Belajar Mengenal Perbedaan Gender Sesuai dengan Fitrah Seksualitas Anak

Semakin hari anak-anak tumbuh semakin dewasa, perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan semakin kentara, melalui fisik maupun karakternya.

Memberitahukan mengenai perbedaan gender kepada mereka merupakan hal yang sangat penting, Mak.

Menurut lembaga koalisi perempuan, sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku. 

Dengan kegiatan sederhana seperti yang dilakukan oleh Papanya, saya berharap anak-anak mengetahui perbedaan gender. Apa itu? Ketika mengantarkan Faris dan Irbadh untuk buang air kecil, papanya melakukan tebak-tebakan manakah toilet yang harus dimasuki oleh anak-anak. Tentunya setelah anak paham, apakah jenis kelamin dirinya, laki-laki ataukah perempuan. Memang sangat sederhana, tetapi lambat laun secara bertahap mereka insyaAllah akan tahu batasannya dan terhindar dari pelecehan seksual yang kerap terjadi saat ini, Mak. Na’udzubillahi min dzalik.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan perbedaan gender kepada anak-anak?

Kalau saya, ketika anak-anak mulai belajar bicara maka saya dan suami memulai mengenalkan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan dan laki-laki pada umumnya. Seperti cara berpakaian, cara bersikap, dan mainan apa yang sesuai dengannya.

Kemampuan anak-anak dalam menangkap informasi mengenai hal itu memang terbilang masih minim. Tapi jangan khawatir Mak, itu merupakan permulaan yang baik.

Anak-anak perlu terus diberi tahu bagaimana karakteristik perempuan dan laki-laki, meski awalnya hanya berdasarkan dari pakaian sehari-hari.

Sebab pengenalan gender lebih mengacu pada peran berdasarkan jenis kelamin yang dibangun oleh sistem sosial, juga budaya. Maka, perlu dilakukan sejak dini karena pemahaman ini lebih jauh dibandingkan kebiasaan sehari-hari.

Ketika anak-anak mencapai rentang usia 3-6 tahun, kita sudah mulai bisa mengajarinya tentang jenis kelamin, bagian-bagiannya dan menjelaskan pula apa fungsinya, mengapa berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Bila perlu, kami membacakan buku ensiklopedia organ tubuh agar anak-anak mudah memahaminya melalui gambar.

Batasan yang perlu dijelaskan ketika anak-anak mulai mengerti ialah, bagian tubuh yang tidak boleh tersentuh bahkan terbuka, siapa saja yang boleh menyentuh alat kelamin atau organ sensitif lain, siapa yang tidak boleh menyentuhnya. Disini orang tua wajib menanamkan kewaspadaan terhadap orang asing kepada anak-anak.

Pemahaman ini tentu diajarkan dengan perlahan ya, Mak. Orang tua juga harus mampu melihat apakah mereka sudah siap untuk menerima informasi itu atau belum.

Hal penting yang kadang terlupa soal pengenalan jenis kelamin pada anak, orangtua sering secara tidak sengaja menguatkan stereotipe gender. Apakah kita memuji anak perempuan atas penampilannya ketimbang tindakannya? Atau mengatakan kepada anak laki-laki kita untuk menjadi kuat ketika dia menangis?

Yang terakhir, pernah nggak sih Mak melihat anak laki-laki memakai baju perempuan ketuka bermain? Atau anak perempuan yang sukanya memakai peci papanya?

Nah, nah, jangan langsung mengaitkan perbuatannya itu dengan orientasi seksualnya, ya Mak. Anak berumur 4-5 tahun memang suka meniru satu sama lain dan suka memainkan peran orang lain karena buat anak seusianya, gender merupakan konsep yang sangat berkembang. Proses pengenalan gender ini pun akan terus berkembang pula seiring mereka beranjak dewasa.

Saya dan suami saat ini mulai concern untuk mengenalkan bagian-bagian tubuh anak dan siapa saja yang boleh menyentuh melalui sebuah lagu berjudul “Sentuhan Boleh, Sentuhan Tidak Boleh,” lagunya bisa didengar disini.

Lagu Sentuhan Boleh – Sentuhan Tidak Boleh
(Lirik: Sri Seskya Situmorang
Vokal: Indri Ayu Lestari
Arransemen: Andree M. Taufan)

Sentuhan boleh
Sentuhan boleh
Kepala tangan kaki
Karena sayang karena sayang
Karena sayang

Sentuhan tidak boleh
Sentuhan tidak boleh
Yang tertutup baju dalam
Hanya diriku hanya diriku
Yang boleh menyentuh

Sentuhan boleh
Sentuhan boleh
Kepala tangan kaki
Karena sayang karena sayang
Karena sayang

Sentuhan tidak boleh
Sentuhan tidak boleh
Yang tertutup baju dalam
Katakan tidak boleh
Lebih baik menghindar
Bilang ayah ibu

Sambil bersenandung, orang tua dapat menjelaskan mengenai :

1. Bagian bagian tubuh anak

2. Menerangkan bahwa tubuhnya adalah pemberian Allah yang harus dijaga melalui pendekatan fitrah seksualitas dan cinta. Menerangkan juga bahwa betapa sejak ia lahir, tubuhnya selalu kita jaga dan tubuhnya sangat berharga bagi diri kita.

3. Lalu ceritakan pada anak bahwa orang yang menyentuh kita, dapat digolongkan ke dalam 3 cara :

🐾 Sentuhan yang boleh, yaitu sentuhan yang dilakukan seseorang karena kasih sayang, misalnya mengusap, membelai kepala, membedaki badan.

🐾 Sentuhan yang membingungkan, yaitu sentuhan yang dilakukan antara menunjukkan kasih sayang dan nafsu. Misalnya mula-mula mengelus kepala, memeluk-meluk lalu tangannya meraba bagian tubuh dari bawah bahu sampai atas dengkul, yang telah kita ajarkan pada anak merupakan bagian yang tidak boleh disentuh orang lain.

🐾Sentuhan yang tidak boleh, yaitu kalau seseorang meraba-raba paha, dada atau bagian yang dekat dengan kemaluan.

4. Ajarkan anak untuk mempercayai perasaannya.
Anak-anak dibekali dengan perasaan yang tajam sehingga dapat mengenali bagaimana perasaan dan perlakuan orang lain terhadapnya.
Atas dasar itu, anak bisa kita latih untuk memperhatikan dan mempercayai berbagai macam perasaan yang dialaminya bila ia berhadapan dengan orang lain, apakah itu menyenangkan, membingungkan, atau menakutkan!

Referensi konten tulisan dan lagu :

Booklet Hindarkan Anak Kita dari Kekerasan Seksual, Yayasan Kita dan Buah Hati.

#day25
#8Maret18
#batam
#3y7m
#1y7m
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak