Aliran Rasa Pra Matrikulasi IIP

Buibu udah pernah dengar Institut Ibu Profesional belum? Minimal pernah baca di internet lah ya, atau kalau mampir ke toko buku pasti pernah lihat buku seri Ibu Profesional. Lalu sekolah apa sih sebenarnya yang namanya Institut Ibu Profesional nya Bu Septi Peni itu? Lalu siapa pula Ibu Septi ini? Ituloh ibu dari tiga anak homeschooling yang hebat-hebat dan juga seorang penggagas jarimatika.

Baiklah bagaimana sih awal mula saya berkenalan dengan IIP? Saya sudah mengetahui IIP sejak tahun 2016, melalui beberapa grup parenting dan tulisan yang sering lalu lalang di sosial media. Tetapi saya baru benar-benar semangat dan ingin belajar di IIP ketika anak saya yang kedua sudah lahir, yaitu akhir tahun 2016. Maka dari itu ketika pendaftaram matrikulasi dibuka dengan kebulatan hati saya mengisi formulir dan qadarullah saya lupa belum mentransfer biaya pendaftaran membernya. Rupanya Allah bertakdir lain, saya harus banyak belajar dan berjuang agar bisa bergabung di periode selanjutnya. Setelah itu saya mencari informasi melalui media sosial. Rajin bertanya kepada beberapa orang yang saya anggap tahu hingga sampailah saya menginbox seorang fasilitator IIP Riau (area terdekat) dan bertanya bagimana caranya agar saya bisa dimasukkan ke dalam grup foundation sebab di Batam belum ada IIP. Dan lagi lagi saya ditolak, si fasil bilang sebaiknya saya menunggu informasi pendaftaran batch selanjutnya agar bisa bergabung dan belajar di IIP. Akhirnya saya mulai santai dan tidak terobsesi. Saya memilih berpasrah dan terus berpikir positif bahwa belajar itu bisa dimana saja, kenal dengan orang baru dan ikut seminar parenting adalah upaya saya untuk terus mengupgrade diri. Dan melalui seminar parenting pula saya dipertemukan kembali dengan IIP.

Agustus, 2017 saya membaca info di linimasa facebook bahwa akan diadakan Seminar Parenting “Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah” dengan Narasumber Ust. Harry Santosa. Seminar ini juga bersamaan dengan even wisuda matrikulasi IIP Batam. Tanpa berpikir panjang akhirnya saya langsung daftar seminar tersebut. Banyak ilmu yang saya dapat, pikiran saya fresh kembali dan kepingan-kepingan rencana dalam pengasuhan anak menjadi lebih tertata kembali. Saya pun merasa mempunyai kekuatan lebih dalam memantapkan diri untuk menjadi fasilitator anak-anak di rumah. Setelah ngobrol banyak dengan Mbak Erli, ketua IIP Batam semakin banyak hal yang menginsipirasi saya dari sosok ibu dengan empat krucil ini. Tanpa banyak berpikir panjang saya langsung minta izin agar diperbolehkan bergabung di whatsapp grup foundation dan mengikuti beberapa rumah belajar sebagai batu lompatan awal saya menata diri. Berkenalan dengan banyak teman baru, dengan berbagai latar belakang dan tentunya pengalaman yang berbeda semakin memperkaya wawasan saya.

Saling membantu saat proses pendaftaran matrikulasi dan banyak berbagi informasi penting selama di grup Foundation sangat berkesan bagi saya. Meskipun banyak yang belum kenal bahkan bertatap muka tapi justru saya menemukan ketulusan dalam berteman di dalam komunitas ini.
Benar-benar perjalanan panjang yah kalau mau belajar di Universitas Kehidupan. Saya sadar betul betapa pentingnya menggali diri dan sekarang dengan ucapan “bismillah”, InsyaAllah pasti bisa mengejar ketinggalan… Semangat!!!
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di langkah awal masuk komunitas ibu-ibu hebat yang selama ini saya idam-idamkan. Ibaratnya, meskipun baru masuk di halaman rumahnya dan hendak mengetuk pintu ๐Ÿ˜

InsyaAllah, sepuluh hari lagi 22 Januari 2018 kelas akan dimulai dan kami akan dibimbing oleh Fasil. Doakan sayaaa.

Seumur-umur masuk anggota perkumpulan, organisasi bahkan kuliah pasca pun masih lebih gampang daripada mau jadi anggota IIP hahaha… Tapi masih lebih sulit ngerjain tugas teknik pembuatan akta sih, otak muter jari kriting hahaha…

Dari pertama daftar via email, dapat balasan email truss masuk wag deh…eit tyt itu blm jadi anggota loh. Itu baru wag pendatang alias Foundation. Banyak belajar dan berkenalan dengan istilah-istilah di IIP, mengenal apa dan siapa IIP, kenalan dg mak-mak fasilitator yang kece dan tentunya tau dan paham COC IIP.

Now, di wag pra-matrikulasi ini mak-mak belajar bikin Gmail, GDocs, Gsheet, dan blog. Kurang keren gimana coba? Mamak mamak yang biasanya sibuk sama cobek ulegan panci dan teflon mendadak kudu belajar ini itu. Iya… ini itu persiapan untuk masuk matrikulasi. Mungkin nanti, si NHW alias tugas-tugasnya juga tambah banyak dan lebih complicated. Belum PR di grup sebelah hahaha..Gak takut…semangat!!!

Sebenarnya nggak ribet sih masuk IIP, kalau… kalau kita bukan berstatus mak-mak. Masih belum punya banyak tanggungan yang banyak dan pikiran bercabang. Apalagi mak-mak di luar sana yang menyandang gelar working mom. Emak cupu kaya saya yang kerjaannya cuma muterin rumah nih..ya IRT ya nyambi jualan online..pagi nemenin anak-anak belajar (alhamdulillah ga perlu kalang kabut nganterin anak ke sekolah pagi buta), nyiapin sarapan, belanja ke tukang sayur, pengajian, dan setumpuk urusan domestik yang tiada bertepi. Saya masih belajar memanajemen waktu, inilah ilmu yang ingin saya pelajari nanti di IIP. Bimbing diriku ya Fasil.

Sekali lagi… Mohon do’anya semoga saya bisa lancar menjalani proses belajar dan naik kelas. Minimal ga telat setor tugas aja deh hehe.. Aamiin ya Rabb ๐Ÿ˜‡

Ketiduran

Tema arisan kali ini yang dipilih oleh Mama Thole adalah kejadian lucu saat bersama dengan suami. Bicara tentang kelucuan atau hal yang konyol dalam keseharian banyak sekali kejadian-kejadian lucu yang terjadi di antara kita. Sebelum saya menikah dengan suami saya, saya terlalu kaku dan serius. Ini semua karena hasil didikan orang tua yang otoriter. Bertemu dan berjodoh dengan suami ternyata mampu menyeimbangkan karakter saya menjadi lebih let it go, let it slow.

Ada beberapa obrolan lucu saat bersama suami yang ingin saya bagi. Suami saya adalah tipe orang yang santai, saking santainya sampe-sampe saya enggan meminta bantuan untuk urusan kecil karena saya sudah tahu endingnya akan bagaimana.

Pada suatu senja nan cerah di pojok ruang tengah rumah kami. Kami tengah ngobrol santai sambil mengawasi anak-anak bermain lego. Saya yang sudah kelelahan sedari pagi menemani anak-anak bermain. Ditemani secangkir kopi plus kentang goreng yang suami siapkan menambah semarak suasana.

ย ย ย Obrolan kocakpun dimulai…

M : Pa….
G : Hmm… (minum kopi sambil ngunyah kentang dalam waktu bersamaan ๐Ÿ˜‚
M : Tumben papa baik banget nyiapin cemilan plus bikin minuman sendiri?
G : Beli dimana itu kopinya? (karena saya bukan penggemar kopi dan tidak pernah punya stok kopi di rumah)
M : Sini, Mama mau nyobain dong. Kopi apaan sih ini, Pa?
G : Kopi luwak white coffe.
M : Ha..?? Semenjak kapan Papa suka kopi instan?
G : Nggak instan kok ini, Ma. Papa yang proses sendiri kopinya.
M :?????
– tamat –

Kalau ditanya mengenai kejadian konyol antara saya dan suami, tak terhitung berapa kali kejadian konyol yang tercipta. Saking banyaknya sampai saya bingung mau berbagi cerita yang mana satu.

Adalah sebuah malam, entah malam keberapa setelah pernikahan kami. Kami berdua makan malam sambil menunggu antrian periksa ke dokter kandungan. Setelah berdiskusi akhirnya kami berdua memutuskan untuk makan di sebuah restoran pizza yang cukup ternama.

M : Papa, terasa dingin nggak sih hawanya di sini?
G : Nggak tu, biasa aja.
M : (manyun sambil mikir pasti nggak peka lagi. Pliss, peka dong)
G : Kenapa diam aja, Ma? (sambil buka jaketnya)
M : Senyum-senyum sambil berharap jaketnya mau dikasih ke saya biar nggak kedinginan.
G : Senyum-senyum lagi sambil mau buka baju.
M : Nggak gitu juga kali pa. Di saat-saat kaya gini jangan pakai prinsip “kita lalui bersama dong” malu-maluin aja.
G : Becanda ma, becanda… (Menggeser tempat duduk mendekati Mama, berusaha melancarkan rayuan gombal yang dulu bikin Mama klepek klepek dan mau jadi istrinya meski wajah Papa agak expired). Mama itu cantik kalau cemberut gini. Tapi kayaknya lebih cantik lagi kalau senyum deh…
M : mlengos..
-tamat-

Itu beberapa kejadian yang terjadi setelah kita menikah dan punya anak. Masih ada satu lagi kisah lucu saat saya ikut suami dinas keluar kota. Waktu itu, saya baru pindah ke Batam dan belum aktif bekerja lagi di kantor. Masih berdua saja dan belum ada anak-anak. Ceritanya saya diajak suami saya untuk ikut ke Pekanbaru dalam rangka dinas luar kota. Daripada bengong di rumah akhirnya saya menyetujui ajakannya. Jadilah sehari sebelum berangkat ke Pekanbaru saya pun kalang kabut packing untuk itenary keesokan harinya. Akibat kelelahan mempersiapkan bawaan yang akan dibawa ke Pekanbaru, saya justru ngdrop saat sampai di hotel. Kepala sakit dan flu berat langsung mendera. Saya pun segera minum habbatusauda dan segera naik ke ranjang. Sementara suami belum ingin tidur, ia pamit kepada saya untuk bergabung dengan teman-teman kantor yang menginap di penginapan yang sama dengan kami. Saya mengangguk, kemudian membiarkan suami untuk keluar sejenak.
Ternyata, suami saya pergi tanpa membawa kunci kamar, karena berpikir ada saya di dalam kamar. Saat kembali ke kamar ia harus mengetuk kamar dan berusaha menelepon selama berjam-jam, dan saya sendiri sudah tertidur pulas tak mendengar apa-apa. Keesokan paginya, saya mendapatinya tidur di kamar teman dan saya benar-benar meminta maaf padanya.

Maaf ya, suami.

Mengenang pertemuan yang tak terbilang ๐Ÿ˜˜