Bahan Diskusi : Irbadh Memasuki Sensitif Periode

Bagi saya yg punya kerjaan utama membersamai 2 Al, sehari hari pasti tidak akan jauh dari anak-anak 😆 Maka dari itu segala apa yang saya amati kemudian saya sampaikan kepada suami untuk sama-sama kita diskusikan dan kita gali. Karena prioritas kami adalah anak-anak maka bahan diskusinya ya tidak jauh jauh juga dari anak-anak

Jadi ceritanya: saya merasa aneh kenapa bisa ya anak-anak mempunyai keinginan mengulangi suatu kegiatan tanpa henti padahal jelas menurut otak dewasa itu terasa sangat membosankan 😆

Kadang anak anak bisa melakukan adegan membuka dan menutup botol atau memasukkan dan mengeluarkan sedotan dengan konsentrasi yang tinggi, dan dilakukan terus menerus sampai yg lihat bosan dan sampai dia juga merasa bosan sendiri.

Nah setelah ditelisik, ternyata di dalam kegiatan itu ternyata tersimpan misi perkembangan otak anak, di saat yang bersamaan dengan kegiatan mengulang ulang tersebut ada aspek perkembangan yg sedang dia capai. Di dalam metode montessori itu disebut sensitif periode yaitu masa dimana anak mengembangkan kemampuan tertentu dengan sangat kuat, sensitif periode juga dikenal dengan istilah development milestone, window of opportunities, atau chekclist perkembangan anak.

“The child has a creative aptitude, a potential energy that will enable it to build up a mental world from the world about it. He makes numerous acquisitions during the sensitive periods, which put him in relation to the other world in an exceptionally intense manner.”

~The Secret of Childhood by Maria Montessori~

Kenapa fenomena ini menarik sekali untuk dibahas? Karena kebanyakan orang tua terkadang kurang peka akan periode ini, dan membiarkan periode ini hilang tanpa ada tanggapan yang cukup baik. Bahkan juga banyak yang malah memarahi anak sehingga anak merasa trauma. Padahal jika tertangani dengan baik, insyaAllah bisa berdampak lebih besar terhadap perkembangan tumbuh anak.

Singkatnya di momen sensitif periode berlangsung, anak sedang dalam kondisi konsentrasi terhadap suatu hal, keinginan yang kuat untuk menyelesaikan tugas membuatnya bersemangat tehadap kegiatan tersebut dan akan melakukan kegiatan tersebut sampai dirinya merasa puas, dan hal ini juga bisa dijadikan pedoman dasar bagi kita orang tua untuk mengenali kapan saat yg tepat bagi anak untuk siap belajar berkenalan dengan barang-barang tertentu atau belajar hal yang baru.

Sebagai orang tua, tugas kita adalah mengobservasi/mengamati dan menciptakan lingkungan yang mendukung periode sensitif ini. Kita harus jeli dan bersabar karena momen-momen ini tidak akan berulang. Jika sang anak melewatkan masa emasnya, bisa jadi ia akan mengalami hambatan kemampuan di masa yang akan datang.

Dan masih berkaitan dengan sensitif periode, menurut beberapa artikel montessori yang pernah saya baca. Jika sensitif periode ini bisa tertangani dengan baik akan berdampak mengurangi resiko tantrum yang ada pada anak anak. Secara umum bisa dikaitkan bahwa apabila sensitif periode tertangani anak menjadi lebih tenang karena stress yang mereka alami jadi berkurang.

Sensitif periode bagi kita orang tua bisa dimanfaatkan untuk menciptakan lingkungan senyaman mungkin untuk mendukung sensitif periode tersebut dan dari sini saya pribadi belajar bahwa mengajarkan anak sesuatu hal itu tidak perlu dengan pemaksaan, kita boleh mengikuti kemauan dia (sewajar tidak berbahaya dan tidak merugikan orang lain) maka kita bisa sudah belajar banyak hal.

Seperti beberapa hari yg lalu Irbadh yg tidak sengaja menemui laba-laba, bersama dengan Masnya saya coba bacakan buku mengenai laba-laba. Kemudia saya ceritakan mengenai kehidupan seekor laba-laba, bagimana ia mencari makan dan membuat sarang, dengan bahasa sederhana tentunya. Dari situ Irbadh bisa mengingat apa yg saya sampaikan, disana saya selipkan bahwa semua yang ia lihat adalah ciptaan Allah.

Atau saat bertemu dengan kucing yang sedang nenen, kemudian Irbadh mengamati dengan seksama. Saking fokusnya melihat kucing nenen (sampai ia bisa menirukan gerakan kucing kalau lagi nenen) lalu dijelaskan kenapa anak kucing nenen ya? Kucing juga bisa merasa haus, kucing juga butuh kasih sayang, dan ternyata kucing merasa nyaman dengan induknya.

Mengenali Sensitif Periode Anak ternyata Bermanfaat untuk Mengoptimalisasi Pertumbuhannya

Berikut ada klasifikasi usia menurut periode sensitif masing masing anak:

💞Periode sensitif terhadap urutan (18 bulan-2 tahun)

🌻 Ciri-cirinya : keinginan untuk melakukan sesuatu secara konsisten dan berulang-ulang.
🌻 Tugas orang tua : membuat rutinitas yg baik untuk anak anak, kadang rutinas yang berubah bisa mengakibatkan kejadian tantrum pada anak. Misal: Irbadh yg marah kalau dibantu memakai celana sendiri, tapi Mama malah memaksa membantu memakaikan celananya dengan alasan agar cepat selesai tetapi malah berujung dengan tangisan hahaha kalau gini ortunya yang nggak sadar diri yaa. Padahal dengan ia berusaha memakai sendiri dapat menumbuhkan kemandirian dan minat untuk belajar. Atau ketika malam tiba Irbadh akan sibuk mencari sikat giginya dan minta untuk digosok giginya, eh bukan ding ia lebih suka menggosoj giginya sendiri dan Mama hanya sebagai pendamping jika ia memerlukan bantuan 😂

💞Periode sensitif terhadap Bahasa (NB – 6 tahun)
Ciri-ciri

🔰Usia 7bln sampai 2.5-3 tahun adalah masa-masa awal belajar bicara.

🔰Usia 3 tahun, idealnya anak sudah lancar menggunakan kalimat dengan 2-3 kata.
Tugas orang tua :
🌸Bicaralah dengan kalimat yang jelas, kalimat sederhana, dan tidak terburu-buru. Ini PR banget nih buat Mama yang kalau ngomong kadang kebablasan (komprod ayo belajar komprod).
🌸Bacakan buku sesering mungkin, setiap waktu. Berikan ia waktu untuk bicara. Jangan buru-buru memotong kalimatnya saat ia berusaha ngomong. Emang kadang gemes tetapi sesungguhnya anak sedang berpikir keras loh untuk menciptakan satu kalimat. Mama dan Papa harus belajar menjadi good listener.

🔰Usia 3.5-4 tahun, anak tertarik dengan alfabeth.
Tugas orang tua :
Waktunya mengenalkan abjad. Kalau saya sendiri memang belum mengenalkan huruf ke anak sampai ia bertanya sendiri di usia 3,5 tahun. Dulu saat usia Faris, 2 tahun ia hanya sering mengikuti lagu hijaiyah. Baru-baru ini ia tertarik belajar alfabet dari soundnya. Mungkin karena kecerdasan bahasa Faris menonjol ia terlihat jelas suka memainkan kata atau mempelajari istilah baru bahkan bahasa sehari-harinya kadang saya lihat lucu, seperti ketika ia bertanya kepada saya, “wah, apa yang terjadi di sini Ma?” Ketika ia melihat air tergenang di tempat mencuci baju. Rasanya unik sekali anak umur segini bisa ngomong sehari-sehari dengan bahasa baku.

🔰Usia 4.5-5 tahun, anak siap menulis. Siap belajar membaca.
Tugas orang tua:
Ajarkan anak disiplin membaca minimal 20 menit sehari. 20 menit ini akumulatif ya. Jadi boleh dipotong-potong per 5 atau 10 menit atau sesuka anak dan sesuaikan dengan kemampuan konsentrasinya.

💞Periode sensitif terhadap Gerakan (NB- 4 tahun)

🔰usia 0-2.5 tahun
Ciri :anak belajar mengasah kemampuan motorik berupa merangkak, berdiri, berjalan, dan menggunakan kedua tangannya.

Tugas orang tua:
🌸Menciptakan lingkungan yang mendukung motorik kasar.
🌸Menyediakan mainan yang membuat anak belajar memegang, membalik, memasukkan sesuatu, mengambil benda kecil, menyentuh.
🌸Penting juga memberi mainan yang membantu mengembangkan kemampuan tangan, kordinasi mata dan tangan.

🔰 Usia 2.5-4.5 tahun
Ciri: anak mulai mampu menggunakan kedua tangannya untuk kordinasi gerakan yang lebih sulit, memegang benda-benda yang sangat kecil. Anak juga sudah bisa berjalan, berlari, dan seimbang saat melompat sambil membawa segelas air.
Tugas ortu: memperbanyak aktivitas outdoor.

💞Periode sensitif terhadap rasa atau indera (lahir sampai 5 tahun)

💞Periode sensitif terhadap benda-benda kecil [1-3 tahun]

Ciri: anak sangat tertarik dengan benda dan detail yang kecil-kecil.
Tugas orang tua :
🌸Buat area main selevel anak. Ciri areanya adalah kita harus membungkuk atau bahkan berlutut saat harus mengambil sesuatu.
🌸Meletakkan mainan dengan level ketinggian anak akan membuatnya mudah mengamati mainan atau objek yang dia inginkan.
🌸Letakkan mainan atau barang sesuai tempatnya. Kalau tidak, anak akan terdistraksi saat melakukan aktifitasnya. Ingat, distraksi ini akan mengganggu level konsentrasinya.

💞Periode sensitif terhadap eksplorasi, sensori, dan klasifikasi

🔰Usia 2.5-3 tahun
Ciri: menyukai mainan sensori.
Tugas ortu:
Ini adalah saatnya bermain sensori. Bu ibu bapak-bapak nenek kakek jangan larang anak cucunya untuk sedikit berkotor-kotor ria dengan pasir, tanah, tepung. Sesungguhnya, mereka sangat butuh mengeksplor indranya. Bahkan kalau bisa selalu sediakan mainan-mainan yang banyak menstimulasi indra mereka di usia ini. Jangan ragu untuk memberikan mainan play dough, pasir, jelly, slime, batu es, air hangat, atau air yang bertabur glitter beraneka warna. Kenalkan juga berbagai bau-bauan. It’s really fun! Anggap berantakan sesuatu yang wajar, sambil anak diajari merapikan mainan tetunya. Ingat, ketertarikan dia untuk mengenal sensory-sensory baru ini sebentar loh. Jangan sampai nanti bingung saat anak jadi jijikan dan tidak mau mencoba hanya karena kita tidak pernah membantunya mengasah kemampuan terbaiknya. 😊

🔰2.5 sampai 5.5–6 tahun
Saatnya mengenalkan sistem klasifikasi.
Maksudnya, sambil dikenalkan pengalaman sensori, anak juga perlu tahu klasifikasinya seperti panas, dingin, merah, hijau, lembek, lembut, kasar, amis, wangi, dan lain-lain.

💞Periode sensitif terhadap makanan selain ASI (5 sampai 6 bulan)
Masa-masa mengenalkan makanan. Ternyata memang usia anak 6bulan adalah saat yg baik untuk mengenalkan makanan yaa, jd say no to MPASI dini. Faris dan Irbadh memilih menggunakan metode blw. Jadi mulai usia 8 bulan mereka sudah tidak makan bubur lagi melainkan finger food.

💞Periode sensitif terhadap angka (4 sampai 5.5 tahun)
Nah, kurikulum matematika itu baru mulai dikenalkan di usia ini. Jadi kami rasa tidak perlu buru-buru mengajarkan hitung berhitung. Logika anak di bawah usia ini masih belum nyampe. Yang terpenting bagi kami adalah menumbuhkan minat belajarnya dan memahamkan kenapa anak-anak harus belajar angka atau matematika.

💞Sensitive Period for Manners and Courtesies / Periode sensitif terhadap adab dan sopan (2 sampai 6 tahun)

Maksudnya adalah belajar tentang adab. Sebenarnya hal ini bertahap sejak anak tersebut lahir.
0–3 tahun: adab ini diajarkan oleh orang tua dengan cara MENCONTOHKAN.
3–6 tahun: diajarkan di kelas montessori.
Tapi karena Faris lebih suka belajar di rumah maka kami berencana meng-homeschoolingkan Faris selama usia dini, jadilah adab ini kami yang tangani sepenuhnya. 
Selama usia 2–6 tahun, kami usahakan belajar bersama tentang adab dalam islam (salah satu sumbernya kita adabul mufrad). Kenapa belajar bersama? Karena prinsip homeschooling di rumah kami, semua adalah guru dan murid. Target kami, usia 7 tahun anak sudah mampu menerapkan adab tersebut.

Nah dari ke 7 klasifikasi sensitif periode ini kita bisa belajar banyak, yang saya pahami setelah mempelajari tentang sensitif periode ini saya lbh nggak baper ketika Irbadh lagi ngacak-ngacak beras, buka tutup pintu sampe pintu bunyi kriyek kriyek, suka jatuhin barang terus dengn lempengnya bilang “jatuh” padahal jelas banget kalau ia sengaja, buku tutup buku sampe lecek, naik turun kursi sambil melempar barang-barang dan berkata “buang sampah” dan banyak aktifitas yang Irbadh lakuin selain emang sedang dalam masa sensitif periodenya, juga karena menguji kesabaran mamaknya 😆

Jadi, ketika menjalani sensitif periode ini setidaknya Mama harus ikhlas dan berbesar hati karena banyak kejutan setiap harinya 😆

Referensi :
[1] Buku Metode Montessori Panduan Wajib untuk Guru, dan orang tua didik Pud (Pendidikan Anak Usia Dini), Maria Montessori.
[2] Buku Montessori Play & Learn, Optimalkan Potensi Anak dengan Permainan (2-6tahun),Lesney Britton.
[3]http://ageofmontessori.org/sensitive-periods-in-development/
[4]http://www.dailymontessori.com/sensitive-periods/montessori-sensitive-periods/

#day17
#28Feb18
#batam
#3y6m
#1y6m
#SinergiAsadanRasa
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak