4 Trik Menghadapi Batita Yang Suka Menuang, Mengobok dan Melempar Gelas Berisi Air

Jika Mama memiliki anak usia 1-3 tahun, mungkin Mama pernah atau bahkan sering dibuat kesal karena bayi kecil yang sudah beranjak besar ini sedang senang-senangnya menumpahkan sesuatu, seperti minyak telon, minyak tawon, baby oil, sabun mandi, bedak dan sebagainya. Toss dulu atuh sama saya 😂 Menumpahkan segala sesuatu adalah “hobi” bagi bocah berusia tiga tahun ke bawah (batita).

Sebenarnya kenapa sih anak suka menumpahkan isi botol? Aktivitas ini sebenarnya terkait dengan tahap perkembangan kognisi, emosi dan motorik anak. Itulah mengapa orang tua harus beredia memahami dulu alasan si anak batita ini melakukan hal tersebut agar bisa memberi arahan secara tepat. (Siapkan stok sabar tiada tara, tahan lisan agar tidak marah-marah nggak penting)

🚼Belum Memahami Fungsi Benda yang Ada di Sekitarnya

Anak seusia Irbadh, umumnya belum memahami fungsi benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk minyak telon, bedak tabur, sabun mandi atau bahkan air minumnya. Contohnya, fungsi minyak telon adalah untuk menghangatkan badan. Ketidaktahuan tentang fungsi masing-masing benda inilah yang antara lain mendorong anak untuk mengobok, menuang atau menumpah-numpahkan isi botol.

🚼Senang Berekplorasi

Alasan lainnya, anak usia ini sedang dalam masa rajin-rajinnya berekplorasi terhadap hal-hal baru. Saat membuka botol dan membalikkannya, ia menemukan ada yang mengalir atau menetes dari botol itu, dan hal ini membuatnya heran dan tertarik. Ketertarikan itulah yang membuatnya melakukan hal yang sama secara berulang. Ketika isinya tumpah di lantai, rasanya bahagia sekali karena ia punya objek eksplorasi baru, entah hanya dengan sekedar mengamati, menyentuh, atau malah mengaduk-aduknya. Semakin banyak cairan yang tumpah, anak akan kian tertantang untuk memain-mainkan tumpahan ini. Yeayy 😅

Kemampuan Motorik yang Berkembang

Kegiatan menumpah-numpahkan cairan dari botol tentu tak bisa dilepaskan dengan kemampuan motorik anak yang berkembang lebih baik dari tahapan usia sebelumnya. Kemampuan motorik yang mengalami peningkatan pesat ini bisa dilihat dari senangnya anak usia batita mengangkat-angkat atau menggoyang-goyangkan tangan, maupun jarinya. Mirip dengan kesenangan anak saat berjalan bolak balik ketika kemampuan berjalannya mulai dirasakan semakin baik.

Kemungkinan lain, berdasarkan hasil eksplorasinya anak seumura Irbadh menemukan hal-hal baru yang menarik seperti makanan yang tercecer, suara denting sendok yang dijatuhkan ke lantai, atau bahkan respons “heboh” dari orang tua atau pengasuhnya.

🚼Sering Mengulang-ulang

Pada umumnya, anak-anak di usia ini juga senang sekali mengulang-ulang perilaku tertentu. Misalnya, ketika mengocok atau mengguncang-guncang wadah bedak dan tanpa sengaja ada yang tumpah, anak-anak pasti akan senang kemudian tertarik untuk mengulang-ulang aktifitas tadi. Jadi kebiasaan ini bermula dari ketidaksengajaan yang kemudian jadi kegiatan yang menyenangkan.

🚼Ingin Bermain

Bosan dengan aktifitas yang itu-itu saja setiap hari, membuat anak tergerak mencari alternatif permainan lain. Nah, ketika ia tahu bahwa menumpahkan isi botol adalah kegiatan yang mengasyikan, maka ia ingin melakukan dan melakukannya lagi. Sabar yah, Moms 😅

🚼Mencari Perhatian

Banyak hal yang akan dilakukan oleh anak- anak demi mencari perhatian orang tua. Perilaku yang tidak disangka-sangka oleh kami belakangan ini adalah kebiasaan Irbadh yang hobi sekali menumpahkan isi gelas atau botol apapun, mungkin juga ini merupakan bentuk mencari perhatian. Biasanya Irbadh mencari perhatian jika saya sedang asyik memasak, memegang gadget, membaca buku atau melakukan kegiatan lain yang membuat anak merasa terabaikan.

Sementara respon yang saya perlihatkan ketika ia memulai aksi menuang atau mengobok air adalah “heboh” dengan berteriak atau pasang mimik kesal. Faktanya, ternyata keadaan tersebut malah membuat anak merasa ditanggapi hingga ia makin tertarik untuk melakukannya setiap kali minta diperhatikan.

🚼Belajar Bertanggung Jawab

Terkait dengan proses perkembangan anak usia batita, perilaku menumpah-numpahkan sebetulnya merupakan tindakan wajar. Akan tetapi bagi kami, sebagai orang tua tetap merasa harus mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, walau mungkin mayoritas anak batita masih sulit memahaminya, namun setidaknya ia sudah mendapat sinyal sedini mungkin mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Anak jadi tahu kalau air dalam gelas, minyak telon, bedak dan sejenisnya bukan benda yang boleh ditumpah-tumpahkan begitu saja, melainkan harus digunakan sesuai fungsinya.

Beberapa hal berikut merupakan usaha kami saat mengarahkan anak agar apa yang kami sampaikan dapat diterima anak dengan baik.

1⃣ Keep Calm

Tetaplah bersikap manis saat menjelaskan kenapa tidak boleh menumpah-numpahkan sesuatu. Contohnya dengan mengatakan, “Wah, ada yang numpahin air ya? Coba lihat lantainya jadi licin kan, Nak? Irbadh nanti kalau terpeleset gimana?” Dengan menyingkirkan rasa jengkel atau kesal menghadapi ulah anak-anak justru akan memudahkan anak memahami apa yang kita inginkan. Namun, mengingat kemampuannya untuk memahami masih amat terbatas, jangan terlalu berharap arahan kita langsung dipahami dan dipatuhi. Apalahi di usia ini dia sedang ingin bereksplorasi terhadap banyak hal.

2⃣ Tidak Mudah Terpancing Emosi

Kebanyakan orang tua langsung terpancing emosinya dengan berteriak sekencang mungkin atau bahkan meledak ledak saat melihat anak menumpahkan sesuatu. Sikap itu kurang tepat, karena ternyata malah bisa membuat anak jadi ketakutan. Sebaiknya jika anak dinasehati dengan lemah lembut ia tidak akan menjadi pribadi yang brutal dan gemar marah-marah. Yang perlu diingat adalah bahwa perilaku si batita bukanlah tindakan yang salah. Ia hanya berlaku sesuai proses pertumbuhannya. Pemahaman ini akan sangat membantu orang tua untuk tidak bersikap emosional.

3⃣ Harus Konsisten

Dalam hal apapun, termasuk mengarahkan anak, orang tua harus bersikap konsiisten. Dengan demikian anak akan terus menerus terarahkan hingga diharapkan akan muncul kebiasaan baru yang sesuai dengan arahan orang tua. Sebaliknya, hindari inkonsistensi, misalnya hari ini dilarang tapi besok dibolehkan. Ketidakpastian sikap ini justru hanya akan membuat si anak bingung mana yang sebenarnya boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Alih-alih ia menuruti arahan orang tua, Irbadh justru berpeluang besar bersikap semaunya.

4⃣ Ajak Anak Untuk Ikut Bertanggung Jawab

Agar arahan dari orang tua bisa efektif, anak harus diajak ikut bertanggung jawab membersihkan apa yang ia tumpahkan. “Wah, kok ditumpahin airnya, lantainya jadi licin kan? Ayo sekarang ambil lap, dipel yah biar nggak licin.”

Pembiasaan seperti ini akan membuat anak semakin sadar hingga di lain waktu tidak akan menumpah-numpahkan apapun. Di samping itu, dengan melibatkan anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, anak justru memiliki pengalaman baru yang tidak kalah mengasyikkan, yakni membersihkan lantai.

Jadi stay calm yah, Mom dan berikan pengertian agar mereka tidak melakukan perbuatan menumpah lagi.

#day14
#25Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak