Langkah Kecil Mengolah Sampah Rumah Tangga

Semakin banyak sampah, maka semakin banyak masalah untuk kita. Untuk mengurus sampah tentu diperlukan biaya, waktu dan tenaga. Jadi apa yang bisa kita lakukan demi lingkungan yang lebih baik? Sampah rumah tangga sangat ideal dijadikan kompos karena selain dapat dimanfaatkan dalam bentuk kompos, lingkungan pun terhindar dari pencemaran. Selain sampah rumah tangga, cara ini dapat pula diterapkan untuk sampah sisa-sisa dari pasar yang sebagian besar berupa sampah organik. Bagaimana cara mengolah sampah dari dapur kita? Untuk mengolah sampah rumah tangga, diperlukan alat yang biasanya disebut komposter.

Praktek cara membuat alat pengolah sampah menjadi pupuk kompos cair saya pelajari ketika merintis rumah organik trenggalek. Dulu sekali, orang-orang desa tidak bingung mengatasi sampah organik rumah tangga mereka karena otomatis diolah menjadi pupuk kompas. Masyarakat khususnya di pedesaan telah lama memiliki metode praktis dalam pengolahan sisa bahan organik yang datang dari rumah. Bagaimana caranya?

Komposter Lubang Tanah (Lubang Biopori)

Daun-daun yang gugur dari pohon yang ada dirumah, ranting muda juga sisa bahan sayur dapur otomatis dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang khusus dibuat di dalam tanah. Jika lubang telah penuh bagian atasnya maka dapat ditimbun dengan tanah dan dibuatkan lubang baru di tempat lain. Begitulah cara masyarakat desa mengolah sampah. Sampah yang ditimbun dalam tanah secara alami akan terurai sehingga menjadi pupuk yang menambah kesuburan tanah. Dari bekas-bekas lubang sampah di dalam tanah ini kemudian dapat ditanam berbagai macam tanaman atau diambil medianya untuk bertanam.

komposter anaerob sumber img : http://clearwaste.blogspot.co.id/2008/10/sekali-lagi-komposter-anaerob-serba.html

 

Baca juga : Bagaimana Cara Memulai Green lifestyle?

 

Membuat Komposter Sampah Dapur dari Drum/Ember Bekas

Di tengah makin terbatasnya lahan untuk mengolah sampah secara tradisional, komposter mini skala rumah tangga hadir sebagai alternatif yang dapat dibuat untuk mengolah sampah organik dapur menjadi pupuk kompos sekaligus pupuk cair. Kegiatan ini merupakan salah satu family project di rumah kami, pencetus idenya tentu saja Faris. Ya, ia ingin mewujudkan mimpinya agar bisa mandiri mengolah sampah dan menghasilkan energi terbarukan. Back to topic, mari kita mulai membuat komposter ala-ala di rumah.

Bahan-bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat komposter antara lain :

1.Drum ember bekas atau tong plastik yang mempunyai tutup.

2. Pipa pralon berdiameter 4 inci,

3. Kasa plastik untuk menutup lubang pipa bagian luar

4. Batu kerikil.

5. Pisau, gunting, gergaji,bor.

6. Saringan, bisa dibuat menggunakan tutup ember bekas kalau ada.

7. Kasa sebagai penutup, selain untuk menahan lalat, kain kasa berfungsi menyaring cairan dari bahan padat. Bahan padat yang masuk ke dalam pipa seringkali membuat kran air menjadi tersumbat.

 

Bahan Starter :

  1. Gula atau tetes tebu 1-2 ons
  2. Air kelapa kira-kira 1 liter
  3. Air bekas cuci beras 500 ml
  4. Air bebas kaporit dan detergen, bisa pakai air hujan atau sumur
  5. EM4 5 sendok makan (pabrikan) sama fungsinya dengan poc atau mol

Catatan Teknis Pembuatan Starter :
Cara membuat mol (Mikro Organism Local) sama dengan Poc (Pupuk Organic Cair) untuk ukuran satu toples.

  1. Persiapkan sisa-sisa daun hijau atau sisa bahan untuk sayur (ini mengandung unsur Nitrogen), sisa-sisa buah yang sudah busuk atau kulit buah yang sudah masak (ini mengandung unsur Kalium), kemudian umbi-umbian yang busuk atau bonggol pisang yang masih muda atau daun yang kering (ini mengandung unsur Pospor). Total bahan semua kira-kira setengah kilogram.
  2. Campur bahan nomor 1 dengan gula atau tetes tebu sebanyak 1-2 ons, air kelapa kurang lebih 1 liter, air bekas mencuci beras 500 ml, air bersih bebas kaporit dan deterjen, EM4 kurang lebih 5 sendok makan untuk mempercepat fermentasi. Tetapi kalau tidak ada bisa diganti dengan tape atau tempe busuk kemudian diblender sekalian tape atau tempe busuk tadi.
  3. Kemudian masukkan ke dalam toples dan tutup dengan koran. Atau tutup rapat-rapat tetapi setiap pagi dibuka dengan suara gas beracun. Lalu tutup kembali dan harus di simpan di tempat yang sejuk dan tidak terkena matahari.
  4. Apabila setelah 24 jam ada gelembung. Maka artinya fermentasi berhasil dan bau asam dan menyengat. Hati-hati baunya mengikat oksigen. Tunggu sampai 15 hari kemudian disaring. (dapat diaplikasi ke media tanam 1 persen saja dari jumlah air sumur serta tidak boleh kena daun dan batang.
  5. Perbandingan untuk jumlah fermentasi pembuatan kompos bisa 1 mol : 6 air : 1 gula/ tetes tebu.

Setelah disemprot/dibasahi dengan cairan starter ini, baru bahan-bahan dimasukkan ke dalam komposter. Proses ini dapat dilakukan setiap saat hingga komposter penuh. Untuk rumah tangga yang aktif masak dengan jumlah anggota keluarga cukup banyak, dalam waktu satu mingguan saja komposter sudah penuh.

sumber : http://dusunmekarsari.blogspot.co.id/2012/01/pupuk-organik-dari-sampah-kota.html

Cara pembuatan wadah komposternya sebagai berikut :

  1. Siapkan peralatan dan ember/tong/drum yang akan dibuat sebagai wadah komposter. Bagian atas tong plastik diberi 4 lubang diameter 4 inci untuk memasang pipa. Bagian bawah juga dilubangi dengan diameter yang sama, sebanyak 4-5 lubang, lalu ditutup kasa plastik sebagai jalan air. Ujung pipa bagian luar ditutup kasa plastik untuk sirkulasi udara.
  2. Pipa dilubangi dengan bor sebesar 5 mm setiap jarak 5 cm. Tong juga dilubangi 5 mm dengan jarak 10 cm untuk udara. Bagian dalam ember dipasang instalasi pipa pralon. Susunannya dapat dilihat pada video tutorial via youtube. Selain potongan pipa, yang diperlukan adalah sambungan T dan sambungan siku juga sebuah kran air.
  3. Pasang pipa pada empat sudut tong. Tempatkan pada bagian yang tidak kena sinar matahari atau hujan secara langsung. Tepi tong ditutup batu kerikil setebal 15 cm. Demikian juga sekeliling pipa ditutup kerikil, baru ditutup tanah. Tempat sampah biasanya berbau karena sampah organik cepat membusuk sehingga diperlukan kerikil untuk meredam bau tersebut.
  4. Saringan cairan dalam ember dapat dibuat dari tutup ember bekas yang diberi lubang secara merata. Lubang-lubang yang sama juga dibuat pada pipa pralon PVC di dalam ember. Fungsi lubang ini untuk proses pertukaran udara karena komposter ini menggunakan sistem aerob. Untuk menempatkan pipa dan pralon ke dalam ember lubang-lubang bisa dibuat dengan menggunakan bor.
  5. Tong tersebut diisi dengan sampah rumah tangga atau sampah sisa makanan, tetapi jangan diikutkan dengan kulit telur dan kulit kacang sebab sukar menjadi kompos.
  6. Setelah penuh, tong ditutup dan dibiarkan selama 3-4 bulan, agar lebih cepat gunakan bioaktivator atau bakteri starter untuk proses pembusukan sampah dan akan terjadi proses pengomposan. Sampah yang sudah jadi kompos berwarna hitam dan gembur seperti tanah.
  7. Sampah itu juga tidak mengeluarkan bau karena alat itu dilengkapi pipa-pipa vertikal yang dipadati dengan kerikil di sekitarnya untuk mencegah keluarnya gas yang terjadi selama proses pengomposan.Hasil akhirnya adalah kompos dan cairan yang bisa digunakan sebagai pupuk. Karena kami dulu tidak sempat merekam maka penampakan bagian dalamnya jika dilihat kurang lebih seperti ini:

Tips yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sampah dapur dengan komposter antara lain:

  1. Dalam komposter tersebut akan bermunculan belatung, sebab yang kita olah adalah sampah organik yang mengalami pembusukan. Kehadiran belatung itu justru dinantikan karena tugasnya melahap sampah dapur. Supaya belatung tidak berkeliaran maka tutup tong harus dijaga dalam keadaan rapat.
  2. Penempatan kompos sampah rumah tangga ini harus hati-hati, tidak boleh terlalu dekat dengan sumur yang dangkal karena bisa mencemari. 
  3. Wadah dapat dibuat dari ember bekas, drum, tong sampah atau jerigen bekas berukuran besar. Bahan yang digunakan baik berasal dari plastik bukan logam agar tidak berkarat.
  4. Sampah biasa identik dengan lalat. Begitupun juga komposter ini. Untuk meminimalkan komposter menjadi tempat bertelur lalat, kain kasa perlu dipasang pada lubang-lubang udara yang ada. Termasuk juga lubang-lubang pada pralon di dalam ruang ember. Jika masih juga muncul belatung biasanya bahan yang dimasukkan ke dalam komposter telah dihinggapi telur lalat sebelumnya.
  5. Kumpulkan sampah dari dapur setiap hari dan masukkan ke dalam komposter pada sore hari. Sebelum dimasukkan ke dalam komposter, sisa-sisa bahan dari dapur ukurannya diperkecil. Diiris dengan pisau atau dengan gunting, jangan lupa disemprot mol atau poc yang akan membantu proses pengomposan berlangsung lebih cepat.
  6. Untuk komposter yang terbuat dari tong atau drum yang cukup panjang badannya, bisa ditambahkan satu lubang pintu pada dindingnya. Fungsinya untuk mengambil kompos padat yang sudah matang mulai dari bagian bawah. Saringan bisa dimodifikasi dengan dibelah kemudian digabung lagi dengan kawat yang difungsikan sebagai engsel agar bisa buka tutup. Tempatkan saringan yang berengsel tepat di atas kran air.

  7. Lakukan panen pupuk cair ini secara teratur. Pembersihan alat ini secara berkala tetap diperlukan untuk membersihkan endapan lumpur di bagian alas tabung komposter karena volumenya semakin lama semakin naik.

  8. Untuk saringan penahan masuknya lalat di bagian dalam baik tidak dibuat dari kain kasa. Kasa terbuat dari kain akan mudah hancur dalam hitungan minggu. Baik diganti dengan ram kawat lubang kecil-kecil penahan nyamuk yang banyak dijual di toko besi atau bangunan.

komposter sampah di rumah kami

Dalam proses pengomposan ini, selain menghasilkan pupuk padat juga menghasilkan pupuk cair. Cairan ini selain berisi sisa air starter kompos yang berisi mikroba juga cairan yang keluar dari bahan organik yang membusuk. Cairan yang terkumpul di bagian bawah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Pupuk cair perlu diencerkan sebelum dipakai. Sejumlah praktisi di komunitas KOI memberikan resep satu bagian pupuk cair ini dicampur dulu dengan air dua puluh lima bagian baru diberikan pada tanaman. Bagaimana dengan teman-teman yang lain adakah yang punya pengalaman dalam mengolah sampah dapur? Sharing dong  😉

Menurut pengalaman, komposter model ini ternyata rawan tersumbat. Meskipun sudah ada saringan, karena partikel kecil yang tersaring dapat membentuk endapan lumpur akhirnya lubang-lubang yang dibuat pada pipa menuju kran menjadi tertutup. Akibatnya kran menjadi tersumbat pula. Sumbatan tetap saja terjadi meskipun lubang kran sudah ditusuk kawat panjang berkali-kali. Jadi apapun itu, yuk kita mulai memilah dan mengolah sampah dari dalam rumah kita.

 

 

 

 

Referensi :

[1]Penangan dan Pengolahan Sampah, Tim Penulis PS

[2]http://bungsu-tabalagan.blogspot.co.id/2012/11/mikro-organisme-lokal-mol.html

[3]http://dusunmekarsari.blogspot.co.id/2012/01/pupuk-organik-dari-sampah-kota.html