Social Venture itu Mimpi yang Tertunda

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tidak terasa, 9 minggu sudah kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #5 berlangsung. Setelah melewati berbagai materi yang seringkali bikin deg-degan, panas dingin, cenat cenut tapi sekaligus membuat kami semakin bersemangat mengenal diri sendiri dan berubah ke arah yang lebih baik, kini di penghujung kelas para peserta ditantang untuk menjadi agen perubahan.

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu, menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender, karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Itulah kenapa IIP merangkul para ibu untuk belajar bersama-sama karena sejatinya “mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.” Maka apabila ada satu orang ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan pada satu generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impact-nya?

How To Start?

Temukan Misi Spesifik Hidup Kita

Langkah pertama adalah kita harus sudah memahami apa maksud Allah menurunkan kita ke muka bumi ini, apa misi spesifik hidup kita, mengapa kita diamanahi putra-putri yang kini mewarnai hidup kita, apa maksudnya kita berada di lingkungan yang sekarang kita tinggali. Untuk lebih memahami semua ini, saatnya untuk throw back ke NHW – NHW sebelumnya.

Kita harus paham JALAN HIDUP kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai CARA MENUJU SUKSES. Setelah menemukan jalan hidup, segera melihat ke arah lingkaran pertama kita, yaitu keluarga. Mulailah menggali perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGE MAKER FAMILY. Tidak perlu banyak dan muluk-muluk, kita bisa memulai dengan perubahan-perubahan kecil namun selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan.

Ketika melakukan perubahan di dalam keluarga, kita bisa menggunakan pola kaizen yang merupakan sebuah filosofi hidup dari Jepang. Kai artinya perubahan, sedangkan Zen berarti baik. Secara utuh, Kaizen merupakan cara memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

 

Build Our Empathy, Completed by Our Passion

Jika perubahan-perubahan di dalam keluarga kita perlahan menampakkan hasilnya, saatnya kita masuk ke lingkaran kedua yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan diri kita ada di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

Empati adalah kunci untuk memulai perubahan di dalam masyarakat yang kita tinggali. Cara mengawali perubahan di masyarakat yaitu dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di dalam keluarga. Hal tersebut agar aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPATHY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masyarakat. Sesuatu yang diawali dari keprihatinan lalu dilengkapi dan ditambahkan dengan passion yang kita miliki akan menghasilkan perubahan yang luar biasa di masyarakat. Empati tanpa didukung dengan passion akan membuat aktivitas yang kita lakukan tidak mendalam dan hanya sebatas permukaan. Maka penting sekali untuk menggali apakah passion yang kita miliki bisa mendukung rasa empati yang muncul.

 

Social Venture

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social entrepreneur, baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneur.

Nah, di NHW #9 ini para peserta matrikulasi diminta untuk bisa membuat perubahan di masyarakat, dengan diawali dari rasa empathy. Peserta harus mulai belajar untuk membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini bertujuan untuk membuat para peserta matrikulasi bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kami dengan kemampuan entrepreneur yang kami miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. Kita juga bisa ikutan menyelami apa isu sosial di sekitar kita. Untuk mempermudah, kita bisa mulai dengan membuat bagan seperti ini;

Berdasarkan bakat minat di NHW sebelumnya, sedikit banyak saya semakin mengenal diri sendiri. Dalam rangka meninggikan gunung, maka saya memilih memulai dari hal sederhana yang saya sukai.

Pertama, memasak sebenarnya bukanlah passion utama saya, namun seberapa kerasnya saya menghindari aktivitas ini, entah mengapa saya akan selalu kembali ke ranah ini. Yaiyalah, saya sebagai koki keluarga harus memastikan kecukupan gizi anggota keluarga dan berusaha memasak sendiri makanan yang disajikan di rumah. Apalagi sejak tahun 2015, saya memutuskan untuk mengatur pola makan secara food combining. Jadi saya selalu berusaha memasak apa yang akan kami makan sendiri. Sebenarnya justru lebih mudah karena dengan food combining kami menerapkan minimalisasi proses memasak. Sejak tahun 2016 pun saya mencoba merintis bisnis homemade catering baby dan toodler bernama CIKAPA.

Berhubung saya tipe orang yang agak perfeksionis, ketika diberi kepercayaan saya ingin menjalankannya dengan sebaik mungkin. Dihadapkan pada permasalahan sulitnya mencari tenaga kerja dan keadaan saya yang saat itu bersiap akan melahirkan anak kedua. Qodarullah, saya terpaksa menghentikan bisnis yang sudah berjalan ini demi fokus membersamai anak-anak.

Belakangan ini saya aktif kembali berkomunitas bersama dengan Komunitas Indonesia Sehat Sejahtera. Mengikuti kelas memasak healthy food dan gluten free untuk bayi dan ADHD, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan memasak saya yang sudah lama tidak saya asah lagi. Insya Allah dengan bantuan teman-teman komunitas, saya ingin kembali menjalankan berbagai kegiatan dalam rangka mengkampanyekan hidup sehat dan berkontribusi lebih banyak ke masyarakat. Kegiatan-kegiatan sustainable lingkungan dan upaya menuju green lifestyle yang sedang kami upayakan melihat kondisi bumi yang semakin tua dan sampah yang semakin menggunung.

Salah satu kendala yang saya hadapi saat memulai syiar healthy food, khususnya di lingkungan saya tinggal, ketika saya dianggap belum mumpuni dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan jika ingin makan makanan sehat sehingga menurunkan minat orang untuk merubah gaya hidupnya.

Jadi setiap kali membagikan info-info mengenai healthy food, yang benar-benar mendengarkan hanya segelintir orang. Ya, seringkali kita melihat siapa yang berbicara, bukan apa yang disampaikan. Tapi tak mengapa, itu juga jadi cambuk untuk saya agar saya dapat membuktikan dulu lewat keluarga saya sendiri, baru nanti berbicara di ranah publik.

Meski begitu ketika saya juga mencoba mengedukasi di beberapa grup komplek perumahan yang lain, mereka justru excited dan mendengarkan dengan baik. Dari pengalaman tersebut, saya mulai merubah pola, saya dan teman-teman harus bertukar area sebagai pembicara agar lebih didengar. Karena seringkali orang di luar lingkungan jauh lebih didengar dan dihormati daripada yang di dalam.

Kedua, saya memang sudah lama kenal dunia literasi khususnya blogging, meski baru benar-benar dijalankan secara profesional akhir tahun kemarin. Karena saya bukan tipe orang yang mudah mengenal banyak orang, saya lebih nyaman mengenal sedikit orang namun lebih mendalam. Bukan berarti saya menutup diri, namun lebih mudah bagi saya berbagi untuk yang sudah mengenal saya. Maka saya memilih memanfaatkan media sosial dan blog yang mudah diakses siapapun yang membutuhkan.

Apakah yang saya bagi?? Hal-hal yang sudah saya lakukan berkaitan pendidikan anak. Bisa diakses di instagram monique_firsty atau blog ini. Saya mencoba berhijrah dari status galau dan mencoba memenuhi sosial media dengan album yang merupakan catatan kegiatan harian bersama anak-anak dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar. Selain itu perjalanan matrikulasi ini saya kumpulkan di blog pribadi portofolioanak.com dengan harapan agar para ibu di luar sana terinspirasi untuk bergabung di IIP. Meyakinkan kepada banyak orang bahwa belajar itu tak terbatas ruang dan waktu, medsos dan internet yang awalnya menjadi shallow work ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagi. Sebagai bentuk kecintaan saya terhadap literasi, saat ini saya juga sedang mengembangkan rumah baca Taman Ilmu dan Rumah Belajar Trenggalek bersama dengan sahabat saya di kampung halaman. Meskipun belum maksimal tetapi saya ingin berbagi sekecil apapun itu dengan harapan semoga bermanfaat bagi orang banyak.

 

Dari sini, sempat beberapa kali diskusi online maupun tatap muka langsung dengan beberapa teman yang merasa “sealiran” dalam hal pendidikan. Apa yang saya bagikan ternyata memunculkan feed back, berupa dukungan, kritikan, masukan, dsb. Alhamdulillah ketika memulai perubahan kecil dari diri sendiri, insya Allah keluarga dan lingkungan pun mengikuti. Saya sering membagikan kegiatan bersama anak dengan harapan bisa menginspirasi para orangtua via media sosial dan blog. Selain mendokumentasikan kegiatan bersama anak-anak, saya berusaha mengcampaign tentang Institut Ibu Profesional agar ibu lain di luar sana turut merasakan belajar meng-upgrade diri.

Saya memang mengenal IIP setelah menjadi ibu, sedikit terlambat mungkin namun alhamdulillah begitu banyak ilmu yang saya dapat dan terapkan di kehidupan sehari-hari. Padahal saya belajar pun masih di kulitnya, belum terkupas bahkan isinya belum tersentuh. Namun, ingin sekali rasanya berbagi kepada semua ibu di luar sana, “halo bunda semua.. ayo bergabung di sini, mari kita belajar bersama dalam rangka memenuhi panggilan hati”.

Ke depannya saya ingin lebih fokus untuk membangun bisnis homemade catering baby and toodler. Meskipun saat ini saya belum bisa open order kembali, tetapi saya tetap ingin bisa lebih luwes dan merangkul mereka yang belum aware dengan kesehatan dan pilihan makanan sehat sebagai langkah awal menuju Indonesia yang lebih sehat. Semoga ide saya untuk mengembangkan bisnis homemade catering baby and toodler bisa terwujud dan minati oleh banyak orang.

Itulah ide-ide saya untuk NHW #9 berkaitan dengan menjadi agen perubahan. Yuk, jangan ragu menjadi agen perubahan, karena sejatinya “Everyone is a Changemaker”. Setiap orang adalah agen perubahan. Ini bukan soal MAMPU atau tidak, tetapi MAU atau tidak. Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak orang di luar sana memiliki permasalahan yang sama dengan kita.

Ketika keberadaan kita telah mampu bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya, maka saat itulah indikator sebagai bunda shaleha telah tercapai. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi melalui kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.

Alhamdulillah NHW #9 telah terselesaikan. Memang ini adalah akhir dari kelas matrikulasi, namun sesungguhnya ini justru awal dari sebuah gerbang fase hidup yang baru, khususnya untuk saya. Setelah ini, insya Allah saya akan melanjutkan ‘kuliah’ ke kelas Bunda Sayang. Memantapkan diri sebelum benar-benar terjun ke masyarakat maka saya harus selesai dengan permasalahan diri saya sendiri dan keluarga saya.

Insya Allah, sembari memantaskan diri untuk menjadi CHANGE MAKER di dalam keluarga saya, maka saya akan semakin lebar membuka mata, hati dan telinga agar dapat menangkap lebih banyak isu sosial di sekitar saya, sehingga nantinya saya bisa berkontribusi dengan sebenar-benarnya sesuai dengan passion dan skillyang yang saya miliki.

Jika nanti ketika sudah terjun ke masyarakat, kita harus tetap ingat bahwasanya KELUARGA tetap nomor satu. Ketika kita aktif di masyarakat dan suami melayangkan protesnya, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, artinya ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras; LAMPU MERAH. Jika lampu ini yang menyala, artinya kita harus mulai menata ulang tujuan utama kita aktif di dalam masyarakat. Semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat ya. Oya kalau ada yang ingin bergabung dalam kelas matrikulasi IIP batch #6, sign up dan stay tune di website Ibu Profesional untuk informasi lebih lanjut. Selamat menjadi agen perubahan  😉

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh