Mari Menulis! Turunkan Impian, Dekati Kenyataan ❤️

“Kita adalah murid seumur hidup”

Entah di mana saya pernah membacanya, tapi kalimat itu menempel lekat-lekat di ingatan saya. Dulu ketika masih menjadi pekerja lepasan, di luar pekerjaan yang tidak henti-hentinya harus digapai dan dilakukan, ada kebebasan yang menyenangkan ketika hidup tidak terikat jam kantor. Artinya bisa gawat kalau saya sedang kumat “nggak disiplin”-nya. Tapi, bisa juga menggembirakan karena artinya kita bisa punya waktu untuk membaca lebih banyak buku, misalnya,traveling lebih banyak, atau bahkan belajar lebih banyak lagi.

Belajar lebih banyak lagi!

Disiplin!

Disiplin!

Disiplin!

Setidaknya, ada beberapa workshop(kursus) pendek yang pernah saya ikuti untuk mengasah kemampuan menulis. Sebelum workshop project bersama Ibu Profesional Batam, saya mengikuti kelas menulis cerita anak secara online bersama Mbak Wulan Mulya Pratiwi. Ah, rasanya belum cukup ilmu yang saya peroleh dengan belajar secara online. Alhamdulillah, Sabtu kemarin saya dipertemukan dengan Mbak Heni, Mbak Arum dan Mbak Dian dari Kopi Write Indonesia.

InsyaAllah bersama Ibu Profesional, impian mengukir kenangan lewat tulisan bisa terwujud. Semoga Allah memudahkan segala prosesnya, meski tertatih dan harus KERAS terhadap diri sendiri. Satu pesan yang saya ingat dari Mbak Heny, “meskipun project menulis ini antologi, tetaplah menulis sesuai dengan gaya kita karena genrelah yang akan menemui jalannya sendiri.”

Mari Menulis! Turunkan Impian, Dekati Kenyataan ❤️

Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu saya sudah membagikan tulisan saya untuk NHW #1, di situ saya mendeskripsikan bahwa salah satu cita-cita saya saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana sih cara mencapainya, saya sendiri masih menata diri dan berusaha merumuskan langkah apa saja yang harus saya tempuh. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaan saya terjawab sudah.

Baca juga: Refleksi Diri 2018

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum membahas bingkisan NHW #2 yang super ini, kita belajar terlebih dulu yuk bagaimana menuju ibu professional.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
kata IBU memiliki makna;
1.perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2.sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3.panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4.bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5.yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1.bersangkutan dengan profesi;
2.memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja agar konsistensi dan semangat belajar bisa selalu terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Kurang lebih seperti itu latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada visi dan misi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah visi dan misi IIP;

Visi dan Misi Ibu Profesional

Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2.Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Apa Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang, merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

🌸Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
🌸Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
🌸Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan, tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

🌸Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
🌸Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
🌸Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif, jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

🌸Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
🌸Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
🌸Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
🌸Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha, tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

🌸Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
🌸Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
🌸Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
🌸Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Langkah Menjadi Ibu Kebanggaan dalam Keluarga

Setelah meresapi materi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. Bingkisan yang diberikan kali ini cukup membuat saya berdiskusi panjang kali lebar bersama anggota keluarga karena saya diminta untuk menyusun “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang realistis dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau saya harus melakukan wawancara dengan suami dan anak-anak. Melalui diskusi panjang bersama suami, saya jadi tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, saya perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang saya dapat dari suami dan anak-anak sangat sederhana, namun cukup membuat saya merenung lebih lama lagi karena ternyata begitu banyak hal yang harus saya perbaiki.

Oiya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;

-SPECIFIC (unik/detil)
-MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
-ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
-REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
-TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Ikhtiar Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya mulai menyusun checklist yang nantinya insyaAllah dapat membantu saya sebagai pengingat agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu.

Meskipun sejak kecil saya sudah terbiasa membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri namun tugas kali ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi saya. Hingga saat ini entah berapa kali saya membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu saya pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan saya ketika semangat saya mulai kendor.

Checklist yang saya susun ini saya beri tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung masih awal tahun sekalian menggembleng diri ini agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan suami ketika saya hendak menyelesaikan tugas ini adalah “lakukan dari yang paling sederhana dulu, supaya tidak merasa berat dalam menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.”

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Sebagai individu di sini saya kategorikan dalam hubungan saya dengan Allah, dengan diri saya sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang saya susun;

a. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

Indikator Individu Beriman

🌸Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
🌸Menambah hafalan setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
🌸Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
🌸Tilawah minimal satu lembar setelah sholat.
🌸Merutinkan kembali dzikir pagi dan petang.
🌸Merutinkan kembali sholat sunah dhuha dan qiyamul lail.
🌸Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b. Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

Indikator Individu Istiqomah

🌸Menyusun ulang jadwal bulanan dalam mengelola rumah tangga.
🌸Berolahraga pagi bersama anak-anak.
🌸Update blog minimal tiga post selama satu minggu.
🌸Muhasabah diri sebelum tidur.
🌸Mencatat kegiatan harian anak-anak dalam buku catatan khusus.
🌸Menata skala prioritas kegiatan harian.

c. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

Indikator individu masyarakat

🌸Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
🌸Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
🌸Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
🌸Lebih terbuka dan mau berbagi.
🌸Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan dharmawanita.

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat berdiskusi dengan suami, saya sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan tebakan saya ternyata benar! Dengan gaya yang humoris dan penyampaian yang sederhana ini jawaban suami saya ; “jangan gampang emosi dan meledak-ledak, urus anak dengan lebih sabar dan senyum dong kalau saya pulang.” Dengan pedenya saya bilang, “masa iya cuma gitu doang?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambahin lagi.”😂

Dan inilah indikator yang saya susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit saya modifikasi ;

Indikator Istri

🌸Lebih baik lagi dalam mengontrol emosi, lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan terlebih dahulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
🌸Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika suami pulang terlambat atau mendadak lembur.
🌸Merendahkan suara. (PR banget nih buat saya yang tukang ngeyel).
🌸Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
🌸Mencium tangan suami saat melepas pergi ke kantor.
🌸Memberikan suami me time (suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetan saya dan anak-anak).
🌸Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang ke kajian.
🌸Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.

Jawaban pemikiran ala lelaki dengan kesimpulan:

…selama mama nggak ngomel-ngomel, kami bahagia…

Sebelum tanya-tanya dengan suami, saya sudah sempatkan untuk bertanya-tanya dengan Faris. Faris seneng punya mama yang seperti apa. Dengan usianya yang baru tiga tahun, keinginan Faris pun cukup sederhana; “Faris seneng kalau Mama nggak sedih kalo Faris nggak nurut sama dan nemenin Faris mainan jual-jualan.” Belum sempat dijawab, Faris malah balik bertanya “kenapa sih kok Mama nggak ke kantor aja? Biar Mamanya cantik kaya tante-tante yang di kantor Papa. “ Lalu saya jawab, “Berarti Mamanya boleh ke kantor ya?” Langsung dijawab sama Faris, “eh, nggak mau ah nanti Faris di rumah sama sapa? kan Faris maunya semua sama Mama, mainan, belajar, bikin kue sama Mama. Tapi Faris maunya Mamanya yang cantik aja yang di rumah sama Faris.” Wah, PR banget ini bagi saya, rupanya saya kudu makeover diri supaya nampak cantik di depan anak bujang saya. 😂

Lanjut obrolan bersama Irbadh, berhubung ia baru berumur enam belas bulan dan ketika ditanyain jawabnya hanya “mama manya”, maka saya simpulkan bahwa si bayi yang beranjak besar ini maunya mama selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jejak jauh-jauh, hihi.

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, saya menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa resolusi pribadi saya sebagai seorang ibu.

Indikator Ibu

🌸Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak dengan membuat sendiri masakan dan snack untuk anak-anak.
🌸Melatih kemandirian anak-anak. Faris diharapkan dapat membereskan tempat tidur, mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri. Sedangkan Irbadh, bisa ke toilet sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.
🌸Mulai membiasakan Faris dengan kebiasaan beragama seperti sholat lima waktu, mengaji dan memberi sedekah kepada yang membutuhkan.
🌸Menyusun lesson plan Faris untuk kegiatan belajarnya di rumah, mulai merutinkan murojaah, mengenal huruf hijaiyah melalui makhrajnya, dan merutinkan playdate yang sesuai dengan minatnya.
🌸MengASIhi Irbadh hingga dua tahun.
🌸Memberikan stimulasi berbicara agar meminimalisir tantrum.
🌸Merutinkan berkisah, membaca buku bersama,dan bermain bersama dengan anak-anak.
🌸Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak berebut sesuatu, Misal; anak-anak tidak diijinkan bermain jika tidak mau berbagi dan main bersama, jika salah satu pihak tidak mau berbagi maka berikan timeout.
🌸Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika anak-anak sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka saya mengkomunikasikan kepada suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utama saya. Saya tidak lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan evaluasi saya, ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga ternyata saya semakin keteteran dalam mengasuh anak-anak. Teringat pesan dari bu Septi, “rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Semoga Allah berikan kemudahan kepada saya agar bisa menepati checklist yang telah saya susun untuk masa evaluasi sebulan ke depan dan semoga langkah awal ini bisa mengantar saya mencapai cita-cita sebagai seorang ibu professional. Hm, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share dong 😄

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Aliran Rasa Yang Tertunda

Hm, dari judulnya saja sudah menjadi something interest untuk saya. Kalau diperbolehkan saya akan bercerita sedikit semoga beneran sedikit yah, soalnya saya kalau udah cerita suka panjang😬

Dalam proses pengerjaan Nice Home Work #1 di kelas Matrikulasi Ibu Pofesional ini sesungguhnya saya dalam keadaan pikiran yang carut marut. Tanya kenapa? Saya sedang belajar menata to do list dalam hidup saya. Beberapa hari ini saya seperti de javu dengan tugas-tugas deadline di kantor layaknya pekerja kantoran. Alih-alih ingin mulai menulis, tugas domestik nampaknya mulai melambaikan tangannya, rasanya ingin segera saya selesaikan semua tanggung jawab yang sudah menumpuk akibat tertunda-tunda karena mengutamakan tugas yang lainnya. Saking pusingnya, bahkan saya sampai menonaktifkan handphone saya selama 24jam sembari berharap agar pikiran saya bisa lebih tenang. Alhamdulillah, dengan puasa gadget memang membuat pikiran lebih tenang dan mood saya menjadi lebih baik.

Saya sangat berterima kasih pada tim fasilitator yang memberikan materi secara bertahap,sehingga membuat saya belajar dengan perlahan dan begitu menikmatinya. Betapa tidak, di kelas Matrikulasi minggu pertama ini saya mengemban amanah tugas perdana sebagai koordinator mingguan. Hm, kalau jaman sekolah ya sebelas dua belas dengan sekretaris lah ya. Jadi kerjaannya lumayan banyak dan membutuhkan waktu serta kejelian, disitulah tantangannya.
Kalau dari segi penulisan NHW #1, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Saya sudah terbiasa menulis dalam bentuk draft kapan dan dimana saja, tinggal menunggu waktu yang pas saja untuk finishing. Jika saya benar-benar fokus maka dalam waktu kurang dari dua jam tulisan sudah jadi, tinggal proses edit mengeditnya. Ini cerita indah di balik sebuah tulisan yang apik, jika saya sudah mantap dengan pilihan ide tulisan dan sudah mempersiapkan semuanya di dalam pikiran dan hati saya sehingga membuatnya mengalir begitu saja. Layaknya aliran rasa yang saya buat ini, meskipun tertunda tunda mudah-mudahan bisa mengalir seperti NHW#1 yang sudah saya tulis sebelumnya.

Jujur, ketika saya diamanahi sebagai koordinator mingguan yang memiliki sedemikian tugas membuat saya kelimpungan dan diri ini harus segera menyesuaikan dengan ritme yang baru. Namun, dari sekian tugas yang ada sesungguhnya tugas yang paling berat adalah tugas sabar dan ikhlas karena kelas ini merupakan wadah kami untuk belajar bersama.

Saya banyak belajar mengenai management waktu dan membuat to do list. Dimana kita harus tahu mana prioritas yang harus lebih dulu dikerjakan mana yang bisa ditunda. Hal ini juga membuat saya mudah mengatur waktu kapan belajar, kapan online, kapan offline, kapan mendampingi anak-anak dan kapan me time atau quality time bersama keluarga. Hal-hal sepele sih namun semua itu membuat saya terorganisir dan to do list itu tercatat sendiri ketika jam terbang kita meningkat dengan perlahan.

Dan untuk masalah tugas dan kewajiban-kewajiban saya di Matrikulasi IIP saya juga harus mengerjakannya tepat waktu, agar tidak ada lagi sistem kebut semalam sehingga ilmi yang diserap bisa langsung terikat dan diimplementasikan dalam keseharian.

Selain itu saya harus mendahulukan tugas saya sebagai fasilitator anak-anak dalam belajar. Saya harus memenuhi hak belajar dan bermain mereka dengan cara memfasilitasinya dalam setiap proses belajarnya. Jika tidak maka saya sudah berbuat zalim terhadap mereka karena ini semua sudah menjadi komitmen yang saya pilih.

Intinya saya menikmati semua proses belajar di Matrikulasi IIP termasuk aliran rasa dalam mengerjakan Nice Home Work pertama yang sampai saat ini masih terasa aliran rasanya. Dan alhamdulillah setelah mendapatkan materi adab menuntut ilmu ini pembendaharaan ilmu dan pengalaman saya jadi bertambah. Semoga melalui ikhtiar menjaga adab dapat membawa perubahan yang mengarah kepada kebaikan dan membawa kebermanfaatan. Aamiin.😇

Launching Rumah Belajar Ibu Profesional Batam dan Workshop Food Photography

Salam Ibu Profesional,

—Batam, Minggu (21/01/18) Ibu Profesional Batam melaunching Rumah Belajar untuk mendukung peningkatan kualitas diri melalui berbagai passion masing-masing. Bersamaan dengan event tersebut, Ibu Profesional juga mengadakan workshop basic fotografi yang dipandu oleh Mbak Yayuk Wulan yang notabene dikenal sebagai seorang blogger dan juga member kompakers Batam. Bertempat di Tea Box Coffe, Sukajadi acara ini dimulai pukul 09.00 hingga pukul. 12.00 WIB.

Acara hari ini dibuka dengan kegiatan registrasi ulang peserta yang tentunya juga merupakan member Ibu Profesional Batam. Kemudian, dipandu oleh Mbak Evy sebagai mc, kegiatan hari ini diawali dengan bacaan ayat suci Al Quran bersama Mbak Resha Nesia.

Leader Ibu Profesional Batam, Mbak Erli Oktania dalam sambutannya menyatakan bahwa melalui Rumah Belajar yang ada di Ibu Profesional Batam, Insitut Ibu Profesional berharap bisa menjadi tempat yang nyaman layaknya sebuah rumah bagi para Ibu Profesional yang berada di Batam. Dengan adanya berbagai Rumah Belajar yang ada di Ibu Profesional Batam juga bertujuan agar dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh para Ibu sehingga membawa manfaat bagi banyak orang nantinya.

Sebelum acara inti, Ustadzah Afifatun Nisa, Lc memberikan tausiah kepada para Ibu Profesional agar tetap semangat mengejar ilmu. Kewajiban menuntut ilmu itu dari lahir sampai menutup mata. Meskipun sebagai Ibu dan segudang aktifitas baik domestik maupun publik, kita harus tetap menyempatkan diri menghadiri majelis ilmu. Meskipun suasana. sangat riuh oleh tingkah polah anak-anak tetapi tidak mengurangi semangat Ibu Profesional untuk menyimak kajian ini. Ustadzah Afifatun pun berkisah melalui sosok istri Rasulullah SAW yakni Zainab binti Jahsy Radhiallahu anhu.

Zainab radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu dinyatakan sendiri oleh Sayyidah Aisyah tatkala berkata, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahim, dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah.

Beliau radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah yakni beliau bagi-bagikan kepada orang­-orang miskin.
Mengambil hikmah dari kisah istri Rasulullah SAW, diharapkan semoga para Ibu bisa meneladani sifat dan akhlaknya sehingga meninggikan derajatnya juga.
Kemudian menginjak inti acara yakni Launching Rumah Belajar, melalui sambutannya Mbak Intan Sulistyorini selaku manager offline menyatakan Rumah Belajar Ibu Profesional Batam resmi dilauching hari ini.

Apa saja sih Rumah Belajar yang berada di bawah naungan Ibu Profesional Batam? Rumah Belajar yang diresmikan diantaranya Rumbel Alquran, Rumbel Menulis, Rumbel Craft, Rumbel Menjahit, Rumbel Memasak dan Rumbel Bisnis.
Setelah sesi foto dan peresmian melalui koordinator masing-masing Rumah Belajar, tibalah saatnya kegiatan workshop basic photography dimulai.

Tema yang diusung dalam workshop ini adalah salah satu genre dari stilllife photography yaitu “food photography”. Makanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sedangkan food photography dalam pengertian sederhana adalah teknik memotret makanan menjadi lebih menggoda sehingga membuat orang yang melihat foto makanan menjadi tertarik, tertarik untuk mencoba makanan atau minuman yang ada di dalam foto.
Mbak Yayuk Wulan menjelaskan terlebih dahulu teori dasar-dasar dan teknik dalam foood photography.

Hal-hal penting dalam food photography antara lain sebagai berikut:

1.Konsep

konsep adalah elemen yang penting untuk membuat foto itu tampak “bernyawa”. Tantangan terberatnya adalah bagaimana membuat objek makanan sebagai benda mati bisa terlihat menggiurkan. Dengan memikirkan konsep sebelum mengatur segalanya, kita menjadi tahu mau dibawa kemana objek foto kita. Konsep ibarat kerangka dasar tema dalam sebuah pemotretan yang akan memudahkan kita menentukan properti pendukung, menentukan lighting, menentukan styling dan komposisi, serta menjadi acuan mengenai apa yang hendak disampaikan kepada audience.

2. Lighting

Pastikan saat memotret kita punya cahaya yang cukup. Tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Boleh saja sebenarnya di tempat yang agak gelap tetapi nanti fotonya bertema stillife. Tapi untuk kita yang baru belajar apalagi untuk foto produk atau makanan yang dijual sarannya pakai cahaya yang cukup. Karena kebanyakan orang akan lebih tertarik dengan sesuatu yg jernih, cerah, berwarna. Jam yang punya cahaya bagus buat motret pagi antara jam 6-9 pagi, saat cahaya masih soft.

3. Komposisi

Secara teori, komposisi adalah sebuah cara untuk memanfaatkan dan mengisi ruang kosong agar foto lebih dinamis dan bervolume. Sederhananya diartikan sebagai keseimbangan. Dalam Food Photography ada istilah repeat. Peletakan objek untuk menyeimbangkan objek lain. Pengulangan dapat berupa benda yang sama, atau warna yang sama, bisa juga tidak ada kesamaan namun ada ikatan dengan konsep yang ingin diciptakan.

4. Props dan styling

Properti pendukung objek utama. Bisa apa aja yang kita punya. Misal kita mau memfoto gorengan ya properti yang dipakai sendok, sambal mungkin, teh/kopi dalam gelas. Gunakan properti tambahan sebagai alas atau background, misalnya garnish, talenan, vas bunga, piring-piring cantik, karung goni. Bisa juga memakai kertas kado bermotif sebagai alas makanan atau latar dinding. Apa saja bisa jadi aksen untuk foto makanan. Bahkan anak kita yang sedang memegang piring makanan juga boleh. Tapi, jangan terlalu ramai. Styling atau penataan, usahakan produk/objek biasanya kita sebut POI (point of interest) harus selalu terlihat paling menonjol dimanapun tempatnya.

5. Angle foto

Angle foto ini ada banyak tapi fokus ke objek biasanya pakai eye level atau sejajar dengan mata kita. Food photography bisanya menggunakan eye level ini. Karena kalau foto makanan pastinya akan keliatan banyak dan enak di foto pakai angle ini. Satu lagi yang sering dipakai juga bird eye. Namanya burung pasti liatnya dari atas. Fotonya disebut flatlay. Makanan tertentu juga cocok kalau difoto model flatlay ini.

6. Edit

Edit itu pasti, tapi edit yg nggak berlebihan. Senatural mungkin lebih baik. Sebuah foto harus siap edit. Maksudnya foto aslinya udah harus bagus. Seperti kue rasanya harus sudah enak jadi mau dihias bentuk apapun tetap enak. Editor yg dipakai biasanya VSCO, Snapseed, dan PicsArt.

Mbak Yayuk mempraktekkan cara menyusun properti sebelum mengambil foto

Setelah menjelaskan materinya, Mbak Yayuk Wulan langsung memberi contoh bagaimana caranya menentukan tema dan konsep foto, mengatur properti sampai dengan proses memotret makanan. Semua peserta pun mencoba mengambil foto satu persatu kemudian dikomentari langsung hasilnya oleh Mbak Yayuk Wulan. Memang belajar memotret itu perlu latihan dan kebiasaan.

ini hasil jepretan saya!

Ah, tidak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00, tibalah di penghujung acara tidak lupa kami berfoto bersama-sama. Sampai berjumpa di event Ibu Profesional Batam selanjutnya ya 😘