Tantangan Hari Ke-15 : Mendidik Anak Harus Tahu Ilmunya

Mendidik anak-anak agar selalu patuh kepada orang tuanya merupakan sebuah tantangan bagi saya dan suami. Dalam proses panjang menuju keberhasilan pastilah dibutuhkan ilmu dan kesabaran yang harus dimiliki oleh kami, orang tua yang Allah percayakan amanah besar ini. Apalagi perkembangan saat ini, di mana sudah bukan zamannya lagi untuk mengancam anak baik dengan ucapan maupun pukulan. Untuk itu setiap orang tua hendaknya benar-benar memperhatikan metode yang dipakai untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Semalam saya membaca materi tarbiyatul aulad di channel belajar telegram bab pendidikan anak supaya taat kepada orang tua tanpa hukuman sama sekali. Berikut ini poin yang perlu saya perhatikan dan terapkan:
1. Ajarilah anak-anak peraturan-peraturan atau adab secara santun bukan dengan kalimat perintah apalagi nada yang tinggi.
Seperti kejadian hari ini, anak-anak saling bersahut-sahutan karena ingin dilayani terlebih dahulu. Sedangkan saya masih berkutat dengan material untuk bahan ajar hari ini. Di dalam pikiran dan lisan saya sudah akan keluar instruksi ”Jangan bersahut-sahutan jika meminta tolong!” namun cepat-cepat saya memohon ampun dan mengelola emosi. Saya harus merubah gaya bicara saya kepada anak-anak, kata saya dalam hati. Lalu saya berkata, ”Ayo, siapa yang ingin dibantu harus berbicara yang baik ya”, dan semisalnya. Dengan perkataan semacam ini, saya berharap anak-anak tidak akan merasa sebagai objek perintah tetapi mereka merasa diperhatikan dan menjadi subjek. Pada akhirnya harapan saya, mereka akan merasa dihargai sehingga juga bisa menghargai orang lain.
2. Menjelaskan kepada anak-anak bahwa selama hidup kita harus mengikuti aturan-aturan yang ada dengan baik dan kami sebagai orang tua pun terus belajar agar bisa membimbing mereka menjadi generasi yang lebih baik. Seperti halnya tadi siang sebelum tidur, sebagai ganti dari ucapan ”Kembalikan lagi mainanmu ke tempatnya!”, adalah lebih baik jika saya mengatakan ”Allah suka keindahan, kalau Faris kemas mainan Faris ke kandangnya pasti mainan Faris akan awet dan nggak mudah rusak”, apabila anak-anak menolak, maka kita bisa menawarkan solusi ”Gimana kalau kita kemas bersama-sama”.
3. Ketika anak berbuat salah, warning diri sendiri agar tidak mencela pribadinya, tetapi sandarkan pada perbuatan salahnya. Kita harus bersabar dan menjaga lisan, smpaikan ”Berantakin barang-barang itu nggak bagus”, jangan bertanya apalagi dengan gaya menekan ”Apa yang telah kamu perbuat?” Janganlah sekali-sekali melabeli anak-anak benar dengan bodoh atau malas karena akan melukai perasaan dan menjadikan mereka rendah diri
4. Terus menghargai keinginan-keinginan anak- anak. Apabila anak-anak mempunyai keinginan untuk memiliki semua mainan kala berbelanja di pasar, maka sebagai ganti dari kata-kata ancaman maka sebaiknya kita berkata kepada mereka, ”Boleh saja kalian menginginkan semua mainan ini, tetapi sekarang pilihlah satu saja dan yang lain untuk waktu yang akan datang. Allah tidak suka segala sesuatu yang berlebih-lebihan”, atau membuat kesepakatan bersama anak-anak sebelum pergi ke pasar dapat membuat keadaan lebih baik. Dengan belajar bersepakat anak-anak akan merasakan bahwa kami orang tuanya tetap memperhatikan keinginan mereka,mereka pun dapat belajar bersikap lebih bijak.
5. Melatih kepekaan dan belajar memahami anak-anak bahwa bisa jadi mereka tidak taat kepada perintah orang tuanya karena ada suatu masalah yang sedang mereka alami. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara bersama mereka dari hati ke hati. Berilah kesempatan kepada anak-anak untuk bicara dan usahakan tidak memotong pembicaraannya.
6. Hindari cara mengancam dan “menyuap”. Jika orang tua menggunakan cara ancaman secara terus-menerus supaya anak-anak taat maka kelak anak-anak akan mengacuhkan orang tua pula sehingga mau tidak mau kita akan terjebak dalam lingkaran saling mengancam. Demikian juga dengan “suap”, iming-iming ini akan menjadikan anak-anak tidak mentaati orang tuanya sehingga berujung pada situasi kita mau tidak mau mengatakan kepada mereka ”Mama akan memberikan mainan baru kalau kamar kalian bersih”, maka anak-anak akan menaati saya karena ingin mainan bukan melaksanakan kewajiban karena kebutuhan diri.
7. Memberi pujian dan apresiasi. Memberi pujian dan apresiasi perlu kita berikan apabila anak-anak mau bersabar menunggu orang tuanya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan pupuk pencapaiannya dengan memberikan selamat kepadanya ”Bagus, terima kasih anak shaleh” atau ”Jazakallahu khair” atau ”Pekerjaan yang hebat”, “Anak yang rajin”, sehingga mereka akan termotivasi melakukannya pada waktu yang lain. Sebagian orang tua terdahulu pun pernah memberikan hadiah kepada anaknya untuk memotivasi mereka seperti menghafal satu hadits dengan memberi mereka satu tanda bintang di pakaian, jika sudah lima atau maka mereka mengajak mereka jalan-jalan.

#level 1 #day15 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tantangan Hari ke-14 : Belajar Mengelola Emosi ketika Anak Berebut

Seringkali tanpa sadar ketika berbicara kepada anak kita menggunakan nada tinggi, dan tanpa kita sadari pula semua sikap kita sehari-hari menjadi contoh untuk anak kita. Bagaimana saya berharap anak saya akan bisa berbicara lemah lembut, kalau saya saja ngomongnya suka ketus atau teriak-teriak layaknya tukang angkot nyari penumpang😂

Jadilah akhir-akhir ini menjadi muhasabah diri bagi saya atas beberapa hal yang dilakukan oleh anak-anak yang bisa jadi meniru apa yang saya lakukan. Beberapa diantaranya adalah ketika si kakak berbicara kepada si adik dengan nada emosi. Disadari atau tidak, saya pun mulai menyadari bahwa emosi si kakak terkadang meniru gaya nada bicara saya yang suka kelepasan dan meledak-ledak.

Sehingga mau tidak mau, jika ingin emosi mereka tidak mudah meledak-ledak saya juga harus belajar cara mengelola emosi yang benar. Seperti sebuah nasehat anak adalah cerminan kita. Adakalanya saat mereka berebut mainan mereka akan melakukan hal-hal yang membuat saya semakin pusing dibuatnya.

“Jangan.. Jangan ini kan punya mas!!!” begitu teriak Faris ketika mainannya hendak dipinjam adiknya.

“Ibad mau……ibad mau make……..!!!” teriak adiknya nggak mau kalah.

“Ibad mau pinjem, ini kan masih dipake jangan diambil emang Ibad mau diambil mainannya? Makanya kalau nggak mau diambil jangan ngambil punya orang!!!” Begitu ancam Faris. Duh kalau gaya ngomong yang kaya gini ini perlu dirubah lagi.. jangan ada kata makanya.. makanya.. 😭

Tak sampai di situ, bukan hanya mainan. Bahkan saya pun tak lepas dari ajang perebutan mereka hanya untuk sekedar dipeluk. Saya harus terus belajar untuk bersabar mengarahkan mereka berdua untuk mau berbagi “saya”.

Biasanya kalau udah kejadian kaya gini saya tawarkan opsi yang menggiurkan ke kakaknya karena ia yang lebih mudah diajak bersepakat. Tapi kalau sudah ada maunya atau lagi cari perhatian ya alamat masnya tetap tidak mau.

Sehingga terkadang situasi makin memananas bahkan terjadi teriakan-teriakan histeris antara mereka berdua. Ternyata perebutan dan teriakan histeris tersebut cukup bisa memicu emosi saya. Saya yang tadinya masih santai menanggapi mereka, akhirnya malah pengen marah dan ngomel.
Dan perebutan diiringi teriakan histeris campur tangis keduanya itu tetap terus berlangsung. Lalu saya ingat, bukankah saya harus belajar mengelola emosi. Sehingga saya segera menarik nafas dalam-dalam.

Saya mengambil tindakan diam terlebih dahulu. Meski telinga terasa tidak nyaman, saya memperhatikan mereka berusaha mencari celah bagaimana harus berbuat. Setelah beberapa saat saya meemperhatikan, saya tetap belum berhasil menemukan celah, hingga akhirnya entah bagaimana salah satu dari mereka mau mengalah. Semoga dengan begitu mereka juga belajar mencari solusi dan memutuskan sesuatu.

Faris akhirnya terlihat kecewa meninggalkan adiknya dan memilih bermain yang lain. Ah lagi-lagi saya tidak berhasil menyelesaikan perebutan ini. Alih-alih masnya mau mengalah, sesungguhnya s
Ia terlihat kecewa dan menghibur dirinya dengan mencoba bermain yang lain. Sedihnya…😓

Jadi, misi komunikasi produktif dengan anak kali ini masih belum berhasil. Yang perlu menjadi koreksi dalam komunikasi dengan anak hari ini adalah

💌Belajar tenang menghadapi kehebohan anak-anak saat mereka berebut.

💌Meninggalkan mereka ketika terjadi konflik bukan solusi, usahakan untuk tidak mengancam atau menggertak bahkan meninggalkan mereka tanpa ada arahan.

💌Usahakan tidak mengancam dan mengalihkan perhatian pada mereka yang mengalami konflik

💌Kontrol intonasi suara.

💌Tarik nafas dalam-dalam sembari tatap anak-anak ketika akan berbicara dengan suara yang kalem.

#level 1 #day14 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tantangan Hari Ke-13 : Obervasi Diri dan Mengendalikan Emosi

Cerita hari ini menemani anak-anak belajar dan bermain di rumah begitu spesial. Rasanya hari ini poin komunikasi produktifnya bervariasi. Poin yang dijalani meliputi menunjukkan empati, mengendalikan emosi, observasi, dan BISA!

Pagi ini Faris meminta saya untuk mengajari membuat magic box dari kertas origani berwarna warni. Ia teringat kegiatan belajar melipat ketika mampir ke stand Rumah Belajar Trenggalek saat berkunjung ke Trenggalek beberapa bulan yang laku. Aktivitas pertama yang sempat terekam kamera adalah ia sudah mulai mau tekun berlatih dan mengikuti instruksi. Beberapa kali saya ingatkan padanya mengenai adab menuntut ilmu supaya terpatri ke dalam pikiran dan hatinya. Alhamdulillah kini pelan-pelan ia mau duduk dan menimba ilmu.

Tantangan selanjutnya justru muncul dari adiknya. Melihat masnya belajar melipat kertas ia pun ingin mencoba, Irbad ingin melakukan hal serupa. Akhirnya saya memfasilitasi Irbad juga. Saya berikan ia kertas origami sama seperti masnya dan saya berikan contoh serta memandu mereka untuk mengikuti arahan saya. Tetapi yang namanya batita dua tahun, rentang konsentrasinya belum cukup kalau nau diajak bermain lioat kertas wkwk. Jadilah ia meremas kertas origami yang sebelumnya ia lipat-lipat terlebih dahulu. Tak berhenti disitu, ia pun gemas ingin meremas kertas origami milik masnya. Nah, mulailah memanas situasi belajar kami pagi ini.

Saat mengamati mereka berdua beradu argumen kepala saya pun dibuat pening. Masnya ketakutan dan mengeluarkan reaksi berlebihan sambil ngomel kalau ia tidak ingin kertas origami buatannya rusak. Kemudian ia meminta adiknya untuk bersikap baik jika tidak ingin hasil karyanya dirusak. Disinilah saya melatih mereka berdua untuk menyelesaikan konflik dengan baik. Sembari saya terus mengingatkan Faris agar gaya berbicaranya tidak kasar atau berteriak sebab hal ini justru membuat Irbad bingung dan dicontoh oleh adiknya.

Bagian yang paling melatih pengendalian emosi adalah kebiasaan Irbad melempar barang, misalnya mainan atau obyek yang dijadikan rebutan.

Istilahnya repeating behavior. Pada perilaku ini, anak memang senang berulang kali menjatuhkan dan melemparkan benda-benda tertentu. Melalui perilaku berulang tersebut, anak sebenarnya sedang belajar mengenai pola sebab-akibat. Selain itu, ia juga belajar untuk mengontrol lingkungan dan melihat bagaimana lingkungan sekitar meresponnya. Sehingga, orangtua diharapkan sabar dan tetap memberikan respon positif pada anak untuk memaksimalkan proses belajat tersebut. (Dari buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun, #Ortu Belajar, Tiga Generasi, Jakarta:Wahyu media, 2016)

Apa respon saya sebelum ikut kelas Bunsay? Respon saya kadang diam saja, kesal, geregetan, meledak-ledak dan capek banget lihat ruangan berantakan. Begitu Irbad melempar atau menuang barang dan mengumpulkannya menjadi satu, saya coba berdialog dan tetap tenang.

“Wah, Irbad mau baca buku-bukunya, ya. Kita bikin gedung, yuk!”

“Gedung apa Ma?” tanya Faris sambil merapat ke tengah buku-buku yang melantai. Saya pun mencontohkan menumpuk buku ke atas satu per satu. Akhirnya, Irbad mau membantu menumpuk sampai tinggi dan dirobohin lagi. 😅😊

Oke, dalam hati saya berpikir positif sepertinya ia hendak melihat bagaimana reaksi saya saja. Kenapa begitu? Karena ia merobohkan buku atau barang-barang sambil tersenyum penuh arti😋

Sekian laporan game level 1 Komunikasi Produktif di hari ini. Semuanya jadi istimewa karena dilandasi cinta, semangat belajar, mengelola emosi dan diksi. Semakin tertantang dari hari ke hari.

#level 1 #day13 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Tantangan Hari ke-12 : Ganti Kata “Tidak Bisa” Menjadi “Bisa”

“Ma, mana garpunya? Kok nggak ada sih di tempatnya?” tanya Faris dari dapur.

“Ma.. Ma..”teriak dia dari belakang.

Kubiarkan dulu Faris berbicara yang baik tanpa teriak dan meminta tolong dengan cara yang baik. Tak lama kemudian ia berjalan mendekati saya.

“Ma, Faris lagi nyari garpu buat makan buah nih. Tapi Faris cari di belakang nggak ada, jadi Mama simpan dimana garpunya?”tanyanya memberondong.

Saya tersenyum melihat Faris menyampaikan kalimat tanya dengan lebih baik. Lalu saya mengajaknya berjalan ke dapur untuk membantunya mencari garpu. Ketika menemaninya makan, saya berusaha mengenalkan Allah secara konkrit melalui obrolan kami.

“Enak yaa mangganya?” tanya saya ketika ia mencoba makan buah mangga.
“Enak..Faris suka”,jawabnya cepat.
“Alhamdu.. lillah. Allah yang menciptakan mangga, Mas.”ulang saya.
“Allah yang menciptakan mangga bisa manis ya Ma?” tanya Faris sambil menunjukkan potongan mangga ya ia makan.
“MasyaAllah.. Iyaaa..Allah juga yang menciptakan berbagai jenis mangga.” sambungku
“Mangga indramayu ya, Ma?”, tambahnya
“Iya, beraneka ragam bentuk, rasa dan warnanya Allahlah yang menumbuhkan semuanya sehingga Faris jadi bisa makan mangga.”
“MasyaAllah..”, Faris mengikuti 😊

Semoga kami orangtua selalu bisa mencontohkan yang baik-baik, menggigit lidah sebelum berkata dan memuji/mengkritik anak dengan bijak.

🌹 🌹 🌹

Siang tadi Faris mengajak adiknya bermain susun bentuk puzzle. Faris menunjukkan bagaimana cara bermain puzzle kepada adiknya.

“Gimana nih Mas? Ibad nggak bisa,” kata Irbadh bertanya kepada masnya.
“Bisa kok…Ibad pasti bisa, pelan-pelan susunnya sampe match..”, katanya
“Gini nih caranya, lihat Mas Faris ya..”katanya sembari menunjukkan cara pasangnya.
“Ayo berusaha, pelan aja, nggak usah buru-buru”, sambungnya lagi.

Hihihi.. rasanya ketika mendengar percakapan mereka berdua saya jadi ingin ketawa, karena adiknya pun mengikuti instruksi dan mencoba memasang meski masih asal-asalan 😁.

Masya Allah.. Faris ternyata tanpa saya sadari ia menangkap apa yang saya contohkan pada latihan komunikasi produktif. Dia bahkan memotivasi adiknya dengan mengucapkan kalimat “ayo Irbad pasti bisa.. ayo berusaha!”

#Hari12
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#komunikasiproduktif
“Kuliahbunsayip

Tantangan Hari Ke-11 : Berbicara Baik itu Tanpa Berteriak

Alhamdulillah sudah masuk hari ke-11 latihan komunikasi produktif. Saya dan anak-anak masih terus mencoba menggunakan beberapa alternatif kalimat agar pesan bisa diterima dengan baik.

Terkadang, ketika anak butuh sesuatu dan kita sibuk juga melakukan sesuatu, kemudian disusul teriakan atau pertanyaan macam-macam pasti berujung pada rasa kesal. Tadi siang, Faris sibuk mencari mobil-mobilan diecastnya, dan saya sibuk membereskan piranti di dapur.

“Mama..mana mobil pemanen Faris yang warna hijau?”
“Coba cari di kontainer hijau Mas, di dalam kamar”, jawab saya dari dapur.
“Mana Ma?” jawab Faris sambil terdengar mencari.
“Mana sih Ma, kok gak ada.” gerutunya lagi.
Akhirnya kami saling membalas dengan teriakan, dan malah instruksinya tidak sampai 😥.

Lalu saya tersadar, kenapa tidak mendekat dulu kemudian memberikan pesan? Saya kemudian mendekati Faris dan menyejajarkan diri.

“Kemarin kan Mas main di kamar. Coba cari di dalam lemari yaa, dikeluarin kontainernya mana tau keselip atau jatuh.”instruksi saya.

“Iyaa.. Iya..” jawabnya sambil mencari-cari.

Dengan menghentikan kegiatan sejenak lalu mendekat, tidak perlu teriak-teriak,hehe..

“Hm, mama senang kalau Faris bisa cari sendiri”, saya menambahkan dengan senyum ketika ia berhasil menemukan diecastnya.

* * *

Tadi siang ketika Faris minta susu soya ia heboh dan berkata sambil berteriak dengan suara keras dan seperti diburu-buru, kubalas dengan kata “sabarlah, Fa” dengan nada kesal.

Malam ini saya mencoba memperbaiki kalimat saya sambil merendahkan suara agar komunikasi kami lebih produktif.

“Faris mau tempe goreng dong..Ma.”, pinta Faris dengan suara lebih pelan.

“Tunggu sebentar ya. Mama seneng dan berterima kasih loh kalau Faris mau tunggu sebentar. Ditunggu ya, Pak pesenannya akan segera diantar. “(Dengan intonasi suara lembut dan tersenyum layaknya waitress di sebuah restoran)

Tidak berapa lama, kuberikan tempe goreng permintaannya lalu saya ingatkan agar segera sikat gigi sesudah makan. Eh Faris malah minta maaf.

“Ma, Faris minta maaf ya.” katanya pelan.

“Loh..kenapa Mas minta maaf?”

“Faris kan salah..”

Saya duduk lagi menyejajarkan diri dengan Faris. Tubuh saya condongkan ke arahnya dan berbicara dengan lembut.

“Faris nggak salah, Mama ingetin Faris gosok gigi biar gigi Faris sehat. Mama senang kalau Faris rajin sikat gigi. Faris mau sikat gigi abis makan?”

“Mau”

Yang kami pelajari hari ini

Menghentikan sejenak aktifitas dan berkomunikasi dengan kaidah “Keep Information Short and Simple”

Mengendalikan intonasi, bahasa tubuh yang sesuai, menggunakan suara dan wajah yang ramah. Mengatakan apa yang diinginkan, bukan yang tidak diinginkan

Belajar menggunakan ungkapan-ungkapan yang memotivasi untuk mendorong tingkah laku yang baik.

#Hari11
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#Komunikasiproduktif
#KuliahBunsayip

Tantangan Hari Ke-10 : Belajar Mengendalikan Emosi, Mendidik Diri, Memberi Teladan Kemudian

Weekend kali ini saya bersama anak-anak bersantai di rumah saja. Dari kemarin kami belum punya rencana apa-apa untuk hari ini, pengennya bersantai, gegoleran aja di rumah. Secara papanya anak-anak ada kegiatan internal di kantor jadi kami pun bersantai di rumah saja. Menjelang siang hari, anak-anak memutuskan untuk bermain bola sedangkan saya memutuskan untuk membaca buku saja sambil menuggu jam makan siang di kamar tidur. Karena cuaca Batam yang menggalau, maka saya menyarankan agar anak-anak bermain bola di belakang rumah saja.

Ya, mereka bermain bola di dalam rumah.

Mereka biasanya menggiring bola dari belakang menuju ruang keluarga, dan menge-golkannya di kamar tidur tempat saya membaca. Terkadang, bila saya sedang kelebihan energi maka saya akan ikut meramaikan tim dengan meng-gocek bolanya.

Saat itu rutenya tidak seperti biasa. Entah kenapa, mereka inginnya bermain di dekat saya. Mereka bermain bola di dalam kamar, sementara saya tetap saja duduk di atas kasur sambil membaca buku. Awalnya bola masih terkontrol, tapi tiba-tiba dengan satu tendangan, bolanya sukses mendarat di wajah dan kena mata saya.

Duh. Rasanya tidak hanya wajah dan mata, tapi hati ini juga ikut nyes. Anak-anak seketika menghentikan aktifitasnya, dengan bahasa tubuh ketakutan sambil menunggu reaksi saya. Sambil menahan diri untuk tidak meledak, saya meminta mereka untuk segera keluar dari kamar.

Ketika sendiri di dalam kamar, saya berusaha mengendalikan diri sambil memejamkan mata membayangkan apabila saya tadi marah-marah, bijakkah bila saya marah?

Apakah marah saat ini akan lebih banyak mendatangkan dampak positif atau negatif setelahnya?

Apakah ini murni sengaja atau tidak?

Rasa sakit yang saya rasakan, lebih banyak di bagian yang kena bola atau egoku?

Apakah kejadian ini masuk dalam kategori berat sehingga saya harus marah besar?

Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di telinga saya. Beruntung saat itu saya dalam posisi di kamar dan mampu memisahkan diri dari pencetus emosi negatif.

Mengenang banyak kejadian di hari-hari setelah menyandang status “Mama”, rasanya banyak sekali kejadian spontan (yang dilakukan anak-anak), baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak- yang memicu emosi negatif. Kadangkala saya mampu berpikir jernih, tapi kadang meledak juga. Saya ingat-ingat kembali, saya biasanya akan bereaksi negatif secara spontan apabila saat itu dalam keadaan tertekan dan tidak bisa memisahkan diri dari sumber pencetus emosi.

Semua buku-pengetahuan-ajaran-ilmu seolah menguap dikuasai emosi. Dan setelahnya,, timbul rasa penyesalan yang sangat hebat, dan itu tidak mengenakkan. 🙁

Emosi bukanlah tentang benar atau salah. Takut, marah, sedih atau kecewa adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Yang penting kita tidak larut dalam perasaan negatif dan tidak mengambil keputusan penting saat emosi masih kacau.

Teringat sebuah kajian parenting dari gurunda Ust. Haikal Hasan yang begitu mencabik-cabik perasaan saya.

Setelah berdamai dengan diri sendiri, saya menghampiri anak-anak, dan menyampaikan dengan kalimat yang jelas, tanpa menyalahkan keduanya:
Mama merasa kesakitan (X) saat bola mengenai wajah dan mata Mama (Y) padahal Mama sudah duduk di bagian pojok kasur (Z).
Mereka berdua sambil menahan tangis meminta maaf, dan kamipun berpelukan.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Hari Ke-8 : Belajar Bersama Menemukan Problem Solving

“Ma, gimana ini cara buka paketnya?” tanya Faris sambil mengamati sebuah kardus yang merupakan paket kiriman dari Uti.

Saya lalu menunjukkan caranya “Begini Faris, coba Faris ambil gunting dulu biar gampang hehe”

Setelah ia mendapatkan gunting ia menghampiri saya dan berkata, “Ini, Ma silakan.”Saya kaget dan kepengen ketawa.

Saya suka caranya meminta dibantu karena dia sejak kecil memang pandai mengambil hati orang. Alih-alih langsung meminta dibukakan paketnya, Faris memilih bertanya “bagaimana caranya?”

Saya jadi teringat materi matrikulasi IIP yaitu “Belajar Bagaimana Caranya Belajar”.

Baca juga : Study Better With Mind Mapping

Melatih anak terampil bertanya adalah salah satu hal yang harus kita pelajari untuk mengasah intelectual curiousity, kreatifitas dan pemahaman anak.

Kalo untuk balita, kemampuan berfikirnya bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Jadilah..saya memutuskan untuk berlatih menerapkan apa yang telah saya pelajari itu. Dalam berkomunikasi dengan anak bisa kita selipkan beberapa kalimat tanya (How, Where, What, When, Who,Why, Which one) agar komunikasi menjadi lebih produktif.

Misalnya ketika ada masalah. Jangan pernah membandingkan menolak/ meremehkan perasaan anak dengan kata “masa sih..cuma segitu aja kamu blablabla”, akan lebih baik kalo kita berempati, bertanya bagaimana perasaanya, apa yang membuatnya merasa seperti itu?

Daripada menasehati dengan kata-kata “mestinya kamu ….”,“makanya …” tentu akan lebih baik jika mengajak anak berpikir apa yang baik atau tidak baik dilakukan, baru setelah itu kita bisa menyampaikan pesan.

Jangan menganalisa dengan kata-kata “ini karena kamu blablabla..seharusnya blablabla” tentu lebih baik jika kita bertanya ada apa? Kenapa sampai terjadi seperti itu dan apa yang harus dilakukan agar tidak seperti itu lagi?

Apabila kita berlatih menggunakan kata tanya dalam berkomunikasi insyaAllah bisa meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah, tidak selalu disuapi solusi.

Kalau anak sulit mengungkapkan perasaannya, bisa kita bantu dengan memberi nama perasaannya seperti “kamu sedih ya?” atau jika anak menunjukkan kesusahan karena kemampuan problem solvingnya masih terbatas bisa kita bantu mencarikan solusinya. Namun seperti yang dituliskan dalam materi cemilan “Prinsip Dasar Komunikasi Antara Orangtua dan Anak”

Orang tua sebaiknya pasang tombol alarm dalam diri agar ingat porsi yang cukup untuk menolong anak supaya mereka tetap dapat belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dan kemampuannya terus berkembang.

Percakapan latihan kami hari ini:

“Eh, mainan Faris berserakan ini di lantai. Tadi Faris lupa beresin ya sebelum tidur?”

Faris cuma senyum-senyum.

“Mainan Faris berserakan dan bercampur di lantai. Kalo kecampur jadi satu kaya gini nyaman nggak sih mainnya?” tanya saya kembali.

“Nggak Ma, capek liatnya. Pusing juga misahinnya”, jawabnya sambil menyortir mainan sesuai kategorinya.

“Biar mainannya nggak berantakan, seharusnya gimana ya?”

“Ya mainnya satu-satu, Ma. Kalau udah selesai dikemas dulu baru ambil mainan yang lain. Tapi bantuinlah Ma, capek nih”, jawab Faris sambil terus membereskan mainannya.

Wkwkwk..saya jadi ketawa deh 😂

“Ayok, Bad bantuinlah..yang nggak mau beresin mainan besok nggak boleh main ya. Sapa mau nggak boleh?”sambung Faris.

“Capekk Mas.” sambil gegoleran di atas kasur.

“Tapi besok nggak boleh main lagi ya, Bad. Yang mau main harus beresin mainannya.” kata Faris ke adiknya.

Lalu ia terus semangat melanjutkan beberes mainannya 😊.

#Hari8
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Tantangan Hari ke-7 : Faris Pasti Bisa, Semangat Berlatih!

Selama 6 hari latihan komunikasi produktif, alhamdulillah mulai nampak progress yang berarti di rumah kami. Dengan mengubah cara berkomunikasi, raut wajah ramah, intonasi dan pilihan kata yang baik memberi efek yang positif terhadap diri kita, saya pribadi dan anggota rumah. Kami lebih bisa mengontrol emosi, sering senyum dan tidak mudah kesal 😊.

Jika biasanya setiap saya meminta atau mengajak melakukan sesuatu, spontan Faris menjawab “Faris lagi capek nih, Ma” sekarang dengan memberikan pilihan, atau dengan bertanya “Siapa yang mau bantu, Mama?”, tentu saja tidak pakai galak anak-anak langsung berebut peran ingin membantu..hehe, saya sudah jadi lebih sabar dong. Aamiin 😁

Contohnya tadi pagi, selepas mandi Faris lama sekali tidak segera mengenakan baju. Saya bertanya “Faris, mau pakai bajunya kapan?” Lalu saya berkata, “Siapa yang mau Mama bacain buku ayo yang sudah pakai baju bisa baca buku sama Mama.”

Eh..nggak lama anak-anak langsung bergegas mengambil tempat untuk dibacakan buku.

Jika biasanya mengeluh dan minta dibantuin membereskan mainannya, sekarang alhamdulillah.. sudah mau membereskan sendiri. Cukup bilang dengan lantang dan ikut bermain role play.

“Ayo,kita bereskan Pak!!!”

“Mungkin ada di sebelah sana kontainernya, jangan sampai tertukar!”

“Kita harus berusaha, pasti bisa rapi mainannya!”

Ada lagi, saya senang Faris menunjukkan kemauan untuk belajar menulis. Setelah sekian lama akhirnya ia punya kemauan sendiri untuk melatih kekuatan jarinya dalam menulis.

Hari ini Faris sangat kooperatif. Yang biasanya mager ketika diajak beberes sekarang langsung mau. Anak-anak terlihat bersemangat membantu saya membereskan rumah karena kebetula saya pun sedang menyelesaikan tidying fesrival komono di dalam rumah ini.

Siang tadi setelah selesai makan, tiba-tiba Faris sibuk mengeluarkan satu box berisi pensil warnanya. Kemudian sibuk mengajak adiknya untuk mencoret-coret dinding kamar. Saya pun mulai menegurnya, “Faris jangan coret-coret di tembok, Mas. Kalau mau belajar tulis-tulis pakai kertas ya.”

“Nggak coret-coret, Ma. Faris mau belajar tulis yang garis-garis itu loh.” katanya

“Faris mau belajar sambung garis untuk nulis huruf?” tanya saya.

“Iya yang itu. Mana Ma kertasnya?”

Tiba-tiba Faris datang mendekatiku yang sedang sibuk beberes.

“Ma..Faris ambil sendiri ya kertas buat latihannya.” ujarnya sambil meminta izin.

“Wah, dah besar ternyata Mas Faris bisa ambil sendiri. Coba bawa kesini sambil Mama periksa Faris mau belajar yang mana.” instruksi saya sambil menyemangatinya.

Saya senang sekali, saya puji Faris karena sudah mau belajar menulis dan menyiapkan sendiri apa yang ingin ia pelajari hari ini.

“Waaah..Mas Faris hebat sudah mau belajar menulis hari ini.” Saya sangat excited ketika ia mau belajar menulis karena selama ini ia belum tertarik untuk latihan menulis.

Faris senyum-senyum

“Faris seneng?”

“Iya Faris mau latihan lagi besok. Ternyata Faris bisa Ma.” katanya meyakinkan.

“Iya, Faris pasti bisa kalau rajin berlatih lama-lama pasti makin bagus tulisannya.” tambah saya menyemangati.

Semoga besok makin lancar latihannya. Dan jika belum..kita harus terus semangat untuk latihan ya Nak..Semangat!

Apa yang menarik hari ini?

💌Keep information short and simple

💌Intonasi ramah dan eye contact

💌Fokus ke depan bukan ke masa lalu. Tidak perlu mengungkit-ungkit kesalahan anak dan terus menyemangati untuk belajar

💌Ganti kata ‘tidak bisa’ menjadi ‘bisa’ dengan berusaha/belajar

💌Ganti perintah dengan pilihan

💌Jelas memberi pujian (memuji usahanya)

#Hari7

#Gamelevel1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayip

Tantangan Hari Ke-6 : Belajar Menjawab Pertanyaan Anak

Faris adalah seorang anak yang selalu ingin tahu tentang banyak hal dan tidak pernah mau diam, baik tingkah polah maupun pikirannya. Anak ini senang sekali dengan buku apalagi yang ilustrasinya menarik dan banyak warna. Tiap kali saya meminjam atau membelikannya buku baru, ia langsung minta dibacakan bahkan sampai berulang-ulang hingga saya pernah ketiduran karena kelelahan membacakannya buku. Karena itulah akhirnya anak ini punya segudang tanya dalam otaknya, tentang banyak hal. Apalagi di usianya yang ke-4 tahun ia semakin kritis sekali, sering nanya ini itu, temanya pun beragam.

Hari ini ia minta dibacakan buku tentang Rukun Iman dan ada satu bab yang belum juga saya bahas yaitu tentang Hari Akhir (Kiamat) untuk anak-anak, bukunya memang menarik dan berilustrasi serta kertasnya juga bagus. Ia meminta saya membacakannya dua kali. Setelah saya bacakan, kelihatannya dia masih anteng-anteng saja. “Kok belum ada pertanyaan macam-macam ya…” pikir saya.

Eh… ternyata selang beberapa saat sambil membolak balik halaman buku tersebut, dia bertanya, “Ma, kenapa sih Allah nanti ngehancurin semua ciptaan-Nya?”

“Iya mas, pada hari kiamat nanti seluruh ciptaan Allah, bumi, langit, dan isinya akan dihancurkan, dan nanti akan diganti dengan alam yang lain.” jawab saya.

“Tapi, bukankah Allah sudah menciptakan manusia bagus-bagus, hewan bagus-bagus, tumbuhan bagus-bagus, bulan, bintang, matahari juga bagus-bagus, kok malah dihancurin, harusnya yang dihancurin itu yang jelek-jelek ajalah. Iya nggak Ma?” tanyanya lagi, belum puas. Mungkin dia menafsirkan apa yang sudah tercipta dengan bagus, ya sudah, tidak usah dirusak.

Saya mencoba memberikan penjelasan sebisa saya, saya mengatakan padanya, “Mas, pada hari kiamat nanti, semua yang telah diciptakan oleh Allah, akan hancur. Makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan, malaikat, jin, syetan akan dimatikan dan benda mati seperti bumi, bulan, matahari, bintang, planet, dan lainnya akan dihancurkan, baik itu bagus atau tidak, Allah tidak pandang bulu”.

“Trus, setelah dihancurkan bumi ini jadi apa, Ma? Kata Mama nanti bakal diganti dengan alam yang lain, alam apa itu?” tanyanya lagi masih menyelidik, karena pertanyaannya masih belum saya jawab sepenuhnya.

Waduh… anak-anak jaman sekarang memang pikirannya sudah jauh ke depan☺️ Tapi, ya gitu deh, emaknya jadi kewalahan dan bingung mau jawab apa, kalau tidak dijawab, nanti takutnya akan membunuh sikap kritisnya itu, kalau asal saja jawab malah nanti si anak akan punya konsep awal yang salah, apalagi ini pertanyaan yang masih abstrak dan sulit dijelaskan kepada anak usia dini.

Akhirnya saya menjawab dengan hati-hati dan semoga ini tidak salah, “Mas, setelah Allah menghancurkan alam semesta dan isinya pada hari kiamat nanti, maka Allah akan mengganti alam kita ini dengan alam yang baru, kalau saat ini kita berada di alam yang namanya alam dunia, dan nanti setelah hari kiamat, Allah akan mengganti alam dunia ini dengan alam yang bernama alam akhirat. Di alam akhirat nanti semua manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah dan akan ditimbang amal baik dan amal buruknya kaya yang kita baca di buku tadi. Kalau amal baiknya lebih banyak maka akan masuk surga. Sebaliknya kalau amal buruknya yang lebih banyak, maka akan masuk neraka. Mas Faris mau masuk surga atau neraka?” “Faris mau masuk surga lah…!” katanya bersemangat.

Saya pun teringat hadits yang diriwayatkan ketika dahulu ada seseorang pernah bertanya kapan kiamat terjadi. Kemudian Rasulullah bukan menjawab kapan terjadinya tetapi malah bertanya. “Apa yang sudah engkau siapkan? ”

Setelah orang tersebut menjawab bahwa ia belum punya ibadah yang banyak, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah bersabda, engkau akan bersama orang yang engkau cintai di surga.

Nah.. adeemm banget yah jawaban terakhir Beliau❤

Mengapa Rasulullah tidak menjawab? Karena kiamat hanya Allah Yang Tahu. Hak prerogatif Allah.

Mengapa Rasulullah malah balik bertanya? Karena menyiapkan diri jika terjadi kiamat lebih penting. 😭

Dari menjawab di luar konteks tersebut, kita ummatnya malah jadi tahu hal yang sederhana tapi ternyata besar di sisi Allah dan Rasul-Nya, mencintai Allah dan Rasul akan menjadi salah satu penyebab kita masuk surga.😭 aamiin

Nah dari hadits ini, bagaimana praktek menyampaikannya ke anak? Hari ini saya belajar

1⃣ Sesekali jika anak bertanya sesuatu yang ‘sudah Kekuasaan Allah’ jangan kita jawab ‘yaudah dari sananya’ sambil ketus pula. BIG NO! Saya harus mengenali situasi emosi diri sendiri ketika berkomunikasi. Kendalikan intonasi suara dan berusaha menggunakan suara lembut.

2⃣Kegiatan bertanya balik merupakan cara memberi feedback dan mengarahkan ke hal yang lebih penting dari pertanyaan itu.

3⃣Terakhir menutup obrolan dengan sebuah pemahaman penting.

Misal :

Faris pernah bertanya kepada saya, “Ma, kenapa manusia kakinya dua, tapi kalo kambing 4.”

Pernah saya ingin menjawab, ya udah kekuasaan Allah lah, Mas. Tapi mikir, kalo jawab kaya gini kok biasa aja ya. Pengen jawab yang luar biasa sekali-kali. Dan sejak menginjak 4 tahun makin kritis, saya udah nyengir duluan ngebayangin dia ngejawab lagi, “Mama mah kekuasaan Allah mulu.. ya tapi kenapa” 🤣🤣🤣 jadi adu mulut entar saya sama Faris🤣 lalu adeknya bengong jadi wasit🤣

Saya tarik napas, bismillah dalam hati, minta dikasih sabar dan lembut sama Allah. Terus jawab “Mas tahu gak siapa yang menciptakan manusia dengan 2 kaki dan kambing dengan 4 kaki?” (Mengalihkan dan mengarahkan)

Faris menjawab, “Allah”

“Iya Mas. Allah Al Khalik yang Maha Menciptakan. Hebat yah, ada manusia yang kakinya dua. Kambing yang kakinya empat.” (Menutup diakusi dengan pernyataan lebih penting)

“Hm iya yah. Cuma Allah yang bisa ya Ma.”

“Iya.Nanti ya kita cari tahu lagi lebih banyak lagi di buku.” tutup saya.

#Hari6
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip
#imansebelumquran
#adabsebelumilmu

Tantangan Hari Ke-5 : Belajar Menghindari Gaya Komunikasi Parentogenik

“Faris lagi main apa sih kok berisik banget suaranya? ” tanya saya pada Faris yang sedang melempar dan menuang mainan mobil-mobilannya.

“Itu loh ma, lagi mainan mobil.”Jawab Faris.
“Mainan mobil kok sampe kaya gitu suaranya, nak? Pelan aja loh..bisa rusak mainan Faris kalau cara mainnya begitu.”saya mulai mengingatkan.

Tiba-tiba mainan excavator yang sedang dimainkan Irbadh lepas bautnya dan…

“Mamaaa…. gimana nih?”tanya Faris dengan raut wajah sedih.

“Yah, itu sih bautnya lepas n ga bisa dipasang lagi. Udah nggak bisa dimain lagi lah Fa kalo rusak.”timpal saya.

” Mas.. Mas.. rusakin.” kata Irbadh.

“Maaf yah, Bad gimana dong ini betulinnya. Mas Faris nggak bisa.” Faris merasa bersalah dan panik.

“Udah jangan diapa-apain dulu, Mas. Coba cari bautnya yang lepas ada nggak?” tanya saya.

“Ada nih, Ma.”

“Oke,simpan dulu di rak nanti Faris minta tolong Papa untuk bantu betulin.”

“Iya..,” sambil mengemas mainannya yang rusak.

“Jadi Faris udah tau belum kenapa mainannya bisa rusak?” pancing saya.

“Ya, rusak orang Faris beresinnya cepet-cepet sampe kelempar,” jawabnya.

“Mama minta lain kali Faris pelan dan hati-hati kalau mainan atau beresin mainannya. Nggak harus buru-buru sampai dilempar-lempar kaya tadi. Kalau kesusahan boleh minta tolong yang bagus gitu loh, Nak.” nasehat saya.

“Iya.. Iya..,” jawab Faris agar masalah segera selesai.

Saya ulangi kembali bertanya padanya, “Jadi Faris udah tau belum kesalahannya tadi?”

“Udah, udah.. besok nggak gitu lagi. Maaf ya Ma,” jawab Faris sambil cengar cengir.

Sore hari ketika Papanya pulang. Seperti biasa anak-anak selalu menyambut dengan riang. Semuanya sibuk mencari perhatian dengan bercerita tadi siang main apa, baca buku apa dan memperlihatkan hasil bebikinan dari mainan konstruksi mereka masing-masing.

Ketika Papanya masuk kamar, Faris kemudian berkata, “Pa, excavator Irbadh yang hijau rusak. Bautnya lepas, tapi..tapi Mas Faris nggak bisa betulin.”

Hmmm..rupanya Faris masih ingat dan membuat pengakuan sendiri, berarti benar dia merasa bersalah.

“Rusak?” tanya Papanya.

“Tadi nggak sengaja.. nggak sengaja rusaknya. Tadi mas Faris beresin ke dalam kontainer tapi pas dimainin Irbadh tiba-tiba lepas bautnya.”kata Faris jujur.

“Kok bisa lepas sih Faris.. Faris..kalau punya mainan kan harus dirawat. Jangan dirusak-rusakin.”

“Hm, iya.. tapi..tapi tadi rusaknya nggak sengaja, Pa.” masih terus membela diri.

Kemudian dia berdiri dan menjauh hendak menunjukkan mainan excavatornya yang rusak.

“Papa marah nggak? Papa nggak suka ya kalau anaknya ngerusakin?”

“Nggak, Papa mau tau kenapa kok bisa rusak mainannya itu tadi gimana ceritanya?”

“Tadi Faris lagi mberesin mainan terus Faris cepet-cepet Pa. Terus Faris tuang aja semua ke dalam box biar cepet.”

“Terus kok bisa lepas bautnya itu kenapa?”

“Terus paa dimainin Irbad malah copot bautnya Pa. Terus nggak bisa dibetukin lagi.”, sambung Faris.

“Oh, tadi Faris beresinnya buru-buru ya pas masukin ke box. Pasti dilempar ya letakinnya?” tanya Papanya pelan.

“Iya, soalnya pengen cepet selesai tapi pas dimainin Irbadh malah lepas bautnya, “jawabnya lagi.

“Oh gitu, yasudah coba bawa sini excavatornya Papa lihat dulu.”

“Ini, Pa.” Sambil menyodorkan mainannya. “Masih bisa dibetulin nggak, Pa?”

“Masih kok, cuma kayanya ini ada satu baut lagi yang hilang. Lain kali lebih hati-hati lagi ya,” kata Papanya sembari mencoba merepair excavatornya.

“Maaf ya Pa, jadi rusak mainannya.”

“Iya, lain kali hati-hati ya dirawat mainannya. Dah dikasih rezeki sama Allah harus dijaga, jangan dirusakin.”

Dan saya berusaha menyelipkan refleksi pengalaman. Ya! semua orang pernah berbuat kesalahan, apalagi yang tidak disengaja..
Saya juga pernah tidak sengaja memecahkan meja, gelas dan piring ketika kecil.

Bisnillah, saya mencoba membuka percakapan bersama Faris. Kami berdua memang senang berbagi cerita, baik cerita sedih, lucu, bahagia bahkan cerita masa kecil saya.

Saya pun memiliki waktu yang pas dan tenang untuk menyelipkan pesan. Saya rasa itu perlu, agar anak tidak merasa kami menganggap dirinya selalu salah. Semoga pesan nasihatnya tersampaikan 😊

Jadi teringat sebuah tulisan bunda Elly Risman, M.Psi yang menyatakan bahwa ada 12 parentogenik penghambat komunikasi yaitu:
1.Memerintah
2.Menyalahkan
3.Membandingkan
4.Meremehkan
5.Mengancam
6.Mengeritik
7.Memberi cap
8.Membohongi
9.Menghibur
10.Menasehati
11.Menyindir
12.Menganalisa

Tanpa sadar sudah seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, baik ketika ada masalah, maupun tidak.

Dalam hal ini kami sedang belajar menghindari di antaranya ketika anak sedang ada masalah. Kami mencoba tidak menyalah, memberi cap dan menasehati di saat yang tidak tepat.

Nasehat yang baik bisa menjadi tidak efektif jika dilakukan di waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak tepat, meskipun maksudnya baik. Ketika menasehati dengan menyalahkan perbuatannya, bisa timbul kesal dan menjadi penghambat komunikasi. Anak perlu diterima perasaannya dahulu, agar merasa dihargai, tidak selalu merasa disalahkan sehingga bisa tumbuh menjadi percaya diri.

Memberi nasehat sebaiknya tidak menggurui, akan lebih baik jika memasukkan refleksi pengalaman di dalamnya, seperti “Nggak papa kok..kan nggak sengaja. Mama pun pernah menjatuhkan barang dan pecah. Mama minta maaf ya, boleh kita bereskan sama-sama.”

Yang kami pelajari hari ini:

💌Mengatakan dengan ringkas dan jelas (kaidah Keep Information Short & Simple) agar anak mampu memahami setiap kalimat yang kita sampaikan.

💌Berbicara dengan pelan, tidak terlalu cepat dengan intonasi suara dan bahasa tubuh yang sesuai.

💌Berempati, menerima perasaan anak sehingga membuatnya lebih nyaman.

💌Menggunakan kalimat positif, tidak menyalahkan, memberi cap “memang kamu selalu rusuh, tidak hati-hati dan membuat berantakan😳” dsb.

💌Fokus pada solusi

Terima kasih untuk hari ini ya, Faris sudah mau jujur dan Papa mau belajar komunikasi produktif bersama 😘. Kita harus terus latihan..latihan..latihan.

#Hari5
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip