Menuju Bunda Produktif, Rejeki itu Pasti Kemuliaan yang Dicari

Assalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hari ini, saya akan berbagi tentang materi yang saya dapat dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, ‘kuliah’ sudah berjalan hingga minggu ketujuh.

Setelah minggu-minggu lalu, kami diberi perkenalan materi tentang bagaimana menjadi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, kini saatnya kami belajar bagaimana menjadi Bunda Produktif. Dalam materi ini diajarkan untuk lebih memahami tentang konsep produktif dan lebih mengenal apa tujuan penciptaan kita di bumi ini.

Materi ini merupakan materi yang saya tungu-tunggu selama mengikuti kelas matrikulasi. Di sini semangatku kembali dilecutkan bahwasanya produktif itu tidak harus melulu bekerja di ranah publik. Bahkan seorang ibu yang fokus di ranah domestik namun bisa memberikan banyak manfaat tidak hanya pada keluarganya, namun juga masyarakat di sekitarnya, bisa jadi lebih produktif.

Baca juga: Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Baik yang memilih fokus pada ranah domestik ataupun publik, setiap bunda harus menjadi sosok yang produktif. Hal itu karena produktivitas dapat menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat.

Menjadi Bunda Produktif dan Memahami Hakikat Rezeki

Kita seringkali menghubungkan produktivitas dengan aktivitas yang bisa menghasilkan uang atau gaji. Padahal Bunda Produktif tidak selalu dinilai dari uang, namun dari kemanfaatan yang dihasilkan. Menilik kembali,  ada orang yang bisa bergaji banyak, namun ternyata anak-anaknya tak terurus, ketemu keluarga hanya di ambang jam tidur. Namun ada ibu yang tidak memiliki pendapatan sendiri, namun ia selalu mendampingi anak-anaknya belajar, aktif dalam kegiatan sosial dan disukai oleh para tetangga karena keramahannya. Maka mana yang lebih produktif?

Bunda Produktif harus sesuai dengan value di Ibu Profesional yaitu “bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.” Bahkan meskipun ia beraktivitas pula di ranah publik, ia tetap memperhatikan semua kebutuhan anak dan keluarga. Kita harus mulai mengubah orientasi produktif kita bukan semata-mata untuk mencari gaji, namun menjadikan produktif sebagai bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusanNya. Tugas kita hanya berikhtiar dengan sungguh-sungguh, masalah hasil kita pasrahkan pada Allah Subhanahuwata’ala.

Kita juga perlu memahami bahwa hakikat antara rejeki dan gaji itu berbeda. Rezeki tidak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh dan membagi sekehendak-Nya. Antara bekerja dan rezeki, bukanlah dua hal yang selalu harus menjadi hukum sebab akibat, karena rezeki kadang perlu kita tafakuri. Rasulullah pernah bersabda bahwa “Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” 

Nasihat dari Imam Al Ghazali, “bisa jadi engkau tidak tau dimana rezekimu, namun rezekimu tau dimana engkau. Jika rezeki itu ada dilangit maka Allah akan turunkan, jika rezeki itu berada didalam bumi maka Allah akan perintahkan untuk muncul supaya berjumpa dengan kita.”

Maka tidaklah patut kita takut akan kekurangan rezeki, apalagi jika sampai menghambakan diri pada manusia lain. Rejeki itu pasti, maka tidaklah perlu kita mengejar  sesuatu yang sudah pasti, apalagi jika sampai mengorbankan amanahNya dan melupakan ketaatan padaNya hanya demi angka-angka yang ada di struk gaji.

Jika kita menggali lebih dalam bahwasanya rezeki itu tidak melulu soal uang, mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah, anak-anak yang sholih-sholihah, sehat jasmani-rohani, mempunyai ilmu yang bermanfaat dan dikelilingi sahabat-sahabat sejati juga merupakan rezeki yang luar biasa.

Banyak diantara kita yang merasa galau ketika dihadapkan pada pilihan; perlukah bekerja di ranah publik? Termasuk saya yang kadang masih gonjang-ganjing ingin kembali berkarir di luar rumah. Namun materi kali ini menguatkan pilihan saya. Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, kita bisa mengevaluasi dulu beberapa hal. Apa kita bekerja untuk membantu suami, apa kita bekerja untuk menyalurkan hobi, apa kita bekerja untuk mengisi waktu luang, saat kita bekerja di luar rumah adakah yang menjaga anak-anak kita, bagaimana efeknya untuk tumbuh kembang anak, bagaimana caranya menjaga kebersamaan keluarga, bagaimana caranya agar anak-anak tidak merasa kehilangan ibunya, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Jika menjadi produktif di luar rumah akan meningkatkan kemuliaan diri, anak-anak dan keluarga, maka lanjutkan. Jika tidak, maka kuatkan dulu pilar-pilar sebagai bunda sayang dan cekatan. Jika manfaat yang kita dapatkan jauh lebih banyak ketika kita berkarir di luar rumah, maka jangan ragu. Luruskanlah niat tersebut sebagai ibadah. Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rezeki keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Ibu yang bekerja di ranah publik, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, seringkali merasa galau, kasihan dan merasa bersalah ketika harus meninggalkan anak, entah itu untuk bekerja, belajar (mengikuti seminar atau workshop), atau melakukan me time. Termasuk saya pribad Padahal sesungguhnya kita tidak perlu merasakan itu semua. Jika kita meninggalkan anak-anak untuk hal yang positif, maka jangan ragu. Anak-anak tidak harus selalu bersama ibunya kok, mereka juga memiliki dunianya sendiri. 

Cara untuk mengurangi rasa galau, rasa bersalah dan kasihan saat harus meninggalkan anak; kita harus FOKUS.  Saat kita harus bekerja, fokuslah dengan pekerjaan kita. Saat kita harus bersama anak, fokuslah bersama anak. Tidak ada sambil-sambilan. Tidak ada yang namanya ‘aku sedang bersama anakku kok’, tapi di tangan kita lagi pegang handphone dan asyik menjelajahi sosial media. Itu namanya kita sedang berada di dekat anak, namun ruh kita tidak bersamanya. Begitu juga saat kerja, fokuslah dengan apa yang harus kita kerjakan, sehingga pekerjaan kita cepat selesai dengan hasil yang maksimal. Jangan malah kepikiran anak yang di rumah, anak-anak rewel nggak ya… nangis nggak ya… mau makan nggak ya… Yang ada sudah nggak bisa membersamai anak, pekerjaan pun terbengkalai.

Mengenal Kekuatan Diri sebagai Langkah Awal Memulai Menjadi Bunda Produktif

Selain harus memahami hakikat rezeki dan fokus pada aktivitas yang kita kerjakan, kita juga perlu tahu bahwasanya Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Kira-kira, selama ini aktivitas yang kita kerjakan sudahkah membuat kita merasa senang menjalaninya atau terpaksa karena keadaan?

Kalau sampai saat ini kita masih kebingungan dengan aktivitas apa yang bisa membuat mata kita berbinar-binar, mungkin kita belum benar-benar memahami kelebihan dan kelemahan diri kita. Nah, NHW #7 kali ini kami diminta untuk lebih mengenal potensi diri (strength typology).

Masuk ke web www.temubakat.com, lalu isi form yang ada; nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Lalu kerjakan test tersebut hingga selesai dan mendapat hasilnya. Kita juga bisa download versi PDF nya. Setelah itu amati hasil tersebut dan konfirmasi ulang dengan apa yang kita rasakan selama ini. Sudah sesuaikah dengan apa yang kita jalani? Atau malah kita menemukan potensi yang baru dan belum pernah kita sadari selama ini?

Sebelum mengerjakan NHW #7 ini, sebenarnya saya sudah pernah mengerjakan tes di web ini. Namun, saya kurang fokus ketika mengerjakannya sehingga saya merasa ada beberapa hasil yang kurang sesuai dengan diri ini. Buat yang pernah mendengar Talent Mapping yang diperkenalkan Abah Rama, web ini merupakan bagian dari Talent Mapping tersebut. Memang sih lebih afdolnya ikut assesment-nya biar lebih lengkap ‘menguliti’ diri kita. Sayangnya hingga hari ini saya elum berkesempatan untuk ikut assesment-nya.

Semoga next time bisa ikut assesment test Talent Mapping aah, biar lebih paham sama diri sendiri. Karena ternyata memahami potensi kekuatan dan kelemahan diri juga berpengaruh dalam proses pengasuhan anak lo.

Oke, back to hasil ST30 (Strenght Typology) yang saya dapat setelah mengerjakan tes di web Temu Bakat.Ternyata hasilnya seperti ini;

Untuk meyakinkan diri bahwasanya memang seperti itulah potensi saya atau setidaknya yang mendekati, maka bahkan saya melakukan tes hingga empat kali. Setelah melihat hasil tesnya memiliki jawaban yang hampir sama antara satu tes dengan tes lainnya, maka saya baru bisa percaya kalau seperti inilah saya;

Monique anda adalah orang yang suka sekali mengatur penempatan atau penugasan orang , banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya , selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang , senang mengkomunikasi ideanya , suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur , senang menggabung-gabung kan beberapa teori atau temuan menjadi suatu temuan baru. (source; www.temubakat.com)

Dan meski belum dijelaskan secara lengkap, tapi saya merasa deskripsi yang diberikan web tersebut cukup menggambarkan diri saya. Berikut ini adalah keterangan dari potensi kekuatan yang saya miliki;

Akhirnya setelah mengenal kekuatan dan kelemahan diri saya, kini saatnya untuk membuat kuadran aktivitas, yang terdiri dari; kuadran 1 (aktivitas yang saya SUKA dan saya BISA), kuadran 2 (aktivitas yang saya SUKA tetapi saya TIDAK BISA), kuadran 3 (aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA), dan Kuadran 4 (aktivitas yang aku TIDAK SUKA dan aku TIDAK BISA). Inilah kuadran aktivitas versi saya.

Alhamdulillah, selesai sudah memahami materi tentang bunda produktif dan mengerjakan NHW #7. Semoga proses mengenali kekuatan dan kelemahan diri ini, bisa membuat saya menjadi seorang ibu yang tidak sekedar sukses, namun lebih dari itu; ibu yang BAHAGIA. Yaitu ibu yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai. yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai.

Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Study Better With Mind Mapping

Alhamdulillah sudah sampai di minggu kelima, ah tidak terasa sudah di tengah perjalanan matrikulasi batch #5. Sepertinya tim IIP benar-benar menyusun materinya secara bertahap dari materi dasar hingga membuat kepala pusing tujuh keliling *elap keringat.

Sebenarnya yang diminta NHW #5 cukup sederhana; membuat desain pembelajaran. Bukan hal yang baru juga untuk saya, tapi kok ketika diterapkan ke diri sendiri agak puyeng juga. Mudah-mudahan dengan mengerjakan tugas ini semakin tercerahkan.

Emang ngapain sih kudu bikin begituan segala?tanya suami. Nggak wajib juga sih, tapi dalam rangka meluruskan niat, mencapai tujuan dan belajar mengatur diri sendiri, saya merasa perlu melakukan ini. Bagaimana saya akan mendesain pembelajaran untuk anak-anak kalau mendesain pembelajaran untuk diri sendiri saja masih di awang-awang? Saya juga percaya bahwasanya mendidik anak-anak sejatinya mendidik diri sendiri. Jadi teringat kutipan dari bu Septi Peni Wulandari, “selesaikan dulu urusan diri sendiri, selanjutnya pandu anak-anak kita. Ingin anak mandiri, maka selesaikan dahulu perihal kemandirian diri kita. Ingin anak suka membaca, maka sukalah membaca terlebih dahulu. Ingin anak bertemu peran spesifik hidupnya, maka temukan dahulu peran hidup diri.” Nah, sebelum mempraktekkan desain pembelajaran saat membersamai anak-anak, saya harus memulainya dari diri saya sendiri dong.

Baiklah, sebelum saya mengerjakan bingkisan cantik minggu kelima saya mau menyimpan hasil belajar di minggu kelima ini disini 😊

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Pada dasarnya sebelum kita memulai belajar, kita harus sudah paham terlebih dahulu apa yang ingin kita pelajari. Sama halnya ketika kita membersamai anak, kita harus paham benar apa yang dibutuhkan anak, tujuan apa yang ingin dicapai. Jika si anak sudah mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih dan siap belajar, maka saatnya kita belajar bagaimana caranya belajar.

Apaan coba? Belajar ya tinggal belajar aja to, kok harus cari tahu dulu bagaimana caranya belajar. Yup, karena dengan mengetahui bagaimana cara belajar yang tepat, kita bisa membuat cuztomized curriculum untuk anak-anak. Tiap anak unik, kan? Gaya belajarnya berbeda, karakternya pun juga. Jadi setiap anak bisa memiliki kurikulum yang berbeda.

Di pelajaran minggu keempat, kita telah belajar tentang fitrah. Seperti yang kita tahu setiap manusia punya fitrah belajar, tapi kenapa selalu saja ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak. Apalagi kalau pelajarannya sudah bikin malas, misal matematika, fisika… rata-rata pasti mengeluh dan elap keringat. 

Nah, dari quote tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kita suka atau tidak pada suatu pelajaran bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Namun lebih kepada rasa. Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan.

Menjadi Berbeda

Dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, anak-anak kita pun ikut berubah. Jangan samakan anak-anak kita dengan anak-anak di jaman kita, maka sudah sepantasnya kita – para orangtuanya yang perlu mengupdate diri dalam membersamai mereka. Jadi untuk itu kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal berikut ini;

1. Belajar Hal Berbeda

Untuk menyeimbangi kemajuan jaman yang sangat pesat, maka penting bagi kita belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman; ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya.

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

2. Cara belajar yang berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dari guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik, yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

3. Semangat Belajar yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami, menuntut ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita. Sekolah adalah salah satu cara menuntut ilmu, namun kita bisa menuntut ilmu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

4.Strategi Belajar yang Tepat

Gunakanlah strategi meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal  yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya memberikan dukungan semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka dukunglah kesukaannya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Sebaliknya jangan meratakan lembah, yaitu dengan menutupi kekurangannya. Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika, kita tidak perlu berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Justru hal ini akan menjadikan anak semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Membuat Anak Suka Belajar

Orang tua mana sih yang tidak ingin melihat anak-anaknya suka belajar? Tapi sekarang ini justru banyak orang tua yang mengeluh betapa susahnya menyuruh anak-anak belajar. So, untuk membuat anak-anak suka belajar, lakukan tiga hal berikut ini;

1.Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati.

2.Mengetahui tujuannya, cita-citanya.

3.Mengetahui passionnya.

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati. Baik saja itu tidak cukup, tetapi kita juga harus punya nilai lebih yang membedakan kita dengan orang lain.

Orang Tua, Saatnya Kita Mengambil Peran!

Masih banyak saya temui orang tua-orang tua yang menganggap kewajibannya terhadap anak sudah selesai ketika telah memilihkan sekolah yang bagus.

Kalau cuma sampai situ saja kewajiban orang tua terhadap anak, enak banget ya jadi orang tua. Masa cuma ongkang-ongkang kaki, kasih ke sekolah, terus nuntut anak jadi baik? Ironinya, kalau anaknya berkelakuan tidak sesuai dengan harapannya, sekolah yang ditegur dan dikomplain? Atau malah menyalahkan teman-teman anaknya, menyalahkan lingkungannya. Big NO! Sekolah itu cuma partner kita, bukan jadi tempat yang kita mintai tanggung jawab total tentang segala hal yang terjadi pada anak kita.

Sebelum menuding orang lain, mari tunjuk diri sendiri dulu. Selama ini sudah memberikan bekal apa saja ke anak-anak? Kalau memang ternyata belum memberikan bekal yang kuat, jangan salahkan sekolah, jangan salahkan teman-teman anak, jangan salahkan tetangga, jangan salahkan lingkungan, salahkan diri kita sendiri yang belum membersamai anak secara maksimal. Setelah menyadari betapa kita belum banyak berperan, maka saatnya kita mengambil peranan.

Peran kita sebagai orang tua :

📎Sebagai pemandu untuk anak-anak usia 0-7 tahun.

📎Sebagai teman bermain anak-anak kita pada usia 7-10 tahun, kalau kita tidak bisa menjadi teman yang asyik untuk mereka, maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/ percaya dengan temannya

📎Sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita pada usia 14-17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak:

1.Observation (pengamatan);

2.Engage (terlibat);

3.Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak).

Untuk bisa menemukan bakat dan minat anak, ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas dan pertemukan anak dengan berbagai komunitas. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Ajaklah anak-anak berdiskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:

1. Melatih anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.

3.Melakukan presentasi yaitu mengungkapkan apa yang telah didapatkan/dipelajari.

4.Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Menantang kan ya jadi orang tua jaman now? Iya dong. Materi belajar dari kelas matrikulasi minggu kelima ini saya simpan di sini selain agar bisa saya baca kembali, juga sebagai pengingat diri ini ketika semangat mulai menurun. So, ayooo semangaaat jadi orang tua yang selalu membersamai anak-anaknya.

Membuat Desain Pembelajaran

Setelah tuntas belajar mengenai belajar bagaimana caranya belajar, kini saatnya mengerjakan PR yang bikin elap keringat dan merenung berkali-kali. 

Sebelum memulai membuat desain pembelajaran, kita harus mengetahui dulu apa itu makna desain pembelajaran. Baiklah saya meluncur ke website KBBI, dari sana saya jadi lebih paham apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran.

DESAIN
Desain/de·sain/ /désain/ n 1 kerangka bentuk; rancangan: — mesin pertanian itu dibuat oleh mahasiswa fakultas teknik; 2 motif; pola; corak: — batik Indonesia banyak ditiru di luar negeri;

AJAR
Ajar n petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut);berguru kepalang — , bagai bunga kembang tak jadi, pb ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah;

Pembelajaran/pem·bel·a·jar·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

📎Jadi kesimpulannya desain pembelajaran adalah kerangka atau rancangan dari proses atau cara belajar. 

Awalnya saya dilanda kebingungan kemana arah design pembelajaran ala saya. Alhamdulillah, di saat itu pula Mbak Erli – fasilitator kelas membawakan ‘cemilan’ yang menyehatkan tentang Piramida Belajar ala William Glasser.

Dari piramida tersebut kita bisa simpulkan jika;

10% pemahaman berasal dari yang kita BACA

20% pemahaman berasal dari yang kita DENGAR

30% pemahaman berasal dari yang kita LIHAT

50% pemahaman dari yang kita LIHAT DAN DENGAR

70% pemahaman dari yang kita DISKUSIKAN

80% dari PENGALAMAN yang dijalani

95% dari kita belajar untuk MENGAJAR/ BERBAGI

Setelah memahami maksud dari piramida tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam membentuk desain pembelajaran tidak harus berisi teori-teori saja, namun justru harus kita imbangi dengan praktek dalam keseharian. Setelah membaca sebuah buku dan kita mendapatkan inspirasi, ikat ilmunya dulu baru kemudian amalkan ilmu tersebut. Pun juga setelah kita melihat atau mendengar kajian dan menjadi tahu sesuatu syariat yang sebelumnya belum kita ketahui, ikat ilmunya dan segera amalkan dalam keseharian. Semakin banyak kita mengalami dan melakukan apa yang kita baca, lihat, dengar dan diskusikan, akan semakin banyak ilmu yang terikat di dalam diri. Tak lupa berbagi ilmu yang telah kita lakukan, baik lewat tulisan atau lewat diskusi dengan orang lain.

Nah, akhirnya setelah merenung dan menggali kembali apa tujuan belajar saya, saya mencoba membuat desain pembelajaran untuk diri sendiri. Mau tahu?

1. MANAJEMEN DIRI

2. MANAJEMEN PASANGAN

3. BUNDA SAYANG

4. BUNDA CEKATAN

5. BUNDA PRODUKTIF

Selain menyiapkan desain pembelajaran untuk diri sendiri, saya juga mulai menyiapkan desain pembelajaran untuk anak-anak, meskipun masih secara global dan belum detail. Insya Allah dari yang global ini akan membantu lebih dalam menyiapkan ruang belajar untuk mereka.

1.HOMEEDUCATION

2. PARENTING

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga bingkisan cantik di NHW #5. Semoga bermanfaat ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

NHW #4 : Tetapkan Milestone Meraih Mimpi

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kali ini saya kembali dengan bingkisan cantik Nice Homework dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, sudah masuk ke minggu keempat dengan tugas yang semakin menantang hati, jiwa, raga dan pikiran, hehe.

Setelah minggu lalu murid-murid kelas matrikulasi diajak berpikir tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah”, minggu ini kami ‘ditodong’ melalui materi tentang mendidik dengan kekuatan fitrah. Satu persatu mulai jelas benang merah antara bagaimana membangun peradaban dengan mendidik berdasarkan fitrah. Bisa dipastikan tidak akan terbangun sebuah peradaban jika orang tua tidak mampu menemukan, menjaga dan menumbuh kembangkan fitrah anak-anaknya.

Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan fitrah sebagai modal utama untuk menjadi khalifah, termasuk anak-anak kita. Biasanya orang tua, khususnya orang tua-orang tua baru seperti saya yang suka latah. Alih-alih ingin bisa mendidik anak dengan baik, jadilah ikut seminar sana-sini, semua buku dilahap, artikel parenting di semua media diambil, akhirnya jadi makin bingung harus mulai darimana dan mengikuti yang mana. Padahal kalau kita mau menggali lebih dalam, sesungguhnya Allah sudah menyiapkan anak-anak sepaket dengan kemampuan orang tuanya dalam mendidik secara syari’ , kita tinggal menemukan dan mengarahkan sesuai kehendakNya.

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Alhamdulillah, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional saya kembali diingatkan mengenai mendidik dengan kekuatan fitrah. Saya ingin berbagi beberapa materi terkait fitrah based education yang pernah saya dapat di sini.

Selama ini kebanyakan dari kita heboh pada “apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak diantara kita yang bingung memberikan materi pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Sesungguhnya ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH.

Meski terlihat sederhana, namun untuk bisa menjalani proses tersebut ada beberapa tahapan yang harus kita jalankan;

❗Bersihkan hati nurani kita, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan.

❗Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak akan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

❗Sebaiknya orang tua memahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah Perkembangan, fitrah Seksualitas dll.

❗Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia.

Analogikan diri kita dengan seorang petani organik. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI,seperti petani menemani tanamannya atau sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

❗Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu artinya kita dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Sedangkan waktu dengan anak, kita dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Anaknya mainan sendiri, ibunya asyik blogging, #tampar diri sendiri.

❗Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena semua anak itu very limited special edition. Tidak ada anak yang diciptakan sama, semua anak itu unik, bahkan anak kembar sekalipun.

Point utamanya, mendidik itu bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, dan menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran? Lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca?

~disarikan dari materi Matrikulasi dan Buku FBE~

Memantapkan Hati Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

Sebelum mulai menggali lebih dalam tentang fitrah anak-anak kita, saya harus terlebih dahulu mengenali diri sendiri dengan cara menemukan misi hidup dan misi keluarga. Dua misi ini yang nantinya akan menuntun kita unuk bisa mendidik anak secara fitrah. Berikut ini adalah inti dari NHW #4 kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini.

Dibandingkan NHW-NHW sebelumnya, saya tidak akan menulis terlalu panjang. Karena murid-murid di kelas hanya diminta untuk melakukan review NHW #1, #2 dan #3. Namun pada prosesnya, NHW #4 ini membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaannya. Selain itu juga dibutuhkan momen pembersihan diri agar bisa menemukan kehendak Allah terhadap diri sehingga bisa merumuskan misi hidup dan misi keluarga.

Berikut ini poin-poin dalam NHW #4 :

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Di NHW #1 setelah memahami adab menuntut ilmu saya diminta untuk memilih jurusan ilmu di universitas kehidupan, dan saya memilih untuk mempelajari jurusan ilmu tentang menjadi seorang ibu profesional. Setelah saya baca kembali jurnal harian saya dan melakukan review selama beberapa hari, saya semakin yakin untuk memilih jurusan ini untuk saya pelajari.

Baca juga:Refleksi Diri 2018

Menjadi ibu memang alamiah dan natural, namun menjadi ibu profesional membutuhkan segudang wawasan dan bekal yang mumpuni demi membantu anak-anak menemukan fitrahnya dan membangun peradaban dari dalam rumah. Apalagi jaman yang akan dihadapi anak-anak nantinya adalah jaman yang sangat berbeda dengan yang saya alami sekarang.

Realitanya, saat ini dunia lebih maju secara teknologi, namun turun drastis secara adab. Dunia yang dipenuhi dengan gadget, sosial-sosial media, channel-channel televisi yang bisa menjadi musuh mematikan jika tidak diatur sebaik mungkin. Karena alasan itulah saya merasa wajib untuk belajar mengenai hal-hal apa saja yang harus dikuasai untuk menjadi ibu profesional.

Ibu yang tak sekedar menyandang gelar ibu karena telah mengandung dan melahirkan anak, namun sebenar-benarnya ibu yang menjadi guru pertama dan utama anak-anak yang saya lahirkan. Juga sebagai seorang ibu – pendamping ayah – yang akan menjadi teman dan teman paling nyaman untuknya pulang. Serta seorang ibu yang bisa merangkul lingkungan sekitarnya dan menebarkan manfaat

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Sebenarnya checklist yang saya susun untuk NHW #2 bukanlah checklist pertama yang saya buat, namun checklist yang saya buat kebanyakan menguap tanpa hasil. Saya selalu punya masalah dengan rutinitas, karena terkadang saya lebih mengikuti mood. Tersadarlah sekarang kenapa saya semakin hari semakin tidak produktif.

Sebuah kebiasaan buruk yang harus segera saya tinggalkan. Jujur checklist yang saya buat untuk NHW #2 pun belum rutin saya isi. Namun menyadari bahwasanya hal ini adalah sarana untuk memantaskan diri untuk menuju jurusan yang pilih, mau tidak mau, saya harus mau untuk merubah diri agar lebih teratur dan disiplin.
Semoga checklist yang telah saya buat bisa membantu saya untuk terus lebih baik dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup. Doakan saya ya agar bisa lulus mencapai goal dari checklist ini, sehingga bisa semakin produktif, baik sebagai ibu dari anak-anak, sebagai istri dan sebagai seorang blogger.

Baca juga: Langkah Awal Menuju Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

c. Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

NHW #3 sejauh ini merupakan Nice Homework terberat untuk saya, karena melalui tugas itu saya diminta untuk memaafkan diri sendiri, memaafkan orang tua, memaafkan suami dan menemukan alasan kenapa saya harus jatuh cinta kembali padanya, mengenali dan menemukan potensi anak-anak, mengenali dan menemukan potensi diri saya sendiri, serta menemukan alasan mengapa Allah mengirimkan saya berada di lingkungan yang kini saya tinggali serta apa manfaat dari komunitas-komunitas yang saya ikuti.

Baca Juga: Mengenal Potensi :Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saya termasuk orang yang masih mempertanyakan apa maksud Allah mengirimkan saya ke dunia ini. Mengapa Allah menakdirkan saya menjalani fase-fase dalam episode kehidupan ini, apa yang Allah inginkan terus saya pelajari, hikmah apa yang Allah ingin saya gali. Hal-hal seperti itulah yang sepanjang hidup terus saya pertanyakan. Jawabannya? Hingga detik ini saya belum benar-benar yakin seratus persen tentang hal itu. Namun melihat beberapa fase yang terus saja mempertemukan saya dengan dunia anak-anak dan literasi, saya mulai menangkap maksud Allah.

Dilahirkan dari keluarga besar yang berlatar belakang pendidikan hukum membuat saya sudah sangat akrab dengan rutinitas harian seorang pelayan jasa.

Dulu sekali saya merasa bekerja di bidang hukum itu bukan passion saya. Saya merasa passion saya di bidang literasi, berbekal pengalaman bekerja sebagai jurnalis dan giat dalam beberapa tim penulisan peraturan daerah saya semakin mantap ingin terus belajar menulis. Sempat vakum dari rutinitas menulis dan beberapa kalipun saya menghindari bidang tersebut, namun berkali-kali pula Allah beri kesempatan untuk kembali terjun ke bidang tersebut. Bahkan tidak sedikit yang bilang saya berbakat di bidang tersebut. Dan saat ini saya mulai bisa membaca potongan-potongan puzzle dari Allah, rupanya Allah memberikan bakat menulis kepada saya ada relevansinya juga dengan profesi Notaris yang menjadi cita-cita awal saya dulu.

Namun, lagi-lagi saya belum rela berbagi waktu bersama anak-anak dengan waktu untuk berpraktek kembali. Banyak sekali yang menjadi pertimbangan saya untuk tetap stay di rumah mendampingi anak-anak. Hingga sebuah titik menyadarkan saya bahwa mendidik anak adalah pengalaman yang jauh lebih menantang. Dunia pendidikan anak adalah ujung peradaban. Ketika bidang ini diabaikan, maka hancurlah peradaban. Naudzubillah min dzalik.

Saya mulai menikmati bidang pendidikan anak-anak. Belajar dari pengalaman hidup kala masih remaja saya yang amat terpuruk justru menjadi titik balik saya untuk berhijrah. Kehidupan saya kala itu yang dekat dengan BLAST (boring, lonely, angry, stress, tired) membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk fokus membersamai anak-anak dan keluarga terlebih dahulu.

Kebanyakan remaja jaman sekarang lebih dekat dengan teman-temannya daripada ayah ibunya. Mereka kehilangan hubungan emosional dengan para orang tuanya. Remaja yang bertemu fisik dengan orang tuanya hanya saat di malam hari, menyapa seperlunya, bahkan ada yang tak pernah ketemu sama sekali. Remaja yang seringkali menyumpahi para gurunya karena nggak asyik menyampaikan materi dan berkesan diktator di dalam kelas. Ini membuat saya seperti melihat diri saya sendiri saat berusia sama dengan mereka. Remaja-remaja yang butuh sosok hangat untuk mencurahkan isi hati sekaligus motivator hidup serta teladan yang tepat. 

Keadaan yang paling bahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari adanya bahaya tersebut. Saya banyak bertemu dengan ibu-ibu yang merasa tidak butuh belajar parenting karena merasa anaknya baik-baik saja.

Apa iya kita harus menunggu anak bermasalah untuk mulai belajar? Padahal ketika anak sudah terlanjur bermasalah, effort untuk mengembalikan anak ke track semula akan jauh lebih besar.

Ternyata membersamai anak-anak untuk belajar di rumah itu mengasyikan. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan untuk berhome education saat ini.

I don’t really like kids, actually, kecuali anak-anak saya sendiri, hehe. Mama saya sendiri bahkan pernah berkata, “Halah, ngajar anak PAUD ki gampang, tinggal diajak nyanyi-nyanyi wis seneng.” Anehnya kalau Mama saya merasa gampang kenapa dulu Mama saya nggak ngajar anak-anaknya sendiri.

~For me, teaching toddler isn’t easy at all. Teaching toddler is about giving foundation for the next education, it’s not as easy as what they think of.~

Dari sanalah kemudian saya belajar tentang bagaimana meletakkan dasar di setiap materi yang saya berikan pada anak-anak penerus bangsa ini kelak.

Beruntung saat ini media belajar sangatlah banyak dan sumber ilmu pun mudah dijangkau. Saya banyak belajar tata laksana pendidikan anak usia dini melalui guru-guru PAUD yang hebat di WAG dan kelas online Yayasan Generasi Juara yang menaungi Homeschooling Muslim Nusantara. Saya percaya, ketika kita bisa memberikan pondasi yang kuat, maka insya Allah bangunan yang berdiri di atasnya akan mampu berdiri kokoh. 

Saya senang membagikan sedikit ilmu yang saya dapat dari hasil belajar di beberapa seminar yang saya ikuti, buku yang saya baca dan pengalaman yang pernah saya alami melalui tulisan.

Selain membuat digital portofolio anak, saya sangat menikmati kegiatan berbagi tentang dunia parenting terutama dengan teman-teman di Trenggalek yang masih awam dengan dunia ini. Bersama dengan seorang sahabat saya, kami mengelola Rumah Belajar Trenggalek dan rumah baca Taman Ilmu sebagai wadah untuk belajar dan berbagi banyak hal seputar parenting dan homeeducation.

Dunia tulis-menulis sendiri mulai menarik minat saya sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya paling suka kalau disuruh menulis surat kepada sahabat pena saya dan membuat karangan untuk dikirimkan ke berbagai majalah dan koran.

Begitu seterusnya hingga kemudian saya kuliah di bidang hukum. Saya berada dalam iklim yang menuntut untuk terus menulis, jadilah saya semakin menyukai dunia tulis menulis. Makin kesini rupanya saya makin senang menuliskan pengalaman dan kisah hidup yang semoga bisa memberikan manfaat, inspirasi dan semangat bagi orang lain. Saya sangat senang dan bersemangat jika banyak teman yang menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai anak-anaknya, mendengarkan curhatan para mama baru atau hanya sekedar cerita kegalauan ketika menanti jodoh.

Dari perjalanan hidup dan hal-hal yang menimbulkan semangat di dalam diri tersebut, saya mulai bisa menemukan misi hidup yang Allah maksudkan untuk saya.

🌈Misi Hidup:

Menjadi ibu yang profesional dan memberikan manfaat tidak hanya kepada keluarga inti, namun juga kepada orang lain. 

🌈Bidang: Pendidikan Ibu dan Anak

🌈Peran: Fasilitator dan Motivator

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

Untuk bisa menjadi ahli sebagai seorang ibu profesional, khususnya di bidang Pendidikan Ibu dan Anak, maka saya menetapkan tahapan ilmu yang harus aku kuasai sebagai berikut:

1.Bunda Sayang :

Sebagai dasar atas rangkaian tahapan sebagai ibu profesional, saya merasa sangat penting untuk terus menambah ilmu seputar pengasuhan anak (parenting), mengkaji ilmu agama lebih dalam agar saya bisa memberikan bekal dan pondasi yang kuat untuk anak-anak dan belajar untuk menjadi teman bermain yang mengasyikkan serta memfasilitasi anak-anak dengan alat-alat bermain yang mereka butuhkan sesuai tahapan usia. Saya juga tertarik sekali untuk belajar mengenai ilmu psikologi dan komunikasi agar lebih paham tentang memahami dan merespon perilaku anak, suami dan orang-orang di sekitar.

2. Bunda Cekatan 

Selain memantaskan diri dengan belajar ilmu-ilmu di tahapan bunda sayang, saya juga membutuhkan ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga, antara lain belajar membuat menu keluarga agar lebih variatif, belajar memasak sehat, belajar keuangan agar bisa mengatur cash flow keluarga dengan lebih baik, juga belajar beberapa life skill seperti menanam sayur, membuat sabun homemade atau mengatur lemari pakaian. Life skill ini selain berguna untuk kehidupan di masa kini, juga sangat bermanfaat jika bisa diwariskan kepada anak-anak.

3. Bunda Produktif

Berkaitan dengan minat dan bakat yang saya tekuni yaitu dunia tulis menulis, saya ingin belajar banyak tentang blogging dan content writing lebih profesional, serta belajar menulis parenting stories dan buku inspiratif pada ahlinya.

Saya juga ingin belajar public speaking agar lebih baik dalam menyampaikan apa-apa yang saya pikirkan secara langsung kepada khalayak sehingga maksud saya bisa ditangkap dengan baik. Selain itu saya juga merasa sangat penting untuk terus mengupdate informasi penting di bidang hukum agar meskipun belum berpraktek lagi saya tetap mengetahui update informasi terbaru.

4. Bunda Shaleha 

Saya ingin belajar lebih banyak untuk bisa berperan secara aktif dan positif pada setiap komunitas yang saya ikuti. Saya juga ingin belajar menjadi event organizer agar bisa kembali mengadakan acara-acara parenting yang berkualitas dengan tim yang telah sevisi-misi dengan saya.

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Meskipun saya telah menjalani peran sebagai seorang ibu selama tiga tahun lebih, dan menjadi istri telah berjalan selama enam tahun, serta telah menjadi anggota masyarakat selama dua puluh delapan tahun, namun saya merasa belum melakukan sesuatu yang berarti di dalam hidup ini. Terkadang menyesal, kenapa begitu terlambat saya memulai semua ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Maka saya menetapkan hari ini sebagai KM 0 – ku. Di usia dua puluh delapan tahun saya harus mampu berkomitmen untuk mencapai  10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang  di bidang yang telah saya tentukan, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. 

Sejak hari ini saya akan berusaha setiap harinya akan mendedikasikan 8 jam waktu yang saya punya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, dan menuliskannya bersama dengan anak-anak.  Semoga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, aku sudah bisa melihat hasil yang saya inginkan.

Berikut ini milestone yang saya tetapkan :

🌸KM 0 – KM 1  (tahun 1 – usia 28 hingga 29) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang – bisa menjadi ibu, istri dan sahabat yang baik untuk anak-anak dan suami.

🌸KM 1 – KM 2 (tahun 2 – usia 30 hingga 31) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan – bisa menjadi ibu yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.

🌸KM 2 – KM 3 (tahun 3 – usia 31 hingga 32) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif – bisa menuju kemandirian finansial melalui bakat dan minat saya; blogging, menulis buku dan kembali berpraktek membuka kantor sendiri.

🌸KM 3 – KM 4 (tahun 4 – usia 32 hingga 33) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha – bisa menyelenggarakan acara-acara seminar atau workshop parenting dengan biaya terjangkau/ tidak berbayar di daerah-daerah atau sekolah-sekolah yang belum tersentuh parenting.

Saya berharap sebelum usia 40, saya sudah bisa menjadi ibu yang bisa memahami dan mengarahkan fitrah anak-anaknya, sahabat yang baik untuk suami, mencapai posisi financial yang baik melalui minat dan bakat saya serta bisa bermanfaat bagi orang lain lewat tulisan, rumah baca dan beberapa kegiatan yang saya impikan.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Setelah kembali membaca checklist saya di NHW #2, sebenarnya saya sudah memasukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut, namun belum terlalu spesifik. Maka setelah checklist bulan ini selesai saya review, saya akan memasukkan kembali poin-poin tersebut secara lebih spesifik. 

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Apapun rencana, target dan checklist yang saya lakukan, tidaklah akan ada artinya ketika tiada konsistensi dalam menjalankannya. Maka selain menggantungkan mimpi, saya perlu meluruskan niat dan memetakan langkah demi bisa menjalankan misi hidup saya dan meraih cita-cita saya. Aamiin.

Inilah saatnya kita membuat sejarah kita sendiri. Ini ceritaku, mana ceritamu?

Sampai jumpa di postingan berikutnya. Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh