Festival Jong, Menengok Permainan Tradisional dari Kepulauan Riau

Merantaulah
Dengan merantau, kamu akan tahu bahwa masih ada dunia luar yang lebih mengasyikan atau bahkan tantangan yang siap tuk diarungi.

Sebuah kutipan yang cocok untuk hidup saya saat ini. Pengalaman saya merantau dari satu daerah ke daerah yang lain membuat saya memiliki banyak referensi dan informasi mengenal suatu tempat yang belum saya ketahui sebelumnya.

Batam, Kepulauan Riau merupakan salah satu kota yang saya singgahi dalam skenario hidup saya saat ini. Disini Allah takdirkan saya menempati bagian bumiNya yang lain. Mendampingi suami dan anak-anak membawa saya berada di Batam, kota yang sangat jauh dari kampung halaman saya. Memaksa saya keluar dari comfort zone dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh di tanah rantau.

Kali ini, saya ingin membagi cerita seputar permainan tradisional. Sebelum membahas berbagai macam permainan tradisional dari daerah yang pernah saya tempati, yuk kita cari tahu dulu apa sih permainan tradisional itu?

Permainan tradisional adalah permainan yang dimainkan oleh anak-anak jaman dulu. Kebanyakan permainan ini dilakukan dengan cara kelompok. Kehidupan masyarakat di masa lalu yang bisa dibilang tidak mengenal dunia luar telah mengarahkan dan menuntun mereka pada kegiatan sosial dan kebersamaan yang tinggi. 

Di Kepulauan Riau, terlebih di kota Batam kini permainan tradisional sudah sulit dijumpai. Hal ini dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, keterbatasan areal tempat permainan, pola pikir dan didikan orang tua. Untuk bermain bola saja saat ini kita sudah sangat sulit menemukan lapangan, dan kini beralih ke sepakbola dalam ruangan alias futsal.

Kepulauan Riau memiliki sejumlah permainan tradisional yang saat ini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah permainan Jong. Pemainan rakyat khas Melayu ini masih bisa ditemukan di tengah masyarakat Melayu.
Jong merupakan permainan dengan menggunakan replika perahu layar, perahu tersebut juga bisa berlayae ratusan meter.

Jong memiliki panjang 1,5 meter dan tinggi layar mencapai 2 meter. Sedangkan lebar perahu hanya sejengkal orang dewasa. Jong biasanya terbuat dari jenis kayu pilihan yaitu kayu pulai.
 
Cara memainkannya adalah dengan mengandalkan tiupan angin yang kencang. Biasanya para penghobi Jong memilih lokasi pantai untuk menguji ketangguhan jong miliknya. Jong dibawa dan diletakkan di atas laut, kemudian dilepaskan begitu saja. 

Hembusan angin yang kencang akan membawa Jong mendarat hingga ke bibir pantai. Jong tidak bisa berdiri begitu saja. Harus disangga dengan penyeimbang yang berupa kayu memanjang dan diberikan pemberat pada salah satu sisinya. Bentuknya mirip seperti penyeimbang yang digunakan oleh perahu layar asli.

 
Asal usul 
Sejarah permainan Jong ini konon berasal dari sebuah kegitan ritual. Pada jaman dulu orang-orang dari etnis Tionghoa sering memberikan sesaji ke tengah lautan. Dalam sesaji tersebut terdapat sebuah kue bernama Jong Kong. Sesaji ini dibawa dengan sebuah perahu kecil hingga hanyut tak terlihat lagi.

Perahu mini tersebut justru menarik perhatian orang Melayu yang melihatnya. Kemudian oleh orang Melayu perahu tersebut dijadikan sebagai permainan yang menyenangkan. Nama permainannya diambil dari ritual Jong Kong yang dilakukan oleh etnis Tionghoa tersebut.
Permainan Jong ini juga sering dijadikan sebuah ajang perlombaan besar yang dikenal dengan festival Jong. Para penghobi Jong dari berbagai pulau datang untuk memeriahkan kegiatan ini.

Festival Jong Batam 2018
Kebetulan Kota Batam baru saja menggelar lomba perahu Jong tingkat Kepri pada hari Jumat, 23 Februari 2018 dan berlangsung selama tiga hari. Lomba perahu Jong tingkat Kepri ini diadakan di Batu Besar, Kecamatan Nongsa, tepatnya di Pantai Melayu.
Festival Jong ini sudah memasuki tahun ke-12.
Lomba Jong tahun ini juga diikuti oleh ratusan peserta dari luar daerah, diantaranya dari Bengkalis, Kuala Kampar, Kabupaten Karimun, Moro, Bintan, Tanjung Pinang dan sekitarnya bahkan Kota Tinggi Johor pun ikut meramaikan.
Mewakili Karimun, kelompok Jong Sri Dunia menurunkan 18 orang pemain yang membawa 50 unit Jong dengan layar beraneka warna.
Lomba ini dibagi menjadi empat tingkatan, diantaranya Sampan Jong Besar, Sedang, Kecil dan Pemula. Pemula ini khusus untuk kategori anak-anak.

Permainan Jong sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang suku Melayu. Permainan ini digelar ketika angin kencang melanda wilayah Kepulauan Riau. Saat nelayan tidak melaut, karena kondisi angin yang tidak mendukung. Jadi mereka memainkan jong dalam rangka mengisi waktu luang.

View this post on Instagram

“Mereka ini semuanya adalah peserta tetap. Rencananya peserta dari Kota Tinggi, Johor juga akan datang,” ucap Alwi. Acara ini disupport oleh Dispora Kota Batam dan Disbudpar Batam. Nantinya para peserta tidak hanya mendapatkan uang pembinaan, namun juga mendapatkan Piala bergilir Walikota Batam. – – Lomba yang akan digelar, kata Alwi dibagi atas empat tingkatan. Sampan Jong besar, Sedang, Kecil dan Pemula. “Pemula ini khusus untuk anak-anak,” tuturnya. Permainan jong sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang bangsa Melayu. Permainan ini digelar saat waktu segang atau angin kencang melanda perairan Kepri. – – “Saat nelayan tidak melaut, karena angin yg tdk mendukung, mereka memainkan Jong ini. Jadi pengisi waktu lowong,” ucap Alwi- – – Festival jong di Kampung Melayu digelar tidak tetap setiap tahunnya. Karena permainan ini digelar berdasarkan dengan angin dan cuaca. Tahun lalu itu di Maret, karena musim utara terjadi di bulan itu. Tahun ini, musim utara datang lebih awal. Makanya lomba jong digelar di Februari.- – – Beberapa pemain jong sudah mulai berlatih dan menyetel sampannya. Salah seorang pemain Jong yang sedang berlatih, Dede menuturkan dirinya harus menyetel sampan jongnya. “Kalau tidak benar, saat lomba bisa tak tentu arah larinya,” ucap Ded. . #FestivalJongBatam2018 # enjoy #game #gamer #playgame #raceboat #traditionalboat #parahujong #letsgo #welcometobatam #festival #travelblogger #travelintheworld #vacation #history #discovery

A post shared by exploringkepriku 🌐🗺 (@exploringkepriku) on

Beruntung tahun ini kami bisa melihat Festival Jong. Sebab festival ini tidak digelar setiap tahun. Perlombaan jong ini digelar berdasar kondisi angin dan cuaca. Festival jong, biasanya memperlombakan kecepatan dan ketepatan jong menuju garis finish dalam sebuah lintasan berupa garis lurus. Perlombaan jong, biasanya dilakukan di pantai yang memiliki permukaan air laut yang dangkal ketika air laut sedang pasang.
Kelihatannya memainkan jong sangat mudah, hanya melepaskannya di permukaan air laut kemudian angin akan menerpa layar jong sehingga jong bergerak mengikuti arah angin.
Akan beda ceritanya, jika dalam perlombaan, memainkan jong memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Pemandu jong harus mengatur kemudi jong yang berada di ujung ganda kate, istilah untuk kayu yang dipasang melintang di sebelah kanan jong dan berfungsi sebagai penyeimbang. Ketika perlombaan dimulai pesona warna-warni dari layar yang terkembang terlihat semakin menarik.

Ini cerita permainan tradisional dari Kepulauan Riau, kalau di daerahmu ada permainan tradisional apa teman?

#HijrahParenting
#CeritaHijrah10
#Ceritahijrah_MainanTradisional