Pendidikan Anak dalam Islam (disarikan dari grup telegram) 

Intisari Materi Daurah Muslimah Kab. Mamuju bersama Syaikhah Ummu Abdirrahman Eman Al-Reme hafizhahallah
*PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM*
_Aula Mesjid Raya Suada Mamuju, ba’da Maghrib_
Allah _subhanahu wa ta’ala_ telah mengaruniakan kepada manusia itu rezeki berupa keturunan. Keturunan adalah salah satu nikmat dari Allah yang patut kita syukuri.
Dia berfirman:
المال والبنون زينة الحية الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا
_“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”_ Al Kahfi : 46.
Dalam ayat di atas, kata _al banun_ (البنون) itulah keturunan. Nikmat keturunan ini sudah semestinya kita gunakan pada perkara kebaikan.
Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ bersabda,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية, أو علم ينفع له, ولد صالح يدع لهز
_“Jika salah seorang anak Adam itu meninggal maka terputuslah amalannya kecuali 3: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuknya.”_ Diriwayatkan oleh Muslim dari sahahat Abu Hurairah _radhiyallaahu ‘anhu._
Berkata Syiakh bin Baaz _rahimahullah_, jika seseorang meninggal maka terputuslah amalannya, artinya terputuslah amalannya yang mengalir kepadanya setelah ia meninggal, kecuali ketiga perkara berikut ini:
*1. Sedekah jariyah*
Misalnya harta yang ia wakafkan, seperti mesjid untuk digunakan shalat di dalamnya, atau membangun suatu bangunan yang disewakan yang hasil sewanya disedekahkan, atau tanah ladang yang hasil pertaniannya disedekahkan, atau yang lainnya yang semisal dengan itu. Sedekah jariyah ini pahalanya akan tetap mengalir kepadanya meskipun ia telah meninggal.
*2. Ilmu yang bermanfaat*
Misalnya ia menulis sebuah buku yang bermanfaat bagi manusia. Atau membeli buku-buku islamiyah dan mewakafkannya. Atau mengajarkannya/menyebarkannya sehingga kaum muslimin bisa mengambil manfaat dengannya.
*3. Anak yang shalih yang mendoakan untuknya*
Doa anak yang shalih bermanfaat bagi orang tua yang sudah meninggal, sebagaimana bermanfaatnya doa kaum muslimin jika mereka berdoa untuknya atau bersedekah untuknya.
*Bagaimanakah mewujudkan anak yang shalih?*
Untuk mewujudkan anak yang shalih salah satunya adalah dengan cara mendidiknya.
Diantara bentuk- bentuk pendidikan anak adalah:
🌸 *Menanamkan pada diri anak kecintaan kepada Allah _subhanahu wa ta’ala_.*
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua menanamkan kecintaan kepada Allah pada diri anak sejak kecil. Jika mengajak anak berbuat kebaikan, katakanlah kepadanya: _“Jika engkau melakukan hal ini maka Allah akan cinta kepadamu. Jika engkau shalat, puasa dll, maka Allah akan cinta kepadamu.”_ Jangan mengatakan, _“Jika kamu tidak shalat maka Allah akan benci dan tidak suka kepadamu.”_
🌺 *Mendidiknya dengan sifat amanah.*
Mengajarkan kepada anak, jika ia menemukan suatu barang di jalan, hendaklah ia tidak mengambilnya untuk dirinya. Akan tetapi mengambilnya untuk diberikan kepada orang yang lebih dewasa atau orang tuanya untuk dicari siapa pemiliki barang tesebut.
🌻 *Mengajari bersedekah*
Anak-anak dididik untuk membiasakan diri bersedekah. Yakni memberikan sebagian apa yang dimilikinya kepada fakir miskin. Mengajarkan kepadanya untuk iltizam kepada sunnah dalam hal bersedekah. Bahwasanya, tersenyum dan berwajah berseri-berseri kepada seseorang itu adalah termasuk sedekah.
Perlu diketahui bahwa kemampuan anak dalam menerima pengajaran dari orang tua itu berbeda-beda. Sebagian anak ada yang cepat memahami apa yang dikatakan oleh orang tua, dan sebagian anak yang lain lambat. Oleh karena itu orang tua harus mengetahui tingkat kemampuan anaknya.
Dalam memberikan pengajaran kepada anaknya ia harus perlahan-lahan, tidak memberikan banyak nasehat setiap hari. Sebaiknya, paling tidak satu nasehat dalam sehari, supaya anak tidak mudah jemu.
Sebagai contoh, ketika mengajarkan anak bersedekah, dalam bersedekah tesebut jangan diikuti dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti perasaan si penerima. Karena hal tersebut sama halnya dengan

orang yang menafkahkan harta karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada manusia dan tidak beriman kepada hari akhir.
🌹 *Berakhlak dengan Al Quran*
Diriwayatkan bahwasnya Said bin Hisyam bin ‘Amir, dia bertanya kepada Ummul Mu’minin “Aisyah radhiyallaahu anha, _“Wahai Ibu, kabarkanlah kepadaku akhlak rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.”_ Maka ‘Aisyah berkata: _“Sesungguhnya akhlak rasulullah itu adalah Al Quran.”_
Kita mengajarkan kepada anak agar anak berakhlak dengan Al Quran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita usahakan untuk mengaitkan semua perbuatan anak-anak dengan Al Quran. Setiap kali terjadi suatu peristiwa tertentu, kalau memungkinkan kita ingatkan mereka dengan ayat Al Qur`an.
Beberapa ayat Al Qur’an dan kesesuaiannya dengan keseharian anak-anak:
1. Ketika melihat rumah yang berantakan, sang ibu mengajarkan ayat ini:
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ ” [سورة الأعراف : الآية : 170
“Sesungguhnya Allah tidaklah menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan perbaikan”. Al A’raf: 170.
Kemudian berkata kepada anak: _”Siapa yang ingin pahala?”._Ia berkata dengan suara yang yang santai dan mengulangi kembali ayat tadi, atau menjelaskan maknanya dengan gaya bahasa yang sederhana, dengan memfokuskan ke arah pahala. Kemudian berkata : _“Ayo, kita rapikan rumah, supaya kita dapat pahala.”_
Dan memberikan penekanan pada kata *mushlihin* (orang-orang yang melakukan perbaikan)
2. Jika anak-anak duduk untuk menyelesaikan tugas sekolah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, membantu ibu menyiapkan makanan, dll maka ibu akan mendapatkan adanya kekurangan pada hasil pekerjaan mereka. Maka ibu menghadapinya dan berkata :
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً ” [سورة الكهف : الآية : 30] Sesungguhnya Allah Subhaanah Wa Ta’ala berfirman : _”Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang paling baik perbuatannya.”_ Surah Al Kahfi : 30.
Dan ia (ibu) menekankan pada kata *”ahsan”* (paling baik). Kemudian mengatakan : sesuatu yang *paling baik*… tulisan *terbaik*, amalan yang *terbaik*…. untuk mendapatkan pahala yang *terbaik*.”
Dan sangat ditekankan untuk banyak menggunakan lafazh-lafazh Al Qur’an tersebut, supaya anak-anak merasakan adanya keterkaitan antara kenyataan dengan ayat *man ahsanu amalaa* yang paling baik amalannya.
3. Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya keluar untuk bermain di jalan tanpa izin, atau bertengkar dengan saudaranya dan melampaui batas dengan memukulnya, atau bermain di dapur hingga merusak sebagian perkakas dapur, dll. Maka ibu tidak langsung memarahi dan mengatakan kamu salah. Bahkan ibu mengajari nya untuk meminta maaf dan membacakan ayat Al Qur’an :
إِنّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السّـيّئَاتِ ” [سورة هود : الآية : 114] _”Sesungguhnya kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan.”_ Surah Hud : 114.
Supaya anak mengikutkan kesalahan yang telah dia lakukan dengan kebaikan.
Dan juga aya berikut ini :
” إِنّمَا يُرِيدُ الشّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ ” [سورة المائدة الآية : 91] _“Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian.”_ Al Maidah : 91
4. Ketika mereka bermain air, atau menghambur-hamburkan makanan. Sampaikanlah ayat ini
“وَلاَ تُسْرِفُوَاْ, إنه لا يحب المسرفين ” [سورة الأعراف : الآية : 31] _“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”_ Al A’raf : 31
Ajarkan kepada anak-anak, bahwa kita harus mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah meskipun sedikit. Ingatkan tentang kondisi orang-orang yang kehidupannya serba kekurangan, bahkan tidak memiliki harta dan makanan. Jadi kita yag telah dikaruniai oleh Allah berupa kelapangan rezeki, sepatutnya kita mensyukurinya dengan cara tidak menghambur-hamburkannya.

💐 Selain menyampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehidupan keseharian, orang tua mengajarkan kepada mereka tentang Islam, meskipun sebenarnya anak-anak itu sudah terlahir di atas agama Islam.
Rasulullah _shallallaahu alaihi wa sallam_ bersabda:

_“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”_

Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Akan tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan/tindakan. Siapa yang Allah _Subhanahu wa ta’ala_ takdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, niscaya Allah _Subhanahu wa ta’ala_ akan menyiapkan untuknya orang yang akan mengajarinya jalan petunjuk sehingga jadilah dia dipersiapkan untuk berbuat (kebaikan).

Orang tua mengajari mereka sunnah yang benar, yakni sunnah yang bersumber dari rasulullah _shallalahu alahi wa sallam_. Mengajarkan mereka untuk menjauhi bid’ah dan khurafat. Megajarkan mereka untuk beramal shalih.

Dalam memandu anak menghafal Al Quran, jangan memberikan kesan kaku, misalnya mengatakan: _“Ayo, duduk! Dengar dan hafalkan ayat ini!”_ Tetapi usahakan untuk biasa memperdengarkan anak-anak lantunan ayat-ayat Al Quran setiap saat melalui media tertentu, seperti kaset, mp3 dll. Dengan hal seperti ini, insyaAllah anak dengan mudah akan menghafal ayat-ayat Al Qur`an tersebut.

🥀Yang terakhir, salah satu cara untuk mendapatkan anak yang shalih adalah dengan banyak-banyak mendoakannya. Orang tua, khususnya ibu, seharusnya banyak mendoakan anak-anaknya semoga Allah memberikan hidayah kepada anaknya dan memberikan taufik-Nya supaya anak menjadi anak yang shalih. Salah satu contoh doanya adalah:
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
_”Wahai rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_

Orang tua mendoakan keshalihahan untuk anak-anaknya, baik laki-laki maupun yang perempuan. sebagaimana mereka juga selalu berlindung kepada Allah dari perbuatan durhaka anak-anaknya kepadanya.

_Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kepada kita rezeki keturunan yang shalih yang insyaAllah bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kalian rezeki untuk berhaji dan berumrah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan kita kembali di surga-Nya sebagaimana Dia telah mempertemukan kita disini. Aamiin yaa rabbal ‘aalaminin._

Allaahu Ta’ala a’lamu bishshawab.

✍ Ummu Abdillah Yusuf

Parenting Nabawiyah Comunity : Mendidik Anak Usia 4-6th 

Menasihati dan Mengajari Saat Berjalan Bersama

Berikut ini adalah kisah yang dituturkan Abdullah bin Abbas ketika diajak jalan bersama Rasulullah di atas kendaraan beliau. Dalam perjalanan ini, beliau mengajarkan kepadanya beberapa pelajaran sesuai jenjang usia dan kemampuan daya pikirannya melalui dialog ringkas, langsung dan mudah. Rasulullah bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran: peliharalah Allah, niscaya Dia akan balas memeliharamu. Peliharalah Allah, niscaya kamu akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata manusia persatu padu untuk memberimu suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu, kecuali mereka telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu, kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah bagimu, pena telah diangkat dan lembaran catatan telah mengering.”[1]

Menarik Perhatian Anak dengan Ucapan yang Lembut

Adakalanya Rasulullah memanggil anak dengan panggilan yang paling sesuai dengan jenjang usianya, seperti ungkapan, “Anak muda, sesungguhnya aku akan memberimu beberapa pelajaran.” Dan seterusnya. Adakalanya beliau memanggil dengan sebutan, “Anakku” seperti beliau lakukan kepada Anas saat turun ayat hijab, “Hai anakku, mundurlah kamu ke belakang.”

Rasulullah menyebut anak-anak Ja’far, putra pamannya, “Panggilkanlah anak-anak saudaraku.” Beliau pun menanyakan kepada ibunya, “Mengapa aku lihat tubuh keponakanku kurus-kurus seperti anak-anak yang sakit?”[2]

Seseorang lebih terkesan bila dipanggil dengan julukan, gelar, dan predikat yang baik dari pada nama aslinya. Tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, yang sering kali kita dapati anak-anak yang dipanggil dengan julukan tidak enak didengar, seperti: gundul, gembrot, kribo, dan sebagainya.

Menghargai Mainan Anak dan Jangan Melarangnya Bermain

Apa yang akan Anda katakan ketika mengetahui bahwa Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya. Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyah membawa serta boneka mainannya ke rumah beliau, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Realitas seperti ini menunjukkan pengakuan dari Rasulullah terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan dan pemenuhan kecenderungan (bakat).

Al Ghazali mengatakan, “Usai keluar dari sekolah, sang anak hendaknya diizinkan untuk bermain dengan mainan yang disuainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar di sekolah. Sebab, melarang anak bermain dan hanya disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuat masa kecilnya kurang bahagia. Anak yang tidak boleh bermain pada akhirnya akan berontak dari tekanan itu dengan berbagai macam cara.”[3] Al Ghazali juga menambahkan, “Hendaknya sang anak dibiasakan berjalan kaki, bergerak, dan berolah raga pada sebagian waktu siang agar tidak menjadi anak yang pemalas.”

Tidak Membubarkan Anak yang Sedang Bermain

Anas berkata, “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, ‘Rasulullah pasti sedang istirahat siang.’ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali….”[4]

Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka perlukan sebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirkanlah dahulu untuk membubarkan mereka saat bermain. Kalau untuk memperingatkan karena waktu yang tidak tepat atau membahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.

Tidak Memisahkan Anak dari Keluarganya

Abu Abdurrahman Al Hubuli meriwayatkan bahwa dalam suatu peperangan Abu Ayyub berada dalam suatu pasukan, kemudian anak-anak dipisahkan dari ibu-ibu mereka, sehingga anak-anak itu menangis. Abu Ayyub pun segera bertindak dan mengembalikan anak-anak itu kepada ibunya masing-masing. Ia lalu mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat.”[5]

Rasulullah juga melarang seseorang duduk di tengah-tengah antara seorang ayah dan anaknya dalam suatu majelis. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang duduk di antara seorang ayah dan anaknya dalam sebuah majelis.”[6]

Jangan Mencela Anak

Anas mengatakan, “Aku melayani Rasulullah selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, ‘Mengapa engkau lakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’.”[7]

Anas juga mengatakan, “Beliau tidak pernah sekali pun memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian akan manangguhkan pelaksanaannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, beliau justru membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah terjadi.”

Al Ghazali memberi nasihat, “Janganlah banyak mengarahkan anak dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.”[8]

Mengajarkan Akhlak Mulia

Anas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimua dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah. Yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di dalam surga.”[9]

Al Ghazali mengatakan, “Anak harus dibiasakan agar tidak meludah atau mengeluarkan ingus di majelisnya, menguap di hadapan orang lain, membelakangi orang lain, bertumpang kaki, bertopang dagu, dan menyandarkan kepala ke lengan, karena beberapa sikap ini menunjukkan pelakunya sebagai orang pemalas. Anak harus diajari cara duduk yang baik dan tidak boleh banyak bicara. Perlu dijelaskan pula bahwa banyak bicara termasuk perbuatan tercela dan tidak pantas dilakukan. Laranglah anak membuat isyarat dengan kepala, baik membenarkan maupun mendustakan, agar tidak terbiasa melakukannya sejak kecil.”[10]

Mendoakan Kebaikan, Menghindari Doa Keburukan

Jabir bin Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan keburukan untuk harta benda kalian, agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat yang di dalamnya Allah memberi semua permintaanmu, kemudian mengabulkan doa kalian.”[11]

Orang tua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika, seperti, “Dasar anak bandel,” pun bisa bermakna doa. Dan doa orang tua kepada anak itu bakal manjur.[12]

Meminta Izin Berkenaan dengan Hak Anak

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan bahwa disajikan kepada Rasulullah segelas minuman, lalu beliau meminumnya, sedang disebelah kanan beliau terdapat seorang anak dan disebelah kirinya terdapat orang tua. Sesudah minum, beliau bertanya kepada si anak, “Apakah engkau setuju bila aku memberi minum mereka terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu.” Rasulullah pun menyerahkan wadah itu ke tangannya.[13]

Mengajari Anak Menyimpan Rahasia

Abdulllah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun.”[14]

Makan Bersama Anak Sembari Memberikan Pengarahan dan Meluruskan Kekeliruan Mereka

Umar bin Abu Salamah bercerita, “Ketika masih kecil, aku berada di pangkuan Rasulullah dan tanganku menjalar ke mana-mana di atas nampan. Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Hai bocah, sebutlah nama Allah (berdoa), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.’ Maka senantiasa seperti itulah cara makanku sesudahnya.”[15]

Abdullah bin Umar tidak pernah melakukan shalat malam, maka Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar seandainya dia shalat malam.” Sesudah itu, dia hanya tidur sebentar saja setiap malamnya.[16]

Berlaku Adil Kepada Anak, Tanpa Membedakan Laki-laki atau Perempuan

Nu’man bin Basyir pernah datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Sungguh, aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amarah binti Rawwahah, lalu Amarah menyuruhku untuk menghadap kepadamu agar engkau menyaksikannya, ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apakah engkau juga memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku adillah kamu diantara anak-anakmu.”  Nu’man pun mencabut kembali pemberiannya.[17]

Melerai Anak yang Terlibat Perkelahian

Rasulullah pernah memisahkan dua bocah yang terlibat dalam perkelahian. Beliau meluruskan pemikiran mereka dan menyerukan kepada orang-orang dewasa untuk menangkal kezaliman.[18]

Gali Potensi Mereka

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Di antara pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman terdapat sebuah pohon yang dedaunannya tidak pernah gugur, dan itulah perumpamaan seorang muslim. Ceritakanlah kepadaku pohon apakah itu?” Orang-orang menebaknya dengan beragam pepohonan yang tumbuh di daerah pedalaman tersebut. Ibnu Umar berkata, ‘Dalam hatiku terbetik bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma, tetapi aku merasa malu untuk mengutarakannya (karena saat itu usiaku masih sangat muda). Selanjutnya, mereka pun menyerah dan berkata, ‘Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Itulah pohon kurma’.”[19]

Rangsang dengan Hadiah

Rasulullah pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, Al Abbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda, “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini.” Mereka pun berlomba lari menuju tempat Rasulullah berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung dan ada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah menciumi mereka semua serta menepati janji kepada mereka.[20]

Menghibur Anak Yatim dan Menangis Karena Mereka

Rasulullah bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim itu di surga seperti ini.” Beliau menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan meregangkan sedikit saja.[21] Rasulullah pernah menciumi dan bercucuran air mata ketika melihat anak-anak Ja’far menjadi yatim karena ayahnya gugur dalam medan perang, beliau juga menghibur mereka.[22]

Tidak Merampas Hak Anak Yatim

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan hak dua orang lemah, yaitu anak yatim dan wanita.”[23] Dengan demikian, seleksilah benar-benar harta kita. Adakah di dalamnya hak anak yatim yang kita rampas? Sebab, ancaman memakan harta mereka begitu jelas dan gamblang.

Melarang Bermain Saat Setan Berkeliaran dan Lindungilah dari penyakit ‘Ain

Rasulullah bersabda, “Apabila malam mulai gelap (malam telah tiba), tahanlah anak-anak kalian, karena setan saat itu sedang bertebaran. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu maghrib, lepaskanlah mereka….”[24]

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah melihat anak yang sedang menangis kemudian beliau bersabda, “Mengapa bayi kelian menangis? Mengapa tidak kalian ruqyah dari penyakit ‘ain?”[25]

Mengajari Azan dan Shalat

Abu Mahdzurah bercerita, “Aku bersama 10 orang  remaja berangkat bersama Rasulullah dan rombongan. Pada saat itu, Rasulullah adalah orang paling kami benci. Mereka kemudian menyerukan azan dan kami yang 10 orang remaja ikut pula menyerukan azan dengan maksud mengolok-ngolok mereka. Rasulullah bersabda, ‘Bawa kemari 10 orang remaja itu!’ Beliau memerintahkan, ‘Azanlah kalian!’ Kami pun menyerukan azan.

Rasulullah bersabda, ‘Alangkah baiknya suara anak remaja yang baru kudengar suaranya ini. Sekarang pergilah kamu dan jadilah juru azan buat penduduk Mekkah.’ Beliau bersabda demikian seraya mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah, kemudian beliau mengajarinya azan dan bersabda kepadanya, ‘Tentu engkau sudah hafal bukan?’ Abu Mahdzurah tidak mencukur rambutnya karena Rasulullah waktu itu mengusapnya.[26]

Mengenai shalat, Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian shalat sejak usia 7 tahun dan pukullah ia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.”[27]

Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari aku pernah masuk ke tempat Rasulullah dan yang ada hanyalah beliau, aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Rasulullah menemui kami lalu bersabda, ‘Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?’ Kala itu bukan waktu shalat. Maka salah seorang berkata, ‘Bagaimana Anas di posisikan di dekat beliau?’ Beliau menempatkanku di kanan beliau lalu beliau shalat bersama kami…”[28]

Tanpa cangung, Rasulullah mengajak anak shalat berjamaah meski tak ada orang selain anak tersebut, tanpa ragu pula, beliau mengangkat pemuda yang membencinya untuk menjadi tukang azan atau muazin kota Mekkah.

Mengajari Anak Sopan Santun dan Keberanian

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada anak ketika beliau hendak memberi minum kepada tamu yang dewasa terlebih dahulu sebelum dia. Namun anak itu menolak. Saat itu Rasulullah tidak bersikap kasar dan tidak menegurnya.

Di antara keberanian yang beretika ialah anak tidak dibiarkan berbuat sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Al Ghazali mengatakan, “Anak hendaknya dicegah dari mengerjakan apa pun dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab, ketika anak menyembunyikannya berarti dia menyakini perbuatan tersebut buruk dan tidak pantas dilakukan.[29]

Menjadikan Anak yang Lebih Muda sebagai Imam Shalat dan Pemimpin dalam Perjalanan

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila kalian sedang berpergian, hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling bagus bacaannya di antara kalian, walaupun ia orang yang paling muda. Bila ia telah menjadi imam berarti ia adalah pemimpin.”[30] Dan dikuatkan dengan hadits shahih, Amru bin Salamah berkata, Rasulullah bersabda, “Hendaknya yang menjadi imam kalian adalah yang paling banyak bacaan Al Qur’annya.”[31]

 

Sumber:

Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010

[1] At Turmizi, Kitab Shifatul Qiyamah, 2516

[2] Muslim, 4075

[3] Ihya ‘Ulumuddin: III, 163

[4] Ahmad, 12956

[5] At Turmizi, 1204

[6] At Thabrani, Al Ausath: IV, 4429

[7] Muttafaq Alaih.

[8] Ihya ‘Ulumuddin: III

[9] At Turmizi, Kitab ‘Ilmi, 2602

[10] Ihya ‘Ulumuddin: III, 62

[11] Muslim, Kitab Zuhud wa Raqaiq, 5328 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 1309

[12] Untuk lebih jelasnya lihat hadits At Turmizi, Kitab Birri wash Shilah, 1828

[13] Muttafaq Alaih.

[14] Muslim, Kitab Haidh, 517 dan Abu Dawud, Kitab Jihad, 2186

[15] Bukhari, Kitab Ath’imah, 4957

[16] Muslim, Kitab Fadhuish Shahabah, 4528

[17] Bukhari, Kitab Hibah, 2398

[18] Lebih jelasnya lihat hadits Muslim, Kitab Birr wash Shilah, 4681

[19] Muttafaq Alaih.

[20] Majmu’uz Zawaid: IX, 17

[21] Bukhari, Kitab Thalaq, 4892 dan Kitab Adab, 5556; Tirmizi, Kitab Barri wash Shilah, 1841

[22] Lebih jelasnya lihat hadits Ahmad, Musnaddul Anshar, 25839 dan Musnadul Ahli Baith, 1695

[23] Ibnu Majah, Kitab Adab, 3668 dan Ahmad Musnadul Mukstirin, 9289

[24] Bukhari, Kitab Badil Khalq, 3038

[25] Shahih Al Jami’, 5662

[26] Ahmad, Musnadul Makkiyah, 14833

[27] Tirmizi, Kitab Shalat, 372 dan Abu Dawud, Kitab Shalat, 418

[28] As Silsilatush Shahihah, 140

[29] Ihya ‘Ulumuddin, III

[30] Al Bazzar, hasan menurut Al Haitsami, Majma’uz Zawaid: II, 64

[31] Shahih Al Jami’, 5350

Catatan Parenting : *AUTONOMY VERSUS SHAME AND DOUBT – yws* (Perkembangan Psikososial 1-3 tahun)

“Tante, kenapa ya anakku kok sekarang adeuhhh … nggak nurut, ngelawan, mau-maunya sendiri, dan gampang ngambek. Padahal dulu gak gitu deh. Manis, nurut, enak banget pokoknya ngurusnya”

“Iya, si adek ni kan umurnya 2,5 tahun. Itu memang karakteristik anak umur 1-3 tahun. Berusaha untuk menunjukkan bahwa dia punya keinginan dan ingin lihat juga bagaimana lingkungan berespon terhadap keinginannya. Terutama anak-anak yang basic trustnya sudah terbentuk baik pada usia 0-1 tahun. Nah, keberanian dia untuk melawan, menantang aturan orangtua, dll, adalah karena dia merasa nyaman dengan itu semua, dan yakin bahwa dia gak apa-apa dan akan aman untuk menyampaikan pendapatnya. Ini sehat dan wajar sebetulnya. *Justru kalau ini tidak terbentuk pada usia tersebut, maka yang terjadi adalah anak yang pemalu dan peragu untuk mengekspresikan diri dan menunjukkan pendapatnya.”*

“Tapi jadinya musti diapain? Diikutin kan emang salah. Gak diikutin rewelnya ampun deh. Kadang jadi kebawa emosi, gak sabaran jadinya.”

“Pertama, kita sebagai orangtua paham dulu, bahwa ini proses wajar. Justru kalau tidak terjadi, ini yang kita perlu bertanya-tanya. *Kalau dia terlalu penurut, malah di kemudian hari bisa jadi mudah terpengaruh orang lain karena tidak berani mengungkapkan pendapatnya.*

Jadi, dengerin aja dulu maunya apa. Biar dia bicara. Itu yang paling dulu dia perlu dapat. Masalah apakah kemauannya perlu diikuti atau tidak, patokannya adalah pada aturannya itu sendiri. Kalau bisa diikuti, ikuti. Kalau memang tidak boleh diubah aturannya, maka jangan diubah. Yang penting, apapun keputusan kita mengabulkan atau tidak permintaan anak, keduanya perlu reasoning/alasannya. Hindari mengatakan “Pokoknya kata bunda, gak boleh …!”

Sebetulnya proses ini pembelajaran buat anaknya, sehingga dia bisa tahu kemampuan bargainingnya sejauh apa. Anak juga belajar mana aturan yang bisa ditawar dan mana yang tidak. *Bagi orangtua, ini juga titik kritis apakah kita akan jatuh menjadi orangtua yang mudah bingung, tidak konsisten, dan terjebak pada target jangka pendek supaya anak tenang dan senang. Atau sebaliknya, kita mempersiapkan diri menjadi orangtua yang konsisten, fokus pada target jangka panjang dan bisa membedakan keinginan dan kebutuhan anak.”*

“Duh, tapi ngerepotin banget deh, Tante. Jadi lambat semuanya. Pas mau berangkat, tiba-tiba ngadat …. cape deeee ….”

“Iya sih … memang cape dan perlu kesabaran berlipat-lipat … Tinggal beberapa bulan lagi nih. Pada usia 3 tahun, bila tahap ini terlewati dengan baik, maka anak akan masuk pada masa initiative. Masa ketika anak mengembangkan kreativitasnya. Dia akan coba-coba dan membuat berbagai macam hal. Siap-siap deh rumah berantakan, hehe… *Tapi sebaliknya kalau tahap ini tidak tuntas terlalui, maka anak biasanya akan menjadi penakut berpendapat dan membuat sesuatu. Jadi sering merasa bersalah dan tidak puas dengan apa yang dicapainya.*

Nah, kita sebagai orangtua mau pilih mana? Mau anak yang berani berpendapat atau yang malu dan peragu? Keduanya kita perlu hadapi konsekuensinya. Tante percaya, kamu bisa melaluinya dengan baik. Yang sabar ya …”

“Iya Tante … “

*Teori Perkembangan Psikososial, Erik Erikson*

Yeti Widiati 010816

Cerita Toilet Traning Part 2

Lain lubuk, lain belalang. Beda anak, beda cerita. Cerita toilet training part 2 ini tentang pengalaman latihan toilet training anak saya yang kedua. Secara motorik anak sungsang saya ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan kakaknya. Belum ada 3 bulan dia sudah bisa tengkurap tanpa bantuan. 
Dan di usia belum ada 6 bulan sudah mahir duduk sendiri bahkan senang sekali lompat-lompat. Jadi bisa dibayangkan saat usianya 1 tahun sudah bisa apakah dia? sebelum laju jalannya bahkan Irbad sudah mahir memanjat apa saja mulai dari sofa, tralis, meja di ruang tamu bahkan rak bukupun dipanjat olehnya. Irbad bisa jalan tepat di usia 1 tahun 2minggu. Belum ada 2 minggu bisa jalan alhamdulillah Irbad sudah bagus koordinasi tubuhnya dan sedang belajar berlari.

Melihat perkembangannya yang bagus ini maka saya memutuskan untuk mulai mengajarkan toilet training kepadanya. Toilet training dimulai di usia 13 bulan dengan mencoba melepas clodi dari pagi hari hingga malam sebelum dia tidur. 
Alhamdulillah hari pertama saya berjalan dengan lancar.

First trial, saya biarkan Irbad pipis di celana seharian itu sambil saya amati frekuensi pipisnya setiap berapa jam sekali. Ternyata Irbad jauh lebih peka, awalnya dia pipis sembarangan akan tetapi setelah saya bilang “Irbad, kalau mau pipis bilang sama mama dulu”  dia bisa mengutarakan meskipun belum jelas ngomongnya.

Dengan sedikit bantuan bahasa isyarat dengan memegang celana sebagai tanda dia ingin buang air kecil. Berawal dari situ latihan pipis berjalan dengan lancar meski ada sedikit kotor di lantai dan harus ada adegan mengepel itu adalah hal biasa.

Saya bersyukur sekali cerita toilet training kali ini tidak penuh dengan drama seperti masnya dulu. Untuk poopnya pun Irbad sudah berhasil poop di toilet karena sesungguhnya lebih sulit toilet training pipis dibandingkan poop. Saat ini saya sudah berani mengajak Irbad pergi sebentar sejam dua jam tanpa clodi. 
Semoga tidak lama lagi Irbad bisa lulus toilet training, aamiin 
bye bye clodi 

Cerita Toilet Training Part 1

Ini istilah untuk belajar buang kotoran ke tempat yang benar, yaitu di toilet.
Semua manusia pasti menghadapi fase ini dlm hidupnya (kecuali orang yang udah gede masih poop di sungai) 
Sebenernya fase ini tidak sulit, tetapi tidak bisa dibilang mudah juga, dalam artian proses belajar tetap harus dilaksanakan dengan continue dan kesabaran yang tinggi dari orang tuanya (sama hal nya seperti fase menyapih, belajar mandi sendiri, belajar makan sendiri, dsb).

kenapa harus toilet training? 
Intinya jika kita sebagai orang tua menerapkan pola hidup mandiri sedini mungkin pada anak (tentu dalam usia yang sewajarnya), kita akan enak, bisa leyeh-leyeh dan lebih mudah mengajari hal lainnya serta beban hidup orang tua berkurang satu (kemudian nambah lima, haha) dan tentu saja, melatih anak menjadi seorang “manusia” yg lebih baik!!
Satu lagi, sejak lulus toilet training, lebih hemat kan. Bunda tidak perlu beli diapers setiap bulan (meskipun Faris menggunakan clodi tetapi ada kalanya saat bepergian dia mau tidak mau harus menggunakan drypers), lumayan kan uangnya buat beli buah, sembako, daging, dan lainnya..

 Kapan anak mulai bisa diajarkan toilet training? 
Sejatinya minimal setelah anak bisa duduk bisa diajarkan untuk tahap potty training (poop dan pee di potty (wadah), atau toilet training dengan memakai potty cover seat (membantu anak duduk di kloset). baiknya sih latih anak sedini mungkin untuk “terbiasa” pergi ke toilet ketika ingin poop atau pee. Ketika anak sudah bisa berbicara, latih mengucapkan kata “pipis” atau “pup”. kemudian kenalkan cara-cara untuk pipis dan pup yang benar, yaitu : pergi ke toilet, celana dibuka, lalu duduk pipis di toilet. 

Mau bisa toilet training secara instan?? Emang bisaa?? Latihannya harus pelan-pelan yaa, dan harus sabar plus konsisten pulaa.. pokoknya stok sabar yang banyak insyaAllah lama-lama jadi pinter deehh. . 

Faris memakai potty cover seat untuk belajar pipis n pup (io bahasa dia).


ini potty cover seat, pilih yang motifnya luculucu dan disukai anakanakbiar semangat


 kapan harus lepas diapers/popok sekali pakai (pospak)/pampers? 

banyak yang bertanya dan jangan berharap jawabannya : KETIKA IBU/BAPAK/PENGASUHNYA udah SIAP– (maksudnya siap REMPONG dan MAU kotor-kotoran)!! karena pasti GA AKAN pernah siaap, hihi, siapa yang mau yaa…. pipis berceceran di mana-mana, tiba2 ada *maaf* poop teronggok di karpet?? sehari harus berkali-kali ngepel rumah?? *hihi.. lupakan..lupakan..saya ga nakut-nakutin kok

jawaban yang betul adalah –> KETIKA ANAK SUDAH SIAP. parameter siapnya : sudah bisa berbicara (atau memberikan kode pup dan pee), mau diajak komunikasi (dalam berlatih kan perlu ngobrol, ya kan?), idealnya sih sudah bisa jalan (walaupun belum lancar) dan sudah mampu duduk tegak.

masalah org tua belum siap atau sudah siap, ya mau nggak mau, siap nggak siap harus siap doong!! percaya deh, u are what u think kaan!! kalo dibayangkan toilet training itu susaahh, repoott–> ya pasti akan REPOT!! tapi klo sugesti dengan kata-kata positif.. PASTI BISA KOK.. –> dengan sendirinya akan ENJOY dalam menjalaninyaa.. ya nggak?? lha wong yang dulu minta anak ke Allah siapaa.. pas udah dikasih kok ogah-ogahan ngerawatnya?? makanya TOILET TRAINING nya harus pake CINTA 

 kalo training pants itu apa? cara kerjanya gimana

Training Pants adalah celana dalam untuk latihan pipis si kecil, bisa menampung pipis 1-2x sehingga pipis tidak belepotan di lantai.. tapi membuat si kecil ga nyaman sehingga “memaksa” dia untuk pipis di kamar kecil.

jadi disebut juga.. CELANA UNTUK LATIHAN PIPIS,,

training pants motifnya lucu-lucu sama seperti clodi (popok kain ), bedanyaa.. kalau CLODI bisa berjam-jam pakai dan lapisan tetep kering, si training pants ini nggak STAY DRY jadi lapisan tetep basah, tapi nggak nyebabin belepotan kemana-mana (dalam frekuensi yang sedikit– ini dirancang untuk mamanya yang malas ngepel yaahh wkwk). Dan saya sudah coba terapkan ternyata sangat tidak membantu, yang ada Faris masih nyaman pipis di celana tanpa ngomong karena kemungkinan besar pipis di training pants tidak basah dan berceceran di lantai pipisnya jadi makin menjadilah kebiasaan pipis di celana tanpa pemberitahuan. Akhirnya jalan paling ampuh untuk misi toilet training adalah cukup pakai celana kain atau celana dalam biasa,  tidak sampai 3 hari Faris pun menjadi terbiasa. 

jadi yang mau toilet training, siap-siap dulu nyiapin ini celana yahh, tapi kalau mau langsung pakai CD (celana dalam) tanpa lapisan penyerap juga bisa, malah oke banget tuh!! buat si anak makin cepet belajarnyaa! (dan siapin lap pel yang banyak juga yahh hehe). 

pertama belajarnya gimana sih?

1) bilangin : sayang, kalau mau pipis atau poop bilang ya.. kalo faris dikasih tau : PIPIS atau IO bilang yaa, tar mama antarin ke toilet. 

2) Setiap 15menit sekali dan terus ditingkatkan sampai 1 dan 2 jam sekali, ajak pipis rutin ke toilet. Dan juga setiap mau tidur dan bangun tidur harus langsung diajak ke toilet.  Tak lupa mengajarinya cara cebok dan siram bekas pipisnya dengan benar.

3) Kalau udah pasang muka ngeden, segera angkut ke toilet!!

4) Kalau belum sampai toilet udah bocor duluan, jangan dimarahin yaa.. bilangin secara sabar : Naktuh kan belepotanlantainya basahharus di pel, kalau nggak lantainya licin n kepleset jadi mending pipis di toilet ya… atau : Naknanti tahan ya, jangan pipis dulu sebelum ke toilet, dsb. Hal ini memang sangat sulit dan menguras emosi. Akan tetapi lama kelamaan anak akan terbiasa. 

5) Selalu komunikasikan dengan orang rumah kalau anak mau toilet training agar mereka siap bantuin.. hihihi

6) Kalau bepergian agak jauh dan takut ga menemukan toilet, boleh kok pakai drypers dulu, tapi jangan “keenakan” mulu yah karena hal ini justru membuat anak kembali ke nol lagi. 

7) Sebelum tidur, ajak pipis dulu ke kamar mandi.. sekali kali pasti suka ngompol sih, wajar jadi biar aman pakai sprai anti air ya..

8) Kalau sudah berproses toilet trainingnya, jangan menyerah lalu pakaiin anak pospak lagi, nanti SUSAH memulainya laagiii!! :p

9) Kasih reward kalau anak sudah mampu pipis dan poop sendiri di toilet. 

kalau udah mulai tapi gagal terus gimana?? berapa lama sih lulus toilet training itu?

Hm, tidak ada sesuatu yang INSTAN, kecuali mie instan   Tidak ada yang namanya gagal, yang ada BELUM BERHASIL, dan tidak ada patokan tepat berapa lama seorang anak lulus TT(toilet training). Ada yang 1 bulan, ada yg 2 bulan, ada yg 1 tahun karena berkali-kali udahan dan mulai lagi deh dari awal jadi yang penting adalah stok sabar dan konsisten dalam melatih, pompa semangat dengan banyak sharing dan baca, dan banyak ngobrol sama anak (istilahnya di brainwash dengan dikasih tau berulang-ulang , biar masuk ke dalam otak kanan/alam bawah sadar nya)

 JADI KAPAN NIH mau mulai TOILET TRAINING nyaa??

DO IT WITH LOVE, pasti lebih berkesanlebih lancar, dan barokah pastinyaa..toilet training with love 

Mengasuh itu Membuat Kenangan

Malaikat kecil itu, menegadahkan tangannya sembari bibirnya berkomat kamit membaca sebuah doa tulus ikhlas..

‘Bismika Allah huma ahya, wa bis mika amut’ dan dilanjutkan dengan beberapa hafalan surat yang ia miliki, karena ia belum lancar menghafal 3 kul. 

Seorang ibu menyaksikan dengan dada penuh haru, di pinggir ujung tempat tidur sembari berdoa pada Ilah-nya, agar buah hatinya dipelihara dan ditingkatkan terus keimanannya hingga tarikan nafasnya yang terakhir kelak. 

Terbangun pagi, seorang ibu mau tidak mau mempunyai jadwal tidak tertulis didalam otaknya yang penuh dengan aktifitas dan tanggung jawab yang harus ia laksanakan hari itu. Tidak jarang, tanggung jawab dan tugasan tersebut saking banyaknya, mengalahi agenda Presiden bahkan menteri!
Sehingga, ketika si kecil dan apalagi si remaja yang bangun tidur dengan senyum diwajahnya, suka terlupa disapa. 

Ibu, yang harinya penuh dengan kegiatan, yang lebih banyak dari tidaknya adalah sebuah rutinitas, terkadang tergesa-gesa dan tanpa ekspresi mendengarkan cerita si sulung tentang kejadian lucu hari ini. Atau menjawab sekilas dan dengan mimik yang ‘rutin’ merasa kagum atas keberhasilan si abang meraih nilai tinggi di ujiannya pagi tadi. 

Sungguh, hal ini melulu sangat mengangguku. Oleh sebab itu, tidak akan lelah aku menulis tentangnya. Waktu

Ibu, tolong sediakan waktu. 

Setiap ada postingan yang mengingatkanku untuk memberi lebih banyak waktu untuk bermain dengan sang buah hati, selalu menimbulkan tetes mata yang menyeruak dari ujung mataku. Apatah lagi, seperti yang akan aku share di bawah ini. Yang kurang lebih mengatakan; ibu, hari ini anakmu tidak seperti kemarin. Hari ini ia lebih tua satu hari dari kemarin. Ia lebih besar satu hari dari kemarin, dan waktu kemarin yang berlalu itu, tidak akan pernah terulang kembali. Ibu sempatkan lah main dengan anakmu. Karena setiap hari baru, ibu akan kehilangan satu kesempatan untuk bermain diusianya di hari itu. Dan waktu itu, tidak akan pernah kembali lagi 😭

Congklak kah, mewarnai, bikin kalung dari makaroni, petak umpet, potong dan tempel, mengaduk adonan, mencuci beras… Semua itu hal kecil, tapi akan senantiasa terpatri di hati dan akal anak-anak kita. 

Pada akhirnya, jika ruh sudah dikeluarkan dari jiwa, bukan mainan mahal yang akan dikenang oleh mereka. Bukan pula buku sampul tebal berwarna warni yang tertumpuk apik di ruang baca. Bukan mobil mewah dan rumah besar, liburan ke London dan Disneyland yang akan terngiang-ngiang di telinga dan akal mereka. Tetapi hal kecil, curhatan sebelum tidur malam, kecupan serta pelukan. Lelucon yang bikin ketawa sampai sakit perut. Bermain dengan tepung sampai wajahnya berubah putih. Bercanda, gelitikan, main bisik-bisikkan. Itu yang akan diingat. Itu yang akan dikenang, itu…
yang akan membuat mereka menjadi orang tua yang asik dan penyayang pula kelak, kepada cucu cucu kita. 

Kasih sayang tidaklah mahal. 
Waktu adalah benda termurah yang paling berarti, yang bisa kau beri pada orang yang sangat kau cintai. 

Sebelum, terlampau letih

Sebelum naik tonasi karena berantakannya rumah hari ini. 

Duduklah ibu. Tinggalkan sejenak rutinitasmu, lepaskan letih dengan bersenda tawa, diantara tumpukan baju yg belum terlipat, diantara lantai yang licin yang belum sempat dipel, diantara tumpukan cucian piring yg memenuhi wastafelmu. 

Sungguh, anakmu tidak perduli akan semua itu. Lepaskan penatmu dengan bercanda bersama mereka, bacakan buku yang sejak tadi diminta untuk tolong dibaca. Senyum. Enjoy aja…

Selalu terpatri dalam jiwa saya.. Sepatah kata mutiara dari sang ibunda..

‘Mengasuh itu, adalah membuat kenangan’

Kelak seperti apakah engkau ingin dikenang?

#celotehan ibu yang belum rela membagi waktu mengasuh anak dengan profesi