NHW #4 : Tetapkan Milestone Meraih Mimpi

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kali ini saya kembali dengan bingkisan cantik Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, sudah masuk ke minggu keempat dengan tugas yang semakin menantang hati, jiwa, raga dan pikiran, hehe.

Setelah minggu lalu murid-murid kelas matrikulasi diajak berpikir tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”, minggu ini kami ‘ditodong’ melalui materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah. Satu persatu mulai jelas benang merah antara bagaimana membangun peradaban dengan mendidik berdasarkan fitrah. Bisa dipastikan tidak akan terbangun sebuah peradaban jika orang tua tidak mampu menemukan, menjaga dan menumbuh kembangkan fitrah anak-anaknya.

Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan fitrah sebagai modal utama untuk menjadi khalifah, termasuk anak-anak kita. Biasanya orang tua, khususnya orang tua-orang tua baru seperti saya yang suka latah. Alih-alih ingin bisa mendidik anak dengan baik, jadilah ikut seminar sana-sini, semua buku dilahap, artikel parenting di semua media diambil, akhirnya jadi makin bingung harus mulai darimana dan mengikuti yang mana. Padahal kalau kita mau menggali lebih dalam, sesungguhnya Allah sudah menyiapkan anak-anak sepaket dengan kemampuan orang tuanya dalam mendidik secara syari’ , kita tinggal menemukan dan mengarahkan sesuai kehendakNya.

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Alhamdulillah, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional saya kembali diingatkan mengenai mendidik dengan kekuatan fitrah. Saya ingin berbagi beberapa materi terkait fitrah based education yang pernah saya dapat di sini.

Selama ini kebanyakan dari kita heboh pada “apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak diantara kita yang bingung memberikan materi pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Sesungguhnya ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH.

Meski terlihat sederhana, namun untuk bisa menjalani proses tersebut ada beberapa tahapan yang harus kita jalankan;

❗Bersihkan hati nurani kita, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan.

❗Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

❗Sebaiknya orang tua memahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah Perkembangan, fitrah Seksualitas dll.

❗Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia.

Analogikan diri kita dengan seorang petani organik. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI,seperti petani menemani tanamannya atau sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

❗Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu artinya kita dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Sedangkan waktu dengan anak, kita dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Anaknya mainan sendiri, ibunya asyik blogging, #tampar diri sendiri.

❗Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena semua anak itu very limited special edition. Tidak ada anak yang diciptakan sama, semua anak itu unik, bahkan anak kembar sekalipun.

Point utamanya, mendidik itu bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran? Lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca?

~disarikan dari materi Matrikulasi dan Buku FBE~

Memantapkan Hati Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Sebelum mulai menggali lebih dalam tentang fitrah anak-anak kita, saya harus terlebih dahulu mengenali diri sendiri dengan cara menemukan misi hidup dan misi keluarga. Dua misi ini yang nantinya akan menuntun kita unuk bisa mendidik anak secara fitrah. Berikut ini adalah inti dari NHW #4 kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini.

Dibandingkan NHW-NHW sebelumnya, saya tidak akan menulis terlalu panjang. Karena murid-murid di kelas hanya diminta untuk melakukan review NHW #1, #2 dan #3. Namun pada prosesnya, NHW #4 ini membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaannya. Selain itu juga dibutuhkan momen pembersihan diri agar bisa menemukan kehendak Allah terhadap diri sehingga bisa merumuskan misi hidup dan misi keluarga.

Berikut ini poin-poin dalam NHW #4 :

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Di NHW #1 setelah memahami adab menuntut ilmu saya diminta untuk memilih jurusan ilmu di universitas kehidupan, dan saya memilih untuk mempelajari jurusan ilmu tentang menjadi seorang ibu profesional. Setelah saya baca kembali jurnal harian saya dan melakukan review selama beberapa hari, saya semakin yakin untuk memilih jurusan ini untuk saya pelajari.

Baca juga:Refleksi Diri 2018

Menjadi ibu memang alamiah dan natural, namun menjadi ibu profesional membutuhkan segudang wawasan dan bekal yang mumpuni demi membantu anak-anak menemukan fitrahnya dan membangun peradaban dari dalam rumah. Apalagi jaman yang akan dihadapi anak-anak nantinya adalah jaman yang sangat berbeda dengan yang saya alami sekarang.

Realitanya, saat ini dunia lebih maju secara teknologi, namun turun drastis secara adab. Dunia yang dipenuhi dengan gadget, sosial-sosial media, channel-channel televisi yang bisa menjadi musuh mematikan jika tidak diatur sebaik mungkin. Karena alasan itulah saya merasa wajib untuk belajar mengenai hal-hal apa saja yang harus dikuasai untuk menjadi ibu profesional.

Ibu yang tak sekedar menyandang gelar ibu karena telah mengandung dan melahirkan anak, namun sebenar-benarnya ibu yang menjadi guru pertama dan utama anak-anak yang saya lahirkan. Juga sebagai seorang ibu – pendamping ayah – yang akan menjadi teman dan teman paling nyaman untuknya pulang. Serta seorang ibu yang bisa merangkul lingkungan sekitarnya dan menebarkan manfaat

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebenarnya checklist yang saya susun untuk NHW #2 bukanlah checklist pertama yang saya buat, namun checklist yang saya buat kebanyakan menguap tanpa hasil. Saya selalu punya masalah dengan rutinitas, karena terkadang saya lebih mengikuti mood. Tersadarlah sekarang kenapa saya semakin hari semakin tidak produktif.

Sebuah kebiasaan buruk yang harus segera saya tinggalkan. Jujur checklist yang saya buat untuk NHW #2 pun belum rutin saya isi. Namun menyadari bahwasanya hal ini adalah sarana untuk memantaskan diri untuk menuju jurusan yang pilih, mau tidak mau, saya harus mau untuk merubah diri agar lebih teratur dan disiplin.
Semoga checklist yang telah saya buat bisa membantu saya untuk terus lebih baik dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup. Doakan saya ya agar bisa lulus mencapai goal dari checklist ini, sehingga bisa semakin produktif, baik sebagai ibu dari anak-anak, sebagai istri dan sebagai seorang blogger.

Baca juga: Langkah Awal Menuju Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 sejauh ini merupakan Nice Homework terberat untuk saya, karena melalui tugas itu saya diminta untuk memaafkan diri sendiri, memaafkan orang tua, memaafkan suami dan menemukan alasan kenapa saya harus jatuh cinta kembali padanya, mengenali dan menemukan potensi anak-anak, mengenali dan menemukan potensi diri saya sendiri, serta menemukan alasan mengapa Allah mengirimkan saya berada di lingkungan yang kini saya tinggali serta apa manfaat dari komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Baca Juga: Mengenal Potensi :Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saya termasuk orang yang masih mempertanyakan apa maksud Allah mengirimkan saya ke dunia ini. Mengapa Allah menakdirkan saya menjalani fase-fase dalam episode kehidupan ini, apa yang Allah inginkan terus saya pelajari, hikmah apa yang Allah ingin saya gali. Hal-hal seperti itulah yang sepanjang hidup terus saya pertanyakan. Jawabannya? Hingga detik ini saya belum benar-benar yakin seratus persen tentang hal itu. Namun melihat beberapa fase yang terus saja mempertemukan saya dengan dunia anak-anak dan literasi, saya mulai menangkap maksud Allah.

Dilahirkan dari keluarga besar yang berlatar belakang pendidikan hukum membuat saya sudah sangat akrab dengan rutinitas harian seorang pelayan jasa.

Dulu sekali saya merasa bekerja di bidang hukum itu bukan passion saya. Saya merasa passion saya di bidang literasi, berbekal pengalaman bekerja sebagai jurnalis dan giat dalam beberapa tim penulisan peraturan daerah saya semakin mantap ingin terus belajar menulis. Sempat vakum dari rutinitas menulis dan beberapa kalipun saya menghindari bidang tersebut, namun berkali-kali pula Allah beri kesempatan untuk kembali terjun ke bidang tersebut. Bahkan tidak sedikit yang bilang saya berbakat di bidang tersebut. Dan saat ini saya mulai bisa membaca potongan-potongan puzzle dari Allah, rupanya Allah memberikan bakat menulis kepada saya ada relevansinya juga dengan profesi Notaris yang menjadi cita-cita awal saya dulu.

Namun, lagi-lagi saya belum rela berbagi waktu bersama anak-anak dengan waktu untuk berpraktek kembali. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan saya untuk tetap stay di rumah mendampingi anak-anak. Hingga sebuah titik menyadarkan saya bahwa mendidik anak adalah pengalaman yang jauh lebih menantang. Dunia pendidikan anak adalah ujung peradaban. Ketika bidang ini diabaikan, maka hancurlah peradaban. Naudzubillah min dzalik.

Saya mulai menikmati bidang pendidikan anak-anak. Belajar dari pengalaman hidup kala masih remaja saya yang amat terpuruk justru menjadi titik balik saya untuk berhijrah. Kehidupan saya kala itu yang dekat dengan BLAST (boring, lonely, angry, stress, tired) membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk fokus membersamai anak-anak dan keluarga terlebih dahulu.

Kebanyakan remaja jaman sekarang lebih dekat dengan teman-temannya daripada ayah ibunya. Mereka kehilangan hubungan emosional dengan para orang tuanya. Remaja yang bertemu fisik dengan orang tuanya hanya saat di malam hari, menyapa seperlunya, bahkan ada yang tak pernah ketemu sama sekali. Remaja yang seringkali menyumpahi para gurunya karena nggak asyik menyampaikan materi dan berkesan diktator di dalam kelas. Ini membuat saya seperti melihat diri saya sendiri saat berusia sama dengan mereka. Remaja-remaja yang butuh sosok hangat untuk mencurahkan isi hati sekaligus motivator hidup serta teladan yang tepat. 

Keadaan yang paling bahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari adanya bahaya tersebut. Saya banyak bertemu dengan ibu-ibu yang merasa tidak butuh belajar parenting karena merasa anaknya baik-baik saja.

Apa iya kita harus menunggu anak bermasalah untuk mulai belajar? Padahal ketika anak sudah terlanjur bermasalah, effort untuk mengembalikan anak ke track semula akan jauh lebih besar.

Ternyata membersamai anak-anak untuk belajar di rumah itu mengasyikan. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan untuk berhome education saat ini.

I don’t really like kids, actually, kecuali anak-anak saya sendiri, hehe. Mama saya sendiri bahkan pernah berkata, “Halah, ngajar anak PAUD ki gampang, tinggal diajak nyanyi-nyanyi wis seneng.” Anehnya kalau Mama saya merasa gampang kenapa dulu Mama saya nggak ngajar anak-anaknya sendiri.

~For me, teaching toddler isn’t easy at all. Teaching toddler is about giving foundation for the next education, it’s not as easy as what they think of.~

Dari sanalah kemudian saya belajar tentang bagaimana meletakkan dasar di setiap materi yang saya berikan pada anak-anak penerus bangsa ini kelak.

Beruntung saat ini media belajar sangatlah banyak dan sumber ilmu pun mudah dijangkau. Saya banyak belajar tata laksana pendidikan anak usia dini melalui guru-guru PAUD yang hebat di WAG dan kelas online Yayasan Generasi Juara yang menaungi Homeschooling Muslim Nusantara. Saya percaya, ketika kita bisa memberikan pondasi yang kuat, maka insya Allah bangunan yang berdiri di atasnya akan mampu berdiri kokoh. 

Saya senang membagikan sedikit ilmu yang saya dapat dari hasil belajar di beberapa seminar yang saya ikuti, buku yang saya baca dan pengalaman yang pernah saya alami melalui tulisan.

Selain membuat digital portofolio anak, saya sangat menikmati kegiatan berbagi tentang dunia parenting terutama dengan teman-teman di Trenggalek yang masih awam dengan dunia ini. Bersama dengan seorang sahabat saya, kami mengelola Rumah Belajar Trenggalek dan rumah baca Taman Ilmu sebagai wadah untuk belajar dan berbagi banyak hal seputar parenting dan homeeducation.

Dunia tulis-menulis sendiri mulai menarik minat saya sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya paling suka kalau disuruh menulis surat kepada sahabat pena saya dan membuat karangan untuk dikirimkan ke berbagai majalah dan koran.

Begitu seterusnya hingga kemudian saya kuliah di bidang hukum. Saya berada dalam iklim yang menuntut untuk terus menulis, jadilah saya semakin menyukai dunia tulis menulis. Makin kesini rupanya saya makin senang menuliskan pengalaman dan kisah hidup yang semoga bisa memberikan manfaat, inspirasi dan semangat bagi orang lain. Saya sangat senang dan bersemangat jika banyak teman yang menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai anak-anaknya, mendengarkan curhatan para mama baru atau hanya sekedar cerita kegalauan ketika menanti jodoh.

Dari perjalanan hidup dan hal-hal yang menimbulkan semangat di dalam diri tersebut, saya mulai bisa menemukan misi hidup yang Allah maksudkan untuk saya.

🌈Misi Hidup:

Menjadi ibu yang profesional dan memberikan manfaat tidak hanya kepada keluarga inti, namun juga kepada orang lain. 

🌈Bidang: Pendidikan Ibu dan Anak

🌈Peran: Fasilitator dan Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Untuk bisa menjadi ahli sebagai seorang ibu profesional, khususnya di bidang Pendidikan Ibu dan Anak, maka saya menetapkan tahapan ilmu yang harus aku kuasai sebagai berikut:

1.Bunda Sayang :

Sebagai dasar atas rangkaian tahapan sebagai ibu profesional, saya merasa sangat penting untuk terus menambah ilmu seputar pengasuhan anak (parenting), mengkaji ilmu agama lebih dalam agar saya bisa memberikan bekal dan pondasi yang kuat untuk anak-anak dan belajar untuk menjadi teman bermain yang mengasyikkan serta memfasilitasi anak-anak dengan alat-alat bermain yang mereka butuhkan sesuai tahapan usia. Saya juga tertarik sekali untuk belajar mengenai ilmu psikologi dan komunikasi agar lebih paham tentang memahami dan merespon perilaku anak, suami dan orang-orang di sekitar.

2. Bunda Cekatan 

Selain memantaskan diri dengan belajar ilmu-ilmu di tahapan bunda sayang, saya juga membutuhkan ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, antara lain belajar membuat menu keluarga agar lebih variatif, belajar memasak sehat, belajar keuangan agar bisa mengatur cash flow keluarga dengan lebih baik, juga belajar beberapa life skill seperti menanam sayur, membuat sabun homemade atau mengatur lemari pakaian. Life skill ini selain berguna untuk kehidupan di masa kini, juga sangat bermanfaat jika bisa diwariskan kepada anak-anak.

3. Bunda Produktif

Berkaitan dengan minat dan bakat yang saya tekuni yaitu dunia tulis menulis, saya ingin belajar banyak tentang blogging dan content writing lebih profesional, serta belajar menulis parenting stories dan buku inspiratif pada ahlinya.

Saya juga ingin belajar public speaking agar lebih baik dalam menyampaikan apa-apa yang saya pikirkan secara langsung kepada khalayak sehingga maksud saya bisa ditangkap dengan baik. Selain itu saya juga merasa sangat penting untuk terus mengupdate informasi penting di bidang hukum agar meskipun belum berpraktek lagi saya tetap mengetahui update informasi terbaru.

4. Bunda Shaleha 

Saya ingin belajar lebih banyak untuk bisa berperan secara aktif dan positif pada setiap komunitas yang saya ikuti. Saya juga ingin belajar menjadi event organizer agar bisa kembali mengadakan acara-acara parenting yang berkualitas dengan tim yang telah sevisi-misi dengan saya.

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Meskipun saya telah menjalani peran sebagai seorang ibu selama tiga tahun lebih, dan menjadi istri telah berjalan selama enam tahun, serta telah menjadi anggota masyarakat selama dua puluh delapan tahun, namun saya merasa belum melakukan sesuatu yang berarti di dalam hidup ini. Terkadang menyesal, kenapa begitu terlambat saya memulai semua ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Maka saya menetapkan hari ini sebagai KM 0 – ku. Di usia dua puluh delapan tahun saya harus mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah saya tentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. 

Sejak hari ini saya akan berusaha setiap harinya akan mendedikasikan 8 jam waktu yang saya punya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, aku sudah bisa melihat hasil yang saya inginkan.

Berikut ini milestone yang saya tetapkan :

🌸KM 0 – KM 1  (tahun 1 – usia 28 hingga 29) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang – bisa menjadi ibu, istri dan sahabat yang baik untuk anak-anak dan suami.

🌸KM 1 – KM 2 (tahun 2 – usia 30 hingga 31) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan – bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.

🌸KM 2 – KM 3 (tahun 3 – usia 31 hingga 32) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif – bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minat saya; blogging, menulis buku dan kembali berpraktek membuka kantor sendiri.

🌸KM 3 – KM 4 (tahun 4 – usia 32 hingga 33) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha – bisa menyelenggarakan acara-acara seminar atau workshop parenting dengan biaya terjangkau/ tidak berbayar di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang belum tersentuh parenting.

Saya berharap sebelum usia 40, saya sudah bisa menjadi ibu yang bisa memahami dan mengarahkan fitrah anak-anaknya, sahabat yang baik untuk suami, mencapai posisi financial yang baik melalui minat dan bakat saya serta bisa bermanfaat bagi orang lain lewat tulisan, rumah baca dan beberapa kegiatan yang saya impikan.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah kembali membaca checklist saya di NHW #2, sebenarnya saya sudah memasukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, namun belum terlalu spesifik. Maka setelah checklist bulan ini selesai saya review, saya akan memasukkan kembali poin-poin tersebut secara lebih spesifik. 

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Apapun rencana, target dan checklist yang saya lakukan, tidaklah akan ada artinya ketika tiada konsistensi dalam menjalankannya. Maka selain menggantungkan mimpi, saya perlu meluruskan niat dan memetakan langkah demi bisa menjalankan misi hidup saya dan meraih cita-cita saya. Aamiin.

Inilah saatnya kita membuat sejarah kita sendiri. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Sampai jumpa di postingan berikutnya. Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu saya sudah membagikan tulisan saya untuk NHW #1, di situ saya mendeskripsikan bahwa salah satu cita-cita saya saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana sih cara mencapainya, saya sendiri masih menata diri dan berusaha merumuskan langkah apa saja yang harus saya tempuh. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaan saya terjawab sudah.

Baca juga: Refleksi Diri 2018

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum membahas bingkisan NHW #2 yang super ini, kita belajar terlebih dulu yuk bagaimana menuju ibu professional.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
kata IBU memiliki makna;
1.perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2.sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3.panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4.bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5.yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1.bersangkutan dengan profesi;
2.memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja agar konsistensi dan semangat belajar bisa selalu terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Kurang lebih seperti itu latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada visi dan misi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah visi dan misi IIP;

Visi dan Misi Ibu Profesional

Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2.Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Apa Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang, merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

🌸Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
🌸Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
🌸Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan, tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

🌸Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
🌸Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
🌸Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif, jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

🌸Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
🌸Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
🌸Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
🌸Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha, tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

🌸Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
🌸Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
🌸Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
🌸Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Langkah Menjadi Ibu Kebanggaan dalam Keluarga

Setelah meresapi materi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. Bingkisan yang diberikan kali ini cukup membuat saya berdiskusi panjang kali lebar bersama anggota keluarga karena saya diminta untuk menyusun “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang realistis dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau saya harus melakukan wawancara dengan suami dan anak-anak. Melalui diskusi panjang bersama suami, saya jadi tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, saya perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang saya dapat dari suami dan anak-anak sangat sederhana, namun cukup membuat saya merenung lebih lama lagi karena ternyata begitu banyak hal yang harus saya perbaiki.

Oiya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;

-SPECIFIC (unik/detil)
-MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
-ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
-REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
-TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Ikhtiar Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya mulai menyusun checklist yang nantinya insyaAllah dapat membantu saya sebagai pengingat agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu.

Meskipun sejak kecil saya sudah terbiasa membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri namun tugas kali ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi saya. Hingga saat ini entah berapa kali saya membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu saya pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan saya ketika semangat saya mulai kendor.

Checklist yang saya susun ini saya beri tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung masih awal tahun sekalian menggembleng diri ini agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan suami ketika saya hendak menyelesaikan tugas ini adalah “lakukan dari yang paling sederhana dulu, supaya tidak merasa berat dalam menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.”

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Sebagai individu di sini saya kategorikan dalam hubungan saya dengan Allah, dengan diri saya sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang saya susun;

a. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

Indikator Individu Beriman

🌸Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
🌸Menambah hafalan setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
🌸Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
🌸Tilawah minimal satu lembar setelah sholat.
🌸Merutinkan kembali dzikir pagi dan petang.
🌸Merutinkan kembali sholat sunah dhuha dan qiyamul lail.
🌸Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b. Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

Indikator Individu Istiqomah

🌸Menyusun ulang jadwal bulanan dalam mengelola rumah tangga.
🌸Berolahraga pagi bersama anak-anak.
🌸Update blog minimal tiga post selama satu minggu.
🌸Muhasabah diri sebelum tidur.
🌸Mencatat kegiatan harian anak-anak dalam buku catatan khusus.
🌸Menata skala prioritas kegiatan harian.

c. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

Indikator individu masyarakat

🌸Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
🌸Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
🌸Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
🌸Lebih terbuka dan mau berbagi.
🌸Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan dharmawanita.

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat berdiskusi dengan suami, saya sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan tebakan saya ternyata benar! Dengan gaya yang humoris dan penyampaian yang sederhana ini jawaban suami saya ; “jangan gampang emosi dan meledak-ledak, urus anak dengan lebih sabar dan senyum dong kalau saya pulang.” Dengan pedenya saya bilang, “masa iya cuma gitu doang?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambahin lagi.”😂

Dan inilah indikator yang saya susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit saya modifikasi ;

Indikator Istri

🌸Lebih baik lagi dalam mengontrol emosi, lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan terlebih dahulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
🌸Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika suami pulang terlambat atau mendadak lembur.
🌸Merendahkan suara. (PR banget nih buat saya yang tukang ngeyel).
🌸Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
🌸Mencium tangan suami saat melepas pergi ke kantor.
🌸Memberikan suami me time (suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetan saya dan anak-anak).
🌸Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang ke kajian.
🌸Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.

Jawaban pemikiran ala lelaki dengan kesimpulan:

…selama mama nggak ngomel-ngomel, kami bahagia…

Sebelum tanya-tanya dengan suami, saya sudah sempatkan untuk bertanya-tanya dengan Faris. Faris seneng punya mama yang seperti apa. Dengan usianya yang baru tiga tahun, keinginan Faris pun cukup sederhana; “Faris seneng kalau Mama nggak sedih kalo Faris nggak nurut sama dan nemenin Faris mainan jual-jualan.” Belum sempat dijawab, Faris malah balik bertanya “kenapa sih kok Mama nggak ke kantor aja? Biar Mamanya cantik kaya tante-tante yang di kantor Papa. “ Lalu saya jawab, “Berarti Mamanya boleh ke kantor ya?” Langsung dijawab sama Faris, “eh, nggak mau ah nanti Faris di rumah sama sapa? kan Faris maunya semua sama Mama, mainan, belajar, bikin kue sama Mama. Tapi Faris maunya Mamanya yang cantik aja yang di rumah sama Faris.” Wah, PR banget ini bagi saya, rupanya saya kudu makeover diri supaya nampak cantik di depan anak bujang saya. 😂

Lanjut obrolan bersama Irbadh, berhubung ia baru berumur enam belas bulan dan ketika ditanyain jawabnya hanya “mama manya”, maka saya simpulkan bahwa si bayi yang beranjak besar ini maunya mama selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jejak jauh-jauh, hihi.

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, saya menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa resolusi pribadi saya sebagai seorang ibu.

Indikator Ibu

🌸Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak dengan membuat sendiri masakan dan snack untuk anak-anak.
🌸Melatih kemandirian anak-anak. Faris diharapkan dapat membereskan tempat tidur, mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri. Sedangkan Irbadh, bisa ke toilet sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.
🌸Mulai membiasakan Faris dengan kebiasaan beragama seperti sholat lima waktu, mengaji dan memberi sedekah kepada yang membutuhkan.
🌸Menyusun lesson plan Faris untuk kegiatan belajarnya di rumah, mulai merutinkan murojaah, mengenal huruf hijaiyah melalui makhrajnya, dan merutinkan playdate yang sesuai dengan minatnya.
🌸MengASIhi Irbadh hingga dua tahun.
🌸Memberikan stimulasi berbicara agar meminimalisir tantrum.
🌸Merutinkan berkisah, membaca buku bersama,dan bermain bersama dengan anak-anak.
🌸Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak berebut sesuatu, Misal; anak-anak tidak diijinkan bermain jika tidak mau berbagi dan main bersama, jika salah satu pihak tidak mau berbagi maka berikan timeout.
🌸Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika anak-anak sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka saya mengkomunikasikan kepada suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utama saya. Saya tidak lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan evaluasi saya, ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga ternyata saya semakin keteteran dalam mengasuh anak-anak. Teringat pesan dari bu Septi, “rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Semoga Allah berikan kemudahan kepada saya agar bisa menepati checklist yang telah saya susun untuk masa evaluasi sebulan ke depan dan semoga langkah awal ini bisa mengantar saya mencapai cita-cita sebagai seorang ibu professional. Hm, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share dong 😄

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Aliran Rasa Yang Tertunda

Hm, dari judulnya saja sudah menjadi something interest untuk saya. Kalau diperbolehkan saya akan bercerita sedikit semoga beneran sedikit yah, soalnya saya kalau udah cerita suka panjang😬

Dalam proses pengerjaan Nice Home Work #1 di kelas Matrikulasi Ibu Pofesional ini sesungguhnya saya dalam keadaan pikiran yang carut marut. Tanya kenapa? Saya sedang belajar menata to do list dalam hidup saya. Beberapa hari ini saya seperti de javu dengan tugas-tugas deadline di kantor layaknya pekerja kantoran. Alih-alih ingin mulai menulis, tugas domestik nampaknya mulai melambaikan tangannya, rasanya ingin segera saya selesaikan semua tanggung jawab yang sudah menumpuk akibat tertunda-tunda karena mengutamakan tugas yang lainnya. Saking pusingnya, bahkan saya sampai menonaktifkan handphone saya selama 24jam sembari berharap agar pikiran saya bisa lebih tenang. Alhamdulillah, dengan puasa gadget memang membuat pikiran lebih tenang dan mood saya menjadi lebih baik.

Saya sangat berterima kasih pada tim fasilitator yang memberikan materi secara bertahap,sehingga membuat saya belajar dengan perlahan dan begitu menikmatinya. Betapa tidak, di kelas Matrikulasi minggu pertama ini saya mengemban amanah tugas perdana sebagai koordinator mingguan. Hm, kalau jaman sekolah ya sebelas dua belas dengan sekretaris lah ya. Jadi kerjaannya lumayan banyak dan membutuhkan waktu serta kejelian, disitulah tantangannya.
Kalau dari segi penulisan NHW #1, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Saya sudah terbiasa menulis dalam bentuk draft kapan dan dimana saja, tinggal menunggu waktu yang pas saja untuk finishing. Jika saya benar-benar fokus maka dalam waktu kurang dari dua jam tulisan sudah jadi, tinggal proses edit mengeditnya. Ini cerita indah di balik sebuah tulisan yang apik, jika saya sudah mantap dengan pilihan ide tulisan dan sudah mempersiapkan semuanya di dalam pikiran dan hati saya sehingga membuatnya mengalir begitu saja. Layaknya aliran rasa yang saya buat ini, meskipun tertunda tunda mudah-mudahan bisa mengalir seperti NHW#1 yang sudah saya tulis sebelumnya.

Jujur, ketika saya diamanahi sebagai koordinator mingguan yang memiliki sedemikian tugas membuat saya kelimpungan dan diri ini harus segera menyesuaikan dengan ritme yang baru. Namun, dari sekian tugas yang ada sesungguhnya tugas yang paling berat adalah tugas sabar dan ikhlas karena kelas ini merupakan wadah kami untuk belajar bersama.

Saya banyak belajar mengenai management waktu dan membuat to do list. Dimana kita harus tahu mana prioritas yang harus lebih dulu dikerjakan mana yang bisa ditunda. Hal ini juga membuat saya mudah mengatur waktu kapan belajar, kapan online, kapan offline, kapan mendampingi anak-anak dan kapan me time atau quality time bersama keluarga. Hal-hal sepele sih namun semua itu membuat saya terorganisir dan to do list itu tercatat sendiri ketika jam terbang kita meningkat dengan perlahan.

Dan untuk masalah tugas dan kewajiban-kewajiban saya di Matrikulasi IIP saya juga harus mengerjakannya tepat waktu, agar tidak ada lagi sistem kebut semalam sehingga ilmi yang diserap bisa langsung terikat dan diimplementasikan dalam keseharian.

Selain itu saya harus mendahulukan tugas saya sebagai fasilitator anak-anak dalam belajar. Saya harus memenuhi hak belajar dan bermain mereka dengan cara memfasilitasinya dalam setiap proses belajarnya. Jika tidak maka saya sudah berbuat zalim terhadap mereka karena ini semua sudah menjadi komitmen yang saya pilih.

Intinya saya menikmati semua proses belajar di Matrikulasi IIP termasuk aliran rasa dalam mengerjakan Nice Home Work pertama yang sampai saat ini masih terasa aliran rasanya. Dan alhamdulillah setelah mendapatkan materi adab menuntut ilmu ini pembendaharaan ilmu dan pengalaman saya jadi bertambah. Semoga melalui ikhtiar menjaga adab dapat membawa perubahan yang mengarah kepada kebaikan dan membawa kebermanfaatan. Aamiin.😇

Refleksi Diri 2018

NHW #1

Alhamdulillah, memasuki tahun 2018 banyak sekali hal yang ingin saya pelajari sebagai bekal dalam proses menjadi seorang Ibu yang lebih baik. Setelah tertunda tunda dan melalui proses yang sangat panjang akhirnya saya berkesempatan menimba ilmu di kelas Institut Ibu Profesional Batam.

Terhitung mulai hari Senin, tanggal 22 Januari 2018, Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 5 Batam resmi dibuka. Kelas ini nantinya akan berlangsung selama 8 minggu. Nah, tiap minggu akan ada materi yang berkaitan tentang bagaimana menjadi seorang ibu profesional, ada diskusi dan ada PR yang juga harus dikerjakan. PR ini disebut dengan NHW (Nice Homework). Pengumpulan NHW sesuai tenggat waktunya akan menjadi dasar kelulusan matrikulasi, apakah lulus atau harus remidi di batch selanjutnya. Buat yang mengerjakan tepat waktu tentunya mendapat apresiasi juga loh, ada badge keren ala Ibu Profesional.

Apa itu IIP? Kelas Matrikulasi?

Bagi yang belum pernah dengar dan tidak familiar dengan IIP atau Institut Ibu Profesional, IIP ini didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuat Jarimatika. Tujuan beliau mendirikan IIP adalah untuk meningkatkan kualitas ibu di Indonesia. Semakin berkualitas para ibu, maka insya Allah semakin berkualitas pula anak-anak dan keluarganya. Jika keluarga di Indonesia semakin meningkat kualitasnya, insya Allah kehidupan berbangsa dan bernegara pun akan semakin berkualitas pula. Saya sendiri mulai kenal dengan IIP pada tahun 2014, saat memutuskan resign dan bertekad membersamai anak-anak. melalui perjalanan panjang dan mood yang naik turun akhirnya bisa bergabung ke grup Whatsapp Foundie beberapa bulan yang lalu. Kayanya waktu jaman sekolah nggak pernah tuh diajarin bagaimana menjadi ibu apalagi saya yang notabene tidak pernah dekat dengan Mama saya. Nah, ketika diberi kesempatan oleh Allah menjadi seorang ibu saya merasa kelimpungan, ternyata banyak sekali hal yang harus dipersiapkan sedangkan bekal saya tidak ada. Jadilah ketika anak saya lahir, saya berburu ilmu secara otodidak melalui berbagai grup menyusui, menggendong sampai parenting yang membuat saya semakin bingung karena sistem coba-coba haha.

Dulu kata Mama saya, jadi ibu kan alamiah, nggak usah belajar juga nanti bisa sendiri. Memang sih, rasa keibuan itu alamiah, begitu menggendong bayi di tangan kita, langsung kok tanpa disuruh ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis begini, langsung bisa tahu dia butuh apa, anak nangis begitu bisa tahu anak butuh digendong, dan sebagainya. Lalu? Masalahnya kan jadi ibu nggak cuma sebatas urusan susu atau popok. Apalagi zaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date menjawab tantangan zaman. Kalau kata Ali Bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. “

Kalau ditanya kenapa pusing-pusing, kan ada sekolah, apalagi zaman sekarang banyak sekali pilihan sekolah tinggal kita mau yang seperti apa kompetensinya. Atau daripada pusing-pusing, pilih aja sekolah paling bonafit selesai deh. Apa iya sesederhana itu? Kayanya nggak deh. Bagaimanapun nanti anak-anak akan selalu menjadi tanggung jawabnya orang tua.

Baca juga : Lulusan Perguruan Tinggi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Why Not?

Saya memutuskan bergabung dengan IIP karena merasa tidak punya bekal menjadi seorang ibu. Saya merasa butuh teman-teman dan fasilitator yang bisa menjadi teman diskusi berbagai hal terutama tentang menjadi ibu di era digital seperti saat ini. Berharapnya nih setelah mengikuti perkuliahan demi perkuliahan di IIP, kualitas diri sebagai wanita, baik menjadi istri, ibu dan anggota masyarakat bisa semakin meningkat.
Bismillahirrahmanirrahim..

Namun sebelum mulai belajar ilmu demi ilmu yang sudah disusun secara sistematis oleh tim Dapur Nasional, saya wajib ikut kelas matrikulasi dulu. Sistem perkuliahannya online, lewat whatsapp, segala hal yang berhubungan dengan kuliah pun tersimpan secara sistematis di googleclassroom. Kurang apa coba? Alhamdulillah yah, memudahkan sekali buat ibu-ibu seperti saya yang masih susah kemana-mana.
Kenapa sih setiap member wajib ikut matrikulasi?
Intinya, supaya kita lebih paham dengan materi-materi yang diajarkan, dan bisa sejalan dengan visi misi yang ada.

Baca juga : Aliran Rasa Pramatrikulasi IP Batam

Review Materi Matrikulasi Minggu #1: Adab Menuntut Ilmu

Sebelum belajar lebih jauh tentang menjadi ibu yang profesional, kami diberikan dulu prolog mengenai adab menuntut ilmu. Dalam sebuah kajian, saya pernah mendengar bahwasanya kita perlu belajar iman dulu sebelum adab, dan adab sebelum ilmu. Sebelum kita fokus dan merengkuh ilmu sebanyak-banyaknya, kita harus belajar dulu tentang adab dan akhlaq dalam menuntut ilmu.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Jika kita sudah tahu adab menuntut ilmu, hasil itu bukanlah tujuan utama, hasil itu adalah bonus dari proses pencarian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu kita harus menegakkan cara-cara yang baik; datang tepat waktu – malah kalau bisa datang sebelum guru kita datang, menghormati guru, tidak sok pintar meski kita sudah pernah mendapat materinya, kita harus mau mengosongkan gelas agar bisa menambah kedalaman materi yang kita punya dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Iman Sebelum Adab, Adab Sebelum Ilmu, Ilmu Sebelum Amal

Mengutip apa yang disampaikan oleh Abu Zakaria al-Anbari berkata: Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad (Imam as-Sam’ani, Adab al-Imla’ wa al-Istimla’; al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Jami’, juz I, hal 17). Maka, ilmu dan adab harus menyatu dalam diri muslim, dan semestinya semakin berilmu, harus semakin beradab.

Semoga dengan memperbaiki adab dalam menuntut ilmu, akan jauh lebih banyak ilmu yang terikat dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga keluarga dan sesama. Insya Allah dimulai dari ibu yang memiliki adab akan melahirkan anak-anak dengan peradaban yang baik.

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, fasilitator membagikan NHW #1. Dan ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta. Setelah melalui perenungan, kurang lebih berikut ini jawaban menurut versi saya..

Pertanyaan pertama pada NHW #1, peserta diminta untuk menentukan jurusan ilmu yang ingin ditekuni di universitas kehidupan ini.

Usia yang bertambah, pola pikir yang semakin berkembang, dan anak-anak telah merubah banyak beberapa tujuan dan visi misi hidup saya. Dulu tujuan saya saat masih berstatus sebagai mahasiswa sangat sederhana, lulus kuliah, mencari pengalaman kerja dan membuka kantor untuk beberapa goal duniawi.
Namun sejak Faris lahir, ditambah kini sudah ada Irbadh, saya memiliki tujuan baru yaitu bagaimana mendidik, mengasuh dan menumbuhkembangkan fitrah anak-anak agar selalu sejalan dengan Quran dan Sunnah. Oleh karenanya jika disuruh memilih, saya ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU PROFESIONAL.

Di universitas-universitas favorit sekalipun, jurusan ilmu ini tidak akan pernah saya temukan, namun lewat universitas kehidupan, saya yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang saya inginkan. Semoga saja Allah memudahkan langkah saya dalam menimba ilmu sehingga bisa lulus membanggakan dari jurusan yang saya pilih ini.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan ialah apa alasan terkuat sehingga saya memilih jurusan ilmu tersebut.

Alasan terkuat sudah pasti anak-anak dan suami. Keluarga adalah pendorong pertama dan utama kenapa saya ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Sekarang, saya memang telah menjadi ibu, namun masih jauh dari kata sempurna. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Mendidik anak adalah anugerah terbesar bagi seorang manusia. Anugerah ini memberikan kesempatan kepada orang tua untuk meraih amal-amal yang paling mulia. Ya, mulia dan bahagia dunia akhirat, insyaAllah. Tentu dengan syarat apabila amalan-amalan mendidik anak ini dijalani dengan ikhlas karena Allah dalam mengarahkan anak-anaknya kepada agama, akhlaq, dan pengajaran yang baik.

Saya sadar diri betapa jauh dari kesempurnaan. Betapa diri ini masih butuh banyak diisi, sedangkan usia anak-anak tidak bisa menunggu apalagi diulang. Mereka membutuhkan ibu yang bisa mengarahkannya pada kehidupan yang lebih baik dan menuntun mereka untuk membangun peradaban yang lebih berkualitas. Saya ingin memberikan warisan terbaik kepada anak-anak.

Saya yang seorang ibu, seorang muslim, seorang pengajar (yang memilih mengajar anak-anak sendiri). Kewajiban saya tidak hanya menyampaikan ilmu. Tapi juga mendidik adab, ilmu, dan menerapkannya.

Beuh… berat ya? Terutama pas bagian ‘menerapkannya’.

Begini mungkin ilustrasinya…

PAS JAMAN KERJA KANTORAN:
Gampanglah, nanti setelah resign buka kantor sendiri, anak-anak masih aman ibunya di rumah. Kalau udah gedean dikit tinggal dititip aja di sekolah Islam, di TPA. Anak pinter agama dan jadi hafidz(ah). Kita cari uang… atau paling nggak saya bisa terima klien di rumah, masih sempet nemenin anak belajar. Kita? Hafalan? Ke majelis ilmu? Belajar? Halah… mana sempet. Cari uang, Bro!

PAS JAMAN FTM:
Bahasa Arab? Gampaaang, ada aplikasi. Tahfiz, tuuuh deket rumah ada rumah tahfiz. Saya? Hafalan? Bentar… ng.. ini cucian belum kelar. (Dan blass sampai keesokan harinya) Kajian ke masjid? Temanya apa? Tar browsing aja.

Ng… iya. Itu saya dulu. Sekarang? Masih ada residunya sih, semoga Allah memberi kekuatan agar istiqomah menghilangkannya.

Nah, dalam sebuah majelis rutin yang membahas salah satu kitab parenting Islam dari jaami’ul ahkam fii adab al shibyan, saya ditampar dengan ayat ini (tafsir lengkap dari Ibnu Katsir dan para sahabat bisa dilihat di sini):

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S. Al Baqoroh: 44)

Iya, saya sangat tertohok di kajian ituuu, astagfirullah 😭 Anak-anak BERHAK mendapat contoh yang baik dari saya. Bukan hanya perilaku baik, tapi juga kebiasaan menuntut ilmu (diin). Betapa sombongnya saya, dengan secuil yang saya miliki (titipan Allah pula), petantang-petenteng bilang “Saya cari uang aja, ilmu mah belakangan.” Iya kalau dapat waktunya. Lhah, kalau pas ‘cari uang’ udah diketok duluan sama malaikat maut, piye? Terzolimi lah hak anak-anak
Jadi, semua mindset yang saya bangun sejak awal tentang mendidik saya bongkar total. SAYA HARUS BELAJAR. MEMBUANG RASA MALU.

Pertanyaan ketiga tentang strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan.

Di dalam bayangan saya, seorang ibu profesional adalah wanita yang mampu menyeimbangkan waktu antara menjadi ibu, istri dan anggota masyarakat. Seorang wanita yang mampu memaksimalkan semua kapasitas dan kapabilitas dirinya. Saya bercita-cita tidak hanya ingin menjadi ibu yang nyaman bagi anak-anak saya, namun juga ibu yang berwawasan luas dan mampu menjadi tempat bertanya serta berkeluh kesah bagi anak-anak. Saya juga ingin bertumbuh menjadi istri yang lebih baik dalam memahami dan menghormati suami. Bisa menjadi ‘rumah’ yang nyaman dan selalu dirindukan olehnya. Serta ingin bisa berkualitas lebih baik sebagai seorang anggota masyarakat, tidak hanya menjadi anggota yang pasif, namun juga yang aktif dalam berbagi kemanfaatan kepada sesama.

Strategi Mencari Ilmu

Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka berikut ini adalah strategi yang saya rencanakan;

1. Mengikuti Kajian Keagamaan

Agama merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Agama adalah darah dan nafas dalam kehidupan. Saya sadar betul bahwasanya bekal agama saya masih jauh dari cukup, maka yang pertama aku lakukan adalah mengikuti kajian keagamaan dengan lebih baik dan disiplin. Saat ini saya memang sudah mengikuti liqo pekanan bagi muslim yang baru berhijrah dan mualaf, namun sering karena rasa lelah akibat pekerjaan domestik yang harus saya kerjakan sendiri saya jadi bolos hadir. Saya bertekad ke depannya akan lebih rajin dan mampu menimba ilmu tentang Quran dan Sunnah lebih banyak lagi. Selain ingin memperbaiki tajwid, saya juga ingin lebih memahami tafsir Al Quran agar bisa menjelaskan lebih baik kepada anak-anak mengenai hukum-hukum Allah, juga agar bisa hidup sesuai dengan tuntunan yang telah disusun oleh Allah.

2.Belajar Parenting

Mengikuti Kelas Parenting
Mengasuh anak sejatinya adalah mengasuh diri kita sendiri. Secara tidak langsung dengan mengikuti kelas-kelas parenting, baik itu berupa seminar, workshop, entah itu online ataupun offline, saya diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri dan karakter masing-masing anggota keluarga.
Belajar parenting membuat saya lebih terbuka terhadap kekurangan dan kelebihan saya pribadi. Belajar parenting juga memaksa saya untuk bisa menerima goresan luka masa lalu dan segala kesalahan serta kekurangan pola asuh orang tua saya. Belajar parenting membantu saya melepas emosi-emosi negatif sehingga bisa menjadi ibu yang utuh bagi anak-anak saya, serta istri yang menyenangkan untuk suami.

3. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital.

Saat ini era telah berkembang ke arah digital, maka saya harus belajar lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dan diperlukan dalam kehidupan di era digital. Saya ingin lebih mengembangkan ilmu di dunia tulis menulis dan blogging. Ke depannya, saya ingin bisa membuat infografis yang menarik dan membuat orang nyaman membaca blog ini.

4. Networking

Memperluas pertemanan adalah hal yang saya butuhkan dalam mencapai tujuan saya menjadi ibu profesional. Belajar sendiri itu tidak mudah, kita perlu berkomunitas dan bergandeng tangan dengan teman-teman yang memiliki passion, tujuan dan cita-cita yang sama. Bagaimanapun kita akan selalu butuh teman untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

5. Time Management.

Saya sadar hingga detik ini terkadang, saya masih kacau balau dalam mengatur waktu. Terutama membagi waktu untuk tugas domestik dan kelas belajar dalam homeeducation anak-anak. Berkali-kali saya menyusun lesson plan kegiatan belajar anak-anak, berkali-kali pula saya langgar. Saya sadar bahkan terkadang terlewat mencatat poin-point penting kegiatan anak-anak selama satu hari. Intinya, saya wajib belajar tentang pengelolaan waktu ini dengan lebih serius.

Apalagi dengan tujuan saya untuk menjadi ibu profesional, time management adalah hal yang sangat penting, saya ingin bisa membagi waktu antara menjadi ibu untuk anak-anak, menjadi partner untuk suami, serta jika sudah tiba waktunya bisa menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.

Sejauh ini 5 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencana saya untuk mencapai tujuan utama saya sebagai seorang ibu profesional.

Pertanyaan terakhir dalam NHW #1 yaitu berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Saya sangat menyadari sejauh ini adab yang saya miliki dalam menuntut ilmu masih sangat kurang, terkadang saya masih suka datang telat ke lokasi belajar dan menyepelekan materi yang sudah pernah saya dapat, bahkan terkadang tidak sempat mencatat hal-hal penting dari sebuah ilmu.

Memperbaiki Diri

Maka saya pikir beberapa hal inilah yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan menjadi cahaya yang bermanfaat:

1. Memperbaiki waktu kehadiran.

Sebisa mungkin sebelum guru atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di lokasi acara.

2. Mengosongkan gelas.

Ilmu terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan materi yang pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru.

Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan saya berharap bisa menuai ilmu dengan lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus.

Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Mengikat ilmu dengan menulis. Oleh karenanya ke depan saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah dibagikan dan disimpan. Selain itu, dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital, saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga NHW #1 nya. Nggak sabar menunggu materi dan NHW #2. Sampai berjumpa dengan ilmu selanjutnya. wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam Ibu Profesional,

Launching Rumah Belajar Ibu Profesional Batam dan Workshop Food Photography

Salam Ibu Profesional,

—Batam, Minggu (21/01/18) Ibu Profesional Batam melaunching Rumah Belajar untuk mendukung peningkatan kualitas diri melalui berbagai passion masing-masing. Bersamaan dengan event tersebut, Ibu Profesional juga mengadakan workshop basic fotografi yang dipandu oleh Mbak Yayuk Wulan yang notabene dikenal sebagai seorang blogger dan juga member kompakers Batam. Bertempat di Tea Box Coffe, Sukajadi acara ini dimulai pukul 09.00 hingga pukul. 12.00 WIB.

Acara hari ini dibuka dengan kegiatan registrasi ulang peserta yang tentunya juga merupakan member Ibu Profesional Batam. Kemudian, dipandu oleh Mbak Evy sebagai mc, kegiatan hari ini diawali dengan bacaan ayat suci Al Quran bersama Mbak Resha Nesia.

Leader Ibu Profesional Batam, Mbak Erli Oktania dalam sambutannya menyatakan bahwa melalui Rumah Belajar yang ada di Ibu Profesional Batam, Insitut Ibu Profesional berharap bisa menjadi tempat yang nyaman layaknya sebuah rumah bagi para Ibu Profesional yang berada di Batam. Dengan adanya berbagai Rumah Belajar yang ada di Ibu Profesional Batam juga bertujuan agar dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh para Ibu sehingga membawa manfaat bagi banyak orang nantinya.

Sebelum acara inti, Ustadzah Afifatun Nisa, Lc memberikan tausiah kepada para Ibu Profesional agar tetap semangat mengejar ilmu. Kewajiban menuntut ilmu itu dari lahir sampai menutup mata. Meskipun sebagai Ibu dan segudang aktifitas baik domestik maupun publik, kita harus tetap menyempatkan diri menghadiri majelis ilmu. Meskipun suasana. sangat riuh oleh tingkah polah anak-anak tetapi tidak mengurangi semangat Ibu Profesional untuk menyimak kajian ini. Ustadzah Afifatun pun berkisah melalui sosok istri Rasulullah SAW yakni Zainab binti Jahsy Radhiallahu anhu.

Zainab radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu dinyatakan sendiri oleh Sayyidah Aisyah tatkala berkata, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahim, dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah.

Beliau radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah yakni beliau bagi-bagikan kepada orang­-orang miskin.
Mengambil hikmah dari kisah istri Rasulullah SAW, diharapkan semoga para Ibu bisa meneladani sifat dan akhlaknya sehingga meninggikan derajatnya juga.
Kemudian menginjak inti acara yakni Launching Rumah Belajar, melalui sambutannya Mbak Intan Sulistyorini selaku manager offline menyatakan Rumah Belajar Ibu Profesional Batam resmi dilauching hari ini.

Apa saja sih Rumah Belajar yang berada di bawah naungan Ibu Profesional Batam? Rumah Belajar yang diresmikan diantaranya Rumbel Alquran, Rumbel Menulis, Rumbel Craft, Rumbel Menjahit, Rumbel Memasak dan Rumbel Bisnis.
Setelah sesi foto dan peresmian melalui koordinator masing-masing Rumah Belajar, tibalah saatnya kegiatan workshop basic photography dimulai.

Tema yang diusung dalam workshop ini adalah salah satu genre dari stilllife photography yaitu “food photography”. Makanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sedangkan food photography dalam pengertian sederhana adalah teknik memotret makanan menjadi lebih menggoda sehingga membuat orang yang melihat foto makanan menjadi tertarik, tertarik untuk mencoba makanan atau minuman yang ada di dalam foto.
Mbak Yayuk Wulan menjelaskan terlebih dahulu teori dasar-dasar dan teknik dalam foood photography.

Hal-hal penting dalam food photography antara lain sebagai berikut:

1.Konsep

konsep adalah elemen yang penting untuk membuat foto itu tampak “bernyawa”. Tantangan terberatnya adalah bagaimana membuat objek makanan sebagai benda mati bisa terlihat menggiurkan. Dengan memikirkan konsep sebelum mengatur segalanya, kita menjadi tahu mau dibawa kemana objek foto kita. Konsep ibarat kerangka dasar tema dalam sebuah pemotretan yang akan memudahkan kita menentukan properti pendukung, menentukan lighting, menentukan styling dan komposisi, serta menjadi acuan mengenai apa yang hendak disampaikan kepada audience.

2. Lighting

Pastikan saat memotret kita punya cahaya yang cukup. Tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Boleh saja sebenarnya di tempat yang agak gelap tetapi nanti fotonya bertema stillife. Tapi untuk kita yang baru belajar apalagi untuk foto produk atau makanan yang dijual sarannya pakai cahaya yang cukup. Karena kebanyakan orang akan lebih tertarik dengan sesuatu yg jernih, cerah, berwarna. Jam yang punya cahaya bagus buat motret pagi antara jam 6-9 pagi, saat cahaya masih soft.

3. Komposisi

Secara teori, komposisi adalah sebuah cara untuk memanfaatkan dan mengisi ruang kosong agar foto lebih dinamis dan bervolume. Sederhananya diartikan sebagai keseimbangan. Dalam Food Photography ada istilah repeat. Peletakan objek untuk menyeimbangkan objek lain. Pengulangan dapat berupa benda yang sama, atau warna yang sama, bisa juga tidak ada kesamaan namun ada ikatan dengan konsep yang ingin diciptakan.

4. Props dan styling

Properti pendukung objek utama. Bisa apa aja yang kita punya. Misal kita mau memfoto gorengan ya properti yang dipakai sendok, sambal mungkin, teh/kopi dalam gelas. Gunakan properti tambahan sebagai alas atau background, misalnya garnish, talenan, vas bunga, piring-piring cantik, karung goni. Bisa juga memakai kertas kado bermotif sebagai alas makanan atau latar dinding. Apa saja bisa jadi aksen untuk foto makanan. Bahkan anak kita yang sedang memegang piring makanan juga boleh. Tapi, jangan terlalu ramai. Styling atau penataan, usahakan produk/objek biasanya kita sebut POI (point of interest) harus selalu terlihat paling menonjol dimanapun tempatnya.

5. Angle foto

Angle foto ini ada banyak tapi fokus ke objek biasanya pakai eye level atau sejajar dengan mata kita. Food photography bisanya menggunakan eye level ini. Karena kalau foto makanan pastinya akan keliatan banyak dan enak di foto pakai angle ini. Satu lagi yang sering dipakai juga bird eye. Namanya burung pasti liatnya dari atas. Fotonya disebut flatlay. Makanan tertentu juga cocok kalau difoto model flatlay ini.

6. Edit

Edit itu pasti, tapi edit yg nggak berlebihan. Senatural mungkin lebih baik. Sebuah foto harus siap edit. Maksudnya foto aslinya udah harus bagus. Seperti kue rasanya harus sudah enak jadi mau dihias bentuk apapun tetap enak. Editor yg dipakai biasanya VSCO, Snapseed, dan PicsArt.

Mbak Yayuk mempraktekkan cara menyusun properti sebelum mengambil foto

Setelah menjelaskan materinya, Mbak Yayuk Wulan langsung memberi contoh bagaimana caranya menentukan tema dan konsep foto, mengatur properti sampai dengan proses memotret makanan. Semua peserta pun mencoba mengambil foto satu persatu kemudian dikomentari langsung hasilnya oleh Mbak Yayuk Wulan. Memang belajar memotret itu perlu latihan dan kebiasaan.

ini hasil jepretan saya!

Ah, tidak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00, tibalah di penghujung acara tidak lupa kami berfoto bersama-sama. Sampai berjumpa di event Ibu Profesional Batam selanjutnya ya 😘

Aliran Rasa Pra Matrikulasi IIP

Buibu udah pernah dengar Institut Ibu Profesional belum? Minimal pernah baca di internet lah ya, atau kalau mampir ke toko buku pasti pernah lihat buku seri Ibu Profesional. Lalu sekolah apa sih sebenarnya yang namanya Institut Ibu Profesional nya Bu Septi Peni itu? Lalu siapa pula Ibu Septi ini? Ituloh ibu dari tiga anak homeschooling yang hebat-hebat dan juga seorang penggagas jarimatika.

Baiklah bagaimana sih awal mula saya berkenalan dengan IIP? Saya sudah mengetahui IIP sejak tahun 2016, melalui beberapa grup parenting dan tulisan yang sering lalu lalang di sosial media. Tetapi saya baru benar-benar semangat dan ingin belajar di IIP ketika anak saya yang kedua sudah lahir, yaitu akhir tahun 2016. Maka dari itu ketika pendaftaram matrikulasi dibuka dengan kebulatan hati saya mengisi formulir dan qadarullah saya lupa belum mentransfer biaya pendaftaran membernya. Rupanya Allah bertakdir lain, saya harus banyak belajar dan berjuang agar bisa bergabung di periode selanjutnya. Setelah itu saya mencari informasi melalui media sosial. Rajin bertanya kepada beberapa orang yang saya anggap tahu hingga sampailah saya menginbox seorang fasilitator IIP Riau (area terdekat) dan bertanya bagimana caranya agar saya bisa dimasukkan ke dalam grup foundation sebab di Batam belum ada IIP. Dan lagi lagi saya ditolak, si fasil bilang sebaiknya saya menunggu informasi pendaftaran batch selanjutnya agar bisa bergabung dan belajar di IIP. Akhirnya saya mulai santai dan tidak terobsesi. Saya memilih berpasrah dan terus berpikir positif bahwa belajar itu bisa dimana saja, kenal dengan orang baru dan ikut seminar parenting adalah upaya saya untuk terus mengupgrade diri. Dan melalui seminar parenting pula saya dipertemukan kembali dengan IIP.

Agustus, 2017 saya membaca info di linimasa facebook bahwa akan diadakan Seminar Parenting “Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah” dengan Narasumber Ust. Harry Santosa. Seminar ini juga bersamaan dengan even wisuda matrikulasi IIP Batam. Tanpa berpikir panjang akhirnya saya langsung daftar seminar tersebut. Banyak ilmu yang saya dapat, pikiran saya fresh kembali dan kepingan-kepingan rencana dalam pengasuhan anak menjadi lebih tertata kembali. Saya pun merasa mempunyai kekuatan lebih dalam memantapkan diri untuk menjadi fasilitator anak-anak di rumah. Setelah ngobrol banyak dengan Mbak Erli, ketua IIP Batam semakin banyak hal yang menginsipirasi saya dari sosok ibu dengan empat krucil ini. Tanpa banyak berpikir panjang saya langsung minta izin agar diperbolehkan bergabung di whatsapp grup foundation dan mengikuti beberapa rumah belajar sebagai batu lompatan awal saya menata diri. Berkenalan dengan banyak teman baru, dengan berbagai latar belakang dan tentunya pengalaman yang berbeda semakin memperkaya wawasan saya.

Saling membantu saat proses pendaftaran matrikulasi dan banyak berbagi informasi penting selama di grup Foundation sangat berkesan bagi saya. Meskipun banyak yang belum kenal bahkan bertatap muka tapi justru saya menemukan ketulusan dalam berteman di dalam komunitas ini.
Benar-benar perjalanan panjang yah kalau mau belajar di Universitas Kehidupan. Saya sadar betul betapa pentingnya menggali diri dan sekarang dengan ucapan “bismillah”, InsyaAllah pasti bisa mengejar ketinggalan… Semangat!!!
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di langkah awal masuk komunitas ibu-ibu hebat yang selama ini saya idam-idamkan. Ibaratnya, meskipun baru masuk di halaman rumahnya dan hendak mengetuk pintu 😁

InsyaAllah, sepuluh hari lagi 22 Januari 2018 kelas akan dimulai dan kami akan dibimbing oleh Fasil. Doakan sayaaa.

Seumur-umur masuk anggota perkumpulan, organisasi bahkan kuliah pasca pun masih lebih gampang daripada mau jadi anggota IIP hahaha… Tapi masih lebih sulit ngerjain tugas teknik pembuatan akta sih, otak muter jari kriting hahaha…

Dari pertama daftar via email, dapat balasan email truss masuk wag deh…eit tyt itu blm jadi anggota loh. Itu baru wag pendatang alias Foundation. Banyak belajar dan berkenalan dengan istilah-istilah di IIP, mengenal apa dan siapa IIP, kenalan dg mak-mak fasilitator yang kece dan tentunya tau dan paham COC IIP.

Now, di wag pra-matrikulasi ini mak-mak belajar bikin Gmail, GDocs, Gsheet, dan blog. Kurang keren gimana coba? Mamak mamak yang biasanya sibuk sama cobek ulegan panci dan teflon mendadak kudu belajar ini itu. Iya… ini itu persiapan untuk masuk matrikulasi. Mungkin nanti, si NHW alias tugas-tugasnya juga tambah banyak dan lebih complicated. Belum PR di grup sebelah hahaha..Gak takut…semangat!!!

Sebenarnya nggak ribet sih masuk IIP, kalau… kalau kita bukan berstatus mak-mak. Masih belum punya banyak tanggungan yang banyak dan pikiran bercabang. Apalagi mak-mak di luar sana yang menyandang gelar working mom. Emak cupu kaya saya yang kerjaannya cuma muterin rumah nih..ya IRT ya nyambi jualan online..pagi nemenin anak-anak belajar (alhamdulillah ga perlu kalang kabut nganterin anak ke sekolah pagi buta), nyiapin sarapan, belanja ke tukang sayur, pengajian, dan setumpuk urusan domestik yang tiada bertepi. Saya masih belajar memanajemen waktu, inilah ilmu yang ingin saya pelajari nanti di IIP. Bimbing diriku ya Fasil.

Sekali lagi… Mohon do’anya semoga saya bisa lancar menjalani proses belajar dan naik kelas. Minimal ga telat setor tugas aja deh hehe.. Aamiin ya Rabb 😇