Liburan bersama Keluarga dan Stimulasi Kecerdasan Anak

Siapa sih orang tua yang tidak mau dekat dengan anak? Punya hubungan emosional yang dekat dengan anak? Tentunya setiap orang tua menginginkan hal tersebut. Termasuk saya dan suami mengidamkan supaya bisa lebih dekat dengan kedua anak kami.

Salah satu cara yang bisa dilakukan tentunya adalah banyak hadir di dalam kehidupan anak. Banyak melakukan kegiatan dan aktivitas bersama dengan anak. Dengan melakukan banyak kegiatan atau aktivitas bersama-sama, baik anak maupun orang tua akan menyimpan memori indah tersebut di dalam dirinya.

Semakin banyak memori indahnya, semakin bermakna kegiatannya, maka akan terjalin ikatan batin dan emosional yang luar biasa antara orang tua dan anak. Banyak yang bilang liburan sambil bawa anak kecil itu ribet banget. Banyak barang yang harus dibawa. Siap-siap vitamin biar stamina liburan dan ngejaga anak agar tetap prima. Melelahkan tapi yang jelas sangat menyenangkan. Itulah yang keluarga kami rasakan, meskipun ‘sedikit’ repot justru kegiatan berlibur bersama anak-anak itu bikin kangen dan bikin nagih. Saya dan suami bahkan pernah pertama kali mengajak liburan anak-anak keluar kota saat mereka masih berusia di bawah 6 bulan hihi.
Tanggal merah atau akhir pekan, tentu menjadi momen yang ditunggu banyak keluarga. Sejenak rehat dari aktivitas padat, atau sekedar mencari waktu untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Siapa yang mau melewatkan? Apalagi, setelah tahu jika mengajak anak-anak untuk liburan bersama se mkeluarga ternyata bisa membuatnya lebih pintar dan bahagia. Menurut majalah parenting yang pernah saya baca dikatakan jika berlibur atau bepergian dengan anak ternyata bisa membantu perkembangan otaknya. Liburan keluarga juga bisa memperkaya pengalaman baru, melatih fisik, kognitif, sensorik hingga interaksi sosial anak. Kali ini saya ingin berbagi momen berlibur bersama anak-anak.

1. MENGUNJUNGI MUSEUM UANG
Kegiatan yang satu ini sangat murah dan terjangkau. Kebetulan ketika mudik ke rumah mertua saya mengajak anak-anak untuk jalan-jalan ke Museum Uang Purbalingga. Museum ini terletak di Jalan Raya Kutasari. Harga tiket masuk ke Museum Uang juga sangat murah. Di sini mereka bisa melihat berbagai berbagai jenis dan bentuk serta sejarah uang di Indonesia bahkan dunia. Di tempat ini berbagai mata uang mulai dari jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga mata uang jaman kini tersimpan dengan rapi. Tak hanya itu, koleksi mata uang negara-negara di dunia juga ada disini. Tercatat, ada sedikitnya mata uang 183 negara ada di Museum Uang Purbalingga. Dari kegiatan seperti ini, akan banyak sekali cerita yang bisa kita olah untuk diceritakan pada anak. Melalui kegiatan ini secara bertahap kami belajar mengenalkan uang kepada anak-anak.

2. MENCOBA PENGALAMAN NAIK KUDA
Kegiatan yang satu ini merupakan kegiatan favorit keluarga kami. Setiap berkunjung ke daerah yang menyediakan fasilitas berkuda kami tidak pernah bosan mencoba. Di Purbalingga kami mencoba naik kuda ketika berkunjung ke Sanggaluri Park pun juga ketika berkunjung ke Trenggalek.
Anak-anak bersama papanya akan dibawa berkeliling taman atau keliling jalan di sekitar hutan kota dengan menggunakan kuda. Untuk anak-anak yang masih balita dan belum berani sendiri maka kita bisa mendampingi dengan naik satu kuda bersama anak-anak. Sekali sewa kuda bisa bervariasi, berkisar Rp 20.000 hingga Rp 35.000 / satu kali keliling.

3. BERKUNJUNG KE KAMPUNG SUSU DYNASTI
Kegiatan ini kami lakukan untuk mengenalkan dunia peternakan kepada anak-anak. Agar lebih mudah dan menyenangkan maka kami melibatkan anak-anak dalam proses berternak dengan diselingi beragam aktifitas yang menarik bagi mereka. Dengan cara ini diharapkan anak-anak akan lebih mudah untuk menyerap informasi dan ilmu.

Ketika berkunjung ke Kampung Susu Dynasti anak-anak diajak untuk lebih dekat dan mengenal sapi perah. Anak-anak akan diajak untuk melihat bagaimana cara memerah sapi, memberi makan sapi, memberi susu pedet (anak sapi), bagaimana mengolah susu segar menjadi susu siap minum serta memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Selain sapi, kampung susu dynasti juga memelihara kuda, ayam, kelinci bahkan monyet. Selain melayani kunjungan dengan paket edukasi dan entrepreneurship terdapat pula paket outbound edufarm.

 

Baca Juga : 3 Theme Park Yang Wajib Dikunjungi di Kota Batu

 

4. BERKUNJUNG PERKEBUNAN KOPI VAN DILEM
Perkebunan Dilem Wilis adalah sebuah bekas perkebunan dan pengolahan kopi di jaman Belanda. Pabrik kopi ini terletak di kawasan lereng gunung Wilis tepatnya di desa Dompyong, Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menurut warga setempat pabrik kopi ini sudah ada sejak tahun 1929, yakni pada masa penjajahan Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka. Sisa-sisa dari perkebunan ini adalah bangunan pabrik pengolahan kopi peninggalan Belanda. Selain itu ada pula pohon-pohon kopi tua yang beberapa masih berproduksi. Hasil kopi inilah yang diolah menjadi Kopi van Dilem yang terkenal itu. Pemilik pabrik kopi ini merupakan warga asli Belanda yang bernama Meneer Van Dilem. Di sekitar perkebunan kopi tersebut terdapat budidaya sapi perah dan potensi wisata alami berupa grojokan. Anak-anak sangat terkesan karena dari alam mereka menemukan banyak hal untuk dipelajari. Bahkan mereka bisa menyentuh kadal atau kumbang yang biasanya hanya bisa dilihat di buku secara langsung.

5. BERKUNJUNG KE PURBASARI, AKUARIUM IKAN RAKSASA
Purbasari Aquarium yang terletak di kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, adalah salah satu objek wisata edukasi unggulan. Riverworld yang ada di Akuarium Raksasa Purbalingga ini memiliki koleksi ikan arapaima gigas terbesar yang berasal dari Sungai Amazon Brasil. Di sini anak-anak selain mengenal berbagai macam jenis ikan tetapi juga bisa bermain bersama hewan lain seperti burung kakak tua bahkan memberi makan rusa. Tak hanya itu, anak-anak juga bisa belajar langsung cara bertanam pohon buah naga. Wahana yang ditawarkan sangat lengkap mulai dari taman burung sebagai sarana pendidikan anak, dijamin anak-anak bakalan betah bermain di sini.
Planet Aquarium Toyoshuka dengan ukuran akuarium yang lebih besar dan koleksi ikannya cukup banyak. Wahana wisata air Telaga Fulus untuk main kano, perahu, sepeda air atau bebek-bebekan.
Terdapat pula taman bermain anak yang dilengkapi dengan jungkat-jungkit, ayunan, perosotan, serta sewa sepeda.
taman tempat konservasi rusa di Purbalingga. Diorama satwa, belajar mengenal fauna lewat hewan yang sudah diawetkan. Yuk Mak, rencanakan waktu untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tak tergantikan dan tak terlupakan, Jangan ragu ya Mak untuk berlibur bersama keluarga tercinta.

Festival Tidying : Papers

Bagaimana progress berbenah di rumah? Setelah berbenah buku minggu lalu, minggu ini giliran kertas yang akan dibenahi. Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, dimana kita memilah dengan tujuan menyimpan benda yang spark joy, untuk kertas ini prinsipnya sebagai berikut: “the basic rule for papers: Discard everything”. Kalau dipikir memang benar juga sih, kertas kan tipis, kita jadi cenderung menyimpan saja semua kertas yang ada di rumah. Padahal seringkali banyak tumpukan kertas di runah atau kantor yang justru sudah tidak ada manfaatnya lagi, seperti brosur, potongan tiket atau kumpulan struk belanja.

Jadi prinsip berbenah kertas ala konmari adalah buang semuanya kecuali dokumen penting. Berdasarkan materi yang saya dapat di kelas Shokyuu, dokumen dibagi menjadi tiga yaitu

1) Pending Document
adalah dokumen yang butuh tindakan dan respon seperti surat yang perlu dijawab atau tagihan yang perlu dibayar. Dokumen jenis ini perlu dibuatkan rumah tersendiri, bisa menggunakan kotak atau clear holder (album transparan) dan ditindaklanjuti dengan segera. Jadi diusahakan dalam setiap periode berkala ‘rumah’ tersebut dikosongkan. Bisa dengan membuat jadwal khusus misal hari tertentu untuk mengerjakan pending documents ini.
2) Important Document
adalah dokumen yang perlu kita simpan baik dalam waktu tertentu atau selamanya, walaupun tidak spark joy. Misalnya sertifikat rumah, kartu garansi, ijazah, kontrak.
Kita bisa menyimpan menggunakan file box atau clear holder. Kita perlu membuat pengingat khusus untuk dokumen yang ada masa berlakunya. Dan jangan lupa untuk segera membuang jika dokumen tersebut sudah kadaluarsa dan sudah tidak berguna.
3) Other Documents
adalah dokumen selain 2 kategori di atas seperti materi seminar, resep masakan dan kliping. Kita bisa menyimpan kategori ini menggunakan clear holder sehingga mudah untuk dilihat-lihat kembali bila perlu. Dokumen yang termasuk kategori ini antara lain sebagai berikut :
1. Buku petunjuk manual elektronik, bila tidak perlu sebaiknya dibuang.
2. Kartu nama atau kuitansi bisa disalin/difoto informasinya sehingga kertasnya tidak perlu disimpan.
3. Kertas yang disimpan karena nilai kenangannya bisa dimasukkan dalam kategori sentimental items.

Berikut ini kondisi tumpukan kertas yang ada di rumah sebelum proses discard

Hampir seluruh kertas bekas di seluruh rumah, saya sortir secara berkala bersama anak-anak setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Sebagian besar saya kirim ke bank sampah, ada pula yang dialihfungsikan menjadi media gambar atau membuat craft dan lain sebagainya.

Saya pun pernah membuang tumpukan bon yang sudah saya kumpulkan entah berapa lama yang nyatanya tidak terpakai lagi. Setelah itu, saya nyaris tidak pernah lagi menyimpan kertas jenis ini.

Berbenah kategori kertas ini, menurut saya rasanya tidak terlalu berat untuk dilakukan. Untuk membuang pun mudah saja, bahkan rasanya senang sekali bisa menyingkirkan kertas-kertas yang menumpuk dan tidak diperlukan lagi.

Kumpulan kertas: After. Cukup rapi kan?

Kebanyakan kertas yang saya simpan di rumah adalah kertas kerja anak-anak, flapbook belajar per tema dan hasil diy mereka. Arena tempat penyimpanannya terpisah-pisah, sehingga ketika proses berbenah saya memulai dengan menyatukan semua kertas di dalam satu tempat, seperti bisa terlihat pada gambar. Baru kemudian, saya memilah mana yang hendak dibuang dan mana yang perlu disimpan.

Setelah proses berbenah kemarin, banyak sekali kertas yang saya singkirkan seperti kumpulan bon dan tanda terima, kuitansi yang sudah tidak diperlukan, kertas isi seminar dan semacamnya. Beberapa kertas bekas yang masih terdapat sisi kosongnya saya simpan untuk aktivitas anak-anak lagi sehingga tidak perlu menghabiskan kertas baru. Ada beberapa hal yang belum dan rasanya perlu saya lakukan ketika berbenah kertas adalah membuat pending box untuk kertas-kertas yang masih perlu diperiksa, seperti bon dan kuitansi misalnya, seiring dengan niat saya untuk lebih teratur mengatur keuangan keluarga, juga rumah khusus untuk karya anak, yang dipilah dan dibatasi apa saja yang perlu disimpan atau dibuang. Terinspirasi dari tips digitalize, di mana kita bisa menyimpan kertas bernilai sentimental atau data penting seperti kartu nama dengan men-scan atau memfotonya, sebagian besar karya anak-anak mungkin bisa saya foto saja, sehingga lebih menghemat tempat dan juga lebih awet.

Untuk sementara, mumpung karya anak-anak belum terlalu banyak maka saya pisahkan dalam sebuah map karya yang ingin disimpan. Kontainer transparan saya jadikan pending box, jadi sekarang semua bon atau kertas-kertas yang perlu “dikerjakan” masuk ke situ. Konsep digitalize juga saya simpan saat nanti diperlukan. Semoga setelah tidying festival kami bisa lebih rapi dalam menyimpan kertas.

 

ANTARA TUGAS BELAJAR DAN CODE OF CONDUCT IBU PROFESIONAL

Ilmu itu didapat manakala kita mendekat dan datang pada sumber ilmu. Ilmu juga akan mudah diperoleh manakala kita antusias mencari ilmu. Sebagai seorang pembelajar kita harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati fasilitator dan fokus kepada apa yang disampaikan maka harapannya bisa menuai ilmu dengan lebih banyak. Dalam proses belajar seorang pembelajar tidak boleh sok tahu, dan menyepelekan materi meskipun sudah pernah dipelajari. Mau tidak mau kita harus mengosongkan gelas agar ilmu yang diperoleh lebih berkembang.
Apabila ditanya kenapa saya mengambil

kelas belajar bunda sayang? Ini merupakan salah salah satu komitmen diri untuk mencapai tujuan belajar yang sebelumnya saya jabarkan dalam nice homework kala belajar di kelas matrikulasi. Salah satu tujuan khusus saya belajar di kelas bunda sayang adalah untuk memahami ilmu pengetahuan dasar dalam mendidik anak dan mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya pas sekali saya menempuh kelas ini bersamaan dengan tahapan tumbuh kembang anak-anak. Strategi yang harus saya persiapkan untuk menuntut ilmu di kelas belajar ini antara lain

1. Time Management
2. Mengikuti Kajian Keagamaan
3. Belajar Parenting dan Kelas Belajar sesuai suka bisa
4. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital
5. Networking.

Baca juga : Refleksi Diri 2018

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, ada beberapa sikap yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. Berkaca dari kelas-kelas belajar yang sudah dan sedang saya jalani maka saya pikir ada beberapa hal yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan lebih berkah dan bermanfaat antara lain:

1. Memperhatikan waktu kehadiran dan membuat alarm khusus untuk masing-masing kelas belajar
Saya berusaha untuk lebih aktif dan sebisa mungkun sebelum fasilitator atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di ruang belajar.

2. Mengosongkan gelas
Ilmu akan terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan meskipun materi yang dibahas sudah pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru
Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan agar bisa menuai ilmu lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus
Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Bagi saya yang visualis mengikat ilmu akan lebih melekat jika dicatat kembali dalam jurnal. Selain itu saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah disimpan ke dalam drive dan dibagikan kembali. Poin penting yang harus diperhatikan adalah dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital sehingga saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Gambaran Belajar di Kelas Bunda Sayang

Ketika berdiskusi ada kalanya Fasilitator menyampaikan jawaban yang dirasa kurang tepat, sebagai seorang pembelajar yang baik hendaknya kita mencoba memahami karena fasilitator pastilah memiliki panduan dan referensi yang bersumber dari dapur nasional. Apabila ada hal yang masih mengganjal kita bisa menyampaikan kepada fasilitator secara pribadi dan bersikap lembut serta beradab di dalam menyampaikan. Sesungguhnya menerima nasehat itu diperumpamakan seperti membuka pintu. Pintu tak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang tepat. Oleh karena itu, harus ditemukan kunci untuk membuka hati yang tertutup. Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat kecuali nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Ketika jadwal diskusi di dalam kelas belajar sudah ditetapkan, materi sudah diposting di GClassroom, kemudian review diskusi pun sudah tersedia, maka yang perlu dilakukan sebagai pembelajar yang beradab baik adalah membuat mind mapping sesuai dengan gaya belajar saya ke dalam jurnal belajar. Catatan penting dalam bentuk digital saya simpan ke dalam drive khusus selama belajar di kelas bunda sayang yang nantinya saya jadikan referensi belajar dan mempraktekkannya. Di setiap level, nantinya akan ada tantangan 10 hari, dimana kita sebagai pembelajar
perlu menuliskan pengalaman dalam melakukan tantangan yang diberikan. Tentunya kita ingin bisa tepat waktu dalam menyetorkan tugas yang lebih bermartabat. Membuat setoran asal-asalan agar tepat waktu sangat tidak dianjurkan jika kita sudah berkomitmen dalam proses belajar. Kalaupun terdapat kendala sebaiknya dikomunikasikan kepada fasilitator dan kita harus berusaha mengatur waktu dengan baik agar bisa membuat tugas yang berkualitas dan bisa tepat waktu. Dalam proses belajar pasti banyak materi belajar yang bermanfaat, namun sebagai pembelajar yang beradab dan terikat code of conduct sebuah institusi belajar maka sikap yang lebih bermartabat sebaiknya kita menulis review dari sudut pandang sendiri serta menyertakan sumber referensi materi atau pustaka yang mendukung tulisan tersebut. Ada kalanya setelah membagikan tulisan bermanfaat kita mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan kelas bunda sayang secara pribadi namun dalam hal ini saya tidak mempunyai hak untuk mengajarkannya. Untuk mengisi di kelas belajar ibu profesional seseorang harus melalui tahapan belajar (training) tersendiri. Apabila kegiatan domestik dan ranah publik dirasa semakin padat, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan maka cuti atau mengundurkan diri, dibolehkan. Etika yang perlu diperhatikan ketika
ingin mengajukan cuti atau mengundurkan diri adalah menyampaikan kepada fasilitator dengan santun kendala dan alasan apa yang mendorong kita sehingga memutuskan untuk cuti atau mengundurkan diri. Bagi saya pribadi, mindset dan sugesti dalam diri itu penting demi tercapainya suatu tujuan yang ingin kita capai. Jangan pernah berpikir untuk berhenti karena kita harus ingat apa yang membuat kita memulai. Sedangkan kuota Bunda Sayang terbatas, banyak IPers yang ingin mengikuti perkuliahan namun tidak mendapat kuota. Sementara itu, ada peserta yang sudah terdaftar, tapi mundur di tengah jalan maka konsekuensi yang harus diterima oleh member yang terpaksa mundur apabila ingin belajar kembali di kelas ibu profesional harus memenuhi syarat dan ketentuan berlaku. Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan Allah mampukan dan mudahkan ikhtiar saya dalam proses belajar di universitas kehidupan ini 😇

Tidying Festival Book

Setelah berbenah pakaian, tahap selanjutnya di Tidying festival adalah berbenah Buku. Kegiatan berbenah pada tahap ini ada kesulitan tersendiri bagi saya karena buku pribadi merupakan salah satu barang spesial bagi saya. Buku-buku pribadi yang masih saya simpan adalah buku yang saya beli ketika saya kuliah kenotariatan. Ketika saya memutuskan untuk resign dan mendampingi anak-anak di rumah, buku-buku ini saya packing kembali ke dalam kardus. Sambil berdo’a kala itu semoga buku-buku ini masih membawa kebermanfaatan kelak jika saya mengambil peran itu kembali.

Bagi saya tidying festival book ini lebih sulit daripada pakaian, karena buku-buku yang saya simpan merupakan pedoman berpraktek dan tidak mudah menyingkirkan buku yang, kalau dalam istilah Konmari: tidak spark joy, termasuk buku-buku yang rencananya akan dibaca tetapi pada kenyataannya tidak akan pernah dibaca 😆 Ini masalah waktu dan prioritas, hiks. Saat ini saya memang memilih fokus untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah terlebih dahulu dan belum mengambil peran di luar rumah.

Seperti saat berbenah pakaian, berbenah buku ini bisa dibilang bagai menemukan jati diri. Kita hanya memilih buku yang dirasa paling sesuai dengan kita, paling kita sukai dan membuat kita senang membaca serta menyimpannya. Setelah membuat jadwal beberes bersama anak-anak, akhirnya saya membongkar rak buku kami (saya dan anak-anak). Tentunya setelah difoto sebelumnya untuk tugas ini 😁 Bagian rak yang berisi diecast merupakan area suami jadi silahkan diabaikan sampai si empunya ada waktu untuk berbenah😂

Sebelum pindah ke Batam, saya sudah mensortir buku-buku yang penting dan menjadi pegangan saja (kala itu belum kenal konmari). Semenjak tinggal di Batam saya tidak pernah menumpuk buku lagi, bahkan pernah saya membeli buku karya teh Kiki Barkiah dan selesai dalam waktu satu minggu (ini rekor bagi saya yang punya batita dan bayi) setelah itu saya kirim ke rumah baca. Ya! Kita memang harus mengubah mindset. Kalau buku yang kurang spark joy lebih baik disumbangkan ke rumah baca saja. Lalu bagaimana persiapan kami untuk berbenah lemari buku? Sama dengan merapikan pakaian, langkah pertama merapikan buku adalah memilih buku berdasarkan spark joy.

1. Kumpulkan semua buku yang kita miliki di satu spot.

Pastikan semua buku terkumpul di spot itu. Cek lemari, dapur, kamar tidur, meja, kolong sofa, kolong tempat tidur, mobil dan lain-lain. Jika saat selesai proses dicluttering kita baru teringat ada buku yang tertinggal, maka buku tersebut ikut didiscard karena bisa dipastikan tidak spark joy lagi. Seandainya masih ada spark joy, tentu kita akan ingat sejak awal proses ini.

2. Pisahkan buku-buku berdasarkan kepemilikan

Buku-buku di rumah saya pisahkan terlebih dahulu mana yang punya saya, suami, dan anak-anak. Suami hampir tidak pernah mengoleksi buku lagi wkwk, sedangkan saya menyimpan beberapa buku penting untuk panduan mengajar anak-anak, sementara milik anak-anak kami putuskan bersama mana saja yang akan disimpan.

3. Buat kategori buku

Menurut metode konmari, cara menyimpan buku ada dua yaitu dengan menyimpan by location atau by category. Jika buku yang kita miliki terlalu banyak maka kita bisa membuat kategori dulu, contoh: buku agama, tutorial, komik, novel, majalah, buku sekolah, buku kantor, dll. Lalu pilih per kategori, buku mana saja yang akan kita simpan.

4. Pegang satu per satu dan rasakan apakah buku ini spark joy. Ingat ya cukup dipegang saja, tidak perlu dibaca agar kita tetap fokus pada proses berbenah. Jika ada buku terdapat spark joy maka simpanlah. Jika tidak ada spark joy maka buku tersebut dapat kita discard. Banyak yang merasa kesulitan melakukan ini karena khawatir kalau-kalau nanti bukunya akan dibaca lagi. Padahal bisa dijamin, bahwa buku yang tidak spark joy, tak kan mungkin kita baca kembali. Maka untuk apa disimpan, lebih baik dijual kembali atau didonasikan.

5. Letakkan buku dengan posisi berdiri

Buku-buku yang spark joy diletakkan di rak buku sesuai dengan pilihan keluarga. Posisi buku saat penyimpanan adalah berdiri, bukan ditumpuk-tumpuk. Aturan dasar menyimpan barang ala konmari adalah “letakkan barang-barang yang sejenis dalam satu lokasi”. Tetapi tidak demikian untuk buku. Buku bisa diletakkan di tempat dimana kita membutuhkannya. Misal: majalah resep bisa kita letakkan di dapur, sementara Alquran dan tafsir kita letakkan di tempat sholat.

Setelah tidying festival buku akhirnya terlihat lebih jelas, minat saya ada pada buku yang seperti apa, bidang dan genre apa saja. Justru ketika memilah buku anak-anak kami bingung mau menyimpan yang mana saja sebab anak-anak sangat antusias, kebanyakan buku-buku yang disimpan di rak membuat mereka sangat bersemangat karena mereka suka sekali isinya, dan biasanya dibaca berulang-ulang. Hal ini membuat kami sulit menyortir koleksi buku anak yang ada. Sempat juga ada buku yang ragu mau saya keluarkan dari koleksi. Ada yang baru dibaca sebagian ada juga yang masih dalam plastik alias belum pernah dibaca sama sekali. Tapi pada akhirnya berhasil saya letakkan di tumpukkan yang akan disingkirkan. Rasanya lega juga ya ternyata, alhamdulillah😊

Terima kasih untuk semua buku yang pernah mengisi hari dan hati ini. Baik yang sudah selesai atau belum dibaca, yang disimpan atau disingkirkan. Gimana kira-kira sudah spark joy belum ya rak buku kami?

Tidying Festival Clothes Bersama Anak-Anak

kondisi lemari kami setelah tidying festival clothes

Penataan isi lemari yang rapi ternyata berpengaruh terhadap efisiensi waktu. Karena nggak akan ada lagi waktu yang terbuang hanya untuk ngubek-ngubek isi lemari bahkan mencari barang yang hilang atau terselip. Dengan mengikuti kelas berbenah ala konmari, saya berusaha mempraktekkan ilmu yang saya peroleh dalam kesehariannya dan semoga nantinya kami sekeluarga pun dapat menjaga konsistensi kerapian isi lemarinya tersebut.

Bicara soal efisiensi, pasti kebanyakan dari kita pernah ngerasa baju yang kita punya hanya sedikit. Namun, ternyata baju yang kita cari selama ini nyelip dan ngumpet diantara baju-baju yang terlipat asal-asalan? Bahkan kadang setelah pusing memilih baju yang akan dipakai, bisa jadi kita juga cenderung menyimpannya kembali tetapi nggak dalam kondisi semula. Biasanya kita yang punya banyak baju di rumah justru bingung mau pakai baju apa karena rasanya kok kayak nggak punya baju. Adakah yang familiar dengan hal ini? Atau justru lagi ngerasain hal kaya gini juga? Kali ini saya akan berbagi cerita tentang perubahan yang saya alami setelah berbenah menggunakan metode konmari, bagaimana mengkategorikan dan menyimpan pakaian yang kami punya.
Berikut ini kebayakan permasalahan penyimpanan baju yang dirasain oleh saya atau bahkan sesama perempuan lain di luar sana. Mulai dari tempat penyimpanan yang terlalu kecil, lemari baju yang berantakan terus, banyaknya baju tapi bingung mau pakai yang mana atau bisa ngabisin waktu lama cuma untuk nyari atasan yang kelupaan disimpan di mana? Lucunya hal ini nggak cuma dirasain sama pemilik tempat tinggal yang mini tapi juga bahkan sama orang-orang yang punya media penyimpanan dengan luasan yang cukup besar.
Ada yang bilang kalau punya lemari yang teratur dan rapi itu adalah jalan menuju kamar, rumah dan hidup yang lebih baik. Karena setidaknya kita akan menghemat waktu setiap paginya untuk mencari baju dan berfikir pakai baju apa hari ini. Otomatis jadi tambahan waktu untuk bisa ngerjain aktivitas lainnya dan bisa punya me time lebih!

Ada dua tipe penyimpanan yang biasa kita temuin di Indonesia yaitu lemari tertutup dan open closets. Lebih kurangnya tentu beda-beda dari masing-masing tipe. Tapi tipe apapun yang kita miliki di rumah, mau penyimpanan terbuka ataupun lemari tertutup, umumnya ada empat area yang perlu disiapkan untuk mengorganisir pakaian di rumah. Drawers, shelves, hooks dan hanging. Empat area ini, kurang lebih sudah bisa mengakomodir kebutuhan berbagai macam bentuk pakaian dengan berbagai macam materialnya. Nah, melalui proses declutter saya juga jadi merasakan pentingnya mengenal bahan dan pakaian sendiri. Bukan sekedar senang membeli dan memakainya bahkan mengoleksi, tetapi juga dengan mengetahui material dan cara merawatnya. Di rumah kami hanya punya dua lemari pakaian yang dipakai bersama dengan anak-anak. Secara general, saya membagi area penyimpanannya sebagai berikut:

Drawers: Laci bawah diisi dengan baju anak-anak.
Shelves: Rak atau ambalan lemari diisi dengan baju milik suami, biasanya baju rumah dan baju santai seperti kaos, celana pendek, celana boxer, baju olahraga. Setiap segmen dimasukkan ke dalam box yang berbeda. Karena jumlah pakaian yang kami miliki hanya sedikit jadi tidak makan banyak space.
Hanging: Bar gantungan dalam lemari kami gunakan untuk menggantung jaket,blouse,kemeja, dan coat.

Kalau hal-hal di atas ini udah diterapin insyaAllah nggak ada lagi kondisi berantakan dan susah untuk mencari baju.

CLEAN UP AND CLEAR OUT
Langkah yang mungkin paling membantu adalah dengan men-declutter isi lemari.

Metode KonMari menggunakan joy (kebahagiaan/kesenangan/kegembiraan) sebagai parameter dengan mempertimbangkan value-value yang dimiliki oleh setiap benda. Ketika melalui proses ini kita bisa mengambil satu persatu pakaian, lalu tanyakan pada hati : “Does it spark joy?”

Kita harus merasakan dengan seksama sebelum benar-benar memutuskan. Kemudian kita dapat membuat 2-6 kotak/kategori :
1. Keep (simpan)
2. Toss (buang)
3. Donate/giveaway (sumbangkan/berikan pada orang lain)
4. Recycle (Didaur ulang)
5. Repurpose dan Upcycle (Diubah menjadi sesuatu yang lain dan bermanfaat)
6. Sell (Dijual)

Catatan : minimal harus ada 2 kotak untuk keep and toss.

Ini hasil sortir pakaian yang kurang Spark Joy. Baju dan tas ini akan kami donasikan ke Lombok

Contoh pakaian yang bisa di-repurpose: daster jadi lap, kaos jadi sarung bantal. Namun yang harus digaris bawahi, dalam hal ini bukan downgrading ya 😁. Jadi ada proses disitu. Misal untuk membuat lap dari daster, dibuang dulu bagian lengan dan atasnya. Jadi dasternya pun berubah menjadi lap yg lebih berkelas. Lebih spark joy ✨

SIMPAN BARANG SELEVEL MATA
Ini sebetulnya untuk mempermudah ketika mau ambil pakaian, sih. Menyimpan barang yang sering dipakai sesuai level mata bisa mempermudah mata untuk mendeteksi barang apa aja yang kita punya dan membantu memutuskan untuk pakai baju apa hari ini. Eh tapi hati-hati ya, barang yang disimpan di bagian atas dan bawah pun sebisa mungkin terjangkau tangan dan dapat terlihat oleh mata.

BOXES, CONTAINERS AND DIVIDERS

Barang-barang ini yang benar-benar membantu saya untuk membuat isi rumah saya rapi, termasuk dalam urusan penyimpanan pakaian. Saya hanya memiliki satu box penyimpanan baju, satu box untuk kaos kaki dan menstrual pad dan satu box kecil untuk pakaian dalam. Ah, hidup terasa sangat sederhana. Untuk penyimpanan laci, box atau container saya merekomendasikan banget untuk melipat pakaiannya secara vertikal ala Konmari. Dengan mengaplikasikan cara ini untuk penyimpanan pakaian anak mereka pun jadi lebih mudah untuk mencari dan mandiri mengambil serta memakai pakaian mereka sendiri.

COLOR COORDINATION
Dalam konmari kita boleh menyusun pakaian sesuai dengan gradasi warna dari terang ke gelap dan ketebalannya, namun saya belum sempat mencoba menerapkan color-coordination untuk isi lemari baju. Walaupun warna bajunya itu-itu aja, sebenarnya ini dapat membuat lebih spark joy dan membantu banget dalam pemetaan beli baju baru, mix and match dan lain-lain.

Berikut ini tips yang saya peroleh dari kelas KKI dan perlu dicoba ketika pelaksaan tidying clothes

1) Bila sangat sulit untuk memutuskan hanya dengan menyentuhnya, boleh dipakai. Namun, tidak semua pakaian harus dicoba karena akan memerlukan waktu yang banyak.

2) Pakaian yang ber-genre “what if” sebaiknya tidak perlu disimpan. Contohnya pakaian yang tidak muat namun akan muat bila lebih kurus. Kenapa? Karena berpotensi menjadi penyebab kita melihat diri kita menjadi kurang spark joy. Bila kaitannya dengan ukuran pakaian vs ukuran tubuh, boleh disimpan sebagai motivasi, tetapi pilih 1 saja 😉 Bila pakaian anak misalnya ingin untuk adiknya, boleh disimpan bila memang perencanaan kehamilannya cukup dekat. Namun, jika rencana hamilnya cukup lama misal 5 tahun lagi, maka sebaiknya tidak perlu disimpan.

3) Menyetrika pakaian apakah perlu? Tergantung kebutuhan, bila ingin, boleh. Tidak juga ya boleh. The battle is yours 😂.

4) Pakaian anak siapa yang mengerjakan proses declutternya? Bila anak sudah bisa memutuskan, ajak serta. Bila masih belum bisa, maka dapat dikerjakan oleh orangtuanya.

5) Pisahkan terlebih dahulu semua pakaian yang berbau nostalgia. Kerjakan nanti di akhir bersamaan dengan sentimental items.

ini storage untuk penyimpanan cloth diaper anak saya

Langkah selanjutnya adalah menentukan “rumah” untuk masing-masing kategori pakaian. Setelah kita melipat dan membagi pakaian menjadi beberapa kategori seperti atasan, bawahan, atau kaos, celana panjang, celana pendek, rok, pakaian dalam, kerudung, jaket, aksesoris, sprei dan handuk, langkah selanjutnya menentukan “rumah” mereka masing-masing. Dengan melihat dan mengetahui deretan pakaian yang kita punya, tentu saja mempermudah dalam menentukan jumlah storage yang dibutuhkan. Sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jangan sampai membeli storage yang ternyata malah tidak terpakai karena ukuran atau jumlahnya tidak sesuai dengan pakaian yang kita punya. Namun jika tidak ada budget khusus, kita bisa berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah seperti dus-dus bekas atau memodifikasi storage yang sudah kita punya. Kalau saya dalam hal pemilihan storage biasanya memilih beli di flea market merk ikea atau miniso murah meriah dan masih sangat bagus untuk dipakai lagi. Sebenarnya kalau punya waktu luang boleh ber-diy ria bersama anak-anak tetapi setelah saya pertimbangkan lebih baik pakai yang sudah ada saja, beli di pasar seken aviari dengan rate harga sepuluh sampai dengan tiga puluh ribu rupiah per item. Sangat worth it kan?

Hasil lipatan pakaian yang Spark Joy ala #KonMari dalam penyimpanan sementara

Setelah mempersiapkan rumahnya, saatnya berkreasi dan menata lemari ala #konmarimethod. Satu pekan rasanya belum cukup buat berkreasi dan jujur belum 100% spark joy karena banyaknya iklan tetapi sejauh ini saya puas dengan perubahan yang terjadi. Sangat terasa perbedaannya antara belajar melalui tutorial dan belajar melalui pendampingan di kelas KKI. Alhamdulillah, anggota keluarga pun menjadi lebih aware jika ada barang yang belum masuk ke “rumahnya” masing-masing. Anak-anak pun sudah terbiasa memilih dan mengambil pakaian mereka sendiri tanpa harus manggil-manggil mamanya lagi.

Gimana kira-kira..udah spark joy belum yaa lemari pakaian kami…

Belajar Menyusun Manajemen Waktu (Time Management) ala Ibu-Ibu Pembelajar

Apa sih manajemen waktu itu? Sepertinya sudah bukan hal baru dan tidak asing lagi bagi kita semua berkaitan dengan istilah ini. Sejak duduk di bangku sekolah pastilah kita sudah akrab dengan berbagai rutinitas harian baik di rumah maupun di sekolah. Bertambahnya usia dan aktifitas pun membuat kita semakin tertantang untuk mengatur ritme kegiatan harian kita sesuai dengan jumlah waktu yang Allah pinjamkan kepada kita.

Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk beramal shalih.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa.

Manajemen waktu adalah cara yang dapat kita lakukan untuk menyeimbangkan waktu yang kita punya untuk kegiatan belajar atau bekerja, bersenang-senang atau bersantai, dan beristirahat secara efektif. Tanpa disadari, setiap hari kita sesungguhnya sudah membuat beberapa keputusan terkait manajemen waktu. Misalnya, saya memutuskan kapan akan pergi ke pasar, mengajar anak-anak, membaca buku dan belajar di rumah, berolah raga, beribadah, mengunjungi perpustakaan, bersantai, berdiskusi dengan teman, dstnya. Semua putusan ini berperan penting di dalam penyusunan strategi manajemen waktu yang kita miliki.

Jika kita dapat menyeimbangkan waktu, maka harapan hasilnya adalah konsentrasi akan meningkat, organisasi waktu pun akan lebih baik, produktifitas akan meningkat, dan yang terpenting tingkat stress akan terkurangi. Dengan menata waktu anda secara lebih baik maka kita akan menemukan keseimbangan antara kapan harus belajar, bekerja, bersantai, dan beristirahat yang akhirnya akan membuat hidup menjadi sedikit lebih muda dan bahagia.

Jika kita pernah ada dalam situasi kerap terlambat datang ke beberapa acara/kegiatan penting, lupa ada kelas yang harus kita hadiri, lupa sama sekali bahwa ada pertemuan tertentu yang harus kita ikuti, membuang-buang waktu tanpa hasil yang jelas, mengerjakan tugas secara terburu-buru karena terpepet oleh dead-line, atau sehari menjelang ujian merasa panik karena merasa belum selesai membaca bahan pelajaran untuk dijelaskan kepada anak-anak, atau tiba-tiba merasa waktu untuk bersantai hilang sehingga menjadi tertekan atau stress, maka itu gejala bahwa kita membutuhkan perubahan manajemen waktu yang lebih baik.

Ubah Mindset Baru! Jangan berpikir : “Selalu ada waktu.” Kebanyakan kita cenderung membuang peluang karena berpikiran bahwa “selalu ada waktu”. Hal ini justru membuat pekerjaan kita menumpuk dan membuat kita semakin stress. Jadi, mari kita ubah mindset menjadi : “waktu adalah prioritas”. Buatlah prioritas pekerjaan kita untuk besok hari sebelum tidur.

PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU

Mengatur waktu secara rapi dan efektif bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi berupaya untuk mentaatinya secara konsisten dan persisten. Sebagai ibu (muda) dan pembelajar tangguh, kita pasti akan memiliki sekian banyak kegiatan dan tantangan baru, peran dan sekaligus tanggung jawab serta prioritas lain yang harus kita lakukan. Semua kegiatan dan tuntutan itu akan selalu bersaing merebut waktu dan perhatian kita. Masa adaptasi dari masa dewasa muda yang sebelumnya menjalani pendidikan di kampus atau dunia kerja ke masa dewasa sebagai orang tua muda yang mulai membuat dan menuntut terjadinya perubahan besar di dalam menata manajemen waktu kita. Perubahan-perubahan besar itu antara lain karena beberapa hal berikut ini:

1. Meningkatnya peran dan tanggung jawab untuk belajar mandiri;
2. Banyaknya aktivitas baru yang harus diikuti, misal kelompok belajar baru, kegiatan komunitas, kelompok ibu-ibu di dalam atau di luar komplek perumahan;
3. Teman-teman dan pengalaman baru;
4. Tuntutan untuk lebih banyak mengambil putusan mandiri tanpa campur tangan dari suami atau keluarga;
5. Tempat tinggal dan lingkungan baru;
6. Kebutuhan yang lebih besar untuk misalnya melakukan hal-hal rutin sehari-hari secara mandiri, misal berbelanja, memasak, mencuci, membersihkan rumah, membayar beberapa tagihan rutin;
Mungkin pula ketika kita yang memilih bekerja paruh waktu atau mengurus keluarga yang tinggal bersama kita.

CARA MEMPERBAIKI MANAJEMEN WAKTU

Kunci dari manajemen waktu adalah perencanaan alias planning! Tanpa ini, kita tidak akan pernah berhasil menata waktu apalagi meraih hasil optimal. Betapapun enggannya kita karena terkesan membosankan, namun menyusun daftar panjang kegiatan ini-itu yang harus dilakukan, menyisihkan waktu sejenak untuk berpikir mana dari daftar itu yang harus dipilih terlebih dahulu untuk dilaksanakan esok hari, lusa, minggu depan atau bulan depan, adalah momen paling kritis bagi kita untuk mengontrol waktu ‘hidup’ diri sendiri.

ini contoh timeline belajar saya di kelas shookyu Konmari Indonesia

Berikut ini langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk membantu proses menyusun atau memanajemen waktu:

1.Buatlah buku agenda atau kalender atau catatan khusus, baik secara manual ataupun elektronik. Saya biasanya menggunakan aplikasi android school planner atau my study life di handphone untuk memudahkan dalam pencatatan kegiatan sehari-hari.
2. Tulis semua tanggal, hari, waktu yang berkaitan dengan kegiatan belajar kita. Misal, tanggal ujian, tanggal deadline menyerahkan tugas kelas, tanggal terakhir batas pembayaran uang kuliah, dstnya.
3. Tulis semua tanggal, hari, dan waktu untuk kegiatan yang bersifat sosial dan personal. Misal, kapan punya janji untuk konsultasi ke dokter, kapan harus bayar tagihan listrik air, tagihan uang sewa rumah, jadwal kompetisi olah raga, jadwal untuk pulang ke rumah orang tua di daerah, atau untuk berkunjung ke sanak famili, dstnya;
4. Susun prioritas kegiatan yang terdapat di dalam daftar b dan c di atas, mulai dari yang paling utama hingga paling tidak utama, sehingga menghasilkan sebuah jadwal rutin mingguan. Contoh, kita dapat menyusun jadwal dengan membagi serangkaian kegiatan sehari-hari kita ke dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
a. penting mendesak (sebagai prioritas paling utama) misalnya mendampingi anak, menjemput anak/orang tua.
b. penting tidak mendesak (prioritas tetapi waktunya masih flexible sesuai dengan komitmen yang kita buat) misalnya, kegiatan kuliah dan tugas di kelas online. Seperti saya saat ini terdaftar ke dalam tiga ruang belajar yaitu kelas bunda sayang, shookyu class konmari indonesia dan kelas belajarzerowaste.
c. Tidak penting mendesak misalnya, interupsi yang tidak perlu.
d. Tidak penting tidak mendesak misalnya hal remeh temeh, main game, nonton film atau kebanyakan googling yang tidak jelas.
6. Pastikan jadwal rutin mingguan kita itu terdiri dari perpaduan yang seimbang di antara komponen/kelompok di atas. Di titik inilah kita harus belajar bijak untuk secara hati-hati tapi bersungguh-sungguh memilih mana yang menjadi prioritas pertama, kedua, dan seterusnya. Ingat, bahwa bagaimanapun kita sedang menjalani proses mendidik sebuah generasi sehingga sudah layak dan sewajarnya jika kita meletakkan aktivitas nomor 1 di atas di tempat tertinggi. Di sinilah makna penting dari keseimbangan, maksudnya kita harus belajar menyusun jadwal yang isinya seimbang di antara keempat kelompok di atas. Perlu diketahui bahwa tujuan penyusunan jadwal rutin mingguan tersebut bukanlah agar semua aktivitas itu terlaksana, melainkan lebih pada memastikan bahwa hal-hal yang butuh untuk dikerjakan terlebih dahulu pada akhirnya memang benar kita lakukan.
7. Pastikan bahwa kita mematuhi jadwal rutin mingguan yang telah disusun. Misal, hadir di kelas pada semua perkuliahan, kerjakan tugas dan belajar mandiri yang telah terjadwal,serta hindari kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination).

Baca juga : Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal

Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

PEDOMAN MENYUSUN MANAJEMEN WAKTU

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai pedoman untuk menyusun manajemen waktu yang baik.

1. Cukupkan waktu tidur antara 6 – 8 jam/per hari.
2. Upayakan jadwal aktivitas anda. berlangsung antara pukul 06.00 – 22.00 WIB.
3. Tiap minggu jadwal harian berisi 4 kelompok aktivitas dalam uraian nomor 4 di atas.
4. Jadwalkan bahwa waktu belajar mandiri kita minimal 14 jam/per minggu (di luar waktu kuliah di kelas).
5. Rencanakan waktu belajar mandiri atau sekedar membaca buku maksimum 2 jam/perhari.
6. Selang-seling topik belajar mandiri secara teratur jika misalnya kita memutuskan bahwa dari jam 13.00 hingga 15.00 adalah waktu belajar mandiri (maksudnya kita tidak menghabiskan waktu dua jam hanya untuk belajar satu topik).
7. Ketahui diri kita apakah sebagai ‘morning person’, ‘night owl person’, atau ‘late afternoon person’ untuk memastikan bahwa jadwal tersebut sesuai dengan irama kerja dan ‘jam biologis’ kita.
8. Luangkan waktu untuk istirahat sejenak di tengah waktu belajar (misal, istirahat tidak lebih 10 menit dari setiap jam).
9. Latih dan biasakan diri untuk mengerjakan sesuatu cukup sekali, alias menghindari kebiasaan untuk mengulang-ulang. Misalnya membaca teks tentang suatu topic sedapat mungkin cukup 1 kali tetapi dengan memastikan kita paham dan ingat apa isinya, kalau perlu sekalian membuat catatan atau diagram.
10. Hindari mitos bahwa untuk dapat memahami isi sebuah bacaan, kita harus membacanya 2-3 kali.
11. Belajar untuk focus atau konsentrasi, tanpa jeda untuk waktu minimal 15-20 menit; kemudian ditingkatkan menjadi fokus selama 30-50 menit tanpa jeda. Hal ini diperlukan sekali terutama untuk membantu kita mendengarkan fasilitator menjelaskan di kelas, mencatat, membaca, dan menulis. Ingat, membaca dan menulis tugas belajar membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan jika kita menulis surat biasa, membaca majalah, komik, atau apalagi menulis email, twitter atau sejenisnya. Kadang kala perlu untuk menyusun jadwal mingguan di mana 1 hari di antaranya bersih dari tugas-tugas.
12. Biasakan untuk melakukan hal-hal kecil dan ‘remeh atau ringan’ di sela-sela waktu istirahat atau ketika kita sedang menunggu sesuatu. Misal, merespon pesan elektronik dapat dilakukan hanya ketika kita istirahat atau ketika kita menunggu untuk bertemu dokter, teman, mengantri di loket, dll.
13. Belajar dan membiasakan diri untuk berani menolak ajakan atau mengatakan ‘tidak’ pada teman, sahabat, sanak famili ketika mereka mengundang atau mengajak melakukan satu kegiatan tertentu yang dapat mengacaukan manajemen waktu kita. Demikian pula untuk menolak keluar rumah menjelang hari ujian; atau ajakan untuk melakukan beberapa komitmen secara bersamaan.
14. Mintalah teman, sahabat, dan sanak famili untuk menghormati manajemen waktu yang kita punya juga serta buatlah mereka paham bahwa mereka tidak bisa setiap saat mengganggu kita atau meminta berkomunikasi dengan kita setiap saat semau mereka ketika kita sedang ada kegiatan lain.
15. Isolasikan diri sendiri agar dapat berkonsentrasi atau fokus belajar (membaca atau menulis), dengan misalnya: menutup pintu kamar, mematikan perangkat audio visual, mematikan telepon seluler, berhenti merespon email atau pesan elektronik, twitter, facebook atau sejenisnya.
16. Bersikap realistis dan cukup fleksibel, jangan kaku. Menyusun jadwal yang amat ketat dan memaksa untuk mematuhinya secara kaku justru dapat membuat kita pada akhirnya menjadi jenuh, dan kehilangan gairah (passionate) belajar sehingga menjadi kontra produktif.

Pada tahap awal kita melakukan perubahan, mungkin kita merasa amat sulit menyusun manajemen waktu dan berat sekali tuntutan yang harus kita penuhi, tetapi pada kesempatan selanjutnya mungkin akan kita akan merasa sedikit lebih longgar, dinamis, dan lebih fleksibel. Hal ini terjadi karena kita sudah terbiasa, mengenal lingkungan lebih baik, mengenali kebiasaan diri sendiri, dan juga kita bertambah dewasa.

AGAR TERHINDAR DARI KEBIASAAN PROCRASTINATOR?

Procrastinator adalah orang yang amat suka menunda pekerjaan hingga jelang hari atau menit akhir dari batas waktu. Tindakan menunda pekerjaan hingga jelang dead-line disebut procrastination. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus jelas akan menjadi kebiasaan belajar yang buruk. Bahkan, kebiasaan ini akan terus membudaya di saat jita sudah bekerja sebagai profesional atau pengemban profesi yang akibatnya adalah kinerja tidak akan optimal, stress berat, berdampak buruk pada kesehatan fisik hingga kegagalan. Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk tidak menjadi procrastinator. Bagaimana caranya? Beberapa petunjuk berikut ini mungkin dapat mulai kita lakukan:

1. Biasakan belajar atau bekerja berdasarkan agenda sebab dengan cara ini kita akan menyadari berapa banyak aktivitas dalam sehari yang mampu kita lakukan sesuai kemampuan dan akhirnya kita akan mengetahui bahwa menunda belajar/pekerjaan pada akhirnya tidak akan membantu sama sekali. Jika anda memulai mengerjakan suatu tugas besar seketika pada saat kita merasa siap atau berada di bawah tekanan harus selesai karena esok adalah tenggat waktu penyelesaian, maka memang mungkin kita akan berhasil, tetapi ingat tidak selalu akan berhasil.
2. Jadi, mulailah dari hal kecil sejak awal. Cobalah untuk mengurai atau menjabarkan satu tugas besar menjadi beberapa tahap atau bagian kecil yang memungkinkan kita untuk segera mengerjakannya sedini mungkin. Dengan mengerjakan tugas besar itu bagian demi bagian sejak awal akan menyadarkan kita seberapa besar sesungguhnya tugas itu dan membutuhkan berapa lama waktu untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya, ketika jelang tenggat waktu kita menyelesaikannya, maka tidak akan merasa terlalu terbebani. Mulailah dengan mengerjakan hal-hal kecil terlebih dahulu pada hari 1-4 tugas itu diberikan dengan misalnya membuat (a) mind mapping tentang topik dari tugas itu (b) menentukan tema atau argumentasi utama itu (c) mengumpulkan bahan pustaka (d) menyeleksi dan mencatat judul-judul bahan pustaka yang nantinya akan menjadi daftar pustaka dalam tugas kita.
3. Bekerja tanpa mengundang kemungkinan ada gangguan, misal matikan pemutar musik, video, telepon seluler, koneksi internet dan sejenisnya yang jelas-jelas dapat mengganggu kosentrasi kita. Jika kita orang yang tergantung pada musik untuk membantu konsentrasi, maka sebaliknya putar perangkat audio. Untuk mengurangi kebosanan, kita dapat memodifikasi sedikit topik belajar kita pada hari itu, misal dengan diselingi baca buku, baca komik, menggambar, bertanam, memberi makan ikan di kolam/akuarium atau bermain dengan anak-anak, dsbnya. Hal penting adalah harus diingat bahwa jangan terlena mengerjakan hal remeh temeh sehingga lupa topik utama hari itu.

Sumber:
1⃣https://almanhaj.or.id/4099-renungan-tentang-waktu.html
2⃣Materi Waktu Kuliah Bunda Sayang
https://drive.google.com/file/d/1quEGtwO6PevZ54d-ivKvVF9sOG3sc-go/view?usp=drivesdk

(Makin) Jatuh Cinta Kepada Eco Enzym

Penting bagi saya sebagai seorang ibu untuk mengajarkan hal-hal baik bagi anak-anak, apalagi tentang menjaga lingkungan, seperti memilah dan mengolah sampah dari dalam rumah serta memanfaatkan kembali sisa konsumsi itu sebagai rasa kebersyukuran saya atas rahmat Allah yang tidak terkira kepada kita ciptaanNya.
Sebelum mengenal ecoenzym, dua tahun yang lalu saya terlebih dahulu mengenal enzym cleaner dari postingan mbak Dini KW dan mbak Deasy Greenmommies. Berawal dari kebutuhan akan pembersih serbaguna untuk keperluan rumah tangga yang sederhana, bebas dari bahan kimia dan terjangkau tentunya akhirnya saya mulai berpetualang di dunia maya. Melalui penelusuran akhirnya saya menemukan banyak informasi mengenai metode membuat enzym cleaner yang sederhana dan juga hemat dikantong. Berbekal informasi itulaha maka saya pun nekad mencoba untuk membuat cairan pembersih alami yang hanya membutuhkan dua bahan utama, yaitu kulit jeruk dan cuka.

Bukan cuma efektif dalam menghilangkan noda dan kotoran yang ada di dalam rumah, cairan pembersih ini juga akan memberikan wangi segar yang tidak bisa kita temukan di pembersih lain pada umumnya. Tanpa zat-zat kimia berbahaya lainnya, cairan ini pastinya alami dan mudah dibuat karena bahannya bisa ditemukan di dapur kita sendiri. Kata siapa lemon dan jeruk cuma bisa diolah menjadi jus dan resep makanan atau minuman lain. Percobaan pertama berhasil dan akhirnya saya pun mengganti detergen dan pembersih di rumah menggunakan cairan ini. Sampailah setahun terakhir ini saya berkenalan dengan ecoenzym yang ternyata membuat saya semakin jatuh cinta. Ecoenzym sangat mendukung kehidupan saya yang ingin lebih minimalis, termasuk urusan bersih-bersih saya bisa memakai produk yang all in one dan ecoenzym menjawab kebutuhan saya. Melalui pelatihan ecoenzyme yang diadakan Ibu Profesional Batam bersama Ibu Vera Tan (Bhumi Eco Farm) pengetahuan saya pun makin bertambah karena bisa belajar langsung dari masternya langsung. Setelah mengikuti pelatihan ini saya semakin semangat mengolah sampah sisa konsumsi buah dan sayur saya tidak lagi berakhir di tong komposter. Ternyata sisa konsumsi buah dan sayur ini bisa dimanfaatkan dalam bentuk lain yaitu eco enzyme. Buat yang masih bingung dan belum mengenal sini saya bisikin😊. Ecoenzym merupakan hasil penelitian Dr. Rosukon Poompanvong asal Thailand. Ibu Vera Tan sendiri yang mengajar pelatihan inipun bercerita panjang kisah perkenalannya dengan ecoenzym. Mengingat bahwa enzim ini banyak sekali manfaat yang beliau rasakan sendiri maka Ibu Vera pun belajar langsung kepada penemunya. Kemudian beliau menginisiasi dan mengenalkan enzim ini pada masyarakat luas. Karena latar belakang beliau adalah dokter, beliau sering menggunakan cairan enzim ini sebagai pengobatan. Beruntung sekali rasanya bisa belajar langsung dari master ecoenzym di Batam.

belajar ecoenzym langsung bersama pakarnya Ibu Vera Tan Bhumi Eco Farm

Lalu apa saja sih manfaat dari eco enzyme atau juga sering disebut sebagai enzim sampah yang dituturkan Ibu Vera Tan antara lain:

1. Cairan enzim ini bisa digunakan sebagai campuran pencuci piring dan pencuci baju. Bau amis hilang, ampuh menghilangkan noda bandel pada kain. Menurut saya enzim konsentrat ini adalah solusi mudah dan murah bagi yang punya alergi kulit karena bisa mengurangi bahan kimia dari deterjen dan sabun pencuci piring. Lebih baik lagi karena digunakan hanya dengan mencampur enzim dan air saja.
2. Sebagai pembersih udara, jika di rumah kita memiliki satu drum saja cairan ecoenzym maka sama saja kita memiliki pohon yang berumur 10 tahun. Kebayangkan betapa sejuk dan bersihnya udara yang kita hirup di dalam rumah, jadi kalau punya lebih banyak tidak perlu pendingin ruangan.
3. Badan suka pegel-pegel? Cairan enzim ini bisa di masukan dalam botol lalu tempel dibagian leher sambil berbaring. Kita tidak perlu minum obat yang kadang banyak efek sampingnya.
4. Sakit demam juga demikian, cairan enzim yang didalam botol dipeluk sambil tidur. Keesokan harinya demam akan hilang. Pengalaman saya coba ke anak-anak dan alhamdulillah it works. Cairan yang sudah digunakan untuk menghilangkan demam ini akan berubah jadi keruh dan berlumut.
5.Buat yang hobi bertanam dirumah seperti anak saya, kita bisa pakai cairan enzim selain sebagai pupuk yang membuat tanaman jadi banyak berbuah atau bisa juga sebagai pembasmi hama juga loh.
6. Bisa digunakan sebagai alat kebersihan diri seperti shampoo,sabun,pasta gigi dan sabun cuci motor/mobil. Dan kalau membuatnya dengan tambahan bunga-bungaan bisa digunakan sebagai alat penyegar wajah agar tidak kusam.
7. Bisa juga untuk melancarkan saluran air yang tersumbat.
Serta masih banyak manfaat lain dari enzim ini yang penggunaannya pun bisa sesering mungkin tanpa efek samping.

Baca juga : Langkah Kecil Mengolah Sampah Rumah Tangga

Penasaran gimana cara membuat Eco Enzyme?

Pada pelatihan yang saya ikuti, kami langsung praktek cara membuat cairan enzim (untuk kita yang tinggal di daerah Asia Tenggara, sebab cuaca dan iklim mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses fermentasi). Bahan-bahan yang diperlukan antara lain :

1⃣ Gula merah (lebih bagus gula aren ataupun gula hitam) / molasses. Sebelum membuat enzim kita harus tahu terlebih dahulu berbagai macam jenis gula dan manfaatnya. Yang paling baik menurut pengalaman bu Vera adalah menggunakan molasses.
2⃣ Sampah organik dipotong kecil-kecil,
3⃣ Air, harus menggunakan air sumur atau pun kangen water, jika mau menggunakan air pipa harus diendapkan selama 3 hari.
4⃣ Botol sebagai tempat penyimpanan. Untuk trial kita bisa menggunakan botol air minum isi ulang berukuran 1500 ml.

Ratio bahan-bahannya yaitu 1:3:10 (1 bagian molasses, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air)

Cara Membuat :
1⃣ Masukan gula ( ratio gula 1 ons : air 1 liter)
2⃣ Tambahkan sampah organik ( 3 ons )
3⃣ Masukan air sampai dengan 3/4 bagian botol. Sisakan tempat untuk fermentasi (jangan diisi penuh botolnya).
4⃣ Enzim akan terbentuk dan siap digunakan dalam 3 bulan
5⃣ Tutup rapat dan pastikan tempatnya kedap udara.
6⃣ Sesekali tekan kebawah sampah yang mengambang, selama dua minggu pertama tutup botol satu hari sekali dibuka untuk mengeluarkan gasnya.
7⃣ Enzim disimpan selama 3 bulan.

Pada awal-awal minggu akan ada gas yang muncul sehingga kita bisa membuka tutup lalu rapatkan kembali. Enzim baru dapat digunakan setelah tiga bulan difermentasi. Cara memanennya dengan menyaring air dari ampas eco enzymnya. Cairannya kita simpan di dalam botol sedangkan ampasnya bisa kita jadikan kompos untuk tanah

Berikut ini takaran pemakaiannya menggunakan perbandingan antara larutan ecoenzym dengan air (dalam satuan ml) :

1. Mencuci piring
(dapat dicampur sedikit sabun cuci piring cair agar berbusa) dengan perbandingan 1:10.
2. Penyegar udara dengan perbandingan 1:200
3. Menyiram tanaman dengan perbandingan 1:500
4. Disinfektan dengan perbandingan 1:500
5. Mengepel lantai dengan perbandingan 1:1.000.

Berminat mencoba?

Tidying Festival Clothes Part 1

Semakin hari, manusia menjadi semakin konsumtif. Timbunan barang pun memenuhi setiap sudut kamar. Tetapi, untuk menyingkirkannya, ada rasa malas dan enggan. Kegiatan declutter merupakan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga dan waktu. Namun dengan melakukan declutter atau bersih-bersih rumah dari timbunan barang, saya percaya memberikan efek positif. Rumah yang bersih dengan sedikit barang akan memberikan energi yang baik dan menjauhkan diri dari stress.

Meski telah banyak membaca tentang prinsip minimalism dan mencoba menjalaninya setahun belakangan tetapi rasanya baru kemarin akhirnya menemukan alasan membuang yang benar-benar wow banget. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, selama satu tahun terakhir saya mencoba memulai menerapkan metode Konmari untuk mendukung keinginan saya menjadi lebih bijak dalam membeli dan menyimpan barang-barang. Saya ingin lebih menghargai barang-barang yang saya beli dan meminimalisir jumlah barang yang ada di dalam rumah.

Membuang (decluttering) adalah cara tepat melepaskan diri dari beban. Tidak hanya beban fisik (materiil), tetapi juga beban psikis. Memulai membuang benda yang tidak pas di diri kita atau di lingkungan tempat tinggal kita, adalah cara mudah untuk mulai bisa membuang beban psikis kita. Percaya tidak percaya, saya sudah mencobanya dan terasa lebih lega.

Ada yang pernah mengalami kejadian seperti yang ada di bawah ini kah? Menyimpan baju yang sudah sesak tidak muat untuk badan. “Nanti juga bakal kepakai lagi kalau badan sudah kembali ke ukuran semula”. Lalu kita khilaf beli baju baru lagi dan lagi hihihi… Dan baju lama itu tak jua mendapat kesempatan untuk kita kenakan lagi. Atau mempertahankan barang-barang penuh kenangan. Terutama hadiah pemberian dari teman atau saudara. Disimpan terus, yang terkadang hanya membuat kita gagal move on setiap kali menatapnya hihi *lebay nggak sih. Kebiasaan mengumpulkan majalah-majalah yang menarik isinya, misal majalah full resep masakan atau desain interior. “Suatu saat nanti aku pengen praktekin tips yang ada di majalah itu”. Tahun demi tahun pun berlalu dan resep itu menunggu kita untuk mempraktekkannya. Bahkan kebiasaan membeli pernak-pernik saat traveling, “Lucu deh kayaknya kalau dipajang di rumah”. Waktupun terus bergulir hingga kita pun menyimpan pernak-pernik yang menumpuk dan bingung mau ditaruh dimana.

Istilah termudah menurut saya untuk menjelaskan tentang decluttering adalah aktifitas untuk menata ulang dan mengurangi timbunan barang yang kita miliki. Decluttering lebih memfokuskan pada apa saja yang perlu disimpan, dan bagaimana menata ulang benda yang disimpan itu.

Saya mengamati isi ulang isi kamar dan isi rumah. Scanning saja…. Lalu pilih beberapa barang secara acak, dan mulai mengingat, untuk alasan apa saya menyimpan barang itu. Dan masihkah barang itu memberi manfaat untuk hidup saya saat ini? Untuk barang-barang kebutuhan primer dan bentuknya relatif besar, sangat mudah saya temukan alasannya. Tapi saat meluaskan pandangan pada benda-benda yang tidak menjadi kebutuhan primer saya. Ternyata alasan utama mengapa menyimpannya lebih banyak karena faktor emosional termasuk didalamnya adalah faktor kenangan. Kesempatan kali ini saya akan mulai decluttering pakaian. Jurus jitu yang saya lakukan untuk mengendalikan jumlah pakaian yang saya miliki sekarang dengan Buy 1 Give 1, jadi saya mikir bener sebelum membeli pakaian

Prinsip Membuang/Decluttering

  1. Pilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan
    Gimana caranya siy memilih suatu barang disimpan atau dibuang? Touch it, sentuh barang itu dan rasakan. Emosi apa yang kalian rasakan saat menyentuhnya. Ketika emosi yang muncul adalah rasa senang dan bahagia, keep it. Jika tidak ada rasa apa-apa atau cenderung negatif,throw it out. Marie Kondo membuat pernyataan yang cukup keras tentang kemampuan membuang barang. Ia menganggap bahwa seseorang yang tidak mampu melepaskan barang yang sudah tidak memberikan kegembiraan apa-apa sebagai masalah serius.
    Memang dalam memutuskan membuang atau tidak, kebanyakan dari kita melibatkan dua hal, intuisi dan rasionalisme. Sayangnya, seringkali yang menghalangi adalah rasionalisme kita. Itulah kenpa konmari menyarankan supaya kita memulai decluttering dari baju, bukan dari benda-benda yang memiliki kenangan. Bukannya beberes malah akhirnya mengenang masa lalu, betul nggak? Selain itu, pengalaman Marie Kondo menunjukkan bahwa memulai dari memilah baju adalah level yang paling mudah. Berhasil melewati yang termudah biasanya akan membuat kita percaya diri untuk menyelesaikan misi decluttering. Urutan berbenah yang disarankan Konmari adalah : (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas, (4) komono/pernak-pernik, dan (5) benda-benda bernilai sentimental.
  2. Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu Sesuai Urutan
    kondisi pakaian sebelum declutter,dikumpulkan menjadi satu dalam satu area

    Pilahlah hingga tuntas per kategori sesuai urutan. Ada beberapa praktisi berbenah yang menyarankan untuk membuat challenge berbenah, misal 1 benda per hari, atau 3 jam per minggu, dst. Namun, Konmari memilih untuk membuang sampai tuntas terlebih dahulu per kategori. Bener-bener dikumpulin dulu semua baju di seantero rumah (bukan hanya yang di lemari, karena kadang kita menyimpan juga kan di balik pintu atau di box pojokan rumah?), baru kemudian kita pilah.

  3. Jadi kalau teman-teman ingin mulai decluttering, tak usah bingung. Saya ingin berbagi tipsnya. Sebelum melakukan kegiatan decluttering, siapkan 3 jenis kantong atau kardus. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih layak untuk didonasikan. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih dapat digunakan lagi dan terakhir kardus untuk tempat barang-barang yang akan dibuang. Sudah siapkah untuk decluttering?
    melipat pakaian anak-anak dengan metode konmari membuat banyak space tersisa

    Meskipun kelihatannya membutuhkan banyak waktu dan tenaga, tetapi efek kejutnya luar biasa. Efek kejut ini karena hasil beberes yang tuntas bener-bener terasa. Lemari jadi lega dan rapi. Efek kejut yang membuat kita bakal pengen jadi rapi selamanya. Berbeda dengan beberes sedikit-sedikit yang terlihat menyenangkan karena tidak menyita banyak energi dan waktu namun efeknya tidak begitu terasa sehingga berisiko membuat motivasi beberes kita kendur di tengah jalan.

  4. Kalau tidak bisa membuang, bagaimana?
    Gara-gara baca buku The Life-Changing Magic Tidying Up karya Marie Kondo saya pun jadi tau bahwa tidak semua pakaian berperan sebagaimana fungsi pakaian seharusnya. Maksudnya, pakaian kan seharusnya ada kaitannya dengan kebutuhan saat membeli, misal karena kita butuh pakaian untuk kerja, atau untuk menghadiri suatu acara tertentu, atau secara umum untuk menjaga penampilan kita. Sayangnya, ada juga kan pakaian yang kita beli hanya karena sedang diskon? Pas sampai rumah ternyata gaya pakaian itu sama sekali bukan gaya kita sehingga pakaian itu sama sekali tidak pernah kita gunakan semenjak kita adopsi ke lemari kita. Pakaian seperti ini mau dibuang atau mau disimpan? Dibuang sayang, disimpan ga dipakai. So? Say thanks to this clothes, let it go,katakan padanya “Terima kasih karena kamu telah mengajarkan saya pakaian apa yang tidak saya sukai, sehingga kelak saya tidak akan membeli pakaian yang sama”. Setelah memahami cara pandang baru terhadap barang, saya menjadi lebih mudah melepaskannya. Karena barang yang terbeli namun tak terpakai saat ini sejatinya sudah pernah memberi manfaat meski hanya sebagai pengingat bahwa compulsive buying itu sama sekali tidak baik misalnya. Kelak saya menjadi lebih bijak saat membeli pakaian baru.

    kondisi lemari dalam storage sementara

    Bukti kita sayang dengan sebuah barang adalah dengan menempatkannya sebagai barang yang membuat kita bersyukur telah memilikinya. Barang kita rasakan manfaatnya saat kita senang memakainya bukan? Marie said, tidak hanya kita pemiliknya, barang-barang kita niscaya juga akan merasa segar dan jernih sebegitu kita seleai berbenah.They will said happily, “Horayyy I got a new room to breath, I am free!” and of course, you will too.

Kegiatan Seru di Akhir Pekan

Modernisasi bukan hanya memoles fisik lingkungan kita,namun merambah masuk hingga ke segala urusan manusia, termasuk urusan bermain anak-anak. Dulu seorang anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk main di tanah lapang, di padang rumput, atau di tanah-tanah kosong yang becek.

Mulai dari sepak bola, jalinan rotan atau jeruk bali sampai membuat patung dari tanah liat atau sekedar menangkap capung dan kunang-kunang. Sekarang, dimana kita mencari lapangan bermain untuk anak-anak, sementara sejauh mata memandang yang kita lihat adalah gedung-gedung pencakar langit atau komplek perumahan yang padat?

Tak heran, kalau tempat bermain anak sekarang bergeser ke playstation rental atau playground untuk bermain games online. Coba tengok deh, tak hanya di Batam atau kota besar lainnya, bahkan di kota-kota kecil pun anak-anak sudah sangat akrab dengan gadget mereka masing-masing. Tak jarang mereka sampai lupa waktu dan ketagihan untuk terus bermain bahkan berujung tantrum jika diambil gadgetnya. So, bagi keluarga kami momen bermain merupakan
momen untuk kumpul keluarga yang menyenangkan dan seru. Yuk, tinggalkan gadget sejenak dan lakukan permainan berikut ini.

Baca juga : Nerf Gun War Bahasa Kasih Keluarga Kami

1. Bermain Uno Stacko Bersama Keluarga
Permainan ini sangat membuat saya gemas ketika memainkannya. Tetapi hal inilah yang bisa membuat antar anggota keluarga menjadi semakin akrab. Permainan ini dilakukan engan cara menyusun-susun balok dan nanti harus diambil dengan cara acak pondasinya, kalau jatuh dan berantakan maka dialah yang kalah. Kalau kalah anggota keluarga boleh memberikan coretan bedak di wajahnya, yang akan menambah seru permainan.😀

Namun, esensi dari permainan ini semakin random karena dimainkan oleh balita jadi no intervensi. Planingnya main uno stacko mau bebikinan gedung aparteman yang tinggi. Action plannya, “bukan kaya gitu bikinnya harusnya balok yang kuning di bawah dan balok yang merah di atas, baru yang hijau disusun di atas yang merah.” Sok bebaskan, anak-anak bermain tumpuk sesuka hatinya. Justru dari situ mereka belajar mereka-reka bentuk konstruksi yang sesuai dengan imajinasinya. Jadi, berikan kesempatan seluas mungkin pada anak untuk mencoba mengerjakan dan membuat keputusan sendiri. Dengan begitu, imajinasinya makin berkembang dan harapannya dapat menstimulasi munculnya ide kreatif. Bukan tak mungkin kan kelak mereka mampu mencipta bentuk tertentu secara orisinal yang tak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, semisal membuat mobil bak sampah luar angkasa buat angkut sampah yang ada di luar angkasa (ini hasil pemikiran Faris😂).

2. Percobaan Sains
Pernah mendengar Hot Wheels yang bisa berubah warna? Series Hot Wheels yang satu ini dinamakan dengan Hot Wheels Color Shifter. Di mana warna bodi tersebut bisa berubah saat dicelupkan ke dalam air hangat, untuk merubahnya kembali ke warna semula cukup di celupkan ke air dingin. Kok bisa begitu ya? Beberapa hari ini anak-anak sibuk mengeluarkan dan memasukkan mainan mobil-mobilannya ke dalam kulkas. Biasanya jika sedang bermain mobil-mobilan, anak-anak hanya duduk di atas karpet dan menjalankan mobil itu dengan tangannya namun kali ini berbeda.

Setelah kami amati, akhirnya satu keluarga tertarik untuk mencoba memainkannya juga. Jadi ternyata, mobil-mobilan ini bila dimasukkan ke dalam air dingin akan berubah warna begitu pula sebaliknya. Meskipun kami bukan engineer, sebagai fasilitator tentunya harus punya rasa penasaran tentang material apakah ini? seperti plastik namun bisa berubah warna dengan pengaruh suhu. Dan kegiatan ini adalah sesuatu yang menarik untuk diamati dan ditelusuri teknologi apakah yang dimasukan ke dalam mainan anak-anak. Apakah itu? Ternyata ini merupakan salah satu teknologi paramagnetic color changing?

Menurut epiccarnage.com menjelaskan, cat bisa berubah warna dengan perubahan suhu. Dengan menyesuaikan tegangan arus listrik melalui body kendaraan bisa membuat warna berubah.

Diecast Hot Wheels memproduksi mobil mainan dengan kemasan yang bertulis Color Shifters. Mobil mainan Hot Wheels dengan kemasan color shifters inilah yang memiliiki keunikan cat mobil akan berubah warna dalam suhu berbeda. Misalnya saat suhu normal warnanya akan putih, namun saat dimasukkan ke dalam kulkas mobil tersebut akan berubah warna menjadi hitam atau biru. Hal ini terjadi karena cat yang dilapiskan pada mobil mengandung partikel paramagnetik oksida besi.

Dengan menerapkan arus listrik, jarak kristal oksida akan disesuaikan dan hal ini memengaruhi pantulan cahaya serta persepsi warna yang bisa ditangkap mata maupun kamera video.

Itulah dua kegiatan seru di akhir pekan kami minggu ini. Acara kumpul keluarga memang selalu menjadi hal menyenangkan apalagi kalau sambil bermain. Kalau teman-teman punya ide seru apa untuk dimainkan bersama keluarga di akhir pekan nanti?

Belajar Berbagai Macam Komposter, Kamu Sudah Coba Yang Mana?

Sudah lama Faris sangat tertarik dengan bahasan masalah #sampah. Saking concernnya sampai-sampai ia ngotot membeli buku berjudul “Oh, ternyata… Kita bisa melakukan kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi sampah!” dan minta langsung dibacakan sesampainya di rumah.

buku favorit Faris

Kalau ngomongin #sampah, saya selalu terkenang dengan obrolan bedtime saya bersama Faris yang pada suatu malam menceritakan cita-citanya kalau ia ingin sekali membuat truk sampah di luar angkasa. Dengan semangat yang berapi-api ia menjelaskan rancangan truk sampah antariksanya bahkan ia meyakinkan kepada saya bahwa di luar angkasa juga pasti banyak sampah loh, Ma. Rasanya terheran-heran kok bisa pula anak tiga tahun berimajinasi seperti itu. MasyaAllah

Di rumah, kami memang sudah mulai memilah dan meniadakan pemakaian tisu dan mengurangi belanja produk kemasan namun bahasan khusus bab sampah belum saya ajarkan lebih mendalam kepada anak-anak. Saya dan suami hanya memberikan contoh dalam kegiatan sehari-hari seperti menyediakan beberapa macam tempat sampah di rumah, menggunakan tas belanja sendiri, membawa kotak makan dan bekal makanan sendiri jika keluar rumah, mengurangi makanan dan jajan dalam kemasan serta membuat komposter karena project #FarisNandur.

Dengan berbekal tekad ingin belajar lebih, akhirnya saya pun mencari informasi agar bisa masuk ke kelas #zerowaste yang diampu oleh bu Dini. Alhamdulillah saya bisa keangkut di kelas #zerowaste batch 2 meskipun belum terlalu aktif chit chat di kelas tetapi saya berusaha untuk terus mengikat ilmu yang saya peroleh dari kelas ini.

Jadi di minggu ketiga kelas #zerowaste, kami belajar berbagai macam jenis komposter. Lalu kenapa sih setiap rumah sudah seharusnya punya komposter?

Teman-teman, bagaimana kalau kita mulai membiasakan diri untuk memilah sampah sebelum dibuang? Kira-kira, kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang?

1. Upaya Mempercepat Proses Penguraian
Sampah itu ada dua jenis, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Untuk sampah organik, proses penguraiannya akan lebih cepat terjadi jika digabungkan dengan sampah organik lainnya.
2. Mengurangi Bau Busuk
Sampah organik akan mengeluarkan bau busuk saat terurai. Supaya bau busuk itu hilang, kita harus memisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Setelah dipisahkan, sampah organik bisa dikubur di dalam tanah, sebagai pupuk. Dengan begitu, bau busuk dari sampah organik tidak akan tercium. Lalu, tanaman pun tubuh subur.
3. Meningkatkan kebersihan sampah
Penguraian pada sampah organik akan terjadi lebih cepat daripada sampah anorganik. Jika kedua sampah itu dicampurkan, sampah anorganik yang tadinya bersih akan menjadi kotor. Padahal, jika kita memilah sampah, kebersihan sampah anorganik bisa terjaga, lo. Hal itu akan memudahkan para pengepul dalam mendaur ulang sampah anorganik.
4. Mengurangi jumlah sampah
Dari seluruh sampah yang ada, lebih dari 55% nya adalah sampah organik. Jika kita memilah sampah dan mengolah sampah organik itu menjadi kompos, maka jumlah sampah yang ada di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) pun akan berkurang setengahnya.
Nah, teman-teman, sekarang pasti sudah tahu, kan kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang? Jadi, mari kita lakukan kebiasaan baik itu mulai dari sekarang. Ini semua demi Indonesia yang bebas sampah!

Rumah Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Mengutip materi dari #kotatanpasampah, ada 3 strategi agar #rumahtanpasampah kemudian dapat terwujud:

1. STRATEGI PINTU DEPAN. Saat pra konsumsi, kita dapat mencegah dan menyaring sampah apa yang akan masuk ke dalam rumah kita, dengan cara bawa botol minum sendiri, kotak bekal sendiri, tas belanja, bahkan toples/wadah untuk belanja, menanam/membuat sendiri apa yang kita konsumsi serta mengadakan acara dengan memasak kue-kue dan gunakan toples serta hindari kemasan sekali pakai.

2. STRATEGI PINTU TENGAH. Saat konsumsi, kita dapat mencegah terjadinya sampah terbuang, misalkan dengan menggunakan kembali, memperbaiki barang, dan mencegah makanan sisa.

3. STRATEGI PINTU BELAKANG. Pasca konsumsi, sampah yang terlanjur masuk rumah atau terpaksa ada harus diolah, dengan memilah sampah, membuat kompos, sampah yang bernilai ekonomis disalurkan ke pengepul.
Kalau semua berjalan baik, maka benar-benar TIDAK ADA SAMPAH YANG DIBUANG KE TPS/TPA.
KOTA TANPA SAMPAH? MUNGKIN. SANGAT MUNGKIN

sumber : http://www.kotatanpasampah.id

Berikut ini saya coba membuat ringkasan materi mengenai beberapa jenis komposter untuk sampah organik dari kelas #zerowaste. Menurut Mbak Dini, perjalanan menemukan komposter yang cocok itu layaknya mencari jodoh 😁 Kalau kita nggak ribet sebenarnya ada cara yang gampang dan sudah biasa dilakukan oleh orang-orang zaman dulu yaitu dengan membuat lubang di tanah alias juglangan lalu kita bisa masukkan sampah sisa konsumsi sehari-hari disitu. Ditimbun sekali-kali atau kita bisa pelihara ayam dan ikan yang siap menyantap sampah buah dan sayur sisa dapur (tetapi tidak semuanya sih) hehe.

SERBA-SERBI KOMPOSTING

Komposting itu -bahasa sederhananya- adalah proses pengolahan sisa bahan organik menjadi pupuk. Terdapat beragam metode komposting. Sebelum memilih jenis metode komposting tertentu yang ingin digunakan, maka ada baiknya melakukan langkah-langkah ini:

  1. Analisa jenis sisa bahan organik (sayuran, daun kering, produk hewani) yang dihasilkan dan volumenya setiap hari, minggu, ataupun bulan.

  2. Bagaimana pola aktifitas anggota keluarga? Sibuk setiap hari sehingga hanya tersisa sedikit waktu di rumah? Ada anggota keluarga yang sering (selalu) di rumah dan punya banyak waktu luang?

  3. Analisa karakter anggota keluarga yang akan bertanggung jawab atas proses komposting, Telaten memilah, rajin merajang, lebih suka yang praktis dan cepat?

  4. Akan digunakan apakah kompos yang nantinya dihasilkan?

Empat hal di atas berkenaan dengan kita, si pelaku komposting. Nah, terkait komposternya, maka yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Luas area yang tersedia untuk si komposter. Apakah masih terdapat lahan cukup luas atau komposter akan ditempatkan di teras rumah?

  2. Cara penggunaan, masa panen kompos (periode waktu), cara merawat komposter, biayanya.

  3. Apakah komposter tersebut tahan lama? Artinya, bisa dipakai untuk jangka panjang dan tidak harus membeli lagi yang baru setelah beberapa waktu pemakaian.

Mengapa banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode komposting?
Karena, pilihan yang tepat akan membuat kita nyaman melakukan kegiatan komposting, dan bukannya sebagai beban.

Secara umum, sistem komposter terbagi dua, yaitu AEROB (memerlukan udara) dan ANAEROB (tidak memerlukan udara).
Sistem aerob akan menghasilkan kompos padat. Sementara produk sistem anaerob berupa pupuk cair dan kompos padat (yang agak basah).

berbagai macam komposter rumah tangga, pict by Mbak Dini

Sistem komposting rumah tangga dengan lahan terbatas:

1. Lasagna sguare foot garden
Langsung membayangkan lasagna ya?
Dan memang seperti kita membuat lasagna.Bagaimana cara membuatnya? Batasi lahan yang akan dipakai untuk komposting, misalnya diberi ‘pagar’ dari batu bata dan sejenisnya. Alasnya boleh terbuat dari plesteran semen.
Tempatkan tanah di dasar lahan komposting, lalu beri pupuk kandang (seperti kotoran sapi/kambing/pupuk jadi) di lapisan atasnya. Maka lahan siap diisi dengan sisa bahan organik, kertas, ataupun tissue.
Kalau isinya sudah merata, tutup dengan sekam, tanah, lalu pupuk kandang. Lalu isi lagi dengan sisa bahan organik, dan ditutup dengan cara yang sama.
Begitu seterusnya.
Kalau tinggi media sudah mencapai 15cm, maka bisa mulai dijadikan media tanam.
Mengapa harus 15 cm? Dengan tinggi lapisan 15 cm, maka penguraian sisa bahan organik dinilai cukup aman untuk akar tanaman.
Meski sudah dijadikan media tanam, proses komposting di lasagna foot garden tetap dilangsungkan.

2. Takakura/gerabah/drum/felita
Keempat metode komposter ini memiliki teknik yang serupa, yakni sisa bahan organik dikumpulkan dalam satu wadah, lalu diperlukan bakteri pengurai/starter.


Kekhususan dari setiap metode adalah:

Takakura hanya menghasilkan kompos padat. Diperlukan sedikit waktu dan tenaga untuk merajang sisa bahan organik agar cepat terurai. Penjelasan lebih lanjut mengenai takakura bisa dibaca disini.

Sistem gerabah lebih mampu mengurai daun kering dalam jumlah agak banyak. Kompos yang dihasilkan berwujud padat. Penjelasan lebih lanjut mengenai sistem gerabah bisa dibaca disini dan disini.

Komposter dengan memanfaatkan drum, ember bekas cat, atau sejenisnya akan bisa menghasilkan kompos padat saja, ataupun campuran antara pupuk cair dengan padatan. Tergantung sistem yang dibuat pada wadah komposter tersebut.

Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca lebih rinci mengenai

Drum Biru #komposterdrumbiru disini dan disini.

Felita ini serupa dengan sistem drum atau ember, tapi dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Sehingga bisa ditempatkan di dapur. Cocok untuk rumah yang dihuni sedikit orang. FELITA menghasilkan kompos dalam dua bentuk, padat dan cair. Felita tidak menghasilkan gas metana (yg menyebabkan terjadinya efek gas rumah kaca). Di dalam Felita juga terjadi CO2 offset di fase keduanya, saat kita memasukkan fermentasi limbahnya ke dalam tanah.

Penjelasan lebih lanjut mengenai Felita (Fermentasi Limbah Rumah Tangga) #felita bisa dibaca disini dan disini.

3. Mulsa tanaman
Rumah dengan pohon-pohon besar biasanya akan kerepotan saat musim daun berguguran tiba
Daun-daun kering memiliki manfaat sebagai mulsa tanaman. Tempatkan daun kering di atas media tanam, maka akan mengurangi penguapan air. Ini sangat membantu di saat musim kemarau.

4. Lubang biopori
Untuk pekarangan rumah yang masih bisa digali hingga kedalaman minimal 50cm, maka pembuatan lubang biopori bisa menjadi pilihan.

Penjelasan mengenai biopori bisa dibaca disini dan disini.

Dan untuk tempat tinggal dengan lahan yang cukup dan amat luas -seperti perkebunan – sebenarnya lebih mudah dalam melakukan komposting. Ada beberapa cara yg sebenarnya sudah dilakukan banyak orang, yakni:

1. Mulsa tanaman

2. “Banana ring”

Kenapa pilihannya banana ring meski itu istilah? Karena tanaman pisang adalah tanaman yg paling bisa memanfaatkan sampah organik dalam bentuk apapun hingga yg keras seperti perabot kayu bekas, dibanding dengan tanaman lain. Makanya penggunaan tanaman yg paling bagus adalah pisang di sekitar juglangan banana ring. Tapi bisa ditanam tumpang sari dengan tanaman lainnya.

3. Composting toilet

Composting toilet itu khusus kotoran manusia. Untuk kompos hewan, bisa digunakan hasilnya pada tanaman pangan. Tapi untuk hasil kompos toilet, hanya digunakan pada tanaman non pangan atau tanaman buah jenis pohon, seperti mangga dan sejenisnya. Komposting toilet baru bisa dipanen minimal 6-9 bulan, tergantung kecepatan terdegradasi dan menjadi tanah lagi.

4. Vermicomposting, menggunakan tiger worm, yg bisa makan kain dari serat alami.

5. “worm tower”, juga menggunakan cacing tiger seperti vermicomposting. Mirip biopori. Kalau biopori, lubangnya ke dalam tanah. Sementara worm tower ke atas tanah alias diberi pipa yang keluar dari tanah, untuk menjadi tempat sampah organik untuk sumber makanan cacing tiger.

6. Biopod

Digunakan untuk komposting bahan organik yg lebih basah tapi bukan cair. Tanpa starter dan memerlukan udara, maka yg dihasilkan adalah black soldier larvae alias uget-uget gendut. Biasanya belatung yg dihasilkan untuk pakan ternak seperti ayam, ikan, burung.

Tiap komposter punya plus minus sendiri ya.. cocok atau tidaknya sesuaikan saja dengan kondisi rumah dan kebutuhan. Setelah praktek, ternyata memang masalahnya adalah mau atau tidak, bukan susah atau mudah..

Catatan penting untuk memulai dan menjalankan kegiatan komposting, adalah
***Perlu mencoba beberapa metode komposting untuk mendapatkan sistem komposting yang paling mudah, paling efektif, dan murah untuk gaya hidup setiap keluarga. Namun dengan menganalisanya terlebih dahulu, kita akan mengurangi biaya dan waktu percobaan. Juga akan lebih cepat menemukan cara pengomposan/pengolahan sisa bahan organik, yang paling pas untuk keluarga kitayang unik.***

Happy Composting !

referensi : disarikan dari berbagai materi kelas #zerowaste, Bu Dessy “Greenmommies” dan Mbak Kristien “Omah Hijau”