melindunginya dari cedera. Bahkan ia sudah terbiasa ikut saya ke dapur sejak usianya masih satu tahun hihi

Melalui kegiatan ini rasanya saya bisa bersinergi baik bersama suami maupun anak-anak. Kami membiasakan diri untuk saling berbagi dan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita melalui berbagai kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama.

Biasanya kami berbagi tugas sambil melatih kemandirian anak-anak, kali ini Faris memarut keju sebagai pelengkap. Si anak yang usianya beranjak 4 tahun ini telah terlatih motorik halus serta kendali gerak tangannya jadi ia dapat memarut keju dengan baik tanpa terluka.

Berbagi tugas sungguh membuat anak-anak mempunyai pengalaman yang berbeda. Melalui kegiatan ini, anak dapat menikmati hasil karya bersama. Setelah semua selesai, langkah terakhir adalah menyajikan makanannya.

Anak-anak biasanya saya ajak menyiapkan peralatan makan dan menyajikan makanan. Dengan memperlihatkan proses membuat sebuah makanan kepada anak niscaya akan membuat mereka menyadari betapa memasak itu bukan tugas sederhana. Anak-anak juga mulai bisa menghargai usaha Mama dan Papanya saat membuat makanan untuk mereka setiap hari.

Berikut ini resep kue Dorayaki yang kami eksekusi hari ini.

🍪 Resep Dorayaki 🍪
(modifikasi dari kelas baking with Hijrah Parenting)

Bahan-bahan :

✅ 2 butir telur
✅ 130 gr tepung terigu (tepung ladang lima)
✅ 90 gr gula pasir (kami pakai 80 gr)
✅ Sedikit vanili (kami tidak pakai)
✅ 1/2 sdt baking soda (kami tidak pakai)
✅ 2 sdm susu bubuk instan saya larutkan dengan 75cc air (kami pakai susu uht plain 110ml)
✅ 1 sdm mentega

Pelengkap penyajian :

🔅Pisang, potong-potong
🔅Selai Coklat
🔅Keju
🔅Madu
(tergantung selera)

Cara Membuat :

*⃣ Kocok telur bersama gula menggunakan mixer dengan kecepatan paling tinggi, masukkan susu, aduk rata.

*⃣ Masukkan tepung, aduk balik dengan spatula hingga rata dan tidak ada gumpalan tepung.

*⃣ Masukkan mentega. Aduk rata sebentar saja.

*⃣ Masukkan adonan ke dalam kulkas.

*⃣ Panaskan wajan datar anti lengket, tuang satu sendok sayur adonan. Setelah bagian tepi-tepinya mulai mengeras dan bagian bawahnya berwarna kecoklatan, balikkan. Masak lagi hingga matang. Angkat.

*⃣ Lakukan hingga adonan habis.

*⃣ Sajikan dengan potongan pisang dan madu. Yang suka coklat/keju/selai buah boleh kasih topping di atas atau di dalamnya. Enak juga disantap dengan es krim.

Manfaat Belajar Memasak bersama Anggota Keluarga

Memasak bersama anggota keluarga memang banyak manfaatnya tidak hanya bagi anak-anak tetapi buat kami kedua orang tuanya. Lewat memasak, anak punya pengalaman belajar macam-macam. Berikut di antaranya:

🍽️ Anak belajar banyak hal. Memasak merupakan cara sederhana (dan menyenangkan) bagi anak untuk belajar membaca, berhitung, maupun sains. Di sini, anak akan belajar membaca resep, menghitung takaran, dan bahan-bahan makanan yang akan diolah. Selain itu, anak akan belajar tentang nutrisi dan makanan yang sehat.

🍽️ Mempererat bonding dan mendorong terjadinya komunikasi intens antar anggota keluarga selama memasak bersama.

🍽️ Anak jadi bersemangat makan karena ia ikut menyiapkan, dan keluarga juga ikut menikmati makanan sehat yang dimasak dengan gembira.

🍽️ Membangun rasa percaya diri. Ketika semua orang makan dengan lahap dan papa mama memuji lezatnya masakan yang terhidang, anak pun akan ikut bangga.

🍽️ Mendorong kemampuan bekerja sama dalam tim. Saat memasak, lakukan pembagian tugas dan berikan tanggung jawab pada masing-masing anggota keluarga untuk melakukan tugas tertentu. Misalnya, Faris mengocok adonan, Irbad menuang tepung, Papa mengoven adonan. Ini akan membuatnya merasa sangat penting. Sesudah semuanya selesai, ia belajar bahwa pekerjaan akan lebih cepat selesai dan hasilnya pun akan jauh memuaskan bila dikerjakan bersama-sama.

🍽️ Mengembangkan kemampuan motorik dan mengasah kepekaan indra anak-anak, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Semuanya bekerja sama untuk menghasilkan cita rasa makanan yang lezat dan menarik, sehingga mampu menggugah selera seluruh anggota keluarga.

#day12
#23Feb18
#batam
#SinergiAsadanRasa #KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

5 Kegiatan Sederhana Dalam Melatih Kemandirian Anak Usia Dini

Kemandirian dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana yang bisa diaplikasikan dalam rutinitas keseharian, konsep tersebut akan mudah dicerna oleh anak.

 

Pastinya, proses mengenalkan hingga melatih kemandirian memerlukan kerjasama dari kedua belah pihak. Baik pihak orang tua maupun sang anak.

Seiring perkembangan kemampuan yang dimiliki, tak sedikit juga akan menemui tantangan di tengah jalan. Tetap tenang dan konsisten adalah salah satu kuncinya.

Kedua hal tersebut kami temukan dan pelajari akhir-akhir ini. Mengajarkan kemandirian kepada Irbadh, anak kedua yang keras kemauannya bagi kami tantangannya justru ketika dia tidak mau diarahkan dan tidak seratus persen percaya pada apa yang kami sampaikan.

Semisal, mengajarinya untuk bisa makan dan minum sendiri. Maunya saya melatihnya secara bertahap sejak Irbadh menunjukkan minatnya untuk memainkan piring dan sendok di usia 8 bulan. Tetapi rupanya dia justru meminta diberikan kepercayaan untuk makan sendiri sejak usia 9 bulan. Baiklah kami fasilitasi dan sudah bisa diprediksi konsekuensinya saya harus lebih intens membersihkan rumah dengan mengepel lantai sejumlah berapa kali anak-anak makan..😂

Tiga bulan berselang, atau saat Irbadh berusia 12 bulan, dia sudah bisa mandiri makan sendiri, meski masih ada makanan yang tumpah. Namun, dengan kuantitas yang lebih sedikit.

Tantangan datang manakala menginjak usia 16 bulan, dimana kemampuan komunikasinya menjadi lebih baik.

Maka terjadilah proses negosiasi yang cukup alot saat memintanya untuk duduk di kursi dan mau makan dengan baik.

Realitanya Irbadh tetap makan sambil bermain, terkadang makan di atas sepeda atau bahkan saya menemuinya makan di dalam lemari baju karena ia sedang ngumpet disana.

Selamat
Semakin menantang bukan? Haha.

Nah, hal sederhana apa yang mampu melatih kemandirian anak usia dini?

1. Makan dan minum

Menyiapkan anak untuk bisa mandiri saat makan dan minum berarti menyiapkan diri untuk menghadapi segala kerepotan yang nampak di depan mata.

Setiap kali menemani Irbadh makan, saya harus menyiapkan 2 porsi makanan dan minuman. Satu untuk cadangan, sedangkan satu untuk (belajar) makan Irbadh.

Porsi untuk Irbadh sudah bisa ditebak tentu saja mayoritas berakhir dengan lantai dihiasi tumpahan, lengkap beserta alat makan yang ikut terlempar di bawah kursi makannya.

Insiden tersebut akan berangsur-angsur mereda bilamana keterampilan mengkoordinasikan tangan mulai bisa dikuasai dengan baik.

Di samping itu, proses eksplorasi akan tetap berjalan selama anak menunjukkan minat terhadap menu makannya. Alangkah baiknya berjaga-jaga dengan meletakkan alas di bawah kursi makan.

Percaya atau tidak, justru hal ini merupakan penanda baik bagi kami. Artinya sudah banyak kemajuan yang berarti bagi kemandirian anak.

Jika Irbadh sangat tertarik dengan makanan di hadapannya, tentu dia antusias mengacak-acaknya, dan ujung-ujungnya seringkali menunya habis dilahap.

Lain ceritanya saat wajahnya datar melihat piring di depannya, bisa-bisa hanya mau beberapa suap saja. Atau dicemilin yang dia suka saja.

2. Mengisi gelas air minum

Beberapa bulan sebelum menginjak usia 2 tahun, Faris telah memiliki kepercayaan diri untuk mengisi gelas minumnya sendiri.

“Mama, Faris mau minum. ” sambil mengambil gelas minumnya.

Itu merupakan sebuah sinyal bahwa Faris akan berjalan sendiri ke dapur, meletakkan gelasnya di meja, lalu sekuat tenaga mengambil tumblr yang ada.

Segala usahanya kadang hanya mampu mengisi setengah isi gelas, kemudian memanggil Papa atau Mamanya meminta bantuan. Itu kabar baiknya, kabar buruknya kalau terdengar terikan “Mama tumpah!”, itu artinya dia kepenuhan mengisi gelasnya.

Airnya luber dan meluncur bebas ke lantai? Atau gelasnya jatuh ke lantai dan harus dicuci beberapa kali? Ah, itu sudah biasa, tidak apa-apa! Namanya juga belajar. Haha.

3. Membereskan mainan sendiri

Mengingat keseharian lebih banyak dihiasi dengan aktivitas fisik dan mengeksplorasi hal apapun di sekelilingnya, sebagai orang tua saya harus berlapang dada bahwa kondisi rumah akan jauh dari kata “rapi”.

Tak peduli berapa kali saya harus membereskan mainan maupun barang yang tergeletak dan berserakan di lantai, setiap kali selesai menatanya, beberapa saat kemudian pasti akan diacak-acak lagi oleh anak-anak

Ya sudah, nyerah deh! Kalau tidak berantakan, kita tidak mungkin bisa belajar banyak hal kan, nak? Haha.

Untuk mengatasinya maka kami siasati dengan proses negosiasi. Anak-anak boleh main apapun selama tak membahayakan, namun segera setelahnya harus ikut ambil bagian dalam sesi beres-beres.

Tentu, mereka berdua akan saling bahu membahu membereskan mainannya. Tetapi saya harus lebih memberikan apreasiasi kepada Faris karena dia harus lebih bersabar atas tingkah laku adiknya yang masih suka menebar mainan dimana mana termasuk menuang kembali box yang baru saja mereka bereskan bersama.

4. Melepaskan dan memakai celana

pakai celana sendiri sampai dua lapis

Setelah melalui perjalanan panjang melatih Irbadh untuk toilet training akhirnya saya menyatakan ia sudah lulus toilet training meskipun terkadang sekali dua kali ngompol kalau lagi kedinginan haha.

Sembari bersama-sama meluangkan waktu dan tenaga demi keberhasilan toilet training, tanpa instruksi rupanya ia menunjukkan kesiapan dan minat untuk belajar melepas dan memakai celananya sendiri.

baca juga : Cerita Toilet Training Part 2

Untuk bagian melepaskan celana tentu perkara yang gampang. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana agar Irbadh tidak ngotot memakai baju sebagai celana atau sebaliknya. PR besar memberikan pengertian jika ia belum bisa maka Mama akan memberikan sedikit bantuan. Dan penolakan-penolakan pun saya terima dengan kesabaran sembari menunggu kelapangan hatinya.

Proses tersebut tentunya bukan hal yang instan, perlu konsistensi dan kesabaran.

Sebelum Irbadh memulainya, saya akan menyiapkan celananya dengan posisi yang akan memudahkannya. Terkadang masnya pun ingin membantunya, tetapi sekali lagi penolakan dan penolakan. Bahkan ketika dilihat atau didekati masnya pun ia tidak mau. Ah, dasar anak-anak 😊

Semisal, saya meletakkan celana tepat di depan kaki Irbadh, dengan posisi bagian gambarnya menghadap depan. Fungsinya, agar ia mengenali mana bagian depan dan belakangnya agar tak terbalik.

“Irbadh, gambar tanknya di bagian depan ya.”

“Irbadh ayo duduk dulu. Gambar helikopternya di bagian depan ya.”

Trik ini berhasil, dengan diwarnai adegan celana terbalik pastinya.

Terkadang jika sedang muncul isengnya, dia akan memasukkan semua kakinya di lubang celana yang sama hanya untuk menguji kesabaran saya 😂

5. Memakai dan melepas sandal

Keterampilan ini sudah dikuasai Irbadh saat dia berusia 16 bulan. Ketika Irbadh menunjukkan ketertarikan untuk memakai sandalnya sendiri maka saya pun memfasilitasi dengan memberikannya kesempatan.

Setelah melalui sejumlah trial error, tak perlu waktu lama untuk membuatnya terampil memakai dan melepaskan sandalnya tanpa bantuan dan tanpa terbalik.

Seringkali dia malah sengaja memakainya dengan posisi terbalik hanya untuk melihat bagaimana reaksi kami.

“Mama baik.. baik.. ” (terbalik).

“Ini sayah.”

Kalau sudah tahu terbalik mengapa masih dipakai? Ada-ada saja kan.

Dari hal sederhana tersebut, Irbadh belajar banyak hal.

Bagaimana, apakah teman-teman juga memiliki aktivitas berlatih kemandirian yang sama dengan Irbadh dan Faris? Sharing dong 😊

Mengenalkan Jajanan Tradisional Indonesia kepada Anak-Anak

Kenapa kok disebut kuping gajah, Ma? Apa ini dibikin dari kupingnya gajah ya?

Berawal dari pertanyaan lucu dari anak sulung saya, mendadak saya jadi tersadar dan manggut-manggut sendiri. Oh iya rupanya banyak juga yah makanan berunsur “hewan” tetapi tidak dibuat dari dan untuk “hewan”. Misalnya nih, sate ayam, soto ayam, mie ayam nama-nama makanan tersebut merupakan nama-nama makanan yang mengandung nama hewan “ayam”, dan mengandung unsur hewan “ayam” sebagai bahan utamanya, namun bukan untuk makanan ayam.

Memang ada beberapa makanan yang memang mengandung nama “hewan” tetapi tidak melibatkan “hewan” tersebut dalam pembuatannya, dan sudah pasti makanan tersebut bukan untuk konsumsi “hewan” tersebut, seperti kaki naga, roti buaya, nasi kucing, telur mata sapi, hotdog, dan lain-lain. Unik ya?

Kali ini saya ingin membahas tentang cemilan dan juga salah satu jajanan tradisional Indonesia. Namanya kuping gajah, mungkin di tiap daerah berbeda penyebutannya, namun memang secara umum kue ini disebut kuping gajah.
Kue ini merupakan salah satu kue tradisional asli Indonesia loh. Siapa yang masih tau sama jajanan khas Indonesia ini?

Apakah kue ini terbuat dari Kuping Gajah? Tentu saja tidak, lalu kenapa disebut kue kuping gajah?

Kue ini memiliki bentuk yang unik, tipis, dan bermotif serta rasa yang manis, enak dan renyah. Bentuknya yang unik, tipis dan bermotif, memang sesuai dengan namanya, yaitu menyerupai kuping gajah. (hm.. kurang lebih gitu kali yah). Kue kuping gajah ini dapat ditemui di pasar-pasar tradisional dan juga swalayan. Namun, saat ini semakin jarang dijumpai karena proses pembuatannya yang cukup mengahabiskan banyak waktu dan sangat tricky.

Tetapi, saya punya kabar bahagia buat teman-teman yang kangen makan jajan jadul ini. Kuping Gajah JOSH adalah camilan tradisional khas Indonesia yang kini hadir dengan berbagai varian rasa dalam bentuk mini (bite size) serta diproses secara higienis dengan standar dan kualitas mutu terbaik. Rasa manisnya pas sekali untuk ukuran saya yang tidak terlalu suka manis. Karena ukurannya yang mini jadi dapat dinikmati dengan sekali lahap, cocok juga untuk variasi cemilan anak-anak.

Snack Kuping Gajah Mini dalam kemasan modern yang berasal dari Surabaya ini sudah ada sejak tahun 1995. Kuping Gajah Josh, menghadirkan kue kuping gajah mini dengan berbagai rasa seperti cokelat, vanilla, blueberry, durian, greentea,mocha dan strawberry.

karena dikemas dalam plastik sealed yang bisa dibuka dan ditutup kembali jadi snack kesayangan kita ini dijamin rasanya akan selalu renyah dan fresh. Harganya juga murah meriah, hanya Rp. 15.000 saja perpack dengan berat 100 gram.

Kalau dulu saya susah carinya mesti cari di pasar-pasar tradisional, sekarang gampang banget karena sudah banyak yang menjual baik offline maupun secara online, so simple, tinggal pesan, murah pula! Hayuk atuh dicobain! Dijamin ketagihan😀

Ini salah satu snack favorite saya dari jaman kecil nih! Sekarang saya pun mengenalkan kepada anak-anak agar mereka mengenal berbagai macam jajanan khas asli Indonesia.

Anak-anak bisa jadi tidak familiar dengan makanan tradisional seperti tiwul, gatot, alen-alen, untir-untir, kue putu, apem dan lain-lain. Untuk itu yuk kenalkan makanan tradisional agar anak-anak kaya pengetahuan.

Ya, mengenalkan kue tradisional suatu daerah, misalnya alen-alen dari Trenggalek (kampung halaman saya), maka anak bisa belajar berbagai hal yang lain dari suatu daerah. Misalnya saja anak akan termotivasi lagi untuk tahu mengapa alen-alen menjadi makanan tradisional daerah tersebut, apa bahan pembuatnya, dan sebagainya.

Cara edukasi ini dilakukan dengan target anak memahami bahwa setiap daerah punya makanan khas dan rasanya juga enak.

Mengenalkan makanan tradisional merupakan salah satu cara menjaga budaya dan menanamkan jiwa nasionalisme. Di samping itu makanan tradisional juga kaya akan gizi dan manfaat karena tidak menggunakan bahan-bahan instan apalagi pengawet atau pewarna.

Mengenalkan makanan atau kue tradisional tidak harus dilakukan dengan mengunjungi daerah tersebut. Jika budget dan waktu terbatas sehingga tidak bisa langsung berkunjung ke suatu daerah, anak-anak bisa diajak ke festival makanan khas daerah.

Nah, apa makanan tradisional dari daerah teman-teman ????

Manfaat Berkisah

Banyak metode yang bisa dilakukan untuk mendidik anak, menyampaikan pesan-pesan hikmah padanya dan membentuk kepribadiannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berkisah.

Berkisah merupakan salah satu metode terbaik dalam menyampaikan pesan dan hikmah kepada ananda. Bahkan Al-quran sendiri sebagian besar isinya adalah kisah atau cerita. Kisah atau cerita bisa disampaikan pada anak sejak sedini mungkin, bahkan sejak baru lahir anak sudah bisa diceritakan. Tapi perlu dipastikan juga kalau cerita yang disampaikan pada anak kita adalah cerita yang semakin mendekatkan dan mengikatkannya pada Allah dan Rasul-Nya. Ini sangat efektif sebagai sarana untuk menanamkan tauhid dalam diri anak sejak dini.

Banyak manfaat dan hikmah yang saya dapat dari berkisah kepada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah

1. Mempermudah anak dalam mempelajari bahasa. Anak yang sering dibacakan kisah akan lebih mudah dalam mempelajari bahasa dan semakin banyak mengenal kosakata.
Dengan berkisah, ternyata dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan linguistik dan menumbuhkan kreativitas dalam diri anak. Yang harus digaris bawahi agar menjadi perhatian orang tua adalah cerita yang disampaikan kepada anak adalah kisah-kisah nyata dan sarat akan nilai-nilai Islam sebab sedikit banyak pasti berdampak baik terhadap kepribadian anak-anak.

2. Cerita yang berkualitas akan membentuk kepribadian baik anak
Sejatinya kepribadian kita terbentuk oleh apa yang sering kita dengar dan lihat. Dan salah satu yang efektif dalam membentuk kepribadian seorang anak adalah cerita. Dalam satu kesempatan Ustadz Salim A. Fillah pernah mengatakan kenapa di negeri kita ini banyak koruptor ? Sering terjadi kecurangan dan sejenisnya. Mungkin salah satu penyebabnya kata beliau adalah karena cerita yang lebih sering didengarkan oleh anak-anak di negeri adalah kisah si kancil mencuri ketimun dan berbagai kecurangannya. Secara tak lansung kata beliau sambil berseloroh ini akan membentuk kepribadian kita. Naudzubillah min dzalik.
Berbeda dengan anak-anak di zaman Muhammad Alfatih yang pada waktu itu diceritakan kisah-kisah para Nabi, perjuangan Islam, penaklukan, mimpi Rasulullah akan jatuhnya kota konstantinopel ke tangan Umat Islam. Sehingga kisah-kisah ini membangkitkan semangat perjuangan dalam diri generasi muda di zaman tersebut.
Islam sangat kaya dengan cerita, Al-qur’an sebagian besar isinya kisah, ada kisah para Nabi, para sahabat Nabi, shahabiyah Nabi, para tabi’in, ulama dan lainnya. Sesungguhnya ini adalah aset berharga umat muslim untuk membentuk kepribadian generasi mudanya.

3. Menumbuhkan kreativitas
Anak yang sering mendengarkan cerita sejak masih kecil atau dalam kandungan memiliki kemampuan yang belum diajarkan padanya atau mampu menemukan pemecahan masalah yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orangtuanya. Hal ini mungkin terjadi karena informasi yang didapat dari indra pendengarannya tersimpan sebagai memori jangka panjang. Di dalam otak terdapat tonjolan bernama “girus: yang berfungsi merekam kode-kode informasi. Semakin banyak informasi, pembelajaran dan rangsangan yang diperoleh anak, semakin banyak pula girus yang terbentuk di otaknya.
Semakin sering dan tekun orangtua menceritakan kisah-kisah berkualitas pada anaknya maka akan sangat baik bagi perkembangan otak dan kreativitas anak.

4. Meningkatkan daya pikir anak
Mendengarkan kisah akan meningkatkan daya pikir anak. Semakin sering anak diajak untuk berkomunikasi, semakin cepat perkembangan daya pikirnya.

5. Menciptakan imajinasi anak
Setelah mendengarkan cerita anak akan berimajinasi dan mempelajari nilai-nilai yang terdapat dalam cerita tersebut. Membacakan kisah mengubah sifat abstrak tersebut menjadi bentuk nyata yang dapat dibayangkan melalui peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita.

6. Cara mudah untuk mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak
Berkisah adalah salah satu cara mudah dan efektif untuk mengenalkan keteladanan dari tokoh-tokoh hebat kepada anak. Seperti halnya mengenalkan Nabi Muhammad Saw, para Nabi, para sahabat, tabi’in dan berbagai tokoh-tokoh muslim yang mendunia lainnya.
Jika kita ingin melihat bagaimana penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari tentu tempat belajar yang paling tepat adalah kepada Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau. Dari kisah-kisah mereka kita akan menemukan banyak sekali keteladanan baik itu tentang perkara beribadah pada Allah Swt, sikap mulia ke sesama manusia, perjuangan dan pengorbanan serta berbagai kemuliaan lainnya.

7. Menjauhkan anak dari TV, gadget, game dan sejenisnya.
Musuh utama bagi anak yang terkadang tidak disadari oleh para orangtua adalah berbagai tontonan yang ia lihat dan permainan digital yang dimainkannya. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang ini gadget menjadi satu hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sudah bukan hal yang aneh lagi saat orang tua membekali anaknya dengan gadget sehingga pada akhirnya membuat anak-anak kecanduan.

8. Sebagai sarana untuk membangun keakraban antara anak dan orangtua
Saat berkisah tentu orang tua akan meluangkan waktu untuk hadir disamping anaknya menyampaikan cerita. Kesempatan ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun keakraban antara orang tua dan anak, terlebih lagi bagi orang tua yang pergi pagi dan pulang malam. Waktu malam untuk berkisah bisa menjadi satu waktu yang berkualitas bersama anaknya.
Pengalaman mendengarkan kisah dari orangtua akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak.

9. Menambah wawasan orangtua
Ketika membacakan kisah pada anak maka secara tidak lansung orangtua juga ikut belajar. InsyaAllah akan mendapat dua manfaat sekaligus, anak mendapat ilmu dan orang tua pun bertambah wawasannya.

10. Menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu sejak dini
Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa InsyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. PR yang utama bagi orang tua adalah menumbuhkan kecintaan membaca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.

Kurang lebih, poin-poin di atas adalah berbagai kebaikan dari kegiatan berkisah kepada ananda. Berkisah kepada anak memang tak mudah, butuh waktu, butuh kesabaran dan juga membutuhkan biaya untuk membeli buku-buku berkualitas. Tetapi karena ini adalah sebuah investasi terbaik yang tidak akan membuat kita pada orang tua rugi sedikit pun. Karena disini kita mendidik anak bukan berdagang jadi, indikator keberhasilan orang tua.
Bukan masalah untung atau rugi tetapi buah dari pengorbanan dalam mendidik anak-anak ini akan bisa petik di dunia dengan menyaksikan keberhasilan anak kita dan juga di akhirat kelak saat Allah pertemukan kembali di surga-Nya.

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Berkisah?

Kebanyakan ibu biasanya membacakan buku atau berkisah kepada anak-anaknya dilakukan pada malam hari menjelang tidur. Namun, bagi saya tidak ada waktu khusus dalam agenda berkisah. Saya biasa berkisah kapan saja jika mendapat momentnya. Misalnya saat anak bertanya sesuatu yang bisa membuka jalan diskusi, maka saya gunakan momen menjawab pertanyaan sambil berkisah. Atau bisa juga ketika anak melakukan perbuatan yang kurang baik, saya biasa menegur mereka melalui berkisah.

Jadi buat saya, berkisah tidak harus malam hari tetapi bisa kapan aja. Selama anak rileks dan saya pun tidak sedang menyambi melakukan sesuatu. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari cerita yang terburu-terburu, sehingga cerita yang disampaikan tidak dapat diserap dengan baik.

Saya menghindari berkisah kala anak hendak terlelap, alih-alih bukannya anak segera tidur tetapi justru membuat mereka menjadi susah tidur.
Waktu yang baik untuk berkisah pada anak itu lebih baik waktunya konsisten, akan lebih baik kalau sudah ada jam-jamnya bagi anak yang usianya sudah lebih besar.

Sebisa mungkin orang tua sudah mempunyai waktu yang konsisten dan menjadi suatu kebiasaan bagi anak. Hindari waktu bercerita yang tidak konsisten, seperti contoh, hari ini bercerita dan hari besoknya tidak.

Baca juga : berkisah laba-laba dan hijrah Rasulullah SAW

Peran Ayah Dalam Kegiatan Berkisah

Jika ayah memahami bahwa anaknya adalah masa depan umat, maka tidak ada ayah yang mengabaikan anaknya demi bisnisnya. Salah satu pesan dari Ustadz Budi Ashari, Lc yang saya resapi benar-benar sampai hari ini.

Pakar sejarah Islam ini mengingatkan para ayah bahwa anak-anak adalah hal yang paling mahal. Anak adalah mustaqbala ummah-masa depan ummat-. Di tangan merekalah peradaban Islam kelak. Jika hari ini kita masih kesulitan memilih pemimpin karena keterbatasan individu, maka para ayah harus mulai memikirkan bagaimana mencetak generasi pemimpin masa depan. Jangan sampai ayah terlalu sibuk di luar. Mencari nafkah memang tugas ayah, tapi itu bukan merupakan tugas satu-satunya.

“Nabi adalah sosok yang paling sibuk, tapi masih sempat meluangkan waktu mengusap kepala setiap anak yang ditemuinya. Bahkan Nabi menyempatkan diri mendidik dan bermain dengan cucu-cucunya. Apakah kesibukan kita mengalahkan nabi sehingga tak sempat peduli dan memperhatikan anak-anak?

Coba kita tengok kisah tentang kehebatan ayah Shalahuddin al Ayubi. Tidak mengherankan jika Shalahuddin menjadi orang besar di kemudian hari, pembebas Al Aqsha. Hal tersebut tidak lepas dari peran besar ayahnya yang menanamkan nilai dan keyakinan sejak kecil.

Ketika Shalahuddin kecil bermain dengan anak-anak perempuan di jalan, ayahnya mengambilnya dari tengah mereka. Ia pun mengangkat tubuh Shalahuddin tinggi-tinggi ke udara. Ayah Shalahuddin berkata, “Dulu, saya menikah dengan ibumu bukan untuk melakukan seperti ini. Aku menikah dengan ibumu agar kelak kau yang membebaskan al Aqsha!”

Shalahuddin dijatuhkan ke tanah, ia kesakitan. Ayahnya bertanya, apakah kamu sakit karena jatuh? Shalahuddin menjawab: Ayah menyakiti saya. Ayahnya bertanya lagi, “Mengapa kamu tidak teriak saja karena sakit?” Shalahuddin kecil pun menjawab,” Tidak layak seorang pembebas al Aqsha mengeluh kesakitan!”

Betapa pentingnya peran ayah bagi anak, Dr. Adnan Baharist juga mengungkapkan bahwa Allah telah siapkan perangkat agar aqidah anak terjaga. Anak-anak di usia awal mengambil nilai, akhlaq, hanya dari orang tuanya. Allah menjadikan orang tua sebagai contoh terhebat bagi anaknya.

Di fase awal kehidupannya, anak-anak hanya percaya pada orang tuanya sehingga sulit digendong orang lain. Inilah perangkat yang Allah siapkan dalam rangka menjaga anak dari pengaruh luar. Masa kanak-kanak manusia lebih lama dibanding makhluk lain, agar cukup bagi orang tua menanam aqidah di diri anak. MasyaAllah.

Review Kelas Kedua Komunitas Ibu Berkisah

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebelum masuk materi, ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan terkait adab menuntut ilmu, profil komunitas ibu berkisah dan lain-lain 😊

*Adab Menuntut Ilmu*

Pertama, Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Keempat, Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala

Kelima, Tidak boleh ‘sombong’ dan tidak boleh ‘malu’ dalam menuntut ilmu

Keenam, Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan

Ketujuh, Diam ketika pelajaran disampaikan

Kedelapan, Berusaha memahami ilmu yang disampaikan

Kesembilan, Menghafalkan ilmu yang disampaikan

Kesepuluh, Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Kesebelas, Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari

Kedua belas, Berusaha mendakwahkan ilmu

Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Tema materi sesi ke -2 kali ini adalah:

💐💐manfaat berkisah buat ibu, ayah, anak. Manfaat buat bangsa dan agama💐💐

Buibu shalihah yang dirahmati Allah, Alhamdulillah kita masih diberi usia, kesehatan, waktu, mata yang bisa membaca, jari yang bisa mengetik, otak yang bisa mencerna dan hati yang bisa menerima ilmu, sungguh itu semua merupakan karunia tak terhingga dari Allah Subhanahu Wata’ala sehingga kita bisa bertatap online di kudapan materi pekan ini.

Banyak yang pekan lalu masih sehat kini terbaring sakit, masih lapang kini sempit, maka nikmat sehat dan iman Islam semoga menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambah nikmat kita, dan jika kita ingkar maka adzab Allah sangat pedih. Na’udzubillah min dzalik.
Shalallahu ‘ala muhammad wa ‘ala Ali Muhammad. Semoga kita termasuk umatnya yang memperoleh syafaat Rasulullah kelak, bersama beliau termasuk ke golongan umatnya, aamiin.

Sudah ada beberapa pertanyaan yang masuk, akan saya jawab setelah materi dan tugas BDI. Masuk ke materi tema kali ini adalah Manfaat Berkisah bagi Ibu, Ayah, Anak, kemudian bangsa dan agama.
Oh iya.. nanti ada hadiah lencana berkisah yaa buat buibu shalihah yang sudah berhasil mengerjakan BDI ke-1😊 insya Allah akan diberikan setelah materi
Baiklah saya mulai ya.. tema kali ini manfaat berkisah bagi ibu, ayah dan anak.

Saya akan mulai manfaat untuk ibu, kemudian ayah, baru terakhir anak.

Kenapa?

Karena disini isinya ibu2 dan calon ibu😁
Pelaku berkisah adalah ibu, yang dikasih amanah sama Allah, ibu dan ayah, jadi sebenarnya, yg paling harus tahu manfaat berkisah ya ibu dan ayah.

Apa sih manfaatnya buat ibu? Buat ayah?

Jangan sampai di hati dan pikiran kita, hanya terpaku pada : manfaat untuk anak. Plek. Tok.

Kalau begitu, sangat mudah niat kita goyah, sangat rentan semangat kita turun.

Maka, menyadari dengan pasti apa manfaat untuk ibu, akan menjadi motivasi diri yang paling kuat, untuk tetap rutin berkisah kepada anak. Minimal, ketika perkara niat dan semangat sudah beres, soal kendala dari dalam diri selesai. Jadi nanti kita tinggal berproses menghadapi kendala-kendala dari luar diri.

Oiya, sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa materi ini dikutip dari buku karya saya yang berjudul Bahagia Berkisah, yang memiliki hak cipta dilindungi UU dan terdaftar resmi ISBN. Jadi dilarang copas ya. Buku ini atas ijin Allah sudah terjual dari Sumatera sampai Papua. Jadi materi ini silakan disimpan untuk pribadi, lengkapnya silakan lihat di Buku Bahagia Berkisah.

Manfaat berkisah secara umum untuk ibu :
1. Bernilai pahala dari Allah selama berniat lurus
2. Memenuhi kebutuhan mengeluarkan puluhan ribu kata bagi wanita (terapi hati, jiwa dan emosi)
3. Membangun rasa bahagia dan percaya diri pada diri ibu
4. Menyuburkan rasa mencintai anak dan dicintai anak.
5. Sebagai cara memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.
6. Sebagai cara quality Time dengan anak.
7. Sebagai cara mendidik anak dengan menyenangkan
8. Sebagai cara menasihati anak tanpa menguras emosi ibu.

Sumber : Buku Bahagia Berkisah hal 58
Manfaat bagi ayah
1. Bernilai pahala selama berniat lurus karena Allah
2. Menjaga eksistensi kepemimpinan sosok ayah.
3. Membangun komunikasi aktif dengan anak.
4. Membangun kedekatan emosi batin dengan anak.
5. Sebagai cara quality time dengan anak.
6. Sebagai cara memberikan keteladanan kepada anak.
7. Sebagai sarana memberikan keteladanan kepada anak.
8. Sebagai sarana dalam mendidik dan menasihati anak dengan cara menyenangkan.
Sumber : Buku Bahagia Berkisah hal 65

Manfaat bagi anak :
1. Menggemburkan iman dan meneguhkan hati (Q.S. Hud : 120)
2. Mempertajam akal (Q.S.Yusuf :111)
3. Memberi peringatan mencegah keburukan (Q.S.Al-Qomar : 4)
4. Menanamkan adab perilaku baik.
5. Mengajarkan kebenaran dan kebaikan.
6. Mengasah fitrah kemampuan berbahasa
7. Mengasah minat membaca dan menulis
8. Menanamkan rasa cinta ilmu dan minat belajar.
9. Menanamkan wawasan dan ilmu pengetahuan.
10. Hiburan yang tertanam di jiwa.

Sumber : Al Qur’an. Buku Bahagia Berkisah hal 73-77.

Seperti yang saya sampaikan di pekan pertama pada hasil penelitian ilmiah, bahwa kemajuan suatu bangsa ternyata sangat berpengaruh dari minat baca buku, kebiasaan membacakan cerita kepada anak, dan pendidikan. Ketiga hal ini sangat berkaitan erat dengan berkisah.

Berkisah otomatis mengenalkan anak dengan membaca, merupakan kegiatan bercerita yang bersumber dari ilmu yang paling akurat dan shahih yaitu Al Qur’an, hadits dan siroh. Dan merupakan salah satu metode mendidik anak yang dicontohkan langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada nabi Muhammad lewat Wahyu firman Al Qur’an, dan dicontohkan langsung oleh nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam lewat berkisah kepada para sahabat yang bersumber dari Al Qur’an atau sabda hadits beliau, juga yang tercatat dalam siroh nabawiyah.

Kita ketahui bersama, bagaimana Islam mencapai puncak kejayaannya, dengan kemajuan literasi, karya tulis, perpustakaan, yang melahirkan para ilmuwan cendikiawan muslim yang perannya sangat besar bagi dunia.

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”
Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Masya Allah. Allah berkisah.. nabi Muhammad berkisah.. para ahli ilmu berkisah.. sudahkah ibu rutin berkisah?

Ibunda imam Syafi’i, ibunda imam bukhari, ibunda Muhammad Al Fatih, adalah para ibu biasa, namun karena kegigihannya mendidik anak-anak dengan bekal ilmu, dimana salah satunya dengan berkisah, maka lahirlah anak-anak gemilang yang bermanfaat bagi peradaban.
Bismillah Ya Bu, niatkan karena Allah, untuk ibadah, untuk mendidik anak, soal hasil, itu semata bonus dari Allah. Jika kita melakukan kebaikan maka kebaikan itu akan kembali untuk kita sendiri Aamiin in sya Allah.
Biasakan, membaca ta’awudz, bismillah dan lebih baik lagi berwudhu sebelum berkisah.* Mau nyuapin anak saja kita bismillah ya Bu, mau memberi nutrisi untuk tubuhnya, nah apalagi mau berkisah, mau memberi nutrisi untuk ruh imannya, harusnya bismillahnya lebih khusyuk disertai doa-doa kebaikan dan harapan untuk anak-anak kita tercinta.

Nah, setelah di BDI 1 kita beramal meluruskan niat, minta ijin dan doa suami serta anak, sekarang di BDI 2 saya ingin ibu mencari manfaat khusus berkisah bagi diri ibu sendiri😊

Demikian kudapan materi kali ini. Setelah ditutup oleh mba Sri nanti akan saya jawab pertanyaan dan memberi BDI ya

MasyaAllah…begitu besar ya bu ibu manfaat berkisah ini, smoga paparan materi tdi, bsa semakin menambah semangat kita, untuk lbih giat lgi dlm menggali berbagai kisah2 yg bertebaran di Al qur’an, atau pun kisah2 terbaik yg sdh di hadirkan oleh umat ini, untuk kita kisahkan kpd anak2 kita

Sebelum kita tutup marilah kita beristigfar dulu 3x, marilah kita tutup kudapan ilmu sore ini dg mmbaca kalimatul hamdalah dan do’a kafaratul majlis

Terimakasih atas perhatian ibu-ibu, saya selaku moderator mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat yg kurang berkenan dihati ibu2 sekalian. Jika ada kebenaran dtgnya dari Allah, dan jika ada slh dtgnya dr diri saya pribadi, kurang lebihnya mohon maaf, billahitaufik walhidayah, Wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh🙏🏻😊

Q Indriana :

Mba..kl materi berkisah selain nabi apa ya..
Sy kadang bleng..kl hrs cari2 materi biasanya jd bingung. Kira2 kl berkisah itu berhasil..ukurannya bgmn ya mbak.

A : Ini seringkali ditanyakan berulang
Urutan materi berkisah :
Tauhid pengenalan Allah
Nabi Muhammad dari masa kecil sampai wafat. Panjang dan banyak sekali ini.
Nabi dan Rasul lain.
Kisah orang terdahulu dari Al Qur’an. Seperti Ashabul Kahfi, ashabul ukhdud, dzulqarnain, Qarun, dll.
Kisah para sahabat
Kisah generasi tabi’in tabi’at
Kisah biografi tokoh muslim
Kisah sejarah Islam
banyak sekali bisa mulai dari dalam kandungan sampai Aqil baligh bahkan dewasa tak ada habisnya.
PR nya ibu banyak belajar dari buku, cari buku-buku anak yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits, datang ke kajian tafsir, hadits, siroh, dll.
Detailnya nanti di tema media berkisah.
Berkisah berhasil jika ibu niatnya sudah karena Allah, sudah bahagia dan ringan berkisah tanpa beban, anak sudah suka dibacakan atau mendengar kisah, anak merespon positif. Sudah menjadikan berkisah sebagai kegiatan harian rutin.

Q Atik-Bagansiapiapi:

Mba gimana dengan berkisah pada anak berkebutuhan khusus yg susah fokus saat dikisahkan sesuatu, apakah ada cara tertentu agar manfaat-manfaat tersebut tercapai? Makasih

A : Caranya : sabar dan ikhlas. manfaatnya in sya Allah lebih khusus lagi terasa, lebih istimewa karena anaknya saja sudah istimewa, ibunya pun istimewa. Semoga pahalanya dan nilainya lebih istimewa di mata Allah.

Yang perlu fokus disini adalah ibunya. Terus memperbarui niat. Terus cari dan temukan manfaat khusus bagi ibu apa. Apakah jadi makin sabar, makin tersalurkan emosi, makin santai, ajang mesra2an sama anak, dll.

Selalu ta’awudz, basmallah dan berwudhu, selipkan doa harapan. Gunakan selalu komunikasi produktif ala rasulullah, kontak mata, sentuhan fisik, sejajarkan tinggi, berkisah bukan dari lisan tapi dari hati. Saat mendoakan anak sentuh kepala atau dadanya. Berdoa dengan suara lembut di depan anak yang terdengar olehnya. Rutin ruqyah mandiri. Rutin bacakan dan perdengarkan ayat Al Qur’an langsung dari lisan ibu (bukan murotal atau boneka bicara) juga bisa menjadi terapi untuk konsentrasi, fokus, dan pada tingkatan tertinggi, khusyu.

Q Dwi Puji Lestari – Bontang:

Assalaamu’alaikum

Mba mau bertanya,

1. Adakah Tips untuk para ayah agar gemar berkisah mb?
Mayoritas pria kan sedikit bicara hehe

2. Dalam berkisah apakah sebaiknya berurutan (mulai dari ttg akhlak dulu atau bagaimana) atau random saja sesuai kemauan anak?

Jazakillah khoiran

Wa’alaikumsalam warahmatullaah wabarakatuh

A : Tips agar ayah mau berkisah :

Berbagi bahagia berkisah jangan berbagi beban berkisah.

Maksudnya apa?

Ibu dan anak harus rutin dulu berkisah, sampai menikmati, sampai bahagia, sampai asyik dilihatnya sama Ayah. Sampai ayah ikut bahagia juga melihat ibu dan anak saat berkisah, akhirnya ayah ikut berkisah juga, karena ingin merasakan kebahagiaan yang dirasakan ibu dan anak, sampai ayah penasaran, kayanya seru banget sih, lalu ikutan mau merasakan berkisah ke anak.

Dari meminta ijin dan doa ke suami (ayah) otomatis ibu sudah ‘mengenalkan’ berkisah ke ayah. Di BDI ke-2 dan BDI2 selanjutnya, ada poin dimana secara tidak langsung ibu berbagi bahagia berkisah dengan ayah. Semoga dengan begitu ayah mau berkisah.

Dan tidak perlu keukeuh ayah harus berkisah ya Bu. Gurunya ibu. Ayah kepala sekolah. Ada saatnya kepala sekolah turun langsung, saat ayah mau berkisah. Jangan sampai tujuan baik kita mengajak suami berkisah, malah menimbulkan dosa kepada suami karena adab/cara kita yang kurang sesuai.

Batasan tema ada sesuai tahapan usia. Kalau judul dari batasan tema random saja sesuai kemauan anak atau situasi kondisi dan kebutuhan.

Q Hasnawati:

Mba nina mau nanya nih… anak saya fira 3,8 tahun biasa kalo saya ceritain tentang sesuatu harus ada gambarnya. Kalo kebanyakan narasi dia malah g terlalu khusyu mendengar. Atau terkadang sebaliknya. Antara gambar dan narasi harus sama persis. Misal kisah tentang laba laba penyelamat nabi muhammad, dinarasinya tertulis beberapa ekor laba laba, tetapi digambarnya tiga laba laba. Maka dia akan protes bukan beberapa mama tapi tiga laba laba 😊. Jadinya saya kadang kurang konsisten menceritakan, kecuali harus saya eksplorasi dan pahami dulu dengan baik alur ceritanya (tentunya termsuk menyesuaikan dengan gambar).

Pertanyaan saya :

1. Apakah ini hal yang normal

2. Bagaimana trik menyiasatinya selain harus membaca dengan detail terlebih dahulu 🤗?

3. Apakah manfaat berkisah untuk ibu, ayah, bangsa, dan agama harus kita ungkapkan kepada anak ketika berkisah? Jika ya pada bagian mana? Dan harus seperti apa? Langsung atau tersirat?

Jazakillah khair 😍😍

A :
1. Sangat normal. Usia balita sedang tertarik dengan binatang, gambar, warna, suara, kisah masa kecil, alat permainan. Manfaatkan ini agar anak makin tertarik berkisah.

2. Membaca terlebih dahulu sebelum berkisah memang wajib. Bahkan sejak memilihkan membelikan buku untuk anak untuk mengecek dan memastikan buku tsb baik dan aman untuk anak. Mulai dari bahasa kalimatnya, isi kisah apakah bersumber dari Qur’an hadits dan siroh, gambarnya apakah sesuai dan baik, dll. Juga disesuaikan dengan situasi kondisi dan kebutuhan masing2 anak dan ibu yang berbeda.

Seiring berjalan waktu, ibu akan terbiasa dan bisa berpikir cepat untuk eksplorasi menjawab pertanyaan anak, termasuk terus memperbarui ilmu sebagai bekal menjawab pertanyaan anak2 yang kritis2, lucu2 sampai bikin mikir😁

3. Tidak. Itu untuk ditemukan dan dirasakan. Ada BDI nya nanti.

Q Nurlaela :

Kalo misalx berkisah dengan membacakan cerita melalui hp… bagaimana cara menghindarkan anak untuk memainkan hp agar tidak terbiasa… karena saat liat hp maunya dipakai…

Ibu yang baca, dengar atau tonton dulu, baru kemudian bertutur kisah secara langsung kepada anak. Kalo perlu catat poin2 pentingnya. Supaya ibu gak lupa.

Penggunaan screen HP boleh sesekali sebagai selingan. Tapi jangan dijadikan media/alat utama dalam berkisah. Paling aman dari buku atau bertutur langsung. Walaupun digunakan untuk hal kebaikan manfaat, efek screen negatif juga ke anak jika durasinya terlalu lama apalagi jika sudah candu. Seperti agresif, tantrum, sulit mengungkapkan perasaan, keterlambatan perkembangan motorik, bahasa dan sosial, dll.
Durasi anak usia 0-2 th 0 jam (no screen) usia 2-8 th 2 jam per hari (at all HP, tablet, laptop, dll)

Q gesang colinanin :

saya memiliki anak yg sangat logis dan otak kiri. Karena saya masih belajar, saya dulu menggunakan media buku untuk membantu saya bercrtita. Tapi anak saya malah lebih fokus pada bentuk buku itu sendiri. Dia lebih menikmati untuk menumpuk2 dan menghitung buku itu. Dan hanya sebentar saja khusyuk untuk mendengar saya bercerita. Apakah ada saran untuk saya bagaimana cara membuat anak saya tertarik untuk mendengarkan saya? Dan mana yg lbh baik, berkisah menjadi tugas saya atau kami lakukan berdua dng suami? (anak 1, 4yo, lbh dkt dng ayahnya dr pd saya)

Ikuti saja dulu kecenderungannya. Gunakan media alat peraga untuk anak tipe ini. Misal kisah nabi Sulaiman, buat tumpukan buku menjadi istana ratu Bilqis yang akan dipindahkan. Misal kisah tentara abrahah, buat gambar pasukan gajah yang banyak, suruh hitung lalu iringi dengan kisahnya.

Ibu rutinkan berkisah, nanti akan bisa menemukan ide2 spontan karena terbiasa. Tapi tetap, tujuan utama berkisah adalah ibadah dan penanaman iman, jadi fokus saja di situ, jangan terlalu khawatir dengan respon atau hasil sekarang, karena kita tidak tahu kapan, apa dan bagaimana Allah akan memberi bonus manfaat berkisah itu.

Anak 4y baiknya ibu. Ayah terlibat lebih baik. Justru bisa menjadi ajang bonding ibu agar semakin dekat dengan anak.

Q Mia Khanzaria :

Assalamu’alaikum..
Bunda saya mungkin termasuk ini yg blm pernah berkisah kpd anak.
Anak saya usia 20 bulan.
Bagaimana cara saya berkisah kpd ananda usia segitu? Karena minim nya ilmu saya.
Saya biasa nya hanya bacakan ayat 2 Al qur’an, huruf hijaiyah sambil d nyanyikan.

Wa’alaikumsalam,
Supaya mudah dari buku dulu Bu. Buku bantal, buku boardbook (kertas tebal), buku bergambar warna warni, yang bersumber dari Al Qur’an hadits dan siroh.
Ayat Alqu’ran bagus Bu memang utama, setelah itu berkisah misal dari gambar gajah, gajah ciptaan Allah nak, Adel juga ciptaan Allah, mengenalkan tauhid, kalimat dzikir kepada Allah, baru kisah-kisah yang pendek sebatas pengenalan dulu. 20bulan utamakan tauhid.

Q RA Azizah Kadir :

Assalamu’alaikum.Wr.Wb
mbak, afwan yang ingin saya tanyakan untuk menambah minat anak saat ibu berkisah, bolehkah menggunakan media selai buku? Contoh : boneka tangan dll. Terima kasih

A :Wassalamu’alaikum.Wr.b

Boleh.

Q Efi Novianti :

Bagaimana agar suami berperan serta dalam proses berkisah bagi anak? Karena terkadang suami masih acuh dan menganggap berkisah bukan sesuatu yg penting

A :Sama dengan pertanyaan sebelumnya. Berbagi bahagia berkisah bukan berbagi beban berkisah. 😊

Q Assalamualaikum
Saya imroatul Husna :

Putra saya 3th1bln Alhamdulillah suka sama buku Tapi Selama ini buku/cerita yang dia suka buku tentang teknologi, betah sekali sama buku2 spt itu. Kalau berkisah kurang bisa tertarik, mungkin Dari gambarnya, Trs Dari kami (orangtua) mungkin jg Yg gak bisa teknisnya/materinya.

Wa’alaikumsalam

A : Bisa disisipkan tauhid saat membuka buku teknologi. Bahwa Allah yang memberikan otak kepada manusia sehingga bisa membuat alat2 canggih, bahwa Allah menurunkan Al Qur’an sebagai sumber ilmu tertinggi dari segala ilmu. Teknologi buatan manusia pun terinspirasi dari ciptaan Allah, seperti robot meniru manusia. Komputer meniru otak manusia. Mobil meniru kuda/unta. Pesawat meniru burung. Bahkan warna meniru warna ciptaan Allah dari alam dan pelangi. Rasa meniru ciptaan Allah dari manis buah yang beraneka ragam. Dll. Gunakan buku yang disukai sebagai media, sisipkan tauhid. Syukur2 bisa menyisipkan kisah.