Cara Unik Mengenalkan Berbagai Profesi Kepada Balita

Kerja itu apa sih, Ma? Kok kalau kerja harus pakai seragam? Kalau pegawai itu apa?

Kurang lebih begitu pertanyaan Faris saat Papanya hendak berangkat ke kantor. Banyak orang mengira anak-anak kurang begitu tertarik dengan pekerjaan orangtuanya. Namun kenyataannya anak-anak begitu tertarik dan penasaran ingin mengetahui apa yang dilakukan olehorang tuanya ketika mengatakan ‘mau bekerja’.

Mengenalkan berbagai macam profesi menjadi salah satu tema pembelajaran kami hari ini. Sebelum mengenal berbagai profesi sebaiknya anak dikenalkan terlebih dahulu dengan profesi atau pekerjaan orang tuanya sendiri. Untuk itu, ajaklah ananda ke tempat kerja, bisa ke tempat kerja Mama dulu atau Papa dulu, tergantung kesiapannya. Seperti Faris, ia sudah terbiasa ikut Papanya ke kantor sejak usia 16 bulan. Percaya tidak percaya, ternyata ia bisa diajak ke kantor tanpa Mama dan tidak rewel. Dan saat usianya memasuki dua tahun, Faris sudah mampu bersosialisasi dengan banyak orang, termasuk orang yang belum dikenal sebelumnya.

Apa sih tujuan mengajak anak ikut ke kantor? Tujuannya adalah agar ananda dapat melihat apa yang orangtuanya kerjakan. Mama/Papa dapat memilih mengajaknya pada jam kerja atau saat tidak ada orang lain di tempat kerja.

Cara Mengenalkan Profesi kepada Anak Balita

1. BERMAIN PERAN atau bertukar tempat. Orang tua bisa memperkenalkan profesi pada anak dengan bermain ‘pura-pura’ (drama). Ini permainan favorit Faris, sejak usianya masih dua tahun, ia sangat senang sekali bermainan peran. Temanya sehari bisa ganti sampai lebih dari lima kali. Misalnya nih pagi hari saat saya sedang menyiapkan sarapan nasi goreng, ia akan bertanya kepada saya, “wah Mama jadi apa ini? Mama jadi penjual nasi goreng ya, Ma”. Saat saya memandikan anak-anak, Faris pasti nanya lagi, “Hm, kalau sekarang Mama jadi apa? Kok Mama nyuci rambut Faris? Mama jadi tante salon ya? 😂” Bermain peran pasti akan menyenangkan, karena seperti sedang bermain drama dan bermanfaat juga menambah pengetahuan ananda.

Baca juga : Manfaat Bermain Bagi Balita

2. Tour de Tallent atau tur keliling. Ajaklah ananda berkeliling untuk mengenal berbagai profesi. Misalnya mengenal pekerjaan tukang kebun. Jadi proses mengenal profesi tukang kebun ini Faris pelajari secara tidak sengaja. Setiap bulan rumput di rumah kami selalu dipangkas dan dirapikan oleh seorang tukang kebun, sebut saja Om Agus. Faris senang sekali jika si Om ini datang ke rumah untuk melaksanakan tugasnya. Faris betah nongkrong lama-lama di depan pintu atau jendela hanya demi ingin mengetahui bagaimana cara bekerja seorang tukang kebun. Apa saja alat-alat yang ia gunakan untuk bekerja Faris perhatikan dengan seksama. Bahkan ia menghafal urutan pekerjaan yang dilakukan seorang tukang kebun sehingga tidak heran jika di rumah ia kerap bermain peran sebagai seorang tukang kebun bersama dengan adiknya. Setelah semua pekerjaan selesai biasanya Papa Faris meminta Faris untuk memberikan uang kepada Om Agus sebagai upah atas pekerjaannya. Dan seperti yang kita duga, saat pertama kali Faris disuruh menyerahkan uang kepada Om Agus, dengan polosnya ia bertanya.

“Kenapa Pa, kok Omnya dikasih uang?”

Sambil kebingungan om Agus cengar-cengir, bingung menghadapi pertanyaan sederhana namun sulit untuk dijawab dari anak umur tiga tahun.

Kami memberikan gambaran secara konkret salah satu bentuk kegiatan” bekerja” dan istilah “profesi” adalah sebutan dari pekerjaan seseorang agar ia tahu bagaimana seseorang mendapatkan uang ketika ia bekerja.

Orang tua diharapkan menceritakan sejarah singkat tempat orang tua bekerja, dan memperkenalkan ananda kepada rekan kerja serta atasan. Beri tahu tentang beberapa peralatan yang digunakan untuk bekerja. Beri kesempatan pada ananda untuk mencoba beberapa peralatan (tentunya setelah memastikan peralatan tersebut aman untuk anak-anak, misalnya alat yang tidak tercolok listrik, bukan benda tajam, dan lain-lain).

faris sedang mencoba mesin fotocopy di kantor Papa

Kegiatan ini harus sering dilakukan, jangan hanya sekali saja dilakukan. Bersama Tante/Om atau Nenek/Kakek, orang tua dapat bergantian memperlihatkan tempat kerja masing-masing. Berikanlah anak kebebasan bertanya dan gunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan berbagai profesi sesuai keingintahuan anak. Bukan saja hal ini akan menambah kedekatan dan memberi kegembiraan, tapi juga membantu anak-anak untuk mulai memikirkan pilihan karir mereka sejak dini. Setelah menunjukkan apa yang orang tua, tante/om, nenek/kakek kerjakan, tanyakan pada ananda kelak ia ingin menjadi apa. Bila pilihannya ternyata bukan salah satu dari yang pernah orang tua perlihatkan, cobalah mengusahakan supaya mereka dapat melihat pekerjaan yang sebenarnya dari cita-cita mereka. Keinginan atau cita-citanya terkait profesi yang anak-anak kemukakan berubah-ubah berdasarkan dari pengetahuan tentang profesi yang mereka dapatkan atau setelah melihat dan merasakan kesenangan saat mengenal profesi tersebut.

Misalnya, ketika si Faris tertarik dengan mainan-mainan balok dan membangun sesuatu, ia akan mengatakan ia ingin menjadi arsitek. Sebulan kemudian, ia bertemu dengan dokter yang baik dan Mama mengenalkan bahwa itu termasuk salah satu profesi. Lalu, Faris akan merubah keinginannya dan menyatakan ia ingin menjadi dokter saat dewasa kelak. Ini adalah hal yang wajar bagi anak-anak.

Mengarahkan Pada Profesi Tertentu

💬 Perlu diketahui bahwa setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang beragam dan berbeda-beda, atau yang terkenal dengan sebutan 9 multipple intellegence, yaitu bahasa, visual-spasial, matematika, musik, naturalis, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, eksistensial. Orangtua perlu menstimulasi setiap aspek kecerdasan anak ini dan memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat mereka. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperkenalkan berbagai macam profesi. Orangtua diharapkan tidak membatasi pengetahuan anak tentang profesi tertentu, sehingga dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang profesi yang ada dan memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi berbagai jenis profesi, dengan catatan orangtua dapat memberikan bimbingan kepada anak.

Untuk pengenalan tentang profesi yang tidak baik untuk dilakukan, sebenarnya perlu diberikan. Akan tetapi, mengingat perkembangan kognitif anak di usia ini belum dapat berpikir abstrak dan terlalu kompleks, maka pemberian informasi terkait profesi yang kurang patut tersebut dapat dilakukan pada saat fenomena tersebut ditemui oleh anak.

Tujuan Pengetahan Umum Sejak Dini dan Pengaruhnya terhadap Pola Sosialisasi Anak

💬 Tujuan utama pengenalan pengetahuan umum pada usia dini adalah untuk membantu anak memahami konsep tentang dirinya dan hubungan antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Tentunya, hal ini dapat berpengaruh terhadap kemaampuan anak dalam membina hubungan sosial, baik dengan orang dewasa maupun teman sebaya. Hal yang dapat dilakukan orangtua untuk memberi kesempatan anak dalam mengembangkan kemampuan sosialnya, antara lain berkunjung ke suatu tempat tertentu, melihat profesi tertentu, atau berinteraksi kepada orang-orang yang terlibat langsung dalam profesi tertentu

Teori atau Praktek Terlebih Dahulu

💬 Dalam memperkenalkan lingkungan sekitar kepada anak, teori dan praktek sebaiknya dilakukan secara simultan dan berkesinambungan. Untuk penerapannya, tidak ada ketentuan khusus apakah harus teori atau praktek terlebih dahulu yang dilakukan. Akan tetapi mengacu pada perkembangan kognitif anak, pada tahap ini anak dapat menerima informasi lebih cepat dengan cara melihat langsung atau mendapatkan contoh konkret dari topik yang dibahas/dikenalkan.

Printable merupakan salah satu alternatif media yang dapat dimanfaatkan untuk menggabungkan antara teori dan contoh konkret dari suatu topik tertentu. Karena Faris anak yang visual maka ia lebih lebih suka belajar melalui media flashcard, printable, dan mind mapping atau diagram alur.

Hari ini Faris belajar mengenal berbagai macam profesi dengan printable dari kelas bermain bersama rumah lebah. Mama sudah menyiapkan media belajarnya. Faris tinggal mencocokkan dan belajar dari buku.

credit photo by gramedia.com

Referensi belajar kita hari ini adalah buku Marbel Profesi by educastudio. Buku ini adalah seri dari MARBEL (Mari Belajar Sambil Bermain). Lewat Marbel Profesi, anak-anak akan dikenalkan kepada berbagai macam profesi/pekerjaan seseorang. Jika rasa ingin tahu anak-anak sudah meningkat, belajar Bersama Marbel adalah pilihan yang cocok dan menyenangkan. Kenapa? Karena setiap profesi diilustrasikan dengan gambar yang menarik dan disertai dengan animasi untuk memperjelas tiap-tiap profesi yang diperkenalkan. Tidak hanya itu, Marbel Profesi dilengkapi dengan audio yang interaktif untuk menarik minat anak-anak. Bagi anak-anak yang belum lancar membaca, mereka bisa mendengarkan narasi yang dibacakan.

Aplikasinya bisa diunduh secara gratis di googleplay atau appstore. Aplikasi pendidikan ini dirancang untuk anak-anak usia 2 s/d 8 tahun. Bersama Marbel, anak-anak bisa belajar banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Tersedia materi pembelajaran yang akan membantu anak-anak dalam belajar mengenal sesuatu misalnya saja huruf, angka, buah, sayur, hewat, alat-alat transpotasi, warna, dan masih banyak lainnya. Yang paling menarik dari marbel adalah : Permainan edukasi yang menyenangkan. Ada berbagai macam permainan yang akan menguji kemampuan mereka. Permainan itu terdiri dari : tepat cepat, ketangkasan, daya ingat, kecerdikan, asah otak dan masih banyak lainnya. Marbel dilengkapi dengan gambar dan animasi yang menarik, musik orisinil, serta narasi panduan yang berguna bagi anak-anak yang belum lancar membaca.

credit photo by googleplay.com

Marbel menggabungkan konsep belajar dan bermain menjadi satu sehingga melahirkan cara belajar yang lebih menyenangkan. Materi akan disajikan dalam bentuk yang menarik dilengkapi dengan Gambar + Sound Narasi + Animasi untuk menarik minat anak-anak dalam belajar. Sehingga anak-anak bisa mengasah kemampuan melalui permainan edukasi yang disediakan.
Yuk mengenal berbagai macam profesi bersama Faris, jika berminat untuk mengunduh file printable silahkan klik link ini. Selamat belajar💞

Tanggung jawab itu apasih, Ma?

tnh

Siang bolong anak, Faris mendadak bertanya kepada Mama. “Ma, tanggung jawab itu apasih?,” mendadak gelagapan Mama ditanya pasal itu. Tak ada angin, tak ada hujan. Tak ada prolog, tak intro kenapa Faris bertanya mengenai tanggung jawab pikir Mama.
Baiklah sambil mengatur napas dan berpikir Mama coba pasang umpan, balik bertanya, “kalau menurut Faris tanggung jawab itu apasih?”
Faris menjawab setengah ragu, “Bertanggung jawab itu kalau Faris ngerusakin mainan adek, Faris harus ganti gitu ya Ma ya?”
Sebelum menjawab pertanyaan yang gampang-gampang susah ini Mama sempatkan crosscheck terlebih dahulu di KBBI.
Berikut Mama ambil definisi dari tanggung jawab dari kbbi (https://kbbi.web.id/tanggungjawab.html) yaitu sebagai berikut :

tang·gung ja·wab n 1 keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya): pemogokan itu menjadi — pemimpin serikat buruh; 2 Huk fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain;

ber·tang·gung ja·wab v 1 berkewajiban menanggung; memikul tanggung jawab: pemimpin redaksi ~ atas isi majalahnya; 2 menanggung segala sesuatunya (kepada):kabinet ~ kepada Presiden; dia laki-laki yang tidak ~;

Mama pun mencoba memberi penjelasan, “Ya itu salah satu contohnya, bentuk perbuatannya. Kalau tanggung jawab sendiri itu artinya kita harus menanggung. Menanggung segala sesuatu akibat perbuatan kita.”
Kurang lebih begitu penjelasan Mama sambil berdo’a, mudah-mudahan lisan ini tidak salah ucap ya Allah, mudah-mudahan penjelasan Mama bisa diterima dengan baik.

Medidik  anak-anak memang gampang-gampang susah apalagi jika mereka masih  kecil. Anak kadang susah diatur dan  mau menang sendiri, apa yang mereka lakukan  itulah yang dianggap benar, namun tidak semua yang dilakukan anak tepat. Orang tualah yang harus membimbing mereka. Bila anak-anak bersalah orang tua wajib bin harus menyadarkannya. Untuk memberikan perubahan pada anak-anak agar lebih baik memang kadang orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka. Namun di usia yang masing tergolong dini, tentu saja mereka belum mengerti apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Melatih tanggung jawab pada anak itulah  tantangan bagi orang tua, sekalipun mereka masih anak-anak namun Mama yakin pelatihan ini akan lebih baik bila dimulai sejak dini. Karena nanti jika anak-anak sudah dewasa dan bersosialisasi dengan masyarakat, akan ada saatnya mereka akan memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dibebankan pada mereka.

Oleh karena itu sejak dini Mama merasa perlu melatih dan membimbing anak-anak agar mereka lebih bertanggung jawab. Tentu saja hal ini banyak tantangan dan memerlukan kesabaran.

Mengingat  anak-anak belum bisa berpikir layaknya orang dewasa, jadi yang Mama lakukan adalah pengenalan tanggung jawab dan bagaimana menerapkannya. Bila tanggung jawab anak terhadap lingkungan sekitar dan dirinya tidak ditanamkan sejak kecil, jangan harap kelak anak-anak akan memiliki tanggung jawab saat dewasa.

Orang tua harus membimbing bagaimana membentuk anak  yang bertanggung jawab.  Tidak ada kata nanti dan nanti  untuk membuat anak lebih tanggung jawab. Sejak usia dini pun anak harus diberi tanggung jawab, namun dalam frekuensi yang sangat kecil. Bila banyak orang yang mengganggap anak kecil belum bisa diberi tanggung jawab dan membiarkan si kecil  membuat berantakan mainannya, tapi anggapan ini sangat keliru. Dari hal sekecil itu, dari mainan yang berserakan kita bisa melatih tanggung  jawab pada anak  agar mereka segera merapikan mainan setelah selesai bermain.

Banyak contoh  mudah yang bisa orang tua lakukan agar si kecil terbiasa dengan tanggung jawabnya di rumah. Sebelum mereka membiasakan tanggung jawab di lingkungan dan masyarakat, hal yang paling penting adalah melatih tanggung jawab anak di rumah.

Ketika anak berusia 1 tahun, mereka bisa dilatih tanggung jawab seperti mencuci kaki dan tangan serta menggosok gigi sebelum tidur. Selain itu anak-anak juga bisa diberi tanggung jawab  agar merapikan tempat tidur setelah bangun tidur. Cara ini memang hal yang dianggap sepele oleh orang tua, mereka kadang mengangap bahwa anak kecil terutama ketika umur mereka masih dibawah 5 tahun mereka tidak  bisa dilatih tanggung jawab. Padahal dari hal sekecil itu mereka mampu melakukannya dengan baik jika orang tua  mau melatihnya.
Faris sudah saya biasakan untuk merapikan tempat tidurnya setelah bangun tidur. Kebiasaan ini saya tularkan kepada anak-anak sejak dini karena Mama sendiri memperoleh manfaat yang luar biasa dari pola kedisiplinan yang orang tua Mama terapkan saat Mama masih kecil.

Mama-mama di luar sana pun bisa memberikan beberapa tugas yang setiap hari harus dilakukan oleh anak-anak. Berikan tugas seperti membereskan kamar, memasukkan baju kotor kedalam  tempat baju kotor, memasukkan baju  yang telah disetrika pada almari,  menyiram kebun dan beberapa tugas lainnya yang bisa diberikan pada mereka. Dengan syarat pekerjaan yang berikan adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh mereka. Jangan memberikan tugas yang tidak bisa dikerjakan  anak-anak, karena justru akan membebani mereka dan membuat mereka takut.

Ada beberapa tips  sebelum anda member tugas agar anak lebih bertanggung jawab:

👑Beri  penjelasan pekerjaan  yang jelas
Jika memberikan tugas pada anak,  usahakan tugas tersebut jelas wujudnya dan jelas instruksinya. Jangan sampai anak  menjadi bingung dengan apa yang Mama instruksikan. Akan lebih baik lagi jika setiap tugas yang Mama berikan disertai sebab akibatnya. Misalnya menyuruh anak mengembalikan mainan setelah mereka bermain, berikan penjelasan bahwa jika mainan tidak dikembalikan pada tempatnya maka nanti saat akan memakai kembali mainan tersebut terselip atau bahkan hilang. Selain itu berikan alasan yang masuk akal dan mudah dimengerti anak, tentu saja alasan yang bermanfaat agar anak semakin bertanggung jawab.

👑Beri tugas yang mampu dikerjakan anak
Nggak mungkin kan Mama memberikan tugas mencuci baju atau memotong rumput kepada balita? Jadi beri pekerjaan atau tugas yang mampu dikerjakan ananda dan jangan sampai membuat mereka tertekan. Jadi buatlah tugas yang sangat menyenangkan untuk ananda

👑Jangan memberikan hukuman pada anak
Sekalipun anak tidak mengerjakan apa yang Mama berikan, jangan memberikan hukuman pada mereka. Hukuman yang orang tua berikan bukan membuat anak menjadi lebih tanggung jawab namun justru akan menimbulkan ketakutan dan rasa dendam pada orang tuanya. Mereka bisa dipastikan akan berontak jika Mama memberikan tugas lainnya. Orang tua bisa memberikan penjelasan dan konsekuensi yang bisa membuat anak berubah pikiran untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Dengan cara demikian anak justru mau mengerjakan apa yang diminta oleh orang tuanya.

👑Berikan pujian pada anak
Sekalipun tugas yang Mama berikan tidak bisa dikerjakan dengan  sempurna namun Mama sebaiknya tetap memberikan pujian bagi mereka. Ananda akan senang dan mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab ketika Mama memberikan pujian pada ananda.

Nah, ternyata simple kan cara untuk melatih tanggung jawab kepada ananda. Sekalipun mereka masih kecil namun   mendidik anak merupakan tanggung jawab sejak dini adalah hal yang tepat bagi kemandirian ananda 💕