Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah, sekarang sudah masuk materi keenam yaitu tentang “Ibu Manajer Handal Keluarga.” Jika ditelisik kembali selama ini saya cenderung menjalani rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga yang ngalir aja. Tapi setelah mendapat materi keenam di kelas matrikulasi ini, saya mulai menanyakan kembali peranku, sudah seprofesional apakah aku mengatur keluarga. Sekedar menjadi karyawan rumah tangga atau sudah bisa mencapai level manager? 

Saya mau sedikit berbagi tentang materi keenam yang membuat saya berkali-kali bermuhasabah. Semoga bermanfaat ya😊

Semua Ibu adalah Ibu Bekerja

Selama ini kita sering mengkotak-kotakkan peran wanita ke dalam dua hal; ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga  mengacu untuk ibu yang bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu bekerja mengacu pada para ibu yang bekerja di ranah publik. Debat panjang mempertentangkan antara lebih baik mana antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja pun seakan-akan tak pernah habis. Padahal mau jadi ibu rumah tangga ataupun jadi ibu bekerja, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun yang kita pilih, entah itu memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik ataupun publik, cuma ada satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.

Maksudnya selesai? Tentu saja kita harus bisa merasakan segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi yang memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Begitu pula dengan ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik. 

Untuk mencari tahu apakah kita sudah selesai atau belum dengan manajemen rumah tangga kita, kita perlu jujur pada diri sendiri. Selama ini apa motivasi kita bekerja?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, hanya untuk menggugurkan kewajiban? 

🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain? 

🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah? 

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. 

🍀Kalau kita masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan. 

🍀Kalau kita bekerja didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.

🍀Kalau kita bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi kita akan sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

So, buibu sekalian sudah sampai di titik mana dalam bekerja entah itu di ranah domestik ataupun publik? Kalau saya, untuk urusan blogging dan tulis menulis, saya sudah mencapai “PANGGILAN HATI”. Meski masih sering tidak konsisten, tapi untuk urusan ini saya sudah sangat menikmati. Tapi ketika bicara ranah domestik alias pekerjaan rumah tangga, jujur aku masih sering di level “ASAL KERJA.” Masih sering memasak, membersihkan rumah ya sekedarnya untuk menuntaskan kewajiban, bukan untuk dinikmati. Alhamdulillah ketika sampai pada materi keenam kelas matrikulasi ini saya kembali diingatkan untuk MENIKMATI semua peran diri ini, tidak hanya di urusan tulis menulis, namun juga sebagai seorang ibu dan istri.

Be A Family Manager

Ngobrolin soal menikmati peran, peran seorang ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, dan bukan sekedar karyawan rumah tangga. Memang apa bedanya? Beda dong. Kalau kita lihat di kantor-kantor, apa kerjaannya karyawan dan apa kerjaannya manager? Udah jelas beda kan?

Manager itu lebih ke mengatur dan mengorganisasi pekerjaan agar lebih rapi, lebih cepat selesai dengan hasil yang lebih maksimal. Manager pastinya tidak selalu turun tangan, namun bisa mendelegasikan tugas ke karyawannya. Sedangkan karyawan jelas tugasnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan manager. Intinya manager itu giving command, sedangkan karyawan doing the command..

Biar peran kita sebagai manajer keluarga lebih maksimal, sudah saatnya kita bersikap dan berpikir selayaknya seorang manager. Caranya?

🍀Hargai diri kita sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manager keluarga. Ya! meski mungkin pekerjaan kita di rumah hanya nyapu, ngepel, masak dan momong anak, ternyata memperhatikan penampilan itu perlu loh. Bahkan perbedaan pakaian bisa meningkatkan produktivitas dan menambah percaya diri. Tetapi kita tetap harus memilih busana sesuai dengan kegiatan yang mau kita lakukan, masa mau ngepel pakai blazer? Ya, nggak gitu juga kali. Kalaupun memang daster adalah pilihan pakaian yang paling nyaman, pilih daster yang eye catching, yang warnanya masih segar dan nggak kusam, apalagi bolong-bolong. #SelfPlak.
Dan meskipun di rumah, sapukan bedak dan sedikit lipstick biar segar (lipstik mana lipstik? nasib nggak punya lipstik), suami dan anak juga pasti lebih senang lihatnya.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik dan PATUHI rencana tersebut.

🍀Buatlah skala prioritas. Ini penting banget ya. Dalam sehari pasti ada aja yang harus dikerjakan, tapi kita wajib bikin skala prioritas biar kita bisa mengatur mana yang lebih penting untuk dikerjakan lebih dulu. Dengan skala prioritas ini, kita bisa jauh lebih teratur dan nggak grambyang habis ini mau apa, terus ngapain lagi dan seterusnya.

🍀Bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya. Ya, istiqomah memang rajanya tantangan. Saya pernah membaca di sebuah artikel parenting, kalau mau membiasakan diri dengan sesuatu yang baru, lakukan hal itu setidaknya selama 40 hari berturut-turut agar menjadi kebiasaan permanen. 

Menaklukan Challenge

Pastinya sebagai seorang ibu, mau itu yang bekerja di rumah maupun di tempat kerja /organisasi, kita akan selalu dihadapkan pada satu tantangan ke tantangan lainnya. Maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan, yaitu;

a. PUT FIRST THINGS FIRST 

Letakkan sesuatu yang utama dan terpenting menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. Jadi, buatlah perencanaan sesuai skala prioritas kita hari ini. Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur gadget sebagai organizer dan reminder kegiatan kita sehari-hari. Gadgetnya udah smart kan? Jadi usernya pun harus bisa memakai dengan smart 🙂

b. ONE BITE AT A TIME  

Maksudnya lakukan pekerjaan setahap demi setahap, lakukan sekarang tanpa nanti dan pantang menunda, apalagi menumpuk pekerjaan. 

Nah ini, terkadang saya masih suka menunda pekerjaan. Misalnya, mau nulis, scrolling sosmed dulu, eh ujung-ujungnya nggak jadi nulis malah bacain status orang melulu. Mau bersih-bersih rumah mumpung Irbadh tidur, buka gadget manjat WaG nggak terasa anak udah bangun dan rumah masih kaya kapal pecah. Hmmm…. Jewer kuping sendiri.

c. DELEGATING 

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. 

Perlu kita ingat bahwa kita adalah manager, tentu saja bukan lantas menyerahkan begitu saja tugas kita ke orang lain, tapi kita harus buat panduannya, kita latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi, begitu seterusnya 

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu,  usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir, karena ibu adalah guru utama dan pertama anak-anaknya. Kalau saya sih sejauh ini tidak sekedar mendelegasikan untuk urusan pendidikan anak-anak, namun lebih ke memilih mencari partner yang sesuai dengan visi misi keluarga.

Kembangkan Peranmu!

Gara-gara materi “Ibu Manajer Handal Keluarga”, saya mulai mempertanyakan sudah sampai tingkatan yang mana profesionalisme saya sebagai seorang ibu. Saya menikah sudah enam tahun, itu artinya sudah melewati 10.000 jam terbang. Seharusnya saya sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan, tapi kok ya masih begini-begini saja? Ya, mau nggak mau saya harus jujur, karena selama ini saya masih SEKEDAR MENJADI IBU. Adakah yang mengalami hal sama seperti saya, Mak?

Buat yang berpengalaman sama dengan saya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan nih ketika ingin meningkatkan kualitas diri agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. 

 Maka kita perlu  meningkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “manajer keuangan keluarga.”

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Namun masih sekedar menggugurkan kewajiban saja bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak, yang akhirnya membuat kita jenuh di dapur. 

Maka kita perlu cari ilmu tentang manajer gizi keluarga agar terjadi perubahan peran. 

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol dengan sesama ibu-ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. 

Sudah saatnya mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran diri kita menjadi “manajer pendidikan anak”. Anak-anakpun bisa semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal. 

🍀Evaluasi diri kita lalu temukan peran apalagi yang kita inginkan. Terus tingkatkan kemampuan diri dan jangan stuck di satu titik.  

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun. Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun kita sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

A Step to Be A Professional Family Manager

Dengan berupaya menjadi seorang manajer keluarga yang handal bisa mempermudah kita untuk menemukan peran hidup kita dan semoga semakin mempermudah kita mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Sayangnya ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Maka, ikutilah tahapan-tahapan berikut ini biar kita bisa meraih tujuan menjadi manajer keluarga yang handal dan tidak terjebak dalam rutinitas yang tidak berkembang;

A. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!

Ketika diminta untuk menulis 3 aktivitas yang paling penting, saya mulai bingung,, karena bagi saya semuanya nampak penting 😬 Jadi, saya mulai mengurai satu persatu aktivitas yang menurutku penting dan tidak penting berdasarkan waktu yang saya punya.

3 AKTIVITAS PALING PENTING

Setelah melakukan observasi terhadap perjalanan hidup selama ini, maka tiga aktivitas yang saya anggap paling penting yaitu;

1⃣Beribadah 
Ini adalah aktivitas yang paling penting karena memang tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepadanya sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Adz Dzariyat: 56; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  Beribadah sebenarnya tidak hanya menyangkut sholat, puasa, zakat, haji, kegiatan-kegiatan sehari-hari kita pun bisa bernilai ibadah jika kita niatkan lillahita’ala. Maka sebenarnya beribadah bisa dilakukan setiap saat, tidak terbatas waktu.

2⃣Mengurus Keluarga (anak dan suami) 
Sebagai seorang ibu, tentu saja prioritas utama setelah menyelesaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah anak dan suami. Menurut saya, yang termasuk dalam hal ini, meliputi menyediakan makanan sehat, menyiapkan pakaian yang layak, rumah yang nyaman dan teman ngobrol/ bermain yang asyik.

3⃣Mengurus Pekerjaan (blogging dan content writer) 
Meski bukan kebutuhan pokok, namun saya merasa membutuhkan pekerjaan ini sebagai aktualisasi diri dan meningkatkan peran di ranah publik. Berkecimpung di dunia tulis menulis juga menjadi me time yang asyik dan memberikan keseimbangan jiwa untuk saya.

Selain mengobservasi tiga aktivitas terpenting, saya juga menemukan tiga aktivitas yang paling tidak penting, sebagai berikut;

3 AKTIVITAS PALING TIDAK PENTING

1⃣Pay Attention to Social Media too Much

Dengan alasan membunuh kebosanan terkadang saya scrolling FB dan instagram, namun seringkali akhirnya saya tidak bisa mengerem diri dan malah membuang banyak waktu untuk kepo status dan memberikan komen-komen yang tidak penting di jam-jam yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

2⃣ Chatting di WA Group untuk Hal-hal yang Tak Penting
Sebenarnya saat ini saya sudah sangat pilih-pilih group WA yang saya ikuti hanya yang membawa manfaat. Jika dirasa sebuah grup WA lebih banyak mudharatnya, saya akan minta ijin untuk keluar atau sekedar jadi silent reader. Namun kadang karena penasaran dengan isi chat yang terlihat seru, saya malah baca-baca dan keterusan ngobrol sampai membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

3⃣Setrika Baju Di Luar Jadwal yang Ditentukan
Well,menyetrika baju bagi saya tidak hanya sebagai hiburan, namun juga bisa menjadi me time. Mungkin terlihat aneh bagi orang lain? Tapi entah mengapa untuk pekerjaan satu ini saya masih bertahan untuk melakukan sendiri tanpa mendelegasikan kepada orang lain. Saya sebenarnya sudah memiliki jam-jam khusus untuk menyetrika, dan memiliki syarat-syarat yang harus diikuti agar bisa leluasa menggosok; kerjaan rumah beres, kerjaan menulis beres, dan anak-anak sudah tidur. Namun seringkali saya terkalahkan oleh kebiasaan menunda. Akhirnya malah menumpuk pekerjaan dan bisa membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya malah tersita untuk mengerjakan rapelan pekerjaan rumah tangga.

Setelah membandingkan dan mengevaluasi diri, maka jujur waktu saya selama ini masih fifty-fifty antara kegiatan paling penting dan tidak penting. Padahal kan seharusnya kegiatan yang paling penting harus memiliki porsi yang lebih besar. Getok kepala sendiri!

That’s why, untuk bisa menjadikan tiga aktivitas penting memiliki porsi yang lebih besar di dalam keseharian saya, maka saya harus bisa menjadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari, Dengan menjadikannya sebagai aktivitas dinamis, maka bisa memperbanyak jam terbang peran hidup diri saya. Saya harus rajin mengevaluasi NHW sebelumnya nih agar selaras mencapai tujuan.

B. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.

Misal kita sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00 – 06.00, maka patuhi waktu tersebut). Biar hari itu nggak berantakan dan bisa settle pada tempatnya, maka jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Karenanya saya menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, tanpa art maka saya harus semakin pintar mengatur waktu agar semua yang ingin aku kerjakan hari itu bisa terlaksana sesuai rencana.

Dari hasil observasi dan evaluasi diri, saya menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk melakukan pekerjaan rumah tangga adalah sebelum subuh tiba. Saat itu anak-anak belum bangun sehingga saya bisa fokus menyelesaikan pekerjaan di dapur. Kalaupun Irbadh sudah bangun, masih ada papanya yang bisa menemani dia bermain.

Sudah terbukti ketika saya belum menyelesaikan pekerjaan rumah tangga setelah Irbadh bangun dan Papanya berangkat kerja, saya akan sangat kesulitan mengerjakannya karena Irbadh yang sekarang sudah delapanbelas bulan sedang memasuki sensitive-periods dan membutuhkan perhatian lebih. Jam tidur Irbadh pun semakin berkurang.

That’s why saya memutuskan jam 05. 00- 06.00 sebagai jam memasak dan bersih-bersih rumah. Jadwal ini harus saya patuhi jika tidak mau hectic di siang hari. Jadi kalaupun Irbadh tidur dan bisa ditinggal beraktivitas lain, saya bisa fokus membersamai Faris berkegiatan yang tidak bisa dilakukan ketika adiknya bangun. Intinya jika saya komit dengan schedule, saya bisa lebih santai dan nggak kemrungsung, sehingga tidak mudah marah ke anak-anak saat mereka melakukan hal yang bikin sensi gegara pekerjaan rumahku belum kelar.

C. Setelah tahap di atas selesai kita tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah dikerjakan. 

Berikut ini jadwal harian yang saya buat agar lebih teratur dan profesional sebagai seorang ibu.

Catatan :

Warna kuning untuk prioritas pertama: mengasuh anak, warna biru untuk sholat, dan warna ungu untuk mengelola order.

Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian B, saya sudah menentukan fixed schedule  dari jam 05.00 – 07.00, di luar jam itu (jam 07.00 – 18.00) adalah jadwal dinamis. Selain fokus pada anak-anak, pada jam 7 pagi hingga jam 18.00 malam saya gunakan untuk memperbanyak jam terbang alias meningkatkan peran diri. Jam 18 malam hingga 21.00 malam saatnya menjalankan Program 1821 bareng anak dan suami. Lalu setelah jam 9 malam, saat anak sudah tidur, saya biasanya melakukan pekerjaan rumah yang belum selesai atau tertunda, misalnya cuci piring, menyetrika pakaian atau menyiapkan yang akan dimasak esok hari.

Jadwal yang saya buat ini, akan saya amati selama satu minggu pertama, jika tidak terlaksana dengan baik, maka akan segera direvisi. Namun jika bisa saya patuhi, saya berupaya untuk menjalankannya hingga tiga bulan ke depan agar menjadi kebiasaan baru untuk hidup yang lebih efektif dan profesional.

Jujur saya tidak ingin menjadi wonder woman atau super woman yang bisa menjalankan semuanya dalam satu waktu. Saya hanya wanita biasa yang juga punya capek, butuh pijat dan kesempatan untuk aktualisasi diri di luar pekerjaan domestik. Untuk itu saya berusaha untuk melakukan upaya terbaikku dengan lebih disiplin menjalankan jadwal harian ini.

Meski begitu saya sadar sebagai seorang ibu tanpa asisten rumah tangga dan hanya saya yang paling tahu bagaimana kepribadian dan kondisi kejiwaan saya, maka sekarang saya telah banyak menurunkan standar dan mengucapkan selamat tinggal pada Mrs. Perfectionist di dalam diri. Dulu saat awal nikah, saya selalu ingin rumah tampak bersih, kinclong, semua dikerjakan sendiri, kalau nggak sesuai rencana langsung uring-uringan.

Sekarang saya lebih woles, meski saya sudah punya fixed schedule yang harus dipatuhi, ketika saya punya deadline dan ternyata mengganggu fixed schedule saya, maka saya tidak akan menjadikan hal itu sebagai sebuah permasalahan besar. Rumah tidak harus super kinclong, yang penting rapi dan nyaman. Rumah berantakan di jam-jam dinamis karena anak sedang aktif-aktifnya tidak perlu dipermasalahkan, yang penting saat waktunya istirahat anak-anak bisa diajak kerja sama merapikan dulu. Ketika ternyata bangun kesiangan karena menyelesaikan pekerjaan yang lain, misalnya setrika baju dan nggak sempat masak hingga jam yang ditentukan, artinya ini waktu berbagi rezeki dengan catering langganan. Yang terpenting anak-anak tetap terurus dan tidak terabaikan.

Well, inilah cara saya belajar menjadi manajer keluarga yang handal. How about you? Apa upaya terbaik kalian demi menjadi seorang manajer keluarga yang handal? Share yuk😊

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Mengenal Potensi Diri : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Minggu kedua di bulan Februari ini saya kembali dengan Nice Homework, bingkisan cantik dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #5. Alhamdulillah, proses belajar bersama teman-teman seperjuangan di IIP sudah memasuki minggu ketiga.

Setelah sebelumnya belajar mengenai adab menuntut ilmu dan langkah-langkah menjadi ibu profesional, kini saatnya para murid kelas matrikulasi mulai belajar untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Sejatinya rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Pada materi ini saya dituntut untuk menggali lebih dalam mengenai potensi diri saya, pasangan, keluarga, anak-anak serta lingkungan sekitar saya. Dari proses inilah nantinya diharapkan saya menjadi lebih mengenal siapa saya dan apa tujuan Allah menghadirkan saya di muka bumi. Tentunya Allah menciptakan kita dengan maksud dan tujuan tertentu, secara garis besarnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun masing-masing manusia pastinya diamanahi tujuan-tujuan spesifik di dalam hidupnya.

Selama ini, saya pun sering bermuhasabah menanyakan pada diri sendiri, mengapa saya dilahirkan, mengapa saya besar dari kedua orangtua saya, mengapa saya dipertemukan dengan suami, mengapa saya diamanahi Faris dan Irbadh dan sejuta pertanyaan mengapa lainnya. Meski saya masih kesulitan mengumpulkan kepingan puzzle hingga membentuk sebuah gambaran utuh. Melalui materi ini, perlahan saya mulai bisa mengerucutkan apakah misi keluarga dan misi kehidupan kami.

Berbeda dengan dua NHW sebelumnya, NHW #3 ini memiliki pertanyaan yang lebih spesifik untuk masing-masing peserta. Ada tiga kelompok peserta yang mendapat jenis pertanyaan yang sedikit; yaitu mereka yang belum menikah, yang sudah menikah dan sedang berjuang menjadi single parent.

Dikarenakan saya masuk ke kelompok yang sudah menikah, maka inilah beberapa point yang harus saya renungkan dan cari jawabannya;

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Sebelum membangun peradaban dari dalam rumah, saya terus belajar untuk selesai dengan diri saya sendiri. Selama tiga hari saya melakukan perenungan, alhamdulillah saya sudah ikhlas menerima segala takdir yang Allah berikan. Melalui tazkiyatun nafs, saya mulai berdamai dengan diri saya sendiri dan berazzam untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik lagi.

Beberapa episode dalam kehidupan saya jika ditelusuri awalnya adalah tentang kurangnya penerimaan saya terhadap masa lalu, terutama latar belakang pengasuhan Papa yang otoriter dan kenangan masa kecil saya yang penuh drama bersama Mama dan adik saya. Luka-luka yang belum selesai inilah yang kemudian merambat ke bagian-bagian kehidupan yang lainnya bersama pasangan, anak-anak hingga cara saya bersosialisasi dengan orang lain.

Saya pernah menuliskan proses penerimaan terhadap masa lalu saya di postingan tersendiri. Silahkan berkunjung ke sini.

Menyusun Misi Kehidupan dan Keluarga

Setelah saya selesai dengan berbagai proses panjang agar bisa ikhlas menerima keadaan dan berdamai dengan makhluk bernama innerchild. Maka itu merupakan sebuah titik balik saya menelusuri jejak pencarian misi kehidupan dan keluarga kecil saya.

Surat Cinta untuk Suami

Diawali dengan tugas pertama yaitu menuliskan surat cinta kepada suami. Tugas ini dimaksudkan untuk merefresh kembali ingatan, mengapa dulu saling jatuh cinta dengan pasangan, dan bisa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada pasangan. Alhamdulillah, untuk urusan menulis surat cinta bukan hal yang sulit buat saya. Maklum,saya tipe orang yang lebih suka menyatakan perasaan lewat tulisan daripada perkataan langsung. Meski tidak sesering waktu kami masih LDM (Long Distance Married) tapi bisa dikatakan lebih intense kala itu.

Kalau ditanya kapan saya terakhir membuat surat cinta? Saya membuat surat cinta beberapa hari menjelang ulang tahun pernikahan kami dan lucunya kami berdua malah lupa ketika hari H-nya. Saya menulis surat itu sebenarnya secara tidak sengaja, hanya ingin menuangkan apa yang saya rasa selama enam tahun berumah tangga bersama suami.
Nulisnya pun sembari berurai air mata mengingat betapa suabarnya suami menghadapi saya. Saya tidak pernah meminta suami saya untuk membaca surat cinta ini apalagi menggunakan kode-kode ala wanita sebab saya sesungguhnya seseorang yang ekspresif hehe.

Sedangkan suami saya ini, meski terkesan cuek dan calm rupanya diam-diam memperhatikan apa saja yang saya kerjakan. Jadilah tanpa saya meminta tiba-tiba suami berkata “makasih ya”. Tidak ada prolog dan tiba-tiba mengucap terimakasih. Sejujurnya saya tidak tahu bagimana reaksinya ketika membaca postingan saya mengenai curahan hati ini, karena dugaan saya ia membacanya ketika tengah malam atau saat tidak bersama saya. Ya! Suami adalah pembaca setia tulisan-tulisan absurd saya.

Dan inilah surat cinta terbaru saya untuk suami : Tentang Aku dan Kamu

Setelah membaca kembali rangkaian kata yang ada dalam surat itu, saya berpikir kembali mengapa kami dipertemukan, mengapa dia yang Allah pilihkan. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah salah menggariskan. Dia hadir untuk melengkapi segala kekurangan saya. Mengajarkan kepada saya untuk belajar tentang penerimaan, kepercayaan, kesabaran dan banyak hal lainnya.

Dia mampu menjadi penyeimbang diri saya yang suka meledak-ledak ketika emosi. Dia mampu menjadi penyeimbang diri yang terkadang terlalu perfeksionis dan ambisi dalam menjalani hidup. Dia yang mampu mengerem saya untuk tidak terlalu sering berlari dan lebih menikmati hidup.

Ah, selesai menuliskan surat itu, lagi-lagi saya kembali bersyukur telah dikaruniai pasangan yang sedemikian sabar. Tentu saja ia tidak sempurna, ada banyak kekurangan di dirinya, sebagaimana saya pun yang punya banyak kekurangan. Namun bukankah kita memang diciptakan untuk saling melengkapi?

Baca juga : Tentang Meraih dan Melepaskan

Memahami dan menemukan jawaban kenapa Allah pertemukan kami semakin memperkuat hati bahwasanya kami pasti bisa menjadi tim yang handal untuk menjadi fasilitator terbaik bagi pendidikan anak-anak kami, insya Allah. Kami perlu lebih banyak waktu untuk saling bertukar pikiran, bermuhasabah dan konsisten dengan standar operasional yang kami terapkan di dalam keluarga. Bismillah, insya Allah sampai surga… aamiin.

Mengenal Anak-Anak

Masa sama anak sendiri nggak kenal? Pastinya sebagai orang tua harusnya yang paling mengenali anak-anaknya ya. Semoga saya juga termasuk orang tua yang sudah bisa mengenali anak-anak dengan segala potensinya.

1. M. Zhafran Alfarisi (Faris)

Faris, dilahirkan tiga tahun enam bulan yang lalu dengan proses persalinan normal yang alhamdulillah tidak menimbulkan trauma. Kalau dibilang anak pertama selalu spesial, saya setuju. Bagi saya, Faris adalah matahari yang terbit setelah hujan badai. Kenapa? Saya diberikan amanah Faris setelah saya kehilangan almarhum Papa saya dan calon anak pertama saya. Setelah menunggu selama dua tahun akhirnya saya dipercaya oleh Allah untuk membersamainya di dunia ini.

Baca juga : Mengenal si Sulung

Dari hari pertama lahir ke dunia, Faris sudah terlihat ekspresif dan selalu ceria. Perkembangan fisiknya sangat baik sekali, ketika usia 2 bulan ia sudah bisa tengkurap dan sangat suka sekali diperhatikan. Ketika berumur 6 bulan ia sudah pandai duduk sendiri dan mulai belajar berbicara sepatah dua patah kata.

Saat belajar merangkak, Faris perlu diberi sedikit stimulasi karena sampai bulan ke-8 ia masih betah merayap dan tidak segera mengangkat badannya. Setelah diberi contoh, akhirnya dia bisa merangkak dengan benar (drama berlalu sudah). Sembilan bulanan dia mulai suka berdiri dan belajar merambat. Saat usianya setahun dia sudah berani berjalan tapi hanya di atas kasur, lagi-lagi karena trauma jatuh, ia tidak berani lagi mencoba. Barulah ketika moment lupa pegangan ia dinyatakan sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.

MasyaAllah tabarakallah, Allah menciptakan makhluk kecil yang keingintahuannya sangat besar. Dia sangat suka bertualang di alam bebas dan bertanya ini apa itu apa kenapa begini kenapa ga begitu kok bisa gitu. Panjang kali lebar pertanyaan yang diajukannya setiap hari. Memaksa kami orang tuanya untuk belajar lebih banyak agar bisa memberikan jawaban yang benar sesuai dengan umurnya.

Karena usianya yang baru tiga tahun, saya masih terus mengamati dan mencatat apa saja yang menarik baginya, kegiatan yang ia suka dan kurang suka. Faris sangat tertarik sekali dengan berbagai pengetahuan tentang hewan, alat berat, kejadian alam dan sangat visual sekali. Mengenal tempat dan mampu memetakan dengan cepat. Bahkan uniknya, ia merekam sesuatu melalui bentuknya. Seperti beberapa hari yang lalu, ia bertanya kepada saya “Mama tau nggak, ada bulan loh di Kimia Farma?“. Saya asli kebingungan dan menganggap itu hanya candaan dengan datar menjawab, “Mana ada bulan di kimia Farma, Faris? Bulan adanya di langit.“
Lalu ia menjelaskan, “Mama coba tengok logo kimia Farma itu, ada bulannya kan Ma. “ Ketika saya perhatikan kembali ternyata iya memang ada bentuk bulannya, sampai sebegitu detilnya ia memperhatikan, MasyaAllah rupanya Faris sangat visual dan detil.

Sejak lahir, Faris merupakan anak yang tidak pernah menyusahkan sama sekali. Ia tidak pernah rewel dan membuat kedua orang tuanya begadang. Penurut meskipun pandai bernegosiasi.

Ngomongin soal tantrum, alhamdulillah Faris bisa dikatakan tidak pernah mengalami tantrum. Ia sudah lancar berbicara ketika usianya belum genap dua tahun. Kemampuan berbahasanya sangat baik sehingga meminimalisir terjadinya tantrum. Saya membiasakan kepadanya untuk mengenali emosi dan belajar menyampaikannya kepada kami. Perlu proses dan kesabaran tentunya tapi jika sudah memetik hasilnya sebanding dengan pengorbanannya. Rasanya Allah begitu banyak memberikan rezeki dan karunianya. Sekarang, Faris sangat suka berdiskusi banyak hal bersama saya, mulai dari hal kecil, candaan hingga obrolan serius mengenai Allah.

Faris sangat senang diperhatikan dan didengarkan ketika bercerita atau menjelaskan sesuatu. Karena saya belum mengenalkan gadget padanya maka saya wajib memberikan waktu dan perhatian kepadanya. Membacakan buku, bermain dan melakukan pengamatan untuk mencari jawaban dari segudang pertanyaanya.

Faris sangat senang bergaul dan bertemu dengan orang baru, ia bisa langsung membaur meskipun berada pada lingkungan yang baru. Supel dan ceria itu pembawaannya. Saat bersama teman-temannya, dia pun mudah berempati dan berbagi. Dia juga mulai mengerti mengenai kepemilikan dan mempertahankannya ketika direbut paksa oleh temannya. Hanya kami perlu lebih banyak menumbuhkan keberanian dalam dirinya ketika ada temannya menggoda (mengejek).

Faris sangat suka tayangan animal series, animal er, fish tank, wicked tuna, yukon gold, science stupid dan lain-lain di chanel National Geographic. Kami tidak mempunyai jadwal khusus untuk nonton, tayangan-tayangan ini biasanya kita lihat ketika Faris sedang mencari jawaban atas pertanyaannya atau ingin memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Seperti ketika ia ingin melihat bayi gajah itu seperti apa, maka ia mengamati melalui tayangan proses kelahiran anak gajah di Nat Wild.

Berhubung masih berumur tiga tahun, kami sendiri masih menggali apa saja potensinya, apa saja minat bakatnya dengan mengenalkan berbagai macam kegiatan dan berusaha terus memberikan wawasan yang luas ketika ia mulai bertanya sesuatu. Pada dasarnya dia senang disuruh belajar apa saja, entah itu mengaji, percobaan, atau membaca, hanya saja orang tuanya yang perlu lebih konsisten dalam prosesnya. PR banget bagi saya sebagai ibunya agar bisa menjadi fasilitator yang handal dan disiplin membagi waktu untuk menjalankan berbagai macam peran di dalam rumah.

Saat ini kalau ditanya Faris nanti kalau sudah besar mau jadi apa? Faris dengan tegas menjawab “Faris mau jadi dokter hewan, Ma. Tapi kalau jadi dokter hewan gitu bisa jadi Qori juga nggak, Ma?” MasyaAllah saya terharu mendengarkan ucapannya, sepertinya dia menunjukkan minat ke arah sana. Mudah-mudahan Allah memudahkan segala langkahmu, Nak.

Saat ini Faris sedang menikmati perannya menjadi kakak. Faris dan Irbadh alhamdulillah sudah bisa kompak dan bermain bersama. Jika diingat kembali, rasanya terasa sulit untuk dilalui ketika dia beralih posisi dari anak satu-satunya menjadi seorang kakak, dia nampak begitu cemburu, sekarang pun sebenarnya masih, namun dia sudah mulai paham posisinya dan mengatasinya.

Sekarang ini, Faris sangat senang bermain bersama dengan adiknya. Bahkan jika adiknya tidur dia akan sibuk ingin membangunkan Irbadh untuk diajak bermain. Tetapi akhir-akhir ini, Faris mulai menikmati waktu belajarnya ketika Irbadh tidur.

Daya ingat Faris sangat baik. Apa yang orang tuanya katakan dia pasti ingat, apalagi kalau itu berupa reward untuknya, hehe. Baiklah, pada dasarnya Faris anak yang mudah diatur kok, saya yang perlu lebih banyak belajar untuk bisa jadi fasilitator yang baik untuknya.

2. Muhammad Harits Al Irbadh (Irbadh)

Bayi gembul berumur satu tahun enam bulan ini lagi seneng-senengnya memanjat apa saja dan mengeksplorasi semua benda di dekatnya. Belakangan ini ia sedang tertarik pada kunci, mur dan baut serta peralatan tukang Papanya. Alhamdulillah perkembangan fisik Irbadh sangat baik sejak bayi, ia sangat aktif dan kemampuan motoriknya berkembang sangat pesat.

Irbadh memiliki karakter yang keras dan kemauan yang kuat sehingga tidak bisa dilarang jika menginginkan sesuatu. Senang belajar banyak hal dan selalu ingin mencoba sendiri segala sesuatu hal yang baru. Irbadh sejak kecil memiliki selera yang berbeda dengan Masnya, ia suka diecast yang berukuran besar seperti bis, tank, dump truck dan berbagai macam kontainer.

Setiap anak tidak boleh dibanding-bandingkan karena masing-masing anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun terkadang, mengasuh anak kedua, mau tidak mau menjadikan anak pertama sebagai tolok ukur. Begitu juga saat saya merawat Irbadh, saya merasakan perbedaan yang mencolok hehe. Irbadh menonjol di kemampuan motorik dan kinestiknya. Ia sudah mahir duduk dan merangkak lebih cepat dibandingkan usia yang seharusnya.

Kemandiriannya pun terlihat jelas, meskipun baru berusia satu setengah tahun ia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan, lulus toilet training, mampu memakai sandal sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya. MasyaAllah tabarakallah.

Baca juga : Pentingnya Mengenali Gaya Berkomunikasi dengan Si Kecil

Sedangkan kemampuan bicaranya masih sesuai dengan usianya, ia sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya melalui dua kata yang dirangkai apabila menginginkan sesuatu. Irbadh kurang suka keramaian, namun bukan berarti tidak bisa bersosialisasi, tapi dia lebih suka mengamati terlebih dulu apakah lingkungannya aman untuk dia bergabung, apakah asyik untuk berada di tengah kerumunan itu. Ketika dia selesai mengonfirmasi dan dia merasa nyaman, dia pun sudah langsung bisa lari-larian bersama teman-teman barunya. Namun ketika ia merasa kurang nyaman, dia lebih memilih gelendotan di dekat orang tuanya atau asyik bertualang sendiri. Bahkan jika disuruh memilih antara main bersama teman atau main bersama orang tua atau kakaknya, melalui matanya yang berbinar menunjukkan kalau ia lebih suka bermain bersama Masnya atau sama Papa dan Mamanya. Semoga ke depannya kami juga tetap bisa menjadi sahabat untuk dia.

Berhubung Irbadh masih delapan belas bulan, tentu saja saya masih butuh banyak waktu untuk mengenalnya lebih dekat dan menanti potensi-potensinya muncul. Saya selalu suka menanti-nanti setiap perkembangan anak-anak, rasanya seperti bertualang mencari harta karun haha.

Melalui anak-anak saya belajar secara langsung bahwasanya anak-anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Rasa ingin tahu, semangat belajar yang tinggi, bibit kemandirian, pintar mencari solusi, pantang menyerah, rajin, sadar bahwasanya mereka adalah makhluk Allah dan semuanya sudah terinstall di dalam diri mereka. Sebenarnya kami orang tuanya, hanya tinggal menjaga fitrahnya dan mengarahkannya.

Bersyukur kami mulai berkenalan dengan ilmu-ilmu parenting dan teman-teman yang saling mendukung ketika anak-anak masih berada di usia emasnya, jadi sebagai orang tua kami bisa mengejar ketertinggalan yang ada.

Yang pasti saya percaya, anak-anak diamanahkan kepada saya oleh Allah bukan tanpa sebab, Allah memilih saya sebagai ibu dari Faris dan Irbadh pasti ada alasan yang besar. Setidaknya yang saya tahu saat ini, sayalah yang paling mengenal karakter anak-anak saya dan saya bisa menjadi sahabat untuk mereka menemukan potensinya.

Baca juga : Boneka Hafidz Media Belajar Yang Efektif Bagi Anak auditori

Lebih Dekat dengan Diri Sendiri

Terkadang kita merasa telah begitu mengenal diri sendiri, namun tidak selamanya begitu. Saya sendiri selalu bingung kalau ditanya apa potensi saya, apa keahlian saya? Bahkan rasanya lebih mudah bagi saya menemukan apa saja kekurangan saya dibandingkan menentukan potensi saya.

Kalau tidak karena kelas matrikulasi yang sedang saya ikuti ini mungkin saya juga tidak berusaha mencari tahu tentang potensi yang saya miliki.

Pada dasarnya saya suka mempelajari hal yang baru, menghubungkan informasi dengan keadaan nyatanya. Latar belakang pendidikan saya di bidang hukum, saya senang bertemu dengan berbagai macam karakter orang dan berbagi apapun bersama mereka. Selain terus mengupdate informasi terkini di bidang hukum, saya concern dengan informasi yang berkaitan dengan parenting, psikologi dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama islam karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari saya saat ini.

Meski lulusan Magister Kenotariatan, entah mengapa sekarang saya belum bisa move on dan fokus bekerja di bidang ini. Saat ini saya merasa enjoy membersamai anak-anak belajar banyak hal di rumah yang justru semakin menambah cakrawala wawasan dan pengetahuan saya. Berbagai macam pertanyaan ajaib dari anak-anak menurut saya justru lebih menarik untuk dicari jawabannya dan dijadikan bahan diskusi bersama. Ternyata dunia anak-anak mengubah saya yang dulunya sangat tidak suka jika ada anak yang bermain ke rumah menjadi lebih tertarik bermain bersama mereka. Kini saya sangat menikmati kegiatan bermain dan belajar bersama mereka. Entahlah, sejak punya anak dan belajar parenting, saya malah lebih tertarik pada pendidikan anak-anak dan ingin terus belajar agar bisa menfasilitasi mereka.

Jika dibandingkan dengan kegiatan berbicara saya jauh lebih suka menulis. Namun bukan berarti saya tidak bisa berbicara di depan umum. Dengan beberapa pengalaman kerja di bidang jurnalistik dan hukum yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan membuat saya senang berkomunikasi dengan mereka. Ketika masih menjadi mahasiswa saya juga aktif di berbagai organisasi dan LBH sehingga cukup memberikan pengalaman untuk terampil berbicara di depan umum.

Saya orang yang fleksibel. Bekerja dengan orang lain oke, kerja sendiri lebih baik hehe. Membaur dengan sekumpulan orang, hayuk. Mengikuti acara hingga selesai tanpa ada yang saya kenal satu pun tak mengapa. Pada dasarnya saya senang bergaul dan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Saya senang mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka, entah itu saudara, teman sebaya atau klien saat dulu saya masih bekerja. Dari sana saya belajar banyak hal, juga belajar menyikapi bagaimana ketika masalah yang sama hadir dalam kehidupan saya. Saya juga dengan senang hati memberikan solusi jika memang diminta.

I just love learning, terutama jika itu bisa meningkatkan kualitas diri saya. Saya tidak ingin berada di titik yang sama setiap harinya, saya haus belajar dan ingin bisa lebih baik lagi dalam kehidupan. Saya pun tidak segan untuk mengeluarkan sejumlah uang demi mendapatkan ilmu dan wawasan baru, meski saya harus menabung dulu berbulan-bulan.

Ilmu hanya akan menguap jika tidak diamalkan dan dibagikan. Oleh karenanya jika ada kesempatan untuk saya berbagi atas secuil ilmu atau informasi yang saya miliki dan bisa bermanfaat untuk sekitar pasti saya akan senang sekali. Saya senang sekali berkecimpung di berbagai kegiatan, terutama jika itu bisa memberikan manfaat tidak hanya diri saya sendiri, namun juga orang lain.

Bersahabat dengan Lingkungan dan Komunitas

Sejak tahun 2015, saya tinggal di rumah yang sekarang saya tinggali. Setelah sebelumnya berpindah dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain. Banyak suka dan duka menjadi perantau yang nomaden hehe.

Saya sangat bersyukur bisa tinggal di rumah yang sekarang. Meskipun bukan rumah milik saya sendiri, namun cukup memberikan kenyamanan untuk saya dan keluarga. Apalagi semua fasilitas di perumahan ini sangat lengkap, masjid ada dua di dekat rumah, kolam renang, dekat pasar dan pertokoan, dan lingkungan yang islami rasanya sudah cukup ideal untuk menjadi tempat tinggal dan membangun peradaban.

Sejak pindah kesini saya mulai mengikuti kajian mingguan. Dari sinilah relasi saya mulai berkembang dengan cepat. Dari komunitas homeschooling muslim, saya mulai mengenal beberapa teman yang kemudian memberikan banyak info seminar dan kelas parenting. Kemudian saya juga mengenal komunitas HomeEducation Based on Talent, Hijrah Parenting, Homeschooling Muslim Nusantara dan Institut Ibu Profesional.

Berawal dari situ saya semakin luas mengenal teman-teman yang ghiroh-nya luar biasa untuk mendalami agama dan pendidikan anak-anak. Di dunia tulis menulis saya serasa dilahirkan kembali dengan mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena, Blogger Kepri, Kumpulan Emak Blogger dan Blogger Perempuan yang banyak membantu saya mengembangkan wawasan dan konsistensi di dunia tulis menulis.

Saya mulai mempertanyakan maksud Allah mempertemukan saya dengan teman-teman saya saat ini, dan kontribusi apa yang bisa saya berikan kepada lingkungan tempat tinggal saya. Ke depannya dengan jaringan pertemanan yang saya miliki, saya berharap bisa membagikankan ilmu parenting ke para tetangga. Melihat anak-anak balita yang terkadang masih keluar rumah dengan baju minim hingga nampak auratnya, mengganti baju di luar rumah, menganggap anak-anak kecil berkelahi dan saling memukul itu wajar, remaja-remaja yang asyik dengan gadget dan game, ada suara hati yang terus memanggil-manggil untuk berbuat sesuatu.

Ya, membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Ketika orang tuanya abai, masyarakat sekitar abai, negara abai, jangan heran kalau generasi muda negeri ini mulai terkikis iman, akhlak dan semangat belajarnya. Harus ada yang mau bergerak untuk perlahan membenahi, harus ada yang mau repot untuk mengurusi anak orang lain, karena sesungguhnya dengan mengurusi anak orang lain secara tidak langsung kita mengurusi anak-anak kita sendiri dengan membangunkan tempat bergaul yang ideal bagi mereka.

Bismillah, meskipun masih samar saya mulai menemukan apa misi kehidupan saya dan keluarga di dunia ini. Semoga saya bisa memahami apa kehendak Allah dengan baik dan bisa membangun peradaban dari dalam rumah, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar saya tinggal. Tentu saja dengan tujuan untuk menggapai ridho Illahi. Aamiin.

Huft, tidak terasa sudah kepanjangan ya tulisan saya.. serasa membuat tugas akhir, hehe. Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mampir dan mau ikhlas meluangkan waktu membaca curahan hati saya ini. Semoga bermanfaat. Btw, kalau kalian sudah menemukan misi kehidupan atau tujuan spesifik mengapa kalian diturunkan Allah ke muka bumi ini belum?

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu saya sudah membagikan tulisan saya untuk NHW #1, di situ saya mendeskripsikan bahwa salah satu cita-cita saya saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana sih cara mencapainya, saya sendiri masih menata diri dan berusaha merumuskan langkah apa saja yang harus saya tempuh. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaan saya terjawab sudah.

Baca juga: Refleksi Diri 2018

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum membahas bingkisan NHW #2 yang super ini, kita belajar terlebih dulu yuk bagaimana menuju ibu professional.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
kata IBU memiliki makna;
1.perempuan yang telah melahirkan seseorang;
2.sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
3.panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
4.bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
5.yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota.

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna;
1.bersangkutan dengan profesi;
2.memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja agar konsistensi dan semangat belajar bisa selalu terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Kurang lebih seperti itu latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada visi dan misi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah visi dan misi IIP;

Visi dan Misi Ibu Profesional

Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2.Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3.Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4.Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Apa Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang, merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

🌸Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
🌸Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
🌸Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan, tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

🌸Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
🌸Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
🌸Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
🌸Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif, jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

🌸Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
🌸Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
🌸Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
🌸Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha, tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

🌸Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
🌸Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
🌸Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
🌸Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Langkah Menjadi Ibu Kebanggaan dalam Keluarga

Setelah meresapi materi dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. Bingkisan yang diberikan kali ini cukup membuat saya berdiskusi panjang kali lebar bersama anggota keluarga karena saya diminta untuk menyusun “CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang realistis dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau saya harus melakukan wawancara dengan suami dan anak-anak. Melalui diskusi panjang bersama suami, saya jadi tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, saya perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang saya dapat dari suami dan anak-anak sangat sederhana, namun cukup membuat saya merenung lebih lama lagi karena ternyata begitu banyak hal yang harus saya perbaiki.

Oiya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;

-SPECIFIC (unik/detil)
-MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
-ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
-REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
-TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Ikhtiar Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, saya mulai menyusun checklist yang nantinya insyaAllah dapat membantu saya sebagai pengingat agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu.

Meskipun sejak kecil saya sudah terbiasa membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri namun tugas kali ini merupakan sebuah tantangan yang cukup berat bagi saya. Hingga saat ini entah berapa kali saya membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu saya pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan saya ketika semangat saya mulai kendor.

Checklist yang saya susun ini saya beri tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung masih awal tahun sekalian menggembleng diri ini agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan suami ketika saya hendak menyelesaikan tugas ini adalah “lakukan dari yang paling sederhana dulu, supaya tidak merasa berat dalam menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.”

A. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Sebagai individu di sini saya kategorikan dalam hubungan saya dengan Allah, dengan diri saya sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang saya susun;

a. Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

Indikator Individu Beriman

🌸Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
🌸Menambah hafalan setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
🌸Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
🌸Tilawah minimal satu lembar setelah sholat.
🌸Merutinkan kembali dzikir pagi dan petang.
🌸Merutinkan kembali sholat sunah dhuha dan qiyamul lail.
🌸Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b. Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

Indikator Individu Istiqomah

🌸Menyusun ulang jadwal bulanan dalam mengelola rumah tangga.
🌸Berolahraga pagi bersama anak-anak.
🌸Update blog minimal tiga post selama satu minggu.
🌸Muhasabah diri sebelum tidur.
🌸Mencatat kegiatan harian anak-anak dalam buku catatan khusus.
🌸Menata skala prioritas kegiatan harian.

c. Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

Indikator individu masyarakat

🌸Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
🌸Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
🌸Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
🌸Lebih terbuka dan mau berbagi.
🌸Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan dharmawanita.

B. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat berdiskusi dengan suami, saya sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan tebakan saya ternyata benar! Dengan gaya yang humoris dan penyampaian yang sederhana ini jawaban suami saya ; “jangan gampang emosi dan meledak-ledak, urus anak dengan lebih sabar dan senyum dong kalau saya pulang.” Dengan pedenya saya bilang, “masa iya cuma gitu doang?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambahin lagi.”😂

Dan inilah indikator yang saya susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit saya modifikasi ;

Indikator Istri

🌸Lebih baik lagi dalam mengontrol emosi, lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan terlebih dahulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
🌸Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika suami pulang terlambat atau mendadak lembur.
🌸Merendahkan suara. (PR banget nih buat saya yang tukang ngeyel).
🌸Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
🌸Mencium tangan suami saat melepas pergi ke kantor.
🌸Memberikan suami me time (suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetan saya dan anak-anak).
🌸Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang ke kajian.
🌸Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C. Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.

Jawaban pemikiran ala lelaki dengan kesimpulan:

…selama mama nggak ngomel-ngomel, kami bahagia…

Sebelum tanya-tanya dengan suami, saya sudah sempatkan untuk bertanya-tanya dengan Faris. Faris seneng punya mama yang seperti apa. Dengan usianya yang baru tiga tahun, keinginan Faris pun cukup sederhana; “Faris seneng kalau Mama nggak sedih kalo Faris nggak nurut sama dan nemenin Faris mainan jual-jualan.” Belum sempat dijawab, Faris malah balik bertanya “kenapa sih kok Mama nggak ke kantor aja? Biar Mamanya cantik kaya tante-tante yang di kantor Papa. “ Lalu saya jawab, “Berarti Mamanya boleh ke kantor ya?” Langsung dijawab sama Faris, “eh, nggak mau ah nanti Faris di rumah sama sapa? kan Faris maunya semua sama Mama, mainan, belajar, bikin kue sama Mama. Tapi Faris maunya Mamanya yang cantik aja yang di rumah sama Faris.” Wah, PR banget ini bagi saya, rupanya saya kudu makeover diri supaya nampak cantik di depan anak bujang saya. 😂

Lanjut obrolan bersama Irbadh, berhubung ia baru berumur enam belas bulan dan ketika ditanyain jawabnya hanya “mama manya”, maka saya simpulkan bahwa si bayi yang beranjak besar ini maunya mama selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jejak jauh-jauh, hihi.

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, saya menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa resolusi pribadi saya sebagai seorang ibu.

Indikator Ibu

🌸Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak dengan membuat sendiri masakan dan snack untuk anak-anak.
🌸Melatih kemandirian anak-anak. Faris diharapkan dapat membereskan tempat tidur, mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri. Sedangkan Irbadh, bisa ke toilet sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.
🌸Mulai membiasakan Faris dengan kebiasaan beragama seperti sholat lima waktu, mengaji dan memberi sedekah kepada yang membutuhkan.
🌸Menyusun lesson plan Faris untuk kegiatan belajarnya di rumah, mulai merutinkan murojaah, mengenal huruf hijaiyah melalui makhrajnya, dan merutinkan playdate yang sesuai dengan minatnya.
🌸MengASIhi Irbadh hingga dua tahun.
🌸Memberikan stimulasi berbicara agar meminimalisir tantrum.
🌸Merutinkan berkisah, membaca buku bersama,dan bermain bersama dengan anak-anak.
🌸Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak berebut sesuatu, Misal; anak-anak tidak diijinkan bermain jika tidak mau berbagi dan main bersama, jika salah satu pihak tidak mau berbagi maka berikan timeout.
🌸Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika anak-anak sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka saya mengkomunikasikan kepada suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utama saya. Saya tidak lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak.

Berdasarkan evaluasi saya, ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga ternyata saya semakin keteteran dalam mengasuh anak-anak. Teringat pesan dari bu Septi, “rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Semoga Allah berikan kemudahan kepada saya agar bisa menepati checklist yang telah saya susun untuk masa evaluasi sebulan ke depan dan semoga langkah awal ini bisa mengantar saya mencapai cita-cita sebagai seorang ibu professional. Hm, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share dong 😄

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Aliran Rasa Yang Tertunda

Hm, dari judulnya saja sudah menjadi something interest untuk saya. Kalau diperbolehkan saya akan bercerita sedikit semoga beneran sedikit yah, soalnya saya kalau udah cerita suka panjang😬

Dalam proses pengerjaan Nice Home Work #1 di kelas Matrikulasi Ibu Pofesional ini sesungguhnya saya dalam keadaan pikiran yang carut marut. Tanya kenapa? Saya sedang belajar menata to do list dalam hidup saya. Beberapa hari ini saya seperti de javu dengan tugas-tugas deadline di kantor layaknya pekerja kantoran. Alih-alih ingin mulai menulis, tugas domestik nampaknya mulai melambaikan tangannya, rasanya ingin segera saya selesaikan semua tanggung jawab yang sudah menumpuk akibat tertunda-tunda karena mengutamakan tugas yang lainnya. Saking pusingnya, bahkan saya sampai menonaktifkan handphone saya selama 24jam sembari berharap agar pikiran saya bisa lebih tenang. Alhamdulillah, dengan puasa gadget memang membuat pikiran lebih tenang dan mood saya menjadi lebih baik.

Saya sangat berterima kasih pada tim fasilitator yang memberikan materi secara bertahap,sehingga membuat saya belajar dengan perlahan dan begitu menikmatinya. Betapa tidak, di kelas Matrikulasi minggu pertama ini saya mengemban amanah tugas perdana sebagai koordinator mingguan. Hm, kalau jaman sekolah ya sebelas dua belas dengan sekretaris lah ya. Jadi kerjaannya lumayan banyak dan membutuhkan waktu serta kejelian, disitulah tantangannya.
Kalau dari segi penulisan NHW #1, alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Saya sudah terbiasa menulis dalam bentuk draft kapan dan dimana saja, tinggal menunggu waktu yang pas saja untuk finishing. Jika saya benar-benar fokus maka dalam waktu kurang dari dua jam tulisan sudah jadi, tinggal proses edit mengeditnya. Ini cerita indah di balik sebuah tulisan yang apik, jika saya sudah mantap dengan pilihan ide tulisan dan sudah mempersiapkan semuanya di dalam pikiran dan hati saya sehingga membuatnya mengalir begitu saja. Layaknya aliran rasa yang saya buat ini, meskipun tertunda tunda mudah-mudahan bisa mengalir seperti NHW#1 yang sudah saya tulis sebelumnya.

Jujur, ketika saya diamanahi sebagai koordinator mingguan yang memiliki sedemikian tugas membuat saya kelimpungan dan diri ini harus segera menyesuaikan dengan ritme yang baru. Namun, dari sekian tugas yang ada sesungguhnya tugas yang paling berat adalah tugas sabar dan ikhlas karena kelas ini merupakan wadah kami untuk belajar bersama.

Saya banyak belajar mengenai management waktu dan membuat to do list. Dimana kita harus tahu mana prioritas yang harus lebih dulu dikerjakan mana yang bisa ditunda. Hal ini juga membuat saya mudah mengatur waktu kapan belajar, kapan online, kapan offline, kapan mendampingi anak-anak dan kapan me time atau quality time bersama keluarga. Hal-hal sepele sih namun semua itu membuat saya terorganisir dan to do list itu tercatat sendiri ketika jam terbang kita meningkat dengan perlahan.

Dan untuk masalah tugas dan kewajiban-kewajiban saya di Matrikulasi IIP saya juga harus mengerjakannya tepat waktu, agar tidak ada lagi sistem kebut semalam sehingga ilmi yang diserap bisa langsung terikat dan diimplementasikan dalam keseharian.

Selain itu saya harus mendahulukan tugas saya sebagai fasilitator anak-anak dalam belajar. Saya harus memenuhi hak belajar dan bermain mereka dengan cara memfasilitasinya dalam setiap proses belajarnya. Jika tidak maka saya sudah berbuat zalim terhadap mereka karena ini semua sudah menjadi komitmen yang saya pilih.

Intinya saya menikmati semua proses belajar di Matrikulasi IIP termasuk aliran rasa dalam mengerjakan Nice Home Work pertama yang sampai saat ini masih terasa aliran rasanya. Dan alhamdulillah setelah mendapatkan materi adab menuntut ilmu ini pembendaharaan ilmu dan pengalaman saya jadi bertambah. Semoga melalui ikhtiar menjaga adab dapat membawa perubahan yang mengarah kepada kebaikan dan membawa kebermanfaatan. Aamiin.😇

Refleksi Diri 2018

NHW #1

Alhamdulillah, memasuki tahun 2018 banyak sekali hal yang ingin saya pelajari sebagai bekal dalam proses menjadi seorang Ibu yang lebih baik. Setelah tertunda tunda dan melalui proses yang sangat panjang akhirnya saya berkesempatan menimba ilmu di kelas Institut Ibu Profesional Batam.

Terhitung mulai hari Senin, tanggal 22 Januari 2018, Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 5 Batam resmi dibuka. Kelas ini nantinya akan berlangsung selama 8 minggu. Nah, tiap minggu akan ada materi yang berkaitan tentang bagaimana menjadi seorang ibu profesional, ada diskusi dan ada PR yang juga harus dikerjakan. PR ini disebut dengan NHW (Nice Homework). Pengumpulan NHW sesuai tenggat waktunya akan menjadi dasar kelulusan matrikulasi, apakah lulus atau harus remidi di batch selanjutnya. Buat yang mengerjakan tepat waktu tentunya mendapat apresiasi juga loh, ada badge keren ala Ibu Profesional.

Apa itu IIP? Kelas Matrikulasi?

Bagi yang belum pernah dengar dan tidak familiar dengan IIP atau Institut Ibu Profesional, IIP ini didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuat Jarimatika. Tujuan beliau mendirikan IIP adalah untuk meningkatkan kualitas ibu di Indonesia. Semakin berkualitas para ibu, maka insya Allah semakin berkualitas pula anak-anak dan keluarganya. Jika keluarga di Indonesia semakin meningkat kualitasnya, insya Allah kehidupan berbangsa dan bernegara pun akan semakin berkualitas pula. Saya sendiri mulai kenal dengan IIP pada tahun 2014, saat memutuskan resign dan bertekad membersamai anak-anak. melalui perjalanan panjang dan mood yang naik turun akhirnya bisa bergabung ke grup Whatsapp Foundie beberapa bulan yang lalu. Kayanya waktu jaman sekolah nggak pernah tuh diajarin bagaimana menjadi ibu apalagi saya yang notabene tidak pernah dekat dengan Mama saya. Nah, ketika diberi kesempatan oleh Allah menjadi seorang ibu saya merasa kelimpungan, ternyata banyak sekali hal yang harus dipersiapkan sedangkan bekal saya tidak ada. Jadilah ketika anak saya lahir, saya berburu ilmu secara otodidak melalui berbagai grup menyusui, menggendong sampai parenting yang membuat saya semakin bingung karena sistem coba-coba haha.

Dulu kata Mama saya, jadi ibu kan alamiah, nggak usah belajar juga nanti bisa sendiri. Memang sih, rasa keibuan itu alamiah, begitu menggendong bayi di tangan kita, langsung kok tanpa disuruh ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis begini, langsung bisa tahu dia butuh apa, anak nangis begitu bisa tahu anak butuh digendong, dan sebagainya. Lalu? Masalahnya kan jadi ibu nggak cuma sebatas urusan susu atau popok. Apalagi zaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date menjawab tantangan zaman. Kalau kata Ali Bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. “

Kalau ditanya kenapa pusing-pusing, kan ada sekolah, apalagi zaman sekarang banyak sekali pilihan sekolah tinggal kita mau yang seperti apa kompetensinya. Atau daripada pusing-pusing, pilih aja sekolah paling bonafit selesai deh. Apa iya sesederhana itu? Kayanya nggak deh. Bagaimanapun nanti anak-anak akan selalu menjadi tanggung jawabnya orang tua.

Baca juga : Lulusan Perguruan Tinggi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Why Not?

Saya memutuskan bergabung dengan IIP karena merasa tidak punya bekal menjadi seorang ibu. Saya merasa butuh teman-teman dan fasilitator yang bisa menjadi teman diskusi berbagai hal terutama tentang menjadi ibu di era digital seperti saat ini. Berharapnya nih setelah mengikuti perkuliahan demi perkuliahan di IIP, kualitas diri sebagai wanita, baik menjadi istri, ibu dan anggota masyarakat bisa semakin meningkat.
Bismillahirrahmanirrahim..

Namun sebelum mulai belajar ilmu demi ilmu yang sudah disusun secara sistematis oleh tim Dapur Nasional, saya wajib ikut kelas matrikulasi dulu. Sistem perkuliahannya online, lewat whatsapp, segala hal yang berhubungan dengan kuliah pun tersimpan secara sistematis di googleclassroom. Kurang apa coba? Alhamdulillah yah, memudahkan sekali buat ibu-ibu seperti saya yang masih susah kemana-mana.
Kenapa sih setiap member wajib ikut matrikulasi?
Intinya, supaya kita lebih paham dengan materi-materi yang diajarkan, dan bisa sejalan dengan visi misi yang ada.

Baca juga : Aliran Rasa Pramatrikulasi IP Batam

Review Materi Matrikulasi Minggu #1: Adab Menuntut Ilmu

Sebelum belajar lebih jauh tentang menjadi ibu yang profesional, kami diberikan dulu prolog mengenai adab menuntut ilmu. Dalam sebuah kajian, saya pernah mendengar bahwasanya kita perlu belajar iman dulu sebelum adab, dan adab sebelum ilmu. Sebelum kita fokus dan merengkuh ilmu sebanyak-banyaknya, kita harus belajar dulu tentang adab dan akhlaq dalam menuntut ilmu.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Jika kita sudah tahu adab menuntut ilmu, hasil itu bukanlah tujuan utama, hasil itu adalah bonus dari proses pencarian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu kita harus menegakkan cara-cara yang baik; datang tepat waktu – malah kalau bisa datang sebelum guru kita datang, menghormati guru, tidak sok pintar meski kita sudah pernah mendapat materinya, kita harus mau mengosongkan gelas agar bisa menambah kedalaman materi yang kita punya dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Iman Sebelum Adab, Adab Sebelum Ilmu, Ilmu Sebelum Amal

Mengutip apa yang disampaikan oleh Abu Zakaria al-Anbari berkata: Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad (Imam as-Sam’ani, Adab al-Imla’ wa al-Istimla’; al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Jami’, juz I, hal 17). Maka, ilmu dan adab harus menyatu dalam diri muslim, dan semestinya semakin berilmu, harus semakin beradab.

Semoga dengan memperbaiki adab dalam menuntut ilmu, akan jauh lebih banyak ilmu yang terikat dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga keluarga dan sesama. Insya Allah dimulai dari ibu yang memiliki adab akan melahirkan anak-anak dengan peradaban yang baik.

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, fasilitator membagikan NHW #1. Dan ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta. Setelah melalui perenungan, kurang lebih berikut ini jawaban menurut versi saya..

Pertanyaan pertama pada NHW #1, peserta diminta untuk menentukan jurusan ilmu yang ingin ditekuni di universitas kehidupan ini.

Usia yang bertambah, pola pikir yang semakin berkembang, dan anak-anak telah merubah banyak beberapa tujuan dan visi misi hidup saya. Dulu tujuan saya saat masih berstatus sebagai mahasiswa sangat sederhana, lulus kuliah, mencari pengalaman kerja dan membuka kantor untuk beberapa goal duniawi.
Namun sejak Faris lahir, ditambah kini sudah ada Irbadh, saya memiliki tujuan baru yaitu bagaimana mendidik, mengasuh dan menumbuhkembangkan fitrah anak-anak agar selalu sejalan dengan Quran dan Sunnah. Oleh karenanya jika disuruh memilih, saya ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU PROFESIONAL.

Di universitas-universitas favorit sekalipun, jurusan ilmu ini tidak akan pernah saya temukan, namun lewat universitas kehidupan, saya yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang saya inginkan. Semoga saja Allah memudahkan langkah saya dalam menimba ilmu sehingga bisa lulus membanggakan dari jurusan yang saya pilih ini.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan ialah apa alasan terkuat sehingga saya memilih jurusan ilmu tersebut.

Alasan terkuat sudah pasti anak-anak dan suami. Keluarga adalah pendorong pertama dan utama kenapa saya ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Sekarang, saya memang telah menjadi ibu, namun masih jauh dari kata sempurna. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Mendidik anak adalah anugerah terbesar bagi seorang manusia. Anugerah ini memberikan kesempatan kepada orang tua untuk meraih amal-amal yang paling mulia. Ya, mulia dan bahagia dunia akhirat, insyaAllah. Tentu dengan syarat apabila amalan-amalan mendidik anak ini dijalani dengan ikhlas karena Allah dalam mengarahkan anak-anaknya kepada agama, akhlaq, dan pengajaran yang baik.

Saya sadar diri betapa jauh dari kesempurnaan. Betapa diri ini masih butuh banyak diisi, sedangkan usia anak-anak tidak bisa menunggu apalagi diulang. Mereka membutuhkan ibu yang bisa mengarahkannya pada kehidupan yang lebih baik dan menuntun mereka untuk membangun peradaban yang lebih berkualitas. Saya ingin memberikan warisan terbaik kepada anak-anak.

Saya yang seorang ibu, seorang muslim, seorang pengajar (yang memilih mengajar anak-anak sendiri). Kewajiban saya tidak hanya menyampaikan ilmu. Tapi juga mendidik adab, ilmu, dan menerapkannya.

Beuh… berat ya? Terutama pas bagian ‘menerapkannya’.

Begini mungkin ilustrasinya…

PAS JAMAN KERJA KANTORAN:
Gampanglah, nanti setelah resign buka kantor sendiri, anak-anak masih aman ibunya di rumah. Kalau udah gedean dikit tinggal dititip aja di sekolah Islam, di TPA. Anak pinter agama dan jadi hafidz(ah). Kita cari uang… atau paling nggak saya bisa terima klien di rumah, masih sempet nemenin anak belajar. Kita? Hafalan? Ke majelis ilmu? Belajar? Halah… mana sempet. Cari uang, Bro!

PAS JAMAN FTM:
Bahasa Arab? Gampaaang, ada aplikasi. Tahfiz, tuuuh deket rumah ada rumah tahfiz. Saya? Hafalan? Bentar… ng.. ini cucian belum kelar. (Dan blass sampai keesokan harinya) Kajian ke masjid? Temanya apa? Tar browsing aja.

Ng… iya. Itu saya dulu. Sekarang? Masih ada residunya sih, semoga Allah memberi kekuatan agar istiqomah menghilangkannya.

Nah, dalam sebuah majelis rutin yang membahas salah satu kitab parenting Islam dari jaami’ul ahkam fii adab al shibyan, saya ditampar dengan ayat ini (tafsir lengkap dari Ibnu Katsir dan para sahabat bisa dilihat di sini):

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S. Al Baqoroh: 44)

Iya, saya sangat tertohok di kajian ituuu, astagfirullah 😭 Anak-anak BERHAK mendapat contoh yang baik dari saya. Bukan hanya perilaku baik, tapi juga kebiasaan menuntut ilmu (diin). Betapa sombongnya saya, dengan secuil yang saya miliki (titipan Allah pula), petantang-petenteng bilang “Saya cari uang aja, ilmu mah belakangan.” Iya kalau dapat waktunya. Lhah, kalau pas ‘cari uang’ udah diketok duluan sama malaikat maut, piye? Terzolimi lah hak anak-anak
Jadi, semua mindset yang saya bangun sejak awal tentang mendidik saya bongkar total. SAYA HARUS BELAJAR. MEMBUANG RASA MALU.

Pertanyaan ketiga tentang strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan.

Di dalam bayangan saya, seorang ibu profesional adalah wanita yang mampu menyeimbangkan waktu antara menjadi ibu, istri dan anggota masyarakat. Seorang wanita yang mampu memaksimalkan semua kapasitas dan kapabilitas dirinya. Saya bercita-cita tidak hanya ingin menjadi ibu yang nyaman bagi anak-anak saya, namun juga ibu yang berwawasan luas dan mampu menjadi tempat bertanya serta berkeluh kesah bagi anak-anak. Saya juga ingin bertumbuh menjadi istri yang lebih baik dalam memahami dan menghormati suami. Bisa menjadi ‘rumah’ yang nyaman dan selalu dirindukan olehnya. Serta ingin bisa berkualitas lebih baik sebagai seorang anggota masyarakat, tidak hanya menjadi anggota yang pasif, namun juga yang aktif dalam berbagi kemanfaatan kepada sesama.

Strategi Mencari Ilmu

Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka berikut ini adalah strategi yang saya rencanakan;

1. Mengikuti Kajian Keagamaan

Agama merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Agama adalah darah dan nafas dalam kehidupan. Saya sadar betul bahwasanya bekal agama saya masih jauh dari cukup, maka yang pertama aku lakukan adalah mengikuti kajian keagamaan dengan lebih baik dan disiplin. Saat ini saya memang sudah mengikuti liqo pekanan bagi muslim yang baru berhijrah dan mualaf, namun sering karena rasa lelah akibat pekerjaan domestik yang harus saya kerjakan sendiri saya jadi bolos hadir. Saya bertekad ke depannya akan lebih rajin dan mampu menimba ilmu tentang Quran dan Sunnah lebih banyak lagi. Selain ingin memperbaiki tajwid, saya juga ingin lebih memahami tafsir Al Quran agar bisa menjelaskan lebih baik kepada anak-anak mengenai hukum-hukum Allah, juga agar bisa hidup sesuai dengan tuntunan yang telah disusun oleh Allah.

2.Belajar Parenting

Mengikuti Kelas Parenting
Mengasuh anak sejatinya adalah mengasuh diri kita sendiri. Secara tidak langsung dengan mengikuti kelas-kelas parenting, baik itu berupa seminar, workshop, entah itu online ataupun offline, saya diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri dan karakter masing-masing anggota keluarga.
Belajar parenting membuat saya lebih terbuka terhadap kekurangan dan kelebihan saya pribadi. Belajar parenting juga memaksa saya untuk bisa menerima goresan luka masa lalu dan segala kesalahan serta kekurangan pola asuh orang tua saya. Belajar parenting membantu saya melepas emosi-emosi negatif sehingga bisa menjadi ibu yang utuh bagi anak-anak saya, serta istri yang menyenangkan untuk suami.

3. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital.

Saat ini era telah berkembang ke arah digital, maka saya harus belajar lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dan diperlukan dalam kehidupan di era digital. Saya ingin lebih mengembangkan ilmu di dunia tulis menulis dan blogging. Ke depannya, saya ingin bisa membuat infografis yang menarik dan membuat orang nyaman membaca blog ini.

4. Networking

Memperluas pertemanan adalah hal yang saya butuhkan dalam mencapai tujuan saya menjadi ibu profesional. Belajar sendiri itu tidak mudah, kita perlu berkomunitas dan bergandeng tangan dengan teman-teman yang memiliki passion, tujuan dan cita-cita yang sama. Bagaimanapun kita akan selalu butuh teman untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

5. Time Management.

Saya sadar hingga detik ini terkadang, saya masih kacau balau dalam mengatur waktu. Terutama membagi waktu untuk tugas domestik dan kelas belajar dalam homeeducation anak-anak. Berkali-kali saya menyusun lesson plan kegiatan belajar anak-anak, berkali-kali pula saya langgar. Saya sadar bahkan terkadang terlewat mencatat poin-point penting kegiatan anak-anak selama satu hari. Intinya, saya wajib belajar tentang pengelolaan waktu ini dengan lebih serius.

Apalagi dengan tujuan saya untuk menjadi ibu profesional, time management adalah hal yang sangat penting, saya ingin bisa membagi waktu antara menjadi ibu untuk anak-anak, menjadi partner untuk suami, serta jika sudah tiba waktunya bisa menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.

Sejauh ini 5 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencana saya untuk mencapai tujuan utama saya sebagai seorang ibu profesional.

Pertanyaan terakhir dalam NHW #1 yaitu berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Saya sangat menyadari sejauh ini adab yang saya miliki dalam menuntut ilmu masih sangat kurang, terkadang saya masih suka datang telat ke lokasi belajar dan menyepelekan materi yang sudah pernah saya dapat, bahkan terkadang tidak sempat mencatat hal-hal penting dari sebuah ilmu.

Memperbaiki Diri

Maka saya pikir beberapa hal inilah yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan menjadi cahaya yang bermanfaat:

1. Memperbaiki waktu kehadiran.

Sebisa mungkin sebelum guru atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di lokasi acara.

2. Mengosongkan gelas.

Ilmu terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan materi yang pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru.

Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan saya berharap bisa menuai ilmu dengan lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus.

Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Mengikat ilmu dengan menulis. Oleh karenanya ke depan saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah dibagikan dan disimpan. Selain itu, dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital, saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga NHW #1 nya. Nggak sabar menunggu materi dan NHW #2. Sampai berjumpa dengan ilmu selanjutnya. wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam Ibu Profesional,