Langkah Kecil Mengolah Sampah Rumah Tangga

Semakin banyak sampah, maka semakin banyak masalah untuk kita. Untuk mengurus sampah tentu diperlukan biaya, waktu dan tenaga. Jadi apa yang bisa kita lakukan demi lingkungan yang lebih baik? Sampah rumah tangga sangat ideal dijadikan kompos karena selain dapat dimanfaatkan dalam bentuk kompos, lingkungan pun terhindar dari pencemaran. Selain sampah rumah tangga, cara ini dapat pula diterapkan untuk sampah sisa-sisa dari pasar yang sebagian besar berupa sampah organik. Bagaimana cara mengolah sampah dari dapur kita? Untuk mengolah sampah rumah tangga, diperlukan alat yang biasanya disebut komposter.

Praktek cara membuat alat pengolah sampah menjadi pupuk kompos cair saya pelajari ketika merintis rumah organik trenggalek. Dulu sekali, orang-orang desa tidak bingung mengatasi sampah organik rumah tangga mereka karena otomatis diolah menjadi pupuk kompas. Masyarakat khususnya di pedesaan telah lama memiliki metode praktis dalam pengolahan sisa bahan organik yang datang dari rumah. Bagaimana caranya?

Komposter Lubang Tanah (Lubang Biopori)

Daun-daun yang gugur dari pohon yang ada dirumah, ranting muda juga sisa bahan sayur dapur otomatis dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang khusus dibuat di dalam tanah. Jika lubang telah penuh bagian atasnya maka dapat ditimbun dengan tanah dan dibuatkan lubang baru di tempat lain. Begitulah cara masyarakat desa mengolah sampah. Sampah yang ditimbun dalam tanah secara alami akan terurai sehingga menjadi pupuk yang menambah kesuburan tanah. Dari bekas-bekas lubang sampah di dalam tanah ini kemudian dapat ditanam berbagai macam tanaman atau diambil medianya untuk bertanam.

komposter anaerob sumber img : http://clearwaste.blogspot.co.id/2008/10/sekali-lagi-komposter-anaerob-serba.html

 

Baca juga : Bagaimana Cara Memulai Green lifestyle?

 

Membuat Komposter Sampah Dapur dari Drum/Ember Bekas

Di tengah makin terbatasnya lahan untuk mengolah sampah secara tradisional, komposter mini skala rumah tangga hadir sebagai alternatif yang dapat dibuat untuk mengolah sampah organik dapur menjadi pupuk kompos sekaligus pupuk cair. Kegiatan ini merupakan salah satu family project di rumah kami, pencetus idenya tentu saja Faris. Ya, ia ingin mewujudkan mimpinya agar bisa mandiri mengolah sampah dan menghasilkan energi terbarukan. Back to topic, mari kita mulai membuat komposter ala-ala di rumah.

Bahan-bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat komposter antara lain :

1.Drum ember bekas atau tong plastik yang mempunyai tutup.

2. Pipa pralon berdiameter 4 inci,

3. Kasa plastik untuk menutup lubang pipa bagian luar

4. Batu kerikil.

5. Pisau, gunting, gergaji,bor.

6. Saringan, bisa dibuat menggunakan tutup ember bekas kalau ada.

7. Kasa sebagai penutup, selain untuk menahan lalat, kain kasa berfungsi menyaring cairan dari bahan padat. Bahan padat yang masuk ke dalam pipa seringkali membuat kran air menjadi tersumbat.

 

Bahan Starter :

  1. Gula atau tetes tebu 1-2 ons
  2. Air kelapa kira-kira 1 liter
  3. Air bekas cuci beras 500 ml
  4. Air bebas kaporit dan detergen, bisa pakai air hujan atau sumur
  5. EM4 5 sendok makan (pabrikan) sama fungsinya dengan poc atau mol

Catatan Teknis Pembuatan Starter :
Cara membuat mol (Mikro Organism Local) sama dengan Poc (Pupuk Organic Cair) untuk ukuran satu toples.

  1. Persiapkan sisa-sisa daun hijau atau sisa bahan untuk sayur (ini mengandung unsur Nitrogen), sisa-sisa buah yang sudah busuk atau kulit buah yang sudah masak (ini mengandung unsur Kalium), kemudian umbi-umbian yang busuk atau bonggol pisang yang masih muda atau daun yang kering (ini mengandung unsur Pospor). Total bahan semua kira-kira setengah kilogram.
  2. Campur bahan nomor 1 dengan gula atau tetes tebu sebanyak 1-2 ons, air kelapa kurang lebih 1 liter, air bekas mencuci beras 500 ml, air bersih bebas kaporit dan deterjen, EM4 kurang lebih 5 sendok makan untuk mempercepat fermentasi. Tetapi kalau tidak ada bisa diganti dengan tape atau tempe busuk kemudian diblender sekalian tape atau tempe busuk tadi.
  3. Kemudian masukkan ke dalam toples dan tutup dengan koran. Atau tutup rapat-rapat tetapi setiap pagi dibuka dengan suara gas beracun. Lalu tutup kembali dan harus di simpan di tempat yang sejuk dan tidak terkena matahari.
  4. Apabila setelah 24 jam ada gelembung. Maka artinya fermentasi berhasil dan bau asam dan menyengat. Hati-hati baunya mengikat oksigen. Tunggu sampai 15 hari kemudian disaring. (dapat diaplikasi ke media tanam 1 persen saja dari jumlah air sumur serta tidak boleh kena daun dan batang.
  5. Perbandingan untuk jumlah fermentasi pembuatan kompos bisa 1 mol : 6 air : 1 gula/ tetes tebu.

Setelah disemprot/dibasahi dengan cairan starter ini, baru bahan-bahan dimasukkan ke dalam komposter. Proses ini dapat dilakukan setiap saat hingga komposter penuh. Untuk rumah tangga yang aktif masak dengan jumlah anggota keluarga cukup banyak, dalam waktu satu mingguan saja komposter sudah penuh.

sumber : http://dusunmekarsari.blogspot.co.id/2012/01/pupuk-organik-dari-sampah-kota.html

Cara pembuatan wadah komposternya sebagai berikut :

  1. Siapkan peralatan dan ember/tong/drum yang akan dibuat sebagai wadah komposter. Bagian atas tong plastik diberi 4 lubang diameter 4 inci untuk memasang pipa. Bagian bawah juga dilubangi dengan diameter yang sama, sebanyak 4-5 lubang, lalu ditutup kasa plastik sebagai jalan air. Ujung pipa bagian luar ditutup kasa plastik untuk sirkulasi udara.
  2. Pipa dilubangi dengan bor sebesar 5 mm setiap jarak 5 cm. Tong juga dilubangi 5 mm dengan jarak 10 cm untuk udara. Bagian dalam ember dipasang instalasi pipa pralon. Susunannya dapat dilihat pada video tutorial via youtube. Selain potongan pipa, yang diperlukan adalah sambungan T dan sambungan siku juga sebuah kran air.
  3. Pasang pipa pada empat sudut tong. Tempatkan pada bagian yang tidak kena sinar matahari atau hujan secara langsung. Tepi tong ditutup batu kerikil setebal 15 cm. Demikian juga sekeliling pipa ditutup kerikil, baru ditutup tanah. Tempat sampah biasanya berbau karena sampah organik cepat membusuk sehingga diperlukan kerikil untuk meredam bau tersebut.
  4. Saringan cairan dalam ember dapat dibuat dari tutup ember bekas yang diberi lubang secara merata. Lubang-lubang yang sama juga dibuat pada pipa pralon PVC di dalam ember. Fungsi lubang ini untuk proses pertukaran udara karena komposter ini menggunakan sistem aerob. Untuk menempatkan pipa dan pralon ke dalam ember lubang-lubang bisa dibuat dengan menggunakan bor.
  5. Tong tersebut diisi dengan sampah rumah tangga atau sampah sisa makanan, tetapi jangan diikutkan dengan kulit telur dan kulit kacang sebab sukar menjadi kompos.
  6. Setelah penuh, tong ditutup dan dibiarkan selama 3-4 bulan, agar lebih cepat gunakan bioaktivator atau bakteri starter untuk proses pembusukan sampah dan akan terjadi proses pengomposan. Sampah yang sudah jadi kompos berwarna hitam dan gembur seperti tanah.
  7. Sampah itu juga tidak mengeluarkan bau karena alat itu dilengkapi pipa-pipa vertikal yang dipadati dengan kerikil di sekitarnya untuk mencegah keluarnya gas yang terjadi selama proses pengomposan.Hasil akhirnya adalah kompos dan cairan yang bisa digunakan sebagai pupuk. Karena kami dulu tidak sempat merekam maka penampakan bagian dalamnya jika dilihat kurang lebih seperti ini:

Tips yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sampah dapur dengan komposter antara lain:

  1. Dalam komposter tersebut akan bermunculan belatung, sebab yang kita olah adalah sampah organik yang mengalami pembusukan. Kehadiran belatung itu justru dinantikan karena tugasnya melahap sampah dapur. Supaya belatung tidak berkeliaran maka tutup tong harus dijaga dalam keadaan rapat.
  2. Penempatan kompos sampah rumah tangga ini harus hati-hati, tidak boleh terlalu dekat dengan sumur yang dangkal karena bisa mencemari. 
  3. Wadah dapat dibuat dari ember bekas, drum, tong sampah atau jerigen bekas berukuran besar. Bahan yang digunakan baik berasal dari plastik bukan logam agar tidak berkarat.
  4. Sampah biasa identik dengan lalat. Begitupun juga komposter ini. Untuk meminimalkan komposter menjadi tempat bertelur lalat, kain kasa perlu dipasang pada lubang-lubang udara yang ada. Termasuk juga lubang-lubang pada pralon di dalam ruang ember. Jika masih juga muncul belatung biasanya bahan yang dimasukkan ke dalam komposter telah dihinggapi telur lalat sebelumnya.
  5. Kumpulkan sampah dari dapur setiap hari dan masukkan ke dalam komposter pada sore hari. Sebelum dimasukkan ke dalam komposter, sisa-sisa bahan dari dapur ukurannya diperkecil. Diiris dengan pisau atau dengan gunting, jangan lupa disemprot mol atau poc yang akan membantu proses pengomposan berlangsung lebih cepat.
  6. Untuk komposter yang terbuat dari tong atau drum yang cukup panjang badannya, bisa ditambahkan satu lubang pintu pada dindingnya. Fungsinya untuk mengambil kompos padat yang sudah matang mulai dari bagian bawah. Saringan bisa dimodifikasi dengan dibelah kemudian digabung lagi dengan kawat yang difungsikan sebagai engsel agar bisa buka tutup. Tempatkan saringan yang berengsel tepat di atas kran air.

  7. Lakukan panen pupuk cair ini secara teratur. Pembersihan alat ini secara berkala tetap diperlukan untuk membersihkan endapan lumpur di bagian alas tabung komposter karena volumenya semakin lama semakin naik.

  8. Untuk saringan penahan masuknya lalat di bagian dalam baik tidak dibuat dari kain kasa. Kasa terbuat dari kain akan mudah hancur dalam hitungan minggu. Baik diganti dengan ram kawat lubang kecil-kecil penahan nyamuk yang banyak dijual di toko besi atau bangunan.

komposter sampah di rumah kami

Dalam proses pengomposan ini, selain menghasilkan pupuk padat juga menghasilkan pupuk cair. Cairan ini selain berisi sisa air starter kompos yang berisi mikroba juga cairan yang keluar dari bahan organik yang membusuk. Cairan yang terkumpul di bagian bawah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Pupuk cair perlu diencerkan sebelum dipakai. Sejumlah praktisi di komunitas KOI memberikan resep satu bagian pupuk cair ini dicampur dulu dengan air dua puluh lima bagian baru diberikan pada tanaman. Bagaimana dengan teman-teman yang lain adakah yang punya pengalaman dalam mengolah sampah dapur? Sharing dong  😉

Menurut pengalaman, komposter model ini ternyata rawan tersumbat. Meskipun sudah ada saringan, karena partikel kecil yang tersaring dapat membentuk endapan lumpur akhirnya lubang-lubang yang dibuat pada pipa menuju kran menjadi tertutup. Akibatnya kran menjadi tersumbat pula. Sumbatan tetap saja terjadi meskipun lubang kran sudah ditusuk kawat panjang berkali-kali. Jadi apapun itu, yuk kita mulai memilah dan mengolah sampah dari dalam rumah kita.

 

 

 

 

Referensi :

[1]Penangan dan Pengolahan Sampah, Tim Penulis PS

[2]http://bungsu-tabalagan.blogspot.co.id/2012/11/mikro-organisme-lokal-mol.html

[3]http://dusunmekarsari.blogspot.co.id/2012/01/pupuk-organik-dari-sampah-kota.html

Personal Branding #KeluargaGalih

Di era teknologi digital seperti sekarang, banyak orang sukses dengan memanfaatkan media sosial. Seseorang yang awalnya biasa-biasa saja, bisa menjadi terkenal karena melakukan personal branding yang tepat.

Mengutip Wikipedia, personal branding merupakan proses ketika seseorang dan pekerjaannya dijadikan sebuah brand. Sebagai contoh, Bapak Emil melalui media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya, memberikan informasi kepada publik tentang siapa dirinya dan kegiatan-kegiatannya.  

Personal branding penting untuk membangun reputasi positif seperti yang seseorang inginkan. Terutama jika kita adalah seorang pelaku bisnis atau ingin mengembangkan karir. Apabila personal branding sudah terbentuk, maka akan banyak keuntungan yang menghampiri kita.

Misalnya pelanggan atau klien akan lebih percaya, informasi tentang bisnis kita pun lebih mudah menyebar, prestige meningkat, kita juga akan dipandang sebagai ahli di bidang tertentu, dan manfaat-manfaat lainnya.

Namun, bagaimana jika seperti saya, yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga? Perlukah personal branding? Tergantung apakah ingin membangun reputasi atau tidak. Menurut saya sih ibu rumah tangga pun perlu juga melakukan personal branding.

Adakalanya ibu rumah tangga juga kumpul-kumpul kan, misalnya waktu arisan, pengajian atau kegiatan berkomunitas. Di media sosial ibu-ibu juga perlu personal branding. Yang terpenting, jangan sampai kita salah memproyeksikan image kita. Apalagi kalau ibu kan bawa nama anak dan keluarga.

Jika ingin memulai personal branding di media sosial? Kita sebaiknya mengambil spesifikasi tentang diri kita. Langkah awalnya: Anda siapa dan ingin dikenal sebagai apa?

My Home Team

Setelah obrolan panjang sehingga kami memilih nama keluarga kami #keluargagalih. Tanya kenapa? Karena suami sebagai leader, dan beliau lebih suk menggunakan ma yrtdr&cb , nhh memilih #lebih nyaman menggunakan namnpan

Definisi GALIH menurut kamus besar bahasa indonesia :

1. teras kayu yg keras dan berwarna hitam krn tuanya (lha ini yg agak pas…tapi kenapa nyangkut-nyakut tua dan berwarna hitam ya hiks

Sedangkan dalam bahasa Jawa, GALIH mempunyai makna sebagai perasaan terdalam seseorang. Berasal dari kata penggalih sebuah kata krama inggil (kata dalam strata tertinggi dalam bahasa Jawa) yang berarti perasaan, rasaan kalbu.

Umar Kayam dalam Para Prih menggunakannya sebagai sebuah simbolisasi (sanepan) dalam nama sebuah desa yaitu Wanagalih . Wana yang merujuk pada hutan dan galih pada perasaan terdalam. Bukankah belantara hutan identik dengan pohon-pohon besar dengan galih yang berlapis-lapis karena waktu? Sebagai sebuah lapis terdalam dalam diri seseorang, galih tentu juga menjadi simbolisasi tentang betapa sebuah perasaan terdalam kuat atau lemahnya terbentuk oleh usia. Usiapun tidak harafiah berarti umur biologis. Lapis terdalam inilah yang menjadi patokan untuk menilai kualitas. Berkait dengan pohon, GALIH menjadi ukuran untuk menilai kualitas kayu yang bagus dan tidak. Dan karena keluarga kami dilahirkan dari jawa maka arti kata dari bahasa jawalah yang dipilih. Harapan pemilihan nama ini agar keluarga kami orang, GALIH juga menjadi alat ukur kebijakan dan kedewasaan orang seorang dalam menghadapi hidup dan kehidupan.

Visi misi keluarga muslim bagi keluarga kami

Pertama,
❤️VISI:
666 (At Tahrim: 6)

❤️MISI:
NASIHAT LUQMAN

Baca juga : Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam)

Kedua, ketiga dan keempat dst …. menyesuaikan dengan apa yg ingin dicapai keluarga. Misalnya, sementara ini keluarga kami tumbuh di sebuah kota industri, Faris anak sulung kami memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi. Di Batam, ia bisa jadi belajar bahasa dan komunikasi untuk menunjang kesuksesan berhubungan dengan yang lain.

Untuk anak kedua kami, Irrbadh yang fokus dan tekun bermain dengan hal-hal yang berhubungan dengan elektro dan pertukangan. Maka mungkin nanti akan kami coba fasilitasi ia untuk mengikuti kelas robotik.

Itulah indahnya PBK alias Pendidikan Berbasis Keluarga, semua customized, namun tentunya membutuhkan doa dan kerja keras untuk melakukannya.

Menurut keluarga kami, panduan setiap tahun hanya tersedia bagi guru yang harus melaporkan perkembangan anak didiknya. Tapi dalam Islam, yardstick itu ada sesuai syariat. Misal, usia 7 tahun anak sudah bisa diajak shalat. Maka kurikulumnya adalah fiqh shalat hingga cara berkomunikasi ala Rasulullah bagi orang tua agar anak mau shalat.

Usia 10th, adalah saat anak sudah aware bahwa dia harus shalat dan mengetahui dirinya. Maka kurikulumnya adalah ilmu2 diin tg dibutuhkan menjelang baligh, agar saat baligh anak sudah siap berranggubg jawab dengan diri sendiri.

Yg harus dilepas dalam PBK ini adalah pola-pikir sekolah yg semua harus seragam, semua harus nilainya 100, semua harus bisa semua pelajaran di akhir tahun. BUKAN! Sebagaimana setiap anak adalah unik, maka pembelajaran ilmu agama pun disesuaikan kecepatannya.

Itulah tadi sedikit cerita mengenai profil keluarga kita. Jika ingin tahu keseharian keluarga kami dan kegiatan apa saja selama membersamai anak-anak silahkan berkunjung ke platform blog pribadi keluarga kami di portofolioanak.com.
Blog ini berisi junal harian rekam jejak kedua anak kami, alfarisi dan alirbadh. ❤️

Bagaimana Cara Memulai Green Lifestyle?

Pernah dengar slogan “Go Green”, atau slogan kampanye lainnya? Slogan tinggalah slogan semata, jika tidak diiringi usaha nyata, milyaran rupiah pun tidak ada artinya bagi program Go Green.

Kebanyakan slogan seperti itu muncul dalam rangka menyelamatkan bumi dari bahaya Global Warming. Apa itu Global Warming? Global Warming atau pemanasan global merupakan proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Penyebab utamanya adalah peningkatan efek rumah kaca. Peningkatan ini berefek volume air laut yang meningkat akibat mencairnya es di kawasan kutub utara dan selatan.

Tak hanya itu, perubahan iklim yang sangat ekstrim dan meningkatnya suhu permukaan bumi terjadi akibat Global Warming. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi? Bumi tempat kita berteduh jelas memerlukan sentuhan lembut dan kepedulian tangan manusia agar alamnya tetap hijau, alami, dan nyaman untuk disinggahi.

Harus Mulai Darimana?

Apa itu Green Lifestyle? Apakah harus serba hijau, rumah dicat hijau, pakai baju hijau, rambut warna hijau, atau badan kita juga harus hijau seperti tokoh karakter HULK? Big NO! Itu bukan esensi dari Green Lifestyle. Green Lifestyle merupakan tindakan kepedulian kita terhadap lingkungan.

Green Lifestyle merupakan gaya hidup dengan mind set yang menjadikan bumi benar-benar sahabat manusia dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai objek eksploitasi untuk memenuhi kehidupan manusia.

Untuk memulai Green Life Style, kita tidak harus memulainya dengan perubahan drastis dan mahal. Cukup memulainya dari hal-hal kecil yang biasa kita lakukan sehari-hari. Mulai dari makanan, fashion, mengelola sampah, pemakaian listrik, pemakaian ponsel, dan hal kecil lainnya.

Rumah dan Lingkungan

Saya pribadi mencoba untuk memulai menanam sayuran dan buah-buahan yang biasa dimakan di belakang atau halaman depan rumah. Anak-anak dan suami sangat bersemangat memulai project bercocok tanam. Selain menghemat uang, kami pun dapat menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta. Pengelolaan sampah juga kerap diabaikan oleh sejumlah orang. Hal kecil yang kami lakukan di rumah adalah memilah sampah non-organik dan organik serta menempatkannya pada tempat sampah berbeda. Kita juga bisa memanfaatkan sampah non-organik seperti plastik kemasan dan botol minuman plastik untuk dijadikan kerajinan tangan. Kalau tidak sempat kita juga bisa menabung di bank sampah yang tersedia di kelurahan-kelurahan.

Di rumah kami juga membuat drum sampah khusus untuk membuang sampah organik yang kemudian diolah kembali menjadi pupuk kompos cair. Setelah melewati masa pembusukkan, sampah organik tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk tanaman.

🌱Periksa AC jangan sampai ada kebocoran, turunkan suhu AC, dan jangan biarkan ada celah dalam ruangan saat menyalakan AC.

🌱Hemat pemakaian air. Jangan biarkan kran air mengalir terus saat mencuci muka atau menggosok gigi. Gunakan air saat diperlukan saja. Pastikan tidak ada kebocoran pada kran air, bisa kita bayangkan banyak air yang terbuang bila air menetes selama 24 jam.

🌱Pemakaian listrik secara bijak. Gunakan seperlunya saja, contoh kecilnya sebaiknya matikan lampu kamar bila tidak sedang membaca. Bila hal ini dilakukan berulang kali, tidak hanya menghemat,kita pun bisa menjaga kelestarian bumi.

🌱Gunakan produk elektronik yang hemat energi. Hindari membuka pintu lemari es terlalu lama karena setiap kali pintu lemari es dibuka, diperlukan tarikan listrik yang tinggi untuk mendinginkan kembali suhunya.

Makanan, Minuman dan Kosmetik

Sejak memutuskan foodcombining saya berusaha untuk mengurangi konsumsi daging. Mengurangi makan daging, terutama daging merah ternyata dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan Global Warming. Faktanya, sapi memproduksi banyak gas methana yang berdampak buruk untuk lingkungan. Semakin banyak kebutuhan konsumsi sapi, maka semakin banyak pula gas methana yang dihasilkan. Biasakan mengonsumsi sayuran dan makanan bernutrisi tinggi lainnya sebagai pengganti daging. Kita pun dapat merasakan banyak manfaat, diantaranya menghemat uang, badan menjadi sehat, dan bumi akan tetap terjaga kelestariannya.

Konsisten mengkonsumsi makanan segar, bukan makanan kaleng atau makanan yang sudah diawetkan. Jangan lupa membawa botol minum sendiri, hindari membeli minuman dalam kemasan botol terlalu sering karena hanya akan menumpuk sampah non-organik yang lebih sulit terurai dalam tanah.

Membawa tas belanja sendiri yang bisa dipakai berulang-ulang. Tas plastik yang tertimbun dalam tanah perlu waktu ribuan tahun untuk proses penguraiannya. Ketika berbelanja ikan di pasar jangan lupa membawa kemasan sendiri. Diupayakan untuk memasak menu untuk makan keluarga. Ini lebih baik, selain sehat kita juga bisa menghemat bahan bakar karena tidak perlu membeli makanan dari luar.

Kami sekeluarga berusaha meminimalisir penggunaan tisu dan mengganti dengan lap kain. Untuk mengurangi sampah, sejak anak sulung kami lahir kami memutuskan menggunakan clothdiaper dan menghindari popok sekali pakai. Saya pribadi beralih dari penggunaan pembalut sekali pakai menjadi pembalut kain.

Saya mulai belajar untuk kembali ke alam dan menggunakan bahan yang ramah lingkungan, pun juga dengan kosmetik dan sabun cuci baju, piring dan lantai. Mau tidak mau saya akhirnya belajar membuat sabun sendiri. Meskipun masih tahap awal saya ingin terus belajar dan belajar lagi.

Bagaimana? Sudah tahu kan Green Lifestyle itu ternyata dapat dimulai dengan membiasakan hal-hal kecil yang ada di lingkungan kita. Yang perlu ditanamkan dalam mindset kita adalah bahwa kesadaran melalui hal-hal kecil yang dilakukan secara rutin pasti bisa menghasilkan perubahan besar untuk kelestarian bumi. Jadi, yuk kita mulai Green Lifestyle dari sekarang!

Pengalaman Melahirkan Bayi Sungsang

credit by mommypedia.id

Setelah melahirkan irbad, anak kedua saya, banyak teman yang mengucapkan selamat dan berlanjut sampai dengan pertanyaan-pertanyaan detil mengenai bagaimana proses melahirkan saya kali ini. Memang tak mudah, tapi bisa diberi Allah kesempatan melahirkan bayi sungsang melalui persalinan normal dan spontan memang bukan hasil yang instan. Setelah diawali dengan minggu-minggu pertama pergolakan batin untuk menerima kehamilan yang tak direncana, akhirnya saya memutuskan untuk bahagia meski sesekali saya juga khawatir akan kerepotan mengurusi 2 balita kerap datang menggoda.

Tidak berbeda dengan kehamilan pertama dulu yang tiap bulan saya ingin lihat bayi saya melalui USG, pada kehamilan kedua saya tetap semangat melihat perkembangan bayi kecil ini meskipun rumah saya sudah pindah dan notabene menjadi lebih jauh jaraknya dengan BMC, tempat saya rutin kontrol kehamilan. Saat hamil faris dulu tiap saya kelelahan, saya mengalami kontraksi dan berujung pada kram di kedua kaki saya. Alhamdulilah saat hamil Irbad, meski saya mengasuh Faris yang super aktif ke sana ke mari kandungan saya baik-baik saja. Bahkan beberapa hari sebelum melahirkan saya masih mengemudi motor, belanja ke pasar dan senam lantai sampai jungkir balik kepala di bawah kaki di atas.

Tantangan yang saya hadapi selama kehamilan kedua justru dalam mengelola emosi saya sendiri. Faris yang sedang memasuki masa “terrible two” sering sekali tantrum: menangis tanpa sebab yang jelas, kadang menginginkan sesuatu tapi saat ditanya tidak jelas apa maunya. Emosi saya ikut naik turun, belum segudang pekerjaan rumah yang setiap hari menanti untuk diselesaikan. Kalau tidak segera dikendalikan bisa berantakan semuanya. Faris pun bisa makin stres saat bermain bersama saya. Hingga suatu hari saya tak sengaja membaca retweet mas Reza Gunawan dari Cheri Huber yang menyebut “back to the breath”.Insight  itu saya coba praktekkan tiap kali emosi memuncak dan malah saya anggap sebagai latihan rileksasi. Dengan tak adanya waktu dan kesempatan untuk mengikuti kelas pelatihan apa pun karena tak mudah meninggalkan Faris di rumah, saya juga memutuskan untuk tak boleh tergantung pada kelas atau pelatih untuk belajar rileks, tenang dan fokus. Saya harus melatih diri saya sendiri untuk fokus pada napas saya, kekuatan emosi saya, kapan saja, bahkan saat Faris tantrum dan ketidaknyamanan kandungan sedang mencapai puncaknya.

Belajar dari pengalaman kelahiran Faris, saya memutuskan untuk tak membuat banyak syarat. Saya lebih tenang dan berpasrah dengan segala proses yang memang harus saya jalani nantinya.
Rencana A: Melahirkan di sebuah klinik pro gentle birth di Batam. Tempat saya kontrol kehamilan setiap bulannya. Tentunya dengan dokter yang selama ini sudah menemani perjalanan cerita kehamilan saya sejak saya hamil Faris.

Rencana B: Melahirkan di Rumah Sakit Otorita Batam atau Rumah Sakit rujukan BPJS. Awalnya saya harus melakukan negosiasi dengan suami berhari-hari karena saya lebih cenderung ingin melahirkan di klinik tetapi suami melihat kondisi kehamilan saya yang ada indikasi..hiks, sedih kalau ingat saat itu air mata saya selalu jatuh. Alasan suami saya, kalau ada keperluan emergency peralatannya sudah lebih lengkap. Sedangkan alasan keberatan saya adalah kemungkinan besar Almira akan ikut menginap padahal RSU berisi tak hanya pasien yang melahirkan tapi juga pasien-pasien lain dengan berragam penyakit. Analisis risiko-manfaat kami lakukan dari sudut pandang yang berbeda.
Setelah beberapa minggu akhirnya suami saya luluh juga pada pilihan saya: klinik yang (tampak) paling nyaman, tidak terlalu ramai, dan di sana berpraktek dr. Adriyanti, sp.OG, dokter kandungan kepercayaan sejak hamil Faris. Konon menurut mereka, dokter senior yang membantu persalinan mereka ini sangat mengutamakan persalinan normal dan tidak melakukan pemeriksaan USG apalagi USG 4D jika memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Proses kelahiran Irbad sangat menguras energi dan emosi. Betapa tidak, anak bayi yang sudah ditunggu-tunggu kelahirannya tak jua memberikan sinyal cinta untuk segera bertemu dengan kedu orang tua dan abangnya. Saya pun terus berusaha untuk tenang meskipun hpl sudah terlewat. Saya masih rutin jalan-jalan di pagi hari bersama dengan anak pertama saya, Faris. Flek yang saya tunggu juga tak kunjung datang, kontraksinya pun masih jarang, ya Rabb sungguh Engkau Maha Membolak Balikkan hati ini. Meskipun sudah pernah melahirkan namun bagi saya setiap kelahiran itu unik, setiap bayi memiliki waktu dan caranya sendiri untuk lahir. Jadi sewaktu saya kontrol terakhir sebelum melahirkan (tepat hpl) dokter Adriyanti sedang berhalangan dan digantikan oleh dr. Rinta, juniornya. dr Rinta mengecek masih pembukaan 1 (teraba bokong) dan saya disuruh kembali untuk observasi kembali jika 3hari lagi belum melahirkan. Saya disuruh rekam jantung bayi (ctg) juga untuk memastikan kondisi bayi baik n air ketuban dilihat melalui usg masih oke.

Dan hari yang dinanti tiba, mungkin karena sudah terlatih untuk bisa fokus dan bernapas rileks kapan saja, maka saat kontraksi datang setelah sholat subuh, saya masih bisa mandi dan memandikan Faris, masih tenang untuk mengunyah beberapa biskuit sebagai tambahan tenaga, minum air putih dan cairan isotonik yang cukup. Kemajuan persalinan saya cukup bagus. Pukul 05.00 saya mulai melihat bercak darah di celana dalam saya, jam 05.30 saya mulai kontraksi, jam 07.00 suami saya meyakinkan saya kalau dia tidak masuk kantor dan hanya absen saja. Selepas absen kami masih sempat sarapan bertiga. Sesampainya di klinik jam 08.30 saat dicek ternyata sudah pembukaan 3. Sambil menunggu dokter yang sedang membantu persalinan pasien lain yang lebih urgent, saya masih menikmati pelvic rocking sambil berjalan jalan di dalam kamar.

Karena sudah pernah melahirkan, jadi saat merasakan ketuban akan pecah, saya panggil suami untuk menyiapkan alas. Tak sempat menyiapkan alas air ketuban sudah tercecer banyak sekali di ranjang. Setelah itu saya dipindah ke ranjang tindakan di ruang bersalin. Saat VT (periksa dalam) yang kedua bidan yang membantu dokter kaget karena ternyata yang teraba adalah KAKI, bukan bokong. Dokter kandungan pun segera ditelpon agar segera meluncur ke klinik. Bahkan VT yang pertama pun bidan belum menyadari posisi kaki bayi yang berada di bawah. Untungnya dengan wajah optimis, dokter saya mengatakan “Insya Allah bisa normal kok. Nanti episiotomi saja.” Kaget memang, karena tak sedikit pun pernah terbersit mengenai kemungkinan melahirkan bayi sungsang. Jadi sama sekali saya belum punya referensi. Tapi karena saat itu sudah pecah ketuban dan pembukaan hampir lengkap, tak mungkin saya mendadak googling.

Saya tidak anti episiotomi karena sejak awal saya memang sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala intervensi medis jika memang diperlukan. Saya juga memutuskan secara sadar untuk melahirkan dengan posisi terlentang jika memang itu memudahkan dokter dalam mengeluarkan bayi saya, apalagi nanti kakinya dulu yang akan keluar. “Bantu mama ya Nak. Kita mohon pertolongan pada Allah.” Itu yang saya sampaikan pada bayi saya di dalam perut. Dalam masa-masa penantian pembukaan lengkap, saya memilih terus fokus untuk bernapas rileks. Tiap gelombang kontraksi datang, saya menenangkan diri sendiri sambil mengobrol dengan bayi saya “Ayo cari jalan ya, Nak.” Sampai akhirnya pembukaan lengkap tanpa saya sadari, entah mengapa bayi yang ada di dalam perut seperti mendesak dan mendorong kakinya untuk keluar. Saat itu saya menahan diri untuk tidak mengejan terlebih dahulu karena belum yakin pembukaan sudah lengkap. Pada puncaknya, saya sudah tidak bisa menahan gelombang yang datang dari dalam perut saya. Akhirnya saya pun memanggil dokter yang masih duduk di ruang sebelah sembari menunggu sampai saya pembukaan lengkap. Ternyata kaki bayi yang sebelah kiri sudah keluar dan saya belum siap dengan posisi hendak bersalin. Otomatis tim bidan dengan sigap langsung mengangkat kaki saya.

Sebelum membantu mengeluarkan bayi saya, dr. Aad memimpin kami semua yang ada di ruang bersalin untuk membaca surat Al-Fatihah. Tak semudah melahirkan Faris yang keluar kepala dahulu, untuk melahirkan adiknya yang muncul kaki dahulu saya perlu mengejan beberapa kali lebih banyak dengan tenaga beberapa kali lebih besar. Saat mengejan, sekali waktu saya sempat berteriak. Untung saja bidan mengingatkan untuk tetap tenang agar tenaga bisa dihemat. Kata suami saya yang menemani saat itu, kaki bayi keluar dahulu satu per satu, dilanjutkan tangannya satu per satu, yang terakhir baru mengeluarkan kepalanya. Mengeluarkan kepala menurut saya sangat sulit dan dokter pun menekan saya untuk segera mendorong karena kepala harus cepat keluar tidak boleh lewat waktu. Suami saya tidak fokus saat menemani saya bersalin karena Faris sudah bangun tidur dan dia menunggu di depan ruang bersalin sembari bermain mobil sendirian, ah kasian sekali kalau mengingatnya.

Indah sekali saat akhirnya irbad sudah lahir dan dibersihkan badannya. Rasa syukur tiada tara dan lega rasanya beban hati selama beberapa minggu terakhir kehamilan sirna sudah. Sayangnya saya tidak bisa langsung inisiasi menyusui dini karena irbad harus segera dibersihkan dan dicek kesehatannya.  Alhamdulillah ASI saya pun langsung keluar meski irbad belum bisa langsung menyusu saat itu juga. Senang sekali saya tak salah pilih tempat melahirkan meskipun tidak dicover bpjs yang terpenting rasa nyaman saya dan keluarga itu nomor satu. Saya tidak bisa membayangkan jika harus melahirkan di rumah sakit sementara tidak ada yang menjaga anak pertama saya, belum lagi ada intervensi medis yang bisa terjadi kapan saja. Kalau di BMC, mulai dari cleaning service, bidan, perawat sampai dokternya sudah seperti keluarga sendiri. Faris bahkan sering bermain dan diberi kue oleh bidan dan perawat selama menemani saya menginap disana.

Alhamdulillah berat Irbad saat lahir 3,4 kilogram sudah diambang batas untuk bisa dilahirkan melalui vagina meski posisinya sungsang (karena jika iingin melahirkan normal dengan posisi bayi sungsang tidak boleh lebih dari 3,5kg). Soal diet selama kehamilan saya memang cukup ketat terutama di minggu-minggu terakhir. Karena tak mudah meninggalkan nasi, jadi saya memilih untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula putih agar penambahan berat badan janin tidak cukup drastis. Saya juga memperbanyak konsumsi buah, sayur dan air putih mengingat paska persalinan sebelumnya saya mengalami sembelit yang tidak nyaman. Entah mengapa setiap hamil meski sudah mengatur porsi makanan dan aktif bergerak tetapi berat bayi saya selalu besar, sepertinya makanan yang saya konsumsi diserap maksimal oleh bayinya.

Setelah hampir empat bulan berlalu saya masih bersyukur bahwa setelah lahir hingga kini irbad masih setenang dulu ketika masih di perut saya, tak banyak merepotkan bundanya. Sejak lahir dia juga tak pernah begadang. Bahkan dia bisa tidur sendiri tanpa perlu disusui dan digendong jika perutnya sudah kenyang dengan ASI. Hanya kadang saja jika memang sedang manja dia minta gendong dan akan tertidur dalam waktu cepat. Seakan-akan dia mengerti bundanya juga perlu mengurusi abangnya.

Kehadiran Irbad membuat saya belajar lagi. Pertama, salah satu proses pemberdayaan diri yang penting adalah belajar pengelolaan emosi yang ternyata masih dan akan terus saya butuhkan bahkan setelah anak-anak lahir. Kedua, saya belajar untuk mengatasi kekhawatiran saya sendiri, belajar menerima situasi dan kondisi. Di saat-saat genting tanpa referensi, Irbad yang ternyata memilih posisi sungsang mengingatkan saya kembali arti berserah diri pada Allah. Manusia berencana dan berusaha, tapi Allah Maha Berkuasa untuk Memampukan dan Mengijinkan dengan cara-Nya. Alhamdulillah ‘ala kulli haal