Mengenal Potensi Diri : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Minggu kedua di bulan Februari ini saya kembali dengan Nice Homework, bingkisan cantik dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #5. Alhamdulillah, proses belajar bersama teman-teman seperjuangan di IIP sudah memasuki minggu ketiga.

Setelah sebelumnya belajar mengenai adab menuntut ilmu dan langkah-langkah menjadi ibu profesional, kini saatnya para murid kelas matrikulasi mulai belajar untuk membangun peradaban dari dalam rumah. Sejatinya rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Pada materi ini saya dituntut untuk menggali lebih dalam mengenai potensi diri saya, pasangan, keluarga, anak-anak serta lingkungan sekitar saya. Dari proses inilah nantinya diharapkan saya menjadi lebih mengenal siapa saya dan apa tujuan Allah menghadirkan saya di muka bumi. Tentunya Allah menciptakan kita dengan maksud dan tujuan tertentu, secara garis besarnya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun masing-masing manusia pastinya diamanahi tujuan-tujuan spesifik di dalam hidupnya.

Selama ini, saya pun sering bermuhasabah menanyakan pada diri sendiri, mengapa saya dilahirkan, mengapa saya besar dari kedua orangtua saya, mengapa saya dipertemukan dengan suami, mengapa saya diamanahi Faris dan Irbadh dan sejuta pertanyaan mengapa lainnya. Meski saya masih kesulitan mengumpulkan kepingan puzzle hingga membentuk sebuah gambaran utuh. Melalui materi ini, perlahan saya mulai bisa mengerucutkan apakah misi keluarga dan misi kehidupan kami.

Berbeda dengan dua NHW sebelumnya, NHW #3 ini memiliki pertanyaan yang lebih spesifik untuk masing-masing peserta. Ada tiga kelompok peserta yang mendapat jenis pertanyaan yang sedikit; yaitu mereka yang belum menikah, yang sudah menikah dan sedang berjuang menjadi single parent.

Dikarenakan saya masuk ke kelompok yang sudah menikah, maka inilah beberapa point yang harus saya renungkan dan cari jawabannya;

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Sebelum membangun peradaban dari dalam rumah, saya terus belajar untuk selesai dengan diri saya sendiri. Selama tiga hari saya melakukan perenungan, alhamdulillah saya sudah ikhlas menerima segala takdir yang Allah berikan. Melalui tazkiyatun nafs, saya mulai berdamai dengan diri saya sendiri dan berazzam untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik lagi.

Beberapa episode dalam kehidupan saya jika ditelusuri awalnya adalah tentang kurangnya penerimaan saya terhadap masa lalu, terutama latar belakang pengasuhan Papa yang otoriter dan kenangan masa kecil saya yang penuh drama bersama Mama dan adik saya. Luka-luka yang belum selesai inilah yang kemudian merambat ke bagian-bagian kehidupan yang lainnya bersama pasangan, anak-anak hingga cara saya bersosialisasi dengan orang lain.

Saya pernah menuliskan proses penerimaan terhadap masa lalu saya di postingan tersendiri. Silahkan berkunjung ke sini.

Menyusun Misi Kehidupan dan Keluarga

Setelah saya selesai dengan berbagai proses panjang agar bisa ikhlas menerima keadaan dan berdamai dengan makhluk bernama innerchild. Maka itu merupakan sebuah titik balik saya menelusuri jejak pencarian misi kehidupan dan keluarga kecil saya.

Surat Cinta untuk Suami

Diawali dengan tugas pertama yaitu menuliskan surat cinta kepada suami. Tugas ini dimaksudkan untuk merefresh kembali ingatan, mengapa dulu saling jatuh cinta dengan pasangan, dan bisa merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada pasangan. Alhamdulillah, untuk urusan menulis surat cinta bukan hal yang sulit buat saya. Maklum,saya tipe orang yang lebih suka menyatakan perasaan lewat tulisan daripada perkataan langsung. Meski tidak sesering waktu kami masih LDM (Long Distance Married) tapi bisa dikatakan lebih intense kala itu.

Kalau ditanya kapan saya terakhir membuat surat cinta? Saya membuat surat cinta beberapa hari menjelang ulang tahun pernikahan kami dan lucunya kami berdua malah lupa ketika hari H-nya. Saya menulis surat itu sebenarnya secara tidak sengaja, hanya ingin menuangkan apa yang saya rasa selama enam tahun berumah tangga bersama suami.
Nulisnya pun sembari berurai air mata mengingat betapa suabarnya suami menghadapi saya. Saya tidak pernah meminta suami saya untuk membaca surat cinta ini apalagi menggunakan kode-kode ala wanita sebab saya sesungguhnya seseorang yang ekspresif hehe.

Sedangkan suami saya ini, meski terkesan cuek dan calm rupanya diam-diam memperhatikan apa saja yang saya kerjakan. Jadilah tanpa saya meminta tiba-tiba suami berkata “makasih ya”. Tidak ada prolog dan tiba-tiba mengucap terimakasih. Sejujurnya saya tidak tahu bagimana reaksinya ketika membaca postingan saya mengenai curahan hati ini, karena dugaan saya ia membacanya ketika tengah malam atau saat tidak bersama saya. Ya! Suami adalah pembaca setia tulisan-tulisan absurd saya.

Dan inilah surat cinta terbaru saya untuk suami : Tentang Aku dan Kamu

Setelah membaca kembali rangkaian kata yang ada dalam surat itu, saya berpikir kembali mengapa kami dipertemukan, mengapa dia yang Allah pilihkan. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah salah menggariskan. Dia hadir untuk melengkapi segala kekurangan saya. Mengajarkan kepada saya untuk belajar tentang penerimaan, kepercayaan, kesabaran dan banyak hal lainnya.

Dia mampu menjadi penyeimbang diri saya yang suka meledak-ledak ketika emosi. Dia mampu menjadi penyeimbang diri yang terkadang terlalu perfeksionis dan ambisi dalam menjalani hidup. Dia yang mampu mengerem saya untuk tidak terlalu sering berlari dan lebih menikmati hidup.

Ah, selesai menuliskan surat itu, lagi-lagi saya kembali bersyukur telah dikaruniai pasangan yang sedemikian sabar. Tentu saja ia tidak sempurna, ada banyak kekurangan di dirinya, sebagaimana saya pun yang punya banyak kekurangan. Namun bukankah kita memang diciptakan untuk saling melengkapi?

Baca juga : Tentang Meraih dan Melepaskan

Memahami dan menemukan jawaban kenapa Allah pertemukan kami semakin memperkuat hati bahwasanya kami pasti bisa menjadi tim yang handal untuk menjadi fasilitator terbaik bagi pendidikan anak-anak kami, insya Allah. Kami perlu lebih banyak waktu untuk saling bertukar pikiran, bermuhasabah dan konsisten dengan standar operasional yang kami terapkan di dalam keluarga. Bismillah, insya Allah sampai surga… aamiin.

Mengenal Anak-Anak

Masa sama anak sendiri nggak kenal? Pastinya sebagai orang tua harusnya yang paling mengenali anak-anaknya ya. Semoga saya juga termasuk orang tua yang sudah bisa mengenali anak-anak dengan segala potensinya.

1. M. Zhafran Alfarisi (Faris)

Faris, dilahirkan tiga tahun enam bulan yang lalu dengan proses persalinan normal yang alhamdulillah tidak menimbulkan trauma. Kalau dibilang anak pertama selalu spesial, saya setuju. Bagi saya, Faris adalah matahari yang terbit setelah hujan badai. Kenapa? Saya diberikan amanah Faris setelah saya kehilangan almarhum Papa saya dan calon anak pertama saya. Setelah menunggu selama dua tahun akhirnya saya dipercaya oleh Allah untuk membersamainya di dunia ini.

Baca juga : Mengenal si Sulung

Dari hari pertama lahir ke dunia, Faris sudah terlihat ekspresif dan selalu ceria. Perkembangan fisiknya sangat baik sekali, ketika usia 2 bulan ia sudah bisa tengkurap dan sangat suka sekali diperhatikan. Ketika berumur 6 bulan ia sudah pandai duduk sendiri dan mulai belajar berbicara sepatah dua patah kata.

Saat belajar merangkak, Faris perlu diberi sedikit stimulasi karena sampai bulan ke-8 ia masih betah merayap dan tidak segera mengangkat badannya. Setelah diberi contoh, akhirnya dia bisa merangkak dengan benar (drama berlalu sudah). Sembilan bulanan dia mulai suka berdiri dan belajar merambat. Saat usianya setahun dia sudah berani berjalan tapi hanya di atas kasur, lagi-lagi karena trauma jatuh, ia tidak berani lagi mencoba. Barulah ketika moment lupa pegangan ia dinyatakan sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.

MasyaAllah tabarakallah, Allah menciptakan makhluk kecil yang keingintahuannya sangat besar. Dia sangat suka bertualang di alam bebas dan bertanya ini apa itu apa kenapa begini kenapa ga begitu kok bisa gitu. Panjang kali lebar pertanyaan yang diajukannya setiap hari. Memaksa kami orang tuanya untuk belajar lebih banyak agar bisa memberikan jawaban yang benar sesuai dengan umurnya.

Karena usianya yang baru tiga tahun, saya masih terus mengamati dan mencatat apa saja yang menarik baginya, kegiatan yang ia suka dan kurang suka. Faris sangat tertarik sekali dengan berbagai pengetahuan tentang hewan, alat berat, kejadian alam dan sangat visual sekali. Mengenal tempat dan mampu memetakan dengan cepat. Bahkan uniknya, ia merekam sesuatu melalui bentuknya. Seperti beberapa hari yang lalu, ia bertanya kepada saya “Mama tau nggak, ada bulan loh di Kimia Farma?“. Saya asli kebingungan dan menganggap itu hanya candaan dengan datar menjawab, “Mana ada bulan di kimia Farma, Faris? Bulan adanya di langit.“
Lalu ia menjelaskan, “Mama coba tengok logo kimia Farma itu, ada bulannya kan Ma. “ Ketika saya perhatikan kembali ternyata iya memang ada bentuk bulannya, sampai sebegitu detilnya ia memperhatikan, MasyaAllah rupanya Faris sangat visual dan detil.

Sejak lahir, Faris merupakan anak yang tidak pernah menyusahkan sama sekali. Ia tidak pernah rewel dan membuat kedua orang tuanya begadang. Penurut meskipun pandai bernegosiasi.

Ngomongin soal tantrum, alhamdulillah Faris bisa dikatakan tidak pernah mengalami tantrum. Ia sudah lancar berbicara ketika usianya belum genap dua tahun. Kemampuan berbahasanya sangat baik sehingga meminimalisir terjadinya tantrum. Saya membiasakan kepadanya untuk mengenali emosi dan belajar menyampaikannya kepada kami. Perlu proses dan kesabaran tentunya tapi jika sudah memetik hasilnya sebanding dengan pengorbanannya. Rasanya Allah begitu banyak memberikan rezeki dan karunianya. Sekarang, Faris sangat suka berdiskusi banyak hal bersama saya, mulai dari hal kecil, candaan hingga obrolan serius mengenai Allah.

Faris sangat senang diperhatikan dan didengarkan ketika bercerita atau menjelaskan sesuatu. Karena saya belum mengenalkan gadget padanya maka saya wajib memberikan waktu dan perhatian kepadanya. Membacakan buku, bermain dan melakukan pengamatan untuk mencari jawaban dari segudang pertanyaanya.

Faris sangat senang bergaul dan bertemu dengan orang baru, ia bisa langsung membaur meskipun berada pada lingkungan yang baru. Supel dan ceria itu pembawaannya. Saat bersama teman-temannya, dia pun mudah berempati dan berbagi. Dia juga mulai mengerti mengenai kepemilikan dan mempertahankannya ketika direbut paksa oleh temannya. Hanya kami perlu lebih banyak menumbuhkan keberanian dalam dirinya ketika ada temannya menggoda (mengejek).

Faris sangat suka tayangan animal series, animal er, fish tank, wicked tuna, yukon gold, science stupid dan lain-lain di chanel National Geographic. Kami tidak mempunyai jadwal khusus untuk nonton, tayangan-tayangan ini biasanya kita lihat ketika Faris sedang mencari jawaban atas pertanyaannya atau ingin memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Seperti ketika ia ingin melihat bayi gajah itu seperti apa, maka ia mengamati melalui tayangan proses kelahiran anak gajah di Nat Wild.

Berhubung masih berumur tiga tahun, kami sendiri masih menggali apa saja potensinya, apa saja minat bakatnya dengan mengenalkan berbagai macam kegiatan dan berusaha terus memberikan wawasan yang luas ketika ia mulai bertanya sesuatu. Pada dasarnya dia senang disuruh belajar apa saja, entah itu mengaji, percobaan, atau membaca, hanya saja orang tuanya yang perlu lebih konsisten dalam prosesnya. PR banget bagi saya sebagai ibunya agar bisa menjadi fasilitator yang handal dan disiplin membagi waktu untuk menjalankan berbagai macam peran di dalam rumah.

Saat ini kalau ditanya Faris nanti kalau sudah besar mau jadi apa? Faris dengan tegas menjawab “Faris mau jadi dokter hewan, Ma. Tapi kalau jadi dokter hewan gitu bisa jadi Qori juga nggak, Ma?” MasyaAllah saya terharu mendengarkan ucapannya, sepertinya dia menunjukkan minat ke arah sana. Mudah-mudahan Allah memudahkan segala langkahmu, Nak.

Saat ini Faris sedang menikmati perannya menjadi kakak. Faris dan Irbadh alhamdulillah sudah bisa kompak dan bermain bersama. Jika diingat kembali, rasanya terasa sulit untuk dilalui ketika dia beralih posisi dari anak satu-satunya menjadi seorang kakak, dia nampak begitu cemburu, sekarang pun sebenarnya masih, namun dia sudah mulai paham posisinya dan mengatasinya.

Sekarang ini, Faris sangat senang bermain bersama dengan adiknya. Bahkan jika adiknya tidur dia akan sibuk ingin membangunkan Irbadh untuk diajak bermain. Tetapi akhir-akhir ini, Faris mulai menikmati waktu belajarnya ketika Irbadh tidur.

Daya ingat Faris sangat baik. Apa yang orang tuanya katakan dia pasti ingat, apalagi kalau itu berupa reward untuknya, hehe. Baiklah, pada dasarnya Faris anak yang mudah diatur kok, saya yang perlu lebih banyak belajar untuk bisa jadi fasilitator yang baik untuknya.

2. Muhammad Harits Al Irbadh (Irbadh)

Bayi gembul berumur satu tahun enam bulan ini lagi seneng-senengnya memanjat apa saja dan mengeksplorasi semua benda di dekatnya. Belakangan ini ia sedang tertarik pada kunci, mur dan baut serta peralatan tukang Papanya. Alhamdulillah perkembangan fisik Irbadh sangat baik sejak bayi, ia sangat aktif dan kemampuan motoriknya berkembang sangat pesat.

Irbadh memiliki karakter yang keras dan kemauan yang kuat sehingga tidak bisa dilarang jika menginginkan sesuatu. Senang belajar banyak hal dan selalu ingin mencoba sendiri segala sesuatu hal yang baru. Irbadh sejak kecil memiliki selera yang berbeda dengan Masnya, ia suka diecast yang berukuran besar seperti bis, tank, dump truck dan berbagai macam kontainer.

Setiap anak tidak boleh dibanding-bandingkan karena masing-masing anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun terkadang, mengasuh anak kedua, mau tidak mau menjadikan anak pertama sebagai tolok ukur. Begitu juga saat saya merawat Irbadh, saya merasakan perbedaan yang mencolok hehe. Irbadh menonjol di kemampuan motorik dan kinestiknya. Ia sudah mahir duduk dan merangkak lebih cepat dibandingkan usia yang seharusnya.

Kemandiriannya pun terlihat jelas, meskipun baru berusia satu setengah tahun ia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan, lulus toilet training, mampu memakai sandal sendiri, mengambil minum sendiri, membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya. MasyaAllah tabarakallah.

Baca juga : Pentingnya Mengenali Gaya Berkomunikasi dengan Si Kecil

Sedangkan kemampuan bicaranya masih sesuai dengan usianya, ia sudah mulai bisa mengungkapkan keinginannya melalui dua kata yang dirangkai apabila menginginkan sesuatu. Irbadh kurang suka keramaian, namun bukan berarti tidak bisa bersosialisasi, tapi dia lebih suka mengamati terlebih dulu apakah lingkungannya aman untuk dia bergabung, apakah asyik untuk berada di tengah kerumunan itu. Ketika dia selesai mengonfirmasi dan dia merasa nyaman, dia pun sudah langsung bisa lari-larian bersama teman-teman barunya. Namun ketika ia merasa kurang nyaman, dia lebih memilih gelendotan di dekat orang tuanya atau asyik bertualang sendiri. Bahkan jika disuruh memilih antara main bersama teman atau main bersama orang tua atau kakaknya, melalui matanya yang berbinar menunjukkan kalau ia lebih suka bermain bersama Masnya atau sama Papa dan Mamanya. Semoga ke depannya kami juga tetap bisa menjadi sahabat untuk dia.

Berhubung Irbadh masih delapan belas bulan, tentu saja saya masih butuh banyak waktu untuk mengenalnya lebih dekat dan menanti potensi-potensinya muncul. Saya selalu suka menanti-nanti setiap perkembangan anak-anak, rasanya seperti bertualang mencari harta karun haha.

Melalui anak-anak saya belajar secara langsung bahwasanya anak-anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Rasa ingin tahu, semangat belajar yang tinggi, bibit kemandirian, pintar mencari solusi, pantang menyerah, rajin, sadar bahwasanya mereka adalah makhluk Allah dan semuanya sudah terinstall di dalam diri mereka. Sebenarnya kami orang tuanya, hanya tinggal menjaga fitrahnya dan mengarahkannya.

Bersyukur kami mulai berkenalan dengan ilmu-ilmu parenting dan teman-teman yang saling mendukung ketika anak-anak masih berada di usia emasnya, jadi sebagai orang tua kami bisa mengejar ketertinggalan yang ada.

Yang pasti saya percaya, anak-anak diamanahkan kepada saya oleh Allah bukan tanpa sebab, Allah memilih saya sebagai ibu dari Faris dan Irbadh pasti ada alasan yang besar. Setidaknya yang saya tahu saat ini, sayalah yang paling mengenal karakter anak-anak saya dan saya bisa menjadi sahabat untuk mereka menemukan potensinya.

Baca juga : Boneka Hafidz Media Belajar Yang Efektif Bagi Anak auditori

Lebih Dekat dengan Diri Sendiri

Terkadang kita merasa telah begitu mengenal diri sendiri, namun tidak selamanya begitu. Saya sendiri selalu bingung kalau ditanya apa potensi saya, apa keahlian saya? Bahkan rasanya lebih mudah bagi saya menemukan apa saja kekurangan saya dibandingkan menentukan potensi saya.

Kalau tidak karena kelas matrikulasi yang sedang saya ikuti ini mungkin saya juga tidak berusaha mencari tahu tentang potensi yang saya miliki.

Pada dasarnya saya suka mempelajari hal yang baru, menghubungkan informasi dengan keadaan nyatanya. Latar belakang pendidikan saya di bidang hukum, saya senang bertemu dengan berbagai macam karakter orang dan berbagi apapun bersama mereka. Selain terus mengupdate informasi terkini di bidang hukum, saya concern dengan informasi yang berkaitan dengan parenting, psikologi dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama islam karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari saya saat ini.

Meski lulusan Magister Kenotariatan, entah mengapa sekarang saya belum bisa move on dan fokus bekerja di bidang ini. Saat ini saya merasa enjoy membersamai anak-anak belajar banyak hal di rumah yang justru semakin menambah cakrawala wawasan dan pengetahuan saya. Berbagai macam pertanyaan ajaib dari anak-anak menurut saya justru lebih menarik untuk dicari jawabannya dan dijadikan bahan diskusi bersama. Ternyata dunia anak-anak mengubah saya yang dulunya sangat tidak suka jika ada anak yang bermain ke rumah menjadi lebih tertarik bermain bersama mereka. Kini saya sangat menikmati kegiatan bermain dan belajar bersama mereka. Entahlah, sejak punya anak dan belajar parenting, saya malah lebih tertarik pada pendidikan anak-anak dan ingin terus belajar agar bisa menfasilitasi mereka.

Jika dibandingkan dengan kegiatan berbicara saya jauh lebih suka menulis. Namun bukan berarti saya tidak bisa berbicara di depan umum. Dengan beberapa pengalaman kerja di bidang jurnalistik dan hukum yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan membuat saya senang berkomunikasi dengan mereka. Ketika masih menjadi mahasiswa saya juga aktif di berbagai organisasi dan LBH sehingga cukup memberikan pengalaman untuk terampil berbicara di depan umum.

Saya orang yang fleksibel. Bekerja dengan orang lain oke, kerja sendiri lebih baik hehe. Membaur dengan sekumpulan orang, hayuk. Mengikuti acara hingga selesai tanpa ada yang saya kenal satu pun tak mengapa. Pada dasarnya saya senang bergaul dan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Saya senang mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka, entah itu saudara, teman sebaya atau klien saat dulu saya masih bekerja. Dari sana saya belajar banyak hal, juga belajar menyikapi bagaimana ketika masalah yang sama hadir dalam kehidupan saya. Saya juga dengan senang hati memberikan solusi jika memang diminta.

I just love learning, terutama jika itu bisa meningkatkan kualitas diri saya. Saya tidak ingin berada di titik yang sama setiap harinya, saya haus belajar dan ingin bisa lebih baik lagi dalam kehidupan. Saya pun tidak segan untuk mengeluarkan sejumlah uang demi mendapatkan ilmu dan wawasan baru, meski saya harus menabung dulu berbulan-bulan.

Ilmu hanya akan menguap jika tidak diamalkan dan dibagikan. Oleh karenanya jika ada kesempatan untuk saya berbagi atas secuil ilmu atau informasi yang saya miliki dan bisa bermanfaat untuk sekitar pasti saya akan senang sekali. Saya senang sekali berkecimpung di berbagai kegiatan, terutama jika itu bisa memberikan manfaat tidak hanya diri saya sendiri, namun juga orang lain.

Bersahabat dengan Lingkungan dan Komunitas

Sejak tahun 2015, saya tinggal di rumah yang sekarang saya tinggali. Setelah sebelumnya berpindah dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain. Banyak suka dan duka menjadi perantau yang nomaden hehe.

Saya sangat bersyukur bisa tinggal di rumah yang sekarang. Meskipun bukan rumah milik saya sendiri, namun cukup memberikan kenyamanan untuk saya dan keluarga. Apalagi semua fasilitas di perumahan ini sangat lengkap, masjid ada dua di dekat rumah, kolam renang, dekat pasar dan pertokoan, dan lingkungan yang islami rasanya sudah cukup ideal untuk menjadi tempat tinggal dan membangun peradaban.

Sejak pindah kesini saya mulai mengikuti kajian mingguan. Dari sinilah relasi saya mulai berkembang dengan cepat. Dari komunitas homeschooling muslim, saya mulai mengenal beberapa teman yang kemudian memberikan banyak info seminar dan kelas parenting. Kemudian saya juga mengenal komunitas HomeEducation Based on Talent, Hijrah Parenting, Homeschooling Muslim Nusantara dan Institut Ibu Profesional.

Berawal dari situ saya semakin luas mengenal teman-teman yang ghiroh-nya luar biasa untuk mendalami agama dan pendidikan anak-anak. Di dunia tulis menulis saya serasa dilahirkan kembali dengan mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena, Blogger Kepri, Kumpulan Emak Blogger dan Blogger Perempuan yang banyak membantu saya mengembangkan wawasan dan konsistensi di dunia tulis menulis.

Saya mulai mempertanyakan maksud Allah mempertemukan saya dengan teman-teman saya saat ini, dan kontribusi apa yang bisa saya berikan kepada lingkungan tempat tinggal saya. Ke depannya dengan jaringan pertemanan yang saya miliki, saya berharap bisa membagikankan ilmu parenting ke para tetangga. Melihat anak-anak balita yang terkadang masih keluar rumah dengan baju minim hingga nampak auratnya, mengganti baju di luar rumah, menganggap anak-anak kecil berkelahi dan saling memukul itu wajar, remaja-remaja yang asyik dengan gadget dan game, ada suara hati yang terus memanggil-manggil untuk berbuat sesuatu.

Ya, membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Ketika orang tuanya abai, masyarakat sekitar abai, negara abai, jangan heran kalau generasi muda negeri ini mulai terkikis iman, akhlak dan semangat belajarnya. Harus ada yang mau bergerak untuk perlahan membenahi, harus ada yang mau repot untuk mengurusi anak orang lain, karena sesungguhnya dengan mengurusi anak orang lain secara tidak langsung kita mengurusi anak-anak kita sendiri dengan membangunkan tempat bergaul yang ideal bagi mereka.

Bismillah, meskipun masih samar saya mulai menemukan apa misi kehidupan saya dan keluarga di dunia ini. Semoga saya bisa memahami apa kehendak Allah dengan baik dan bisa membangun peradaban dari dalam rumah, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar saya tinggal. Tentu saja dengan tujuan untuk menggapai ridho Illahi. Aamiin.

Huft, tidak terasa sudah kepanjangan ya tulisan saya.. serasa membuat tugas akhir, hehe. Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mampir dan mau ikhlas meluangkan waktu membaca curahan hati saya ini. Semoga bermanfaat. Btw, kalau kalian sudah menemukan misi kehidupan atau tujuan spesifik mengapa kalian diturunkan Allah ke muka bumi ini belum?

Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.