Ibu Berkisah : SIRAH SAHABAT RASUL AL-QA’QA’ BIN AMR ATAMIMI

Sebelum berkisah, ayah dan bunda harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan tepat, maka orang tua harus mempertimbangkan materi ceritanya.

Berdasarkan salah satu artikel di kuttab Al Fatih, usia awal sampai dengan 9 tahun, anak-anak sebaiknya dikisahkan materi tentang mencintai binatang. Bisa dimulai dr kisah nabi Yunus dan ikan paus), (kisah nabi Musa dan Ular) dan (kisah nabi Sulaiman dan burung hud-hud). 

Di usia awal sampai dengan 9 tahun, ayah bunda juga bisa berkisah Khusbah dan debitor), (kisah tiga orang yang telah menutup diri pada batu dengan merobohkannya), serta (kisah orang buta, kusta, dan orang botak).

Mulai usia 9 tahun, anak mulai diberikan materi kisah-kisah tentang etika komunikasi/adab. Bisa mulai dr Kisah Nabi Ibrahim bersama Ayahnya), (kisah nabi Yusuf dan seorang wanita), serta (kisah Zulkarnain). 

Diatas usia 9 tahun, kisah-kisah sunnah Nabi, pertama (kisah Abi Hurairah dan Syaitan), kedua (kisah bejana emas) dan ketiga (kisah orang yang membunuh 99 orang). 

Bagaimana Memulai Berkisah? Adakah teknik khusus dalam Berkisah?

Point penting yang harus diperhatikan ketika akan memulai berkisah adalah jangan paksakan ananda untuk mendengarkan cerita jika ia sedang asyik bermain. Ibu dan ayah tidak boleh memaksa, namun boleh untuk membujuk.
Tunggu sampai ananda mencari kegiatan yang baru, maka ibu dan ayah dapat menawarkan kepadanya untuk bercerita.

Batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) senang mendengarkan cerita sambil di pangku dan di dekap dalam pelukan. Lakukanlah hal ini, karena anak biasanya masih bingung dan takut dengan setiap kegiatan baru.

Mendengarkan kisah sambil menikmati sentuhan kasih ibu atau ayah adalah sebuah kombinasi yang sangat sempurna. Selain itu, dengan dipangku anak akan lebih tenang dan mudah berkonsentrasi. Kalau saya dan Faris lebih suka memulai kisah dengan diskusi dan tanya jawab atau cerita berima.

baca juga : Kisah Laba-laba dan Hijrah Rasulullah SAW

Untuk beberapa batita dan balita harus dibantu untuk mulai berkonsentrasi. Caranya? Mulailah bernyanyi lagu-lagu favoritnya. Umumnya anak akan ikut bernyanyi. Nah, kalau anak sudah santai dan ikut bernyanyi, maka cerita dapat segera dimulai. Lembutkan suara ibu dan ayah, supaya ananda terpikat mendengarkan alur cerita. Saya senang menunjukkan gambar yang menarik melalui buku bergambar, atau menggunakan diorama. Untuk anak perempuan biasanya lebih tertarik jika menyimak kisah melalui media boneka untuk membantu si ananda agar dapat membayangkan ceritanya.

Kalau ananda sudah mulai “rewel” atau tidak tertarik dengan cerita, ibu dan ayah boleh bernyanyi kembali, supaya si kecil tidak jenuh. Selama bernyanyi ibu dan ayah boleh bertepuk tangan atau melakukan gerakan-gerakan yang menarik minat si kecil. Setelah itu baru melanjutkan cerita.

Bagi anak yang belum pernah mendengarkan cerita, kadang memang sulit untuk tenang mendengarkan cerita. Ibu dan ayah harus sabar dan tidak boleh putus asa melewati proses ini. Karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan, biasanya yang sulit itu di awal jika kita konsisten insyaAllah akan semakin mudah. Begitu si kecil menemukan kenikmatan mendengarkan cerita, ibu dan ayah akan bercerita tanpa gangguan yang berarti.

Oiya ada satu hal penting lagi, sebaiknya matikan televisi, DVD atau VCD jika sedang berkisah supaya si kecil bisa konsentrasi pada ceritanya. Sebab, tayangan di televisi, DVD, atau VCD tetap menarik bagi batita dan balita.

Tayangan tersebut memiliki suara, musik, warna dan gerakan-gerakan yang sangat menarik minat batita dan balita.

SIRAH SAHABAT RASUL AL-QA’QA’ BIN AMR AT-TAMIMI

Faris : “Ma,boleh nggak Faris belajar berkuda?”
Mama : “Bolehlah, sayang. Berkuda kan Sunnah Nabi, dan selain itu Allah menyebutkan ‘kuda perang’ dalam ayat pertama QS. Al-‘Adiyaat”
Faris :” Oh, ada ceritanya juga ya. Faris mau dengar kisah tentang Ksatria berkuda ”
Mama: “Oke.”

Semoga kisah ini bisa memotivasi agar engkau menjadi ksatria pembela Islam yang gigih dan dicintai Allah😇

Faris, kali ini Mama akan bercerita tentang Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi

Siapakah Beliau?

Beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah dari Bani Tamim. Ia sangat pemberani dan senantiasa mempersembahkan hidupnya untuk jihad di Jalan Allah. Selain itu, Ia dikenal mencintai kebaikan,jujur,cerdik,suka memuliakan tamu dan hidup bersahaja.

Suatu ketika Rasulullah bertanya padanya “Apa yang engkau persiapkan untuk berjihad?”

Lalu ia menjawab dengan mantap ” Ta’at kepada Allah dan RasulNya serta seekor kuda”.

Al-Qa’qa’ senantiasa berpegang teguh pada Islam meskipun Rasulullah telah wafat. Oleh karena itu Abu Bakar menunjuknya menjadi pemimpin satu peleton pasukan muslimin untuk memerangi murtadin.

Dalam sebuah perang Qadisiyah dengan berani ia menyerang Bahman Jadzuyah,panglima pasukan Persia hingga tersungkur tak berdaya. Ia juga memiliki siasat yang luar biasa dalam menaklukkan pasukan gajah-gajah Persia,hingga takut terhadap kuda-kuda kaum muslimin. Dengan berani, Al-Qa’qa’ mengejar kearah jantung barisan musuh hingga pasukan Persia terpecah belah dan melarikan diri.

Rustum, pemimpin pasukan besar pun tewas oleh pasukan muslimin. Dan akhirnya Persia pun takluk. Puncaknya, Al-Qa’qa’ memimpin pasukan mujarradah yakni pasukan berkuda dalam menaklukkan kota Nahawand. Dan sejarah mencatat perang tersebut sebagai Fathul futuh( penaklukan segala penaklukan),dimana setelahnya Persia tidak mampu untuk berdiri lagi.

Al-Qa’qa’ senantiasa siap menjual dirinya kepada Allah SWT dan mempersembahkan jiwanya untuk membela agamaNya.

Faris: “Faris mau, Ma. Faris mau jadi pejuang Islam, Ma.”

Mama:” MasyaaAllah, Semoga Allah menjaga dan senantiasa mencurahkan pertolongan Nya buat engkau, sayang. ”

📚 Disarikan dari buku 10 Pendekar Rasulullah saw; Ksatria Islam yang Gagah Berani, Penulis Asyraf Muhammad Al-Wahsy.[dari Hijrah Islamic Parenting]

〰🐴✨🐴✨🐴✨🐴✨🐴✨〰

Semoga siroh sahabat Rasulullah menjadi penyemangat Ananda meraih cinta-Nya💚

Mengenal Konsep Jual Beli dan Belajar Menakar Timbangan

Jika kita mempelajari shirah Rasulullah, kita melihat bagaimana Rasul mengajarkan kita untuk mandiri sejak usia dini. Rasulullah sudah mulai berdagang di usia 7 tahun. Ikut kafilah lintas negara di usia 9 tahun dan mengembangkan harta dagang khadijah di usia awal 20an.

Sebagai muslim, selayaknya kita meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupannya.
Target minimal kita adalah menyiapkan anak-anak untuk bisa menjadi menjadi pribadi mandiri saat mencapai usia baligh tidak seharusnya terus menerus merepotkan dan menjadi beban kedua orangtuanya.

Islam mengajarkan orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat. Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Anak kita latih untuk tidak suka meminta-minta termasuk meminta kepada ortunya. Kewajiban kita sebagai orang tua adalah memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan untuk memenuhi keinginannya, mereka harus berusaha dulu.
Sejak dini kita pahamkan pada mereka bahwa untuk bisa memenuhi kebutuhan (dan keinginan) seseorang perlu bekerja, berusaha.
Itulah yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita.

Mental Enterpreneur

1. Jujur

2. Orientasi sosial

a.Motif Ta’awun

b.Sopan dan ramah-tamah.

c.Sportif “Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

d.Tidak egois.
“Berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering keringatnya”.
Ada Ada
e.Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat)yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial.

f.Komoditi bisnis yang dijual haruslah barang yang suci dan halal.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan“patung-patung” (H.R. Jabir).

g.Bagi pihak yang berhutang, menyegerakan membayar hutang
h.Bagi pihak yang memberi hutang, meringankan yang berhutang.

3. Itqon

Ajari anak agar senantiasa menjaga amanah serta melakukannya dengan profesional. Tanamkan jiwa merit base yaitu jiwa untuk senantiasa menyelesaikan sesuatu dengan baik dan sempurna, tidak hanya sekedar selesai dengan hasil minimalis.

إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seseorang pekerja apabila ia berbuat sebaik-baiknya (profesional) ” (HR. Baihaqi)

4. Inovatif dan kreatif

a.Berani mencoba hal baru.

b.Memahamkan konsep value added.

5.Leadership

Ajari anak agar memiliki jiwa kepemimpinan, seperti

a.Disiplin
Latih anak agar disiplin dalam setiap aktivitasnya, baik disiplin terhadap waktu ataupun disiplin terhadap target yang ingin dicapai

b.Bertanggung jawab
Ajari anak bertangung jawab terhadap dirinya sendiri, barang miliknya, kebutuhan yang harus dia siapkan sebelum berangkat sekolah, membereskan mainan, dll.

Ajari juga anak agar mengetahui konsekuensi dari setiap aktivitasnya.

c.Bekerja dalam tim
Biasakan anak bekerjasama dengan orang lain.

d.Berani dan optimis
Latih keberanian anak untuk bertanya, berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat. Ajari anak untuk berani mempertahankan kebenaran, menerima kritik dan saran dengan lapang dada, tidak takut dengan sesuatu yang tidak beralasan.

Bagaimana Cara Untuk Menumbuhkan Semangat dan Jiwaentrepreneur Pada Anak Sejak Dini ?

Peran orangtualah yang mesti lebih intens dan peka pada pertumbuhan anak. Usia 2 – 5 tahun adalah usia-usia dimana rasa keingintahuan mereka sangat tinggi. Pada masa ini, orangtua bisa mengenalkan dunia kewirausahaan secara bertahap pada mereka. Konsep jual beli dapat dikenalkan pada anak sejak usia 2 tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan cara role play jual beli. Anak bisa berperan sebagai penjualnya lalu orangtua bisa berperan sebagai pembeli, atau bisa sebaliknya.

Seperti kegiatan saya hari ini dalam mengenalkan konsep jual beli kepada Faris, yuk ikuti kegiatan kami hari ini.

Ketika proses permainan jual beli itu berlangsung, misalnya, “ Mama mau beli mobil yang biru ini, harganya berapa ya? “Ini uangnya”, “Kembaliannya belum loh ya”, Harganya boleh kurang nggak, om?”. Awalnya anak tentu tidak mengerti, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, lama-lama anak menjadi paham aturan mainnya.

Jika anak sudah beranjak lebih besar, sekitar umur 3 – 4 tahun, sebaiknya perkenalkan anak dengan proses jual beli yang nyata. Anak bisa diajak ke pasar tradisional atau ke supermarket untuk ikut terlibat dalam transaksi jual beli. Berikan penjelasan kepada anak tentang pengetahuan tentang konsep perdagangan secara sederhana dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh anak.

Saat anak bertambah usianya, misalnya ketika memasuki usia sekolah dasar, libatkan anak dengan usaha kecil-kecilan. Misalnya anak diikutsertakan untuk membantu berjualan kelereng saat musim permainan kelereng. Ketika sedang musim buah, ajak anak untuk berdagang buah-buahan, atau usaha dagang lainnya yang bermacam-macam. Bertambahnya usia anak, coba latih pikiran kreatif dan ketertarikan mereka tentang usaha-usaha yang sekiranya bisa dikembangkan.

Dorong anak-anak untuk memulai usahanya dari yang kecil terlebih dahulu, dan jadikan ia menjadi pelaku utamanya, sementara orangtua sebagai pembimbing dan pemberi dukungan. Jika anak sudah berani mencoba untuk memulai usahanya, terus dorong semangat entrepreneur anak dan rangsang ide-ide kreatifnya. Bisa jadi usaha pertamanya gagal, tetapi karena dorongan dari orangtua yang begitu tinggi, anak akan bangun lagi dan mencoba usaha di bidang lainnya.

Justru pengalaman kegagalan ini diperlukan agar anak mempunyai mental yang kuat. Selalu beri dia motivasi agar mau bangkit kembali saat gagal, agar kelak tidak canggung lagi dalam berwirausaha.

 
Mengenal Konsep Jual Beli dalam Islam

Format Dokumentasi Pembelajaran

🔖Nama anak: Faris
🔖Tema : Menakar timbangan dan Mengenal jual beli
📍Tujuan pembelajaran
– Tadabbur surat Al Muthoffifin 1-6
– Mengenal jual beli
– Menakar timbangan yang pas
🔖Usia anak: 3y6m
📍Bahan:
1. mainan timbangan anak + timbel
2. bombik, mainan plastik, manik-manik
3. uang mainan

🔖cara membuat&proses:

🐣Pijakan awal :

Tilawah surat Al muthofifin 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)
أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٦

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (QS. al-Muthaffifîn/83:1-6)

Kegiatan diawali dengan mengajak Faris berdiskusi tentang orang yang curang. Sudah bisa ditebak pertanyaan yang keluar pertama kali adalah “Ma, curang itu apa sih?” Saya berusaha menjelaskan melalui penjelasan yang ada dalam Al Quran dan mengambil contoh dalam kehidupan nyata. Misalnya ketika kita akan melakukan kegiatan apapun maka pondasi dan pegangan hidup kita adalah kejujuran. Kenapa kita harus jujur? Karena Allah Maha Melihat, meskipun kita bersembunyi dengan cara apapun Allah akan selalu melihat apapun yang kita lakukan. Jadi kalau Faris kepengen berat amalannya makin banyak maka Faris harus berlaku jujur.

– Mama memberi contoh cara menimbang yang pas (jika kurang berdosa dan jika lebih kita yang merugi).

– Mama menjelaskan aturan main.
– Berdoa sebelum bermain.

🐣pijakan saat main :
– Bergantian peran menjadi penjual dan pembeli
– Mengingatkan untuk ramah kepada pembeli

🐣pijakan setelah main :

– Menguatkan kembali pentingnya menjadi pedagang dan pembeli yang jujur, jangan sampai menjadi orang uang curang seperti yg disebut surat al muthaffifin.

– beres beres setelah bermain

Perintah Menyempurnakan Takaran dan Timbangan : Kisah Nabi Syu’aib AS dan suku Madyan

Islam dengan kesempurnaan, kemuliaan dan keluhuran ajarannya, memerintahkan umatnya untuk menjalin muamalah dengan sesama atas dasar keadilan dan keridhaan. Di antaranya, dengan menyempurnakan timbangan dan takaran.

Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu [ar-Rahmân/55:9].

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya [al-An’âm/6:152].

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan penyempurnaan (isi) takaran dan timbangan dengan adil. Dan menyatakan bahwa siapa saja yang tanpa kesengajaan terjadi kekurangan pada takaran dan timbangannya, tidak mengapa karena tidak disengaja”.

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa memenuhi takaran dan timbangan lebih utama dan lebih baik manfaat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya [al-Isrâ`/17:35].

Dalam ayat lain, perintah menyempurnakan takaran mengiringi perintah beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebab, pelaksanaan dua hal tersebut berarti memberikan hak kepada pemiliknya yang tepat, tanpa ada pengurangan. [1]

Orang yang menyalahi ketentuan yang adil ini berarti telah menjerumuskan dirinya sendiri dalam ancaman kebinasaan. Dan sampai sekarang, praktek ini masih menjadi karakter sebagian orang yang melakukan jual-beli, baik pedagang maupun pembeli. Dengan mendesak, pembeli meminta takaran dan timbangan dipenuhi, dan ditambahi. Sementara sebagian pedagang melakukan hal sebaliknya, melakukan segala tipu muslihat untuk mengurangi takaran dan timbangan guna meraup keuntungan lebih dari kecurangannya ini.

Sejarah telah menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Syu’aib Alaihissallam kepada kaum yang melakukan kebiasaan buruk ini. Nabi Syu’aib Alaihissallam sudah menyeru kaumnya, suku Madyan (penduduk Aikah), agar menjauhi kebiasaan buruk itu.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ﴿٨٤﴾وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ﴿٨٥﴾بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan, (Kami utus saudara mereka), Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (Kiamat)”. Dan Syu’aib berkata, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa keuntungan dari Allâh adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu [Hûd/11:84-86]

Namun kaum Nabi Syu’aib menolak dan mengingkari dakwah beliau. Allâh Azza wa Jalla mengisahkan mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami” [Hûd/11:87]

Beliau menjawab: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allâh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali” [Hûd/11:88]

Akhirnya, Allâh Azza wa Jalla menghancurkan mereka dengan siksa-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar [asy-Syu’arâ/26:189]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ﴿٩٤﴾كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا

Dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya . Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. [Hûd/11:94-95]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka [al-A’râf/7:91]

Kurangnya pengetahuan (jahâlah) tentang tata cara berniaga dan berdagang yang baik dan syar’i merupakan salah satu faktor yang melatarbelakangi praktek kecurangan dalam takaran dan timbangan (serta perdagangan secara umum). Maka, menjadi kewajiban orang yang terjun di dunia bisnis (perdagangan) untuk mendalami fiqh buyû (hukum-hukum jual-beli dan muamalah Islam). Tujuannya, agar terhindar dari berbuat kecurangan, riba, dusta, kezhaliman dan kehilangan berkah.

Khalifah ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu pernah memperingatkan, “Orang yang belum belajar agama, sekali-kali jangan berdagang di pasar-pasar kami”.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu pernah berkata, “Pedagang bila (pelaku bisnis) tidak faqih (paham agama) maka akan terjerumus dalam riba, kemudian terjerumus dan terjerumus (terus)”.

PENJELASAN AYAT : 4
Meskipun orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran itu, telah diancam dengan siksa, kecurangan itu tetap saja mereka lakukan, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ﴿٤﴾لِيَوْمٍ عَظِيمٍ﴿٥﴾يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Tidakkah orang-orang yang mengurangi hak-hak manusia dalam timbangan dan takaran itu meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka setelah mereka mati, pada suatu hari yang sangat penting, dahsyat lagi menakutkan?”.[2]

Tidakkah mereka takut kepada hari kebangkitan dan saat berdiri di hadapan (Allâh) Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan tertutupi pada hari yang sangat besar bahayanya, banyak menimbulkan kesedihan, dan agung urusannya. Barangsiapa merugi, pasti akan dijerumuskan ke api yang menyala-nyala ?[3]

Kalaupun mereka tidak meyakini adanya hari pembalasan, bukankah lebih baik menganggapnya ada, kemudian merenungkannya, mencari tahu tentangnya, dan akhirnya berhati-hati mengambil langkah selamat dengan tidak mengurangi hak orang lain.[4]

Orang-orang yang melakukan praktek kecurangan (dan para pelaku dosa lainnya) akan menghadapi hukuman Allâh Azza wa Jalla pada hari itu. Hari yang besar. Allâh telah menyebutkannya sebagai hari yang besar sehingga menunjukkan keagungan dan pentingnya hari tersebut. Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan hari itu sebagai hari yang menakutkan, menyengsarakan, meresahkan dan mengiris perasaan. (Lihat surat at-Takwîr, al-Insyiqâq dan al-Infithâr).

 
Semoga melalui kisah ini dapat dijadikan pengingat dan membuat diri lebih takut melakukan perbuatan curang

 

Referensi :

[1]. Tatimmah Adhwâul Bayân 9/93
[2]. Jâmi’u al-Bayâni fi Ta`wil Ay al-Qur`ân 15/115
[3]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsîr 8/347
[4]. al-Jâmi li Ahkâmil Qur`ân 19/222
 
[5]. Buku MUAMALAH UNTUK ANAK (Buku Cerita Anak Bergambar)-Mengenal Buruknya Harta Haram-

Media Berkisah : Kisah Nabi Yunus AS dan Diorama Ikan Paus

Apa sih Media Berkisah?

Menurut buku Bahagia Berkisah karya Ibu Hikmah Yulitasari, media berkisah dibagi menjadi dua, unsur utama dan unsur pelengkap.

Ada tiga unsur utama berkisah, antara lain:
1. Ibu & Ayah
2. Anak
3. Kisah.
Bersumber dari Al Qur’an, hadits, sirah melalui berbagai media berkisah.

Unsur pelengkap media berkisah, diantaranya :

1. Majelis ilmu
2. Buku
3. Alat peraga yang ada di rumah / lingkungan
4. Boneka jari / tangan
5. Audio
6. Audio visual
7. Internet

Agar terlihat jelas, mana yang harus ada. Mana yang tidak ada pun tidak apa-apa asalkan ada unsur utama.
Kaidahnya, yang utama ada pelaku kisah. Ada yang menyimak kisah. Ada sumber kisah.

Adapun media berkisah sebagai pelengkap akan memudahkan, terutama bagi yang sedang berproses memulai rutin berkisah.

Bagi yang sudah rutin berkisah, pelengkap bisa menjadi sangat variatif dan bisa dipadupadankan yakni gabubgan dari beberapa media berkisah.

Bahkan, jika sudah terbiasa berkisah, sudah bisa bertutur kisah secara langsung dengan menarik.

Media berkisah berfungsi sebagai :
1. penarik minat anak
2. Variasi baru penunjang berkisah
3. Suasana baru bagi ibu dan anak.

Namun, pada kondisi tertentu, tanpa media berkisah pun kadang berkisah malah jadi lebih hidup, lebih bervariasi, lebih berwarna.

Point terpenting disini adalah setelah ibu merasa bahagia berkisah, nikmatilah, eksplor potensi diri, eksplor potensi anak, eksplor benda-benda yg ada di rumah dan lingkungan sekitar.

Gunakan mata hati dan akal untuk menemukan, kira-kira apa sih yang bisa dipakai sebagai pelengkap berkisah.

Setiap ibu dan anak punya kebutuhan sendiri. Rumah setiap ibu memiliki kondisinya sendiri. Lingkungan ibu ada situasinya sendiri. Bisa jadi tidak sama antara satu ibu dengan ibu lain, walaupun sama-sama satu grup di KIB. Jadi, silahkan menemukan sendiri yah, kira-kira media berkisah apa yang bisa dipakai.

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Salah satu sumber belajar bagi anak adalah melalui sebuah media berkisah. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media berkisah merupakan hal yang penting agar orang tua baik ayah maupun ibu lebih mudah menyampaikan dan anakpun memahami pesan yang disampaikan dalam sebuah kisah.

Memang harus ya cari media berkisah?

Ibu Hikmah, menyarankan iya. Kenapa? Iman kita naik turun. Amal kita turun naik. Kondisi kita berubah terus. Apalagi respon anak hehehe. Makhluk ciptaan Allah yang luar biasa istimewa dengan karakternya sendiri, dengan pikirannya sendiri, dengan tingkah polanya sendiri. Hari ini merespon berkisah dengan antusias dan manis. Besok bisa menolak dan lari kesana kemari. Kemarin kritis bertanya. Lusa datar saja. Begitulah anak-anak.

Jadi ibu memang harus dinamis, dengan tujuan menyegarkan niat, memperbaharui amal, mencari suasana baru yang bikin anak senang dan tidak jenuh.

Bukan berarti, setiap hari ibu harus ganti sarana, ya nggak begitu juga. Ibu-ibu kan banyak urusan yaa. Repot atuhlah kalo tiap hari kita harus cari media berkisah baru.

Maksudnya, saat Ibu sedang ada waktu dan kesempatan, gunakanlah untuk mencari sarana media berkisah baru. Insya Allah bukan hanya anak saja yg senang, bahkan ibu juga ikut senang kan ya. Ibarat mencicipi menu makanan yang beda, punya baju baru, itu kan ada rasa baru yang beda gimana gitu ya hehehe. Nah kurang lebih begitu.

ini diorama kita

Sesungguhnya ada berbagai macam media berkisah untuk anak-anak. Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita tentang media berkisah yang saya gunakan untuk berkisah beberapa hari ini. Saya memilih menggunakan diorama sebagai media dalam berkisah. Kenapa diorama? Karena di usia anak saya saat ini, dia sedang senang-senangnya belajar menggunting tempel dan membuat papercraft. Jadilah kami membuat project diorama kehidupan bawah laut dan ikan paus untuk mendukung kegiatan berkisah.

Cara pembuatan diorama sederhana ini sangat mudah dan anak-anak pun puas dengan hasil karyanya. Alat dan bahannya pun sederhana, kita hanya memerlukan kertas kardus tebal, karton, gunting, cutter, penggaris, lem kertas, selotip, benang, dan jarum.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan diorama antara lain sebagai berikut :

1.Membuat sketsa yang akan dibuat dan gambar rencana diorama sesuai dengan tema yang akan diangkat dalam proses berkisah.
2.Menyimpan tempat diorama. Tempat diorama ini dapat berupa kotak karton, kotak kayu, meja, lantai dan sebagainya sesuai dengan ukuran diorama yang diinginkan.
3.Mengerjakan bagian-bagian diorama secara rinci dengan yang direncanakan dalam gambar sketsa. (kalau saya buat di laptop kemudian siap dicetak)
4.Setelah selesai membuat bgaian-bagiannya, barulah kita bisa menyusun bagian-bagian tersebut di atas tempat diorama yang telah disiapkan.
5.Mewarnai dan menghiasi diorama agar nampak lebih hidup dan nyata.

Tiap diorama dibuat di dalam kotak dengan sisi yang terbuka. Sebagian terbesar dari objek diletakkan diatas panggung seperti hewan laut dari karton yang dilipat, cat-cat atau krayon digunakan untuk mendekorasi, bagian belakang dan dinding bagian samping diorama. Karena Faris belum bisa mewarnai dengan baik, jadi saya buat langsung dicetak jadi ia tidak perlu mengecat.

Setelah jadi, biarkan anak untuk menyentuh dan memainkan media diorama tersebut dengan imajinasi yang mereka miliki. Selain diorama, saya juga menyiapkan stiker yang nantinya ditempel sesuai dengan narasi yang saya sampaikan, mudah-mudahan dengan ikhtiar ini anak dapat memahami kisah hikmah yang saya sampaikan.

Manfaat Media Diorama

1. Dengan menggunakan media diorama ini anak akan lebih berkreatif dalam mengekspresikan pemandangan.
2. Cocok untuk anak dengan gaya belajar visual, karena diorama dapat mevisualisasikan apa yang ada dalam pikirannya.
3. Dapat melatih fokus dan kesabaran anak.

Kisah Hikmah Nabi Yunus AS

Hari ini, Mama punya kisah yang penuh hikmah buat Faris. Kisah apa ya? Ini adalah kisah Nabi Yunus AS. Begini kisahnya,

Ada sebuah negeri di bagian Selatan Irak yang bernama Ninawa. Negeri itu sangat kaya. Namun penduduknya ingkar dan tidak bersyukur. Mereka menyembah berhala dan bukan menyembah Allah.

Allah pun mengutus Nabi Yunus Alaihi Salam untuk berdakwah kepada penduduk negeri itu. Nabi Yunus menyeru penduduk Ninawa untuk menyembah Allah, pencipta alam semeata beserta isinya. Ajakan Nabi Yunus ditolak mentah-mentah oleh penduduk Ninawa. Setelah bertahun-tahun, hanya sedikit yang mau mengikuti ajakan Nabi Yunus untuk beriman kepada Allah.

Melihat keadaan tersebut, Nabi Yunus yang memberitahukan bahwa azab Allah segera datang kepdaa mereka. Tetapi, penduduk Ninawa tidak percaya. Mereka tidak peduli dengan peringatan Nabi Yunus. Suatu hari, sebelum azab yang dijanjikan tiba, Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah awan gelap yang bergumpal-gumpal diselingi petir yang menyambar-nyambar, dan cahaya merah seperti api yang hendak turun dari langit. Penduduk Ninawa berlarian mencari perlindungan. Saat itulah mereka ingat Nabi Yunus. Para penduduk pun berbondong-bondong mencari Nabi Yunus. Mereka beramai-ramai memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Tobat mereka diterima Allah. Awan gelap yang menyelimuti kota itu pun menghilang perlahan- lahan, sehingga azab tidak jadi diturunkan. Penduduk Ninawa pun terkejut melihat berhala sembahan mereka hancur berkeping-keping terkena sambaran petir.

“Benarlah apa yang dikatakan Nabi Yunus. Mulai sekarang, kita akan menyembah Allah dan mengikuti ajarannya!” seru penduduk Ninawa.

Sementara itu, Nabi Yunus telah tiba di pinggir laut. Nabi Yunus akhirnya naik ke sebuah kapal. Ia berencana pergi jauh dari negeri Ninawa karena penduduknya tidak mau menerima dakwahnya. Perjalanan Nabi Yunus ternyata tidak mudah. Di tengah laut, topan dan gelombang besar datang menghadang. Kapal pun terombang-ambing dan hampir tenggelam.

Nakhoda kapal langsung mengumpulkan para penumpang. “Biasanya, hal seperti ini terjadi jika ada seorang pelarian di dalam kapal. Kapal ini tidak mau membawa orang yang sedang dalam pelarian. Karena itu, kita akan mengundi siapa yang akan dibuang ke laut!” seru sang nakhoda.

“Tidak usah diundi. Akulah orangnya. Biar aku saja yang terjun ke laut!” kata Nabi Yunus. “Dari raut wajahmu, aku tidak percaya engkau seorang pelarian,” ucap nakhoda kapal. “Sudah, diundi saja biar adil!” seru penumpang yang lain. Setelah diundi sebanyak tiga kali, nama Nabi Yunus selalu keluar. Itu artinya, Nabi Yunus akan dibuang ke tengah laut. Melihat hal itu, Nabi Yunus tidak terkejut. Dari semula ia merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan kapal terombang-ambing.

Tanpa dipaksa, ia pun langsung terjun ke laut. Tiba-tiba, saat tubuhnya akan mencapai air, sebuah mulut hewan raksasa menangkap dirinya. Ya, seekor ikan paus yang sangat besar diutus Allah untuk menelan Nabi Yunus. Ikan Nun, diperintahkan oleh Allah agar tidak memakan daging dan meremukkan tulang Nabi Yunus, karena Nabi Allah itu bukan santapannya. Allah hanya ingin perut ikan paus itu sebagai penjara untuk Nabi Yunus.

Ikan paus itu lalu membawa Nabi Yunus ke berbagai lautan, hingga sampai di dasar sebuah lautan. Mengetahui dirinya berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus pun berdoa pada Allah, “Ya Allah, tidak ada tuhan selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim!”

Nabi Yunus terus-menerus berdoa, memohon ampun pada Allah SWT, atas kekhilafannya. Allah SWT pun mendengar doa Nabi Yunus dan berkenan mengampuninya.

Dengan perintah Allah, paus besar yang menelan Nabi Yunus perlahan-lahan berenang ke tepi laut dan memuntahkan tubuh Nabi Yunus yang sakit dan lemas ke daratan. Allah lalu menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu dan melindunginya dari terik matahari sampai keadaan tubuhnya membaik.

Setelah sehat kembali, Allah SWT, memerintahkan Nabi Yunus untuk kembali ke kaumnya di negeri Ninawa yang dulu ditinggalkan. Nabi Yunus pun berjalan menuju kampung halamannya. Penduduk kota Ninawa menyambut gembira kembalinya Nabi mereka yang telah lama menghilang. – tamat –

Pertanyaan yang muncul :
“Mama, ikan Nun masih hidup nggak sekarang? “

Catatan :

kegiatan berkisah kali ini, saya dan Faris sangat menikmati setiap prosesnya. Saat dibacakan kisah, Faris tidak hanya memperhatikan tetapi ia juga memainkan dioramanya sambil menempel stiker yang sudah saya sediakan agar ia memahami alur dari kisah yang saya sampaikan. Sehingga diharapkan ia bisa mengambil hikmah dari kisah ini dan dapat menceritakan kembali. 💕

Manfaat Berkisah

Banyak metode yang bisa dilakukan untuk mendidik anak, menyampaikan pesan-pesan hikmah padanya dan membentuk kepribadiannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berkisah.

Berkisah merupakan salah satu metode terbaik dalam menyampaikan pesan dan hikmah kepada ananda. Bahkan Al-quran sendiri sebagian besar isinya adalah kisah atau cerita. Kisah atau cerita bisa disampaikan pada anak sejak sedini mungkin, bahkan sejak baru lahir anak sudah bisa diceritakan. Tapi perlu dipastikan juga kalau cerita yang disampaikan pada anak kita adalah cerita yang semakin mendekatkan dan mengikatkannya pada Allah dan Rasul-Nya. Ini sangat efektif sebagai sarana untuk menanamkan tauhid dalam diri anak sejak dini.

Banyak manfaat dan hikmah yang saya dapat dari berkisah kepada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah

1. Mempermudah anak dalam mempelajari bahasa. Anak yang sering dibacakan kisah akan lebih mudah dalam mempelajari bahasa dan semakin banyak mengenal kosakata.
Dengan berkisah, ternyata dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan linguistik dan menumbuhkan kreativitas dalam diri anak. Yang harus digaris bawahi agar menjadi perhatian orang tua adalah cerita yang disampaikan kepada anak adalah kisah-kisah nyata dan sarat akan nilai-nilai Islam sebab sedikit banyak pasti berdampak baik terhadap kepribadian anak-anak.

2. Cerita yang berkualitas akan membentuk kepribadian baik anak
Sejatinya kepribadian kita terbentuk oleh apa yang sering kita dengar dan lihat. Dan salah satu yang efektif dalam membentuk kepribadian seorang anak adalah cerita. Dalam satu kesempatan Ustadz Salim A. Fillah pernah mengatakan kenapa di negeri kita ini banyak koruptor ? Sering terjadi kecurangan dan sejenisnya. Mungkin salah satu penyebabnya kata beliau adalah karena cerita yang lebih sering didengarkan oleh anak-anak di negeri adalah kisah si kancil mencuri ketimun dan berbagai kecurangannya. Secara tak lansung kata beliau sambil berseloroh ini akan membentuk kepribadian kita. Naudzubillah min dzalik.
Berbeda dengan anak-anak di zaman Muhammad Alfatih yang pada waktu itu diceritakan kisah-kisah para Nabi, perjuangan Islam, penaklukan, mimpi Rasulullah akan jatuhnya kota konstantinopel ke tangan Umat Islam. Sehingga kisah-kisah ini membangkitkan semangat perjuangan dalam diri generasi muda di zaman tersebut.
Islam sangat kaya dengan cerita, Al-qur’an sebagian besar isinya kisah, ada kisah para Nabi, para sahabat Nabi, shahabiyah Nabi, para tabi’in, ulama dan lainnya. Sesungguhnya ini adalah aset berharga umat muslim untuk membentuk kepribadian generasi mudanya.

3. Menumbuhkan kreativitas
Anak yang sering mendengarkan cerita sejak masih kecil atau dalam kandungan memiliki kemampuan yang belum diajarkan padanya atau mampu menemukan pemecahan masalah yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orangtuanya. Hal ini mungkin terjadi karena informasi yang didapat dari indra pendengarannya tersimpan sebagai memori jangka panjang. Di dalam otak terdapat tonjolan bernama “girus: yang berfungsi merekam kode-kode informasi. Semakin banyak informasi, pembelajaran dan rangsangan yang diperoleh anak, semakin banyak pula girus yang terbentuk di otaknya.
Semakin sering dan tekun orangtua menceritakan kisah-kisah berkualitas pada anaknya maka akan sangat baik bagi perkembangan otak dan kreativitas anak.

4. Meningkatkan daya pikir anak
Mendengarkan kisah akan meningkatkan daya pikir anak. Semakin sering anak diajak untuk berkomunikasi, semakin cepat perkembangan daya pikirnya.

5. Menciptakan imajinasi anak
Setelah mendengarkan cerita anak akan berimajinasi dan mempelajari nilai-nilai yang terdapat dalam cerita tersebut. Membacakan kisah mengubah sifat abstrak tersebut menjadi bentuk nyata yang dapat dibayangkan melalui peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita.

6. Cara mudah untuk mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak
Berkisah adalah salah satu cara mudah dan efektif untuk mengenalkan keteladanan dari tokoh-tokoh hebat kepada anak. Seperti halnya mengenalkan Nabi Muhammad Saw, para Nabi, para sahabat, tabi’in dan berbagai tokoh-tokoh muslim yang mendunia lainnya.
Jika kita ingin melihat bagaimana penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari tentu tempat belajar yang paling tepat adalah kepada Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau. Dari kisah-kisah mereka kita akan menemukan banyak sekali keteladanan baik itu tentang perkara beribadah pada Allah Swt, sikap mulia ke sesama manusia, perjuangan dan pengorbanan serta berbagai kemuliaan lainnya.

7. Menjauhkan anak dari TV, gadget, game dan sejenisnya.
Musuh utama bagi anak yang terkadang tidak disadari oleh para orangtua adalah berbagai tontonan yang ia lihat dan permainan digital yang dimainkannya. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang ini gadget menjadi satu hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sudah bukan hal yang aneh lagi saat orang tua membekali anaknya dengan gadget sehingga pada akhirnya membuat anak-anak kecanduan.

8. Sebagai sarana untuk membangun keakraban antara anak dan orangtua
Saat berkisah tentu orang tua akan meluangkan waktu untuk hadir disamping anaknya menyampaikan cerita. Kesempatan ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun keakraban antara orang tua dan anak, terlebih lagi bagi orang tua yang pergi pagi dan pulang malam. Waktu malam untuk berkisah bisa menjadi satu waktu yang berkualitas bersama anaknya.
Pengalaman mendengarkan kisah dari orangtua akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak.

9. Menambah wawasan orangtua
Ketika membacakan kisah pada anak maka secara tidak lansung orangtua juga ikut belajar. InsyaAllah akan mendapat dua manfaat sekaligus, anak mendapat ilmu dan orang tua pun bertambah wawasannya.

10. Menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu sejak dini
Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa InsyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. PR yang utama bagi orang tua adalah menumbuhkan kecintaan membaca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.

Kurang lebih, poin-poin di atas adalah berbagai kebaikan dari kegiatan berkisah kepada ananda. Berkisah kepada anak memang tak mudah, butuh waktu, butuh kesabaran dan juga membutuhkan biaya untuk membeli buku-buku berkualitas. Tetapi karena ini adalah sebuah investasi terbaik yang tidak akan membuat kita pada orang tua rugi sedikit pun. Karena disini kita mendidik anak bukan berdagang jadi, indikator keberhasilan orang tua.
Bukan masalah untung atau rugi tetapi buah dari pengorbanan dalam mendidik anak-anak ini akan bisa petik di dunia dengan menyaksikan keberhasilan anak kita dan juga di akhirat kelak saat Allah pertemukan kembali di surga-Nya.

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Berkisah?

Kebanyakan ibu biasanya membacakan buku atau berkisah kepada anak-anaknya dilakukan pada malam hari menjelang tidur. Namun, bagi saya tidak ada waktu khusus dalam agenda berkisah. Saya biasa berkisah kapan saja jika mendapat momentnya. Misalnya saat anak bertanya sesuatu yang bisa membuka jalan diskusi, maka saya gunakan momen menjawab pertanyaan sambil berkisah. Atau bisa juga ketika anak melakukan perbuatan yang kurang baik, saya biasa menegur mereka melalui berkisah.

Jadi buat saya, berkisah tidak harus malam hari tetapi bisa kapan aja. Selama anak rileks dan saya pun tidak sedang menyambi melakukan sesuatu. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari cerita yang terburu-terburu, sehingga cerita yang disampaikan tidak dapat diserap dengan baik.

Saya menghindari berkisah kala anak hendak terlelap, alih-alih bukannya anak segera tidur tetapi justru membuat mereka menjadi susah tidur.
Waktu yang baik untuk berkisah pada anak itu lebih baik waktunya konsisten, akan lebih baik kalau sudah ada jam-jamnya bagi anak yang usianya sudah lebih besar.

Sebisa mungkin orang tua sudah mempunyai waktu yang konsisten dan menjadi suatu kebiasaan bagi anak. Hindari waktu bercerita yang tidak konsisten, seperti contoh, hari ini bercerita dan hari besoknya tidak.

Baca juga : berkisah laba-laba dan hijrah Rasulullah SAW

Peran Ayah Dalam Kegiatan Berkisah

Jika ayah memahami bahwa anaknya adalah masa depan umat, maka tidak ada ayah yang mengabaikan anaknya demi bisnisnya. Salah satu pesan dari Ustadz Budi Ashari, Lc yang saya resapi benar-benar sampai hari ini.

Pakar sejarah Islam ini mengingatkan para ayah bahwa anak-anak adalah hal yang paling mahal. Anak adalah mustaqbala ummah-masa depan ummat-. Di tangan merekalah peradaban Islam kelak. Jika hari ini kita masih kesulitan memilih pemimpin karena keterbatasan individu, maka para ayah harus mulai memikirkan bagaimana mencetak generasi pemimpin masa depan. Jangan sampai ayah terlalu sibuk di luar. Mencari nafkah memang tugas ayah, tapi itu bukan merupakan tugas satu-satunya.

“Nabi adalah sosok yang paling sibuk, tapi masih sempat meluangkan waktu mengusap kepala setiap anak yang ditemuinya. Bahkan Nabi menyempatkan diri mendidik dan bermain dengan cucu-cucunya. Apakah kesibukan kita mengalahkan nabi sehingga tak sempat peduli dan memperhatikan anak-anak?

Coba kita tengok kisah tentang kehebatan ayah Shalahuddin al Ayubi. Tidak mengherankan jika Shalahuddin menjadi orang besar di kemudian hari, pembebas Al Aqsha. Hal tersebut tidak lepas dari peran besar ayahnya yang menanamkan nilai dan keyakinan sejak kecil.

Ketika Shalahuddin kecil bermain dengan anak-anak perempuan di jalan, ayahnya mengambilnya dari tengah mereka. Ia pun mengangkat tubuh Shalahuddin tinggi-tinggi ke udara. Ayah Shalahuddin berkata, “Dulu, saya menikah dengan ibumu bukan untuk melakukan seperti ini. Aku menikah dengan ibumu agar kelak kau yang membebaskan al Aqsha!”

Shalahuddin dijatuhkan ke tanah, ia kesakitan. Ayahnya bertanya, apakah kamu sakit karena jatuh? Shalahuddin menjawab: Ayah menyakiti saya. Ayahnya bertanya lagi, “Mengapa kamu tidak teriak saja karena sakit?” Shalahuddin kecil pun menjawab,” Tidak layak seorang pembebas al Aqsha mengeluh kesakitan!”

Betapa pentingnya peran ayah bagi anak, Dr. Adnan Baharist juga mengungkapkan bahwa Allah telah siapkan perangkat agar aqidah anak terjaga. Anak-anak di usia awal mengambil nilai, akhlaq, hanya dari orang tuanya. Allah menjadikan orang tua sebagai contoh terhebat bagi anaknya.

Di fase awal kehidupannya, anak-anak hanya percaya pada orang tuanya sehingga sulit digendong orang lain. Inilah perangkat yang Allah siapkan dalam rangka menjaga anak dari pengaruh luar. Masa kanak-kanak manusia lebih lama dibanding makhluk lain, agar cukup bagi orang tua menanam aqidah di diri anak. MasyaAllah.

Review Kelas Kedua Komunitas Ibu Berkisah

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebelum masuk materi, ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan terkait adab menuntut ilmu, profil komunitas ibu berkisah dan lain-lain 😊

*Adab Menuntut Ilmu*

Pertama, Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Keempat, Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala

Kelima, Tidak boleh ‘sombong’ dan tidak boleh ‘malu’ dalam menuntut ilmu

Keenam, Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan

Ketujuh, Diam ketika pelajaran disampaikan

Kedelapan, Berusaha memahami ilmu yang disampaikan

Kesembilan, Menghafalkan ilmu yang disampaikan

Kesepuluh, Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Kesebelas, Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari

Kedua belas, Berusaha mendakwahkan ilmu

Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Tema materi sesi ke -2 kali ini adalah:

💐💐manfaat berkisah buat ibu, ayah, anak. Manfaat buat bangsa dan agama💐💐

Buibu shalihah yang dirahmati Allah, Alhamdulillah kita masih diberi usia, kesehatan, waktu, mata yang bisa membaca, jari yang bisa mengetik, otak yang bisa mencerna dan hati yang bisa menerima ilmu, sungguh itu semua merupakan karunia tak terhingga dari Allah Subhanahu Wata’ala sehingga kita bisa bertatap online di kudapan materi pekan ini.

Banyak yang pekan lalu masih sehat kini terbaring sakit, masih lapang kini sempit, maka nikmat sehat dan iman Islam semoga menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambah nikmat kita, dan jika kita ingkar maka adzab Allah sangat pedih. Na’udzubillah min dzalik.
Shalallahu ‘ala muhammad wa ‘ala Ali Muhammad. Semoga kita termasuk umatnya yang memperoleh syafaat Rasulullah kelak, bersama beliau termasuk ke golongan umatnya, aamiin.

Sudah ada beberapa pertanyaan yang masuk, akan saya jawab setelah materi dan tugas BDI. Masuk ke materi tema kali ini adalah Manfaat Berkisah bagi Ibu, Ayah, Anak, kemudian bangsa dan agama.
Oh iya.. nanti ada hadiah lencana berkisah yaa buat buibu shalihah yang sudah berhasil mengerjakan BDI ke-1😊 insya Allah akan diberikan setelah materi
Baiklah saya mulai ya.. tema kali ini manfaat berkisah bagi ibu, ayah dan anak.

Saya akan mulai manfaat untuk ibu, kemudian ayah, baru terakhir anak.

Kenapa?

Karena disini isinya ibu2 dan calon ibu😁
Pelaku berkisah adalah ibu, yang dikasih amanah sama Allah, ibu dan ayah, jadi sebenarnya, yg paling harus tahu manfaat berkisah ya ibu dan ayah.

Apa sih manfaatnya buat ibu? Buat ayah?

Jangan sampai di hati dan pikiran kita, hanya terpaku pada : manfaat untuk anak. Plek. Tok.

Kalau begitu, sangat mudah niat kita goyah, sangat rentan semangat kita turun.

Maka, menyadari dengan pasti apa manfaat untuk ibu, akan menjadi motivasi diri yang paling kuat, untuk tetap rutin berkisah kepada anak. Minimal, ketika perkara niat dan semangat sudah beres, soal kendala dari dalam diri selesai. Jadi nanti kita tinggal berproses menghadapi kendala-kendala dari luar diri.

Oiya, sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa materi ini dikutip dari buku karya saya yang berjudul Bahagia Berkisah, yang memiliki hak cipta dilindungi UU dan terdaftar resmi ISBN. Jadi dilarang copas ya. Buku ini atas ijin Allah sudah terjual dari Sumatera sampai Papua. Jadi materi ini silakan disimpan untuk pribadi, lengkapnya silakan lihat di Buku Bahagia Berkisah.

Manfaat berkisah secara umum untuk ibu :
1. Bernilai pahala dari Allah selama berniat lurus
2. Memenuhi kebutuhan mengeluarkan puluhan ribu kata bagi wanita (terapi hati, jiwa dan emosi)
3. Membangun rasa bahagia dan percaya diri pada diri ibu
4. Menyuburkan rasa mencintai anak dan dicintai anak.
5. Sebagai cara memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.
6. Sebagai cara quality Time dengan anak.
7. Sebagai cara mendidik anak dengan menyenangkan
8. Sebagai cara menasihati anak tanpa menguras emosi ibu.

Sumber : Buku Bahagia Berkisah hal 58
Manfaat bagi ayah
1. Bernilai pahala selama berniat lurus karena Allah
2. Menjaga eksistensi kepemimpinan sosok ayah.
3. Membangun komunikasi aktif dengan anak.
4. Membangun kedekatan emosi batin dengan anak.
5. Sebagai cara quality time dengan anak.
6. Sebagai cara memberikan keteladanan kepada anak.
7. Sebagai sarana memberikan keteladanan kepada anak.
8. Sebagai sarana dalam mendidik dan menasihati anak dengan cara menyenangkan.
Sumber : Buku Bahagia Berkisah hal 65

Manfaat bagi anak :
1. Menggemburkan iman dan meneguhkan hati (Q.S. Hud : 120)
2. Mempertajam akal (Q.S.Yusuf :111)
3. Memberi peringatan mencegah keburukan (Q.S.Al-Qomar : 4)
4. Menanamkan adab perilaku baik.
5. Mengajarkan kebenaran dan kebaikan.
6. Mengasah fitrah kemampuan berbahasa
7. Mengasah minat membaca dan menulis
8. Menanamkan rasa cinta ilmu dan minat belajar.
9. Menanamkan wawasan dan ilmu pengetahuan.
10. Hiburan yang tertanam di jiwa.

Sumber : Al Qur’an. Buku Bahagia Berkisah hal 73-77.

Seperti yang saya sampaikan di pekan pertama pada hasil penelitian ilmiah, bahwa kemajuan suatu bangsa ternyata sangat berpengaruh dari minat baca buku, kebiasaan membacakan cerita kepada anak, dan pendidikan. Ketiga hal ini sangat berkaitan erat dengan berkisah.

Berkisah otomatis mengenalkan anak dengan membaca, merupakan kegiatan bercerita yang bersumber dari ilmu yang paling akurat dan shahih yaitu Al Qur’an, hadits dan siroh. Dan merupakan salah satu metode mendidik anak yang dicontohkan langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada nabi Muhammad lewat Wahyu firman Al Qur’an, dan dicontohkan langsung oleh nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam lewat berkisah kepada para sahabat yang bersumber dari Al Qur’an atau sabda hadits beliau, juga yang tercatat dalam siroh nabawiyah.

Kita ketahui bersama, bagaimana Islam mencapai puncak kejayaannya, dengan kemajuan literasi, karya tulis, perpustakaan, yang melahirkan para ilmuwan cendikiawan muslim yang perannya sangat besar bagi dunia.

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”
Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Masya Allah. Allah berkisah.. nabi Muhammad berkisah.. para ahli ilmu berkisah.. sudahkah ibu rutin berkisah?

Ibunda imam Syafi’i, ibunda imam bukhari, ibunda Muhammad Al Fatih, adalah para ibu biasa, namun karena kegigihannya mendidik anak-anak dengan bekal ilmu, dimana salah satunya dengan berkisah, maka lahirlah anak-anak gemilang yang bermanfaat bagi peradaban.
Bismillah Ya Bu, niatkan karena Allah, untuk ibadah, untuk mendidik anak, soal hasil, itu semata bonus dari Allah. Jika kita melakukan kebaikan maka kebaikan itu akan kembali untuk kita sendiri Aamiin in sya Allah.
Biasakan, membaca ta’awudz, bismillah dan lebih baik lagi berwudhu sebelum berkisah.* Mau nyuapin anak saja kita bismillah ya Bu, mau memberi nutrisi untuk tubuhnya, nah apalagi mau berkisah, mau memberi nutrisi untuk ruh imannya, harusnya bismillahnya lebih khusyuk disertai doa-doa kebaikan dan harapan untuk anak-anak kita tercinta.

Nah, setelah di BDI 1 kita beramal meluruskan niat, minta ijin dan doa suami serta anak, sekarang di BDI 2 saya ingin ibu mencari manfaat khusus berkisah bagi diri ibu sendiri😊

Demikian kudapan materi kali ini. Setelah ditutup oleh mba Sri nanti akan saya jawab pertanyaan dan memberi BDI ya

MasyaAllah…begitu besar ya bu ibu manfaat berkisah ini, smoga paparan materi tdi, bsa semakin menambah semangat kita, untuk lbih giat lgi dlm menggali berbagai kisah2 yg bertebaran di Al qur’an, atau pun kisah2 terbaik yg sdh di hadirkan oleh umat ini, untuk kita kisahkan kpd anak2 kita

Sebelum kita tutup marilah kita beristigfar dulu 3x, marilah kita tutup kudapan ilmu sore ini dg mmbaca kalimatul hamdalah dan do’a kafaratul majlis

Terimakasih atas perhatian ibu-ibu, saya selaku moderator mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat yg kurang berkenan dihati ibu2 sekalian. Jika ada kebenaran dtgnya dari Allah, dan jika ada slh dtgnya dr diri saya pribadi, kurang lebihnya mohon maaf, billahitaufik walhidayah, Wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh🙏🏻😊

Q Indriana :

Mba..kl materi berkisah selain nabi apa ya..
Sy kadang bleng..kl hrs cari2 materi biasanya jd bingung. Kira2 kl berkisah itu berhasil..ukurannya bgmn ya mbak.

A : Ini seringkali ditanyakan berulang
Urutan materi berkisah :
Tauhid pengenalan Allah
Nabi Muhammad dari masa kecil sampai wafat. Panjang dan banyak sekali ini.
Nabi dan Rasul lain.
Kisah orang terdahulu dari Al Qur’an. Seperti Ashabul Kahfi, ashabul ukhdud, dzulqarnain, Qarun, dll.
Kisah para sahabat
Kisah generasi tabi’in tabi’at
Kisah biografi tokoh muslim
Kisah sejarah Islam
banyak sekali bisa mulai dari dalam kandungan sampai Aqil baligh bahkan dewasa tak ada habisnya.
PR nya ibu banyak belajar dari buku, cari buku-buku anak yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits, datang ke kajian tafsir, hadits, siroh, dll.
Detailnya nanti di tema media berkisah.
Berkisah berhasil jika ibu niatnya sudah karena Allah, sudah bahagia dan ringan berkisah tanpa beban, anak sudah suka dibacakan atau mendengar kisah, anak merespon positif. Sudah menjadikan berkisah sebagai kegiatan harian rutin.

Q Atik-Bagansiapiapi:

Mba gimana dengan berkisah pada anak berkebutuhan khusus yg susah fokus saat dikisahkan sesuatu, apakah ada cara tertentu agar manfaat-manfaat tersebut tercapai? Makasih

A : Caranya : sabar dan ikhlas. manfaatnya in sya Allah lebih khusus lagi terasa, lebih istimewa karena anaknya saja sudah istimewa, ibunya pun istimewa. Semoga pahalanya dan nilainya lebih istimewa di mata Allah.

Yang perlu fokus disini adalah ibunya. Terus memperbarui niat. Terus cari dan temukan manfaat khusus bagi ibu apa. Apakah jadi makin sabar, makin tersalurkan emosi, makin santai, ajang mesra2an sama anak, dll.

Selalu ta’awudz, basmallah dan berwudhu, selipkan doa harapan. Gunakan selalu komunikasi produktif ala rasulullah, kontak mata, sentuhan fisik, sejajarkan tinggi, berkisah bukan dari lisan tapi dari hati. Saat mendoakan anak sentuh kepala atau dadanya. Berdoa dengan suara lembut di depan anak yang terdengar olehnya. Rutin ruqyah mandiri. Rutin bacakan dan perdengarkan ayat Al Qur’an langsung dari lisan ibu (bukan murotal atau boneka bicara) juga bisa menjadi terapi untuk konsentrasi, fokus, dan pada tingkatan tertinggi, khusyu.

Q Dwi Puji Lestari – Bontang:

Assalaamu’alaikum

Mba mau bertanya,

1. Adakah Tips untuk para ayah agar gemar berkisah mb?
Mayoritas pria kan sedikit bicara hehe

2. Dalam berkisah apakah sebaiknya berurutan (mulai dari ttg akhlak dulu atau bagaimana) atau random saja sesuai kemauan anak?

Jazakillah khoiran

Wa’alaikumsalam warahmatullaah wabarakatuh

A : Tips agar ayah mau berkisah :

Berbagi bahagia berkisah jangan berbagi beban berkisah.

Maksudnya apa?

Ibu dan anak harus rutin dulu berkisah, sampai menikmati, sampai bahagia, sampai asyik dilihatnya sama Ayah. Sampai ayah ikut bahagia juga melihat ibu dan anak saat berkisah, akhirnya ayah ikut berkisah juga, karena ingin merasakan kebahagiaan yang dirasakan ibu dan anak, sampai ayah penasaran, kayanya seru banget sih, lalu ikutan mau merasakan berkisah ke anak.

Dari meminta ijin dan doa ke suami (ayah) otomatis ibu sudah ‘mengenalkan’ berkisah ke ayah. Di BDI ke-2 dan BDI2 selanjutnya, ada poin dimana secara tidak langsung ibu berbagi bahagia berkisah dengan ayah. Semoga dengan begitu ayah mau berkisah.

Dan tidak perlu keukeuh ayah harus berkisah ya Bu. Gurunya ibu. Ayah kepala sekolah. Ada saatnya kepala sekolah turun langsung, saat ayah mau berkisah. Jangan sampai tujuan baik kita mengajak suami berkisah, malah menimbulkan dosa kepada suami karena adab/cara kita yang kurang sesuai.

Batasan tema ada sesuai tahapan usia. Kalau judul dari batasan tema random saja sesuai kemauan anak atau situasi kondisi dan kebutuhan.

Q Hasnawati:

Mba nina mau nanya nih… anak saya fira 3,8 tahun biasa kalo saya ceritain tentang sesuatu harus ada gambarnya. Kalo kebanyakan narasi dia malah g terlalu khusyu mendengar. Atau terkadang sebaliknya. Antara gambar dan narasi harus sama persis. Misal kisah tentang laba laba penyelamat nabi muhammad, dinarasinya tertulis beberapa ekor laba laba, tetapi digambarnya tiga laba laba. Maka dia akan protes bukan beberapa mama tapi tiga laba laba 😊. Jadinya saya kadang kurang konsisten menceritakan, kecuali harus saya eksplorasi dan pahami dulu dengan baik alur ceritanya (tentunya termsuk menyesuaikan dengan gambar).

Pertanyaan saya :

1. Apakah ini hal yang normal

2. Bagaimana trik menyiasatinya selain harus membaca dengan detail terlebih dahulu 🤗?

3. Apakah manfaat berkisah untuk ibu, ayah, bangsa, dan agama harus kita ungkapkan kepada anak ketika berkisah? Jika ya pada bagian mana? Dan harus seperti apa? Langsung atau tersirat?

Jazakillah khair 😍😍

A :
1. Sangat normal. Usia balita sedang tertarik dengan binatang, gambar, warna, suara, kisah masa kecil, alat permainan. Manfaatkan ini agar anak makin tertarik berkisah.

2. Membaca terlebih dahulu sebelum berkisah memang wajib. Bahkan sejak memilihkan membelikan buku untuk anak untuk mengecek dan memastikan buku tsb baik dan aman untuk anak. Mulai dari bahasa kalimatnya, isi kisah apakah bersumber dari Qur’an hadits dan siroh, gambarnya apakah sesuai dan baik, dll. Juga disesuaikan dengan situasi kondisi dan kebutuhan masing2 anak dan ibu yang berbeda.

Seiring berjalan waktu, ibu akan terbiasa dan bisa berpikir cepat untuk eksplorasi menjawab pertanyaan anak, termasuk terus memperbarui ilmu sebagai bekal menjawab pertanyaan anak2 yang kritis2, lucu2 sampai bikin mikir😁

3. Tidak. Itu untuk ditemukan dan dirasakan. Ada BDI nya nanti.

Q Nurlaela :

Kalo misalx berkisah dengan membacakan cerita melalui hp… bagaimana cara menghindarkan anak untuk memainkan hp agar tidak terbiasa… karena saat liat hp maunya dipakai…

Ibu yang baca, dengar atau tonton dulu, baru kemudian bertutur kisah secara langsung kepada anak. Kalo perlu catat poin2 pentingnya. Supaya ibu gak lupa.

Penggunaan screen HP boleh sesekali sebagai selingan. Tapi jangan dijadikan media/alat utama dalam berkisah. Paling aman dari buku atau bertutur langsung. Walaupun digunakan untuk hal kebaikan manfaat, efek screen negatif juga ke anak jika durasinya terlalu lama apalagi jika sudah candu. Seperti agresif, tantrum, sulit mengungkapkan perasaan, keterlambatan perkembangan motorik, bahasa dan sosial, dll.
Durasi anak usia 0-2 th 0 jam (no screen) usia 2-8 th 2 jam per hari (at all HP, tablet, laptop, dll)

Q gesang colinanin :

saya memiliki anak yg sangat logis dan otak kiri. Karena saya masih belajar, saya dulu menggunakan media buku untuk membantu saya bercrtita. Tapi anak saya malah lebih fokus pada bentuk buku itu sendiri. Dia lebih menikmati untuk menumpuk2 dan menghitung buku itu. Dan hanya sebentar saja khusyuk untuk mendengar saya bercerita. Apakah ada saran untuk saya bagaimana cara membuat anak saya tertarik untuk mendengarkan saya? Dan mana yg lbh baik, berkisah menjadi tugas saya atau kami lakukan berdua dng suami? (anak 1, 4yo, lbh dkt dng ayahnya dr pd saya)

Ikuti saja dulu kecenderungannya. Gunakan media alat peraga untuk anak tipe ini. Misal kisah nabi Sulaiman, buat tumpukan buku menjadi istana ratu Bilqis yang akan dipindahkan. Misal kisah tentara abrahah, buat gambar pasukan gajah yang banyak, suruh hitung lalu iringi dengan kisahnya.

Ibu rutinkan berkisah, nanti akan bisa menemukan ide2 spontan karena terbiasa. Tapi tetap, tujuan utama berkisah adalah ibadah dan penanaman iman, jadi fokus saja di situ, jangan terlalu khawatir dengan respon atau hasil sekarang, karena kita tidak tahu kapan, apa dan bagaimana Allah akan memberi bonus manfaat berkisah itu.

Anak 4y baiknya ibu. Ayah terlibat lebih baik. Justru bisa menjadi ajang bonding ibu agar semakin dekat dengan anak.

Q Mia Khanzaria :

Assalamu’alaikum..
Bunda saya mungkin termasuk ini yg blm pernah berkisah kpd anak.
Anak saya usia 20 bulan.
Bagaimana cara saya berkisah kpd ananda usia segitu? Karena minim nya ilmu saya.
Saya biasa nya hanya bacakan ayat 2 Al qur’an, huruf hijaiyah sambil d nyanyikan.

Wa’alaikumsalam,
Supaya mudah dari buku dulu Bu. Buku bantal, buku boardbook (kertas tebal), buku bergambar warna warni, yang bersumber dari Al Qur’an hadits dan siroh.
Ayat Alqu’ran bagus Bu memang utama, setelah itu berkisah misal dari gambar gajah, gajah ciptaan Allah nak, Adel juga ciptaan Allah, mengenalkan tauhid, kalimat dzikir kepada Allah, baru kisah-kisah yang pendek sebatas pengenalan dulu. 20bulan utamakan tauhid.

Q RA Azizah Kadir :

Assalamu’alaikum.Wr.Wb
mbak, afwan yang ingin saya tanyakan untuk menambah minat anak saat ibu berkisah, bolehkah menggunakan media selai buku? Contoh : boneka tangan dll. Terima kasih

A :Wassalamu’alaikum.Wr.b

Boleh.

Q Efi Novianti :

Bagaimana agar suami berperan serta dalam proses berkisah bagi anak? Karena terkadang suami masih acuh dan menganggap berkisah bukan sesuatu yg penting

A :Sama dengan pertanyaan sebelumnya. Berbagi bahagia berkisah bukan berbagi beban berkisah. 😊

Q Assalamualaikum
Saya imroatul Husna :

Putra saya 3th1bln Alhamdulillah suka sama buku Tapi Selama ini buku/cerita yang dia suka buku tentang teknologi, betah sekali sama buku2 spt itu. Kalau berkisah kurang bisa tertarik, mungkin Dari gambarnya, Trs Dari kami (orangtua) mungkin jg Yg gak bisa teknisnya/materinya.

Wa’alaikumsalam

A : Bisa disisipkan tauhid saat membuka buku teknologi. Bahwa Allah yang memberikan otak kepada manusia sehingga bisa membuat alat2 canggih, bahwa Allah menurunkan Al Qur’an sebagai sumber ilmu tertinggi dari segala ilmu. Teknologi buatan manusia pun terinspirasi dari ciptaan Allah, seperti robot meniru manusia. Komputer meniru otak manusia. Mobil meniru kuda/unta. Pesawat meniru burung. Bahkan warna meniru warna ciptaan Allah dari alam dan pelangi. Rasa meniru ciptaan Allah dari manis buah yang beraneka ragam. Dll. Gunakan buku yang disukai sebagai media, sisipkan tauhid. Syukur2 bisa menyisipkan kisah.

Kelas Pertama Komunitas Ibu Berkisah Batch 4

Apasih Komunitas Ibu Berkisah itu?

Komunitas ini didirikan atas dasar kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia. Dimana sebagian ibu belum ‘serius’ melakukan aktivitas berkisah kepada anaknya, khususnya anak balita dan umumnya anak-anak usia SD. Kendalanya, bisa karena kurang ilmu berkisah, bisa karena situasi dan kondisi ibu, anak, ekonomi, lingkungan, dsb. Banyak faktor.

Namun di sisi lain, sebagian sudah banyak yang sadar akan pentingnya berkisah, bahkan ada yang menyebut dengan istilah wajib. Nah, para ibu ini juga diharapkan bukan hanya bisa memberi manfaat kebaikan untuk diri dan anaknya. Lebih baik lagi, jika bisa berbagi ilmu dan pengalaman berkisah kepada ibu lain. Karena ini merupakan PR besar bersama.

Untuk itu, bismillah dengan memohon bimbingan dan ridho Allah, saya ingin mengumpulkan para ibu, lebih baik lagi calon ibu baik yang sudah menikah atau pun belum menikah, untuk saling belajar dan berbagi, saling mengingatkan dan menyemangati, agar anak kita, anak saudara muslim kita, anak tetangga kita, dan anak-anak Indonesia mendapat kisah dari ibunya.

Nah, sampai sini semoga tujuan baik kita sama yaa, seiring sejalan sambil menambah silaturrahim.. insya Allah akan menambah berkah untuk hidup kita Aamiin.

Kelas online ini akan membahas materi dengan tema :

Pekan 1 : Keutamaan Berkisah. Mengapa Berkisah? Motivasi Berkisah

Pekan 2 : Manfaat berkisah. Manfaat bagi ibu, ayah, anak. Manfaat bagi bangsa dan agama.

Pekan 3 : Media Berkisah. Macam-macam sarana prasarana penunjang berkisah.

Pekan 4 : Metode Berkisah. Teknis berkisah. Trik. Tips.

Selanjutnya, masuk program komunitas, saling berbagi kemanfaatan ilmu, sosial dan ekonomi.

Hari ini kami masuk pada tema pertama, Keutamaan Berkisah yang diisi oleh founder Komunitas Ibu Berkisah, mbak Hikmah Yulitasari. Dan dimoderatori oleh mbak asrie biasa dipanggil mba acie, beliau PJ kelas online KIB dari divisi kemanfaatan ilmu KIB.

Sebelum memulai mbak Hikmah membagikan adab menuntut ilmu sebagai pengingat bagi dan kita semua, semoga dengan memperhatikan adab menuntut ilmu, sedikit apapun ilmu yang kita peroleh, bernilai pahala dan membawa banyak keberkahan bagi diri dan keluarga ibu shalihah semua, aamiin.

Sebelum masuk materi, ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan terkait adab menuntut ilmu😊

Adab Menuntut Ilmu

Pertama, Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Kedua, Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

Ketiga, Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu

Keempat, Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Kelima, Tidak boleh ‘sombong’ dan tidak boleh ‘malu’ dalam menuntut ilmu.

Keenam, Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan.

Ketujuh , Diam ketika pelajaran disampaikan.

Kedelapan , Berusaha memahami ilmu yang disampaikan.

Kesembilan , Menghafalkan ilmu yang disampaikan.

Kesepuluh , Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan.

Kesebelas , Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Kedua belas , Berusaha mendakwahkan ilmu.

Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Maka sesuai petunjuk teknis dan adab menuntut ilmu, mohon kerja sama dan saling mengingatkan di antara kita semua dengan santun, agar selama materi berlangsung off chat dan grup ini memang satu arah. Pertanyaan bisa diajukan ke PK masing-masing.

Materi Pertama

Apa itu berkisah?
Sama kah dengan dongeng?

Silakan cek kamus KBBI.

Berkisah adalah cerita tentang kejadian, riwayat dsb dalam kehidupan seseorang dsb.

Dongeng adalah cerita yang tidak benar2 terjadi. Keperkataan yang bukan-bukan atau tidak benar. Mengatakan yang tidak benar.

Jadi jelas berbeda ya.

Jadi utamakan berkisah kepada anak.

Jadi gak boleh dongeng dong?

Boleh saja selama isi dongengnya ada pesan kebaikan. Namun dongeng hanya sebagai pelengkap bumbu2. Perbanyaklah porsi berkisah.

Sekarang yuk kita bedah dari sisi Al Qur’an, hadits, dan sirah.

Allah Subhanahu Wata’ala banyak menyampaikan firman-Nya kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril, isinya banyak tentang kisah.

Komunitas Ibu Berkisah mengambil lambang logo matahari, sebelas bintang dan bulan berdasarkan asbabun Nuzul (sebab turun ayat) Q.S.Yusuf : 3&4, dst. Itu adalah awal mula Allah berkisah kepada Nabi Muhammad atas permintaan para sahabat pada suatu ketika berkata,

“wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika sesekali engkau menceritakan kisah
kepada kami.” (HR.Ibnu Jarir)

Nabi Muhammad mendapat Wahyu di Makkah (yaitu ayat2 makkiyyah sebelum hijrah selama 13 tahun). Sebagian besar kisah. Maka menguatkan bahwa Makkah adalah fase yang banyak kisah. Makkah adalah masa pondasi pembentukan umat. Kisahnya para nabi terdahulu dengan kaum Bani Israel Yahudi, Nasrani, Majusi. Nabi Muhammad diajarkan Allah untuk mengenal terlebih dahulu karakter kaum tsb sebelum bertemu (sebelum hijrah, yang ditemui hanya kaum Arab saja). Sehingga ketika Nabi Muhammad hijrah dan mulai berdakwah secara luas, beliau sudah punya bekal, tahu bagaimana strategi dakwah kepada setiap jenis kaum berdasarkan kisah dalam Al Qur’an.

Maka, mengikuti bagaimana cara Allah mengajarkan Nabi Muhammad. Otomatis juga mengikuti cara nabi Muhammad mengajarkan umatnya, berkisah mengenalkan Allah, Rasulullah dan para nabi sejak dini, merupakan cara terbaik untuk pondasi dasar anak sebelum pergi ke dunia luas mempelajari segala macam ilmu. Agar ketika belajar ilmu apa pun, imannya menjadi benteng. Aman dari penyimpangan akidah dan segala macam pergaulan buruk. Syukur2 bisa menasihati dan menjadi contoh teladan untuk orang lain.

Selanjutnya dari sisi penelitian ilmiah, The Worlds Most Literate Nations (WMLN) merilis daftar peringkat negara dengan tingkat literasi paling tinggi di dunia. Penelitian dilakukan oleh Jhon W Miller, Presiden centrafarm al Connecticut State university, new Britain.

Hasilnya, Finlandia, Norwegia dan Iceland adalah negara dengan tingkat literasi tinggi dan tergolong negara maju dari sisi pendidikan. Ternyata minat baca tinggi dan budaya bercerita kepada anak dilakukan di negara tsb.

David Mclelland seorang pakar psikologi sosial mengungkapkan hasil penelitiannya sebuah teori bahwa cerita atau dongeng anak sebelum tidur sangat mempengaruhi prestasi suatu bangsa. Membandingkan Dua negara terkuat abad 16 yaitu Inggris dan Spanyol. Di Inggris, cerita anak kaya muatan spiritualis dan motivasi untuk maju. Sementara di Spanyol, kaya muatan yang membuat anak terlelap terninabobokan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi di Inggris lebih tinggi daripada Spanyol.

Kalo asumsinya kita analogikan. Berarti kondisi Indonesia sekarang ‘mungkin’ karena kualitas dongeng kita.

Nah, dongeng saja segitu besar pengaruhnya. Padahal bukan cerita nyata. Apalagi kalo yang disampaikan ke anak adalah kisah. Banyak sekali pesan kebaikan yang memang benar terjadi dan akan terekam di memori anak yang mempengaruhi kehidupannya.

Sejarah mencatat, Muhammad Al Fatih penakluk Konstantinopel adalah penyuka kisah sejarah. Dari sukanya, jadilah ia sebaik-baik pemimpin yang baik yang berhasil menembus benteng konstantinopel.

Berikut pertanyaan yang masuk saat diskusi:

1. Jadi kalo kita mau berkisah ke anak itu contohnya seperti apa? sprti menceritakan kisah2 nabi?
berkisah dengan bercerita sama tidak?

Jawaban:
Betul mba Tuti, kisah nyata, kisah nabi dan rasul, kisah orang2 terdahulu, kisah sejarah nabi Muhammad sejak dalam kandungan sampai wafat, sejarah para pahlawan dsb. Bercerita bersifat umum mba. Cerita bisa fiksi bisa non fiksi. Bisa kisah bisa dongeng. Sementara berkisah itu bercerita hal nyata yang benar terjadi.

2. Mengenai berkisah, saya kadang membacakan nama2 malaikat yg disebutkan atau nama2 rasul. Apakah ini termasuk berkisah?
Krn sy msh menggunakan buku (kami pakai dr perisai quran kids) kdg ktk blm selesai kisah (misal nabi uzair alaihi salam br sampai naik keledai) nah anak sy malah tanya ttg keledainya dan lalu lihat2 hewan yg di bukunya, gmn ya mba? Apakah kisah hrs selesai? Atau sy mgk ada yg keliru menyampaikan?

Jawab:
Iya, namanya menyampaikan berita ilmu dengan cara berkisah. Penjelasannya selanjutnya in sya Allah pada tema teknis berkisah. Salah satu media berkisah adalah buku dan bukan hanya buku, masih banyak media berkisah lain. Insya Allah akan dibahas detail pada tema media berkisah.
Wajar jika anak-anak apalagi usia balita sangat tertarik pada binatang, dan sifat anak mudah teralihkan dengan hal yang menarik hatinya. Namun juga mudah dibentuk untuk satu kebiasaan tertentu.

Berkisah tidak harus sampai selesai. Saat anak bertanya adalah momen emas untuk menjawab pertanyaannya, kaitkan saja jawaban dengan kembali ke kisah atau jika memang tidak berhubungan kaitkan dengan penanaman iman tauhid kepada Allah, misal keledai itu hewan ciptaan Allah nak. Semua hewan dan kita manusia juga ciptaan Allah. Kita harus sayang sama hewan ciptaan Allah.

Jadi tujuan berkisah tetap ada, yaitu penanaman iman dan pesan kebaikan.

Proses berkisah ibu kepada anak adalah pembelajaran seumur hidup, jadi insya Allah tidak ada yang keliru, yang ada terus berproses agar lebih baik dengan cara belajar ilmu berkisah. Nanti di tema2 selanjutnya akan dibahas.

3. Apakah berkisah yg dimaksud harus sampai kepada hikmah dari cerita?

Jawab:
Sebaiknya dan idealnya iya. Tapi tidak harus dalam sekali berkisah.
Maksudnya begini, berkisah adalah proses pembelajaran, proses penanaman iman dan pesan kebaikan. Maka yang namanya proses, ya nikmati saja perjalanannya, yang penting sebagai ibu kita terus berusaha terus belajar lebih baik dalam berkisah setiap harinya. Sikon anak tidak selalu sama dari hari ke hari. Begitu juga sikon ibu. Begitu juga sikon saat berkisah. Maka jika hari ini bisa berkisah sampai selesai, sampai tersampaikan pesan iman dan kebaikan, Alhamdulillah. Dan jika hari ini tidak bisa, karena anak minta dikisahkan yang lain misalnya, anak keburu tidur, buyar ayahnya pulang dsb, tidak apa2. Bisa diulang lagi besok, tawarkan lagi di lain waktu. Anak-anak tidak pernah bosan mendengar kisah yang diulang, apalagi jika sudah punya kisah favorit, bisa ibunya yang bosan 🙁

4. Saya termasuk yang tidak istiqomah berkisah. Anak saya kadang mood kadang nggak. Gimana caranya biar anak betah bercerita sama saya?

Jawab:
Caranya, nanti kerjakan BDI 1 nya dengan serius dan bahagia ya mba😊 lalu praktikan tahap demi tahap BDI2 selanjutnya. Karena bicara betah bercerita, jawabannya panjang bisa 4 pertemuan 😁 intinya, berkisahlah dengan hati, berkisahlah dengan bahagia, agar sampai di hati anak, agar anak juga bahagia.

5. Kisah apa saja yg bisa di sampaikan untuk anak2?
Apakah hanya kisah Nabi saja?

Jawab:
Banyak. Nanti akan dibahas tema berkisah sesuai tahapan usia :
*Kandungan – balita.
*Pra baligh.
*Aqil baligh.
Intinya kalau untuk anak, fokus pada :
1.penanaman iman tauhid kepada Allah;
2.pengenalan nabi Muhammad dan nabi2 lain;
3.adab keseharian.
Dengan isi kisah yang sesuai dengan usianya.

Banyak tema kisahnya, banyak medianya, banyak teknisnya. Berkisah dari Al Qur’an ibarat mengambil kisah dari lautan luas, tidak akan ada habisnya. Asalkan, kita tahu cara ambilnya. Jadi, sebagai ibu memang harus terus belajar agar punya bekal berkisah. Bicara berkisah sangat berkaitan dengan sejarah Islam. Bicara sejarah Islam, sejarah nabi Muhammad deh, Siroh Nabawiyah, wah gak ada habisnya itu. Para ahli siroh, para ahli ilmu tidak pernah kehabisan bahan untuk terus bolak balik mempelajari siroh, selalu menemukan hal baru.

6. Apakah berkisah boleh dengan media buku, maksudnya membacakan buku shiroh gitu, krn ibunya blm hafal byk kisah.

Jawab:
Boleh.

7. Saya sering dimintai mereka tuk dibacakan buku yang sempat saya belikan atas permintaan anak pertama saya yaitu ensiklopedia bocah muslim, apa buku ini termasuk alat bacaan berkisah atau gimana?
Trus kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk berkisah.

Jawab:
Bisa umm termasuk media berkisah. Waktu yang tepat adalah saat kondusif. Ibu dan anak yang tahu. Tidak sedang mengantuk hampir terlelap (maksudnya kalau sudah ngantuk lanjut lagi nanti), tidak sedang ingin pipis atau poop. Tidak sedang lapar. Saat anak minta. Ibu berkisah tidak disambi dengan hal lain. Bisa malam sebelum tidur setelah Talaqi ayat quran, bisa siang, bisa di jalan. Yang penting nyaman kondusif.

8. Sampai usia berapa metode berkisah ini bisa kita lakukan ke anak ya bun? Apakah bijak jika berkisah pada 3 anak yang berbeda usia dalam satu waktu? Dan adakah tips khusus bagaimana berkisah menjadi hal yang menarik bagi anak anak?

Jika tema kisahnya sesuai untuk ketiga anak bisa digabung. Yaitu lihat kesesuaian dengan anak yang paling kecil. Jika tema hanya sesuai untuk kakaknya maka bergantian.
Teknis berkisah pertemuan ke-4 ya.

9. Apakah ada rundown berkisah yang dianjurkan. misalnya harus dimulai dari kisah apa terlebih dahulu. Kemudian Referensi buku yang bisa dipakai untuk berkisah yang lengkap dan menarik juga untuk anak2

Jawab:
Ada mba, pada buku bahagia berkisah tulisan saya, ada peta berkisah sebagai petunjuk berkisah sesuai usia. Detailnya nanti kita bahas di pertemuan selanjutnya.
Kalo buku, selama bukunya bersumber dari Al Qur’an, hadits, siroh, in sya Allah bagus. Cari buku yang menyertakan sumber dari quran surat apa, hadits apa, dan daftar pustakanya juga jelas.

10. Apakah berkisah itu dilakukan hanya sebelum anak tidur sebagaimana kita mendongeng?

Jawab
Tidak harus malam hari. Bisa kapan saja saat kondusif.

Notes :
Mana yg lebih utama, rutin berkisah pada anak/keluarga sendiri? Atau rutin berkisah kepada anak/keluarga sekaligus tetangga/umum?
Utama anak sendiri. Jika sudah Istiqomah dan siap Alhamdulillah bisa buat sesi berkisah dengan anak tetangga sekitar agar lebih semangat dan menjadi pahala.

Setelah sesi tanya jawab, ada tugas yang harus dikerjakan selama sepekan dan dikirimkan melalui gform. 💐💐💐💐💐💐💐💐

Kisah Laba-Laba dan Hijrah Rasulullah SAW

aku laba-laba

Berkisah adalah metode pengajaran Allah Subhanahu Wata’ala dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sepertiga Al Qur’an berisi kisah. Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Al Qur’an lewat wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Menurut Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, di dalam surat Yusuf ayat 3 diturunkan berkenaan dengan para sahabat yang suatu ketika berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika sesekali engkau menceritakan sebuah kisah kepada kami.”(HR. Ibnu Jarir)

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui. (Q.S. Yusuf : 3)Masya Allah.. Allah pun berkisah.. Nabi Muhammad berkisah jua..
bagaimana dengan Mama?
Sudahkah berkisah untuk anak kita hari ini? Bismillah..

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad
Pergi berhijrah dari Makkah ke Madinah
Untuk menyelamatkan
Islam dari kekejaman
Di tengah malam berjalan
Ditemani Abu Bakardi Gua Tsur bersembunyi
Musuh-musuhnya mencari
Turunlah mukjizat Nabi
Laba-laba melindungi
Nabi sampai di Madinah
Disambut dengan meriah
Seluruh mukmin bersyukurHati merasa gembira
Nabi sampai di Madinah
Disambut dengan meriah
Seluruh mukmin bersyukur
Hati merasa gembira

Itu adalah lirik lagu yang Mama senandungkan sesaat sebelum memulai untuk berkisah kepada anak-anak hari ini. Hari ini Mama akan berkisah tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dan hewan laba-laba. Penasaran? Laba-laba menjadi makhluk yang memiliki torehan sejarah tersendiri dalam risalah Islam. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Alquran, tepatnya di surah at-Taubah ayat 40. Anak-anak selalu excited jika diajak membaca kisah apalagi kisah yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mama senang membacakan kisah kepada anak-anak tidak saat mereka akan tidur, kenapa? Bukankah sebelum tidur adalah waktu yang baik dalam memasukkan nilai-nilai positif kepada anak? Iya betul, tetapi Mama punya alasan khusus kenapa tidak memprioritaskan untuk berkisah saat akan tidur. Alasannya anak sulung Mama, si tukang negosiasi ini jika dibacakan kisah jelang bed-time bukannya menjadi kisah pengantar tidur tetapi kisah itu berubah menjadi bahan diskusi yang sangat panjang. Alih-alih mengantarkan anak tidur, yang ada malah anak jadi tidur kemalaman gara-gara diskusi panjang yang tak berujung haha… 😂

Baiklah, anak-anak sudah siap menyimak sambil membolak balikan buku dan mainan karet berbentuk laba-laba di dalam genggaman tangannya.

Dikisahkan Allah memerintahkan Rasulullah SaW untuk hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah untuk menyelamatkan Islam dari kekejaman.Baru satu kalimat terucap, Faris sudah angkat tangan ijin bertanya, “hijrah itu apa sih, Ma?”

“Hijrah itu artinya pindah,”Mama berusaha menjelaskan dengan kalimat yang sederhana agar mudah dipahami oleh Faris. Tidak berhenti disini saja, pertanyaan masih berlanjut.
“Oh artinya pindah yah, Ma. Kenapa Rasulullah pindah ke Madinah ya Ma, kenapa kok nggak tinggal di Makkah aja?”Faris masih mengejar saya dengan pertanyaan borongannya.

“Nabi Muhammad pindah ke Madinah karena adanya tekanan dan siksaan dari kafir Quraisy terhadap umat Islam yang semakin keras. Bukan hanya kaum Muslimin yang lemah, para sahabat dan keluarga Rasulullah SAW. pun menjadi sasaran kekejaman kaum Quraisy.”sambil berusaha tenang Mama melanjutkan kisah ini.

“Rasulullah hijrahnya pagi, siang atau malam ya, Ma?”pertanyaan ini membuat saya sejenak berpikir kembali sambil izin minum air putih terlebih dahulu sembari saya membaca rujukan hadistnya lagi agar tidak salah ucap.

“Diriwayatkan malam hari, Faris.”Mama berusaha menjelaskan kemudian melanjutkan kisahnya.

Malam hari yang dingin dan menusuk sampai ke sumsum terdalam, di luar rumah sekelompok orang-orang Quraisy dengan pedang dan tombak tampak seperti tentara yang sedang patroli mengitari rumah yang di tempati Rasulullah SAW bersama Abu Bakar r.a dan Ali bin Abu Thalib r.a. Orang-orang Quraisy sedang patroli mengepung rumah Rasulullah SAW, mereka telah berencana akan menangkap bahkan akan membunuh Rasulullah SAW tetapi mereka masih menunggu komando dari pimpinan mereka Abu Jahal.Sementara di dalam rumah, Ali bin Abi Thalib r.a berbaring di atas tempat tidur Rasulullah sesuai dengan perintah Rasulullah. Ali menggantikan Rasulullah malam itu di tempat tidur dan memakai selimut yang biasa digunakan Rasulullah. Rasulullah bersama Abu Bakar bersiap ke luar rumah yang dijaga ketat oleh tentara Quraisy. Saat Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari rumah, Allah Azza wa Jalla membuat para tentara Quraisy tertidur pulas dan Rasulullah pun bisa pergi dengan selamat.Malam semakin larut dan dingin semakin bertambah, Rasulullah dan Abu Bakar berjalan menapaki padang pasir kota Makkah menuju arah selatan untuk hijrah ke Madinah. Sementara di rumah Rasulullah, para tentara Quraisy terbangun dan telah mendapat komando untuk membunuh Rasulullah. Ketika masuk ke dalam kamar Rasulullah mereka girang melihat masih ada orang yang berbaring di tempat tidur, namun ketika selimut diangkat ternyata mereka hanya mendapati Ali yang sedang tidur. Tentara Quraisy bingung dan pimpinan mereka marah, lalu tentara Quraisy melakukan pengejaran.

Nabi Muhamad SAW bersama Abu Bakar kemudian bersembunyi ke dalam gua Tsur. Kaum Quraisy pun segera mengejarnya.Untuk mengelabui kaum Quraisy, Allah SWT kemudian mengutus sepasang burung merpati untuk bersarang dan bertelur di dekat mulut gua Tsur. Allah SWT juga mengutus seekor laba-laba kecil untuk membuat jaring besar di mulut gua. Kaum Quraisy yang mengejar Nabi Muhamad pun tidak jadi masuk ke dalam Gua Tsur.Mereka berpikir, tak mungkin Nabi Muhammad bersembunyi ke dalam gua. Jika ada orang masuk ke dalam gua itu, tentu sarang laba-laba dan burung merpati di depan mulut gua itu akan rusak. Laba-laba dan burung merpatinya juga tentu akan pergi dari sana.

Di Kota Makkah para pembesar Quraisy telah mendapatkan informasi tentang adanya tiga orang di tengah padang pasir yang berjalan menuju selatan. Para pembesar Quraisy mengadakan sayembara bagi siapa yang dapat menangkap Nabi Muhammad akan diberikan hadiah seratus ekor unta betina.

Tersebutlah seseorang bernama Suraqah bin Malik yang sangat berhasrat menangkap Rasulullah seorang diri. Suraqah mengatakan bahwa tiga orang di tengah gurun itu bukanlah Muhammad untuk mengelabui orang lain agar dia bisa mendapatkan hadiah seratus ekor unta seorang diri.Suraqah kemudian memacu kudanya menuju selatan untuk mengejar Rasulullah, tepat sekali, Suraqah menemukan Rasulullah di tengah padang pasir, di benaknya telah ia bayangkan akan mendapat hadiah yang dijanjikan oleh Abu Jahal pimpinan kafir Quraisy. Suraqah memacu kudanya semakin cepat, tapi apa yang terjadi? beberapa kali kudanya tersungkur dan kakinya kaku. Suraqah terus memacu kudanya yang terus tersungkur sampai dekat dengan rombongan Rasulullah. Ketika sudah sangat dekat dengan Rasulullah kudanya kembali tersungkur. Suraqah mengambil panah, akan tetapi Suraqah tidak bisa bisa membidik Rasulullah karena tangannya tiba-tiba kaku.

Akhirnya Suraqah menyerah dan berteriak, “Kalian boleh mengambil hartaku, akan tetapi tolong bebaskan kekakuan tubuhku ini, dan aku akan menghalangi setiap orang yang mengejar kalian.”Rasulullah menjawab “Aku tidak butuh hartamu, tapi tolong kau halangi orang yang mengejar kami.””Baiklah”jawab Suraqah. Rasulullah kemudian berdo’a ke Allah dan tubuh Suraqah serta kudanya kembali sehat dan bebas dari kaku. Setelah bebas Suraqah menyatakan keimanannya dan berjanji akan menyuruh semua orang yang mengejar Rasulullah untuk menghentikan pengejaran. Atas perintah Rasulullah waktu itu Abu Bakar menuliskan sebuah perjanjian diatas tulang dan memberikannya pada Suraqah.Rasulullah berjalan selama tujuh hari berturut-turut. Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasulullah SAW berjalan, di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi dinginnya badai padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah SWT membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.Ketika sudah memasuki daerah kabilah, Banu Sahm, datang pula Buraida (kepala kabilah) itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Yatsrib (sebelum menjadi Al Madinah) kini sudah dekat.

“Kenapa kok dulu Madinah disebut Yatsrib, Ma? Oh ternyata nama kota bisa berubah ubah ya? “sela Faris menanggapi cerita Mama. Mama sudah menduga pasti Faris bertanya alasannya apa, “Setelah 10 tahun berada di Yatsrib, Nabi mengubah namanya menjadi al-Madînah. Al-Madînah artinya kota.””Oh jadi dulu Yatsrib bukan kota ya Ma, tapi itu desa. “Mama iyain aja deh,”Iya nanti kita pelajarin lagi tentang sejarahnya bagaimana ya Faris. “Lanjut kisah, selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Rasulullah dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yatsrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus memburu mereka. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.

Rombongan Rasulullah sampai di sebuah desa bernama Quba, disana Rasulullah dan rombongan beristirahat, Rasulullah kemudian mendirikan Masjid Quba, di Quba inilah Ali bin Abi Thalib datang menyusul perjalan hijrah ke Madinah (Yatsrib).Setelah tinggal di Quba selama empat hari, Rasulullah melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampailah rasulullah di Yatsrib (Madinah). Hari itu adalah hari Jum’at.

Rasulullah berada di Madinah selama lebih kurang sepuluh tahun, dan kembali ke Makkah setelah penaklukkan Makkah oleh kaum Muslimin (Fathu Makkah). Rasulullah tidak dendam kepada orang-orang yang dulu mengusir dan membencinya bahkan akan membunuhnya. Rasulullah membebaskan mereka tanpa adanya kekerasan sedikitpun yang diterima oleh warga Makkah, kelembutan Rasulullah ini membuat penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam dan mengimani ajaran islam yang dibawa Rasulullah.

👑Hikmah dari kisah ini adalah bahwa dalam setiap amal/tujuan/cita-cita yang baik pastilah ada ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan itu insyaAllah akan terlewati bila kita bersungguh-sungguh dalam berusaha dan disertai iman dan keihlasan.

“Sama kaya laba-laba kan ya Ma. Padahal hewannya kecil ya Ma, tapi nggak capek bikin sarang lagi terus ntar kena angin rusak tapi nggak nyerah tapi terus bikin sarang lagi. Faris juga ah, Faris mau berusaha belajar lagi kalau belum bisa, ” itu kesimpulan Faris.

Alhamdulillah bi ni’matimushaalihat di usianya sekarang Faris sudah mampu menerima dan berkomunikasi dua arah, mampu menceritakan kembali meskipun belum runtut dan mengambil sebuah kesimpulan dari sebuah kisah. Ini kisah kami hari ini, apa kisah teman-teman hari ini? Yuk kita jalan-jalan ke rumah Mama Thole mungkin disana ada kisah yang lebih menarik lagi 😘

Referensi :

[1] Seri Halo Balita Kisah dalam Al-Quran : Gua Tsur oleh Indrayani Mallo Penerbit: Pelangi Mizan, Tahun Terbit: September 2014.
[2] Al Qolam
[3] Kisah Hebat Nabi Muhammad SAW dan Kisah Ajaib Lainnya oleh Astri Dama Penerbit Qibla, Tahun Terbit: November 2016.
[4]http://www.ebookanak.com/kisah/kisah-25-nabi-dan-rasul/nabi-muhammad-dan-sarang-laba-laba/